Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi dimana saja, dan kapan saja. Sudah
menjadi tugas petugas kesehatan untuk menangani masalah tersebut, walaupun begitu,
tidak menutup kemungkinan kondisi kegawatdaruratan dapat terjadi pada daerah yang
sulit dijangkau petugas kesehatan, maka pada

kondisi tersebut, peran serta

masyarakat untuk membantu korban sebelum ditemukan oleh petugas kesehatan


menjadi sangat penting.
Bantuan hidup dasar adalah tindakan darurat untuk membebaskan jalan napas,
membantu pernapasan, dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa menggunakan
alat bantu. Tujuan bantuan hidup dasar adalah untuk oksigenasi darurat secara efektif
pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan sirkulasi
buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan kekuatan sendiri
secara normal. Tindakan bantuan hidup dasar sangat penting khususnya pada pasien
dengan sudden cardiac arrest (SCA) atau henti jantung mendadak yang terjadi di luar
rumah sakit.
Sudden cardiac arrest (SCA) merupakan salah satu penyebab kematian.
SCA terus menjadi penyebab kematian utama di dunia meskipun beberapa kemajuan
penting tentang pencegahannya telah dapat dicapai. SCA bertanggung jawab terhadap
kematian lebih dari 60% orang dewasa yang menderita penyakit jantung koroner
(ERC guidelines, 2010). Sehubungan dengan pentingnya melakukan bantuan hidup
dasar secara cepat terhadap tingkat kelangsungan hidup penderita SCA maka setiap
orang seharusnya terlatih melakukan tindakan bantuan hidup dasar. Tindakan bantuan
hidup dasar yang dilakukan oleh orang yang berada di sekitar penderita out-ofhospital cardiac arrest (OHCA) segera setelah kejadian dapat meningkatkan tingkat
kelangsungan hidup penderita OHCA .
Anak usia remaja, khususnya siswa setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)
seharusnya sudah dapat melakukan tindakan bantuan hidup dasar dengan baik.
Meissner (2012) menyebutkan bahwa di Jerman anak umur 13 sampai 14 tahun telah
dapat melakukan resusitasi jantung paru sama baiknya dengan orang dewasa. Di
Indonesia, Palang Merah Remaja (PMR) sebagai organisasi di tingkat SMA yang

bergerak dalam bidang kesehatan seharusnya sudah memiliki anggota-anggota yang


dapat melakukan tindakan bantuan hidup dasar secara baik dan benar.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami ingin memberikan pelatihan
bantuan hidup dasar (BHD) kepada siswa/siswi di SMA Negeri 2 Tanggul Jember
sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan motivasi siswa di sekolah
tersebut
1.2

Rumusan Masalah
Apakah pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) dapat meningkatkan pengetahuan
siswa dan siswi di SMA Negeri 2, Kecamatan Tanggul?

1.3 TujuanKegiatan
1.3.1 TujuanUmum
Meningkatkan pengetahuan mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada
siswa/siswi di SMA Negeri 2 Tanggul.
1.3.2 TujuanKhusus
1.3.2.1 Meningkatkan pengetahuan siswa dan siswi di SMA Negeri 2 mengenai
pentingnya Bantuan Hidup Dasar sebagai penanganan awal pada kasus
emergensi.
1.3.2.2 Meningkatkan motivasi dan rasa kepercayaan diri siswa dan siswi SMA Negeri
2 untuk melakukan Bantuan Hidup Dasar pada penanganan awal kasus
emergensi.
1.3.2.3 Mengetahui pengaruh pelatihan Bantuan Hidup Dasar terhadap peningkatan
motivasi dan pengetahuan siswa dan siswi SMA Negeri 2 Tanggul
1.4 Manfaat
Berdasarkan tujuan penelitian maka disusun manfaat penelitian sebagai berikut:
1. Untuk Siswa: Data atau informasi dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
bahan evaluasi terhadap kemampuan siswa/siswi di SMA Negeri 2 Tanggul dalam
melakukan bantuan hidup dasar
2.

Untuk Dinas Pendidikan Kota Jember: Data atau informasi dari hasil penelitian ini

dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan pelatihan bantuan


hidup dasar kepada siswa tingkat SMA.
3.

Data atau informasi dari hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan untuk
penelitian lain yang berkaitan dengan bantuan hidup dasar