Anda di halaman 1dari 15

I.

LAKSATIF

A. Pendahuluan
Laksatif adalah obat yang digunakan untuk membantu pengosongan bahan feses yang
telah terbentuk sebelumnya dari rectum. Istilah yang hampir bersinggungan ialah
katartik. Katartik merupakan obat yang membantu pengosongan bahan feses yang
belum terbentuk sebelumnya dan biasanya mengandung air dari seluruh kolon).
Sebagian besar obat konstipasi yang digunakan menyebabkan laksasi, dan beberapa
bersifat katartik.
Mekanisme kerja umum obat untuk konstipasi :
1. Retensi cairan intralumen
2. Menurunkan absorpsi cairan
3. Efek terhadap motilitas
Indikasi dan kontraindikasi laksatif secara umum :
Indikasi
1. Konstipasi
2. Pembersihan untuk radiologi, operasi,
endoskopi
3. Sudah tidak bisa ditangani dengan tx
alami
4. Penyakit yang tidak boleh mengejan
keras
5. Keracunan

Kontraindikasi
1. Apendisitis
2. Obstruksi usus
3. Sakit perut tidak
4.
5.
6.
7.
8.
9.

diketahui

sebabnya
Mual muntah
Kolik
Insufisiensi ginjal
Penyakit jantung
Abn. elektrolit
Phenylkketonuria

Penyalahgunaan laksatif :
1. Anggapan laksatif untuk kosmetik, diet dan obat kurus
2. Ketergantungan terhadap laksatif (laksatif dependensi) :
a. merangsang pengeluaran seluruh kolon, waktu jeda untuk defekasi selanjutnya
bertambah memakai laksatif kembali
b. keluar feses premature NaCl, KCl, air keluar rangsang aldosteron
retensi Na dan pengeluaran KCl hipokalemia peristaltik menurun
semakin konstipasi memakai laksatif lagi
Efek samping laksatif :
1. Diare
5. Alergi
2. Dehidrasi
6. Gagal ginjal
3. Gangguan keseimbangan elektrolit
7. Asidosis metabolik
4. Bloating
8. Kematian
5. Alergi
9. Distensi abdomen
6. Gagal ginjal
10. Dependensi
B. Penggolongan obat

Tabel 1. Golongan obat untuk konstipasi


Golongan
1. Aktif lumen

Contoh obat
a. Koloid hidrofilik /pembentuk massa
b. Senyawa osmotic
c. Surfaktan dan emolien
2. Stimulant / iritan
a. Difenilmetan
b. Antrakuinon
nonspesifik
c. Asam risinoleat
3. Senyawa prokinetik a. Agonis reseptor 5-HT4
b. Antagonis reseptor opiod
1. Obat aktif lumen
a. Koloid hidrofilik/ pembentuk massa
Dalam keadaan normal, massa, konsistensi, dan hidrasi feses sangat
tergantung pada serat dalam kandungan makanan. Kolid hidrofilik/pembentuk
massa ini terdiri dari serat makanan dan suplemen, yaitu:
Senyawa alamiah (non sintesis) : Bran (kulit ari padi-padian) yang
mengandung lignin (paling efektif), pectin dan hemiselulosa, psyllium husk
dari biji plantago.
Semisintetik : metilselulosa, polikarbofil.
Mekanisme kerja
Sebagian komponen serat akan difermentasi oleh bakteri memproduksi
asam lemak pendek (untuk nutrisi epitel kolon) dan meningkatkan massa
bakteri >> volume feses merangsang motilitas usus. Serat yang tidak
terfermentasi menarik air ke intralumen >> massa feses dan konsistensi
feses <<.
Kontraindikasi : pasien gejala obstruksif, phenylketonuria, megakolon atau
megarektum.
ESO : kembung dan nyeri abdomen
b. Senyawa osmotic
Mekanisme kerja : senyawa2 osmotik menarik dan retensi air ke
intralumen stimulasi motilitas/peristaltic kolon dan << konsistensi feses.
1) Laksatif garam
Terdiri dari : magnesium sulfat, magnesium hidroksida, magnesium sitrat,
natrium fosfat.
Laksatif yang mengandung Mg rangsang pelepasan kolesistokinin
(mediator inflamasi) akumulasi elektrolit dan cairan intralumen
rangsang motilitas

