Anda di halaman 1dari 12

KA-ANDAL Perkebunan Karet

Landasan hukum bagi pelaksanaan Studi AMDAL Perkebunan PT. Perkebunan


Nusantara XIII Kalimantan Selatan ini adalah :
Undang-Undang Republik Indonesia :
1.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan


Dasar Pokok-Pokok Agraria (kegiatan perkebunan karet PT. Perkebunan
Nusantara, berkaitan erat dengan keagrarian atau penggunaan lahan yang relatif
luas sehingga sangat relevan dimuat peraturan ini);

2.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (undangundang ini relevan dipakai sebagai acuan karena dalam kegiatan proyek ini
banyak aktivitas/kegiatan yang berpotensi terjadinya kecelakaan di tempat kerja);

3.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian


(kegiatan perkebunan karet yang akan dilakukan dilengkapi dengan unit
pengolahannya yang merupakan bidang perindustrian, sehingga sangat relevan
dimuat peraturan ini);

4.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi


Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (kegiatan perkebunan karet dan
unit pengolahannya akan melakukan perubahan penutupan lahan dari vegetasi
alamiah menjadi vegetasi sejenis, sehingga perlu mengacu kepada undangundang ini);

5.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan


Sosial Tenaga Kerja (aspek sosial tenaga kerja perlu dilindungi antara lain
dengan mengacu kepada undang-undang ini);

6.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar


Budaya (undang-undang ini menjadi relevan jika di tapak proyek dan sekitarnya
terdapat situs bersejarah dan benda cagar budaya yang perlu dilindungi);
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman (Aspek penting dari undang-undang ini adalah diantaranya
pembukaan lahan dilakukan tanpa pembakaran sehingga undang-undang ini
relevan untuk dilihat);
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan (di dalam tapak proyek terdapat kegiatan mobilisasi
peralatan dan material serta pengangkutan karet, sehingga undang-undang ini
sangat relevan);

7.

8.

9.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina


Hewan, Ikan dan Tumbuhan (relevansinya dengan rencana kegiatan adalah upaya
proteksi/perlindungan terhadap tanaman yang akan diusahakan harus benar-benar
sehat);

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan


(dalam proyek ini aspek kesehatan perlu mendapat perhatian selayaknya, tidak
hanya kesehatan tenaga kerja juga kesehatan masyarakat sekitar, sehingga
undang-undang ini perlu pula diacu);
11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan
Konvensi Internasional Mengenai Keanekaragaman Hayati (karena
menggunakan sumberdaya lahan, tentu proyek ini berkaitan dengan aspek
keanekaragaman hayati, sehingga undang-undang ini perlu pula diacu);
12. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun
2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (setiap kegiatan yang menyebabkan pajak dan
retribusi tentunya undang-undang ini relevan untuk dijadikan acuan);
13. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (sesuai dengan kegiatan dokumen yang akan dibuat, tentu
undang-undang ini sangat relevan dengan rencana proyek);
14. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ditetapkan
menjadi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004;
15. Undang-Undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (di proyek ini
terdapat kegiatan pembangunan fisik baik berupa mess, gudang dan dll sehingga
Undang-Undang wajib dipakai sebagai acuan);
16. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan (proyek ini sedikit banyak akan menyerap tenaga kerja sehingga
perlu mengacu kepada undang-undang ini);
17. Undang-Undang Nomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Hubungan Industrial
(dalam kegiatan proyek ini banyak melibatkan tenaga kerja sehingga UndangUndang ini relevan untuk dipakai sebagai acuan apabila dikemudian hari terdapat
perselisihan antara pengusaha dan tenaga kerja);
18. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air (aspek penting dalam kegiatan perkebunan dan pengolahan karet adalah
penggunaan sumber daya air sehingga undang-undang ini menjadi hal yang
penting sebagai dasar operasional);
19. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
(proyek ini merupakan kegiatan sektor perkebunan sehingga relevan sekali untuk
dipelajari terutama menyangkut aspek kebijakan dan landasan operasional);
20. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
(undang-undang ini relevan karena di dalam tapak proyek dan sekitarnya terdapat
badan / sumber daya air);

21. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah


Daerah (di dalam pelaksanaan proyek tentunya sangat berkaitan dengan
pemerintah daerah setempat, sehingga undang-undang ini menjadi relevan
sebagai salah satu acuan);
22. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (di
dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi peralatan dan material serta
pengangkutan hasil-hasil karet, sehingga undang-undang ini sangat relevan);
23. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal (kegiatan
proyek ini merupakan penanaman modal sehingga Undang-Undang ini perlu
dipakai sebagai acuan);
24. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas (badan
usaha yang mengelola kegiatan proyek ini berbentuk Perseroan Terbatas yang
memiliki hak dan kewajiban sehingga Undang-Undang ini relevan dipakai
sebagai acuan);
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia :
1. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran,
Penyimpanan dan Penggunaan pestisida (di dalam kegiatan proyek ini terutama
pada perkebunan, terjadi penggunaan pestisida/hibrisida sehingga peraturan
relevan dipakai sebagai acuan dalam pelaksanaan);
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata
Pengaturan Air (proyek ini dalam kegiatannya menggunakan sumber daya air,
sehingga sangat terkait dengan peraturan ini);
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1986 tentang
Kewenangan Pengaturan, Pembinaan dan Pengembangan Industri (kegiatan ini
salah satunya adalah pengolahan Karet yang merupakan kegiatan bidang
perindustrian, sehingga sangat relevan peraturan ini untuk diacu);
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1990 tentang
Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan dalam Bidang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan kepada Dati I dan Dati II (Lembaran Negara Tahun 1990 No. 26
Tambahan Lembaran Negara No. 3410) (di dalam proyek ini terdapat kegiatan
mobilisasi peralatan dan material serta pengangkutan hasil-hasil karet, sehingga
peraturan ini sangat relevan);
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan sebagai pelaksanaan dari UU No. 14 Tahun 1992 (di
dalam proyek ini terdapat kegiatan mobilisasi peralatan dan material serta
pengangkutan hasil-hasil karet, sehingga peraturan ini sangat relevan);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan tanaman
(peraturan ini relevan sekali dengan kegiatan proyek yang merupakan
perkebunan);

7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1995 tentang Izin


Usaha Industri (salah satu kegiatan proyek ini adalah pengolahan karet yang
merupakan kegiatan disektor industri, sehingga peraturan ini penting untuk
diacu);
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 yang
disempurnakan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 85 tahun 1999 tentang
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (peraturan ini menjadi relevan jika
dalam proyek ini dipergunakan B3 seperti BBM, oli, dll);
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (jelas peraturan ini sangat relevan dengan proyek
ini yang memang tergolong wajib AMDAL);
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara (dalam proyek ini terdapat potensi dampak
penurunan kualitas udara antara lain dari kegiatan mobilisasi peralatan dan
material, pengangkutan hasil-hasil karet, sehingga peraturan ini menjadi relevan
untuk diacu);
11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom
(Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3952) (di dalam proyek ini tentu sangat berkaitan dengan pemerintah daerah
sebagai daerah otonom, sehingga peraturan ini perlu untuk diacu);
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor Nomor 150 Tahun 2000 tentang
Pengendalian Kerusakan Tanah (kegiatan perkebunan dan pengolahan karet
berhubungan penggunaan dan pengolahan tanah, sehingga peraturan ini perlu
diacu);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan
atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan kebakaran Hutan dan
atau lahan (di dalam pelaksanaan proyek terdapat kegiatan pembukaan lahan
sehingga peraturan ini relevan dipakai sebagai acuan);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2001 tentang Pupuk Budidaya Tanaman
(kegiatan dalam proyek ini adalah budi daya tanaman perkebunan yang
menggunakan pupuk, sehingga PP ini relevan sebagai acuan);
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (peraturan ini menjadi relevan karena
dalam proyek ini dipergunakan B3 seperti BBM, oli, dll untuk operasional mesinmesin);
16. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (salah satu potensi
dampak dari proyek ini adalah penurunan kualitas air, sehingga peraturan ini
relevan untuk diacu);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Pemamfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan

