Anda di halaman 1dari 6

A.

Salah Paham Dalam Komunikasi


Salah paham dalam komunikasi bisa terjadi pada pengirim pesan, penyampaian pesan, penerima pesan
dan penafsiran pesan.
1. Pengirim pesan, mengirimkan pesan dengan tidak jelas apa yang menjadi isi pesan yang akan
disampaikan, isi pesan jelas akan tetapi mengemasnya tidak tepat dan mengirim melalui saluran yang
tidak tepat, terdapat konflik batin pada pengirim berita, kesulitan menyampaikan pesan.
2. Penyampaian pesan, karena faktor-faktor fisik, tulisan seperti "cakar ayam", tidak terbaca (kena air),
saluran komunikasi rusak, atau tidak ada sinyal (untuk HP), alat pendengar tidak berfungsi dengan baik,
suara tidak jelas (sluring, gagap, atau "bindeng"), dua pesan yang bersamaan, dan berebut perhatian
penerima pesan dan kadang-kadang pesan yang datang itu bertentangan satu dengan lainnya, terlalu
banyak gabungan saluran pesan, sehingga isi pesan yang diterima menjadi terlalu banyak.
3. Penerima pesan karena ada gangguan fisik, misalnya penerangan, penglihatan, pendengaran,
suara terlalu bising, hiruk pikuk, atau suara tidak terdengar, gangguan mental, sulit konsentrasi
dan sibuk sendiri, kesehatan fisik, sakit, lelah, tidak ada gairah, latar belakang budaya,
pendidikan, dan pengalaman penerima pesan jauh berbeda dengan pengirim pesan, perbedaan
penafsiran kata antara pengirim pesan dengan penerima pesan, perbedaan tanggapan
emosional.
B. Halangan Komunikasi
a. Persepsi
Persepsi atau pandangan seseorang dalam memilih, mengatur dan memberi makna pada
kenyataan yang dihadapi atas dasar pengalaman, pendidikan dan kebudayaan.
Dua persepsi yang menghalangi komunikasi:
1). Persepsi selektif, melihat suatu kenyataan, objek bukan sebagaimana adanya akan tetapi
sebagaimana yang dikehendaki.
2). Persepsi stereotype, melihat suatu kenyataan menurut pola yang tetap. Misalnya: perempuan
itu hanya kerja di dapur, mengurus anak, anak laki-laki bermain kapal terbang dan mobilmobilan, anak perempuan bermain boneka.
b. Status orang yang berkomunikasi
Status orang berkaitan dengan kedudukannya ditempat kerja, di masyarakat atau kelompok serta
sifat-sifat pribadi. Status orang dapat menjadi penghalang dalam berkomunikasi. Biasanya orang

yang mempunyai status lebih tinggi akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang yang
statusnya lebih rendah darinya, demikian sebaliknya yang lebih rendah akan sulit berkomunikasi
dengan yang lebih tinggi statusnya dibandingkan dengan dirinya.
c. Sikap Defensif
Seringkali terjadi orang dalam berkomunikasi menunjukkan sikap defensif, yang kadang-kadang
tidak diketahuinya atau sengaja dilakukannya. Hal ini dilakukan untuk melindungi dirinya dari
bahaya yang ia bayangkan nyata atau tidak nyata. Misalnya pengirim pesan secara lisan, dalam
menyampaikannya menggunakan gerak tubuh, pandangan mata, raut muka dan cara berbicara
yang menyebabkan penerima pesan juga melakukan gerakan
yang sama. Akhirnya pesan tidak dapat diterima dengan baik dan benar, bahkan perhatian
penerima pesan tidak pada apa yang disampaikan pengirim pesan akan tetapipada apa yang mau
dikatakan untuk menjawab pesan yang diterima.
d. Perasaan negatif.
Sering terjadi antara pengirim pesan dengan penerima pesan terjangkit perasaan negatif, yang
berupa perasaan tidak nyaman, seperti rasa takut, tertekan, terpaksa, enggan, agresif dll.
Akibatnya pengirim pesan tidak dapat membuat encoding dengan baik dan benar dan penerima
pesan tidak siap menerima pesan.
e. Asumsi
Asumsi atau pengandaian, akan dilakukan oleh penerima pesan apabila ia merasa bahwa pesan
yang diterimanya sulit diterima karena banyak data, fakta yang harus diterima.
f. Bahasa
Yang dimaksud dengan bahasa adalah semua bentuk yang dipergunakan dalam proses
penyampaian berita, yaitu bahasa lisan, bahasa tertulis, gerak gerik, dan sebagainya. Bahasa yang
digunakan akan menunjukkan tingkat intelektualitas seseorang, sehingga orang yang mempunyai
tingkat intelektual yang tinggi akan cenderung menggunakan bahasa yang tinggi juga atau
istilah-istilah asing tahap memperhatikan tingkat kemampuan orang yang diajak berbicara,
sehingga sering menimbulkan salah pengertian (miscommunication).
Bahasa dapat menjadi penghalang karena:
1). Satu kata mempunyai arti yang berbeda satu dengan lainnya;
2). Kata dan kalimatnya kabur;
3). Kata terlalu khas, hanya digunakan dalam hal-hal khusus, tidak umum dipakai dalam

