Anda di halaman 1dari 22

III. PEMBENIHAN ABALONE (Haliotis sp.

)
3.1. Pengelolaan Induk
3.1.1. Asal Induk
Induk abalone yang siap untuk di lakukan pemeliharaan yaitu induk
yang berukuran diatas 5 cm dan dapat ditemukan di perairan bagian
selatan pulau Bali, tepatnya di daerah perairan pantai kabupaten
Jembrana. Habitat tempat hidup abalone yaitu di dasar perairan yang
berkarang sebagai substrat nya dan berbatu yang ditumbuhi lumut dan
ganggang laut yang digunakan sebagai pakan abalone (Bambang dkk,
2007) dalam Prosiding Simposium Nasional 2007.
Menurut Setyono dan Dwiono (2011) induk abalone diperoleh dari
nelayan perairan Gerupuk dan Kute (Perairan Lombok bagian selatan)
serta Pulau Bungin (Sumbawa barat). Induk yang didapatkan dari alam
tidak seragam karena pertumbuhan dan umur induk yang berbeda. Induk
yang ditangkap dari alam berukuran >5 cm dengan kriteria sehat (tidak
terluka) dan kemudian dilakukan proses aklimatisasi di Hatchery (Setyono
dan Dwiono, 2011)
Induk abalone biasanya berasal dari hasil tangkapan nelayan.
induk abalone hasil tangkapan dari alam sulit langsung dipijahkan karena
setiap induk memiliki tingkat kematangan gonad yang sangat bervariasi,
menggunakan metode perangsangan (induce spawning) juga sulit untuk
dilakukan (Rusdi dkk, 2010).
3.1.2. Pemeliharaan Induk
Abalone dipelihara didalam bak beton ukuran 3 m x 2 m x 1 m,
Induk abalone di tempatkan dalam keranjang plastik yang telah diberi
lubang dengan ukuran 0,58 m x 0,39 m x 0,31 m dengan kepadatan setiap
keranjang yaitu 10 ekor/keranjang (Rusdi dkk, 2010). Semakin bertambah
ukuran abalone selama pemeliharaan semakin berkembang pula gonad
pada induk jantan dan betina pada fase kematangan akhir (Soleh dan
Suwoyo, 2008).

12

Induk abalone yang diperoleh dari hasil tangkapan dari alam di


kumpulkan dan dipelihara di dalam bak yang dialiri air laut yang telah
melalui proses filter menggunakan sand filter (filter pasir). Penempatan
bak penampungan induk diletakkan diruangan dengan kondisi gelap.
Pakan yang diberikan untuk abalone yaitu rumput laut jenis Gracillaria sp.
dan Ulva sp. (Bambang dkk, 2007) dalam Prosiding Simposium Nasional
2007. Pakan merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam
menunjang keberhasilan budidaya abalon, kelangsungan hidup, dan
pertumbuhan abalon dan ketepatan jenis dan dosis pakan yang diberikan
menjadi penentu keberhasilan budidaya abalone (Azlan dkk, 2013).
Menurut

Soleh

dan

Suwoyo

(2008)

ada

beberapa

faktor

yang

mempengaruhi pematangan gonad antara lain ukuran induk, ketersediaan


benih dan kualitas pakan serta kondisi lingkungan media pemeliharaan.
Dalam pemeliharaan Induk abalone antara jantan dan betina
dipelihara di bak terpisah karena untuk menghindari pemijahan liar
(spontaneous spawning). pakan yang diberikan untuk abalone dari jenis
rumput laut yaitu Gracillaria sp. dan Ulva sp. dengan dosis 15% - 20% dari
biomassa dengan frekuensi pemberian 2 hari sekali (Rusdi dkk, 2010).
Abalone diberi pakan rumput laut Gracillaria sp hasil budidaya ditambak
dengan dosis adlibitum (Soleh dan Suwoyo, 2008). Abalone dari spesies
Haliotis asinina dan Haliotis squamata keduanya menyukai pakan berupa
rumput laut (Bambang dkk, 2010). Selain untuk pertumbuhan pakan juga
berfungsi sebagai penunjang kesehatan dan untuk peningkatan mutu
produksi. Untuk itu maka pakan yang diberikan mengandung nutrien
berupa

protein,

lemak,

karbohidrat,

vitamin

dan

mineral

yang

kebutuhannya berbeda sesuai dengan umur dan jenis abalone (Marzuqi


dkk, 2012). Kualitas air media tetap di jaga dengan
penyiponan

dan

pembersihan

kotoran

dan

sisa

melakukan

pakan

sebelum

penggantian dan pemberian pakan selanjutnya. pergantian air dilakukan


menggunakan sistem sirkulasi air dengan debit air 5-6 L/menit (Rusdi dkk,
2010). suhu yang optimal untuk pemeliharaan induk abalone yaitu 27,5 oC30,5oC dengan salinitas berkisar antara 33-35 ppt (Bambang dkk, 2010).

13

Salinitas meningkat seiring datangnya musim kemarau, Salinitas pada


pagi hari cenderung lebih tinggi dibandingkan pada sore hari (Soleh dan
Suwoyo, 2008). pemeliharaan induk tanpa menggunakan substrat
penempelan dan ketinggian air diatur antara 60-70 cm dan pergantian air
secara total 100% dilakukan pada pagi hari (Soleh dan Suwoyo, 2008).
Pada abalone ukuran induk pertumbuhan ukuran tubuh lebih
lambat dibandingkan pada abalone umur muda (masa perkembangan)
(Soleh dan Suwoyo, 2008), hal ini terjadi karena abalone pada ukuran
induk nutrisi dari pakan yang dikonsumsi cenderung dimanfaatkan untuk
perkembangan gonad sementara pada abalone umur muda nutrisi dari
pakan yang dikonsumsi cenderung digunakan untuk perkembangan sel
dan pertumbuhan.
3.1.3. Seleksi Induk
Kegiatan seleksi induk dilakukan untuk mengetahui perkembangan
induk dan tingkat kematangan gonad induk jantan maupun betina. induk
jantan dan betina di seleksi dengan cara membuka bagian cangkang
induk untuk melihat gonad induk jantan dan betina. untuk induk jantan
kematangan gonad akhir ditandai dengan gonad berwarna kuning-orange
dan untuk induk betina ditandai dengan gonad berwarna hijau kecoklatan.
ciri lainnya dapat dilihat kematangan gonad induk abalone adalah dengan
melihat kantong gonad yang menonjol keluar cangkang (Soleh dan
Suwoyo, 2008).
Induk yang siap memijah dapat dilihat dari penampakan bagian
luarnya yaitu dari segi ukuran, warna dan bentuk gonad (Haw,1989;
Setyono, 2004 dalam Litaay 2005).
Pengamatan

