Anda di halaman 1dari 10

PENGGUNAAN SURFAKTAN PADA NEONATAL INTENSIVE CARE

UNITS

Surfaktan saat ini adalah terapi yang penting untuk bayi baru lahir di Neonatal Intensive
Care Units (NICUS) dengan masalah pernafasan, khususnya Respiratory Distress Syndrome
(RDS). Surfaktan telah digunakan pada tahun 1959. setelah dikenali untuk mempertahankan
inflasi paru pada tekanan transpulmonal yang rendah. Menurut Averi & Mead Jube dilaporkan
bahwa ekstrak salin dari paru-paru pada bayi yang preterm dengan RDS kekurangan tekanan
permukaan dengan karakteristik surfaktan paru-paru. Kemudian pada tahun 1980, terapi klinik
surfaktan secara potensial untuk RDS telah diperagakan. Oleh Fujiwara, dkk yang dilaporkan
Jobe pada penggunaan surfaktan yang dibuat dari pelarut organic yang diekstraksi dari paru-paru
sapi (Surfaktan TA) sebagian kecil control percobaan yang telah diacak (RCTs) pada tahun 1985,
yang telah dites surfaktan yang dibuat dari alveolar sapi atau cairan amnion manusia,
menunjukkan penurunan yang signifikan pada pneumothorax dan angka kematian. Kemudian
pada percobaan beberapa tempat menunjukkan penurunan angka kematian dan komplikasi RDS,
meskipun masih diteliti. Hal ini dimulai pada tahun 1989. surfaktan sintetik telah ditemukan
untuk penanganan sindrom tersebut di Amerika pada tahun 1990 dan surfaktan binatang
ditemukan pada tahun 1991. surfaktan ini mewakili perkembangan obat kelompok terbaru yang
secara spesifik untuk bayi preterm.
KARAKTERISTIK SURFAKTAN
Surfaktan adalah substansi kompleks yang berisi fosdolipid dan sejumlah apoprotein.
Cairan ini diproduksi oleh sel alveolar tipe II yang berada diantara alveoli dan bronkiolus kecil.
Surfaktan mengurangi tekanan permukaan yang keluar dari paru, dengan demikian
berpengaruh pada pemenuhan secara keseluruhan. Surfaktan jantung penting karena
menstabilkan alveoli. Surfaktan dibentuk relative terlambat pada kehidupan fetus. Jadi bayi
premature lahir tanpa jumlah yang adekuat akan mengalami distress pernafasan dan mungkin
kematian.
Surfaktan Endogen, secara normal diproduksi oleh sel epitel alveoli tipe II di paru-paru
yang secara langsung bertanggung jawab sebagai pencegahan atau mengurangi kolaps alveoli
karena proses produksi surfaktan sel terlambat pada kehidupan janin ( dari minggu ke 22 24
1

