Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

SKABIES

Pembimbing : dr. Afaf Agil A, Sp. KK


Disusun oleh :
Chicilia Windia T. W
Galuh Ajeng Laraswati
Pria Adhi Yaksa

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT KULIT DAN


KELAMIN
RUMAH SAKIT ISLAM CEMPAKA PUTIH
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI..............................................................................................................................2
BAB I.........................................................................................................................................3
PENDAHULUAN......................................................................................................................3
BAB II........................................................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................................................5
A. Definisi..............................................................................................................................5
B. Etiologi..............................................................................................................................5
C. Epidemiologi.....................................................................................................................6
D. Cara Penularan..................................................................................................................7
E. Patogenesis........................................................................................................................7
F. Gambaran Klinis................................................................................................................7
G. Pemeriksaan Penunjang...................................................................................................12
H. Diagnosa Banding...........................................................................................................14
I. Komplikasi........................................................................................................................15
J. Pengobatan........................................................................................................................15
L. Pencegahan......................................................................................................................18
BAB III.....................................................................................................................................19
KESIMPULAN........................................................................................................................19
BAB IV....................................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................20

BAB I
PENDAHULUAN
Skabies merupakan penyakit kulit menular akibat infestasi tungau Sarcoptes scabiei
var hominis (S. scabiei) yang membentuk terowongan pada lapisan stratum korneum dan
stratum granulosum pejamu. S. scabiei termasuk parasit obligat pada manusia. Skabies
menjadi masalah yang umum di dunia, mengenai hampir semua golongan usia, ras, dan
kelompok sosial ekonomi. Kelompok sosial ekonomi rendah lebih rentan terkena penyakit ini
(Stone et al, 2008).
Diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terkena skabies. Prevalensi
cenderung lebih tinggi di daerah perkotaan terutama di daerah yang padat penduduk. Menurut
Departemen Kesehatan RI 2008 prevalensi skabies di Indonesia sebesar 5,60-12,95 % dan
skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit. Tiyakusuma dalam penelitiannya di
Pondok Pesantren As-Salam Surakarta, menemukan prevalensi skabies 56,67 % pada tahun
2010. Skabies merupakan penyakit kulit yang bersifat global (Stone et al, 2008).
Prevalensi skabies meningkat dan memberat pada negara tropis, yaitu sekitar 10 %
dan hampir 50 % mengenai anak-anak. Skabies dapat muncul endemik pada anak usia
sekolah, dan kejadiannya sangat sering di daerah pedesaan terutama di negara berkembang,
pasien lanjut usia yang dirawat di rumah, pasien dengan HIV/AIDS, dan pasien 2 yang
mengkonsumsi obat imunosupresan akan mengalami faktor risiko yang lebih besar untuk
mengalami skabies (Marks and Miller, 2006).
Berbagai manifestasi klinis yang bervariasi sering menyebabkan kesalahan dalam
mendiagnosis penyakit ini. Hal ini dapat mengakibatkan penatalaksanaan yang tidak adekuat
sehingga terjadi peningkatan risiko penularan bahkan menjadi wabah yang dapat
mengganggu aktivitas dan menambah biaya untuk pengobatan penyakit ini. Penularan terjadi
akibat kontak langsung dengan kulit pasien atau tidak langsung dengan benda yang
terkontaminasi tungau. Skabies dapat mewabah pada daerah padat penduduk seperti daerah
kumuh, penjara, panti asuhan, panti jompo, dan sekolah asrama (Stone et al., 2008).
Penyebab skabies antara lain disebabkan oleh rendahnya faktor sosial ekonomi,
kebersihan yang buruk seperti mandi, pemakaian handuk, mengganti pakaian dan melakukan
3

