Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Fixed drug eruption (FDE) merupakan salah satu erupsi pada kulit yang ditandai dengan
makula hiperpigmentasi, terkadang ditemukan bula yang dapat timbul pada lokasi yang sama
jika terpapar dengan obat yang diduga sebagai penyebab FDE. Terdapat banyak obat yang
dilaporkan dapat menyebabkan FDE, salah satunya disebabkan oleh NSAIDs.(1,2)
2.2 EPIDEMIOLOGI
Data Divisi Alergi dan Imunologi Departemen Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUIRSCM menunjukkan selama tahun 1999-2001 alergi obat yang terbanyak pada anak usia di
bawah 14 tahun adalah FDE 46%, eksantema 5%, dan urtikaria 21%. (1)
2.3 ETIOLOGI
Beberapa obat-obatan yang dilaporkan dapat menginduksi FDE biasanya adalah obat
yang sering digunakan seperti NSAIDs, terutama derivat pirazolon seperti parasetamol,
naproxen, oxicams dan asam mefenamat. Telah dilaporkan juga jenis obat lainnya seperti
antibiotik, ibuprofen, sulfonamide, dan tetrasiklin serta agen lain seperti zat kontras pada
Computed Tomography. (3,4)
Dalam Sebuah penelitian dikatakan bahwa yang paling banyak menyebabkan FDE adalah
jenis NSAIDs dilanjutkan dengan antibiotik. (3,4)
2.4 GEJALA KLINIS
Fix Drug Eruption ditandai dengan gejala klinis berupa makula eritematous yang cerah
atau kehitaman yang dapat berkembang menjadi suatu plak edema, yang bisa disertai dengan
bula dengan lesi yang luas, biasanya ditemukan pada alat kelamin dan di daerah perianal, namun
demikian FDE dapat terjadi di mana saja pada permukaan kulit. Dalam beberapa kasus
ditemukan keluhan penyerta lainnya seperti adanya rasa seperti terbakar atau menyengat,
demam, malaise, dan gejala abdomen. (3)

2.5

PATOGENESIS
Fixed Drug Eruption merupakan bentuk klasik dari hipersensitivitas tipe 4 (Delayed Tipe

Hipersensitivity) subtipe D yang dimediasi oleh sel T CD8+. Adanya proses inflamasi dan
kerusakan jaringan lokal pada FDE dilatarbelakangi oleh adanya sel T CD8+ yang menetap pada
lesi FDE. Selain itu, Sel-sel tersebut juga ditemukan pada lapisan epidermis yang normal namun
dapat bermigrasi ke area lesi jika terjadi pajanan obat kausatif.(5)
Populasi sel T CD8+ yang ditemukan pada lesi FDE yang tidak reaktif (berada dalam
refractory period) memiliki peran sebagai sel efektor dan sel memori. Menetapnya sel CD8+
pada lesi dan salah satu fungsinya sebagai sel memori menjelaskan terjadinya rekurensi lesi pada
tempat yang sama. Sel ini menimbulkan kerusakan jaringan karena mencetuskan respon imun,
walaupun sebenarnya sel ini pada awalnya memiliki fungsi melindungi epidermis dari adanya
infeksi berulang.(5)
Kerusakan jaringan terjadi saat sel T CD8+ diaktifkan untuk membunuh secara langsung
keratinosit disekitarnya dan melepaskan IFN- dalam jumlah besar ke lingkungan lokal. Sitokin
tersebut berfungsi sebagai faktor kemotaktik untuk sel-sel imun lainnya seperti sel T CD4+, sel
netrofil dan sel T CD8+ lainnya untuk datang ke lokasi lesi dan menimbulkan respon imun serta
kerusakan yang jauh lebih berat. Selain itu, sel T CD8+ juga memiliki fungsi efektor sitolisis
langsung dengan mengeluarkan perforin dan Fas L sehingga sel yang terkena mengalami proses
lisis. Pada lesi FDE biasanya juga ditemukan adanya peningkatan ekspresi ICAM-1 oleh
keratinosit yang menjelaskan adanya migrasi limfosit ke area lesi di epidermis sehingga terjadi
kerusakan yang lebih hebat.(5)
Di akhir respon imun yang terjadi, terdapat adanya keterlibatan sel T regulator yang
direkrut ke area lesi untuk menghambat dan menghentikan respon imun yang dimediasi sel T
CD8+ intraepidermal dan sel T lainnya. Sebagian besar sel-sel tersebut kemudian mengalami
apoptosis. Beberapa sel ada yang menetap pada lesi dan tidak mengalami apoptosis disebabkan
oleh sitokin IL-15 yang dikeluarkan oleh keratinosit.(5)

Gambar 2. Fase-fase penyakit Fixed Drug Eruption (FDE)(5)

2.6

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding FDE dapat dilihat pada tabel berikut: (3,4)

No
1.