sampai minggu gestasi ke 32 ), bayi premature mempunyai resiko defisiensi surfaktan. Defisiensi
surfaktan mengakibatkan berkembangnya RDS, yang juga dikenal sebagai Hyaline Membrane
Disease (HMD).
JENIS-JENIS SURFAKTAN
Surfaktan paru adalah kombinasi lipid yang kompleks dan apoprotein spesifik, 80%
fosfolipid, 8% lipid netral dan 10-12% protein. Komponen fosfolipid terdiri dari 60%
fosfatidilkolin saturasi (PC), 20% PC yang tidak tersaturasi dan fosfolipid anionic, fosfatidil
glycerol (PG) dan fosfatidilinosotol. Komponen aktif utama adalah Dipalmityl Fosfotidilkolin
(DPPC) yang mengurangi tekanan permukaan dan mempertahankan kestabilan alveolar, antara
hewan dan surfaktan buatan yang tersedia di pasaran. Dulu, surfaktan diambil dari paru sapid an
porcine yang terdiri dari protein surfaktan B & C. ini lebih efektif daripada surfaktan buatan
yang kekurangan protein surfaktan ini. The Canadian Pediatrics Society menyarankan
penggunaan surfaktan alami sebagai pilihan dibanding surfaktan sintetis yang tersedia.
FARMAKOKINETIK SURFAKTAN
Bayi dengan RDS mempunyai kelompok surfaktan dalam 5 mg/ kgBB. Dimana pada
binatang baru lahir terdapat 100mg/KgBB. Dosis biasa 100mg/KgBB kurang lebih sejumlah
surfaktan di udara bebas pada masa binatang baru lahir. Bagaimanapun, banyak surfaktan secara
cepat menyatu dengan paru dan tidak dapat ditemukan pad cairan alveolar atau sputum.
INDIKASI PENGGUNAAN SURFAKTAN
Derajat defisiensi surfaktan neonatus, terutama HMD pada bayi prmatur memerlukan
pengobatan dengan surfaktan. Surfaktan juga digunakan pada luka, pada paru-paru neonatus
yang tidak berhubungan dengan prematuritas seperti Hernia Diafragmatika Kongenital ( sebelum
dan sesudah operasi ) dan Sindrom Aspirasi Mekonium. Indikasi lain yang memerlukan terapi
surfaktan : luka di paru pada neonatus, bayi dan anak ( Sindrom Inhalasi, pneumonia bakterialis,
bronkiolitis ) dan Adult Respiratory Distress Syndrome ( ARDS ) yang termasuk sepsis, trauma,
kegagalan nafas hipoksia, onkohematologis pada kasus-kasus anak-anak dan remaja.
RESIKO TERAPI SURFAKTAN EKSOGEN
Resiko jangka panjang dari terapi pengganti surfaktan, contohnya bradikardia,
hipoksemia, dan meningkatnya perdarahan paru-paru. Bradikardia, hipoksemia dan hambatan
2

pada endotrakeal tube mungkin muncul selama pemasukan surfaktan. Hal ini juga merupakan
resiko meningkatkan perdarahan paru-paru selama terapi surfaktan. Bagaimanapun, kematian
dianggap dari perdarahan pulmonal yang tidak meningkat dan secara keseluruhan kematian
menurun setelah pemberian surfaktan. Relative Risk / RR untuk perdarahan pulmonal yang
mengikuti pemberian surfaktan telah dilaporkan kurang lebih 1,47 ( 95% CI 1,05-2,07 ) dalam
percobaan tapi sayangnya, banyak RCTs (sample) pada pemberian surfaktan tidak dilaporkan
hasilnya, juga tidak ada data dari studi autopsy yang secara jelas ditetapkan besarnya. ( bukti
level Ia )
Sampai saat ini tidak ada bukti pertukaran imunologis yang mungkin mempengaruhi
masalah klinis. Bayi dengan RDS dapat dideteksi sirkulasi imun kompleknya secara langsung
terhadap protein surfaktan, tapi ini tidak muncul pada bayi yang tidak diberi surfaktan.
WAKTU PEMBERIAN SURFAKTAN
Pada awalnya, surfaktan diberikan pada 6-24 jam setelah bayi lahir dimana diagnosis
RDS berat sudah dapat ditegakan secara akurat. Pada nyatanya terapi di ruangan dianggap akan
sangat bermanfaat bila diberikan sebelum bayi bernafas atau menerima PPV, hal ini berdasarkan
percobaan pada binatang yang premature yang menunjukkan kerusakkan epitel saluran nafas
dengan minimal ventilasi pada paru dengan defisiensi surfaktan. Kedua, strategi pengobatan
telah diabndingkan dengan tiga percobaan bebas dengan menggunakan surfaktan yang lain.
Efisiensi dari dua stratesi tersebut serupa dengan satu percobaan termasuk 55 bayi dimana
mendapat terapi di ruangan dan 50 bayi yang diterapi pada saat berumur 3,7 jam. Pengobatan
ulang harus dipertmbangkan, dan dapat diberikan secepatnya setelah 2 jam pemberian dosis awal
atau biasanya 4-6 jam setelah dosis awal.
IMPLIKASI KLINIS
a. Efek pada peredaran darah
Sejumlah investigasi menunjukkan efek terapi surfaktan terhadap jantung. Diharapkan
surfaktan akan meningkatkan compliance paru sehingga akan menurunkan resistensi vascular
paru dan meningkatkan aliran darah paru. Observasi pada pasien PDA yang diberikan surfaktan
dilakukan berhubungan dengan adanya penurunan resistensi vascular paru. Walaupun dinyatakan
adanya penurunan resistensi vascular paru dan peningkatan PAP dan peningkatan aliran darah
paru dan perkembangan PDA, ada penurunan insiden PDA dengan managemen yang lebih baik.
Peningkatan insiden PDA setelah pemberian surfaktan telah banyak dilaporkan metaanalisis dari
3

