Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

GLYCOL
DEHYDRATION

Disusun Oleh :
Alfi Septian
6513010006
LNG Academy 3
Tahun Ajaran 2014/2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Glycol Dehydration ini tepat pada waktunya.
Makalah ini berisikan tentang glycol, sifat-sifatnya, penanganannya, jenis-jenisnya,
serta penggunaannya sebagai dessicant pada dehydration unit. Selain itu, makalah ini akan
menjelaskan mengenai kelebihan dan kekurangan dehydration unit dengan menggunakan
glycol.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat berupa informasi yang dapat
menambah pengetahuan kiran semua khususnya mengenai Glycol Dehydration Unit.
Penulis menyadari betul bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga selesai. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Aamiin.

Bontang, 30 September 2014

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN DEPAN.....i
KATA PENGANTAR...............ii
DAFTAR ISI............iii
BAB I PENDAHULUAN
I.I

Latar Belakang...1

I.II

Rumusan Masalah..........2

I.III

Tujuan....2

BAB II PEMBAHASAN
II.I

Glycol....3

II.II

Glycol Dehydration...6

II.III

Komponen-Komponen Sistem Sirkulasi Glikol..10

II.IV

Masalah-Masalah yang Mungkin Muncul...13

BAB III PENUTUP


III.I

Kesimpulan..15

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
I.I LATAR BELAKANG
Dalam beberapa dekade terakhir ini, perkembangan eksplorasi dan pengolahan gas alam
berkembang sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor

seperti semakin

berkurangnya cadangan minyak bumi karena telah di eksplorasi besar-besaran dalam jangka
waktu yang panjang. Selain itu, semakin meningkatnya kesadaran manusia terhadap keadaan
lingkungan sehingga diperlukan alternative bahan bakar yang lebih ramah lingkungan atau
tidak menyebabkan polusi yang signifikan terhadap lingkungan.
Gas alam adalah bahan bakar yang sangat ramah lingkungan karena unsur penyusunnya
merupakan hidrokarbon-hidrokarbon ringan yang tentunya memiliki rantai karbon yang lebih
sedikit sehingga hasil pembakaran akan memproduksi emisi yang lebih kecil pula. Gas alam
ini kebanyakan diolah menjadi LNG (Liqufied Natural Gas) yang sebagian besar terdiri dari
Methane (>90%). Gas alam atau Natural Gas didapat dari hasil pengeboran sumur-sumur gas
dan kemudian dijadikan feed gas dalam pengolahan LNG oleh pabrik-pabrik LNG seperti
Badak LNG, Tangguh LNG, Qatar LNG, Snohvit LNG, dan lain-lain.
Pengolahan LNG dilakukan melalui beberapa tahap yaitu purifikasi/pemurnian,
fraksinasi/distilasi, dan liquefaction/pencairan. Pada makalah ini, fokus pembahasan kami
adalah proses purifikasi. Proses ini bertujuan unuk menghilangkan zat-zat pengotor feed gas
yang tidak diinginkan salah satunya adalah H2O atau air baik dalam bentuk liquid maupun
vapor. Air perlu dihilangkan agar tidak mengganggu proses pencairan yang berada pada
kondisi suhu cryogenic atau suhu dingin yang ekstrim yaitu mencapai -160 derajat Celsius
sehingga menyebabkan air membeku dan menyumbat pipa-pipa proses. Proses penghilangan
air ini biasanya disebut dengan dehydration.
Dehydration dilakukan dengan menggunakan desiccant, yaitu bahan yang mampu
menyerap air seperti molecular sieve (digunakan di Badak LNG) dan glycol. Molecular sieve
merupakan desiccant berwujud padatan maka disebut adsorbent. Sedangkan glycol
merupakan desiccant berwujud liquid maka disebut absorbent. Selanjutnya, kami akan
memaparkan mengenai dehydration unit menggunakan glycol pada bab pembahasan.