perkembangan

gonad

dilakukan

setiap

bulan,

pemilahan jenis jantan dan betina ketika umur pemeliharaan abalone di


bak 2

bulan dan masing-masing kelamin ditampung dalam tempat

keranjang plastik yang terpisah (Soleh dan Suwoyo, 2008).


Induk dari alam kematangan gonad diketahui pada ukuran panjang
cangkang sekitar 40,66 mm baik jantan maupun betina, sedangkan untuk

14

induk dari hatchery kematangan gonad terjadi pada ukuran panjang


cangkang 35,0 mm dan 35,9 mm baik induk jantan maupun induk betina
(Soleh dan Suwoyo, 2008). Seleksi Induk dilakukan 4-5 hari menjelang
bulan gelap atau bulan terang (Priyambodo dkk, 2005) dilakukan sebagai
persiapan untuk pemijahan.
Pengukuran ukuran cangkang abalone dan penimbangan biomassa
abalone dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 2. Pengukuran dan penimbangan Induk abalone


3.1.4. Pematangan Gonad
Ada sejumlah faktor lingkungan yang diketahui mempengaruhi
siklus pemijahan abalone, yang meliputi suhu, penyinaran dan kelimpahan
makanan (Shepherd et al., 1985). Fleming (2000c), melaporkan bahwa
suhu adalah pemicu utama untuk perkembangan gonad untuk sebagian
spesies abalone, harus tersedia gizi yang memadai. Sebuah rencana
yang telah dirancang untuk pengkondisian Greenlip dan abalone Blacklip
oleh manipulasi suhu dan akan dilakukan di Tasmania. Tujuan utama
adalah untuk menentukan biologis titik nol dan hubungan antara suhu dan
perkembangan gonad, mengidentifikasi suhu yang dibutuhkan untuk
mengkondisikan abalone selama periode waktu tertentu, dan untuk
mengembangkan protokol untuk kontrol komersial pemijahan pada
abalone oleh manipulasi suhu (Ritar, 2000).
Pada malam hari suhu media pemeliharaan abalone cenderung
rendah sehingga dapat menurunkan tingkat respon pakan sehingga
menghambat pertumbuhan abalone yang berakibat pada penghambatan
15

pematangan gonad (Soleh dan Suwoyo, 2008). Maka dalam hal ini suhu
harus

tetap

dijaga

pada

waktu

malam

hari

untuk

mencegah

penghambatan pematangan gonad pada induk abalone sehingga proses


pematangan gonad dapat berjalan dengan lancar. Penggunaan Heater
selama malam hari dapat menstabilkan suhu pemeliharaan (Soleh dan
Suwoyo, 2008).
Wada dan Wada (1953) Longo (1988) dalam Marzuqi dkk. (2012)
mengungkapkan bahwa kenaikan pH pada media dapat meningkatkan
kematangan dan motilitas spermatozoa.
Tingkat kematangan gonad induk abalone berpengaruh terhadap
daya tetas telur abalone (Suminto dkk, 2010) hal ini dikarenakan tingkat
kematangan telur didalam ovum induk abalone belum sempurna dikarena
proses ovulasi telur yang tidak maksimal. berikut adalah tingkat
kematangan gonad induk abalone menurut Singhagraiwan dan Doi (1993)
dalam Rusdi dkk. (2010) adalah sebagai berikut:
- Tingkat 0 = Gonad Belum Berkembang
- Tingkat 1 = Gonad sedikit menutupi bagian hepatopankreas
- Tingkat 2 = Gonad sekitar 25% menutupi bagian hepatopankreas
- Tingkat 3 = Gonad sekitas 50% menutupi bagian hepatopankreas
Tingkat kematangan gonad mempengaruhi daya tetas pada telur
abalone (Suminto dkk. 2010). hal ini terjadi karena setiap tingkatan
matang gonad pada telur memngaruhi kandungan yang terdapat dalam
telur abalone sehingga semakin tinggi tingkat kematangan gonad semakin
tinggi pula daya tetas telur abalone. Pematangan gonad dapat dipacu pula
dengan peningkatan suhu pemeliharaan diatas suhu minimum (RAS, 1990
dalam Soleh dan Suwoyo (2008). untuk lebih jelas induk jantan dan betina
abalone yang matang gonad dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

16

Gambar 3. Induk jantan (kiri) dan induk betina (kanan) (Heasman dan
Savva, 2007)
3.2. Pemijahan Abalone
3.2.1. Wadah Pemijahan
Wadah yang digunakan untuk pemijahan Abalone yaitu bak yang
terbuat dari fiberglass dengan kapasitas bak 1,5 ton berbentuk persegi
panjang dengan dimensi 3 m x 1 m x 0,6 m. setiap wadah pemijihan
dilengkapi dengan saluran inlet yang didesain dengan catridge filter
bertingkat 5 m dan 1 m, saluran outlet yang telah dimodifikasi untuk
mengalirkan air dari permukaan dan dirangkai seri dengan box plastik
ukuran 50 cm x 40 cm x 40 cm yang dilengkapi dengan saringan telur
(egg collector) berukuran mata saring 60 m, bak pemijahan di lengkapi
pula dengan 5 buah titik aerasi (Hery dkk,2008). Wadah pemeliharaan
induk dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4. Wadah Pemeliharaan Induk (Setyabudi dkk, 2008)