28 studi pada 6117 bayi menunjukkan tidak ada kenaikan umum pada PDA setelah
pengobatannya.
b. Sirkulasi Otak
Walaupun beberapa pengarang melaporkan adanya penurunan volume aliran darah otak,
tapi ada juga yang menyatakan peningkatan volume aliran darah otak. Bagaimanapun juga tidak
ada perubahan yang signifikan terjadi setelah pemberian surfaktan. Pemberian surfaktan
menurunkan tekanan rat-rata pembuluh darah arteri dengan cara menginduksi vasodilatasi
pembuluh darah. Vasodilatasi dihambat oleh NO sintetase oleh LNAME dengan MABP
Curosourf dan Cardiac Output ventrikel kiri meningkat sampai 29%, studi yang lain tidak
menunjukkan hasil yang konsisten.
c. Fungsi paru-paru
Fungsi paru pada bayi yang diterapi dengan surfaktan telah dipelajari.compliance paru
meningkat 24 jam setelah terapi. FRC meningkat 12 jam setelah terapi. Oxigenisasi yang
meningkat tidak diikuti dengan compliance yang meningkat. Kenaikan yang langsung itu
mungkin berhubungan dengan ratio perfusi ventilasi yang meningkat.
d. Fungsi Ginjal
Waktu timbulnya diuresis spontan telah diamati pada 19 bayi dengan HMD, dengan
metode acak., 12 bayi yang diberi surfaktan dan 7 sebagai control cairan output yang intakenya
>80%. GFR pada bayi yang diberi surfaktan serupa dengan GFR bayi control. Selama 3 hari
pertama lahir. Pernapasan segera membaik setelah di beri surfaktan, namun tidak berhubungan
dengan diuresis.
RESPON TERAPI
Perbaikan dalam oxigenasi ditemukan setelah diberi surfaktan. Beberapa mungkin
berespon buruk dikarenakan asidosis karena hypoxia berat atau kegagalan myocardium. Pada
persentase yang kecil, respon buruk mungkin dikarenakan adanya PDA bayi dengan penyakit
jantung sianosis congenital akan tidak memberi respon terhadap surfaktan. Respon awal yang
baik dapat berubah jadi buruk dikarenakan ketidaksesuaian management pernapasan setelah
pemberian surfaktan (contoh : tidak mengubahu tekanan puncak dengan perkembangan
berikutnya dari pneumothoraks).

