Anda di halaman 1dari 27

BAB I

KASUS

IDENTITAS PASIEN :
Nama

:Tn. I

Umur

:27 thn

Jenis kelamin

: Laki - laki

Alamat

: Cempaka Putih Barat IV

Tgl Masuk RS

: 07/09/2015

ANAMNESIS :
Keluhan Utama :
Nyeri dada kanan sejak 3 hari SMRS.
Keluhan Tambahan :
Sesak, batuk, demam, penurunan berat badan, nafsu makan menurun, lemas.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk RSIJCP dengan keluhan nyeri pada dada kanan yang hebat dan
disertai dengan sesak nafas. Nyeri dada dirasakan semakin bertambah ketika
bernafas. Nyeri dirasakan pada dada kanan dan tidak menjalar. Nyeri dirasakan
sejak 3 hari SMRS. Sebelumnya pasien belum pernah mengeluh nyeri dada
disertai sesak nafas. Pasien juga mengeluh batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS,
batuk berdahak berwarna kuning, kental. Pasein juga merasa demam sejak 3 hari
SMRS, demam dirasakan naik turun, menggigil tidak ada. Flu disangkal, mual dan
muntah tidak ada. Pasien juga merasa berat badan semakin menurun dan akhirakhir ini pasien jarang makan dan mudah merasa lemas.

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Pasien belum pernah mengalami keluhan nyeri dada sebelumnya.

Pasien pernah mengalami Tuberculosis 2 tahun yang lalu dan pengobatan


tuntas.

Riwayat Diabetes Melitus disangkal.

Riwayat Hipertensi disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Keluarga tidak pernah mengalami keluhan yang sama dengan pasien.

Paman pasien pernah mengalami keluhan batuk berdahak sejak kurang lebih 2
minggu yang lalu.

Keluarga pasien tidak memiliki penyakit Hipertensi, Diabetes Melitus.

Riwayat Psikososial
-

Pasien makan tidak teratur.

Pasien sering merokok 1 bungkus perhari selama 4 tahun.

Riwayat Pengobatan :
-

Pasien pernah mengkonsumsi obat TB 2 tahun yang lalu secara tuntas

Riwayat Alergi

Alergi makanan, obat-obatan dan cuaca di sangkal.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis GCS 15

Tanda Vital :
TD : 120/80 mmHg
N : 82/menit, regular kuat angkat

R : 26 x/menit
S : 36,60C
Status Gizi :
- BB sebelum sakit : 48 kg
- BB sesudah sakit : 45 kg
- TB : 163 cm
IMT : 45/ 2,65 : 16.9 (Underweight)
STATUS GENERALIS
- Kepala

: normocephal.

- Mata

: konjungtiva anemis -/-, sklera ikterus -/-.

- Telinga

: normotia, serumen -.

- Hidung

: normonia, mukosa hidung merah muda, septum deviasi (-),

sekret (-)
- Mulut

: faring hiperemis (-), mukosa bibir kering

- Leher

: Pembesaran KGB (-), Pembesaran Tiroid (-)

Paru :
I : pergerakan dada tidak simetris, gerakan dada tertinggal pada dada kanan.
P: vocal fremitus tidak teraba sama, lebih kuat pada dada kiri, teraba masa pada linea
axilaris posterior ICS 6-7 dengan diameter 4 cm, konsistensi kenyal, permukaan rata,
mobile, teraba nyeri.
P : sonor pada paru kiri, dan perubahan sonor ke redup pada linea midklavikularis
kanan ICS 4-5 dan pada linea axilaris kanan anterior ICS 4-5.
A : vesikular menurun pada lapang bawah paru, ronkhi kasar pada lapang atas (+/+).