KI : penderita insufisiensi ginjal, penyakit jantung, gangguan elektrolit,


dan pasien dalam terapi diuretic.
ESO : Gangguan elektrolit, dehidrasi, hipotensi, kegagalan fungsi ginjal
dll.
2) Senyawa alkohol dan gula yang tidak dapat dicerna
Terdiri dari : Gliserin, laktulosa, sorbitol dan manitol.
Mekanisme kerja : Laktulosa, sorbitol dan manitol adalah gula yang tidak
bisa diabsorpsi terhidrolis di usus asam organic mengasamkan isi
lumen dan secara osmosis menarik air ke intralumen stimulasi motilitas
kolon.
ESO : iritasi lokal (rectum), distensi dan tidak nyaman pada abdomen,
flatulens yang relatif sering
Indikasi : konstipasi pada : lansia, idiopatik kronik, karena opioid, dan
enselohepatika
3) Larutan elektrolit polietilen Glikol (PEG)
Terdiri dari : colyte, golytely,dll
PEG ini sulit diabsorpsi dan memiliki sifat osmotik yang tinggi sehingga
dapat menahan air.
c. Surfaktan dan emolien
Mekanisme kerja :
Garam dioktil/docusate untuk menurunkan tegangan permukaan feses
terjadinya pencampuran antara air dan bahan-bahan berlemak konsistensi
feses<< dan halus memudahkan defekasi.
Terdiri dari : dioktil kalsium sulfosuksinat, dioktil natrium sulfosuksina,
paraffin, minyak zaitun.
ESO : ganggu absorpsi substansi larut lemak (vitamin), pneumonitis, elisitasi
dari reaksi asing dalam mukosa usus dan jaringan lain.
2. Stimulant/iritan nonspesifik
Mekanisme kerja :
Aktivasi jalur prostaglandin/AMP siklik dan GMP siklik serta menghambat
+
Na ,

+
K - ATPase berefek langsung pada enterosit, neuron enteric, otot

polos pencernaan menginduksi radang pada usus halus dan usus besar secara
terbatas akumulasi air dan elektrolit intralumen menstimulasi motilitas
usus.
Terdiri dari : turunan difenilmetan, antrakuinon, asam risinoleat

a. Turunan difenilmetan (bisakodil, sodium picosulfate, oskifenisatin asetat dan


fenolftalein)
ESO :
Fenolftalein : Aman digunakan untuk jangka pendek
ESO : gangguan eletrolit, reaksi alergi, sindrom steven Johnson, urtikaria, dll.
Bisakodil : Efek pencahar timbul 6-12 jam setelah pemberian oral (sebaiknya
dikonsumsi sebelum tidur), dan seperempat sampai 1 jam setelah pemberian
rectal.
Jangan diisap atau dikunyah (langsung ditelan) dan jangan diminum bersama
susu atau antasid menghindari iritasi
ESO : kekurangan cairan dan elektrolit, merusak mukosa dan picu peradangan
pada sal. cerna
Oksifenisatin asetat : jarang digunakan karena memicu hepatitis dan ikterus
b. Antrakuinolon
Diperoleh dari tanaman seperti Aloe, kaskara, dantron dan sena. Setelah
pemberian oral sebagian akan diabsorpsi dalam bentuk glikosida
dihidrolisis oleh flora normal kolon menjadi antrakinon (zat aktif )yang
bersifat iritan terhadap mukosa rangsang pergerakan kontraksi kolon yang
kuat dan sekresi cairan/elektrolit dalam jumlah besar.
c. Asam risinoleat (minyak jarak)
Minyak jarak terdiri dari risin dan minyak yang kaya trigliserida. Trigliserida
dihirolisis di usus halus oleh lipase gliserol dan zat aktif (as.risinoleat)
stimulasi sekresi cairan dan elektrolit dan mempercepat waktu transit
ESO : kolik, dehidrasi dan gangguan eletrolit.
3. Senyawa prokinetik
Senyawa prokinetik adalah obat-obat yang dapat menghasilkan peningkatan
transit GI melalui interaksi dengan reseptor spesifik yang mengatur motilitas
secara langsung. Obat-obatan ini sudah jarang dipakai.
Terdiri dari : 5-HT 4 Reseptor Agonis, neurotropin-3 (NT3), misoprostol

II.