PERAN SURFAKTAN PADA PERTAHANAN TUBUH


Protein A dan D merupakan factor yang penting pada pertahanan paru-paru. Protein A
surfaktan terjepit dan opsonizes bakteri termasuk streptokokus grup B, Pseudomonas, dan
pneumokokus. Herpes dan virus influenza melekat pada protein A surfaktan dan mengikat
lipoprotein sintentis endotoksin. Bila terjadi defisiensi SPA akan mudah terserang oleh infeksi
Streptokokus Grup B. konsentrasi SPA rendah pada bayi prematurr. Juga pada infeksi oleh RSV,
bakteri, LPS dan TNFX. SPA juga mengaktifkan makrofag dan PMn, mempertinggi kerusakan
ynag disebabkan oleh bakteri. Protein D surfaktan disintesi oleh bronkiolar, trakea-bronkial, dan
sel epitel alveolar. Protein D surfaktan mengikat E.Coli, Salmonella, Klebsiela meningkatkan
pengambilan dan penghancuran oleh bakteri. Dan juga mengaglutinasi virus dan diikat dengan
LPS. Konsentrasi di bronkialveolar rendah pada premature. Jadi surfaktan yang natural sangat
diperlukan untuk kelangsungan hidup bayi prematur.
ADMINISTRASI DARI SURFAKTAN
Beberapa point harus dipertimbangkan sebelum surfaktan, seperti administrasinya.
Pemasangan secara langsung efisiensinya lebih sedikit dan dapat mengakibatkan kehilangan
surfaktan melalui pipa endotrakeal. Penyaluran surfaktan yang paling sering dengan
menggunakan nebulizer selama periode singkat dari ventilasi manual (1-2 menit) dengan
physiotherapy pernapasan. Di Indonesia, sirfaktan seperti itu tidak tersedia. Pemberian surfaktan
dibagi dalam 2-4 dosis untuk mencegah pertukaran gas yang dini dan vagal refleks yang tidak
didinginkan. Jalan napas tidak boleh disedot selama 1 jam pertama setelah pemberian surfaktan.
Beberapa penelitian telah membuktikan keuntungan dan pemakaian dan PEEP dalam
meningkatkan dan menyokong efek terapeutik dari surfaktan . menggunakan pipa yang
konvensional sudah dianjurkan dalamm pemasangan surfaktan secara selektif di bronkus, dimana
bronkus itu yang satu-satunya dilihat melaui bronkoskopi. Keuntungan yang didapat dari metode
ini adalah mengirimkan dosis yang besar ke bagian distal dari paru dan mengurangi dosis yang
dipasang.
TERAPI PEMBERIAN SURFAKTAN
Laporan pertama tentang perkembangan bayi dengan HMD ysng berat, diikuti dengan
memasng surfaktan telah memberi hasil yan memuaskan. Di Chernick Fujiwara melaporkan
bahwa penempelan cairan cairan surfaktan di trakea bayi HMD yang dihasilkan dari paru lembu
dan dimodifikasi dengan mengeluarkan protein dalam jumlahya banyak. Orang inggris telah
5