17

3.2.2. Teknik Pemijahan


Induk abalone yang telah matang gonad dapat memijah secara
alami, dalam proses pemijahan induk jantan yang terlebih dahulu
melepaskan sel sperma untuk merangsang betina, dalam waktu 1-2 jam
induk betina mengeluarkan telur. pemijahan terjadi pada malam hari dan
biasanya terjadi pada tengah malam menjelang subuh sekitar pukul 00.00
WITA - 03.00 WITA (Bambang dan Sugama, 2007). Untuk jenis abalone
tropis memijah pada bulan gelap dan bulan purnama (Setyono dan
Dwiono, 2011), hal ini terjadi karena pada bulan gelap dan bulan terang
induk abalone terangsang untuk memijah karena kondisi lingkungan yang
sesuai dan cocok untuk waktu pemijahan. Perbandingan pemijahan jantan
dan betina yaitu 1:3 (Priyambodo dkk, 2005) dan 1,7:1 (Setyono dan
Dwiono, 2011). Abalone dapat dipijahkan sepanjang tahun dengan
frekwensi pemijahan 2 kali dalam sebulan.
Pemahaman antara interaksi nutrisi-reproduksi dan penentuan
nutrisi yang diperlukan untuk kebutuhan maturasi dan pemijahan yang
diperlukan untuk memproduksi hewan budidaya terutama produksi
moluska pasca larva dan pada skala besar (Hermawan dkk, 2008).
Menurut (Bambang dan Sugama, 2007) dalam pemijahan abalone
dapat dilakukan beberapa teknik pemijahan, antara lain sebagai berikut:
1. Dengan mencacah, memotong gonad induk betina, dalam bak
induk, bau dan cairan yang dikeluarkan biasanya akan
merangsang induk lain untuk memijah.
2. Dengan kejutan panas, yaitu memindahkan induk abalone
matang gonad kedalam bak yang mempunyai suhu 3-5 oC selama
10-30 menit lalu kembalikan pada bak semula, perlakuan ini
dapat dilakukan maksimum sebanyak 3 kali, biasanya induk
abalone dapat memijah.
3. Dengan meletakkan bak induk dalam ruang gelap, lalu bak dialiri
air yang

telah diradiasi dengan sinar UV.

4. Dengan kejutan melalui kering udara, induk jantan dan betina


dikeluarkan dari air selama 30 menit lalu dimasukkan

18

kembali kedalam bak induk. biasanya induk dapat memijah 1-2


jam setelah perlakuan.
5. Dengan penyuntikan pada induk matang gonad dengan larutan
6% Hydrogen peroride atau 3,7% Calsium Chloroda pada bagian
kepala, usus ganglion atau kaki ganglion Morse et al. (1997).
Cara yang sering digunakan yaitu kombinasi pemotongan gonad
dan air diradiasi dengan sinar UV. cara ini di anggap paling aman selain
dapat penghindari stress pada induk yang berakibat buruknya mutu gamet
juga dengan penyinaran sinar UV dengan tujuan agar air steril dan bebas
dari bakteri dan patogen pembawa penyakit (Bambang dan Sugama,
2007).
Castanos (1997) dalam Freeman (2001) menjelaskan dalam studi
di Filipina pada abalone tropis (Haliotis asinina) yang diamati yaitu
pemijahan spontan beberapa hari sebelum atau selama bulan baru dan
bulan purnama. Pemijahan alami terjadi secara teratur setiap dua minggu
setelah siklus bulan dan gamet dilepaskan dari induk sekitar 10:00-03:00
Tidak perlu merangsang abalone untuk bertelur karena terjadi secara
alami pada suhu 28 -30 C dan 30-32 ppt. Namun, diyakini bahwa
pelepasan gamet dari satu abalone dapat menginduksi lain untuk bertelur.
Induk jantan lebih mudah melepaskan gamet pada kondisi laboratorium
daripada induk betina (Setyono dan Dwiono, 2011). Pada moluska secara
umum, suhu menjadi faktor yang paling penting yang mempengaruhi
reproduksi (Newman, 1967; Sales and Britz, 2000 dalam Soleh dan
Suwoyo, 2008).
Selain itu, Capinpin (1995) menemukan bahwa teknik yang sering
digunakan dengan sukses dengan spesies beriklim hangat yaitu,
pengeringan, heat shock, radiasi ultraviolet pada air laut, dan hidrogen
peroksida, tunggal atau kombinasi, gagal untuk mendorong abalone
dewasa menelurkan yang layak telur atau spermatozoa. Dalam pusat
Queensland telah diamati bahwa jumlah pemijahan untuk abalone jenis
Haliotis asinina berkorelasi dengan waktu malam pasang tinggi. Oleh
karena itu, karena pemijahan tidak hanya sering, tapi diprediksi,

