Anda di halaman 1dari 17

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

SISTEM CARDIOVASCULER
KASUS ARITMIA
Dosen Pembimbing:
Elfi Q, Ns. M.Kep

Disusun Oleh :
David Rinaldi
2012.49.?????/10
Tk.3A

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA HUSADA KEDIRI


TAHUN AJARAN 2013- 2014
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh .

Alhamdulilahhirabbialamin. Segala puji bagi allah yang telah menolong kami


Menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan .
Makalah ini disusun agar pembaca dapat membaca dan memperluas ilmu tentang
KEPERAWATAN GAWAT DARURAT khususnya SISTEM KARDIOVASKULER , yang
kami sajikan berdasarkan dari berbagai sumber .
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik
dan saran yang bersifat membangun sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah
ini dimasa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para mahasiswa
khususnya dan masyarakat pada umumnya, dan semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai
bahan untuk menambah pengetahuan para mahasiswa masyarakat dan pembaca.

Kediri,

September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar......................................................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................................1
1.3 Tujuan........................................................................................................................1
BAB II : TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi......................................................................................................................2
2.2 Etiologi......................................................................................................................2
2.3 Patofisiologi...............................................................................................................3
2.4 Manifestasi Klinis......................................................................................................4
2.5Pemeriksaan Penunjang..............................................................................................4
2.6 Penatalaksanaan Medis..............................................................................................5
2.7 Asuhan Keperawatan Gawat Darurat........................................................................6
BAB III : PENUTUP
1.1 Kesimpulan............................................................................................................14
1.2 Saran.......................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................15

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Masalah kesehatan yang berpengaruh terhadap sistem kardiovaskuler yang
menuntut asuhan keperawatan dapat dialami oleh orang pada berbagai tingkat usia.
Sistem kardiovaskuler mencakup jantung, sirkulasi atau peredaran darah dan
keadaan darah, yang merupakan bagian tubuh yang sangat penting karena merupakan
pengaturan yang menyalurkan O2 serta nutrisi ke seluruh tubuh. Bila salah satu organ
tersebut mengalami gangguan terutama jantung, maka akan mengganggu semua
sistem tubuh.
Disritmia merupakan salah satu gangguan dari sistem kardiovaskuler.
Disritmia adalah tidak teraturnya irama jantung. Disritmia disebabkan karena
terganggunya mekanisme pembentukan impuls dan konduksi. Hal ini termasuk
terganggunya sistem saraf. Perubahan ditandai dengan denyut atau irama yang
merupakan retensi dalam pengobatan. Sebab cardiac output dan miokardiac
contractility.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah definisi dari Aritmia?
2. Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya Aritmia?
3. Bagaimana asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada pasien dengan Aritmia?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui definisi dari Aritmia.
2. Untuk mengetahui factor penyebab terjadinya Aritmia.
3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada pasien dengan
Aritmia.

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1DEFINISI
Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada
infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama
jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges,
1999).
Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi selsel miokardium. Perubahan
elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman
grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994).
Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi
juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi, 1996).

2.2

ETIOLOGI

a. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis


karena infeksi).
b. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner),
misalnya iskemia miokard, infark miokard.
c. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia
lainnya.
d. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia).
e. Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi kerja dan
f.
g.
h.
i.
j.

irama jantung.
Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat.
Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis).
Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme).
Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung.
Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem konduksi
jantung).

2.3

PATOFISIOLOGI

Apabila terjadi perubahan tonus susunan saraf pusat otonom atau karena suatu
1.

penyakit di Nodus SA sendiri maka dapat terjadi aritmia


Trigger automatisasi
Dasar mekanisme trigger automatisasi ialah adanya early dan delayed afterdepolarisation yaitu suatu voltase kecil yang timbul sesudah sebuah potensial aksi, Apabila
suatu ketika terjadi peningkatan tonus simpatis misalnya pada gagal jantung atau terjadi
penghambatan aktivitas sodium-potassium-ATP-ase misalnya pada penggunaan digitalis,
hipokalemia atau hipomagnesemia atau terjadi reperfusi jaringan miokard yang iskemik
misalnya pada pemberian trombolitik maka keadaan-keadaan tersebut akan mnegubah voltase
kecil ini mencapai nilai ambang potensial sehingga terbentuk sebuah potensial aksi prematur
yang dinamakan trigger impuls Trigger impuls yang pertama dapat mencetuskan sebuah
trigger impuls yang kedua kemudian yang ketiga dan seterusnya samapai terjadi suatu

2.