menggunakan bubuk kering yang terdiri dari dipalmitol lesitin dan diacylophosphotidylgliserol.
Dengan metode ini dapat membuktikan bahwa ada kemajuan pada terapi pada bayi yang
menderita HMD dimana paru-parunya belum matang selama di dalam kandungan. Secara pasti
diperkirakan pemberian surfaktan dapat mengganti terapi dengan nafas buatan dan diperkirakan
akan menjadi pilihan terapi pada masa mendatang, dengan demikian komplikasi yang serius
seperti nafas panjang pada bayi kecil tersebut dapat dihindari.
Horbar memerlukan studi di NICU dengan melibatkan 114 unit yang mengobati 6039
bayi dengan masa kehamilan selama 23-29 minggu yang lahir tahun 2001. hasil dari studi ini
mengatakan bayi yang dirawat di RS lebih banyak yang mendapatkan surfaktan di ruangan, lebih
sedikit yang menerima surfaktan pertama kali daripada 2 jam setelah kelahiran dan menerima
dosis awal setelah bayi lahir. Efek intervensi pada waktu pemberian surfaktan lebih besar untuk
bayi yang lahir di RS daripada bayi yang dikirim ke RS setelah lahir. Tidak ada perbedaan dalam
angka kematian / pneumothorax. Kesimpulan dari studi ini adalah meliputi pemeriksaan dan
umpan balik. Fakta-fakta yang dilaporkan yang merubah perilaku kesehatan dan meningkatkan
bukti-bukti yang mendasari penelitian tersebut.
Parang,dkk dalam penelitiannya terhadap 207 bayi dengan HMD yang memerlukan
bantuan ventilasi di ruangan NICU. Hasilnya 88 bayi menerima surfaktan. Diantara mereka yang
menerima surfaktan, 65% menerima satu dosis, 25% menerima dua dosis dan 10% yang
menerima tiga dosis. Bayi yang mempunyai karakteristik yang berbeda dengan sectiosesaria,
lebih signifikan dari golongan surfaktan. Kesimpulan dari studi mengungkapkan bahwa
surfaktan yang digunakan dapat meningkatkan survival dan mengurangi angka kematian bayi
dengan HMD yang memerlukan bantuan ventilasi. Yang maksimum dilihat adalah diantara bayi
dengan umur 28-33 minggu kehamilan dan berat lahir 1000-1249 gram. Dosid tunggal surfaktan
pada kelahiran dengan tekanan positif pada trayek udara berkelanjutan ( CPAP ) secara signifikan
dapat mengurangi kebutuhan akan ventilasi buatan. Karenanya mungkin saja alat pencegah perlu
dipertimbangkan pada terapi surfaktan dengan bayi resiko tinggi antara 28-32 minggu gestasi
dan 6uel III di suatu Negara
PREPARAT SURFAKTAN
Preparat surfaktan yang exogenous yang tersedia sekarang ini adalah natural bovine lung
ekstrak, surfaktan yang diperoleh dari lavage paru-paru anak sapi, ekstrak parane lung surfaktan
dan preparat sintetik.
6

Administrasi dari surfaktan yang exogenous perlu dipertimbangkan terapi profilaksis dari
bayi premature yang berhadapan dengan resiko pengembangan RDS. Perlu dipertimbangkan
pada gestasi kurang dari 32 minggu dan atau berat lahir kurang dari 12,5kg
Awal administrasi dapat digunakan untuk meminimalisasikan kelainan pada paru, yang
dimana lebih membuka ventilasi surfaktan. Pemanasan surfaktan exogenous di dalam paru yang
dimana lebih membuka ventilasi surfaktan. Pemanasan surfaktan exogenous di dalam paru dapat
mengakibatkan absorbsi cairan paru bayi sehingga distribusi dapat ditingkatkan.
PEMAKAIAN SURFAKTAN
Metode yang paling umum digunakan dalam penggunaan surfaktan yang exogenous
adalah pemakaian langsung ke dalam endotracheal tube. Metode ini menyebabkan penyebaran
material yang lebih cepat, sehingga dapat didistribusikan merata pada paru-paru bagian perifer.
Metode lain yang sedang diteliti adalah aerosolisasi surfaktan yang dikombinasikan dengan
jetventilasi dan ventilasi cairan partial. Keterangan umum dari dosis berbagai surfaktan dapat
dilihat pada tabel 1.
PERCOBAAN KLINIK
Penyelidikan dari berbagai preparat surfaktan paru yang exogenous yang tersedia
menunjukkan perbedaan dalam peningkatan pertukaran gas dan berbagai variable paru lainnya.
Bagaimanapun mereka sudah gagal untuk menunjukkan secara statistic pengurangan yang
signifikan dari angka kematian bayi atau meningkatkan survival tanpa bronchopulmonary
displasia ( BPD ). Tampak beberapa surfaktan alami yang tersedia mungkin lebih manjur
dibandingkan preparat sintetik pada bayi premature adalah penting untuk mencatat perbedaan
yang ada pada surfaktan alami. Oleh karena itu karakteristik dari tiap individu harus
dipertimbangkan.
Tabel 1. dosis rekomendasi untuk exogenous surfaktan yang digunakan
Produk
Calfactant
Beractant
Coflosceril
Porcino