ANTIDIARE

A. Bulk-Forming
Biasanya digunakan untuk obat konstipasi tetapi bisa digunakan untuk mengobati
diare kronik ringan dengan irritable bowel syndrome. Mekanisme kerjanya masih
belum jelas, tetapi golongan ini mungkin bekerja sebagai gel untuk memodifikasi
tekstur dan viskositas feses sehingga menurunkan kadar air dalam feses. Beberapa
golongan ini juga dapat mengikat racun bakteri dan garam empedu. Kaolin dan silikat
lainnya seperti atapulgit kuat dalam mengikat air (atapulgit menyerap delapan kali
beratnya dalam air) dan juga dapat mengikat enterotoksin. Namun, efek ini tidak
selektif dan mungkin melibatkan obat lain dan nutrisi, sehingga agen ini sebaiknya
dihindari dalam waktu 2 sampai 3 jam untuk mengambil obat lain. Untuk mengobati
gejala diare ringan biasanya digunakan campuran kaolin dan pectin.
B. Pengikat Asam Empedu
Cholestyramine, colestipol, dan colesevalam efektif mengikat asam empedu dan
beberapa racun bakteri. Cholestyramine berguna dalam pengobatan diare karena
garam empedu, seperti pada pasien dengan reseksi ileum distal. Pada pasien ini, ada
gangguan parsial sirkulasi enterohepatik pada garam empedu, sehingga konsentrasi
yang berlebihan mencapai usus besar dan merangsang sekresi air dan elektrolit.
Golongan ini juga memiliki peran bersejarah dalam

mengobati diare karena

antibiotik dan kolitis ringan karena Clostridium difficile. Namun, penggunaannya


dalam diare karena infeksi tidak disarankan karena bisa menurunkan pengeluaran
dari patogen penyebab diare.
C. Bismuth
Pepto-Bismol (bismuth subsalisilat) diperkirakan digunakan oleh 60% rumah tangga
di Amerika. Pada pH rendah perut, subsalisilat bereaksi dengan asam klorida untuk
membentuk oksiklorida bismutdan asamsalisilat. Sementara 99% dari bismuth yang
tidak bekerja akan tidak terserap ke dalam kotoran, dan salisilat tersebut akan diserap
di lambung dan usus kecil. Penggunaannya harus hati hati jika ingin diberikan
dengan indikasi lain.
D. Opioid
Opioid terus digunakan secara luas dalam pengobatan diare. Obat ini bertindak oleh
beberapa mekanisme yang berbeda, dimediasi terutama melalui reseptor - atau -

opioid pada saraf enterik, sel epitel, dan otot. Mekanisme ini termasuk efek pada
motilitas usus (reseptor ), sekresi usus (reseptor ), atau penyerapan ( dan reseptor
). Obat yang umum digunakan pada golongan ini seperti diphenoxylate, difenoxin,
dan loperamide bekerja melalui reseptor perifer -opioid perifer dan lebih disukai
daripada opioid yang menembus SSP.
1. Loperamide
Obat ini 40 sampai 50 kali lebih kuat dari morfin sebagai agen antidiare dansulit
menembus SSP. Obat ini meningkatkan lama transit usus kecil dan waktu transit
dari mulut ke sekum. Loperamide juga meningkatkan tonus sfingter anus, efek
yang berguna pada beberapa pasien yang menderita inkontinensia anal. Selain
itu, loperamide memiliki aktivitas antisekretori terhadap toksin kolera dan
beberapa bentuk toksin E. coli toksin. Obat ini bertindak cepat setelah diberi
dosis oral. Biasanya dosis dewasa adalah 4 mg awalnya diikuti oleh 2 mg setelah
secara beratahap feses yang keluar berkurang, sampai 16 mg per hari. Jika
perbaikan klinis pada diare akut tidak terjadi dalam waktu 48 jam, loperamide
harus

dihentikan.

Loperamide telah terbukti efektif terhadap diare, baik digunakan sendiri atau
dalam kombinasi dengan agen antimikroba (trimetoprim, trimethoprim sulfamethoxazole, atau fluorokuinolon). Loperamide juga telah digunakan
sebagai pengobatan tambahan di hampir semua bentuk penyakit diare kronis,
dengan sedikit efek samping. Bila terjadi overdosis, dapat mengakibatkan
depresi SSP dan paralisis ileus.
2. Diphenoxylate dan difenoxin
Sebagai agen antidiare, diphenoxylate dan difenoxin sedikit lebih kuat daripada
morfin. Kedua senyawa secara luas diserap setelah pemberian oral. Kedua obat
dapat menghasilkan efek pada SSP bila digunakan dalam dosis yang lebih tinggi
(40 sampai 60 mg per hari) sehingga bisa terjadi efek adiksi. Dalam obat ini
dapat diberikan atropin dalam dosis kecil untuk mencegah penyalahgunaan dan
overdosis yang disengaja : 25 g atropin sulfat per tablet dengan 2,5 mg
diphenoxylate hidroklorida atau dengan 1 mg difenoxin hidroklorida. Efek
samping yang mungkin terjadi bila diberikan dalam dosis berlebihan adalah
sembelit dan toxic megacolon (dalam kondisi peradangan usus besar). Dalam