19

rangsangan dari pemijahan tidak diperlukan untuk abalone jenis Haliotis


asinina (R. Counihan, pers. Comm., 1999) dalam Freeman (2001).
Pemijahan alami memberikan hasil terbaik dengan jumlah individu yang
memijah dan tingkat fertilisasi (Setyono dan Dwiono, 2011) dibandingkan
pemijahan dengan rangsangan karena pemijahan alami seluruh sel telur
dapat

matang

seluruhnya

saat

pemijahan,

sementara

dengan

perangsangan induk yang belum siap dan keadaan telur belum matang
sempurna dirangsang untuk memijah sehingga kualitas telur dan jumlah
telur yang dibuahi lebih sedikit daripada pemijahan alami.
Perkawinan sangat dipengaruhi oleh siklus peredaran bulan (bulan
gelap atau terang), pasang surut air laut, suhu air, suhu udara
dipermukaan air dan kualitas air (Suminto dkk. 2010)
Stripping manual biasanya digunakan secara rutin dengan tiram
tetapi tidak efektif dengan beberapa Bivalvia lain (Kent et al., 1998) dalam
Freeman (2001). Dalam abalone, panduan stripping hanya diterapkan
pada jantan sebagai metode untuk merangsang pemijahan betina. Testis
dihapus dan bagian sebuah mascerated ke air laut untuk membuat cairan.
Cairan ini kemudian didistribusikan dekat tepi anterior dari shell dengan
jarum suntik dalam upaya untuk mendorong perempuan untuk bertelur
(Hone et al., 1997) dalam Freeman (2001). Pada Pembenihan buatan,
telur dan sperma diperoleh dengan cara pembedahan organ gonad dan
diharapkan dengan cara ini dapat meningkatkan produksi benih (Suminto
dkk. 2010). untuk induk alam memijah pada ukuran cangkang 48,5 mm
dan induk hatchery memijah pada ukuran cangkang 44 mm (Soleh dan
Suwoyo, 2008).
Hahn (1989) dalam Freeman (2001) melaporkan bahwa abalone
cukup sering menelurkan sedikit sebelumnya dan membutuhkan lebih
sedikit stimulus untuk mendorong pemijahan daripada betina. Ada
beberapa penelitian yang menguraikan periode pemijahan yang berbeda
untuk Blacklip abalone, dan faktor-faktor yang mengatur pemijahan.
Namun, Asah et al. (1997) menemukan bahwa abalone liar menunjukkan
dua pola.

20

a) abalone berurutan akan menelurkan selama musim reproduksi ketika


kondisi cuaca konstan dan ringan.
b) abalone kondisi dekat akan menelurkan jika kondisi stres yang tinggi
terjadi (yaitu ketika kondisi cuaca ekstrim).
Menurut Setyono dan Dwiono (2011) pemijahan abalone ternyata
tidak hanya terjadi beberapa hari (2-3 hari) sebelum bulan gelap dan
bulan terang tetapi abalone juga memijah pada waktu-waktu yang lain
meskipun intensitasnya rendah. Hal ini terjadi karena faktor pakan yang
tersedia melimpah (Setyono, 2004), kondisi lingkungan laboratorium yang
baik (Setyono, 2005c), dan aktifitas (Behaviour) abalone di laboratorium
yang tidak dipengaruhi siklus bulan (gelap/terang).
3.4. Penetasan Telur
Pembuahan telur terjadi secara alami pada saat induk jantan dan
betina memijah bersama dalam satu wadah. Telur yang terbuahi akan
cepat mengendap didasar wadah dibanding telur yang tidak terbuahi atau
abnormal. telur yang tidak terbuahi disipon hingga air didalam bak tersisa
15 cm agar telur tidak rusak. suhu penetasan telur abalone dikendalikan
agar tetpa konstan 30oC untuk memperoleh sintasan penetasan telur yang
tinggi. telur akan menetas menjadi larva dalam waktu 1-2 hari (Soleh dan
Suwoyo, 2008). tingkat kematangan gonad induk abalone berpengaruh
terhadap daya tetas telur abalone (Suminto dkk, 2010). hal ini dikarena
tingkat kematangan telur setiap induk abalon berbeda-beda, induk
abalone yang memiliki tingkat kematangan gonad paling tinggi memiliki
daya tetas telur yang tinggi pula.
Sebagian besar spesies abalone umumnya hanya memiliki satu
periode pematangan gonad dalam setahun (Shepherd dan Hukum, 1974).
Namun, Shepherd et al. (1992) menemukan bahwa tidak semua telur
yang selalu dihasilkan dalam pemijahan tunggal dan bahwa satu individu
mungkin dapat melepaskan telur selama jangka waktu pemijahan.
Abalone Blacklip telah diamati memiliki beberapa kali pemijahan dalam
satu musim pemijahan (Brown, 1991a). Castanos (1997) melaporkan

21

bahwa liar tertangkap Donkey ear's abalone induk bertelur lebih sering
dan menghasilkan lebih banyak telur dari induk yang dibesarkan
dihatchery. Dia mencatat bahwa abalone yang dibesarkan dihatchery
memiliki interval pendek antara pemijahan berturut-turut 13-15 hari.
Abalone relatif subur dan ada hubungan eksponensial antara ukuran
(panjang cangkang) dan fekunditas untuk Greenlip, Brown Lip (Wells dan
Mulvay, 1992) dan Roe's abalone (Wells dan Keesing, 1989)
Tabel 1. Fekunditas empat spesies abalone
SPESIES ABALONE

FEKUNDITAS (REFERENSI

REFERENSI

JUMLAH TELUR DIUKUR DALAM


Greenlip (Haliotis rubra)
Blacklip (Haliotis laevigata)
Brownlip
Roe's

PEMIJAHAN TUNGGAL)
2 juta telur
2 juta telur
2,2-2800000 telur
5 juta telur @ 190 mm
200.000 telur @ 40-50 mm
1 juta telur @ 60 mm
183.000 @ 37,5 mm

McShane 1988
McShane 1988
O'Sullivan 1994
Wells & Mulvay, 1992
Wells & Bryce 1987
Wells & Keesing, 1986;
1989

Donkey-ear

8,6 juta @ 122 mm


200,000-600,000 @ 58-80 mm

Singhagraiwan dan Doi,


1992

Sumber: Kyle A. Freeman (2001)