Diagnosis
Fixed
Drug

Definisi
Reaksi kutaneus

Eruption

obat

yang

Manifestasi Klinis
Foto
karena Lesi berbentuk makula
memiliki eritematous pada fase

karakteristik khas timbul

akut

dan

makula

lesi ditempat yang sama.

hiperpigmentasi
(violaseus)

saat

refractory period. Lesi


berbentuk

bulat

atau

oval, berjumlah soliter


hingga

multipel

dan

timbul setelah adanya


ingesti obat.

2.

Exanthematous

Merupakan

reaksi

Lesi

eruption

cutaneus

karena

erotematous

yang

obat,

dimana

disertai

yang

kharakteristik
umunya

lesi

berupa
papula

dapat

bersifat

macula

membentuk

plaque, berbatas tegas,

simetris

tepi

ireguler,

multiple,

jumlah
distribusi

simetris. Dapat disertai


dengan rasa gatal dan
3.

Urtikaria

Pembengkakan yang terjadi


dibawah

kulit

demam
Lesi berupa wheal atau

yang bercak

edema

berlangsung kurang dari 24 kemerahan


jam

yang
dengan

bagian tengah tampak


pucat yang disertai rasa
gatal. Ukuran bervariasi
mulai dari millimeter
sampai

sentimeter

dengan

diameter,

distribusi regional.
4.

Eritema

Peradangan

akut

pada

multiformis

lapisan

kutaneus

yang

ditandai

dengan

target

lesi

Disebut
multiformis
terdapat
mukosa.

yang

Lesi

khas

berbentuk

adanya

terget lesi (irisformis).

khas.

Lesi tampak papular dan

eritema terkadang dalam bentuk


yang
mayor jika vesikobullosa
keterlibatan secara khas meliputi
ekstremitas
(terutama
telapak tangan dan kaki)
Lesi

bisa

gatal

atau

nyeri. Pada bentuk yang


parah terdapat adanya
gejala sistemik berupa
demam,
5

lemas

dan

malaise

2.7

PENEGAKAN DIAGNOSIS

1. Anamnesis
Pada anamnesis biasanya pasien mengeluhkan adanya bercak kehitaman berukuran sebesar
koin. Pada awalnya, lesi tersebut timbul dengan warna merah cerah dalam waktu 30 menit
hingga 16 jam setelah meminum obat tertentu. Jarak waktu dari saat pasien meminum obat
hingga timbulnya lesi rata-rata sekitar 2 jam. Pasien juga biasanya merasakan adanya sensasi
terbakar sebelum timbulnya lesi. Pada beberapa kasus pasien juga mengeluhkan gejala sistemik
berupa demam, malaise dan gejala abdominal. Lesi dapat timbul di berbagai area pada tubuh
namun tempat predileksinya antara lain pada bibir, telapak tangan, telapak kaki, gland penis dan
lipat paha.(2,3,4)
Riwayat penggunaan obat perlu ditanyakan kepada pasien untuk mengidentifikasi obat
penyebab. Jika pasien lupa obatnya dapat ditanyakan keluhan yang mendorong pasien untuk
berobat, seperti keluhan sakit kepala yang berkaitan dengan obat-obatan analgesik, keluhan
konstipasi yang berhubungan dengan obat-obatan laksantia, keluhan infeksi yang berkaitan
dengan penggunaan antibiotik dan sebagainya.(3,4)
2. Pemeriksaan Fisik
Pada awal terjadinya sensitisasi oleh obat kausatif dapat ditemukan adanya efloresensi
berupa makula eritematous yang pada perkembangannya dapat berubah menjadi makula
hiperpigmentasi (violaseus), plak hiperpigmentasi hingga bentuk bulla (pada kasus FDE berat).
Terkadang lesi tersebut juga dapat melepuh dan terkelupas. Temuan klinis yang khas pada FDE
adalah timbulnya lesi ditempat yang sama dengan lesi sebelumnya. Hal tersebut dapat terjadi jika
adanya pajanan ulang obat penyebab. Jika pajanan obat penyebab baru terjadi pertama kali pada
pasien, biasanya lesi diawali dengan jumlah yang soliter. Seiring dengan terjadinya pajanan
ulang, lesi dapat timbul ditempat yang baru sehingga jumlahnya menjadi multipel.(3)
3. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, bila diperlukan dapat dilakukan
pemeriksaan penunjang untuk diagnosis banding. Berikut adalah beberapa pemeriksaan
penunjang yang dilakukan(3,5):
6