iramam takikardai.
Gangguan konduksi
a.
re-entry
Bilamana konduksi di dalah satu jalur tergaggu sebagai akibat iskemia
atau masa refrakter, maka gelombang depolarisasi yang berjalan pada jalur
tersebut akan berhenti, sedangkan gelombang pada jalur B tetap berjalan seperti
semula bahkan dapat berjalan secara retrograd masuk dan terhalang di jalur A.
Apabila beberapa saat kemudian terjadi penyembuhan pada jalur A atau masa
refrakter sudah lewat maka gelombang depolarisasi dari jalur B akan menembus
rintangan jalur A dan kembali mengaktifkan jalur B sehingga terbentuk sebuah
gerakan sirkuler atau reentri loop. Gelombang depolarisasi yang berjalan
melingkar ini bertindak sebagai generator yang secara terus-menerus mencetuskan
impuls. Reentri loop ini dapat berupa lingkaran besar melalui jalur tambahan yang
disebut macroentrant atau microentrant.
b.
Concealed conduction (konduksi yang tersembunyi)
Impuls-impuls kecil pada jantung kadang-kadang dapat menghambat dan
menganggu konduksi impuls utama. Keadaan ini disebut concealed conduction.
Contoh concealed conduction ini ialah pada fibrilasi atrium, pada ekstrasistol
ventrikel yang dikonduksi secara retrograd. Biasanya gangguan konduksi jantung
c.

ini tidak memiliki arti klinis yang penting.


Blok
Blok dapat terjadi di berbagai tempat pada sistem konduksi sehingga dapat dibagi
menjadi blok SA (apabila hambatan konduksi pada perinodal zpne di nodus SA);
blok AV (jika hambatan konduksi terjadi di jalur antara nodus SA sampai berkas

His); blok cabang berkas (bundle branch block=BBB) yang dapat terjadi di right
bundle branch block atau left bundle branch block.

2.4

MANIFESTASI KLINIS
1. Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi;
bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis,
berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
2. Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan
pupil.
3. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina,
gelisah.
4. Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas
tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan
seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik
pulmonal; hemoptisis.
5. Demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis
siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan.

2.5

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. EKG : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan
tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.
2. Monitor Holter : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan
dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktif (di rumah/kerja).
Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.
3. Foto dada : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung sehubungan dengan
disfungsi ventrikel atau katup .
4. Skan pencitraan miokardia : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang
dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan
kemampuan pompa.
5. Tes stres latihan : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang
menyebabkan disritmia.
6. Elektrolit : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat
mnenyebabkan disritmia.
7. Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan
atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.

8. Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat


menyebabkan.meningkatkan disritmia.
9. Laju sedimentasi : Penignggian dapat menunukkan proses inflamasi akut contoh
endokarditis sebagai faktor pencetus disritmia.
10. GDA/nadi oksimetri : Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.

2.5
1.

PENATALAKSANAAN MEDIS

Terapi medis Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :


a.
Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker
1)
Kelas 1 A
a)
Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk
b)

mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.


Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang

menyertai anestesi.
c)
Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang
2)
Kelas 1 B
a)
Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel

3)
4)

takikardia.
Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT
Kelas 1 C Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi
Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade) Atenolol, Metoprolol,

5)

Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi.


Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation) Amiodarone, indikasi VT, SVT

6)

berulan
Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker) Verapamil, indikasi

b)

b.

supraventrikular aritmia.
Terapi mekanis
1)
Kardioversi : mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan
disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur
2)

elektif.
Defibrilasi : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat

3)

darurat.
Defibrilator kardioverter implantabel : suatu alat untuk mendeteksi dan
mengakhiri episode takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada

4)

pasien yang resiko mengalami fibrilasi ventrikel.


Terapi pacemaker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik
berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung.

2.6

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN


5

A. PENGKAJIAN
a.
Pengkajian primer :
Airway
- Apakah ada peningkatan sekret ?
- Adakah suara nafas : krekels ?
Breathing
- Adakah distress pernafasan ?
- Adakah hipoksemia berat ?
- Adakah retraksi otot interkosta, dispnea, sesak nafas ?
- Apakah ada bunyi whezing ?
Circulation
- Bagaimanakan perubahan tingkat kesadaran ?
- Apakah ada takikardi ?
- Apakah ada takipnoe ?
- Apakah haluaran urin menurun ?
- Apakah terjadi penurunan TD ?
- Bagaimana kapilery refill ?
- Apakah ada sianosis ?
b.

Pengkajian sekunder

1)
Riwayat penyakit
Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi.
Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung,

hipertensi.
Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk

terjadinya intoksikasi.
Kondisi psikososial
2)
Pengkajian fisik
Aktivitas : kelelahan umum
Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur;
defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit
warna dan kelembaban berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran

urin menruun bila curah jantung menurun berat.


Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah,

gelisah, menangis.
Makanan/cairan : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan,

mual muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit


Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi,

perubahan pupil.
Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak

dengan obat antiangina, gelisah


Pernafasan : penyakit paru

kronis,

nafas

pendek,

batuk,

perubahan

kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi)

mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri
-

(edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.


Keamanan : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema
(trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi
elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.
2. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan.
3. Risiko terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan inadekuat suplay
oksigen ke jaringan.
4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan/kelelahan.
5. Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan
dengan kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi
elektrikal, penurunan kontraktilitas miokardia.
Kriteria hasil :
Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh
TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status
mental biasa.
Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.
Intervensi :
1. Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi, keteraturan, amplitudo
dan simetris.
R/ : Perbedaan frekuensi, kesamaan dan keteraturan nadi menunjukkan efek
gangguan curah jantung pada sirkulasi sistemik/perifer.
2. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung

ekstra, penurunan nadi.


R/ : Disritmia khusus lebih jelas terdeteksi dengan pendengaran dari pada dengan
palpasi. Pendengaran terhadap bunyi jantung ekstra atau penurunan nadi

membantu mengidentifikasidisritmia pada pasien tak terpantau.


3. Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi jaringan.
R/ : Meskipun tidak semua aritmia/disritmia mengancam hidup, penanganan tepat
untuk mengakhiri aritmia/disritmia diperlukan pada adanya gangguan curah
jantung dan perfusi jaringan.
4. Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial;
disritmia ventrikel; blok jantung.
R/ : Berguna dalam menentukan kebutuhan /tipe intervensi.
5. Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama fase
akut.
8

R/ : Penurunan rangsang dan penghilangan stress akibat katekolamin yang


menyebabkan / meningkatkan disritmia dan vasokontriksi dan meningkatkn kerja

miokardia.
6. Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi

nafas dalam, bimbingan imajinasi.


R/ : Meningkatkan partisipasi klien dalam mengeluarkan beberapa rasa control

dalam situasi penuh stress.


7. Selidiki laporan nyeri, catat

lokasi,

lamanya,

intensitas

dan

faktor

penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut,

menangis, perubahan TD.


R/: Sebab nyeri dada bermacam-macam dan tergantung penyebab disritmia.
Namun, nyeri dada dapat menunjukkan iskemia karena penurunan perfusi

miokardia
8. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi.
R/ : Terjadinya disritmia yang mengancam hidup memerlukan upaya intervensi
untuk mencegah kerusakan iskemia.
9. Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit.
R/: Ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium, magnesium dan kalsium, secra
merugikan mempengaruhi irama dan kontraktilitas jantung.
10. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
R/ : Meningkatkan jumlah sediaan oksigen untuk miokard, yan menurunkan
iritabilitas yang disebabkan oleh hipoksia.
11. Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmia.
R/: Disritmia umumnya diobati secra simtomatik, kecuali untuk ventrikel
premature, diman dapat diobati secara proliferatik pada IM akut.
12. Siapkan untuk bantu kardioversi elektif.
R/: Dapat digunakan pada fibriasi atrial atau disritmia tidak stabil untuk
menyimpan frekuensi jantung normal/menghilangkan gagal jantung normal.
13. Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung.
R/: Pacu sementara mungkin perlu untuk meningkatkan pembentukan impuls dan
maenghambat takidisritmia.
14. Masukkan/pertahankan masukan IV.
R/ : jalan masuk paten diperlukan untuk pemberian oba darurat.
15. Siapkan untuk prosedur diagnostik invasive.
R/ : Diagnosa banding berdasarkan penyebab mungkin diperlukan untuk
membuat rencana pengobatan yang tepat.
16. Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrillator.
R/ : Alat ini melalui pembedahan ditanam pada pasien dengan disritmia berulang
yang mengancam hidup meskipun diberi obat terapi secara hati-hati.

2. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan


Kriteria hasil :
Laporkan mulai berkurangnya nyeri dengan segera
Tampak nyaman dan bebas nyeri
Intervensi
1. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan factor pemberat dan penurun.
Perhatikan petunjuk nonverbal ketidak nyamanan.
R/ : Nyeri secara khas terletak subternal dan dapat menyebar keleher dan
punggung. Namun ini berbeda dari iskemia infark miokard. Pada nyeri ini dapat
memburuk pada inspirasi dalam, gerakan atau berbaring dan hilang dengan duduk
tegak/membungkuk.
2. Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan mis: perubahan
posisi, masasage punggung,kompres hangat dingin, dukungan emosional.
R/ : untuk menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional pasien.
3. Berikan aktivitas hiburan yang tepat.
R/: mengarahkan perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas
individu.
4. Berikan obat-obatan sesuai indikasi nyeri.
R/ : untuk menghilangkan nyeri dan respon inflamasi.
3. Risiko terhadap perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan inadekuat suplay
oksigen ke jaringan.
Kriteria Hasil

Resiko tidak terjadi

Intervensi
1. Selidiki nyeri dada,dispnea tiba-tiba yang disertai dengan takipnea, nyeri
pleuritik,sianosis pucat.
R/ : Emboli arteri. Mempengaruhi jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit
katup dan disritmia kronis.
2. Observasi ekstremitas terhadap edema, eroitema.
R/ : Ketidakaktifan/tirah baring lama mencetuskan stasis vena, meningkatkan
3.