Kualitas gamet telur abalone menjadi sepenuhnya dikembangkan
periode dekat pemijahan alami. Ini adalah waktu terbaik untuk bertelur
ketika menggunakan induk tangkapan alam sehingga akan ada gamet
abalone berkualitas tinggi untuk hatchery (Joll, 1996 Dalam Freeman
2001). Telur yang layak dibuahi dari Greenlip dan Blacklip abalone
biasanya dengan diameter sekitar 250 mikron. Sebagai perbandingan,
telur dari Roe's abalone sekitar 220-250 mikron (S. Parsons, pers. Comm.,
1999 Dalam Freeman 2001), sedangkan dari abalone Donkey-ear sekitar
190 mikron (Singhagraiwan dan Sasaki, 1991 dalam Freeman 2001). Telur
berkualitas baik yang berwarna hijau, tenggelam ke dasar dan tidak
mengumpul (Hone et al., 1997 dalam Freeman 2001). Perkembangan
embrio abalone dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

22

Gambar 5. Perkembangan embrio abalone (Hermawan dkk, 2008)


Kepadatan sperma ditambahkan ke telur abalone merupakan
aspek yang sangat penting dari budidaya abalone. Sebuah kepadatan
sperma tinggi selama penetasan dapat menyebabkan polispermia dengan
proporsi yang tinggi dari embrio abnormal dan trochophores. Sebaliknya,
lebih rendah persentase penetasan mungkin akibat dari kepadatan
sperma yang sangat rendah. Kepadatan yang diinginkan adalah 5-10
sperma per telur (Hone et al., 1997 dalam Freeman 2001). Kepadatan
sperma yang tinggi (biasanya> 186.200 / ml) dengan abalone jenis
Haliotis asinina dapat menyebabkan perkembangan larva abnormal atau
embriogenesis. Konsentrasi sperma ideal untuk abalone Haliotis asinina
adalah sekitar 19.000 / ml (R. Counihan, pers. Comm., 1999 dalam
Freeman 2001). Larva trochophore menetas dalam ukuran sekitar 200 m,
lecithotrophic (yaitu menggambar nutrisi mereka dari kuning telur), dan
positif phototactic (Huner dan Brown, 1985 Dalam Freeman 2001).
Setelah pemijahan telur abalone mengendap didasar bak hingga menetas
dan berenang atau melayang-layang. pada fase ini larva belum
membutuhkan makanan (lecitotrophic larvae). (Priyambodo dkk, 2005).

23

Untuk parameter Kualitas air penetasan telur dapat dilihat pada


Tabel dibawah ini:
Tabel 2. Parameter Kualitas air Penetasan Telur
N

Parameter Kualitas Air

O
1
Suhu (C)
2
Salinitas
3
pH
4
DO2
5
NO2 (ppm)
6
NO3 (ppm)
7
NH3 (ppm)
Sumber: Hermawan dkk. (2008)

Nilai
25-26
30-32
7,6-8,0
5,0
0,472-0,450
0,0470-0,0475
0,173-0,103

3.4. Pemeliharaan Larva


3.4.1. Persiapan Wadah
Larva dipelihara dalam bak fiber berukuran 3 x 1 x 0,6 m
(Priyambodo dkk, 2005). Bak terlebih dahulu disikat dan dibersihkan dari
kotoran-kotoran yang menempel pada dinding bak, bak kemudian
ditumbuhkan fitoplankton jenis Nitzschia sp. dan diberikan spat kolektor
yang terbuat dari seng plastik bergelombang (Priyambodo dkk, 2005).
Wadah yang digunakan 3 buah bak polikarbonat/fiber dengan
kapasitas 400 liter (Marzuqi dkk, 2012). didalam bak diberi keranjang atau
substrat sebagai tempat penempel larva abalone. bak menggunakan
sistem air mengalir dengan kecepatan air 4-6 liter/detik dan sistem aerasi
sebagai pasokan oksigen terlarut kedalam air (Susanto dkk, 2010).
3.4.2. Pemeliharaan Larva
Telur yang telah dibuahi akan mengalami proses embriogenesis
(Setyono, 2011). telur yang terbuahi akan menjadi calon larva dengan
proses pembelahan sel hingga keseluruhan untuk calon larva abalone
terbentuk. Pembelahan sel tahap pertama (2 sel) berlangsung 20-30 menit
setelah telur dibuahi. trochopore aktif bergerak didalam sel telur (chorion)
akan terlihat setelah 4-5 jam setelah pembuahan. Telur yang menetas
akan menjadi velliger dalam waktu 5-6 jam setelah pembuahan (Setyono,
24

2011). Menurut FAO (1990) dalam Hermawan dkk. (2008) Keberhasilan


dalam pemeliharaan abalone sangat dipengaruhi oleh suhu, makanan dan
kepadatan, Suhu Optimal untuk pemeliharan abalone berkisar 29-31C.
Selama proses penetasan, wadah untuk penetasan telur diberi
aerasi yang halus untuk mencegah telur atau larva rusak atau mati karena
benturan dengan dinding wadah (Setyono, 2011). trochopore kemudian
menetas menjadi larva velliger. Larva fase velliger bersifat fototaksis
positif (Bambang dan Sugama, 2007). larva fase velliger melayang dan
bergerak menggunakan velumnya didalam kolom air. Stadia larva
melayang berlangsung selama 2-3 hari (Setyono, 2005; 2006b; 2009,
dalam 2011). Setelah itu larva akan berkembang dan bermetamorfosa
bentuk tubuhnya dengan memulai hidupnya sebagai hewan bentik
(Setyono, 2011). larva yang telah melewati fase transisi (metamorfosis)
memiliki tingkat kelangsungan hidup lebih baik dibandingkan larva yang
masih dalam fase metamorfosis (Ompi dkk, 2010). Larva akan menempel
pada substrat 3-4 hari setelah pemijahan dan pada saat larva sudah
menempel mulai proses metamorfosa (perubahan drastis) pada larva.
Pada proses ini larava abalone akan kehilangan alat renang (velum)
karena larva sudah menempel pada substrat. Larva abalone memerlukan
waktu kurang lebih dua bulan untuk mencapai ukuran >0,5 mm (Setyono
dan Dwiono, 2011). pada fase creeping larvae larva sudah dapat mencari
makan dengan cara mengikis. pemeliharaan larva membutuhkan ruangan
dengan pencahayaan yang sedikit hingga terang (Priyambodo dkk, 2005).
Air pada bak pemeliharan larva diganti setelah larva berumur 10
hari (Priyambodo dkk, 2005). Karena selama 10 hari pertama larva masih
dalam kondisi lemah dan sensitif terhadap perubahan lingkungan
pemeliharaan.
Setelah fase bentik, air dalam bak pemeliharaan dikurangi 50%
volumenya setiap 3-4 hari, setelah juvenil perumur 1 bulan pergantian air
dilakukan setiap 2 hari sekali sebanyak 50% (Setyono, 2011). Selama
Fase Pemeliharaan larva, larva abalone diberikan pakan tambahan jenis
diatom.

