Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Periode filsafat Yunani merupakan periode yang sangat penting dalam sejarah peradaban
manusia, karena pada waktu ini terjadi perubahan pola fikir manusia dari mitosentris menjadi
logosentris. Perubahan pola fikir yang kelihatan sangat sederhana tetapi sebenarnya memiliki
implikasi tidak sederhana. Alam yang selama ini ditakuti dan dijauhi kemudian didekati
bahkan dieksploitasi. Manusia yang sebelumnya pasif menjadi aktif, sehingga alam digunakan
sebagai objek penelitian. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat.
Sejak zaman ini filsafat terus berkembang, mulai dari masa kejayaan, kemunduran, dan
kebangkitannya kembali.
Dalam sejarahnya filsafat mengalami perkembangan pada abad modern, yang diawali
terlebih dahulu dengan adanya zaman Renaissance, yaitu peralihan abad pertengahan ke abad
modern. Zaman ini terkenal dengan era kelahiran kembali kebebasan manusia dalam
berfikir.Sejak zaman ini kebenaran filsafat dan ilmu pengetahuan didasarkan pada
kepercayaan dan kepastian intelektual (sikap ilmiah) yang kebenarannya dapat dibuktikan
berdasarkan metode, perkiraan dan pemikiran yang dapat diuji.Wacana filsafat yang menjadi
topik utama pada abad modern khususnya abad ke-17 adalah persoalan epistemologi.
Pertanyaan pokok dalam bidang ini adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan
yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka dalam abad ke-17 muncullah dua aliran filsafat yang
memberikan jawaban berbeda, bahkan saling bertentangan.Aliran tersebut adalah aliran
rasionalisme dan empirisme. Kerjasama antara beberapa aliran dari rasionalisme dan
empirisme lahirlah metode sains dan dari metode inilah lahir pengetahuan sains.
Sejarah filsafat ilmu ditandai oleh perdebatan intens dua kutub mengenai bagaimana
sebuah teori ilmiah dibentuk, diterima, didukung dan dipertahankan oleh komunitas ilmiah.
Di satu kutub berdirilah para filsuf empiris yang mendukung gagasan falsifikasionisme dan
empirisme logis bagi pembentukan teori ilmiah. Di kutub ini ada Karl R. Popper yang
berpendapat bahwa pembentukan konsensus teori ilmiah dicapai melalui disetujuinya aturanaturan metodologis yang berperan sebagai algoritma yang 3 menentukan pilihan sebuah teori.1
Jika ditinjau dari segi konteks pemikiran, jelas bahwa metode ilmiah dipertahankan
sebagai tahap/langkah untuk mencapai pengetahuan dan teori ilmiah. Hanya saja, mengikuti
pandangan Popper, metode ilmiah tersebut tidak diaplikasikan secara deduktif, karena
peralihan dari yang partikular ke yang universal tidak sah secara logis. Dengan observasi
terhadap angsa-angsa putih, betapapun besar jumlahnya, orang tidak akan sampai pada
kesimpulan bahwa semua angsa berwarna putih, tetapi sementara itu cukup satu kali observasi
terhadap seekor angsa hitam untuk menyangkal pendapat tadi, demikian Karl R. Popper.
1 Yeremias Jena, Thomas Kuhn Tentang Perkembangan Sains dan Kritik Larry
Laudan, (Jakarta: Department of Ethics/Philosophy, Atma Jaya Catholic University,
2012).

Aplikasi metode ilmiah untuk mencapai teori dan hukum ilmiah dilakukan dengan
mengoperasikan asas falsifiabilitas atau falsifikasionisme. Asas ini menegaskan bahwa ciri
khas pengetahuan adalah dapat dibuktikan salah. Artinya, ciri khas pengetahuan ilmiah bukan
apakah pengetahuan tersebut dapat dipertahankan atau tidak, tetapi apakah dapat dibuktikan
salah atau tidak. Suatu pengetahuan ilmiah hanya bisa dipertahankan jika tahan terhadap
falsifikasi dan sebaliknya.2
Di kutub lain berdirilah para filsuf sains pasca empiris, salah satunya adalah Thomas S.
Kuhn yang menolak eksistensi metode algoritmik baku dalam perkembangan sains. Kuhn,
berpendapat bahwa sains berkembang bukan secara kumulatif tetapi secara revolusioner
ketika komunitas ilmiah meninggalkan paradigma ilmu yang selama ini diterima karena
ketidakmampuan paradigma menjawab persoalan-persoalan baru. Dengan demikian, ilmiah
tidaknya rangkaian teori-teori tersebut harus diuji dalam kerangka metodologi programprogram riset. Dapat terjadi bahwa dalam waktu yang sama ada program-program riset yang
saling bersaing tanpa ada jalan keluar. Dalam kasus ini, yang kemudian memenangi
persaingan adalah program riset yang mampu mengembangkan isi empiris lebih besar dan
derajat koroborasi empiris lebih tinggi.3
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Thomas S. Kuhn?
2. Bagaimana latar belakang pemikiran Thomas S. Kuhn?
3. Bagaimana perkembangan ilmu menurut Thomas S. Kuhn?
C. Tujuan Makalah
1. Mengetahui biografi Thomas S. Kuhn
2. Mengetahui latar belakang pemikiran Thomas S. Kuhn?
3. Mengetahui perkembangan ilmu menurut Thomas S. Kuhn?

