Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tingginya pertumbuhan luas areal tanaman kelapa sawit dalam 5 tahun terakhir ini di
Kalimantan Timur sebesar 15.312 ha/th (BPS Kaltim, 2006) menggambarkan adanya peluang
untuk mendirikan pabrik minyak goreng di Kalimantan Timur karena adanya ketersediaan bahan
baku yang cukup. Kebijakan ini sangat beralasan untuk ditempuh karena kegiatan industri
pertanian dari hulu ke hilir akan menjadi lebih efisien sebagai akibat dekatnya industri hilir
dengan bahan bakunya. Hal ini akan memacu pertumbuhan ekonomi daerah, karena keberadaan
industri hilir kelapa sawit otomatis akan meningkatkan lapangan kerja, daya beli masyarakat, dan
pendapatan asli daerah.
Kelapa sawit (Elaeis guinensis jack) merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan
yang menduduki posisi terpenting di sektor pertanian. Kelapa sawit memiliki banyak hasil jika di
olah seperti bahan dasar industri kosmetik, industri makanan, bahan bakar alternatif Biodisel,
bahan pupuk kompos, dan sebagai obat.selain itu, kelapa sawit mampu menghasilkan nilai
ekonomi terbesar per hektarnya jika dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak atau lemak
lainya. Prospek pasar bagi olahan kelapa sawit cukup menjanjikan, karena permintaan dari tahun
ke tahun mengalami peningkatan yang cukup besar, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di
luar negeri. Oleh sebab itu, sebagai negara tropis yang masih memiliki lahan yang cukup luas,
Indonesia mempunyai peluang besar untuk mengembangkan perkebunan dan Industri olahan
kelapa sawit.
Oleh karena itu, dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui penggunaan teknologi
industri kimia dalam pabrik minyak goreng. Mengingat kelapa sawit merupakan bahan dasar
dalam pembuatan minyak goreng, dan karena daerah Kalimantan Timur sendiri merupakan salah
satu daerah perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
Pabrik Minyak Goreng (PMG) adalah pabrik yang memproduksi minyak goreng dari bahan
baku minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO) baik secara proses kimia atau secara proses
fisika. CPO yang diperoleh dari hasil proses pressing dan ekstraksi di pabrik kelapa sawit (PKS)
masih mengandung komponen-komponen yang tidak diinginkan yaitu asam lemak bebas (ALB),
resin, gum, protein, fosfatida, pigmen warna dan bau. Agar dapat dipergunakan sebagai bahan
makanan, maka CPO tersebut harus diproses kembali.
Proses pengolahan CPO menjadi minyak goreng dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
proses secara kimia dan proses secara fisika. Perbedaan utamanya yaitu cara menghilangkan
kandungan asam lemak bebas (ALB) dan impuritis yang dikandung dalam CPO. Proses
pemurnian secara kimia ialah proses pemurnian CPO, dimana proses menghilangkan kandungan
ALB dan impuritisnya dengan jalan reaksi kimia, yaitu mereaksikan NaOH dengan ALB yang
berada dalam CPO. Sedangkan proses pemurnian secara fisika ialah proses pemurnian CPO
dengan cara menghilangkan kandungan ALB dan impuritisnya secara distilasi (penyulingan),
yaitu dengan jalan memanaskan CPO pada keadaan vacuum pada temperatur dimana ALB bisa
diuapkan.
Secara garis besar proses pengolahan Pabrik Minyak Goreng Secara Kimia terdiri dari dua
proses, yaitu proses rafinasi (pemurnian) dan proses fraksinasi (pemisahan). Proses rafinasi
terdiri dari proses degumming, proses netralisasi, proses bleaching dan proses deodorisasi.
Minyak yang diperoleh dari proses rafinasi terdiri dari olein dan stearin, dalam proses fraksinasi
stearin dipisahkan dari olein. Untuk memperjelas proses pengolahan minyak goreng secara kimia
dapat dilihat dalam uraian di bawah ini.
1. Proses Degumming
Proses degumming bertujuan untuk menghilangkan zat-zat yang terlarut atau zat-zat yang
bersifat koloidal, seperti resin, gum, protein, dan fosfatida dalam minyak mentah. Pada
prinsipnya proses degumming ini adalah proses pembentukan dan pengikatan flok-flok dari zatzat terlarut dan zat-zat yang bersifat koloidal dalam minyak mentah, sehingga flok-flok yang
terbentuk cukup besar untuk bisa dipisahkan dari minyak. Beberapa cara yang sering dilakukan
2

untuk melaksanakan proses degumming ini, antara lain :