4.

resiko pembentukan trombosis vena.


Observasi hematuri.
R/ : Menandakan emboli ginjal
Perhatikan nyeri abdomen kiri atas.
R/: menandakan emboli splenik

10

4. Intolerans aktivitas berhubungan dengan kelemahan/kelelahan


Kriteria Hasil

Dapat memenuhi aktivitas

Intervensi
1.

2.

Kaji respon pasien terhadap aktivitas.


R/ : Dapat mempengaruhi aktivitas curah jantung.
Pantau frekuensi jantung,TD, pernapasan setelah aktivitas.
R/: Membantu menentukan derajat kompensasi jantung dan pulmonal, penurunan
TD, takikardi,disritmia dan takipneu adalah indikatif dari kerusakan toleransi

terhadap aktivitas.
3. Pertahankan tirah baring selama periode demam dan sesuai indikasi.
R /: Meningkatkan resolusi inflamasi selama faseakut dari perikarditis/
endokarditis.
4. Bantu pasien dalam program latihan aktivitas.
R/: Saat inflamasi/ kondisi dasar teratasi, pasien mungkin mampu melakukan
aktivitas yang diinginkan.
5.

Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan


dengan kurang informasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.
Kriteria hasil :
Menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan.
Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek samping obat.
Melakukan prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan.
Menghubungkan tanda pacu jantung
Intervensi :
1. Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal.
R/: Memberikan dasar pengetahuan untuk memahami variasi individual dan
memahami alasan intervensi teraupetik.
2. Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada

pasien/keluarga.
R/: Informasi terus-menerus dapat menurunkan cemas sehubungan dengan

ketidaktahuan dan menyiapkan pasien/orang terdekat.


3. Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan,

perubahan mental, vertigo.


R/: disritmia dapat menurunkan curah jantung dimanifestasikan oleh
gagal jantung.
11

gejala

4. Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan;

bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis terlupa.
R/ : informasi perlu untuk pasien dalam membuat pilihan berdasarkan informasi

5.

6.

dan menangani program pengobatan.


Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan.
R/ : bila disritmia ditangani dengan tepat, aktifitas normal harus dilakukan.
Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein.
R/ : tergantung masalah khusus, pasien perlu meningkatkan diet kalium, seperti

saat kalium menurun karena penggunaan diuretik.


7. Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang.
R/ : instruksi tulisan membantu pasien dalam kontak tak langsung dengan tim
kesehatan.
8. Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat.
R/: observasi secara terus menerus memberikan intervensi berkala untuk
menghindari komplikasi berkala.
9. Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung dan

gejala yang memerlukan intervensi medis.


R/: meningkatkan perawatan secara mandiri, memberikan intervensi berkala

untuk mencegah komplikasi serius


10. Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus,

manuver Valsava bila perlu.


R/: kadang kadang prosedur ini perlu pada beberapa pasien untuk memperbaiki
irama teratur /curah jantung pada situasi darurat.

12

BAB 3
PENUTUP

3.1

KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai aritmia di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :

1.

Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi
pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan
irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis
(Doenges, 1999). Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi sel-sel
miokardium. Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk
potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994). Gangguan
irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi juga

2.

termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi, 1996).


Penyebab Aritmia adalah Peradangan jantung, misalnya demam reumatik,
peradangan miokard (miokarditis karena infeksi). Gangguan sirkulasi koroner
(aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia miokard,

3.

infark miokard.
Berdasarkan penyebabnya, meningitis dibagi menjadi dua, yaitu meningitis
purulenta dan meningitis serosa.

3.2

SARAN

Dengan terselesaikannya Makalah Asuhan Keperawatan dengan Aritmia ini diharapkan


bagi mahasiswa keperawatan agar lebih bisa mengidentifikasi dan membedakan gejala
Aritmia dengan gejala penyakit yang ada pada jantung.

DAFTAR PUSTAKA

13

Doengoes, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3.


Jakarta:EGC.
Carpenito J.L. 1997. Nursing Diagnosis. Philadelpia: J.B Lippincott
Carpenito J.L. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne & Brenda G. Bare, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Edisi 8 vol 1. Jakarta :EGC
Huon H. Gray. 2005. Lecture Notes; Kardiologi. Edisi Keempat. Jakarta : EM

14