Anda di halaman 1dari 12

Analisis Karakteristik Refrigeran ..................................

(Tatang Hidayat)

ANALISIS KARAKTERISTIK REFRIGERAN TERHADAP


KONSUMSI ENERGI LISTRIK PADA PROTOTIPE
SISTEM PENDINGIN PEMBEKU AIR MENGGUNAKAN
R-134a DAN R-290/R-600a
Tatang Hidayat
Sekolah Tinggi Teknologi Bina Tunggal (STTBT) Bekasi Jawa Barat
tatangh@ymail.com
ABSTRAK
Sistem pendingin untuk pembeku air menggunakan energi listrik terus menerus sehingga
menyumbang komponen biaya yang signifikan terhadap produk yang didinginkan. Untuk
mengetahui potensi penghematan energi listrik yang bisa dicapai telah dilakukan pengamatan
pada prototipe mesin pembeku air skala laboratorium dengan melakukan penggantian media
pendinginnya dari R-134a ke R-290/R-600a. Kinerja mesin pembeku air setelah dilakukan
penggantian menjadi R-290/R-600a memberikan hasil : kapasitas pendinginan tetap, suhu
pendinginan pada ruang pembeku mencapai 18,8 oC dibandingkan R-134a mencapai 17
o
C, dan konsumsi energi listrik mengalami penurunan dari 0,79 Amper menjadi 0,65 Ampere
berarti terjadi penghematan energi listrik sampai 18 %.
Kata Kunci : Pembeku air, refrigeran, halokarbon, hidrokarbon, penghematan energi
listrik.
ABSTRACT
Water cooling system for freezer use continuous electrical energy so it accounts for a
significant component of the cost of the product is cooled. To find the electric potential
energy savings that can be achieved has been observed in a freezer prototype laboratory
scale water cooling media with replacement of R-134a to R-290/R-600a. Performance
freezer after becoming R-290/R-600a results: fixed cooling capacity, cooling the temperature
reaches the freezing compartment 18.8 C compared to R-134a reaches 17 C, and the
electrical energy consumption decreased from 0 , 79 amperes to 0.65 amperes means an
electrical energy savings up to 18%.
Keywords: Freezing water, refrigerants, halocarbons, hydrocarbons, electrical energy
savings.
PENDAHULUAN
Perkembangan aplikasi teknologi mesin pendingin demikian pesat sejalan dengan
tuntutan peningkatan kualitas kehidupan manusia yang salah satunya ditandai dengan
kebutuhan mesin pendingin untuk keperluan pembeku dalam proses pengawetan berbagai
bahan yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Iklim tropis seperti di

97

TORSI, Volume XII, No. 1, Januari 2014

Indonesia berpengaruh signifikan terhadap keawetan paska panen hasil produksi pertanian
seperti : buah-buahan dan sayur-mayur juga dalam perikanan. Demikian besarnya
ketergantungan pada mesin pendingin tersebut maka kebutuhan energy listrik untuk
penggerak mesin pendingin tersebut cukup besar. Upaya untuk melakukan penghematan pada
energy listrik diberbagai sector harus dilakukan guna mendukung kepedulian lingkungan
seperti global warming, penghematan biaya energy dan upaya pemerataan dalam dengan
memperluas sebaran penggunaan energy listrik di berbagai belahan wilayah Indonesia diluar
perkotaan. Penelitian aplikasi dan praktek penggantian bahan pendingin (refrigerant) dari
jenis sintetik ke jenis hidrokarbon dengan cara membandingkan hasil pengukuran penurunan
energi listrik nya sudah banyak dilakukan, namun yang menganalisis parameter yang
berpengaruh terhadap terjadinya proses penurunan energi listrik khususnya untuk penggerak
komponen kompresor pada mesin pendingin masih terbatas. Untuk itu penulis dalam
penelitian ini tertarik untuk melakukan analisis pada parameter yang memiliki pengaruh
terhadap penurunan konsumsi enerli listrik pada komponen kompresor yang dirangkai dalam
suatu unit berupa prototipe dan menggunakan refrigeran sintetik jenis R-134a untuk
digantikan dengan refrigeran hidrokarbon jenis R-290/R-600a.
TEORI DASAR MESIN PENDINGIN KOMPRESI UAP
Mesin pendingin yang banyak digunakan dalam aplikasinya adalah jenis mesin
pendingin kompresi uap yang bekerja menggunakan elemen utama terdiri dari : kompresor,
kondensor, katup ekspansi dan evaporator dirakit dalam suatu sistem sikulus tertutup yang
diagramnya seperti dalam gambar 1.