25

Kepadatan ideal dalam pemeliharaan larva abalone adalah 300


ekor/liter (Bambang dan Sugama, 2007). Dengan kepadatan 300 ekor/
liter diharapkan larva abalone dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
dan

dapat

mengurangi

mortalitas

pada

larva

abalone.

Tingkat

keberhasilan hidup atau sintasan tidak dipengaruhi oleh tingkat kepadatan


tebar (Setyono, 2007; Capinpin et al., 1999 dalam Setyono, 2011). Larva
abalone akan berkembang dan tumbuh organ baru yang disebut sebagai
kaki untuk menempel pada substrat (Setyono dan Dwiono, 2011).
Menurut Hermawan dkk. (2008) trocophore ditebar dengan
kepadatan 5000 ind/liter. setiap hari ditambahkan Nitzschia sp. sebanyak
10 liter dengan kepadatan 1x104 sel/ml pada bak pemeliharaan larva.
Laju

pertumbuhan

abalone

dipengaruhi

oleh

suhu

yang

berhubungan dengan tingkat respon pakan dan pertumbuhan abalone,


suhu 26-29C memperlambat pertumbuhan abalone (Soleh dan Suwoyo,
2010), hal ini terjadi karena suhu mempengaruhi tingkat metabolisme
abalone, jika suhu tinggi maka proses metabolisme akan lebih banyak
dibandingkan pada saat suhu rendah lebih sedikit, berpengaruh terhadap
daya konsumsi pakan lebih banyak pada saat suhu tinggi dan
metabolisme yang tinggi sehingga konsumsi pakan lebih banyak dan laju
pertumbuhan lebih cepat, berbanding terbalik dengan suhu rendah.
Setelah 3 hari pemeliharaan abalone mencapai fase veliger akhir
dan mulai menempel, maka diperlukan substrat sebagai tempat
menempel veliger abalone yang berupa lembaran plastik yang disusun
secara vertikal (Bambang dan Sugama, 2007). Pelepasan anakan
abalone dari substrat (lembaran plastik/fiber) dapat dilakukan dengan
menggunakan bahan anestesi (anaesthetizing reagent) seperti gas
karbonat, ether, etanol, dan sebagainya (FAO, 1990 dalam Setyono,
2011).
Fase pertumbuhan abalone yaitu pada fase trochopore akan
menetas dalam 5-6 setelah pembuahan, Veligers menempel pada substrat
3-4 ahri setelah pembuahan, dan laju pertumbuhan juvenil awal adalah
0,03 mm/hari pada umur 2 bulan pertama dan 0,25 mm/hari pada bulan

26

berikutnya (Setyono, 2006b dalam Setyono dan Dwiono, 2011). Tahap


yang sangat krusial dalam siklus hidup abalone yaitu pada saat proses
settlement (penempelan) dan metamorfosis (Ompi dkk, 2010). yang
dimaksud metamorfosis yaitu suatu fase perubahan baik morfologi,
fisiologi, dan substrat (Hahn, 2000 dalam Ompi dkk 2010).
Ketersediaan substrat dan tingkah laku larva yang mempengaruhi
tingkat keberhasilan penempelan dan metamorfosis larva (Ompi dkk,
2010) karena jika faktor tersebut sesuai dan cocok substrat untuk larva
menempel, maka larva tidak mebutuhkan waktu lama untuk dapat
menyesuaikannya dan tingkah laku larva yang mempengaruhinya, jika
larva dalam keadaan normal maka proses ini akan berjalan dengan baik.
Menurut Ompi dkk (2010) ragam jenis substrat yang dapat mempengaruhi
larva untuk turun ke dasar, menempati substrat dan metamorfosis. dalam
hal ini dalam pemilihan substrat untuk penempelan larva abalone harus
dipilih sesuai dan cocok dengan jenis abalone yang dipelihara. kurungan
dapat terbuat dari jaring (40 cm x 60 cm), pipa PVC (12,5 cm x 25 cm),
dan batu karang (15 cm x 20 cm) yang berbentuk lempengan (Setyono,
2011)
Mortalitas tinggi pada abalone disebabkan antara lain kualitas telur
yang tidak baik, kualitas pakan yang tidak baik karena masa kultur yang
terlalu panjang, sistem filtrasi pada saat kultur tidak baik sehingga banyak
protozoa, cacing dan lain sebagainya yang menempel pada substrat
menjadi patogen bagi larva yang masih dalam kondisi sangat lemah,
penyediaan pakan alami yang masih belum stabil, pertumbuhan diatome
pada substrat terlalu lambat (Priyambodo dkk, 2005).
3.5. Pemeliharaan benih
Ketika larva sudah mencapai fase benih, benih abalone dipelihara
dalam bak beton berbentuk persegi dengan dimensi bak 3 m x 2 m x 1 m,
dengan menggunnakan sistem sirkulasi air dengan kecepatan aliran air 46 liter/detik dan pemberian aerasi sebagai pemasok oksigen (Bambang
dkk, 2010).