2 Haryono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu
(Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991), 159.
3 Mikhael Dua, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Maumere: Penerbit Ledalero, 2007), 173175.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Singkat Thomas S. Kuhn
Thomas S. Kuhn dilahirkan di Cicinnati, Ohio pada tanggal 18 juli
1922. Dia mendapat gelar B.S di dalam ilmu fisika dari Harvard University
pada tahun 1943 dan M.S pada tahun 1946. Khun belajar sebagai
fisikawan namun baru menjadi pengajar setelah mendapatkan Ph.D dari
Harvard pada tahun 1949. Tiga tahunnya dalam kebebasan akademik
sebagai Harvard Junior Fellow sangat penting dalam perubahan
perhatiannya dari ilmu fisika kepada sejarah (dan filsafat)
ilmu. Dia
kemudian diterima di Harvard sebagai asisten profesor pada pengajaran
umum dan sejarah ilmu atas usulan presiden Universitas James Conant.
Setelah meninggalkan Harvard dia belajar di Universtitas Berkeley
di California sebagai pengajar di departemen filosofi dan sains. Dia
menjadi profesor sejarah ilmu pada 1961. Di Berkeley dia menuliskan
dan menerbitkan bukunya yang terkenal The Structure Of Scientific
Revolution pada tahun 1962. Pada tahun 1964 dia menjadi profesor
filsafat dan sejarah seni di Princeton pada tahun 1964-1979. Kemudian
di MIT sebagai professor filsafat hingga tahun 1991.
Pada tahun 1994 dia mewawancarai Niels Bohr sang fisikawan
sebelum fisikawan itu meninggal dunia. Pada tahun 1994, Kuhn
didiagnostik dengan kanker dari Bronchial tubes. Dia meninggal pada
tahun 1996 di rumahnya di Cambridge Massachusetts. Kuhn mendapat
banyak penghargaan di bidang akademik. Sebagai contohnya dia
memegang posisi sebagai Lowel lecturer pada tahun 1951, Guggeheim
fellow dari 1954 hingga 1955.
Karya Kuhn cukup banyak, namun yang paling terkenal dan
mendapat banyak sambutan dari filsuf ilmu dan ilmuan adalah The
Structure of Scientific Revolution, sebuah buku yang terbit pada tahun
1962, dan direkomendasikan sebagai bahan bacaan dalam kursus dan

pengajaran yang berhubungan dengan pendidikan, sejarah, psikologi,


riset dan sejarah serta filsafat sains.4
B. Latar Belakang Pemikiran Thomas S. Kuhn
Latar
belakang
pemikiran Kuhn
tentang
ilmu
dan
perkembangannya, merupakan respon terhadap adanya pandangan
Positivisme dan Popper. Positivisme menganggap pengetahuan
mengenai fakta objektif merupakan pengetahuan yang sahih, mereka
mengklaim bahwa kekacauan kaum idealis dengan berbagai pendekatan
metafisika yang digunakan dalam melihat realitas, karena bahasa yang
mereka pakai secara esensial tanpa makna, dan secara umum mereka
berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman dan
proses verifikasi dan konfirmasi eksperimen dari bahasa ilmiah
meruapakn langkah dan proses perkembangan ilmu. Sementara itu
popper berpendapat bahwa proses perkembangan ilmu menurutnya
harus berkemungkinan mengandung salah dengan proses yang disebut
falsifikasi ( proses eksperimental untuk membuktikan salah dari suatu
ilmu) dan refutasi (penyangkalan teori).
Kuhn menolak pandangan di atas, dia memandang ilmu dari
perspektif sejarah, dalam arti sejarah ilmu. Rekaman sejarah ilmu
merupakan titik awal pengembangan ilmu karena merupakan rekaman
akumulasi konsep untuk melihat bagaimana hubungan antara
pengetahuan dengan mitos dan takhayul yang berkembang. Sejarah
ilmu digunakan untuk mendapatkan dan mengkonstruksi wajah ilmu
pengetahuan dan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya terjadi. Hal-hal
baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi
pengembangan ilmu di masa berikutnya.
Perbedaan pendapat Kuhn dengan Popper adalah Kuhn lebih
mengekplorasi tema-tema yang lebih besar misalnyanya hakekat ilmu
baik dalam prakteknya yang nyata maupun dalam analisis kongkret dan
empiris. Jika Popper menggunakan sejarah ilmu untuk mempertahankan
pendapatnya, Kuhn justru menggunakan sejarah ilmu sebagai titik tolak
penyelidikannya. Berdasarkan pendapat Kuhn tersebut bisa dikatakan
bahwa filsafat ilmu harus berguru kepada sejarah ilmu, sehingga
seorang ilmuan dapat memahami hakikat ilmu dan aktivitas ilmiah yang
sesungguhnya.

4 Hidayati, dalam website blog http://blog.unsri.ac.id/hidayati/filsafat-ilmu/paradigmakuhn/mrdetail/29380, diakses pada hari kamis (09/04/2015), pukul 10.25 WIB

Thomas Samuel Kuhn mula-mula meniti karirnya sebagai ahli fisika,


tetapi kemudian mendalami sejarah ilmu. Lewat tulisannya, The
Structure of Scientific Revolutions, ia menjadi seorang penganjur yang
gigih yang berusaha meyakinkan bahwa titik pangkal segala
penyelidikan adalah berguru pada sejarah ilmu. Sebagai penulis sejarah
dan sosiolog ilmu, Kuhn mendekati ilmu secara eksternal. Kuhn dengan
mendasarkan pada sejarah ilmu, justru berpendapat bahwa terjadinya
perubahan-perubahan yang berarti tidak pernah terjadi berdasarkan
upaya empiris untuk membuktikan salah (falsifikasi) suatu teori atau
sistem, melainkan berlangsung melalui revolusi-revolusi ilmiah.
Kuhn memakai istilah paradigma untuk mengambarkan sistem
keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu.
Fokus pemikiran Kuhn menyatakan bahwa perkembangan sains berlaku
pada apa yang disebut paradigm ilmu. Menurut Kuhn paradigma ilmu
adalah suatu kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan
memahami alam, yang telah digunakan sekelompok ilmuan sebagai
pandangan dunianya. Paradigma ilmu berfungsi seabagai lensa yang
melaluinya para ilmuan dapat mengamati dan memahami masalahmasalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban
ilmiah terhadap masalah masalah tersebut.5