(a) Diagram siklus komponen

(b) Siklus pada Diagram Mollier

Gambar 1. Siklus dan pemetaan pada Diagram Mollier kompresi uap

98

Analisis Karakteristik Refrigeran .................................. (Tatang Hidayat)

Setiap elemen dari sistem memiliki fungsi utama masing-masing sehingga bila dialirkan
bahan pendingin (refrigeran) di dalam sistem tersebut secara siklus akan memberikan efek
terjadinya proses pendinginan. Adapun elemen kompresor berfungsi untuk menaikan tekanan
dan mensirkulasikan refrigeran keseluruh sistem, elemen kondensor berfungsi sebagai
elemen yang melepaskan kalor dari sistem, katup ekspansi berfungsi untuk menurunkan
tekanan dan mengkabutkan refrigeran, elemen evaporator berfungsi untuk menyerap kalor
dari ruangan / media disekitarnya yang akan didinginkan. Sebagai bahan yang berfungsi
untuk membawa kalor yang akan dibuang, refrigerant yang digunakan dalam sistem
pendingin harus kompatibel dengan karakteristik elemen-elemen sistem kompresi uap, oleh
karena itu terdapat berbagai jenis refrigeran yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik
elemen mesin pendingin terutama elemen kompresor.
Refrigerant
Sistem pendingin bisa menghasilkan efek pendinginan dari proses yang bekerja secara
siklus tertutup dengan menggunakan media pendingin yang disebut dengan refrigeran yang
bersirkulasi di dalam siklus tertutup tersebut dan setiap melewati suatu komponen yang ada
dalam siklus refrigeran akan mengalami perubahan wujud secara fisika. Pada komponen
kompresor refrigeran mengalami proses penekanan sehingga gas dimampatkan pada tekanan
tinggi pada suhu tinggi dan mengalir ke dalam komponen kondensor menjadi gas cair dengan
tekanan tinggi dan kalor yang dibawanya dilepas ke udara sekelilingnya melalui pipa-pipa
dan sirip-sirip yang ada di kondensor. Selanjutnya wujud cair bertekanan yang ada di
kondensor dilewatkan pada komponen katup ekspansi sehingga refrigeran yang keluar
menjadi kabut dalam keadaan suhu dingin dan tekanan rendah kemudian mengalir masuk ke
dalam komponen evaporator dalam bentuk kabut dan suhu rendah sehingga kalor yang ada
diudara sekitar evaporator akan mengalir masuk kedalam refrigeran yang ada di dalam
evaporator, untuk selanjutnya terus bersirkulasi kembali.
Adanya proses dan siklus yang dialami oleh refrigeran serta terjadinya efek
pendinginan pada evaporator yang seimbang dengan proses terjadinya pelepasan kalor pada
kondensor, maka refrigerant harus memiliki beberapa sifat fisika pokok, diantaranya :
-Tekanan penguapan di evaporator harus diatas tekanan atmosfir
-Tekanan pengembunan di kondensor tidak terlalu tinggi
-Kalor laten penguapan di evaporator harus tinggi
-Konduktivitas termal harus tinggi
-Viskositas fase cair maupun gas harus rendah