Jantung :
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus cordis teraba di ICS V midclavicula
P : Batas atas : linea parasternalis dextra ICS II.
Batas kanan : linea parasternalis dextra ICS V.
Batas kiri : linea midklavikula sinistra ICS V .
A : BJ I dan II murni regular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen :
I : Datar, scar (-).
A : Bising usus (+) 10 kali permenit
P : massa (-), nyeri tekan pada hipocondriac kanan (+).
P : timpani pada seluruh lapang abdomen
Ekstremitas
Atas : akral hangat, RCT < 2 detik, edema -/-, sianosis -/Bawah : akral hangat, RCT < 2 detik, edema -/-,sianosis -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
07-09-2015
Pemeriksan
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
MCV/VER
MCH/HER
MCHC/KHER
GDS
SGOT

Hasil
11,9
5,81
36
428
4,69
77
25
33
121
25

Satuan
g/dL
Ribu/L
%
ribu/L
10^6/L
fL
pg
g/dL
mg/dL
U/L

SGPT
Ureum darah
Kreatinin darah

25
32
0,4

U/L
Mg/dL
Mg/dL

Natrium (Na)
Kalium (K)
Clorida (Cl)

134
5,2
93

mEq/L
mEq/L
mEq/L

09-09-2015
Pemeriksaan

Hasil

Satuan

Pulasan Tahan Asam


Specimen

Sputum 1

Hasil

BTA (-) negatif

Rontgen Thorax 06-09-2015

Expertise:
Cor CTR normal. Aorta normal.
Sinus dan diafragma kanan sebagian terselubung, kiri normal.
Pulmo: hili tebal. Corakan vaskuler ramai.

Tampak infiltrat di kedua paru


Pada foto lateral tampak infiltrat di paru kiri.
Kesan :
Cor tidak membesar.
TB paru Duplex.
Efusi pleura kanan.

RESUME
-

Os laki-laki 27 tahun datang ke RSIJ Cempaka Putih dengan keluhan


nyeri pada dada kanan yang hebat dan disertai dengan sesak nafas. Nyeri dada
dirasakan semakin bertambah ketika bernafas. Nyeri dirasakan pada dada
kanan dan tidak menjalar. Nyeri dirasakan sejak 3 hari SMRS. Sebelumnya
pasien belum pernah mengeluh nyeri dada disertai sesak nafas. Pasien juga
mengeluh batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS, batuk berdahak berwarna
kuning, kental. Pasein juga merasa demam sejak 3 hari SMRS, demam
dirasakan naik turun, menggigil tidak ada. Flu disangkal, mual dan muntah
tidak ada. Pasien juga merasa berat badan semakin menurun dan akhir-akhir
ini pasien jarang makan dan mudah merasa lemas. Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah mengalami Tuberculosis 2 tahun yang lalu dan pengobatan
tuntas. Riwayat penyakit keluarga Paman pasien pernah mengalami keluhan
batuk berdahak sejak kurang lebih 2 minggu yang lalu. Riwayat psikososial
Pasien sering merokok 1 bungkus perhari selama 4 tahun. Riwayat pengobatan
Pasien pernah mengkonsumsi obat TB 2 tahun yang lalu secara tuntas.

Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis GCS 15

Tanda Vital :
TD : 120/80 mmHg
N : 82/menit, regular kuat angkat

R : 26 x/menit
S : 36,60C
IMT : 16.9 (Underweight)
Pemeriksaan fisik:
Paru:
I : pergerakan dada tidak simetris, gerakan dada tertinggal pada dada kanan.
P: vocal fremitus tidak teraba sama, lebih kuat pada dada kiri, teraba masa pada linea
axilaris posterior ICS 6-7 dengan diameter 4 cm, konsistensi kenyal, permukaan rata,
mobile, teraba nyeri.
P : sonor pada paru kiri, dan perubahan sonor ke redup pada linea midklavikularis
kanan ICS 4-5 dan pada linea axilaris kanan anterior ICS 4-5.
A : vesikular menurun pada lapang bawah paru, ronkhi kasar pada lapang atas (+/+).
Penunjang :
LAB : Hemoglobin 11,9 g/dl, Hematokrit 36 %, MCV/VER 77 fl, MCH/HER
25 pg, Natrium (Na) 134 mEq/L, Kalium (K) 5,2 mEq/L, Clorida (Cl) 93 mEq/L.
Rontgen Thorax:
Kesan :
Cor tidak membesar.
TB paru Duplex.
Efusi pleura kanan.
Daftar Masalah :