C. Perkembangan Ilmu Menurut Thomas S. Kuhn


Menurut Zianuddin Sardar dalam bukunya yang berjudul Thomas
Kuhn dan Perang Ilmu, Kuhn telah meruntuhkan anggapan yang telah
diterima tentang ilmuwan sebagai pencari Kebenaran dan interogator
alam dan realitas yang heroik, berpikiran terbuka dan bebas
kepentingan.6
Kuhn melihat bahwa para ilmuwan menggeluti ilmu mereka secara
membosankan dengan di satu pihak mengembangkan ilmu dan riset
berdasarkan metode-metode yang sudah ada dan baku, sementara di
lain pihak berusaha semakin memperluas jangkauan metodemetode
tersebut. Dengan kata lain, para ilmuwan bergerak dalam kerangka
5 Ibid.

6 Zianuddin Sardar, Thomas Kuhn dan Perang Ilmu (Yogyakarta: Penerbit Jendela,
2002), 30.

metode ilmiahproses observasi, deduksi dan konklusi yang diidealkan


untuk mencapai objektivitas dan universalisme ilmu pengetahuan.
Dalam arti itu sebetulnya ilmuwan bukanlah para pahlawan pencari
Kebenaran, tetapi para pemecah teka-teki alam berdasarkan model
tertentu yang sudah disepakati bersama. Thomas S. Kuhn menolak
peran ilmuwan sebagai pemecah teka-teki alam pertama-tama karena
hasil akhir yang hendak dicapai sebetulnya sudah dapat diantisipasi
sebelumnya berdasarkan metode keilmuan yang sudah baku. Praktik
sains semacam ini cendrung memilah-milah dan memisahkan hal yang
urgen dari inti sains. Selain itu, praktik sains dan riset yang hanya
bergerak di dalam constraint metode ilmiah sama sekali tidak sesuai
dengan sejarah sains. Menurut Kuhn, ilmu berkembang secara
revolusioner yang ditandai oleh peralihan dari satu paradigma ilmu ke
paradigma lainnya yang lebih andal dengan diselingi oleh paradigma
sains normal.7
Istilah paradigma pada masa sebelumnya belum terlalu nampak
mencolok namun setelah Thomas Khun memperkenalkannya melalui
bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution,
University of Chicago Press, Chicago,1962. 1 menjadi begitu terkenal
yang membicarakan tentang Filsafat Sains. Khun menjelaskan bahwa
Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai-nilai, metodemetode,prinsip dasar atau memecahkan sesuatu masalah yang dianut
oleh suatu masyarakat ilmiah pada suatu tertentu. Apabila suatu cara
pandang tertentu mendapat tantangan dari luar atau mengalami krisis,
kepercayaan terhadap cara pandang tersebut menjadi luntur, dan cara
pandang yang demikian menjadi kurang berwibawa, pada saat itulah
menjadi pertanda telah terjadi pergeseran paradigm.
MenurutKuhn, ilmu berkembang secara revolusioner yang ditandai
oleh peralihan dari satu paradigma ilmu ke paradigma lainnya yang
lebih andal dengan diselingi oleh paradigma sains normal. Tahap-tahap
perkembangan ilmu menurut Kuhn dapat diringkas sebagai berikut:
1. Fase pra-paradigma.
Fase ini merupakan sebuah periode yang memakan waktu lama. Di sini penelitianpenelitian keilmuan mengenai hal hal tertentu dilakukan tanpa arah dan tujuan tertentu.
Pada periode ini juga muncul berbagai macam aliran pemikiran yang saling bersaing
7 Thomas S.Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, terjemahan dalam Bahasa
Indonesia oleh Tjun Sujarman (Bandung:RemajaRosdakarya, 2000), 36.

dan meniadakan satu sama lain, memiliki konsepsi-konsepsi yang berbeda mengenai
masalah-masalah dasar disiplin ilmu dan kriteria apa yang harus digunakan untuk
mengevaluasi teori-teori. Dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution
memang tidak terdapat penjelasan yang memadai mengenai fase ini, tetapi kiranya dapat
dikatakan bahwa fase ini terutama terjadi sebelum abad ke-19 di mana karya Physica
Aristoteles, Almagest Ptolemmaeus, Principia dan Optics Newton, Electricity Franklin,
Chemistry Lavoisier, dan Geology Lyell memainkan peran sebagai penjelas atas
persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat dan para ilmuwan itu sendiri. Pada fase
ini belum ada usaha yang serius dan sistematis untuk mengevaluasi teori-teori tersebut.8
2. Fase sains normal.
Diantara berbagai sains yang berkembang pada fase pra-paradigma, muncullah
salah satu aliran pemikiran atau teori yang kemudian mendominasi disiplin-disiplin teori
atau ilmu lainnya, dimana ia menjanjikan pemecahan masalah yang lebih akurat dan
masa depan penelitian yang lebih maju. Aliran pemikiran lainnya berkiblat dan
mengakui superioritas aliran pemikiran yang dominan ini. Salah satu pernyataan
Thomas S. Kuhn: Paradigma memperoleh statusnya karena lebih berhasil daripada
saingannya dalam memecahkan beberapa masalah yangmulai diakui oleh kelompok
pemraktek bahwa masalah-masalah itu rawan. Namun, untuk berhasil bukanlah harus
berhasil dengan sempurna dalam menangani satu masalah atau sangat berhasil dalam
menangani sejumlah besar masalah. Keberhasilan sebuah paradigma apakah analisis
Aristoteles tentang gerak, perhitungan Ptolemeus tentang kedudukan planet, penerapan
Lavoisier akan kesetimbangan, atau matematisasi Maxwell dalam medan
elektromagnetik pada mulanya sebagian besar adalah janji akan keberhasilan yang
dapat ditemukan dalam contoh-contoh pilihan dan yang belum lengkap.9
Fase inilah yang diacu oleh Kuhn sebagai paradigma. Untuk memahami apa itu
paradigma, Kuhn membedakan paradigma ke dalam dua peran, yakni peran contoh
praktik ilmiah (exemplar) dan matriks-matriks disipliner (diciplinary matrices). Contoh
praktik ilmiah sebetulnya mengacu kepada pencapaian konkret ilmu tertentu, misalnya
8 Yeremias Jena, Thomas Kuhn Tentang Perkembangan Sains dan Kritik Larry
Laudan, (Jakarta: Department of Ethics/Philosophy, Atma Jaya Catholic University,
2012).
9 Ibid.