99

TORSI, Volume XII, No. 1, Januari 2014

Persyaratan sifat fisika tersebut dibarengi dengan sifat kimia refrigeran yang tidak boleh
mudah bereaksi dengan material lainnya dan tidak bersifat korosif; demikian juga dari sifat
termodinamika siklus refrigerasi diharapkan refrigeran menghasilkan koefisien prestasi
sistem pendingin yang besar, serta dari sisi kesehatan refrigeran tidak memiliki sifat racun.
Refrigeran untuk suatu unit pendingin memiliki kelompok dan jenis yang berbeda tergantung
kepada kebutuhan dari unit pendingin tersebut. Secara garis besar unit pendingin dibedakan
dalam 2 (dua) kelompok utama, yaitu :
a.Sistem pendingin untuk kenyamanan manusia dan pendinginan diatas nol derajat Celcius
b.Sistem pendingin untuk suhu dibawah nol derajat Celcius
Dari aspek lingkungan, dibedakan dalam 2 (dua) kelompok refrigeran, yaitu :
a.Refrigeran alam, seperti Hidrokarbon, Amonia, Karbon dioksida, dll.
b.Refrigeran sintetik yang tergolong halokarbon seperti R-12, R-134a, R-22, dll.
Bila dua refrigerant untuk sistem pendingin yang sama diperbandingkan, maka parameter
sifat fisika yang mendapat perhatian adalah :
-Kandungan energi (Enthalpy)
-Kerapatan jenis (density)
-Panas jenis (specific heat)
-Hantaran panas (thermal conductivity)
-Kekentalan (Viscocity)
Refrigerant R-134a
Mesin pendingin pembeku air seperti halnya sistem pendingin kompresi uap lainnya
menggunakan refrigeran sebagai media pendingin dengan menggunakan refrigeran sintetik
halokarbon, salah satunya adalah kelompok Hydrochlorofluorocarbon (HFC) jenis R-134a.
Sebagai kelompok HFC refrigeran R-134a mengandung bahan Fluor (F) sebagai unsur yang
termasuk Gas Rumah Kaca (GRK) yang berkontribusi sebagai penyebab terjadinya
pemanasan global (Global Warming).

Gambar 2. Simbol unsur R-134a

100

Analisis Karakteristik Refrigeran .................................. (Tatang Hidayat)

Refrigerant Hidrokarbon
Sejalan dengan kebijakan global juga sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia
yang diikuti dengan terbitnya berbagai kebijakan dan program pemerintah untuk
menghapuskan penggunaan bahan-bahan yang berpotensi merusak lapisan ozon dan gas
rumah kaca, termasuk didalamnya penggunaan refrrigerant sintetik halokarbon, maka
penggunaan bahan ramah lingkungan kembali diperhitungkan. Salah satu jenis refrigeran
ramah lingkungan yang juga merupakan refrigeran alam, adalah jenis refrigeran hidrokarbon.
Refrigeran hidrokarbon dikategorikan sebagai ramah lingkungan karena termasuk kelompok
refrigeran alami yang kandungannya terdiri dari unsur Carbon dan Hidrogen, yang menurut
ASHRAE Standard diberi kode R-170 (etana, C2H6), R-290 (Propane, C3H8) dan R-600a
(Isobutane, C4H10), adapun jenis refrigeran hidrokarbon lainnya merupakan campuran dari
unsur-unsur tersebut, contohnya untuk kesetaraan dengan R-134a bisa diformulasikan dari
campuran R-290 dengan R-600a.
Diagram Prototipe Sistem Pendingin Pembeku Air
Untuk keperluan pengambilan data sebagai bahan melakukan analisis digunakan
suatu sistem pendingin yang dirangkai sehingga proses yang terjadi dari siklus refrigerasi
kompresi uap bisa memberikan efek pendinginan di komponen evaporator sampai
membekukan air. Komponen yang digunakan untuk merangkai suatu sistem pembeku air
mengadopsi sistem yang ada dalam pembeku suatu lemari es, terdiri dari komponen :
kompresor hermetic, kondensor terbuka keudara, katup ekspansi berupa lilitan pipa kapiler
dan evaporator ditempatkan dalam kotak terisolasi untuk menyimpan air yang akan
dibekukan.