Efusi pleura e.c TB Paru Recurrent

ASSESMENT
Efusi pleura e.c TB Paru Recurrent

S: Pasien masuk RSIJCP dengan keluhan nyeri pada dada kanan yang hebat dan
disertai dengan sesak nafas. Nyeri dada dirasakan semakin bertambah ketika bernafas.
Nyeri dirasakan sejak 3 hari SMRS. Pasien juga mengeluh batuk berdahak sejak 1
minggu SMRS, batuk berdahak berwarna kuning, kental. Pasein juga merasa demam
sejak 3 hari SMRS, demam dirasakan naik turun. Pasien juga merasa berat badan
semakin menurun dan akhir-akhir ini pasien jarang makan dan mudah merasa lemas.
Pasien pernah mengalami Tuberculosis 2 tahun yang lalu. Paman pasien pernah
mengalami keluhan batuk berdahak sejak kurang lebih 2 minggu yang lalu. Pasien
pernah mengkonsumsi obat TB 2 tahun yang lalu secara tuntas. Pasien sering
merokok 1 bungkus perhari selama 4 tahun.
O : keadaan umum tampak sakit sedang, status gizi underweight (16,9). Paru-paru :
Inspeksi : pergerakan dada tidak simetris, gerakan dada tertinggal pada dada kanan.
Palpasi: vocal fremitus tidak teraba sama, lebih kuat pada dada kiri, teraba masa pada
linea axilaris posterior ICS 6-7 dengan diameter 4 cm, konsistensi kenyal, permukaan
rata, mobile, teraba nyeri. Perkusi : sonor pada paru kiri, dan perubahan sonor ke
redup pada linea midklavikularis kanan ICS 4-5 dan pada linea axilaris kanan anterior
ICS 4-5. Auskultasi : vesikular menurun pada lapang bawah kedua paru, ronkhi kasar
pada lapang atas kedua paru (+/+). Pada pemeriksaan abdomen didapatkan nyeri
tekan pada hipocardiac dextra.
A: Efusi pleura DD/ Penebalan pleura e.c suspek TB Paru Recurrent
P: - Pemeriksaan USG Thorax, saran pemeriksaan CT Scan thorax dengan kontras.
-

DOTS (oral) 1 x 2 tab

Gastridin (oral) 2x1

Asam Mefenamat (oral) 3x1

Streptomycin IM dosis 15mg/kgBB/hari = 15x45kg= 675 mg/hari

Cairan : Asering / 12 jam

Follow Up
Tanggal 8-9-2015

S: Os merasanyeri dada kanan (+), nyeri berkurang, batuk (+), sesak berkurang, nafsu
makan baik.
O: TD: 120/80 mmhg
N

: 80x/menit

: 36,7 C

RR: 20x/menit
Thorax: I: Pernafasan tampak tertinggal pada dada kanan
P: Nyeri tekan dada kanan
P: Terdapat bunyi pekak di ICS IV
A: Vesikuler (+/+)
A: Efusi pleura ec TB Paru recurrent
P: IVFD Asering 14 tpm
DOTS

1x2 tab

Gastridin

2x1 tab

Asam Mefenamat 3x1 tab


O2 2 liter/menit
Diet nasi
Tanggal 9-9-2015
S: Os merasa nyeri berkurang, batuk (+) jarang, nafsu makan baik.
O: TD: 90/60 mmhg
N

: 84x/menit

: 36,5 C

RR: 20x/menit

Thorax: I: Pernafasan tampak tertinggal pada dada kanan


P: Nyeri tekan dada kanan
P: Terdapat bunyi pekak di ICS IV
A: Vesikuler (+/+)
A: Efusi pleura ec TB Paru recurrent
P: IVFD Asering 14 tpm
DOTS

1x2 tab

Gastridin

2x1 tab

Asam Mefenamat 3x1 tab


O2 2 liter/menit
Diet nasi
Rencana CT-Scan Thorax
Tanggal 10-9-2015
S: Os merasanyeri dada kanan (+) berkurang, lemas
O: TD: 100/80 mmhg
N

: 90x/menit

: 36,5 C

RR: 20x/menit
Ronkhi (+/+)
Thorax: I: Pernafasan tampak tertinggal pada dada kanan
P: Nyeri tekan dada kanan
P: Terdapat bunyi pekak di ICS IV
A: Vesikuler (+/+)