teori mekanika dan gravitasi Newton, teori heliosentrisnya Copernicus dan teori
elektrisitasnya B. Franklin. Pencapaian ini menjadi contoh atau model ilmu
pengetahuan. Para ilmuwan yang mendasarkan diri pada model ini berarti mengikatkan
diri pada standar dan kaidah-kaidah paradigma tertentu, memiliki komitmen untuk
memajukan paradigma tersebut dan menjaga kesinambungan dengan tradisi riset yang
dikenal dalam paradigma keilmuan tersebut.10
Sains yang normal berarti riset yang dengan yang teguh berdasarkan atas satu atau
lebih dalam pencapai ilmiah yang lalu, pencapaian oleh masyarakat ilmiah tertentu pada
suatu ketika dinyatakan sebagai pemberi fundasi bagi praktek selanjutnya. Paradigma
menurut Pandangan Thomas S. Kuhn bermaksud mengemukakan beberapa contoh
praktek nyata yang diterima, contoh-contoh yang bersama-sama mencakup dalil, teori,
penerapan, intrument tertentu pada riset ilmiah, tradisi-tradisi inilah di lukiskan oleh
sejarahwan dengen judul-judul Astronomi Ptolemaens (atau, copernicus), dinamika
Aristotelesdan optika korpuskular dan sebagainya.11
Dengan ada paradigma bersama dalam sebuah riset maka orang akan jarang dalam
prakteknya membangkitkan perselisihan yang jelas dalam berbagai fundamentalis, serta
pada prakteknya juga akan terjadi kerikatan kaidah-kaidah standar-standar praktek
ilmiah yang sama. Komitmen tersebut merupukan konsesus yang jelas dihasilkannya
merupakan prasyarat bagi sains yang normal, yaitu bagi penciptaan dan
kesinambungan tradisi riset tertentu.12
Menurut Thomas Kuhn beberapa orang yang bukan benar-benar pemraktek sains
yang matang menyadari betapa banyaknya sebuah karya belum diselesaikan oleh
paradigma atau sebuah karya itu dapat membuktikan betapa mempesonanya dalam
pelaksanaannya. Dan hal ini perlu dimengerti dan dilakukan operasi pembersihan yaitu
menyelesaikan karya-karya yang tertinggal itulah yang melibatkan banyak keilmuan
selama karir mereka . Itulah yang merupakan apa yang disebut Thomas Kuhn sains yang
normal. jika diteliti dengan cermat apakah secara historis atau di dalam laboratorium
10 Thomas S.Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, terjemahan dalam Bahasa
Indonesia oleh Tjun Sujarman (Bandung:RemajaRosdakarya, 2000), 10.
11 Ibid, h. 11.
12 Ibid, h. 11.

kontemporer kegiatan itu tampaknya merupakan upaya untuk melaksanakan alam


masuk ke dalam kontak yang telah dibentuk lebih dulu dan relatif tidak flexsibel yang
disediakan oleh paradigma. Tidak ada bagian dari sasaran sains yang normal yang akan
menimbulkan jenis jenis gejala baru, gejala-gejala yang mungkin tidak akan cocok
dengan konsep kotak itu seringkali tidak tampak sama sekali . Juga para ilmuan
biasanya tidak bertujuan menciptakan teori-teori baru , dan mereka acapkali tidak
toleran terhadap ciri-ciri baru yang diciptakan oleh orang lain. Sebaliknya , riset
ditujukan kepada artikulasi gejala-gejala dan teori-teori disajikan oleh paradigm.13
Oleh sebab itu Thomas Kuhn berpendapat hal tersebut merupakan cacat-cacatnya.
Bidang-bidang fisik diselidiki oleh sains normal , tentu saja sangat kecil kegiatan yang
dibahas sekarang telah secara drastis membatasi pandangan. Akan tetapi , pembatasanpembatasan itu yang lahir dari keyakinan akan suatu paradigma ternyata esensial bagi
perkembangan sains dengan mempusatkan perhatian kepada sederetan kecil masalah
yang relatif isoterik. Paradigma itu memaksa para ilmuan untuk menyelidiki satu bagian
dari alam secara rinci dan mendalam. Sain yang normal memiliki mekanisme yang
melekat, yang memastikan pelanggaran pembatasan yang mengikat riset manakala
paradigma yang menurunkannya itu tidak lagi berfungsi secara efektif . Pada saat itu
para ilmuan mulai berlaku lain dan sifat masalah-masalah riset mereka berubah, namun
ketika paradigma itu berhasil, profesi telah memecahkan masalah-masalah yang hampir
tidak dapat dibayangkan oleh anggotanya dan tidak akan pernah dilakukan tampak
komitmen dengan paradigma itu dan sekurang kurangnya bagian dari pencapai itu selalu
ternyata permanen.14
Thomas Kuhn juga mengemukakan bahwa Sains Normal pemecah teka-teki.
Menurutnya istilah teka teki dan pemecah teka teki menerangkan beberapa dari tematema yang menjadi semakin menonjol dalam keseluruhan makna baku yang digunakan
ketika diperoleh kategori khusus dari masalah-masalah yang dapat digunakan untuk
menguji kelihaian atau keterampilan dalam pemecahan.15 Menurut Kuhn, Ilmu yang
13 Ibid
14 Ibid, h. 23-24
15 Ibid, h. 35.