a. Degumming dengan pemanasan.
b. Degumming dengan menggunakan asam seperti asam fosfat, asam sulfat, asam kloroda,
asam asetat dan lain-lain.
c. Degumming dengan kostik alkali.
d. Degumming dengan hidrasi
e. Degumming dengan reagen khusus, seperti asam formiat, natrium fosfat, natrium
klorida dan lain-lain.
Proses degumming yang paling banyak digunakan dewasa ini adalah proses degumming
dengan menggunakan asam. Pengaruh yang ditimbulkan oleh asam tersebut adalah
menggumpalkan dan mengendapkan zat-zat seperti protein, fosfatida, gum dan resin yang
terdapat dalam minyak mentah. Proses degumming dengan kostik alkali, partikel-partikel sabun
yang terbentuk akan menyerap zat-zat lendir dan sebagian pigmen, tetapi proses ini mempunyai
kelemahan, yaitu adanya kecenderungan untuk membentuk emulsi dari sabun yang terbentuk
sehingga makin banyak minyak hilang.
2. Proses Netralisasi
Proses netralisasi atau deasidifikasi pada pemurnian minyak sawit kasar bertujuan untuk
menghilangkan asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak sawit kasar. Asam lemak bebas
(ALB) dapat menimbulkan bau yang tengik. Beberapa proses netralisasi yang digunakan pada
industri kimia antara lain :
a. Netralisasi dengan soda kostik.
b. Netralisasi dengan alkali karbonat.
c. Netralisasi dengan kapur.
d. Deasidifikasi dengan distilasi uap.
e. Deasidifikasi dengan ekstraksi solvent.
f. Deasidifikasi dengan esterifikasi.
g. Deasidifikasi dengan resin penukar ion.
Proses netralisasi yang paling sering digunakan dalam industri kimia adalah proses
netralisasi dengan soda kostik, dengan prinsip reaksi penyabunan antara asam lemak bebas
dengan larutan soda kostik, yang reaksi penyabunannya sebagai berikut :
3

R
COONa

COOH + NaOH
+

H2O

R-

(2-3)

Kondisi reaksi yang optimum pada tekanan atmosfir adalah pada suhu 60 80 oC, dimana
reaksinya merupakan reaksi kesetimbangan yang akan bergeser ke sebelah kanan. Soda kostik
yang direaksikan biasanya berlebihan, sekitar 5 7 % dari kebutuhan stokiometris. Sabun yang
terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan atau sentrifugal. Soda kostik disamping
berfungsi sebagai penetralisir asam lemak bebas, juga memiliki sifat penghilang warna
(decoulorization). Keburukan pemakaian soda kostik adalah adanya gliserida-gliserida netral
turut tersabunkan serta adanya kehilangan minyak netral yang turut terbawa soap stock.
Proses netralisasi lain yang sering digunakan adalah netralisasi dengan distilasi uap. Proses
ini dilakukan pada suhu tinggi dan tekanan rendah (vacuum), dimana asam lemak bebas yang
lebih volatile dari gliserida akan menguap. Netralisasi atau deasidifikasi dengan distilasi uap ini
dapat

dikatakan

cukup

efektif,

karena

dapat

mereduksi

asam

lemak

bebas

sampai 0,01 - 0,03 %.


Netralisasi merupakan suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau
lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya, sehingga
membentuk sabun (soap stock). Pemisahan asam lemak bebas dapat juga dilakukan dengan cara
penyulingan yang dikenal dengan istilah deasidifikasi. Netralisasi dengan menggunakan NaOH
juga membantu dalam mengurangi zat warna dan kotoran yang berupa getah dan lendir dalam
minyak. Sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran seperti
fosfatida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Emulsi yang terbentuk ini dapat
dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi. Netralisasi dengan menggunakan NaOH akan
menyabunkan sejumlah kecil trigliserida. Hal serupa juga terjadi pada komponen minor dalam
minyak berupa sterol, klorofil, vitamin E, dan karotenoid yang hanya sebagian kecil dapat
dikurangi dengan proses netralisasi (Ketaren)
Proses pemisahan asam lemak bebas dengan cara penyulingan merupakan proses penguapan
asam lemak bebas langsung tanpa mereaksikan dengan larutan basa, sehingga asam lemak yang
terpisah tetap utuh. Minyak sawit kasar yang akan disuling terlebih dahulu dipanaskan dengan
alat penukar kalor (heat exchanger). Selanjutnya minyak tersebut dialirkan secara kontinyu ke
4

