Anda di halaman 1dari 3

BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Penyakit ini menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai
dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan
adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura yang berlangsung
sampai dengan 14 hari. Gejala ISPA sangat banyak ditemukan pada
kelompok masyarakat di dunia, karena penyebab ISPA merupakan salah
satu hal yang sangat akrab di masyarakat. Penyakit ini diawali dengan panas
disertai salah satu atau lebih gejala: tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek,
batuk kering atau berdahak.
Survey mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2007
menempatkan ISPA sebagai penyebab kematian dengan presentasi 22,30%
dari seluruh kematian bayi, kematian yang terbesar umumnya adalah karena
pneumonia dan terjadi pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Hingga saat ini
angka mortalitas ISPA masih tinggi (Depkes RI, 2007).
World Health Organization (WHO) memperkirakan insiden infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian
balita di atas 40/1000 kelahiran hidup adalah 15% - 20% per tahun pada
golongan usia balita. Menurut WHO 13 juta anak balita di dunia meninggal
setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di negara
berkembang dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama
kematian dengan 4 juta balita setiap tahun (Depkes, 2000).
Di Indonesia, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) menempati urutan
pertama yang menyebabkan kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain
itu, ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit.
ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke
sarana kesehatan. Berdasarkan angka-angka

di rumah sakit di Indonesia

didapat bahwa 40% sampai 70% anak yang berobat ke rumah sakit adalah
penderita ISPA (Depkes, 1985). Sebanyak 40 - 60% kunjungan pasien ISPA
berobat ke puskesmas dan 15 - 30% kunjungan pasien ISPA berobat ke bagian
rawat jalan dan rawat inap rumah sakit (Depkes RI, 2011).
Di Puskesmas Tanggul, ISPA menduduki peringkat pertama di daftar 10
penyakit terbanyak. Oleh karena itu, pada penelitian ini penulis ingin
menyajikan distribusi penyakit ISPA di wilayah Tanggul pada bulan januari
hingga bulan Juni 2015.

I.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana prevalensi
kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Wilayah Kerja Puskesmas
Tanggul Pada Bulan Januari sampai dengan Bulan Juni Tahun 2015?

I.3. Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui prevalensi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) di Wilayah Kerja Puskesmas Tanggul yang terdiri dari data angka kejadian
ISPA berdasarkan umur, distribusi kasus ISPA per wilayah kerja, dan distribusi
kasus ISPA per bulan dari bulan Januari hingga bulan Juni 2015

I.4. Manfaat Penelitian


1. Sebagai bahan informasi dan masukan yang dapat dipergunakan bagi
pihak Puskesmas Tanggul dalam menyusun perencanaan program
pemberantasan ISPA selanjutnya dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan khususnya bagi ISPA.
2. Bagi dokter internship memperluas wawasan tentang penyakit ISPA dan
distribusi kasus penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas Tanggul, angka

kejadian ISPA berdasarkan umur penderita dan distribusi kasus ISPA setiap
bulan yang dilihat pada bulan Januari hingga bulan Juni 2015.