sudah matang dikuasai oleh suatu paradigma tunggal. Paradigma menetapkan standardstandar pekerjaan yang sah di dalam lingkungan yang dikuasai ilmu itu. Eksistensi suatu
paradigma yang mampu mendukung tradisi ilmu biasa merupakan ciri yang
membedakan ilmu dengan non ilmu.
Normal sains melibatkan usaha-usaha terperinci untuk menjabarkan suatu
paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam. Suatu paradigma
akan selalu secukupnya, tidak terlalu ketat dan mempunyai akhir yang selalu terbuka
sehingga menimbulkan banyak macam pekerjaan untuk ditangani. Kuhn
memandang sain (ilmu) biasa sebagai aktivitas pemecahan teka-teki yang dibimbing
aturan-aturan suatu paradigma. Teka-teki itu bisa teoritis maupun eksperimental.
3. Fase munculnya anomali dan krisis.
Pada masa ini baik contoh praktik ilmiah (exemplar) maupun matriks-matriks
disipliner tidak dapat lagi diandalkan dalam memecahkan persoalan yangmuncul.
Munculnya masalah yang keras kepala dan tidak dapat dipecahkan membuat para
ilmuwan tidak hanya menjadi stress dan melahirkan krisis dalam komunitas ilmu.
Mereka juga mulai mempertanyakan paradigma yang diterima selama ini. Dalam
komunitas ini sendiri mulai muncul kelompok-kelompok ilmuwan yang saling bersaing
satu sama lain dan membentuk strategi-strategi untuk memecahkan masalah yang
mereka hadapi. Di sini terjadi persaingan yang serius karena taruhannya adalah bahwa
siapa yang menang menentukan keberlakuan suatu paradigma. Keadaan persaingan
yang menimbulkan anomali ini mirip dengan keadaan pra-paradigma. Kelahiran sebuah
paradigma baru akan mengakhiri pertentangan antarilmuwan dalam fase anomali dan
krisis paradigma ini.16
Thomas Kuhn mengemukakan terjadi anomali karena petama mengingat
penemuan penemuan baru kebaruan kemudian penciptaan-penciptaan kebaruankebaruan teori. Perbedaan antara penemuan (discovery) dan penciptaan atau antara fakta
dan teori, bagaimana pun akan segera terpenting dan segera terbukti bahwa sangat
artifisial. Penemuan-penemuan bukanlah peristiwa yang terasing, melainkan episodeepisode yang diperluas dengan struktur yang yang berulang secara teratur.17

16 Yeremias Jena, Thomas Kuhn Tentang Perkembangan Sains dan Kritik Larry Laudan,
(Jakarta: Department of Ethics/Philosophy, Atma Jaya Catholic University, 2012).

Penemuan diawali dengan kesadaran anomali yakni dengan pengakuan bahwa


alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapannya yang didorong oleh paradigma
ilmu sains yang normal. Kemudian ia berelanjut dengan eksplorasi sedikit-banyak
diperluas pada wilayah anomali. Dan berakhir jika teori paradigma telah disesuaikan
sehingga yang menyimpang menjadi yang diharapkan.18
Dengan adanya sebuah anomali dalam sains yaitu penumpakan masalah tak
terpecahkan maka terjadi sebuah penemuan-penemuan baru yang merupakan dalam
rangkaian sebuah peristiwa atau yang di sebut episode-episode dalam peristiwa yang
tidak sesuai dengan sains normal sehingga menimbulkan sebuah penemuan-penemuan,
hal tersebut akan berakhir bilamana paradigma telah disesuaikan, namun sebelum hal itu
disesuaikan maka akan terjadi sebuah krisis.19
Dalam sebuah perubahan melibatkan penemuan-penemuan semuanya destruktif
atau sekaligus konstruktif. Setelah penemuan itu diasimilasikan penemuan bisa
laporkan gejala gejala alam yang lebih luas atau dengan presisi yang baik, melaporkan
beberapa dari gejala alam yang sudah diketahui sebelumnya. Akan tetapi, prestasi hanya
dapat dicapai dengan membuang beberapa kepercayaan atau sebuah prosedur standar
sebelumnya yang sekaligus akan mengganti komponen-komponen paradigma
sebelumnya dengan yang lain. Thomas Kuhn telah membuktikan perubahan ini
berkaitan dengan semua penemuan yang diperoleh melalui sains yang normal selain
hanya penemuan tidak mengejutkan, namun, penemuan bukan satu-satunya sumber
paradigma destruktif konstruktif ini berubah, karena ada sumber mengenai peciptaan
teori baru. Menurut Thomas Kuhn jika ada kesadaran akan anomali memainkan peran
dalam munculnya jenis-jenis gejala yang baru, maka tidak akan mengejutkan jika
kesadaran yang serupa, tetapi lebih mendalam merupakan prasyarat bagi semua
perubahan teori dapat diterima, dalam hal ini kenyataan sejarah tidak meragukan.20
17 Thomas S.Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, terjemahan dalam Bahasa
Indonesia oleh Tjun Sujarman (Bandung:RemajaRosdakarya, 2000), 52.
18 Ibid, h. 53.
19 Ibid.
20 Ibid, hal 66-67.