A: Efusi pleura ec TB Paru recurrent


P: IVFD Asering 14 tpm
DOTS

1x2 tab

Gastridin

2x1 tab

Asam Mefenamat 3x1 tab


Streptomicin

1x1

O2 2 liter/menit
Diet nasi
Tanggal 11-9-2015
S: Os merasa nyeri dada kanan (+) berkurang, lemas (-), mual (-), muntah (-)batuk (-)
O: TD: 90/70 mmhg
N

: 80x/menit

: 36,5 C

RR: 22x/menit
Ronkhi (+/+)
Thorax: I: Pernafasan tampak tertinggal pada dada kanan
P: Nyeri tekan dada kanan
P: Terdapat bunyi pekak di ICS IV
A: Vesikuler (+/+)
A: Efusi pleura ec TB Paru recurrent
P: IVFD Asering 14 tpm
DOTS

1x2 tab

Gastridin

2x1 tab

Asam Mefenamat 3x1 tab


Streptomicin

1x1

Streptomicin

1x1

O2 2 liter/menit
Diet nasi
Rencana BLPL dengan pengobatan harus teratur

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 TB Paru
Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes, 2011)
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) yang menyerang jaringan (parenkim)
paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. Sebagian besar
kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya
(Depkes, 2011).
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit granulomatosa kronis menular
dimana biasanya bagian tengah granuloma tuberkular mengalami nekrosis
perkijuan (Kumar, 2007).
Klasifikasi Tuberkulosis Paru
Menurut PDPI (2006), terdapat beberapa klasifikasi tuberkulosis, yaitu :
1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA)
a. Tuberkulosis paru BTA (+), yaitu:
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA
positif.
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan
kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif.
b. Tuberkulosis paru BTA (-), yaitu:
Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis
dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif.
Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan
M.tuberculosis positif.
2.Berdasarkan tipe pasien

Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa


tipe pasien yaitu:
a. Kasus Baru
Yaitu pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari 1 bulan.
b. Kasus Kambuh (Relaps)
Yaitu pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau
biakan positif.
c. Kasus Defaulted atau Drop Out
Yaitu pasien yang telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil obat
2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Kasus Gagal (Failure)
Yaitu pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif
pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir
pengobatan.
e. Kasus Kronik
Yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang dengan kategori 2 dan dengan pengawasan yang baik.
f. Kasus Bekas TB
Hasil pemeriksaan BTA negatif dan gambaran radiologi paru menunjukkan
lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial menunjukkan gambaran yang
menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung.
Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan
gambaran radiologi.
3.Pembagiaan Secara Patologi
a. Tuberkulosis Primer (Childhood Tuberculosis).
b. Tuberculosis Sekunder (Adult Tuberculosis).
4.Berdasarkan Aktifitas Radiologi
a. Lesi TB aktif dicurigai bila:

Bayangan berawan / nodular di segmen apical dan posterior lobus atas paru
dan segmen posterior lobus bawah
Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular.
Bayangan bercak milier
Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
b. Lesi TB inaktif dicurigai bila:
Fibrotik
Kalsifikasi
Schwarte atau penebalan pleura
c. Lesi TB Aktif Yang Mulai Menyembuh (Quiescent)
5.Berdasarkan Luas Lesi Yang Tampak Pada Foto Thorax
a. Tuberkulosis Minimal
Terdapat sebagian kecil infiltrat non kavitas pada satu paru maupun kedua paru,
tetapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
b. Moderadately Advance Tuberculosis
Ada kavitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm. jumlah infiltrat bayangan
halus tidak lebih dari satu bagian paru. bila banyangannya kasar tidak lebih dari
sepertiga bagian satu paru.
c. Far Advance Tuberculosis
Terdapat infiltrat dan kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advance
tuberculosis.
6.Di Indonesia, klasifikasi yang banyak dipakai adalah berdasarkan kelainan klinis,
radiologis dan mikrobiologis.
a. TB Paru
b. Bekas TB Paru
c. TB Paru Tersangka, yang terbagi dalam:
TB Paru Tersangka Yang Diobati.
Dengan sputum BTA negatif, tetapi tanda tanda lain positif.
TB Paru Tersangka Yang Tidak Diobati.