101

TORSI, Volume XII, No. 1, Januari 2014

Gambar 3. Diagram prototipe sistem pembeku air


ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pengumpulan data dilakukan untuk mendapatkan bahan analisa untuk perbandingan
antara refrigeran sintetik halokarbon dan refrigeran hidrokarbon. Refrigeran R-134a
merupakan bagian dari kelompok refrigeran sintetik halokarbon, demikian juga campuran R290/R-600a merupakan bagian dari refrigeran hidrokarbon dengan karakteristik untuk
menggantikan R-134a.
Perbandingan data dari aspek lingkungan antara refrigeran sintetik halokarbon dengan
refrigeran hidrokarbon seperti ditunjukan dalam tabel 1. Dari data pada Tabel 1 dapat dilihat
bahwa refrigeran hidrokarbon (HCR) dibandingkan dengan R-134a memiliki angka-angka
yang menggambarkan lebih ramah lingkungan seperti terlihat dari nilai GWP nya untuk
hidrokarbon angkanya 3 yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan R-134a yang angkanya
420.

Tabel 1. Perbandingan parameter aspek lingkungan HFC dan HCR


NO.

102

PARAMETER ASPEK
LINGKUNGAN

SATUAN R-34a

HCR

1.

Bahan alam

tidak

ya

2.

Umur keberadaan di atmosfir


(Atmospheric life time)

tahun

16

<1

Analisis Karakteristik Refrigeran .................................. (Tatang Hidayat)

3.

Global Warming Potential (GWP)


(relatif thd CO2, basis 500 th)

tahun

420

4.

Ozon Depletion Potential (ODP)


(relatif thd R-11 = 1.0)

Data perbandingan parameter karakteristik refrigeran hidrokarbon R-290 /R-600a


dengan refrigeran sintetik halokarbon R-134a yang memiliki pengaruh terhadap kinerja
sistem pendingin pendingin seperti ditunjukan dalam tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan parameter karakteristik antara R-290 / R-600a dengan R-134a
PARAMETER

SATUAN

Enthalpy Liquid,
Enthalpy, v,
Density, l,
Density, v,
Specific Heat, l,
Specific Heat, v,
Viscosity, l,
Viscosity, v,
Thermal Conductivity, l,
Thermal Conductivity,v,

kJ/kg
kJ/kg
kg/m3
kg/m3
kJ/kg.K
kJ/kg.K
uPa-s
uPa-s
mW/m-K
mW/m-K

R-290/
R-600a
261
601
531
12.90
2.53
1.89
128
7.9
92
18

R-134a
235
412
1207
32.35
1.42
1.03
195
11.7
81
14

Dari tabel 2 terlihat bahwa karakteristik bahan refrigeran hidrokarbon dari enthalphy nya
lebih besar sehingga memiliki energi untuk mengangkut kalor lebih besar, dari density yang
lebih kecil memberikan keuntungan bahwa berat isi refrigeran dalam sistem lebih sedikit
yang akan memberikan efek kompresor bekerja lebih ringan. Dari panas jenis (spesific heat)
dan konduktivitas termal (thermal conductivity) refrigeran hidrokarbon lebih besar
memberikan keuntungan mempercepat terjadinya pemindahan kalor yang harus diangkut,
begitu juga dengan nilai kekentalan (viscosity) refrigran hidrokarbon lebih kecil memberikan
efek yang baik yaitu kecilnya pengaruh tahanan aliran refrigeran dalam instalasi perpipaan.
Perbandingan Diagram Tekanan Terhadap Temperatur
Data dalam bentuk grafik yang menunjukkan Diagram tekanan sebagai fungsi
temperatur dari perbandingan antara refrigeran R-290 / R-600a dengan R-134a, adapun

103

TORSI, Volume XII, No. 1, Januari 2014

sample untuk R-290/R-600a nya menggunakan produk dengan kode MC-134 seperti
ditunjukkan dalam gambar 4.