I.II RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa itu glycol ?
2. Bagaimana proses dehydration dengan menggunakan glycol ?
3. Apa saja komponen-komponen yang diperlukan dalam sirkulasi glikol beserta
fungsinya ?
4. Apa saja masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam sistem glycol dehydration ?
I.III TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Mengetahui apa itu glycol, sifat-sifatnya, penanganannya, jenis-jenisnya.
2. Mengetahui proses dehydration dengan menggunakan glycol.
3. Mengetahui apa saja komponen-komponen yang digunakan untuk sirkulasi glikol
dalam proses dehidrasi ini.
4. Mengetahui masalah-masalah yang mungkin muncul dalam proses glycol
dehydration.

BAB II
PEMBAHASAN

II.I GLYCOL
Glycol (dalam bahasa Indonesia ditulis Glikol) adalah bahan kimia yang masih
merupakan keluarga dari alkohol. Dalam proses industri khususnya pengolahan gas, glikol
digunakan sebagai desiccant untuk menyerap kandungan air yang terdapat dalam feed gas.
Ada 4 jenis glikol yang umum digunakan dalam proses industri yaitu Triethylene Glycol
(TEG), Diethylene Glycol (DEG), Ethylene Glycol (MEG). Namun yang paling banyak
digunakan adalah Triethylene Glycol. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai
masing-masing glikol tersebut.
1. Triethylene Glycol (TEG)
TEG juga bisa disebut Triglycol adalah cairan kental yang tidak berwarna,
tidak berbau, transparan, memiliki volatilitas rendah, dan larut dalam air.

TEG

memiliki rumus molekul HOCH2CH2OCH2CH2OCH2CH2OH (C6H14O4). Pada kondisi


normal, tidak ada bau yang terdeteksi, namun pada kondisi konsentrasi vapor yang
tinggi, akan sedikit tercium bau manis. TEG memiliki karakteristik yang cenderung
sama dengan jenis glikol lainnya. Ada banyak kegunaan TEG yang dapat
dimanfaatkan dalam dunia industri, salah satunya adalah sebagai dessicant dalam
natural gas dehydration karena TEG memiliki sifat higroskopis yaitu mampu
menyerap air.
TEG memiliki properties sebagai berikut :
Properties
Temperatur autoignition
Titik didih (Patm)
Tekanan kritis
Temperatur kritis
LFL
UFL
Flash point
Titik beku
Berat molekul
Kelarutan dalam air pada 20 C
Specific gravity 20 C
Tekanan uap pada suhu 20 C

Nilai
349 C
288 C
3.313,3 kPa
440 C
0,9 % (V)
9,2 % (V)
191 C
-4,3 C
150,17 g/mol
100 %
1,1255
<0,001 kPa

Glikol adalah bahan kimia yang stabil, tidak korosif, dan memiliki flash point
yang tinggi. Pada kondisi normal, glikol dapat disimpan di dalam tangki yang terbuat
dari baja dengan campuran karbon yang rendah atau disebut mild steel. Jika
penyimpanan dilakukan dalam jangka waktu yang panjang disarankan menggunakan
3

tangki yang terbuat dari stainless steel dan aluminium. Tidak disarankan
menggunakan material zink, tembaga, ataupun alloy tembaga karena dapat
menyebabkan perubahan warna pada glikol.
Tidak perlu menginjeksikan gas inert pada ruang kosong di tangki
penyimpanan, karena pada umumnya glikol memiliki titik didih yang tinggi dan vapor
di dalam tangki relative bersifat nonflammable. Jika diperlukan sedikit kandungan air,
konsisten dengan waktu penyimpanan yang lama, penyelimutan dengan gas nitrogen
dapat digunakan untuk mengeluarkan moisture. Penyelimutan dengan gas nitrogen
juga oksidasi. Ada juga cara alternative yang dapat digunakan yaitu dengan
meletakkan dessicant pada ventilasi tangki untuk mencegah uap air masuk ke dalam
tangki.
2. Diethylene Glycol (DEG)
Diethylene Glycol atau dapat disingkat menjadi DEG adalah bahan kimia
organik dengan rumus molekul (HOCH2CH2)2O (C4H10O3). DEG bersifat tidak
berbau, tidak berwarna, tidak beracun, dan bersifat higroskopis. DEG dapat larut
dalam air, alcohol, eter, aseton, dan etilen glikol. DEG banyak digunakan sebagai
solvent.
DEG diproduksi melalui hidrolisis parsial dari etilen oksida. Tergantung pada
kondisinya, DEG dan glikol yang lainnya diproduksi dalam jumlah yang berbedabeda. Biasanya industri glikol lebih memaksimalkan produk MEG karena memiliki
banyak kegunaan dalam berbagai bidang.
DEG dapat digunakan antara lain sebagai unsaturated polyester resins, sebagai
pelumas, polyester polyol, plasticizer, dan solvent. Dalam industri pengolahan gas,
DEG dapat digunakan sebagai dessicant pada dehydration unit.
Berikut ini adalah properties atau karakteristik dari Diethylene Glycol.
Properties
Titik didih (Patm)
Flash point
Titik beku (Patm)
Berat molekul
pH
Specific gravity (20/20 C)
Kelarutan dalam air