Dengan sputum BTA negatif dan tanda tanda lain juga meragukan. Dalam 2
3 bulan, TB tersangka ini sudah harus dipastikan apakah termasuk
TB Paru ( Aktif ) Atau Bekas TB Paru.
Dalam klasifikasi ini perlu dicantumkan:
- Status Bakteriologi
- Mikroskopik Sputum BTA ( Langsung )
- Biakan Sputum BTA
- Status Radiologis, kelainan yang relevan untuk tuberkulosis paru.
- Status Kemoterapi, riwayat pengobatan dengan OAT.

II.7 Manifestasi Klinik


Gejala klinis dari tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik dan gejala sistemik.
Gejala Respiratorik
a. Batuk >2 Minggu
Gejala ini sering ditemukan. Batuk terjadi karena ada iritasi pada bronkus.
Batuk ini diperlukan untuk membuang keluar produk produk radang. Karena
terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru
ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu
minggu atau berbulan bulan sejak awal peradangan.
Sifat batuk dimulai dari batuk kering ( non-produktif ) kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif ( menghasilkan sputum ).
b. Batuk Darah
Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh
darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkulosis terjadi pada
kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
c. Sesak Nafas
Jika sakit masih ringan, sesak nafas masih belum dirasakan. Sesak nafas
ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi
setengah bagian paru.
d. Nyeri dada.

Hal ini jarang ditemukan. Nyeri dada dapat timbul bila infiltrasi radang
sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua
pleura sewaktu pasien menarik atau melepaskan nafasnya.
Gejala Sistemik
a. Demam
Biasanya subfebril seperti demam influenza. Tetapi kadang kadang
panas badan dapat mencapai 40 41o C. Serangan demam pertama dapat
sembuh sementara, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Hal ini terjadi terus
menerus, sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam
influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh pasien dan
berat ringannya infeksi MTB yang masuk
b. Gejala sistemik lain, seperti :
Malaise
Keringat malam
Anoreksia
Berat badan menurun.

Pada keadaan tertentu dengan pertimbangan medis spesialistik, alur diagnosis ini dapat digunakan secara fleksibel
yaitu pemeriksaan mikroskopik dapat dilakukan bersamaan dengan foto thoraks dan pemeriksaan yang diperlukan.
Suspek TB paru adalah seseorang dengan batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih disertai dengan atau tanpa
gejala lain.
Antibiotik non OAT adalah antibiotik spektrum luas yang tidak memilki efek anti TB (jangan gunakan
fluorokuinolon).

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah
Pada pemeriksaan darah rutin, didapatkan LED yang normal atau meningkat
dan limfositosis.
Pemeriksaan serologi :
Tes PAP (peroksidase anti peroksida)
Prinsip dasar uji PAP adalah menemukan adanya antibodi IgG yang
spesifik terhadap antigen M.tuberculosae . hasil uji PAP dinyatakan
patologis bila pada titer 1:10.000 didapatkan hasil uji PAP positif.
Uji Mycodot

Deteksi antibodi memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan


pada alat yang berbentuk sisir kemudian dicelupkan dalam serum
pasien. Bila terdapat antibodi spesifik dalam jumlah memadai maka
warna sisir akan berubah.
ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay)
Deteksi respon humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi.
PCR (Polymerase Chain Reaction)
Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap
sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam
spesimen. Juga dapat mendeteksi adanya resistensi.
2. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan.
Pemeriksaan sputum untuk penegakkan diagnosis dilakukan dengan
mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari
kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Interpretasi
hasil pemeriksaan sputum :
Mikroskopik positif
- 3 x positif
- 2 x positif, 1 x negatif
-1 x positif, 2 x negatif ulang BTA 3 x, bila hasil 1 x positif, 2 x negatif
Mikroskopik negatif
- 3 x negatif
- 1 x positif, 2 x negatif ulang BTA 3 x, bila hasil 3 x negatif
Pemeriksaan biakan sputum BTA dengan cara BACTEC (Becton
Dickinson Diagnostic Instrument System) , dengan cara mendeteksi growth
index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh
M.tuberculosis. kuman sudah dapat terdeteksi dalam 7-10 hari.
3. Tes tuberkulin
Tes Mantoux yakni dengan menyuntikkan 0,1 cc tuberculin P.P.D.
(Purified Protein Derivative) intrakutan dengan kekuatan 5 T.U. tes tuberkulin
hanya menyatakan apakah seseorang sedang atau pernah mengalami infeksi
M.tuberculosis, vaksinasi BCG atau Mycobacteria lainnya. Dasar tes
tuberkulin ini adalah reaksi alergi tipe lambat.
Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi
-

kemerahan, interpretasi hasilnya :