27

Juvenil

awal

sudah

bisa

dipindahkan

ke

dalam

wadah

pemeliharaan benih ketika panjang cangkang benih telah mencapai 5-6


mm (Setyono, 2011). benih yang dipelihara dari juvenil awal hingga benih
siap tebar dengan panjang cangkang benih abalone 10-20 mm dan
dilanjutkan ke wadah pembesaran abalone (Setyono, 2011). Juvenil
abalone memperoleh makan dengan cara mengikis (grazing) diatome
penempel (Setyono dan Dwiono, 2011).
Juvenil awal dengan panjang cangkang rata-rata 5 mm diberikan
pakan alternatif rumput laut jenis Gracillaria sp. dan Ulva sp. (Setyono dan
Dwiono, 2011)
Proses grading juvenil dilakukan setelah juvenil terlepas dari
shelter, grading dilakukan berdasarkan ukuran juvenil abalone (Setyono,
2011). Juvenil dengan ukuran <5 mm dikumpulkan kembali dan
ditempatkan di wadah pemeliharaan juvenil, sedangkan juvenil yang
berukuran >5 mm ditempatkan di wadah pemeliharaan benih (wadah
penyapihan) yang telah dipersiapkan dan telah tumbuh diatom dan
ditambahkan makroalgae (Gracillaria spp. dan Ulva spp.) (Setyono, 2011).
Pengukuran Panjang dilakukan dengan menggunakan kaliper dengan
tingkat ketelitian 0,05 mm dan berat tubuhnya ditimbang dengan
menggunakan timbangan digital dengan tingkat ketelitian 0,01 g (Setyono,
2011).
Kepadatan diatom yang menempel pada plastik sebaiknya 3000
sel/mm2 (Bambang dan Sugama, 2007). hal ini dilakukan untuk mencegah
blooming plankton pada wadah pemeliharaan yang mengakibatkan
kematian pada juvenil abalone. Pada kondisi normal tingkat kelulus
hidupan (sintasan) dalam pemeliharaan abalone rata-rata tinggi 70-80%
(RAS, 1990); sekitar 80% (Irwan, 2006) dan diatas 80% (Soleh, 2007, a,
b) dalam Soleh dan Suwoyo (2008).
Menurut Setyono (2011) untuk menjaga agar lingkungan tetap
stabil, hindari penambahan makroalgae yang terlalu banyak yang dapat
menyebabkan pembusukan dan pengurangan kadar oksigen terlarut
didalam air. Pemeliharaan benih dengan sistem air mengalir, harus melalui

28

filter agar tidak ada kontaminasi kotoran dan plankton lain (Bambang dan
Sugama, 2007).
Laju

pertumbuhan

juvenil

sangat

tergantung

pada

tingkat

kepadatan, kualitas pakan (nutrisi), dan kualitas air (Setyono, 2011).


Makanan awal yang dapat dicerna oleh larva abalone yaitu berupa bakteri
atau extracellular organisme. Namun makanan utamanya adalah diatome
menempel pada substrat (Bambang dan Sugama, 2007). Diatome dari
jenis Navicula sp. yang mudah dimakan dan dicerna oleh larva abalone
serta memiliki kandungan nutrisi yang memadai, ukuran yang relatif kecil
yaitu 10-15 mikron (Bambang dan Sugama, 2007).
Pertumbuhan abalone cenderung lebih besar pada pertambahan
biomassa tubuh dibandingkan dengan pertambahan panjang dan lebar
cangkangnya (Soleh dan Suwoyo, 2008), hal ini terjadi karena abalone
terlindung dari arus karena dipelihara didalam keranjang sehingga nutrisi
dari

pakan

yang

dikonsumsi

lebih

banyak

dimanfaatkan

untuk

penambahan biomassa pada abalone.


Benih yang baik dan sehat dapat dilihat secara morfologi dengan
ciri-ciri benih menurut Bambang dkk. (2013) adalah sebagai berikut:
a. melekat erat pada shelter
b. bila diangkat maka bergerak aktif
c. segera membalikkan badannya bila diletakkan terbalik didalam
air laut
d. badannya utuh, daging dan cangkangnya tidak ada yang rusak
Kematian pada abalone terjadi apabila penurunan kadar salinitas
mendadak antara 21-25 ppt dibawah kisaran optimal (Soleh dan Suwoyo,
2008) karena abalone yang hidup pada kisaran salinitas optimal 28-30 ppt
dan menurut (irwan 2006), Capinpin (1998), dan RAS (1990) dalam Soleh
dan Suwoyo (2008) karena abalone sangat sensitif terhadap perlakuan
fisik dan fluktuasi lingkungan media pemeliharaan. Salinitas optimal untuk
kehidupan abalone berkisar 30-35 ppt. Abalone mengalami stress ketika
salinitas air pemeliharaan turun mendadak yang mengakibatkan kematian
pada abalone. keadaan ini terjadi saat musim penghujan (Soleh dan