Nilai
245 C
154 C
-11 C
106,12 g/mol
7
1,12
>10%

Dalam hal penyimpanan dan penanganan DEG kurang lebih sama saja dengan
TEG yang telah dijelaskan sebelumnya.
3. Ethylene Glycol (MEG)
Nama sebenarnya dari Ethylene Glycol adalah Monoethylene Glycol namun
mono biasanya tidak disebut karena artinya satu dan tidak berpengaruh terhadap
susunan kimianya. Oleh karena itu Ethylene Glycol disingkat menjadi MEG. MEG
memiliki rumus molekul HOCH2CH2OH (C2H6O2). MEG adalah cairan yang tidak
berwarna, tidak berbau, memiliki volatilitas dan viskositas yang rendah, serta bersifat
higroskopis. MEG juga larut dalam air dan cairan organik lainnya. Ethylene glycol
dapat digunakan sebagai antifreeze karena kemampuannya untuk menurunkan titik
beku ketika dicampur dengan air. MEG juga dapat digunakan sebagai absorber air
pada proses dehydration natural gas.
Berikut adalah tabel properties dari Ethylene glycol.
Properties
Temperatur autoignition
Titik didih (Patm)
Titik beku (Patm)
Tekanan kritis
Temperatur kritis
Flash point
Berat molekul
Kelarutan dalam air (20 C)
Specific gravity (20/20 C)
Densitas vapor (udara = 1)
Tekanan uap (20 C)

Nilai
427 C
197,1 C
-13 C
8.200 kPa
446,85 C
137,8 C
67,07 g/mol
100%
1,1153
2.1
0,0075 kPa

Penanganan dan penyimpanan MEG tidak jauh berbeda dengan TEG dan DEG
sebagaimana yang telah dipaparkan di atas.
II.II GLYCOL DEHYDRATION
Dehidrasi adalah proses penghilangan moisture atau kandungan air dari natural gas
menggunakan dessicant. Dari keempat jenis glycol yang telah dijelaskan sebelumnya, jenis
glikol yang paling baik dan paling banyak digunakan sebagai dessicant dalam proses
dehidrasi natural gas adalah TEG. Adapun pemilihan TEG sebagai dessicant ini didasarkan
pada beberapa faktor sebagai berikut :

TEG lebih mudah diregenerasi hingga mencapai kemurnian yang tinggi


5

Vapor losses lebih rendah


Biaya operasi lebih kecil

Dalam proses glycol dehydration, TEG biasanya hanya disebut glikol, maka dalam
pembahasan selanjutnya penulis akan menggunakan istilah ini untuk merujuk pada
Triethylene glycol.
1. Deskripsi Proses Glycol Dehydration