dosis yang tinggi, obat ini menyebabkan efek CNS serta efek antikolinergik dari
atropin (mulutkering, penglihatan kabur, dll).
E. Octreotide
Octreotide adalah analog octapeptide dari somatostatin yang efektif dalam
menghambat diare sekretori parah yang disebabkan oleh tumor yang mensekresi
hormon dipankreas dan saluran pencernaan. Mekanisme kerjanya melibatkan
penghambatan sekresi hormon, termasuk serotonin dan berbagai peptida lainnya
(misalnya, gastrin, polipeptida vasoaktif usus, insulin, secretin, dll). Octreotide telah
digunakan, dengan berbagai keberhasilan, dalam bentuk lain diare sekretori seperti
diare yang diinduksi kemoterapi, diare yang disebabkan human immunodeficiency
virus (HIV), dan diare yang berhubungan dengan diabetes. Kegunaan terbesarnya
adalah dalam pengobatan "dumping syndrome" terlihat pada beberapa pasien setelah
operasi lambung dan pyloroplasty. Dalam kondisi ini, octreotide menghambat
pelepasan hormon (dipicu oleh makanan yang cepat masuk ke dalam usus halus) yang
menyebabkan efek lokal terkait.

III.

ANTIEMETIK

Antiemetik bekerja dengan cara memblok CTZ (chemoreceptor triger zone) atau
mencegah stimulasi pada pusat muntah. Berikut golongan obat antiemetik:
A. Antihistamin-H1
Bekerja dengan memblok stimulasi perifer pada pusat muntah.
Contoh obat: Dimenhydrinate, diphenhydramine, dan Meclizine Hydrichloride
B. Antikolinergik
Bekreja dengan memblok area kolinergik pada nucleus vestibular dan reticular
formation. Digunakan pada motion sickness.
Contoh obat: scopolamine
C. Benzodiazepine

Meski memiliki efek antiemetik, benzodiazepine lebih sering digunakan untuk obat
insomnia, anxiety, status epilepticus, dan relaksan otot
Contoh obat: lorazepam dan diazepam
D. Cannabinoids
Hingga sekarang cara kerja dari Cannabinoids masih belum diketahui, akan tetapi
cannabinoids dipercaya memiliki efek pada central cerebral cortex axis
Contoh obat: tetrahydrocannabinol (THC) (marinol)
E. Antagonis Dopamin
Bekerja dengan menghambat stimulasi CTZ dengan cara meningkatkan motilitas GIT
sehingga terjadi peningkatan gastric emptying
Contoh obat: Metoclopramide
F. Derivat phenotiazine
Obat golongan ini bekerja dengan cara menghambat transmisi dopaminergic. Selain
itu obat golongan ini dapat mengurangi vomit yang disebabkan oleh iritasi gaster.
Contoh obat: prochloperazine dan promethazin
G. Antagonis reseptor 5-HT3
Pada bagian terminal nervus vagal dan bagian central CTZ ditemukan adanya
reseptor 5-HT3. Pada keadaan tertentu (ex: kemoterapi) sel mukosa pada GIT
melepaskan serotonin yang menstimulasi reseptor 5-HT3 untuk menginduksi muntah.
Antagonis reseptor 5-HT3 akan memblok stimulasi serotonin sehingga tidak
terjadinya induksi.
Contoh obat: Ondansentron dan granisetron. Efek samping yang sering ditimbulkan
adalah sakit kepala.
IV.