Indurasi 0-5 mm Mantoux negatif = golongan no sensitivity

Indurasi 6-9 mm meragukan = golongan low sensitivity


Indurasi 10-15 mm Mantoux positif = golongan normal sensitivity
Indurasi >15 mm Mantoux positif kuat = golongan hypersensitivity

4. Pemeriksaan radiologi
Standar pemeriksaan radiologi pada tuberkulosis adalah foto toraks PA dan
lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB yaitu :
Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular)
Adanya kavitas, tunggal atau ganda
Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru
Adanya kalsifikasi
Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian
Bayangan milier

TATALAKSANA
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya
resistensi kuman terhadap OAT(PDPI, 2011).
OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
Obat Yang Dipakai
a. Obat Anti Tuberkulosis Golongan 1 (First Line Antituberculosis Drugs)
Rifampisin (R)
Isoniazid (INH/H)
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol

Pilihan
Utama

(PZA)

Obat Tambahan (First Line


Supplemental Drugs)

(E)

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif selama 2 bulan dan
tahap lanjutan selama 4 bulan.Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara
tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu

2minggu.Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)


dalam 2 bulan.Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan(PDPI, 2011).
Jenis, sifat, dan dosis OAT
Jenis OAT

Sifat

Dosis yang direkomendasikan (mg/kg)


Harian

3xseminggu

Isoniazid (H)

Bakterisid

5 (4-6)

10 (8-12)

Rifampicin (R)

Bakterisid

10 (8-12)

10 (8-12)

Pyrazinamide(Z)

Bakterisid

25 (20-30)

35 (30-40)

Streptomycin (S)

Bakterisid

15 (12-18)

15 (12-18)

Ethambutol (E)

Bakteriostatik

15 (15-20)

30 (20-35)

Untuk mencegah terjadinya resistensi, terapi tuberkulosis dilakukan dengan


memakai panduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid.
Yang termasuk obat lini pertama antara lain isoniazid, rifampisin, pirazinamid,
etambutol dan streptomisin. Sedangkan obat lini keduanya kanamisin, PAS (Para
Amino Salicylic Acid), tiasetazon, etionamid, sikloserin, amikasin, ofloksasin,
siprofloksasin(PDPI, 2011).
Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan
Obat (PMO).
Kemasan OAT (Obat Anti Tuberkulosis)
a. Obat Tunggal
Obat disajikan secara terpisah, masing-masing INH, Rifampisin, Pirazinamid dan
Etambutol.
b. Obat Kombinasi Dosis Tetap (Fixed Dose Combination FDC)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet.
Pengembangan pengobatan TB paru yang efektif merupakan hal yang penting
untuk menyembuhkan pasien dan menghindari MDR TB (multidrug resistant
tuberculosis). Pengembangan strategi DOTS untuk mengontrol epidemi TB

merupakan prioriti utama WHO. International Union Against Tuberculosis and


Lung Disease (IUALTD) dan WHO menyarakan untuk menggantikan paduan obat
tunggal dengan kombinasi dosis tetap dalam pengobatan TB primer pada tahun
1998.

Keuntungan Kombinasi Dosis Tetap


1. Penatalaksanaan sederhana dengan kesalahan pembuatan resep minimal.
2. Peningkatan kepatuhan dan penerimaan pasien dengan penurunan kesalahan
pengobatan yang tidak disengaja.
3. Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penatalaksanaan yang benar
dan standar.
4. Perbaikan manajemen obat karena jenis obat lebih sedikit.
5. Menurunkan risiko penyalahgunaan obat tunggal dan MDR akibat penurunan
penggunaan monoterapi
Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang dosis
yang telah ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih
termasuk dalam batas dosis terapi dan non toksik.
Pada kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila
mengalami efek samping serius harus dirujuk kerumah sakit / dokter spesialis
paru / fasiliti yang mampu menanganinya.
c. Paket Kombipak
adalah paket obat lepas yang terdiri dari isoniazid, rifampisisn, pirazinamid
dan etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. panduan OAT ini disediakan
program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping
OAT KDT.