Feed gas masuk ke inlet separator yang menjadi satu dengan glycol contactor
pada bagian bawahnya. Gas umpan atau feed gas dialirkan ke dalam contactor untuk
agar terjadi kontak antara gas dengan glikol. Maka glikol akan menyerap kandungan
air yang terdapat dalam feed gas. Feed gas dialirkan melalui bagian bawah kolom
sedangkan glikol dialirkan melalui bagian atas sehingga gas akan mengalir ke bagian
atas kolom dan sebaliknya glikol akan mengalir ke bagian bawah kolom. Glycol
Contactor atau adsorber dapat berisi tray, random packing, ataupun structured
packing.
Jika kolom tersebut menggunakan tray, maka kolom akan terdiri dari bubble
cap tray. Lean glikol dipompa ke bagian atas kolom, yaitu di atas tray yang paling atas
dan di bawah mist eliminator. Tray-tray tersebut akan tergenangi oleh glikol yang
dialirkan dari atas dan glikol akan terus turun ke tray di bawahnya. Feed gas yang
dialirkan dari bawah akan naik ke atas melalui bubble cap pada tray dan pada saat
6

itulah terjadi kontak antara gas dengan glikol yang tergenang pada permukaan tray.
Glikol bersifat sangat higroskopis sehingga kebanyakan kandungan air yang terdapat
di dalam gas akan diserap oleh glikol. Selanjutnya glikol yang telah menyerap
kandungan air tersebut atau disebut rich glycol mengalir dari contactor melalui liquid
level control valve dan menuju ke kolom regenerasi atau regenerator. Sedangkan gas
yang telah diserap kandungan airnya akan keluar di bagian atas contactor dengan
melalui mist eliminator dan biasanya sudah memenuhi spesifikasi dari kandungan air
yang ditentukan.
Rich glycol dialirkan menuju heat exchange coil di bagian atas reboiler yang
disebut Still. Pertukaran panas menghasilkan reflux untuk pemisahan air dari glikol di
bagian atas still dan juga memanaskan rich glycol. Pada beberapa instalasi, rich glycol
dari contactor dialirkan menuju flash tank terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk
memisahkan hidrokarbon yang mungkin ikut terserap pada saat berada di contactor.
Selanjutnya, glikol menuju ke still dengan melalui filter dan heat exchanger terlebih
dahulu, perpindahan panas dilakukan dengan glycol yang telah diregenerasi atau lean
glycol. Heat exchanger seperti ini biasanya disebut dengan Cross Exchanger.
Kemudian rich glycol tersebut dialirkan melalui packed section di dalam still menuju
reboiler, dimana rich glycol dipanaskan pada temperature tinggi pada tekanan sekitar
tekanan atmosfer. Pada temperature tinggi, glikol kehilangan kemempuannya untuk
menahan air, maka air akan menguap dan keluar melalui bagian atas still. Glikol yang
telah diregenerasi mengalir menuju surge tank dan selanjutnya akan melalui cross
exchanger. Setelah keluar dari cross exchanger, glikol dipompa menuju ke contactor
kembali. Sebelum masuk ke contactor, glikol akan melalui heat exchanger dan
bertukar panas dengan dry gas yang keluar dari contactor.
2. Fungsi Inlet Separator
Equipment pertama yang dilewati gas dalam proses glycol dehydration adalah
inlet separator. Separator ini terdapat di bagian bawah contactor. Fungsinya adalah
untuk memisahkan liquid kondensat ataupun padatan-padatan yang mungkin
terkandung di dalam gas. Jika feed gas tidak memiliki kondensat (cairan hidrokarbon
berat), separator yang digunakan adalah separator 2 fasa. Jika feed gas adalah rich
gas, yang mengandung kondensat dan juga air, maka harus dipasang separator 3 fasa.
Separator ini biasanya dilengkapi dengan mist eliminator pada bagian atasnya.
Sehingga pada saat gas bergerak ke atas dan melalui mist eliminator, droplet-droplet
7

kecil yang mungkin terkandung di dalam gas akan tertahan di mist eliminator dan
terkumpul menjadi droplet besar sehingga akan jatuh ke dalam liquid yang ada di
bagian bawah separator.
Inlet separator ini juga dilengkapi dengan liquid level control, mengatur
keluarnya akumulasi liquid pada separator melalui level control valve. Jika level
liquid di dalam separator melebihi batas yang telah ditentukan, maka alarm akan
berbunyi atau akan terjadi shutdown secara otomatis.
3. Fungsi Contactor atau Absorber
Contactor adalah sebuah vessel yang di dalamnya terjadi perpindahan massa
air dari gas ke