Para filsof sains telah berulang-ulang mendemonstrasikan terhadap sekelompok


data tersebut selalu dapat diberikan lebih dari satu konstruksi teoritis. Sejarah sains
menunjukkan bahwa, terutama pada tahap awal perkembangan suatu paradigma baru
bahkan tidak begitu sulit untuk menciptakan alternatif. Akan tetapi, penciptaan seperti
itu jarang di lakukan oleh para ilmuan kecuali pada tahap pra-pradigma dari
perkembangan sains dan peristiwa peristiwa yang sangat khusus selama informasi
selanjutnya evolusi selanjutnya. Selama alat-alat yang disediakan oleh paradigma masih
tetap mampu memecahkan masalah-masalah yang ditetapkannya. Sains manusia paling
cepat dan menembus paling dalam melalui penggunaan alat-alat itu disertai keyakinan.
Alasannya jelas papada sains tidak berbeda dengan didalam pabrik, pembaharuan alat
merupakan pemborosan yang harus dicadangkan bagi saat-saat yang benar-benar
memerlukan. Pentingnya kritik ialah karena petunjuk ini diberikan bahwa untuk
pembaruan alat sudah tiba.21
Tanggapan Thomas Kuhn mengenai krisis adalah bahwa krisis merupakan
prakondisi yang perlu dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Ia mengemukakan
bilamana ilmuwan di hadapkan hadir sebuah krisis, pertama-tama memperhatikan apa
yang tidak pernah dilakukan oleh para ilmuan yang dihadapkan kepada anomali anomali
yang berkepanjangan dan parah sekalipun. Meskipun mereka mungkin mulai
kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan allternatif-alternatif lain.
Mereka tidak meninggal paradigma membawa mereka kedalam krisis. Artinya mereka
tidak melakukan anomali-anomali sebagai kasus pengganti meskipun dalam
pembendeharaan kata filsafat sains (ilmu) demikian adanya. Namun adapula penolakan
paradigma oleh ilmuwan bilamana status paradigma menjadi tidak shahih jika tersedia
alternatif untuk menggantikannya. Namun, sama sekali tidak ada proses telah
disingkapkan oleh studi historis tentang perkembangan sains yang mirip stereotipe
pemalsuan yang metodologis dengan pembandingan langsung dengan alam. Ungkapan
itu tidak perlu bahwa berarti ilmuwan tidak menolak teori-teori sains, akan tetapi yang
berarti apa yang akhirnya akan menjadi masalah pokok bahwa tindakan
mempertimbangkan yang mengakibatkan para ilmuwan menolak teori yang semula
diterima selalu didasarkan atas perbandingan teori itu dengan dunia. Putusan untuk
21 Ibid, hal 75.

menolak sebuah paradigma selalu sekaligus merupakan keputusan untuk menerima


yang lain dan pertimbangan mengakibatkan putusan melibatkan perbandingan
paradigma paradigma dengan alam maupun satu sama lain.22
Kemudian ada alasan kedua untuk meragukan bahwa para ilmuan menolak
paradigma karena dihadapkan kepada anomali-anomali atau penggantinya, dalam hal ini
Thomas Kuhn beragumen bahwa alasan alasan bagi keraguan yang di gambarkan
merupakan di gambarkan diatas secara faktual artinya alasan-alasan itu sendiri
menggantikan teori epistemologi yang berlaku, jika pandangan Thomas Kuhn sekarang
ini benar, alasan-alasan paling jauh hanya dapat menciptakan krisis atau yang lebih
akurat, memperkuat krisis yang benar-benar sudah ada. Alasan-alasan itu sendiri tidak
akan memalsukan teori filsafat itu, sebab para pembelanya akan melakukan apa yang
telah mereka lihat dilakukan ilmuwan jika dihadapkan kepada anomali. Mereka akan
menciptakan banyak artikulasi dan modifikasi-modifikasi sementara dan teori mereka
untuk menghilangkan setiap konflik yang tampak. Diantara modifikasi-modifikasi dan
kualifikasi kualifikasi relevan sebenarnya banyak yang telah ada dalam kepustakaan.
Jika karena penganti-penganti epistemologi itu terdiri atas lebih dari satu gangguan
kecil, hal ini terjadi karena mereka membantu membiarkan munculnya analisis sains
yang baru dan berbeda di dalamnya mereka tidak lagi merupakan sumber kesulitan.
Lebih dari jika suatu pola yang khas, yang nanti dapat di amati pada segmen revolusi
sains apat diterapkan sini, maka anomali-anomali tidak akan tampak lagi sebagai
kenyataan, jadi dalam satu teori pengetahuan sain yang baru, mereka bisa jadi tampak
sangat mirip dengan tautologi-tautologi.23
Dalam hal ini Thomas Kuhn mengemukakan contoh bahwa hukum newton yang
kedua tentang gerak, meskipun dalam pencapaiannya diperlukan riset faktual dan
teoritis yang sulit selama berabad-abad, bagi mereka yang terikat teori newton
berperilaku sangat mirip pertanyaan yang semata-mata berdasarkan logika, yang tidak
di sangkal oleh pengamatan sebanyak apapun. Kemudian teori hukum kimia tentang
proporsi yang tetap, yang sebelum Dalton merupakan temuan eksperimental sambil lalu
di generalitasnya sangat meragukan, setelah karya Dalton menjadi sebuah tambahan
22 Ibid, h. 77
23 Ibid, h. 78.