hubungan seksual. Penyakit ini biasanya banyak ditemukan di tempat seperti di asrama, panti
asuhan, penjara, pondok pesantren yang kurang terjaga personal hygienenya. (Murtiastutik,
2009).
Berbagai obat antiskabies, diantaranya yang paling efektif adalah krim permetrin, obat
pilihan lainnya adalah krotamiton walaupun kurang efektif tetapi kurang toksik, ivermectin
dapat digunakan secara oral ataupun topical, sedangkan lindane tidak lagi dipakai karena
toksik dan dianggap scabies sudah resisten terhadap lindane (Djuanda, 2015).
Penulis tertarik untuk mengerjakan tulisan ini dikarenakan semakin banyak jumlah
pasien skabies yang berobat terutama di poli kulit RSIJ Cempaka Putih.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Sinonim atau nama lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal
agogo. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya (Djuanda, 2015).
Skabies terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, di semua geografi daerah,
semua kelompok usia, ras dan kelas sosial. Namun menjadi masalah utama pada daerah yang
padat dengan gangguan sosial, sanitasi yang buruk, dan negara dengan keadaan
perekonomian yang kurang. Skabies ditularkan melalui kontak fisik langsung, (skin-to-skin)
maupun tak langsung (pakaian, tempat tidur, yang dipakai bersama) (Orkin, 2008).
Gejala utama adalah pruritus intensif yang memburuk di malam hari atau kondisi
dimana suhu tubuh meningkat. Lesi kulit yang khas berupa terowongan, papul, ekskoriasi dan
kadang-kadang vesikel (Siregar, 1996).
Tungau penyebab skabies merupakan parasit obligat yang seluruh siklus hidupnya
berlangsung di tubuh manusia. Tungau tersebut tidak dapat terbang atau meloncat namun
merayap dengan kecepatan 2.5 cm per menit pada kulit yang hangat (Chosidow, 2006).
B. Etiologi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya (Djuanda, 2015).

Sarcoptes scabie
(Anonim, 2004 ; www.Standford.edu)

Sarcoptes scabiei adalah parasit manusia obligat yang termasuk filum Arthopoda, kelas
Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Bentuknya lonjong, bagian chepal depan
kecil dan bagian belakang torakoabdominal dengan penonjolan seperti rambut yang keluar
dari dasar kaki (Chosidow, 2006).
Tungau skabies mempunyai empat kaki dan diameternya berukuran 0,3 mm. Sehingga
tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tungau mampu hidup selama 3 hari jauh dari host
dalam tabung reaksi steril, dan selama 7 hari jika ditempatkan di mineral oil mounts. Tungau
ini tidak dapat terbang atau melompat dan hanya dapat hidup selama 30 hari di lapisan
epidermis (Orkin, 2008).
Skabies betina dewasa berukuran sekitar 0,4 mm dengan luas 0,3 mm, dan jantan
dewasa lebih kecil 0,2 mm panjang dengan luas 0,15 mm. Tubuhnya berwarna putih susu dan
ditandai dengan garis melintang yang bergelombang dan pada permukaan punggung terdapat
bulu dan dentikel (Burns DA, 2004).
C. Epidemiologi
Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Daerah
endemik skabies adalah di daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika Tengah,
Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, Kepulauan Karibia, India, dan Asia Tenggara
(Binic, 2010).
Terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terjangkit tungau skabies
(Chosidow, 2006). Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies cenderung
tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, ras, umur,
ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah kemiskinan dan
kondisi hidup di daerah yang padat (Walton, 2007), sehingga penyakit ini lebih sering di
daerah perkotaan (Orkin, 2008).
Terdapat bukti menunjukkan insiden kejadian berpengaruh terhadap musim dimana
kasus skabies lebih banyak didiagnosis pada musim dingin dibanding musim panas. Insiden
skabies semakin meningkat sejak dua dekade ini dan telah memberikan pengaruh besar
terhadap wabah di rumah-rumah sakit, penjara, panti asuhan, dan panti jompo (Orkin, 2008).

Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang
menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: higiene yang buruk, kesalahan diagnosis,
dan perkembangan dermografik serta ekologi (Djuanda, 2015).
D. Cara Penularan
Skabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak tidak langsung.
Penularan melalui kontak langsung (skin-to-skin) menjelaskan mengapa penyakit ini sering
menular ke seluruh anggota keluarga (Hicks, 2009). Penularan secara tidak langsung dapat
melalui penggunaan bersama pakaian, handuk, maupun tempat tidur. Bahkan dapat pula
ditularkan melalui hubungan seksual antar penderita dengan orang sakit (Djuanda, 2015).
E. Patogenesis
Siklus hidup terjadi sepenuhnya di kulit manusia. Tungau betina berkembang biak
dengan melakukan gerakan tubuh, membuat terowongan di stratum korneum sampai batas
granulosum. Sepanjang 1 cm, ia meletakkan 2-3 telur sehari dengan masa hidup telur selama
30 hari. Telur menetas 10 hari kemudian. Tungau jantan hidup di permukaan kulit dan
memasuki terowongan untuk berkembang biak (Craig, 2012).
S. scabiei melepaskan substansi sebagai respon hubungan antara tungau dengan
keratinosit dan sel-sel Langerhans ketika melakukan penetrasi ke dalam kulit (Hicks, 2009).
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe IV
dan tipe I. Pada reaksi tipe I, pertemuan antigen tungau dengan Imunoglobulin-E pada sel
mast yang berlangsung di epidermis menyebabkan degranulasi sel-sel mast. Sehingga terjadi
peningkatan antibodi IgE. Keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe IV akan memperlihatkan
gejala sekitar 10-30 hari setelah sensitisasi tungau dan akan memproduksi papul-papul dan
nodul inflamasi yang dapat terlihat dari perubahan histologik dan jumlah sel limfosit T
banyak pada infiltrat kutaneus. Kelainan kulit yang menyerupai dermatitis tersebut sering
terjadi lebih luas dibandingkan lokasi tungau dengan efloresensi dapat berupa papul, nodul,
vesikel, urtika dan lainnya. Akibat garukan yang dilakukan oleh pasien dapat timbul erosi,
ekskoriasi, krusta hingga terjadinya infeksi sekunder (Burns DA, 2004 ; Hicks, 2015).

F. Gambaran Klinis
Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes scabiei sangat
bervariasi. Meskipun demikian kita dapat menemukan gambaran klinis berupa keluhan
subjektif dan objektif yang spesifik.
Dikenal ada 4 tanda utama atau cardinal sign pada infestasi skabies, yaitu (Djuanda,
2015) :
1. Pruritus nocturna
Setelah pertama kali terinfestasi dengan tungau skabies, kelainan kulit seperti
pruritus akan timbul selama 6 hingga 8 minggu. Infeksi yang berulang menyebabkan
ruam dan gatal yang timbul hanya dalam beberapa hari. Gatal terasa lebih hebat pada
malam hari. Hal ini disebabkan karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu
yang lebih lembab dan panas. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur
dan penderita menjadi gelisah.
2. Sekelompok orang
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam sebuah
keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula dalam sebuah
pemukiman yang padat penduduknya, skabies dapat menular hampir ke seluruh
penduduk. Suatu kelompok mungkin akan ditemukan individu yang hiposensitisasi,
walaupun terinfestasi oleh parasit sehingga tidak menimbulkan keluhan klinis akan
tetapi menjadi pembawa/carier bagi individu lain.
3. Adanya terowongan
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada kemampuannya
meletakkan telur, larva dan nimfa didalam stratum korneum, oleh karena itu parasit
sangat menyukai bagian kulit yang memiliki stratum korneum yang relative lebih
longgar dan tipis.
Lesi yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul dan nodul yang sering
ditemukan di daerah sela-sela jari, aspek volar pada pergelangan tangan dan lateral
telapak tangan, siku, aksilar, skrotum, penis, labia dan pada areola wanita. Bila ada
infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).

Lesi pada sela jari, penis, dan areola mammae


(Anonim, 2004 ; www.Standford.edu)

Erupsi eritematous dapat tersebar di badan sebagai reaksi hipersensitivitas pada


antigen tungau. Lesi yang patognomonik adalah terowongan yang tipis dan kecil
seperti benang, berstruktur linear kurang lebih 1 hingga 10 mm, berwarna putih abuabu, pada ujung terowongan ditemukan papul atau vesikel yang merupakan hasil dari
pergerakan tungau di dalam stratum korneum. Terowongan ini terlihat jelas kelihatan
di sela-sela jari, pergelangan tangan dan daerah siku. Namun, terowongan tersebut
sukar ditemukan di awal infeksi karena aktivitas menggaruk pasien yang hebat.

Tempat-tempat predileksi skabies


(Habif, 2004)

4. Menemukan Sarcoptes scabiei


Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh kemungkinan besar
kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa maupun skibala dan ini
merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi, kriteria yang keempat ini agak
susah ditemukan karena hampir sebagian besar penderita pada umumnya datang
dengan lesi yang sangat variatif dan tidak spesifik. Pada kasus skabies yang klasik,
jumlah tungau sedikit sehingga diperlukan beberapa lokasi kerokan kulit. Teknik

pemeriksaan ini sangat tergantung pada operator pemeriksaan, sehingga kegagalan


menemukan tungau sering terjadi namun tidak menyingkirkan diagnosis skabies.