glikol. Gar terjadi perpindahan massa yang efektif dan efisien

dibutuhkan luas area yang besar antara gas dan glikol liquid. Hal ini dilakukan dengan
menambahkan konfigurasi equipment internal yang spesifik, seperti instalasi tray,
random packing, ataupun structured packing.
Tray yang paling umum digunakan dalam aplikasi ini adalah jenis bubble cap
tray. Gas mengalir dari bawah masing-masing tray melewati bubble cap dan
membentuk gelembung-gelembung kecil gas di glikol liquid yang mengalir dengan
arah yang berlawanan yaitu dari bagian atas masing-masing tray. Setelah melewati
satu tray, glikol mengalir ke bawah menuju tray selanjutnya melalui celah yang tidak
terpenuhi oleh tray. Gelembung-gelembung gas memberikan luas area yang besar
yang diperlukan pada contactor untuk melakukan dehidrasi hingga spesifikasi yang
telah ditentukan. Dalam prakteknya, diinstal sekitar 6 hingga 10 tray di dalam
contactor dengan jarak antar tray adalah 24 inchi. Namun ada juga desain yang
menginstal sekitar 12 sampai 14 tray di dalam contactor dengan tujuan
meminimalisasi sirkulasi glikol.
Structured packing terdiri atas susunan corrugated steel, dimana glikol
mengalir ke bawah dalam bentuk lapisan tipis. Gas mengalir ke atas melewati
structured packing dan berkontak dengan luas area yang besar dari glikol. Hal ini
memberikan efisiensi perpindahan massa yang sangat baik.
Selain structured packing, random packing juga dapat digunakan pada
contactor dengan fungsi yang sama yaitu memberikan luas area yang besar terhadap
proses perpindahan massa.
4. Fungsi Reboiler

Rich glikol yang keluar dari absorber harus diregenerasi hingga murni kembali
sehingga dapat disirkulasikan lagi ke absorber atau contactor untuk melanjutkan
fungsi dehidrasinya. Regenerasi ini dilakukan di reboiler dan kolom still yang ada di
atas reboiler.
Rich glycol di panaskan terlebih dahulu di cross exchanger dengan glikol yang
telah dirgenerasi dan masuk ke dalam kolom regenerasi dalam kondisi tekanan
atmosfer. Dengan memanaskan glikol di still dan reboiler hingga mendekati titik
didihnya, glikol tersebut akan melepaskan semua kandungan air yang telah diserap
sebelumnya kemudian didinginkan agar dapat digunakan kembali.
5. Dewpoint (Titik Embun) Depression dari Air
Dewpoint air adalah temperature pada tekanan tertentu dimana natural gas
jenuh oleh air. Gas alam yang dihasilkan oleh suatu pabrik biasanya memiliki
spesifikasi kandungan air maksimum yang terdapat di dalam gas, maka diperlukan
penentuan temperature dewpoint pada tekanan operasi di contactor. Dewpoint
depression adalah penurunan temperatur dewpoint dari temperatur separator menuju
temperatur dimana kandungan air memenuhi speifikasi yang diinginkan pada tekanan
separator. Sebagai contoh, gas memasuki contactor pada suhu 90 F dengan tekanan
1000 psia, sedangkan spesifikasi kandungan air maksimumdari treated gas adalah 4
lbm/MMscf. Maka dewpoint depression dari air adalah :
Kandungan air pada tekanan 1000 psia dan suhu 90 F adalah 45 lbm/MMsfc
Temperatur dewpoint untuk 4 lbm/MMscf pada 1000 psia adalah 18 F
Kandungan air yang harus dihilangkan adalah 41 lbm/MMcf
Maka dewpoint depression dari air adalah 90 F 18 F = 72 F
6. Regenerasi Glikol
Banyaknya kandungan air yang dihilangkan dari gas oleh glikol, atau
penurunan dari dewpoint temperature air dalam gas, bergantung pada kondisi sebagai
berikut :
Kemurnian glikol
Rate sirkulasi glikol
Jumlah tray atau ketinggian packing
Banyaknya kandungan air dari feed gas, yang bergantung pada tekanan dan
temperatur gas inlet tersebut.
Parameter-parameter di atas harus dipertimbangkan dalam desain contactor.
Semakin tinggi kemurnian glikol, semakin efektif pula penurunan dewpoint
9