29

Suwoyo, 2008) disebabkan air media pemeliharaan yang selalu mengalir


setiap waktu tercampur dengan air hujan yang turun dan tercampur
dengan air laut di sumber air (laut).
Sampling terhadap pertumbuhan panjang dan berat abalone
dilakukan setiap bulan sekali dengan mengukur panjang dan lebar
cangkang serta penimbangan berat tubuh total. Jumlah sampel abalone
antara 4-5% dari populasi abalone didalam bak (Soleh dan Suwoyo,
2008).
3.6. Pemberian Pakan
Pakan merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan
benih abalone. Pakan benih harus mengandung gizi yang dibutuhkan
berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral ( Marzuqi dkk.
2012). Hambatan utama dalam pengembanga pembesaran abalone
diantaranya adalah ketersediaan dan kesesuaian pakan. penggunaan
pakan alami memiliki kelemahan yaitu jumlah dan tergantung musim
(Marzuqi dkk, 2012).
Ada 5 jenis makroalga sebagai pakan abalon yaitu Gracillaria spp,
Laurencia obtusa, Ulva spp, Kappaphycus alvarezii, dan Hypnea asperi
(Setyono, 2006). Dalam pemeliharaan pada stadia larva umumnya
abalone memakan diatom bentik seperti Nitzschia sp. Navicula sp.
Amphora sp. Cocconeis sp. Rizosolenia sp. sedangkan ukuran yuwana
sampai dewasa memakan makroalga (seaweed) yang terbagi atas 3 jenis
yaitu alga coklat (Laminaria), alga Hijau (Ulva sp.), dan alga merah
(Gracillaria sp.) (Marzuqi dkk. 2012). Alga merah merupakan pakan alami
yang baik bagi Induk abalone Haliotis asinina (Singhagraiwan dkk. 1992
dalam marzuqi dkk, 2012). Persiapan pakan larva dilakukan 3-4 minggu
menjelang pemijahan/pemeliharaan larva dari golongan benthic diatome
jenis Nitzschia sp. (Priyambodo dkk, 2005) jenis ini yang dianggap cocok
untuk pakan awal larva. dan pakan larva ditumbuhkan pada bak
pemeliharaan larva. Pakan awal merupakan faktor penentu dalam

30

pemeliharaan larva dan sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan larva


(Priyambodo dkk, 2005).
Untuk lebih jelas pakan dari jenis rumput laut Gracillaria sp. dan Ulva sp.
dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 6. a. Gracillaria sp.

b. Ulva sp.

Larva abalone harus memperoleh makanan secara merata agar


pertumbuhan

dan kelangsungan hidup abalon

meningkat. tingkat

kematian yang tinggi terjadi apabila benih abalone tidak segera


memperoleh pakan yang sesuai, baik jenis maupun jumlahnya (Marzuqi
dkk, 2012). Laju kecepatan makan Abalone jenis Haliotis asinina adalah
20-23% dari berat tubuhnya perhari (Setyono dan Aswandy, 2007 dalam
Setyono dan Dwiono, 2011). Pakan awal larva yaitu benthic diatome yang
tumbuh dan menempel pada bak pemeliharaan dan setiap hari dilakukan
pemupukan dan air dialirkan secara perlahan (Priyambodo dkk, 2005).
Suhu optimal mendorong abalone lebih responsif dalam konsumsi pakan
(Setyono dan Suwoyo, 2008) karena metabolisme dalam tubuh abalone
berlangsung stabil dan normal pada suhu yang optimal.
Pemeliharaan juvenil abalone dapat tumbuh lebih pada pada
kurungan yang tertutup (enclosed structure) dan mempunyai permukaan
yang halus dan rata untuk menempel (Setyono, 2011) karena dalam
kurungan tertutup abalone terlindung dari terpaan arus dan kondisi tempat
yang agak gelap. sama halnya yang dikemukakan oleh Aviles dan
Shepherd (1996) dalam Setyono (2011) melaporkan bahwa pertumbuhan

31

abalone lebih cepat jika dipeliharan dikurungan terlindung tetapi


mempunyai pertukaran air yang baik.
Umur abalone 2-2,5 bulan larva/juvenil sudah mulai mengonsumsi
makro alga yaitu rumput laut jenis Gracillaria sp. atau Hypnea sp.
(Priyambodo dkk, 2005). pada umur 2-2,5 bulan larva abalone sudah
dapat mencerna makroalga dan lebih cepat pertumbuhannya. Pada umur
3 bulan pertumbuhan abalone dapat mencapai 1,5 - 2 cm (rata-rata 1,57
cm) dan abalone termasuk hewan yang sangat kuat makan (rakus)
(Priyambodo dkk, 2005). Kekurangan pakan dapat membuat abalone
menjadi lemah yang ditandai dengan otot/daging yang lemah (terlihat
seperti akan lepas dari cangkangnya) dan berwarna pucat (putih).
3.6. Hama dan Penyakit Abalone
Tidak banyak penelitian yang dilakukan terhadap penyakit pada
abalone di Australia (Handlinger, 1998 dalam Freeman 2001). Kondisi
kesehatan dan ketahanan abalone sangat dipengaruhi oleh kebersihan
lingkungan (Rusdi dkk, 2011 dalam Bambang dkk. 2013).
Abalone rentan terhadap infeksi vibrio, sementara bakteri tersenut
mudah masuk kedalam tubuh abalone bila mengalami luka ( Zafran dan
Susanto, 2007 dalam Bambang dkk. 2013). dalam kondisi perairan tidak
stabil abalone juga dapat ditumbuhi oleh fouling (biofouling) berupa teritip,
kekerangan liar, dan beberapa mikroorganisme lainnya sehingga kondisi
abalone akan sangat terganggu dan menyebabkan pertumbuhan abalone
akan terhambat. Fouling dapat terdiri atas organisme hidup (biofouling)
atau zat non hidup (anorganik atau organik) (Bambang dkk. 2013). jika
perairan dalam kondisi stabil dan keadaan abalone dalam keadaan normal
maka penyakit tidak akan terjangkit pada abalone.
Penyakit pada organisme abalone masih tahap identifikasi mulai
dari metode penyerangan maupun sampai dampak yang ditimbulkannya.
Gejala serangan penyakit pada abalone diperlihatkan dengan timbulnya
warna merah seperti karatan pada bagian selaput gonad (bagian bawah
cangkang). Pada kurun waktu 5 6 hari setelah gejala tersebut, lapisan

32

selaput akan sobek, yang mengakibatkan turunya daya sensivitas


rangsangan abalone.

Kondisi ini dapat menyebabkan kematian pada

organisme abalone. (Juknis Budidaya Abalone BBL Lombok)


Tindakan pencegahan atau pengobatan yang dapat dilakukan
adalah

dengan

mengobati

luka

atau

sobekan

selaput

dengan

mengoleskan acriflavin atau betadin dalam dosis tinggi yaitu 500 ppm
secara kontinyu selama 3 hari (Juknis Budidaya Abalone BBL Lombok).

33