Hutan (peraturan ini menjadi relevan apabila pada di dalam tapak proyek dan
sekitarnya terdapat kawasan hutan);
18. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Penatagunaan Tanah (kegiatan proyek ini sangat terkait dengan aspek tata ruang,
termasuk mengenai penatagunaan tanah);
19. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (dalam proyek
ini banyak kegiatan melaksanakan pembangunan fisik berupa bangunan mess,
gudang dll sehingga peraturan ini wajib dipakai sebagai acuan);
20. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan. (dalam kegiatan
terdapat mobilisasi angkutan materil atau peralatan yang memakai sarana jalan
sehingga peraturan ini relevan dipakai sebagai acuan);
21. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan
Daerah kabupaten/Kota;
22. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995 Tentang Pembenihan Tanaman;
23. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Wilayah
Geografis Penghasil Produk Perkebunan spesifik lokasi;
24. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2005 Tentang pendapatan pupuk
bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan;

Keputusan Presiden Republik Indonesia :


1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1980 tentang Wajib
Lapor Lowongan Pekerjaan dan Wajib Lapor Perusahaan (kegiatan ini
memerlukan tenaga kerja yang relatif banyak sehingga peraturan ini relevan
untuk diacu);
2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung (kegiatan proyek ini sangat terkait dengan aspek
tata ruang, termasuk kawasan lindung terutama sempadan-sempadan sungai
bagian hulu);
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 Tahun 1999 tentang
Perubahan Kedua atas KEPRES Nomor 97 Tahun 1993 tentang Tata Cara
Penanaman Modal (kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan penanaman modal
dalam bidang perkebunan dan industri sehingga peraturan ini relevan untuk
diacu);
4.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan


Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum (proyek ini
terkait dengan proses pengadaan dan pembebasan lahan, sehingga Perpres ini
relevan untuk dijadikan acuan);

5.

Peraturan Presiden Nomor : 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan


Penyusunan Bidang Usaha yang tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka (Proyek
ini merupakan suatu usaha terbuka dan tertutup, sehingga Perpres ini relevan
untuk dijadikan acuan);

6.

Peraturan Presiden Nomor : 111 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden Nomor : 77 tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan
Bidang Usaha yang Terbuka dengan persyaratan di Bidang Penanaman (Proyek
ini merupakan suatu usaha terbuka dan tertutup, sehingga Perpres ini relevan
untuk dijadikan acuan)

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional:


1.

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala BPN Nomor 2 Tahun 1993 tentang
Tata Cara Memperoleh Izin Lokasi dan Hak Atas Tanah Bagi Perusahaan Dalam
Rangka Penanaman Modal (Peraturan ini perlu diacu, karena terkait dengan
keperluan penggunaan atas luasan tanah tertentu dalam kegiatan perkebunan dan
pengolahan karet ini);

2.

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2


Tahun 1999 tentang Izin Lokasi (Untuk beroperasi terkait dengan penggunaan
lahan tentu perlu diacu peraturan ini dalam memperoleh izin lokasi);

3.

Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1999 tentang


Pemberian dan Pelepasan Hak Atas Tanah jo. Peraturan Menteri Negara Agraria/
Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999 (Untuk beroperasi terkait dengan penggunaan
lahan tentu perlu diacu peraturan ini dalam memperoleh pelepasan hak atas tanah
dari penguasaan/kepemilikan sebelumnya);

Keputusan / Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia:


1.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor KEP02/MENKLH/I/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan (baku
mutu lingkungan diperiukan sebagai standard untuk mengetahui apakah telah
terjadi penurunan kualitas lingkungan atau tidak)

2.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor KEP13/MENLH/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak (Baku mutu
ini perlu diacu pada kegiatan yang menggunakan mesin tidak bergerak penghasil
emisi seperti generator set, dll)

3.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP-51/MENLH/10/1995


tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri (Dalam operasionalnya
kegialan perkebunan karet akan mengeluarkan limbah cair, sehingga sangat
relevan untuk mengacu baku limbah cair bagi industri ini);

4.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor KEP48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan (Dalam kegiatan
perkebunan ini terdapat kegiatan yang menyebabkan peningkatan kebisingan
seperti pengangkutan, operasional genset dan operasional alat berat lainnya
sehingga relevan peraturan ini untuk diacu);