temperatur. Jika kemurnian glikol tidak mencapai target, meningkatkan rate sirkulasi
glikol juga tidak akan bisa mencapai target dehidrasi yang diinginkan. Oleh karena
itu, sangat diperlukan glikol dengan kemurnian tinggi dalam proses dehidrasi ini.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemurnian
glikol. Salah satunya adalah dengan mengalirkan sedikit stripping gas ke system
regenerasi. Stripping gas adalah natural gas yang dialirkan ke glikol panas. Flow dari
gas ini biasanya diatur secara manual dengan valve tertentu. Dengan mengontakkan
glikol dengan natural gas, kandungan air yang masih terdapat di dalam glikol akan
berpindah ke natural gas sehingga kemurnian glikol akan bertambah tinggi.
Stripping gas yang dialirkan ke glikol di bagian regenerasi di buang ke udara
atmosfer bersamaan dengan uap air yang dilepaskan.

II.III KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM SIRKULASI GLIKOL


Dalam sistem sirkulasi glikol pada dehydration unit diperlukan peralatan-peralatan
antara lain pompa, heat exchanger, filter, surge drum, strainer, flash tank, dan piping. Berikut
adalah pembahasan lebih lanjut mengenai alat-alat di atas.
1. Pompa Sirkulasi Glikol
Sirkulasi glikol dilakukan dengan menggunakan pompa reciprocating. Pompa
tersebut digerakkan dengan :
Motor listrik
Tekanan natural gas
Rich glikol bertekanan tinggi yang keluar dari contactor
Secara umum, pompa yang digunakkan digerakkan menggunakan motor pompa.
Namun ada beberapa instalasi yang menggunakan energy dari natural gas ataupun
glikol sebagai penggerak pompa. Glikol yang keluar dari contactor dengan sedikit
kandungan gas bertekanan memiliki energy yang cuku tinggi untuk menggerakkan
pompa. Rate pompa yang dibutuhkan biasanya tidak terlalu besar. Masalah utama
dengan pompaglikol adalah adanya kebocoran glikol sehingga mengganggu kerja
pompa.
2. Heat Exchanger

10

Glikol harus dalam keadaan dingin ketika memasuki contactor dan dipanaskan
hingga mendekati titik didihnya dalam proses regenerasi, glikol ini dipanaskan dan
didinginkan secara berkelanjutan. Untuk meminimalisir penggunaan energy pada
proses regenerasi glikol dengan temperature tinggi, heat exchanger ditambahkan
dalam proses sirkulasi glikol ini. Heat exchanger biasanya diletakkan pada lokasilokasi sebagai berikut :

Pada bagian atas still


Cross exchanger antara rich dan lean glikol
Setelah gas keluar dari glikol contactor

Pada beberapa kasus, dibutuhkan heat exchanger tambahan untuk mendinginkan lean
glikol sebelum masuk ke contactor dengan menggunakan udara. Temperatur glikol
harus berada beberapa derajat saja di atas temperature gas untuk meningkatkan
penyerapan air oleh glikol. Jika suhu glikol terlalu tinggi maka akan mengurangi
transfer kandungan air dari gas ke glikol, dan titik embun air tidak akan didapatkan.
Hal ini biasanya adalah masalah utama ketika pengoperasian pada musim panas. Pada
keadaan lingkungan yang panas, suhu glikol secara otomatis juga akan meningkat dari
suhu normalnya. Biasanya, dengan mendinginkan glikol menggunakan dried gas
melalui double pipe exchanger atau melalui coil di bagian atas contactor, suhu dari
glikol akan berada sedikit di atas suhu gas yang keluar dari contactor.
3. Filter
Sangat penting untuk menjaga glikol dalam kondisi semurni mungkin. Karena
itulah, filter harus selalu ada pada system sirkulasi glikol. Filter ini biasanya
merupakan filter partikulat dan filter karbon.
Filter partikulat digunakan untuk menjerat padatan dengan ukuran diameter 5
mikrometer. Padatan-padatan ini bisa muncul dari korosi yang terdapat pada sistem
sirkulasi tersebut. Filter karbon didesain untuk menghilangkan pengotor-pengotor
terlarut, seperti oli kompresor dan kondensat dari larutan glikol. Filter partikulat
biasanya dipasang di bagian rich glikol dan dioperasikan sepanjang waktu. Filter
karbon kebanyakan di bypass, jika tidak ada hidrokarbon yang larut dalam glikol.
Pengotor-pengotor yang terdapat pada glikol dapat menyebabkan terjadinya foaming
pada contactor ataupun still.
4. Surge Drum