1. Uji Tempel
Suspek obat yang diduga menjadi penyebab lesi FDE dapat diidentifikasi lewat uji tempel,
yaitu menggunakan patch berisi obat dengan konsentrasi tertentu yang ditempelkan pada lesi
sebelumnya. Tes ini sebaiknya dilakukan setelah 2 minggu

terjadinya resolusi lesi untuk

menghindari adanya negatif palsu. Respon inflamasi biasanya positif pada 30% kasus.
2. Uji provokasi
Merupakan baku emas untuk mengetahui obat penyebab. Uji ini bertujuan untuk
mencetuskan tanda dan gejala klinis yang lebih ringan dengan menggunakan dosis tunggal.
Dosis yang kecil, yaitu 1/10 dari dosis terapetik obat penyebab sudah cukup untuk
memprovokasi.Tanda-tanda radang umumnya muncul dalam beberapa jam
2.8

HISTOPATOLOGI
Secara histologis, gambaran histopatologi FDE mirip dengan eritema multiformis, yaitu

dapat melibatkan epidermis dan dermis.(5) Pada tahap awal pemeriksaan histopatologi akan
menunjukkan adanya pembentukan vesikel subepidermal, nekrosis dari keratinosit dan adanya
infiltrasi neurofil, eosinofil, serta sel mononuklear baik dari superfisial maupun dari dalam.
Terdapat adanya inkontinensi pigmen yang berhubungan dengan pigmentasi yang dihasilkan
pada lesi FDE. Jika dilakukan biopsi saat fase akut sebuah pajanan ulang, stratum korneum
ditemukan normal. Pada biopsi yang dilakukan terhadap lesi yang sudah lama, pada umumnya
ditemukan adanya fibrosis stratum papilaris dermis dan timbulnya inkontinensi pigmen
perivaskular yang profunda.(6)

Gambar 3.Diskeratosis, vakuolisasi basal dan inflamasi perivaskular.Juga tampak adanya


inkontinensi pigmen dan infiltrasi eosinofil pada permukaan
2.9

TATALAKSANA

2.9.1Non-Farmakoterapi
Identifikasi serta hentikan penggunaan obat yang diduga sebagai penyebab sehingga
pajanan ulang yang memungkinkan timbulnya lesi FDE dapat dihindari.(3)
2.9.2Farmakoterapi
Lesi yang tidak terkelupas dapat diobati dengan glukokortikoid topikal poten dalam bentuk
ointment. Lesi yang terkelupas dapat diobati dengan antibiotik topikal seperti basitrasin atau
ointment antimikroba lainnya dan jika perlu didressing hingga lesi mengalami reepitelisasi.Jika
lesi melebar, berdistribusi generalisata dan adanya nyeri pada lesi dapat diberikan prednison oral
1-2 mg/kgbb/hari dan diturunkan dosisnya setelah penggunaan 2 minggu.(3)
2.10 PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik jika obat kausatif telah dapat dipastikan. Penggunaan obatobatan tersebut untuk kedepannya agar dihindari dan digantikan dengan obat lain. Pasien
sebaiknya diberikan catatan berupa kartu kecil (allergic card) yang memuat jenis obat beserta
golongannya sehingga mempermudah pasien dan petugas saat pasien datang untuk berobat
kembali, hal tersebut dapat mencegah adanya pajanan ulang yang memungkinkan terjadinya
FDE.
8

Anda mungkin juga menyukai