Dosis
3ml/kgBB lahir diberikan dalam dua
aquadest
4 ml/kgBB lahir diberikan dalam 4 dosis
5ml/kgBB lahir diberikan setelah periode 4
menit
2,5ml/KgBB diberikan dalam dua aquadest

Dosis Tambahan
Diulangi tiap 12 jam sampai 3 dosis dengan
interval 12 jam dengan indikasi
Diulangi setelah sedikitnya 6 jam, sampai 4
dosis dalam 48 jam kelahiran
Diulangi setelah 12 dari 24 jam atas indikasi
Dua yang berikutnya 1,25ml/KgBB dosis
diberikan interval 12 jam atas indikasi

TERAPI SURFAKTAN DI NEGARA BERKEMBANG


Walaupun masih mahal, penggunaan dan avaibilitas surfaktan telah meningkat secara
global, juga mencakup Indonesia. Sesungguhnya ada dibina dimana sejak beberapa Negara
Negara masih menghadapi pelayanan kesehatan yang menjadi permasalahan utama pada sisi lain,
ada suatu permintaan dan kebutuhan dari segmen atau tingkatan tertentu yang menyangkut
populasi yang mana memerlukan perawatan surfaktan. Beberapa factor harus berkaitan dalam
penggunaan surfaktan di Negara berkembang.
Biaya pemakaian surfaktan yang masih tinggi dan variable (800-1000 dolar/vial) dimana
hal itu masih tinggi untuk Negara berkembang. Ini tentu saja dua kali pendapatan per kapita
Negara India 350 dolar/tahun. Paling sedikit adalah hemat biaya. Beberapa aspek telah belajar
dengan baik di Negara-negara, berkaitan dengan suatu pengembangan kebijakan untuk
penggunaan yang bersifat membatasi dan selektif untuk diusulkan. Dengan cara yang sama,
Negara berkembang lain perlu menggembangkan strategi seperti itu. Dimana secara berurutan
industri farmasi perlu membuat suatu usaha yang dapat menghasilkan surfaktan dengan biaya
yang rendah. Di Indonesia, harga surfaktan adalah sekitar 40 juta rupiah adalah setara dengan 3740 dolar per vial dan tidak ada produk local yang tersedia.
Penggunaan surfaktan mensyaratkan availabilitas dari personil yang terlatih, untuk
mengatur ventilasi neonatal dan fasilitas untuk perawatan intensif total. Ini adalah suatu syarat
utama. Untuk menetapkan suatu de nova, suatu tempat tidur NICU berharga 50.000 dollar untuk
peralatan sendiri. Ruangan pemanfaatan dan availabilitas personal (perawat, bagian teknik) akan
semakin mempertinggi biaya.
Pada Negara-negara berkembang per hari, ongkos operasi seperti itu melebihi 1500
dolar/tempat tidur NICU, teknologi tinggi adalah suatu hal yang sangat mahal. Orang harus sadar
secara penuh akan analisa biaya seperti itu, sebelum memperkenalkan NICU di rumah sakit.
Alternative yang terbaik adalah mengembangkan strategi pencegahan (meningkatkan kepedulian
akan perawatan prenatal, steroid antenatal) dan pengembangan suatu system regional untuk
menyatukan sumber daya dan menggembangkan kebijakan untuk perawatan. Di samping
manfaat yang ada dari terapi surfaktan, ada juga kesulitan untuk meningkatkannya. Komplikasikomplikasi ini dihubungkan dengan kekurangan keahlian atau kapabilitas untuk mengurangi
infeksi / menggembangkan dukungan nutrisi pada bayi berat badan lahir rendah yang bertahan
pada periode yang lebih lama setelah terapi surfaktan saja tanpa penanganan penunjang yang
tepat akan meningkatkan masalah penyakit dan membuktikan mengurangi biaya efektif.
8