11

Karena glikol yang disirkulasikan tidak selalu mengalir pada rate yang sama
selama sistem berjalan, maka dibutuhkan sebuah vessel, atau disebut surge drum
untuk mencegah terjadinya surge pada sistem sirkulasi. Reboiler selalu berisi liquid
dengan level di atas fire tube. Level glikol di contactor atau flash tank cenderung akan
selalu tetap, walaupun mungkin terjadi sedikit perubahan. Maka, dibutuhkan sebuah
vessel yang dapat menampung perubahan sementara dari aliran sirkulasi.
Surge drum biasanya terdapat di bawah reboiler. Level glikol pada surge drum
sangat penting karena di dalam surge drum ada coil pemanas yang betujuan
meningkatkan kemurnian glikol. Level glikol pada surge drum harus berada sekitar
2/3 level. Jika level glikol pada surge drum lebih rendah dari level normal, ini
mengindikasikan adanya masalah seperti :
Ada kehilangan atau loss dari glikol dengan treated gas
Loss glikol dengan uap air yang keluar dari still
Kebocoran pada pipa
Tertumpuk pada salah satu vessel
5. Strainer
Strainer harus selalu dipasang pada upstreamdari suction pompa. Strainer ini
berfungsi untuk memastikan bahwa tidak ada partikel-partikel solid yang masuk ke
pompa. JIka ada partikel padat yang masuk ke pompa maka akan tertumpuk di suction
atau valve discharge dan mencegah pompa untuk memompa pada efisiensi
maksimum.
6. Flash Tank
Ketika gas dan glikol berkontak di contactor, kemungkinan akan nada natural gas
yang terbawa oleh glikol. Flash tank ini bertujuan untuk memisahkan natural gas dari
glikol tersebut. Ketika glikol sampai di flash tank, glikol sudah dipanaskan di still dan
tekanan di flash tank lebih rendah dari tekanan di contactor. Karena perbahan kondisi
tekanan dan temperature ini, natural gas yang terbawa oleh glikol akan terpisahkan
dari glikol.
Glikol flash tank juga dapat didesain sebagai separator tiga fasa untuk membantu
memisahkan kondensat yang mungkin terbawa oleh glikol. Separator ini juga akan
meningkatkan jangka waktu pemakaian filter pada downsiream.
7. Piping

12

Semua peralatan pada sistem sirkulasi glikol ini dihubungkan dengan pipa yang
terbuat dari baja. Glikol adalah liquid yang mudah bocor jika melalui pipa dengan
sambungan flense. Karena itu lebih baik menggunakan pipa dengan sambungan las
pada sistem ini.
II.IV MASALAH-MASALAH YANG MUNGKIN MUNCUL
Berikut ini adalah masalah-masalah yang mungkin muncul pada sistem dehidrasi glikol.
1. Foaming
Foaming adalah masalah yang serius dan paling sering muncul. Alasan terjadinya
foaming biasanya susah untuk ditentukan. Namun, jika glikol tidak di filter secara
berkelanjutan, pengotor-pengotor tertentu dapat menjadi penyebab terjadinya
foaming. Salah satu penyebab umum terjadinya foaming ini adalah adanya kandungan
hodrokarbon liquid atau kondensat di dalam glikol. Maka, inlet separator diharapkan
dapat memisahkan gas dengan kondensat dengan baik sebelum gas masuk ke
contactor.
2. Korosi
Korosi biasanya disebabkan oleh degradasi produk pada glikol, bisa juga
disebabkan karena pengotor-pengotor yang bersifat korosif yang terikut oleh glikol.
Sehingga sekali lagi sangat penting untuk menjaga kemurnian glikol dalam proses
dehidrasi ini.
3. Tidak Menemui Dewpoint Air
Ada beberapa alasan mengapa tidak didapatkan penurunan dewpoint air yang
diinginkan. Langkah pertama adalah dengan mengecek temperature dewpoint air
dengan dewpoint tester. Dewpoint air yang tinggi bisa disebabkan oleh :
Temperatur gas inlet lebih tinggi dari desain
Tekanan gas inlet lebih rendah dari desain
Kurangnya sirkulasi glikol disebabkan oleh rendahnya rate pompa atau
level glikol yang rendah pada surge drum, check valve pada suction atau