Gambar 4. Diagram Tekanan versus suhu


Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa refrigeran hidrokarbon campuran R-290/R-600a bisa
diformulasikan mirip dengan R-134a, sehingga sistem pendingin dalam merespon adanya
refrigeran hidrokarbon campuran tersebut seperti halnya refrigeran sintetik halokarbon R134a. Bila diamati lebih dalam, pada sisi suhu refrigeran rendah tekanan refrigeran
hidrokarbon akan sedikit lebih tinggi dibandingkan R-134a hal ini sesuai dengan salah satu
persyaratan suatu refrigeran yang menghendaki pada daerah penguapan tekanan sedikit lebih
tinggi; demikian juga bila dilihat pada sisi suhu yang lebih tinggi terlihat bahwa grafik
refrigeran hidrokarbon berada dibawah grafik R-134a hal ini juga sesuai dengan salah satu
persyaratan refrigeran bahwa pada suhu tinggi (di kondensor) tekanannya tidak terlampau
tinggi.
Perbandingan Nilai Parameter Kinerja Refrigeran pada Prototipe Sistem Pendingin
Pengukuran pada kinerja prototipe sistem pendingin pembeku air dilakukan dengan
cara membandingkan antara refrigerant sintetik halokarbon R-134a dengan refrigeran
hidrokarbo yang merupakan campuran antara R-290/R-600a yang menggunakan sample
dengan kode MC-134. Pengamatan dilakukan pada alat yang sama yaitu prototipe sistem
pendingin yang sebelumnya menggunakan R-134a kemudian dengan tatacara yang sesuai

104

Analisis Karakteristik Refrigeran .................................. (Tatang Hidayat)

standar dilakukan penggantian dengan refrigeran hidrokarbon campuran R-290/R-600a


dengan kode refrigeran sample MC-234. Data hasil pengukuran kedua jenis refrigeran
seperti ditunjukkan pada table 3.
Tabel 3 : Perbandingan data kinerja pada prototipe sistem pendingin pembeku air

PARAMETER
PENGAMATAN
Refrigeran
Isi ( gram )
P suct. ( psig )
T beku ( oC )
Arus
( A)

PERBANDINGAN
SEBELUM
R - 134a
120
10
-17
0.79

SESUDAH
MC-134
40
8
-18.8
0.65

PENGAMATAN
a. Ada perbedaan berat isi
dari 120 gram menjadi 30
gram (30%)
b. Ada Penurunan arus
sebesar 0.14 A (18 %)
c. suhu beku dari 17 oC
menjadi lebih rendah
yaitu 18,8 oC (11%)
d. Tekanan kerja (P suct)
turun dari 10 psig menjadi
8 psig (20%)

Dari data pada tabel 3 terlihat bahwa kinerja yang dihasilkan oleh refrigeran
hidrokarbon (kode bahan MC-134) memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan data
yang dihasilkan oleh R-134a. Hal ini terlihat dari isi oleh bahan MC-134 hanya seberat 30 %
dari berat R-134a hal ini sesuai dengan nilai kerapatan (density) refrigeran nhidrokarbon
lebih kecil dari refrigern R-134a. Berikutnya suhu pembekuan terendah yang dicapai oleh
MC-134 lebih rendah dibandingkan dengan R-134a hal ini ada kesesuaian dengan parameter
enthalpy refrigeran hidrokarbon lebih besar dari R-134a sehingga menghasilkan efek
refrigerasi pada evaporator lebih besar dibandingkan R-134a. Dari pengukuran konsumsi arus
listrik, terlihat bahwa dengan MC-134 diperoleh penurunan sebesar 18 % hal ini menunjukan
bahwa kompresor bekerja lebih ringan karena berat bahan MC-134 lebih sedikit dari R-234a
dan tekanan pada sisi kondensor lebih rendah sehingga kompresor cukup membangun
tekanan dibawah tekananya R-134a.
KESIMPULAN DAN SARAN