OBAT GANGGUAN LAMBUNG

A. Agen pereduksi asam lambung


1. Fisiologi Sekresi Asam Lambung

2. Antasid
a. Definisi
- Antasid adalah basa lemah yang bereaksi dengan asam hidroklorida
-

lambung untuk membentuk garam dan air


Antasid masih banyak digunakan oleh pasien sebagai obat bebas untuk

mengobati nyeri ulu hati dan dispepsia intermiten


b. Kegunaan
- Menurunkan keasaman lambung
- Meningkatkan pertahanan mukosal melalui perangsangan produksi
prostaglandin oleh mukosa
c. Yang mempengaruhi kemampuan antasid menetralisir asam lambung
- Laju disolusi (tablet vs cairan)
- Kelarutan dalam air
- Laju reaksi dengan asam
- Laju pengosongan lambung
d. Jenis
Jenis

Reaksi dengan
HCL

Natrium bikarbonat

Cepat

Menyebabkan
Alkalosis
Metabolik
+

Sendawa

Kalsium karbonat
Magnesium
hidroksida
Alumunium
hidroksida

Lebih lambat
Lambat

+
Jarang

+
-

Lambat

Jarang

3. Antagonis reseptor H2
a. Jenis
1) Simetidin
2) Ranitidin
3) Famotidin
4) Nizatidin
b. Farmakokinetik
- Cepat diserap oleh usus
- Simetidin, ranitidin dan famitidin mengalami metabolisme lintas pertama
bioavailabilitasnya menjadi 50%

Hanya sedikit nizatidin yang mengalami metabolisme lintas pertama

bioavailabilitasnya hampir 100%


- Waktu paruh 1-1,4 jam
- Durasi kerja bergantung dosis yang diberikan
c. Farmakodinamik
- Merupakan inhibisi kompetitif di reseptor H2 sel parietal
- Sangat efektif tidak mempengaruhi reseptor H1 dan H3
- Mekanisme
1) Histamin yang dilepaskan dari sel ECL akibat perangsangan gastrin
atau vagus disekat agar tidak berikatan dengan reseptor H2 sel parietal
2) Perangsangan langsung sel parietal oleh gastrin atau asetilkolin
menyebabkan penurunan sekresi asam bila terjadi blokade reseptor H2.
d. Penggunaan klinis
1) GERD
2) Penyakit ulkus peptik
3) Dispepsia non-ulkus
4) Pencegahan perdarahan akibat gastritis yang ditimbulkan oleh stres
e. Efek samping
Antagonis H2 adalah obat yang sangat aman. Efek samping dialami kurang
dari 3% pasien, dan meliputi diare, nyeri kepala, mialgia dan konstipasi.
1) SSP
Perubahan status mental (kebingungan, halusinasi, agitasi) pada pemberian
IV, terutama pada lansia di ICU atau yang menderita disfungsi ginjal atau
hati. Lebih sering oleh simetidin.
2) Efek endokrin
Simetidin : Ginekomasti, impotensi, galaktorea
3) Kehamilan dan ibu menyusui

Dapat melintasi plasenta, namun tidak diketahui adanya efek


berbahaya terhadap janin tidak boleh diberikan pada bumil, kecuali

sangat perlu.
Antagonis H2 disekresi ke dalam ASI

4) Efek lain
- Diskrasia darah (kadang)
- Blokade reseptor H2 jantung bradikardi dan hipotensi (pemberian
IV)
4. Proton Pump Inhibitor
a. Mekanisme
Sirkulasi sistemik difusi ke sel parietal dan terakumulasi pada kanalikuli
sekresi asam aktivasi obat oleh katalis proton dari sulfonamid tetrasiklik
hasil aktvasi ini berikatan dengan sistein yaitu sulfahidril pada H/K-ATPase
inaktivasi pompa molekul
b. Indikasi
1) GERD
2) Ulkus peptik
3) Penyembuhan gaster
4) Zoolinger-Elison Syndrome
c. ESO
1) Nause
2) Nyeri abdomen
3) Konstipasi
4) Flatulen
5) Diare
6) Atralgia
7) Nyeri kepala
8) Miopati akut
9) Skin rash
d. Jenis
1) Omeprazol
2) Esomeprazole
3) Lansoprazole
4) Rabeprazole
5) Pantoprazole