Bentuk Klinis
Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk yang tidak khas,
meskipun jarang ditemukan. Kelainan ini dapat menimbulkan kesalahan diagnostik yang
dapat berakibat gagalnya pengobatan
Bentuk-bentuk skabies antara lain (P, Stone, 2006):
1. Skabies pada orang bersih
Klinis ditandai dengan lesi berupa papula dan kanalikuli dengan jumlah yang sangat
sedikit, kutu biasanya hilang akibat mandi secara teratur. Namun bentuk ini seringkali
salah diagnosis karena lesi jarang ditemukan dan sulit mendapatkan terowongan tungau.

Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated)


(Anonim, 2004 ; www.Standford.edu)

2. Skabies nodular
Skabies nodular memperlihatkan lesi berupa nodul merah kecoklatan berukuran 2-20
mm yang gatal. Umumnya terdapat pada daerah yang tertutup terutama pada genitalia,
inguinal dan aksila. Pada nodus yang lama tungau sukar ditemukan, dan dapat menetap
selama beberapa minggu hingga beberapa bulan walaupun telah mendapat pengobatan anti
skabies.

10

Skabies Nodular
(Itzhak Brook, 1995)

3. Skabies incognito
Penggunaan obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala dan tanda
pada penderita apabila penderita mengalami skabies. Sehingga penderita dapat
memperlihatkan perubahan lesi secara klinis. Akan tetapi dengan penggunaan steroid,
keluhan gatal tidak hilang dan dalam waktu singkat setelah penghentian penggunaan
steroid lesi dapat kambuh kembali bahkan lebih buruk. Hal ini mungkin disebabkan
oleh karena penurunan respon imun seluler.

Skabies incognito dengan lesi krusta terlokalisasi pada penderita dengan pengobatan
regimen imunosupresan
(Habif, 2004)

4. Skabies Norwegia (Skabies berkrusta)


Kondisi yang jarang ini sangat mudah menular karena tungau berada dalam jumlah
yang banyak dan diperkirakan lebih dari sejuta tungau berkembang di kulit, sehingga
dapat menjadi sumber wabah di tempat pelayanan kesehatan (Orkin, 2008).
Kadar IgE yang tinggi, eosinofil perifer, dan perkembangan krusta di kulit yang
hiperkeratotik dengan skuama dan penebalan menjadi karakteristik penyakit ini. Plak
hiperkeratotik tersebar pada daerah palmar dan plantar dengan penebalan dan distrofi
kuku jari kaki dan tangan. Lesi tersebut menyebar secara generalisata seperti daerah
leher dan kulit kepala. telinga, bokong, siku, dan lutut. Kulit yang lain biasanya terlihat
xerotik. Pruritus dapat bervariasi dan dapat pula tidak ditemukan pada bentuk penyakit
ini (Walton, 2007).
11

Skabies norwegian pada plantar


(Itzhak, 1995)

Bentuk ini ditemukan pada penderita yang mengalami gangguan fungsi imunologik
misalnya penderita HIV/AIDS, lepra, penderita infeksi virus leukemia type 1, pasien
yang menggunakan pengobatan imunosupresi, penderita gangguan neurologik dan
retardasi mental (Chosidow, 2006).
5. Skabies pada bayi dan anak
Pada anak yang kurang dari dua tahun, infestasi bisa terjadi di wajah dan kulit kepala
sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Lesi skabies pada anak dapat mengenai
seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki dan sering
terjadi infeksi sekunder berupa impetigo, ektima, sehingga terowongan jarang
ditemukan. Pada bayi, lesi terdapat di wajah (Orkin, 2008).
Nodul pruritis erithematos keunguan dapat ditemukan pada axilla dan daerah lateral
badan pada anak-anak. Nodul-nodul ini bisa timbul berminggu-minggu setelah
eradikasi infeksi tungau dilakukan. Vesikel dan bulla bisa timbul terutama pada telapak
tangan dan jari (Orkin, 2008).