105

TORSI, Volume XII, No. 1, Januari 2014

Berdasarkan analisis refrigeran dengan melakukan perbandingan karakteristik


refrigeran sintetik halokarbon R-134a terhadap refrigeran hidrokarbon campuran R-290/R600a yang datanya diambil dari prototipe sistem pendingin pembeku air, dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a. Kinerja refrigeran yang dihasilkan dari aplikasi pada suatu sistem pendingin dipengaruhi
oleh karakteristik refrigeran yang merupakan sifat bawaan dari material apakah berasal
dari bahan alam atau bahan sintetik, seperti enthalpy, panas jenis, kalor jenis,
konduktivitas termal dan viskositas refrigeran.
b. Kinerja refrigeran juga tergantung kepada sistem kompresi uap yang dirangkai menjadi
suatu siklus tertutup, terutama pada kapasitas dari tiap komponen utama yaitu : kompresor,
kondensor, katup ekspansi dan evaporator
c. Komponen sistem pendingin yang digunakan dalam penelitian disini dirakit dengan
mengadopsi sistem pada ruang pembeku pada kulkas sehingga menjadi suatu prototipe
yang memiliki kemampuan pendinginan sampai membekukan air dalam hal ini dengan R134a sampai 17 oC dengan sample MC-134 sampai 18,8 oC.
d. Dengan kinerja pembekuan yang lebih baik, penggunaan refrigeran hidrokarbon sample
MC-134 diperoleh penghematan energi sebesar 18% dibandingkan saat sistem
menggunakan R-134a. Adanya penurunan konsumsi energi ini sebagai pengaruh dari
adanya perbedaan karakteristik refrigeran.
SARAN
a. Untuk mendapatkan ketelitian data dengan memperkecil pengaruh komponen yang ada
dalam rangkaian siklus tertutup kompresi uap, maka diperlukan isolasi pada bagian-bagian
penghubung antar komponen, yaitu antara kompresor dan kondensor, antara kondensor
dan katup ekspansi, antara katup ekspansi dengan evaporator dan antara evaporator drngan
kompresor.
b. Untuk memperkecil pengaruh udara sekeliling, maka unit sistem pendingin pembeku air
agar dimasukan ke dalam ruang kondisi supaya udara sekeliling alat dijaga stabil pada
kondisi tertentu yang sama pada waktu pengambilan data R-134a maupun data MC-134.
DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar, W, 1986, Penyegaran Udara, PT. Pradnya Paramita, Bandung.
Carrier Air Conditioning Comp., 1965, Handbook of Air Conditioning System Design,
McGraw- Hill Book Co., New York.
Colbourne Daniel, 2010, Guidlines for the safe use of hydrocarbon refrigerants, GTZ

106

Analisis Karakteristik Refrigeran .................................. (Tatang Hidayat)

Proklima,Germany.
Cool Concerns., April 1999, Safe Conversion and Servicing Practices for Refrigeration
Appliances using hydrocarbon Refrigerants, Manual for Safe Conversionand
Servicing of Domestic and Commercial appliances, United Kingdom.
Dossat, Roy J., 1978, Principles of Refrigeration, 2
York.

nd

edition, John Willey and Sons, New

J.P. Holman, 1976, Heat Transfer, fourth edition, McGraw-Hill Kogakusha, Ltd. Tokyo.
Kenneth Wark, Jr., 1995, Advanced Thermodynamics for Engineers, McGraw-Hill, Inc.,
Singapore.
Stocker, W.F. & Jones, J.W., 1982, Refrigeration and Air Conditioning, Mc Graw-Hill Book
Co, New Delhi.
Train The Trainer Workshop Participants Manual, 2013, Refrigerant Management Awarness
in Industrial and Commercial Application for Sustainable Energy Conservation,
RAISE Indonesia.

107

TORSI, Volume XII, No. 1, Januari 2014

108