Tahap Intensif

Tahap Lanjutan

Tiap hari selama 56 hari

3 kali seminggu selama 16

RHZE (150/75/400/275)

minggu RH (150/150)

30-37 Kg

2 Tablet 4KDT

2 Tablet 2KDT

38-54 Kg

3 Tablet 4KDT

3 Tablet 2KDT

Berat Badan

55.70Kg

4 Tablet 4KDT

>71 Kg

4 Tablet 2KDT

5 Tablet 4KDT

5 Tablet 2KDT

Tabel. Dosis Untuk Panduan OAT KDT Untuk Katagori 1


Dosis Perhari/Kali

Jumlah

Tahap

Lama

Tablet

Kaplet

Tablet

Tablet

Hari/Kal

Pengobata

Pemgobata

Isoniazi

Rifampisi

Pirazinami

Etambuto

d @ 300

n @ 450

d @ 500

l @ 250

Menelan

mg

mg

mg

mg

Obat

Intensif

2 bulan

56

Lanjutan

4 bulan

48

Tabel. Dosis Panduan OAT- Kombipak Untuk Katagori 1

Resimen pengobatan tuberkulosis


Kategori

Kriteria pasien

Resimen pengobatan

pengobatan
Kategori 1

o Pasien baru BTA positif


o Pasien TB paru BTA
negatif foto thorax positif
o Pasien TB ekstra paru

Kategori 2

yang berat
o Pasien kambuh
o Pasien gagal
o Pasien default

o 2HRZE/ 4H3R3
o 2HRZE/ 4HR
o 2HRZE/ 6HE

o 2HRZES/HRZE/
5H3R3E3
o 2HRZES/ HRZE/ 5HRE

Hasil pengobatan TB

Sembuh
Bila hasil hasil pem ulang dahak (follow up) paling sedikit 2 kali berturut-turut
negatif, salah satu diantaranya haruslah pemeriksaan pada akhir pengobatan

Pengobatan Lengkap

Penderita telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap, tapi tidak ada


pemeriksaan ulang dahak, khususnya pada akhir pengobatan.

Gagal
Pasien yang pemeriksaandahaknya tetappositif atau kembali positif pada
akhir bulan ke-5 atau lebih selama pengobatan.
Pasien yang pemeriksaan dahaknya negatifdan foto torakspositif menjadi
dahak positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.

Defaulted atau drop-out


Penderita yang tidak mengambil/meminum obat 2 bulan berturut-turut atau
lebih sebelum masa pengobatannya selesai.

2.Obat Anti Tuberkulosis Golongan 2 (Second-Line Antituberculosis Drugs)


Obat lini kedua digunakan jika terjadi Multi Drugs Resisten (MDR) atau jika
OAT golongan 1 tidak tersedia. Obat-obat antituberkulosis golongan 2 kurang
efektif jika dibandingkan dengan OAT golongan 1 dan dapat menimbulkan efek
samping yang berat.

Obat-obat ini jarang digunakan dalam pengobatan

tuberculosis. Obat-obat yang digunakan sebagai Obat Anti Tuberkulosis golongan


2 yaitu :
Kuinolon
Obat-obat golongan quinolon digunakan jika terdapat resistensi terhadap
OAT golongan 1 atau pada pasien-pasien yang tidak dapat menggunakan OAT
golongan 1. Obat-obatan yang termasuk golongan quinolon adalah ofloxacin,
levofloxacin, ciprofloxacin, gatifloxacin dan moxifloxacin.
Efek samping jarang sekali dijumpai. Jika ada, biasanya berupa gangguan
gastrointestinal, kemerahan pada kulit, pusing dan sakit kepala. Efek samping
yang cukup berat, seperti kejang, nefritis interstitial, vaskulitis, dan gagal ginjal
akut. Quinolon dapat diberikan secara intravena.
Kanamisin
Amikasin

Amikasin memiliki efek baksterisidal yang berkerja di ekstraseluler.