dalam alat penyuling dengan letak horizontal. Sepanjang dasar ketel terdapat pipa-pipa berlubang
tempat menginjeksikan uap air ke dalam minyak yang sudah dipanaskan pada suhu kurang lebih
240 - 270 oC, sehingga asam lemak bebas menguap bersama-sama dengan uap panas tersebut.
Hasil sulingan berupa campuran uap air dan asam lemak bebas akan mengembun dalam
kondensor pada suhu 70 80 oC. Kerusakan minyak hasil penyulingan akibat suhu tinggi
dihindari dengan menetralkan asam lemak bebas yang tertinggal dengan persenyawaan basa
(Ketaren).
3. Proses Bleaching.
Proses bleaching (pemucatan) dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan zat-zat
warna (pigmen) dalam minyak mentah, baik yang terlarut ataupun yang terdispersi. Warna
minyak mentah dapat berasal dari warna bawaan minyak ataupun warna yang timbul pada proses
pengolahan CPO menjadi minyak goreng. Pigmen yang biasa terdapat di dalam suatu minyak
sawit kasar ialah karotenoid yang berwarna merah atau kuning, chlorophillida dan phaephytin
yang berwarna hijau. Beberapa cara yang digunakan dalam bidang industri kimia, untuk
melakukan proses bleaching, diantaranya adalah :
a. Bleaching dengan absorbsi.
b. Bleaching secara kimia.
c. Bleaching dengan hidrogenisasi.
d. Bleaching dengan pemanasan.
Proses bleaching yang paling banyak digunakan adalah proses bleaching dengan absorbsi.
Proses ini menggunakan zat penyerap (absorben) yang mempunyai aktivitas permukaan yang
tinggi untuk menyerap zat warna yang terdapat dalam minyak sawit kasar. Disamping menyerap
zat warna, absorben juga dapat menyerap zat yang memiliki sifat koloidal lainnya seperti gum
dan resin.
Absorben yang paling banyak digunakan dalam proses bleaching minyak dan lemak adalah
tanah pemucat (bleaching earth) dan arang (karbon). Arang sangat efektif dalam penghilangan
pigmen warna merah, hijau dan biru, tetapi karena harganya terlalu mahal, maka dalam
pemakaiannya biasanya dicampur dengan tanah pemucat dengan jumlah yang disesuaikan
terhadap jenis minyak sawit kasar yang akan dipucatkan.
5

Proses bleaching secara kimia pada dasarnya adalah reaksi oksidasi zat warna oleh suatu zat
kimia, sehingga terbentuk senyawa tanpa warna, mungkin juga terjadi oksidasi terhadap
gliserida, sehingga proses ini jarang digunakan dalam pemucatan minyak untuk bahan makanan.
Bahan-bahan yang biasa dipakai sebagai oksidator antara lain adalah chlorine, hypochloride,
ozone, peroksida, sinar ultra violet dan lain-lain. Bleaching dengan hidrogenisasi dan pemanasan
biasanya dilakukan terhadap minyak yang mengandung pigmen carotenoid.
Pemucatan merupakan suatu proses untuk menghilangkan zat-zat warna yang tidak disukai
di dalam minyak. Pemucatan dilakukan dengan mencampur minyak dengan sejumlah kecil
adsorben, seperti tanah serap (fuller earth), lempung aktif (activated clay), dan arang aktif atau
juga menggunakan bahan kimia. Zat warna dalam minyak akan diserap oleh permukaan
adsorben yang juga akan menyerap suspensi koloid serta hasil degradasi minyak. Pemucatan
minyak menggunakan adsorben umumnya dilakukan dalam ketel yang dilengkapi dengan pipa
uap. Minyak yang akan dipucatkan dipanaskan dalam suhu 105 oC selama 1 jam. Penambahan
adsorben dilakukan pada saat minyak mencapai 70 80 oC dan jumlah adsorben kurang lebih
sebanyak 1,0 2,5 % dari berat minyak sawit kasar. Selanjutnya minyak dipisahkan dari
adsorben dengan cara penyaringan menggunakan kain tebal atau pengepresan dengan filter press.
Cara pemucatan dengan bahan kimia banyak digunakan untuk minyak yang akan digunakan
sebagai bahan pangan karena lebih baik dibandingkan dengan adsorben. Keuntungan
menggunakan bahan kimia adalah hilangnya sebagian minyak dapat dihindarkan dan zat warna
diubah menjadi zat tidak berwarna yang tetap tinggal di dalam minyak (Ketaren).
4. Proses Deodorisasi
Proses deodorisasi bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan rasa dan bau yang tidak
dikehendaki dalam minyak sawit kasar untuk makanan. Senyawa-senyawa yang menimbulkan
rasa dan bau yang tidak enak tersebut biasanya berupa senyawa karbohidrat tak jenuh, asam
lemak bebas dengan berat molekul rendah, senyawa-senyawa aldehid dan keton serta senyawasenyawa yang mempunyai volatilitas tinggi lainnya. Kadar senyawa-senyawa tersebut, walaupun
cukup kecil telah cukup untuk memberikan rasa dan bau yang tidak enak, kadarnya antara 0,001
0,1 %.
Proses deodorisasi yang banyak dilakukan adalah cara distilasi uap yang didasarkan pada
perbedaan harga volatilitas gliserida dengan senyawa-senyawa yang menimbulkan rasa dan bau
6