B. Agen pelindung mukosa


Agen pelindung mukosa atau mokoprotektor merupakan terapi tambahan untuk
gangguan lambung. Secara umum, obat golongan ini memproteksi dinding lambung
dari produksi asam yang berlebih. Agen yang sering dipakai adalah :
1. sukralfat,
2. analog prostaglandin (misoprostol)
3. senyawa bismuth koloid.
Molekul sukralfat membentuk pasta yang akan melekat pada mukosa yang
mengalami defek. Efektivitas sukralfat dalam mengurangi pembentukan striktur pada
pasien esofagitis tahap lanjut telah dibuktikan dalam sebuah studi kohort di turki
(Gumurdulu et al 2010). Tak jauh berbeda dengan sukralfat, misoprostol
meningkatkan produksi mukus pelindung asam dan mengurangi sekresi asam yang
berlebih dengan berikatan dengan reseptor prostaglandin di sel parietal. Sedangkan
selain meningkatkan produksi mukus, senyawa bismuth juga mengganggu integritas
dinding sel bakteri yang menyebabkan luka lambung. Efek samping yang cukup
berbahaya adalah penggunaan misoprostol pada ibu hamil yang dapat menginduksi
abortus, sehingga penggunaannya harus diawasi secara ketat. Efektivitas misoprostol
dalam pencegahan toksisitas lambung karena obat obat NSAID juga tidak lebih baik
dari golongan lain (Rostom et al, 2009). Sedangkan efek samping lain ialah senyawa
bismuth yang sering menghadirkan efek lidah, gigi dan feses yang menghitam
(Katzung, 2011; neal, 2005).

Struktur Kimia dan efek protektif sukralfat ( Lullman et al, 2005)

Struktur dan Efek Protektif Misoprostol (Lullman et al, 2005)


C. Antasid
Berasal dari kata anti acid, antasid merupakan salah satu obat dispepsia tertua
sebelum ditemukan agen pelindung mukosa dan anti pompa proton. Fungsi utama
kerja antasid ialah menurunkan keasaman isi lambung dengan cara netralisasi dan
peningkatkan pH. Obat ini bekerja menurunkan aktivitas peptik, karena enzim pepsin
tidak aktif pada pH tinggi. Antasid juga diduga dapat mengabsorbsi enzim pepsin.
Kebanyakan antasid mengandung magnesium hidroksida, alumunium hidroksida,
sodium bikarbonat dan kalsium karbonat. Karena fungsinya, obat ini disebut juga
agen penetral asam lambung (Katzung, 2011; Lullman et al, 2005; Vogel, 2002).

Mekanisme Kerja Antasid (Piscean, 2012)

Antasid dapat digunakan sebagai obat ulkus peptikum, gastroesophageal reflux


disease (GERD) dan kenaikan asam lambung. Efek samping yang mudah dijumpai
adalah diare oleh karena efek laksatif magnesium dan sodium, serta alumunium dan
kalsium yang menginduksi konstipasi. Antasid sebaiknya tidak diberikan pada pasien
dengan insufisiensi ginjal, gagal jantung dan hiperkalsemia (Ford et al, 2007;
Lullman, 2005).

V.

TATA CARA PRAKTIKUM

A. Tujuan Instruksional
1. Umum
Setelah menyelesaikan praktikum farmakologi obat laksatif dan obat saluran
cerna ini mahasiswa dapat menerapkan prinsip-prinsip farmakologi berbagai
macam obat dan memiliki ketrampilan dalam memberi dan mengaplikasikan
obat secara rasional untuk kepentingan klinik.
2. Khusus
Setelah menyelesaikan percobaan ini mahasiswa akan dapat :
a. Menjelaskan efek obat laksatif
b. Menjelaskan jenis-jenis obat laksatif
c. Menjelaskan bahan-bahan alami yang dapat bersifat laksatif
d. Memilih jenis laksatif yang paling tepat dalam praktek klinik
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Beakerglass
b. Sonde lambung
c. Spuit Injeksi 3 cc
d. Kertas saring
2. Bahan
a. Mgso4
b. Parafin

c. Bisacodyl tablet
C. Probandus
Tikus Putih (Rattus Norvegicus)
D. Cara Kerja
1. Ambil 10 ekor tikus putih. Masing-masing dimasukkan ke dalam beakerglass
yang sudah dilandasi dengan kertas saring.
2. Amati selama 30 menit bentuk fesesnya (padat, kental, cair). Feses yang baik
adalah feses yang padat dan tidak membasahi kertas saring.
3. Berilah obat pada setiap 2 ekor tikus putih secara oral dengan sonde lambung.
a. MgSO4 50 g/kgBB
b. Bisakodil 10 mg.kgBB
c. Parafin 1 ml/tikus
4. Amati perubahan konsistensi fesesnya