perkomunikasian sehari-hari;
4). Kalimat bertele-tele dan sukar dimengerti.
Halangan bahasa dapat diatasi dengan usaha-usaha:
1). Pergunakan kata-kata yang sederhana, mudah dimengerti oleh siapapun;
2). Pergunakan tata bahasa yang benar.
3). Pergunakan kalimat-kalimat yang pendek singkat dan jelas.
4). Ingat, dengan siapa kita mengadakan pembicaraan, sampai ditingkat mana pengetahuan dan
pendidikannya, sehingga kita dapat menyesuaikan diri;
5). Pergunakan kode-kode, serta lambang-lambang dan gerak-gerik yang dapat memperjelas apa
yang kita ucapkan
FAKTOR PENDUKUNG
Scott M. Cultip dan Allen H. Center dalam bukunya
Effective Public Relation mengemukakan faktor faktor
yang menyebabkan komunikasi menjadi efektif, artinya
keberhasilan komunikasi yaitu dengan Seven C's
Communication yaitu:
1). Credibility (kepercayaan), adanya kepercayaan antara komunikator dengan komunikan;
2). Context (perhubungan, pertalian), keberhasilan komunikasi berhubungan erat dengan situasi
dan kondisi lingkungan pada waktu komunikasi berlangsung;
3). Content (kepuasan), apabila isi berita dapat dimengerti oleh pihak komunikan dan sebaliknya
pihak komunikan mau memberikan reaksi, respon kepada pihak komunikator;
4). Clarity (kejelasan), yang dimaksud disini adalah kejelasan akan isi berita tersebut, kejelasan
akan tujuan yang hendak dicapai, kejelasan istilah yang digunakan dalam pengoperan lambanglambang;
5). Continuity and consistency (kesinambungan dan konsistensi), harus dilakukan secara terus
menerus dan jangan saling bertentangan satu dengan lainnya;
6). Capability of audience (kemampuan pihak penerima berita), pengirim berita harus
mengetahui kemampuan penerima berita.
7). Channels of distribution (saluran pengiriman berita), hendaknya digunakan saluransaluran pengiriman berita yang sudah biasa dipakai dan sudah dikenal oleh umum.

Tingkatan Empati :
Level 0: Dokter menolak sudut pandang pasien

Mengacuhkan pendapat pasien


Membuat pernyataan yang tidak menyetujui pendapat pasien seperti

Kalau stress ya, mengapa datang ke sini? Atau Ya, lebih baik operasi
saja sekarang.
Level 1: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara sambil lalu

A ha, tapi dokter mengerjakan hal lain: menulis, membalikkan badan,


menyiapkan alat, dan lain-lain

Level 2: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara implisit

Pasien, Pusing saya ini membuat saya sulit bekerja


Dokter, Ya...? Bagaimana bisnis Anda akhir-akhir ini?

Level 3: Dokter menghargai pendapat pasien

Anda bilang Anda sangat stres datang ke sini? Apa Anda mau
menceritakan lebih jauh apa yang membuat Anda stres?