tersebut, dimana senyawa-senyawa tersebut lebih mudah menguap daripada gliserida. Uap yang
digunakan adalah superheated steam (uap kering), yang mudah dipisahkan secara kondensasi.
Proses deodorisasi sangat dipengaruhi oleh faktor tekanan, temperatur dan waktu, yang
kesemuanya harus disesuaikan dengan jenis minyak mentah yang diolah dan sistem proses yang
digunakan. Temperatur operasi dijaga agar tidak sampai menyebabkan turut terdistilasinya
gliserida. Tekanan diusahakan serendah mungkin agar minyak terlindung dari oksidasi oleh
udara dan mengurangi jumlah pemakaian uap. Pada umumnya, tekanan operasi sekitar 5 20
mmHg dan temperature 240 270 oC, serta menggunakan gas nitrogen untuk menghindari
terjadinya oksidasi.
Deodorisasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan bau dan rasa yang tidak enak
dalam minyak sawit kasar. Prinsip proses deodorisasi adalah penyulingan minyak dengan uap
panas dalam tekanan atmosfer atau keadaan vakum. Proses deodorisasi perlu dilakukan terhadap
minyak yang digunakan untuk bahan pangan. Proses deodorisasi dilakukan dengan cara
memompakan minyak ke dalam ketel deodorisasi. Kemudian minyak tersebut dipanaskan pada
suhu 240 270 oC pada tekanan 1 atmosfer dan selanjutnya pada tekanan rendah dengan tetap
dialiri uap panas, selama 4 - 6 jam. Pada suhu yang lebih tinggi, komponen yang menimbulkan
bau dalam minyak akan lebih mudah menguap. Penurunan tekanan selama proses deodorisasi
akan mengurangi jumlah uap yang digunakan dan mencegah hidrolisis minyak oleh uap air.
Setelah proses deodorisasi sempurna, minyak harus cepat didinginkan dengan mengalirkan air
dingin melalui pipa pendingin sehingga suhu minyak menurun menjadi sekitar 84 oC dan
selanjutnya ketel dibuka serta minyak dikeluarkan. Gambar di bawah ini menunjukkan proses
pemurnian minyak yang biasa dilakukan di industri. Hasil minyak yang telah dimurnikan sedapat
mungkin dijaga agar tidak banyak mengalami kerusakan dengan memperhatikan faktor-faktor
suhu, cara penanganan, dan kemasan yang dipakai (Ketaren).
5. Proses Fraksinasi
Proses fraksinasi terdiri atas kristalisasi suatu fraksi yang menjadi padat pada temperatur
tertentu dan disusul dengan pemisahan dengan cara filtrasi kedua fraksi itu. Fraksi yang menjadi
kristal adalah stearin dan yang tetap cair adalah olein. Beberapa proses fraksinasi yang sering
digunakan yaitu :
a. Fraksinasi kering (fraksinasi tanpa pelarut).
7

b. Fraksinasi basah (fraksinasi dengan pelarut).


c. Fraksinasi menggunakan larutan detergen sodium lauryl sulphat.
Proses fraksinasi kering didasarkan pada pendinginan minyak dengan kondisi yang
terkendali tanpa penambahan bahan kimia apapun. Ada tiga operasi yang terlibat yaitu seeding,
kristalisasi, dan filtrasi. Mula-mula minyak dipanasi sampai 70 oC untuk memperoleh cairan
homogen dan kemudian didinginkan dengan air pendingin, selanjutnya didinginkan sampai
temperatur 18 oC dan dipertahankan sampai proses kristalisasi dianggap selesai.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Secara garis besar proses pengolahan Pabrik Minyak Goreng Secara Kimia terdiri dari
dua proses, yaitu proses rafinasi (pemurnian) dan proses fraksinasi (pemisahan).

2. Proses rafinasi terdiri dari proses degumming, proses netralisasi, proses bleaching dan
proses deodorisasi. Minyak yang diperoleh dari proses rafinasi terdiri dari olein dan
stearin, dalam proses fraksinasi stearin dipisahkan dari olein.

Saran
Diharapkan dengan membaca makalah ini dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
penggunaan teknologi kimia industri dalam pabrik pembuatan minyak goreng.

DAFTAR PUSTAKA
https://anggraenipratiwi.wordpress.com/2011/07/21/investasi-industri-minyak-goreng-kelapasawit/
http://epcagroindustri.blogspot.co.id/2014/07/teknologi-proses-pengolahan-minyak.html
https://noviaekasaputrii.wordpress.com/2013/07/05/pabrik-pengolahan-kelapa-sawit/
http://www.golco.co.id/resource/

10