Skabies pada anak


(Itzhak Brook, 1995)

G. Pemeriksaan Penunjang
Bila gejala klinis spesifik, diagnosis skabies mudah ditegakkan. Tetapi penderita
sering datang dengan lesi yang bervariasi sehingga diagnosis pasti sulit ditegakkan. Pada
umumnya diagnosis klinis ditegakkan bila ditemukan dua dari empat cardinal sign. Beberapa
12

cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau dan produknya yaitu (Orkin, 2008 ;
Binic, 2010):
1. Apusan kulit
Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakkan selotip pada lesi dan diangkat
dengan gerakan cepat. Selotip kemudian diletakkan di atas gelas objek dan diperiksa
dengan mikroskop.
2. Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau KOH 10% lalu
dilakukan kerokan dengan meggunakan scalpel steril yang bertujuan untuk
mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan diletakkan di gelas objek
dan ditutup dengan kaca penutup lalu diperiksa dibawah mikroskop.
3. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan kedalam
terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung lainnya kemudian
dikeluarkan. Bila positif, Tungau terlihat pada ujung jarum sebagai parasit yang
sangat kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan tetapi memerlukan keahlian
tinggi.
4. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Identifikasi terowongan bisa dibantu dengan cara mewarnai daerah lesi dengan tinta
hitam. Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit. Setelah
tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan kelihatan lebih
gelap dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta didalam terowongan.
Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran kanalikuli yang khas berupa garis
menyerupai bentuk zigzag.
5. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Diagnosis pasti dapat melalui identifikasi tungau, telur atau skibala secara
mikroskopik. Ini dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk
kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superficial secara menggunakan
pisau dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan tersebut
13

diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan minyak mineral yang kemudian
diperiksa dibawah mikroskop.
6. Biopsi irisan dengan pewarnaan HE.

Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan pewarnaan H.E


(Anonim, 2004 ; www.Standford.edu

H. Diagnosa Banding
Diagnosis bandingnya adalah (Chasidow, 2006):
1. Urtikaria Akut: erupsi pada papul-papul yang gatal, selalu sistemik.

Urtikaria Akut (Anonim, 2004; standford.edu)


2. Prurigo, biasanya berupa papul-papul yang gatal, predileksi pada bagian ekstensor
ekstremitas.

Prurigo nodularis (Anonim, 2004; standford.edu)


3. Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan, efloresensinya urtikaria
papuler.

14

Insects bite (Anonim, 2004 ; huddoktor.com)


4. Folikulitis berupa pustul miliar dikelilingi daerah yang eritem.

Folikulitis (Anonim, 2004 ; huddoktor.com)

I. Komplikasi
Impetiginisasi

sekunder

dan

poststreptococcal

glomerulonefritis

disebabkan

oleh

Streptococcus pyogenes. Limfangitis dan septikemia juga telah dilaporkan pada skabies
krusta (Craig,2012).
J. Pengobatan
Edukasi pada pasien scabies (Djuanda, 2015) :
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari
sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan direndam
dengan air panas
5. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut
menjaga kebersihan.

15

Dikutip dari Craig N. Scabies, Fitzpatrick, 8th 2012.

Pengobatan skabies harus efektif terhadap tungau dewasa, telur dan produknya, mudah
diaplikasikan, nontoksik, tidak mengiritasi, aman untuk semua umur, dan terjangkau
biayanya. Pengobatan skabies yang bervariasi dapat berupa topikal maupun oral.
a. Permethrin
Merupakan sintesa dari pyrethroid, dan bekerja dengan cara mengganggu
polarisasi dinding sel saraf parasit yaitu melalui ikatan dengan natrium. Hal ini
memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralise parasit.
Obat ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan scabies karena efek
toksisitasnya terhadap mamalia sangat rendah dan kecenderungan keracunan
akibat kesalahan dalam penggunaannya sangat kecil. Hal ini disebabkan
karena hanya sedikit yang terabsorpsi di kulit dan cepat dimetabolisme yang
kemudian dikeluarkan kembali melalui keringat dan sebum, dan juga melalui
urin. Belum pernah dilaporkan resistensi setelah penggunaan obat ini.
Permethrin tersedia dalam bentuk krim 5%, yang diaplikasikan selama 8-12
jam dan setelah itu dicuci bersih. Apabila belum sembuh bisa dilanjutkan
dengan pemberian kedua setelah 1 minggu (Currie, 2010).
Permethrin jarang diberikan pada bayi-bayi yang berumur kurang dari 2 bulan,
wanita hamil dan ibu menyusui. Wanita hamil dapat diberikan dengan aplikasi
yang tidak lama sekitar 2 jam. Efek samping jarang ditemukan, berupa rasa
terbakar, perih dan gatal, namun mungkin hal tersebut dikarenakan kulit yang
sebelumnya memang sensitive dan terekskoriasi (Currie, 2010).
b. Lindane / Gamma benzene heksaklorida
Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena, adalah sebuah
insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat (SSP) tungau. Lindane diserap
16