Level 4* : Pursuit ( Dokter menggali lebih dalam dari pasien )


Level 5: Dokter mengkonfirmasi kepada pasien

Anda sepertinya sangat sibuk, saya mengerti seberapa besar usaha Anda
untuk menyempatkan berolah raga

Level 6: Dokter berbagi perasaan dan pengalaman (sharing feelings and experience)
dengan pasien.

Ya, saya mengerti hal ini dapat mengkhawatirkan Anda berdua. Beberapa
pasien pernah mengalami aborsi spontan, kemudian setelah kehamilan

*level 4 (pursuit) bersumber dari Bylund and makoul (2002), jika level 4 dihilangkan dan hanya
terbagi dari level 0 sampai level 5 bersumber dari Konsil Kedokteran Indonesia.
Pendengar Aktif
Memberikan perhatian lebih

- Fokus kita tertuju pada sumber informasi tersebut


- Lingkungan tidak merusak focus kita
- Lakukan kontak mata
- Perhatikan bahasa tubuhnya
Demonstrasikan sebagai bukti bahwa kita sedang mendengar
- Mengangguk saat waktu yang tepat
- Gunakan ekspresi yang tepat
- Perhatikan bahasa tubuh kita sendiri sebagai pendengar
Cek ulang untuk lebih memahami
Jangan menginterupsi
Respon yang tepat
- Perlihatkan respect kita
Atur setting tempat
o Pilihlah tempat yang tepat untuk menyampaikan informasi agar informasi bisa
diterima dengan baik
Pastikan saling mengerti
o Pastikan informasi yang dipahami oleh pendengar memiliki pemahaman yang
sama dengan yang dimaksud oleh pembicara
Pemahaman bahasa tubuh
o Observasi posisi dan postur
o Kontak mata
o Pertimbangkan ekspresi dan gestur
Hindari men-judge :
o Usahakan pikiran terbuka dan jangan menyela ataupun memotong omongan
pembicara

Be Attantive : konsentrasi pada apa yang dikatakan, bukan bagaimana cara


penyampaiannya
Be Impartial : bersikap terbuka terhadap apa yang disampaikan, jangan men-judge dan
membuat pendapat, cukup dengarkan dengan baik
Reflect back : kemukakan kembali apa yang dikatakan oleh pembicara, bantu pembicara
untuk mengetahui apakah pendengar sudah mengerti atau belum
Summarize : rangkum apa yang penting dari isi pembicaraan
Avoiding distraction : hindari gangguan baik dari lingkungan, pembicara, maupun
pendengar
Paraphrase : ungkapkan kembali dengan kata-kata sendiri apa yang telah dikatakan oleh
pembicara
Clarify : Pastikan anda benar-benar mengerti apa yang disampaikan oleh pembicara

7 Kesalahan dalam proses komunikasi verbal (kesalahan pendengar) :

Filtering : pendengar terlalu menyaring informasi yang diterima dan hanya


memperhatikan informasi yang ia sukai sehingga tidak seluruh informasi diterima

dengan baik
Second Guessing : pendengar terlalu sibuk membayangkan apakah pembicara

memiliki motif tertentu dalam menyampaikan informasi serta apa motifnya


Discounting : pendengar kehilangan respect terhadap pembicara sehingga pendengar

akan memotong ataupun mengejek isi dari omongan pembicara


Relating : pendengar selalu mencari referensi dari pengetahuannya dan

membandingkan dengan informasi yang diterima dari pembicara


Rehearsing : pendengar memblocking pikirannya sendiri karena saat pembicara
menyampaikan informasi pendengar sibuk memikirkan apa yang akan ia sampaikan

selanjutnya
Forecasting : pendengar mengambil satu topic dari pebicara dan membahasnya terus
menerus, bisa disebabkan karena pendengar bosan dengan mareti yang dibahas atau

dapat pula karena pendengar memang sudah berpikir terlalu jauh


Placating : pendengar selalu setuju dengan apa yang dikatakan untuk menghindari
konflik tapi sulit dipastikan apakah pendengar mendengarkan dengan sungguhsungguh atau hanya mendengar sambil lalu saja
Sumber :

Wasisto B, dkk. Komunikasi Efektif Dokter Pasien.Jakarta: Konsil


Kedokteran Indonesia, 2006.
Jogja.prov.go.id