5.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 45


Tahun 1997 tentang Indeks Standar Pencemaran Udara (Dalam kegiatan
perkebunan ini ada kegiatan yang menyebabkan penurunan kualitas udara,
sehingga perlu peraturan ini diacu untuk menentukan tercemar atau tidaknya
udara);

6.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 02


Tahun 2000 tentang Panduan Penilaian Dokumen Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (KepmennegLH ini diperlukan sebagai acuan dalam menilai
dan bahan untuk meningkatkan kualitas dokumen AMDAL yang sedang
disusun);

7.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05


Tahun 2000 tentang Pedoman Penyusunan Amdal Kegiatan Pembangunan di
Lahan Basah (Karena lokasi perkebunan ini di lahan basah, maka sangat relevan
peraturan ini untuk diacu);

8.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 37


Tahun 2003 tentang Metode Analisa Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan
Contoh Air Permukaan (Adanya potensi dampak penurunan kualitas air dari
proyek ini, maka Kepmenneg LH ini relevan untuk diacu terutama untuk
sampling dan analisis parameter kualitas air);

9.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 110


Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemem Air
Pada Sumber Air (Adanya potensi dampak penurunan kualitas air dari proyek ini,
maka Kepmenneg LH ini relevan untuk diacu);

10. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 2005 tentang
Pedoman Penyusunan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) (RKL dan RPL
merupakan dokumen yang tak terpisahkan dari dokumen AMDAL lainnya, yaitu
KA-ANDAL, ANDAL dan Ringkasan Eksekutif. Memantau pelaksanaan RKI
dan RPL maka KepmennegLH ini perlu diacu);
11. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 08
Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (Permenneg LH ini menggantikan Kepka Bapedal No
09/2000, dengan demikian, proses dan penyusunan dokumen AMDAL ini
mengacu kepada Permenneg LH ini);
12. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 11
Tahun 2006 Lampiran I. tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang
Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup

(Permenneg LH ini diperiukan sebagai acuan untuk menetapkan / memastikan


apakah proyek ini wajib AMDAL atau tidak);

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan


1.

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 12/Kpts-II/1987 tentang


Jenis Satwa yang Dilindungi oleh Undang Undang (Kegiatan perkebunan karet
tentunya akan menimbulkan berbagai dampak, termasuk gangguan terhadap
satwa sehingga relevan Kepmen ini diacu untuk mengetahui ada tidaknya satwa
yang dilindungi UU);

2.

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 107/Kpts-II/1999 jo


nomor 645/ Kpts-II/1999 tentang Perijinan Usaha Perkebunan (Sebelum mulai
membangun dan operasional kegiatan perkebunan ini, terlebih dahulu mengurus
perijinannya sehingga relevan Kepmenhutbun ini untuk dijadikm acuannya);

3.

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan dan Menteri Koperasi PKM


Nomor 234/Kpb-IV/1999 dan Nomor 01/SKB/M/IV/1999 tentang Pemberdayaan
Koperasi Dalam Usaha Kehutanan dan Perkebunan (dalam upaya pemberdayaan
masyarakat sekitar proyek, perusahaan memerlukan mitra kerja dari masyarakat
yang jelas payung hukumnya seperti koperasi, sehingga Kemenhutbun ini
relevan untuk dijadikan acuan);

4.

Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 453/Kpts-II/1999 tentang Kawasan dan


Perairan di Propinsi Kalimantan Selatan (seluruh tapak proyek berada pada
kawasan dan perairan di Provinsi Kalimantan Selatan, sehingga Kepmenhut ini
perlu diacu karena merupakan salah satu alat tapis dalam kesesuaian
pemanfaatan kawasan dan perairan);

Keputusan Menteri Pertanian


1. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 421/1970, 327/1972, 66/1973, 35/1975,
90/1977, 537/1977, 327/1978, 742/1978, 247/1979, 757/1979, 576/1980,
716/1980, 12/1987 tentang Jenis Satwa Yang Dilindungi oleh Undang Undang
(Kepmen ini perlu diacu untuk mengetahui ada tidaknya jenis satwa di tapak
proyek yang dilindungi UU);
2. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 66/Kpts/Um/1979 tentang Kriteria Satwa
yang Dilindungi Menurut Ordonansi Perlindungan Binatang Liar yang Dilindungi
(Kepmen ini perlu diacu untuk mengetahui ada tidaknya satwa di tapak proyek
yang dilindungi);
3. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 07 Tahun 2007 tentang Syarat dan Tata Cara
Pendaftaran Pestisida (di dalam pelaksanaan proyek, terjadi penggunaan
pestisida/herbisida, sehingga peraturan ini menjadi relevan);

4. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 08 Tahun 2007 tentang Syarat dan Tata Cara
Pendaftaran Pupuk (di dalam pelaksanaan proyek, terjadi penggunaan pupuk,
sehingga peraturan ini menjadi relevan);
5. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang
Pedoman Perizinan Usaha Perkebunan (Permentan ini sangat relevan dengan
proyek yang dilaksanakan);

Peraturan dan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum:


1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 45 Tahun 1990 tentang Pengendalian
Mutu Air pada Sumber Air (PermenPU ini relevan dengan kondisi tapak proyek
yang merupakan lahan basah yang dialiri oleh berbagai sungai sebagai sumber
air);
2. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 48 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Atas Air dan atau Sumber Air pada Wilayah Sungai (PermenPU ini relevan dengan
kondisi tapak proyek yang merupakan lahan basah yang dialiri oleh berbagai
sungai sebagai sumber air);
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 49 Tahun 1990 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Izin Penggunaan Air dan atau Sumber Air (PermenPU ini relevan
dengan kondisi tapak proyek yang merupakan lahan basah yang dialiri oleh
berbagai sungai sebagai sumber air);
4. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis
Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai dan Daerah Penguasaan Sungai
(proyek ini dalam kegiatannya menggunakan sumber daya air yang terdapat di
dalam tapak proyek dan sekitarnya, sehingga sangat terkait dengan peraturan ini);
5. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 64 Tahun 1993 tentang Reklamasi
Rawa (Wilayah studi merupakan lahan basah (ekosistem rawa), sehingga PermenPU ini sangat relevan untuk diacu);
6. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 441 /KPTS/ 1998 tentang
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung (Keputusan ini sangat relevan untuk
dipedomani dalam rangka pembangunan gedung di lokasi proyek);
7. Keputusan Menteri Kimpraswil No. 260/KPTS/M/2004 Tentang Pengesahan
Rancangan 38 Rancangan SNI dan 64 Pedoman Teknis Bidang Konstruksi dan
Bangunan (dilampirkan dengan RSNI T-14-2004);
8. Keputusan Menteri PU No. 29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Persyaratan Teknis
Bangunan Gedung (peraturan ini relevan untuk kegiatan pembangunan
infrastruktur);

9. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 Tentang Pedoman


Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (peraturan ini relevan untuk
kegiatan pembangunan infrastruktur);
Keputusan/Peraturan Menteri Kesehatan :
1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 173/MENKES/PERIVIII/77 tentang
Pengendalian Pencemaran Air untuk Penggunaan yang Berhubungan dengan
Kesehatan Masyarakat (dalam kegiatan ini ada potensi untuk menyebabkan
penurunan kualitas air sehingga relevan Kepmen ini untuk diacu);
2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 528/Menkes/PER/XII/1982 tentang Kualitas
Air Tanah yang Berhubungan dengan Kesehatan (dalam kegiatan ini ada potensi
uniuk menyebabkan penurunan kualitas air tanah sehingga relevan peraturan ini
untuk diacu);
3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 716/Menkes/PER/1987 tentang Kebisingan
yang berhubungan dengan Kesehatan Manusia (dalam operasionalnya kegiatan
perkebunan dan pengolahan kelapa sawit ini, terdapat potensi peningkatan
kebisingan sehingga relevan peraturan ini untuk diacu);
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 718/Menkes/PER/XI/1987 tentang
Kebisingan yang Berhubungan dengan Kesehatan (dalam kegiatan ini ada potensi
untuk menyebabkan peningkatan kebisingan yang dapat menurunkan kesehatan
masyarakat sehingga relevan Kepmen ini untuk diacu);
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-Syarat dan
Pengawasan Kualitas Air (dalam kegiatan ini ada potensi untuk menyebabkan
penurunan kualitas air sehingga relevan Kepmen ini untuk diacu terutama dalam
pembuatan dokumen RPL khususnya komponen kualitas air dan kesehatan
masyarakat);
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/VII/2001 tentang Pedoman
Teknis ADKL (dalam kegiatan ini ada potensi untuk menyebabkan penurunan
kualitas kesehatan lingkungan sekitar sehingga relevan Kepmen ini uniuk diacu);

Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan :


1. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor 056 Tahun
1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Kepka ini merupakan
acuan kriteria dalam penentuan dampak penting dalam studi AMDAL);
2. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor 01 Tahun
1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan
Limbah B3 (Proyek ini ada menggunakan B3 seperti BBM, oli, dll sehingga
relevan Kepka ini diacu);

3. Keputusan Kepala Bapedal Nomor 255 Tahun 1996 tentang Tata Cara dan
Persyaratan Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas Bekas (Kepka ini
merupakan salah satu acuan/kriteria dalam pengelolaan minyak pelumas bekas);
4. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor KEP299/11/1996 tentang Pedoman Teknis Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (Kepka ini merupakm acuan/kriteria dalam
analisis aspek sosial dalam studi AMDAL ini);
5. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor KEP124/12/1997 tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat Dalam
Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Kepka ini merupakm acuan/
kriteria dalam analisis aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL ini);
6. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor 08 Tahun
2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Kepka ini merupakan acuan/
kriteria dalam keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam studi
AMDAL ini);

Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal:


1. Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 57/SK/2004
Tahun 2004 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modalnya
yang didirikan dalam Rangka Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal
Dalam Negeri (Pemrakarsa kegiatan ini merupakan Perusahaan Swasta Nasional
yang investasinya dengan Penanaman Modal Dalam Negeri sehingga relevan
Kepka ini untuk diacu);
2. Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor : 61/SK/2005
tentang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal (kegiatan ini merupakan
Perusahaan Swasta Nasional yang investasinya dengan Penanaman Modal Dalam
Negeri sehingga relevan Kepka ini untuk diacu);
3. Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal tentang Perubahan ketiga
atas Keputusan Kepala BKPM Nomor : 76/SK/2004 tentang Penerbitan Izin
Usaha/Izin Usaha tetap bagi perusahaan yang didirikan dalam rangka Penanaman
Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri yang telah
beroperasi/berproduksi

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan :

1.

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 5 Tahun 1994 tentang


Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Perda ini merupakan landasan
pengelolaan lingkungan hidup di Provinsi Kalimantan Selatan sehingga sangat
relevan dengan kegialan Studi AMDAL ini);

2.

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 9 Tahun 2000 tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Selatan (Dalam penapisan
maupun penelaahan tata ruang tentu tidak lepas dari RT RW P Kalsel sesuai
dengan arahan Permenneg LH No. 08 Tahun 2006);

3.

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 2 Tahun 2006 tentang


Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (dalam kegiatan
perkebunan ini, ada potensi teriadinya penurunan kualitas air sehingga relevan
dalam pengelolaannya mengacu terhadap Perda ini);

4. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 15 tahun 2006 tentang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2006 2010 (peraturan ini relevan untuk telaahan kebijakan strategik
wilayah provinsi Kalsel);
5. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 3 Tahun 2008 tentang
Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus Untuk Angkutan Tambang
dan Hasil Perusahaan Perkebunan (peraturan ini relevan untuk mobilisasi
kendaraan perusahaan terkait dengan penggunaan jalan umum);

Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan :


1. Peraturan Gubemur Kalimantan Selatan Nomor 05 Tahun 2007 tentang Peruntukan
dan Baku Mutu Air Sungai (kegiatan perkebunan ini, ada potensi terjadinya
penurunan kualitas air sehingga relevan dalam penggolongan, baku mutu dan
peruntukkan pada hasil analisanya mengacu terhadap Pergub ini);
2. Peraturan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 04 Tahun 2007 tentang Baku Mutu
Limbah Cair (BMLC) Bagi Kegiatan Industri, Hotel, Restoran, Rumah Sakit,
Domestik dan Pertambangan (kegiatan perkebunan ini, akan menghasilkan limbah
dalam proses pelaksanaan pengolahannya sehingga relevan pada hasil analisanya
mengacu terhadap Pergub ini);