masuk ke mukosa paru-paru, mukosa usus, dan selaput lendir kemudian


keseluruh bagian tubuh tungau dengan konsentrasi tinggi pada jaringan yang
kaya lipid dan kulit yang menyebabkan eksitasi, konvulsi, dan kematian
tungau. Lindane dimetabolisme dan diekskresikan melalui urin dan feses.
Lindane tersedia dalam bentuk krim, lotion, gel, tidak berbau dan tidak
berwarna. Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke seluruh tubuh
dari leher ke bawah selama 12-24 jam dalam bentuk 1% krim atau lotion.
Setelah pemakaian dicuci bersih dan dapat diaplikasikan lagi setelah 1 minggu.
Hal ini untuk memusnahkan larva-larva yang menetas dan tidak musnah oleh
pengobatan sebelumnya. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan
Lindane selama 6 jam sudah efektif. Dianjurkan untuk tidak mengulangi
pengobatan dalam 7 hari, serta tidak menggunakan konsentrasi lain selain 1%.
Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas SSP, kejang, dan
bahkan kematian pada anak atau bayi walaupun jarang terjadi. Tanda-tanda
klinis toksisitas SSP setelah keracunan lindane yaitu sakit kepala, mual,
pusing, muntah, gelisah, tremor, disorientasi, kelemahan, berkedut dari
kelopak mata, kejang, kegagalan pernapasan, koma, dan kematian. Beberapa
bukti menunjukkan lindane dapat mempengaruhi perjalanan fisiologis kelainan
darah seperti anemia aplastik, trombositopenia, dan pancytopenia (Hicks,
2009).
c. Crotamiton
Crotamion (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim 10% atau
lotion. Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%. Hasil terbaik
telah diperoleh bila diaplikasikan dua kali sehari selama lima hari berturutturut setelah mandi dan mengganti pakaian dari leher ke bawah selama 2
malam kemudian dicuci setelah aplikasi kedua. Efek samping yang
ditimbulkan berupa iritasi bila digunakan jangka panjang (Hicks, 2009).
Beberapa ahli beranggapan bahwa crotamiton krim ini tidak memiliki
efektivitas yang tinggi terhadap skabies. Crotamiton 10% dalam krim atau
losion, tidak mempunyai efek sistemik dan aman digunakan pada wanita
hamil, bayi dan anak kecil (Hicks, 2009).
d. Sulfur Precipitatum

17

Sulfur adalah antiskabietik tertua yang telah lama digunakan, sejak 25 M.


Preparat sulfur yang tersedia dalam bentuk salep (2% -10%) dan umumnya
salep konsentrasi 6% lebih disukai. Cara aplikasi salep sangat sederhana, yakni
mengoleskan salep setelah mandi ke seluruh kulit tubuh selama 24 jam selama
tiga hari berturut-turut. Keuntungan penggunaan obat ini adalah harganya yang
murah dan mungkin merupakan satu-satunya pilihan di negara yang
membutuhkan terapi massal.
Bila kontak dengan jaringan hidup, preparat ini akan membentuk hydrogen
sulfide dan pentathionic acid (CH2S5O6) yang bersifat germicid dan fungicid.
Secara umum sulfur bersifat aman bila digunakan oleh anak-anak, wanita
hamil dan menyusui serta efektif dalam konsentrasi 2,5% pada bayi. Kerugian
pemakaian obat ini adalah bau tidak enak, mewarnai pakaian dan kadangkadang menimbulkan iritasi (Hicks, 2009).