Amikacin ini efektif terhadap MTB, M. lepra, M. avium complex, dan lain-lain.
Dosis yang diberikan biasanya 7-10mg/kg IM atau IV, 3-5 kali dalam seminggu.
Capreomycin
Capreomycin merupakan suatu kompleks antibiotik polipeptida siklik
derifatdari Streptomyces capreolus, yang memiliki kesamaan dalam pemberian
dosis, cara kerja, farmakologi dan toksisitas dengan streptomisin. Capreomycin
diberikan secara intramuskular dalam dosis 10-15mg/kg/hari atau 5 kali dalam
seminggu (dosis maksimal per-hari 1 g). Setelah diberikan selama 2-4 bulan,
dosisnya diturunkan menjadi 1 g dalam 2 atau 3 kali seminggu. Capreomycin
merupakan obat injeksi pilihan terhadap tuberculosis setelah streptomisiin.
b. Obat lain masih dalam penelitian
Makrolid
Amoksilin + Asam Klavulanat
c. Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :
Kapreomisin
Sikloserino PAS (dulu tersedia)
Para-Aminosalicylic Acid dapat menghambat pertumbuhan MTB dengan
cara menghambat sintesa asam folat. Para-Aminosalicylic Acid jarang menjadi
pilihan pengobatan tuberkulosis karena rendahnya efektivitas dan juga karena
menyebabkan timbulnya gangguan gastrointestinal (mual, muntah, atau diare).
Derivat rifampisin dan INH
Thioamides (Ethionamide dan Prothionamide)
Ethionamide adalah derivat asam isonikotinik, sama seperti isoniazid dan
pirazinamid. Obat ini memiliki efek bakteriostatik. Namun penggunaannya
terbatas karena efek toksisitas dan banyaknya efek samping, seperti gangguan
gastrointestinal berat (mual, muntah, anoreksia, disgesia),gangguan neurologis
berat, hepatitis, reaksi hipersensitivitas, dan juga hipotiroidisme.

KOMPLIKASI
Penyakit tuberkulosis bila tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi terbagi atas :

a. Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis


b. Komplikasi lanjut : obstruksi jalan napas SOFT (sindrom obstruksi pasca
tuberkulosis), kerusakan parenkim berat SOPT/fibrosis paru, kor
pulmonal, karsinoma paru, ARDS.

PENCEGAHAN
Vaksinasi BCG pada bayi / anak
Terapi pencegahan Kemoprofilaksis pada Penderita HIV/AIDS INH
dosis 5 mg/ kg BB ( tdk lebih 300 mg) sehari selama minimal 6 bulan
Pengobatan TB paru BTA positif untuk mencegah penularan.

DAFTAR PUSTAKA
Brooks, Geo F, MD., Janet S. Butel, Phd., dan Stephen A. Morse, Phd. Mikrobiologi
Kedokteran. Bab 24. Edisi 23. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C. 2008. Buku ajar Fisiologi kedokteran. Bab 37-42. Edisi 11. Jakarta:
EGC.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014.Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberkulosis.Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid 2. Edisis V. Jakarta: IPD FKUI.
Price, Sylvia A., dan Lorraine M. Wilson. 2004. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Bab 4. Edisi VI. Jakarta: EGC
Rusnoto, Rahmatullah P., Udiono A. 2006. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Kejadian TB Paru Pada Usia Dewasa. Universitas Diponoegoro. Dikutip dari :
http://eprints.undip.ac.id/5283/1/Rusnoto.pdf [Diakses 10 September 2015]
Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Bab 13. Edisi 6.
Jakarta: EGC.
Tjay, Tan Hoan, Drs., dan Drs. Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. Bab 5.
Edisi 6. Jakarta: Gramedia.

Treatment of Tuberculosis Guidelines, fourth edition. World Health Organization


2010
Vinay Kumar, MBBS, MD, FRCPath., dan Abul K. Abbas, MBBS., Nelson Fausto,
MD. 2010. Dasar Patologi Penyakit. Bab 15. Edisi 7. Jakarta: EGC.