discharge pompa tidak berfungsi, atau strainer pada suction tersumbat


Kurangnya regenerasi glikol karena temperature reboiler yang terlalu
rendah, kandungan air yang tinggi pada inlet separator membawa air
masuk ke contactor, kebocoran pada cross exchanger, dan kekurangan

stripping gas.
Terjadinya foaming di contactor
13

4. Pengaruh Terhadap Lingkungan


Pada saat glikol menyerap air di contactor, sebenarnya tidak hanya air saja yang
terserap, tetapi juga menyerap hidrokarbon dan gas asam. Kekuatan penyerapan glikol
terhadap hidrokarbon paraffin, seperti metana, etana, dan lainnya tidak terlalu besar.
Namun, hidrokarbon aromatic seperti benzene, toluene, ethylbenzene, dan xylene
(BTEX) dangat mudah terserap. Yang menjadi masalah adalah zat-zat tersebut bersifat
karsinogenik dan menyebabkan polusi pada udara sekitar.

BAB III
PENUTUP
III.I KESIMPULAN
Glikol adalah bahan kimia yang merupakan jenis dari alcohol. Ada 4 macam glikol
yang biasa digunakan dalam industry yaitu TEG, EG, DEG, dan TREG. Semua jenis glikol
tersebut bisa digunakan sebagai dessicant dalam proses dehidrasi gas alam atau natural gas.
Namun jenis glikol yang paling baik dan paling banyak digunakan sebagai dessicant adalah
TEG karena beberapa faktor seperti yang telah dibahas sebelumnya.
Proses glycol dehydration adalah proses pemisahan kandungan air yang terdapat dalam
natural gas menggunakan glikol. Feed gas dikontakkan dengan glikol dalam kolom yang
disebut contactor atau absorber sehingga terjadi perpindahan massa air antara gas dengan
glikol. Treated gas akan keluar menuju proses selanjutnya melalui bagian atas contactor,
sedangkan glikol akan diregenerasi dan disirkulasikan kembali untuk melanjutkan fungsinya
sebagai dessicant.
Peralatan-peralatan yang diperlukan dalam proses glycol dehydration ini antara lain
inlet separator, glycol contactor, heat exchanger, kolom still, reboiler, surge drum, flash tank,
pompa, filter, dan strainer.
Masalah-masalah yang biasanya muncul dalam proses ini adalah adanya korosi,
terbentuknya foaming, sulit mendapatkan temperatur dewpoint, dan mengakibatkan polusi
udara sekitar.

14

DAFTAR PUSTAKA
Triethylene Glycol. The DOW Chemical Company.
Technical Bulletin Diethylene Glycol (DEG). Huntsman Corporation.
Ethylene Glycol Product Guide. MEGlobal.
Material Safety Data for: Tetraethylene Glycol. Megaloid.
Triethylene Glycol. From http://en.wikipedia.org/wiki/Triethylene_glycol
Duethylene Glycol. From http://en.wikipedia.org/wiki/Diethylene_glycol
Ethylene Glycol. From http://en.wikipedia.org/wiki/Ethylene_glycol
Dehydration with Glycol. From http://petrowiki.org/Dehydration_with_glycol