e. Benzyl Benzoat
Benzil benzoate adalah ester asam benzoat dan alkohol benzil yang merupakan
bahan sintesis balsam peru. Benzil benzoate bersifat neurotoksik pada tungau
skabies. Digunakan sebagai 25% emulsi dengan periode kontak 24 jam dan
pada usia dewasa muda atau anak-anak, dosis dapat dikurangi menjadi 12,5%.
Benzil benzoate sangat efektif bila digunakan dengan baik dan teratur dan
secara kosmetik bisa diterima. Efek samping dari benzil benzoate dapat
menyebabkan dermatitis iritan pada wajah dan skrotum, karena itu penderita
harus diingatkan untuk tidak menggunakan secara berlebihan. Penggunaan
berulang dapat menyebabkan dermatitis alergi. Terapi ini dikontraindikasikan
pada wanita hamil dan menyusui, bayi, dan anak-anak kurang dari 2 tahun.
Tapi benzil benzoate lebih efektif dalam pengelolaan resistant crusted scabies.
Di negara-negara berkembang dimana sumber daya yang terbatas, benzil
benzoate digunakan dalam pengelolaan skabies sebagai alternatif yang lebih
murah (Hicks, 2009).
L. Pencegahan
Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan scabies, orang-orang yang kontak
langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid. Terapi
18

pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran scabies karena seseorang
mungkin saja telah mengandung tungau scabies yang masih dalam periode inkubasi
asimptomatik (Orkin, 2008).
Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal, handuk dan
pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan dikeringkan dengan
udara panas karena tungau scabies dapat hidup hingga 3 hari diluar kulit, karpet dan kain
pelapis lainnya sehingga harus dibersihkan (vacuum cleaner) (Orkin, 2008).

BAB III
KESIMPULAN

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap
Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya. Penularannya dengan 2 cara, yaitu kontak
langsung dan kontak tak langsung.
Pada penyakit skabies ditemukan 4 tanda cardinal yaitu pruritus nocturna, menyerang
manusia secara berkelompok, adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi
yang berwarna putih atau keabu-abuan dan menemukan tungau.
Bentuk kelainan kulit pada penyakit skabies yaitu ditemukannya papul, vesikel, erosi,
ekskoriasi, krusta dan lain-lain, serta bermanifestasi klinis dalam berbagai variasi. Bila
infeksi sekunder telah terjadi dapat disebabkan bakteri yang ditandai dengan munculnya
pustul maupun timbulnya gejala infeksi sistemik Penanganan yang menjadi pilihan utama
adalah primethrin 5% topikal yang dioleskan di kulit 8-12 jam serta edukasi pasien.

19

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian) Scabies Following


Systemic And Topikal Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25: 2010. 88-91.
Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. Vol.2. USA:
Blackwell publishing; 2004. 37-47.
Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006. July : 354/ 1718-27.
Craig N. Burkhart, Scabies, Other Mites and Pediculosis. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine, 8th. USA : McGraw Hill; 2012. 2569
Currie J.B., and James S. McCarthy. Permethrin and Ivermectin for Scabies. New England J
Med. 2010. February : 362/717-724.
Djuanda A, Hamzah M., dan Aisah S. Ed., 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 7.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Habif TP, Hodgson S. Clinical Dermatology. Ed.4. London: Mosby; 2004. 497-506.
Hicks MI, Elston DM. Scabies. Dermatologic Therapy. 2009. November :22/279-292.
Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions. J Clin
Microbiol. 1995. August: 33/2139-2140.
Marks, JG & Miller, JJ 2006, Lookingbill&Markss Principles of Dermatology, 4 edn,
Elsevier, Philadelphia.
20

Murtiastutik D., 2008. Skabies. In: Barakbah J., Lumintang H., and Martodiharjo S. Ed. Buku
Ajar Infeksi Menular Seksual. Airlangga University Press, Surabaya: 202-208.
Orkin Miltoin, Howard L. Maibach Scabies and Pediculosis,. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine, 7th. USA: McGrawHill; 2008. 2029-31.
P. Stone Stephen, Jonathan N. Goldfarb, Rocky E. Bacelieri. Scabies. Fitzpatricks
Dermatology in General Medicine 5th. 2006. USA: McGrawHill; 2677-80
Stone, S.P., Goldfarb J.N., and Bacelieri R.E., 2008. Scabies, Other Mites, and Pediculosis.
In: Wolff K., Goldsmith L.A., Katz S.I., Gilchrest B.A., Paller A.S., and Leffell D.J.
Ed. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 7th edition. McGraw Hill, New
York: 2029-2037.
Vorvick MD, Linda. Folliculitis on the Leg. (online). 2008. Available from : URL:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus.
Walton SF, Currie BJ. Problems in Diagnosing Scabies, A Global Disease in Human and
Animal Populations. Clin Microbiol Rev. 2007. April. 268-79.

21