dari definisi tentang senyawa kimia yang tidak dapat di tumbangkan hanya oleh karya
ekspremental. Sesuatu yang sangat mirip dengan hal itu akan terjadi juga pada
generalisasi bahwa para ilmuan tidak dapat menolak paradigma bila di hadapakan
kepada anomali atau pengganti. Mereke tidak dapat demikian, dan mereka tetap ilmuan.
Meskipun sejarah rupanya tidak akan mereka nama-nama mereka, tak diragukan bahwa
beberapa orang telah terdorong untuk meninggalkan sain karena mereka tidak mampu
menoleransi krisis. Seperti artis, ilmuwan yang kreatif harus dapat sekali-sekali hidup
di dunia yang tidak harmonis. Thomas Kuhn melukiskan hal tersebut dengan
ketegangan yang ensensial yang tercakup dalam dalam riset ilmiah. Akan tetapi ,
penolakan sains untuk di ganti dengan pekerjaan lain, merupakan satu-satunya jenis
penolakan paradigma yang diakibatkan oleh pengganti. Bila paradigma pertama di
gunakan untuk memandang alam telah ditemukan, tidak ada yang dinamakan riset tanpa
adanya paradigma sama sekali. Menolak paradigma tanpa sekaligus menggantinya
dengan yang lain adalam menolak sains itu sendiri. Tindakan itu tidak tercermin pada
paradigma , pada orang itu, tak dapat di hidarkan ia akan di lihat oleh rekan-rekannya
sebagai tukang kayu yang menyalahkan perkakasnya.24
Pada masa krisis menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan dari
para ilmuan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Para
ilmuan mulai keluar dari jalur ilmu normal. Namun jika ditemukan sebuah pemecahan
yang lebih memuaskan oleh para ilmuan, artinya suatu komunitas ilmiah yang dapat
menyelesaikan keadaan krisisnya dengan menyusun diri di sekeliling suatu paradigma
baru, maka terjadilah apa yang disebut oleh kuhn sebagai revolusi sains
4. Fase munculnya paradigma baru.
Di tengah-tengah persaingan, salah satu aliran pemikiran muncul dan dapat
mengatasi masalah, mampu menggeneralisasi dan menjanjikan masa depan penelitian
yang lebih baik. Awalnya tidak semua komunitas ilmiah segera menerima paradigma
baru. Meskipun demikian, mereka secara diam-diam menerapkan metodemetode,
prinsip-prinsip teoretis, asumsi-asumsi metafisis, dan standar-standar evaluasi yang
dibawa oleh paradigma baru dalam memecahkan masalah. Akhirnya, perlahan-lahan
anggota komunitas ilmiah menerima paradigma baru tersebut. Mereka yang tidak
menerima paradigma baru ini kemungkinan dikeluarkan dari komunitas ilmiah. Sekali
24 Ibid, h. 78-79.

lagi paradigma baru ini menjadi fase sains normal sampai terjadinya keadaan anomali
dan krisis paradigma berikutnya yang akan melahirkan paradigma baru, dan
seterusnya.25
Thomas Kuhn mengungkap bahwa revolusi sains dianggap sebagai episodeepisode perkembangan non kumulatif yang didalamnya paradigma yang lama diganti
seluruhnya atau sebagian oleh paradigma yang baru bertentangan. Thomas Kuhn
mengemukakan bahwa hal mendasar Paradigma baru di sebut dengan revolusi sains,
dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang luas dan esensial di antara perkembangan
politik dengan perkembangan sains, satu aspek dari kejajaran itu harus sudah nyata.
Revolusi politik dibuka oleh kesadaran yang semakin tumbuh, yang sering terbatas pada
suatu segmen dari masyarakat politik, bahwa lembaga-lembaga yang ada tidak dapat
lagi memadai untuk menghadapi masalah-masalah yang dikemukakan oleh lingkungan
yang sebagian diciptakan oleh lembaga-lembaga itu. Dengan cara yang banyak
kesamaannya , revolusi sains dibuka oleh kesadaran yang semakin tumbuh , yang lagilagi terbatas pada sub divisi yang sempit dari masyarakat sains, bahwa paradigma yang
ada tidak lagi berfungsi secara memadai dalam ekpolarasi suatu itu. Baik dalam
perkembangan politik maupun dalam perkembangan sains, kesadaran akan adanya
malafungsi yang dapat menyebabkan krisis merupakan pra syarat bagi revolusi.26
Thomas Kuhn memandang bahwa revolusi sebagai perubahan pandangan atas
dunia, beliau menyatakan dengan paradigma-paradigma berubah, maka sendiri berubah
bersamanya, dengan bimbingan paradigma yang baru, para ilmuan menggunakan
isntrumen-intrumen yang baru dan menengeuk tempat-tempat baru. Yang lebih penting
lagi, selama revolusi para ilmuawan melihat hal-hal baru ddan berbeda ketika
menggunakan intrumen-intrumen yang sangat dikenalnya untuk menengok tempattempat pernah di lihatnya. Seakan-akan masyarakat profesional itu tiba-tiba di
pindahkan ke planet lain dimana objek-objek yang sangat dikenal tampak dalam
25 Yeremias Jena, Thomas Kuhn Tentang Perkembangan Sains dan Kritik Larry
Laudan, (Jakarta: Department of Ethics/Philosophy, Atma Jaya Catholic University,
2012).
26 Thomas S.Kuhn, The Structure of Scientific Revolution, terjemahan dalam Bahasa
Indonesia oleh Tjun Sujarman (Bandung:RemajaRosdakarya, 2000), 91.