Pada beberapa observasi, satu bayi mungkin disadari menangani bayi dengan surfaktan
daripada dengan aerosol (yang masih perlu intubasi) atau menggunakan intubasi single untuk
instilasi yang diikuti dengan NCPAP. Berdasarkan penelitian terapi aerosol sedang berkembang
tapi belum tersedia untuk penggunaan klinis. Intubasi single untuk terapi surfaktan diikuti CPAP
telah dilaporkan pada beberapa penyelidik. Penggunaan terbatas terutama pada bayi yang besar.
Perlunya perawatan khusus untuk bayi harus disadari dengan jelas.
REKOMENDASI DARI PERKUMPULAN ANAK KANADA
Rekomendasi-rekomendasi dari
berkembang;

Canadian Pediatric Society (tabel 2) dari negara

bagaimanapun sangat penting untuk disadari bahwa terapi surfaktan sebagai

rekomendasi umumdan universal termasuk di Indonesia. Penelitian lebih lanjut pada criteria
penanganan ulang dan waktu yang cepat untuk terapi profilaktik diperlukan.
Tabel 2. Berdasarkan fakta mengenai tingkatan rekomendasi menurut Canadian Pediatric Society

Rekomendasi
Ibu dengan resiko melahirkan bayi dengan kehamilan < 34 minggu harus diberi

Derajat
A

antenatal steroid.

Ibu yang terancam melahirkan sebelum kehamilan 32 minggu harus

dipindahkan ke RS jika memungkinkan.

Terapi surfaktan eksogen harus diberikan pada :


o

Bayi intubasi dengan RDS.

Bayi intubasi dengan sindrom aspirasi mekonium memerlukan > 50% O 2.

Bayi baru lahir sakit dengan pneumonia dan index O2 > 15.

Bayi baru lahir yang diintubasi dengan perdarahan pada paru-paru yang
menimbulkan klinis yang memburuk.

Bayi yang diintubasi dengan RDS sebelum lahir.

Bayi yang lahir dengan masa kehamilan < 29 minggu di luar RS harus

C
C
C
A

disadari untuk diintubasi secepatnya diikuti dengan pemberian surfaktan


setelah distabilkan, jika perawatan yang kompeten tersedia.

Surfaktan alami harus digunakan pada :

Pilihan surfaktan buatan tersedia pada ssat pernyataan ini dipublikasikan.

Bayi yang beresiko RDS harus menerima surfaktan sesegera mungkin saat

kondisi stabil dalam beberapa menit setelah diintubasi.

Dosis ulang atau terapi ulang harus diberikan pada :

Bayi dengan RDS yang membutuhkan O2 berkepanjangan atau berulang dan


ventilator dalam 72 jam pertama. Pemberian > 3 dosis tidak menunjukkan
manfaat.

Bayi dengan kebutuhan O2 > 30% yang berkepanjangan atau berulang dan
dapat diberikan dini 2 jam setelah dosis awal atau lebih umum pada 4-6 jam
setelah dosis awal.

Pemilihan pemasangan ventilator dipertimbangkan setelah terapi profilaktik


surfaktan termasuk penghentian secara cepat dan extubasi CPAP dalam 1 jam.

Pemberian surfaktan pada bayi baru lahir harus dipastikan kelangsungan

persediaannya untuk menghadapi komplikasi akut yang menyertai ventilasi dan


terapi surfaktan.

Grade A

: Consistent level 1 studies

Grade B

: Consistent level 2 / 3 studies

Grade C

: Level 4 studies

Grade D

: Level 5 keterangan / masalah inkonsisten / studi tidak menyakinkan pada


beberapa level

KESIMPULAN
Sejak pelayanan neonatus level 3 atau NICU sedang dikembangakan pada beberapa
tempat atau RS sekitar kota, oleh karena itu pengetahuan dan keahlian tentang surfaktan harus
dilatih untuk meningkatkan kualitas pekerja. Data mengenai penggunaan surfaktan di rumah
sakit-rumah sakit di Indonesia bervariasi dari tidak pernah, sangat jarang, jarang dan sering datadata sejenis belum direpresentasikan.

10