penerangan yang berbeda dan juga berbaur dengan objek-objek yang tidak dikenal.
Tentu saja hal in tidak terjadi, tidak ada transplantasi geografis di luar laboratium,
peristiwa sehari-hari biasa berlanjut seperti sedia kala. Meskipun demikian, perubahanperubahan paradigma itu memang menyebabkan para ilmuwan berbeda memandang
dunia kegiatan risetnya.27
Dari paparan diatas bahwa Thomas Kuhn menyatakan bahwa revolusi sains
merupakan suatu episode yang nonkumulatif, yaitu episode yang tidak ada bersangkut
dengan paradigma baru dengan paradigma lama. Revolusi sains terwujud karena
ketidakberdayaan dan ketidakmampuan ilmuwan dalam menggunakan paradigma
sehingga terbentuk sebuah kesadaran mengwujudkan paradigma baru, Thomas Kuhn
juga menyatakan revolusi sebagai perubahan pada pandangan dunia, dengan adanya
perubahan paradigma ilmuwan sehingga membuat pandangan pada dunia berubah,
berubah bukan pada geografis namun perubahan pada kegiatan resit seorang ilmuwan.
D. Respon Terhadap Pemikiran Thomas S. Kuhn
Pemikiran Kuhn yang bisa dibiilang radikal itu, mendapat tanggapan yang luas dari
banyak kalangan. Sikap pro dan kontra bermunculan dari para ilmuan. Tim healy,
misalnya, dari Santa Clara mengakui bahwa teori paradigm shift Kuhn memang benar.
Semua kehidupan, keilmuan, sosial, agama, dll, terbukti mengalam paradigm shift.
Bahkan menurut Healy, teori paradigm shift dapat dipakai untuk memahami segala
persoalan hidup.
Steven Hodas, membrikan komentar yang menarik. Menurutnya, pemikiran Kuhn
mengagetkan mayoritas masyarakat Amerika era 1960-an, yang meyakini keberhasilan
sains dalam mencapai kebenaran final. Kuhn menggagalkan semua keyakinan ini, dengan
menyatakan bahwa kebenaran sains tak lebih hanyalah a culture practice. Oleh karena itu,
kebenaran sains itu relatif. Komentar Hodas ini berdekatan dengaan Weinberg, menurutnya
yang menjadikan Kuhn tampak seprti seorang pahlawan bagi para filsuf, sejarawan,
sosiolog, dan budayawan antikemapanan adalah kesimpulannya yang skeptis-radikal
tentang kemampuan sains dalam menentukan kebenaran. Dengan demikian, sains tak
ubahnya seerti demokrasi atau permainan base ball, sebuah konsensus sosial. Weinberg
mengkritik Kuhn tentang incommensurable (dua paradigma yang tak bisa didamaikan)
yang oleh karena itu ilmuwan tak bisa menengok kembali paradigma lama. Menurut
Weinberg, Kuhn keliru dalam hal ini. Pada kenyataannya, pergeseran paradigma tidak
otomatis mengakibatkan kita tak lagi bisa memahami realitas ilmiah dengan paradigma
lama.
Kuhn juga mendapat kritikan dari banyak kalangan, karena tidak memberikan
definisi yang tegas tentang istilah paradigm yang dia sebut berulang-ulang dalam
27 Ibid, h 133.

bukunya. Di samping itu, ia juga dikritik karena terlalu mendramatisir pertentangan


sehingga menjadi revolusi antara normal science lama dengan yang baru.
Kritik paling mendasar datang dari Imre Lakatos. Menurutnya, teori Kuhn tentang
revolusi sains memang menakjubkan. Tetapi, sayang ia miskin metodologi normatif. Atas
kriteria apa suatu paradigma bisa dianggap unggul dan berhak menjadi paradigma tunggal
bagi normal science? Kuhn ternyata hanya melemparkan persoalan ini pada centific
community. Sebuah eori yang tidak tuntas. Oleh karena iu, Laktos tampil kedepan untuk
menjawab problem yang disisakaan oleh Kuhn. Ia membangun teori baru melanjtkan kuhn
dan menulis Falsifcation and The methodeloghy of Scientific Research Program.
Lepas dari pro kontra terhadap teori Kuhn, kita tidak dapat memungkiri kebenaran
teori ini dalam berbagai disiplin ilmu dan kehidupan. Walaupun teori ini muncul dari
lngkungan ilmu-ilmu kealaman, bidang yang ditekuni Kuhn tapi teori ini sudah sering
dipakai, disadari atau tidak, oleh para ilmuwan dalam wilayah Ilmu-ilmu sosial dan
humaniora.28

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian disampaikan maka penulis mengambil kesimpulan dari dua masalah yang
di kemukan yaitu:
1. Thomas S. Kuhn dilahirkan di Cicinnati, Ohio pada tanggal 18 juli 1922. Dia
mendapat gelar B.S di dalam ilmu fisika dari Harvard University pada tahun 1943
dan M.S pada tahun 1946., mendapatkan Ph.D dari Harvard pada tahun 1949,
menjadi profesor sejarah ilmu pada 1961. Di Berkeley dia menuliskan dan
28

menerbitkan bukunya yang terkenal The Structure Of Scientific Revolution pada


tahun 1962. Pada tahun 1964. Kemudian dia menjadi profesor filsafat dan sejarah
seni di Princeton pada tahun 1964-1979. Kemudian di MIT sebagai professor
filsafat hingga tahun 1991.
2. Latar
belakang
pemikiran Kuhn
tentang
ilmu
dan
perkembangannya,
merupakan
respon
terhadap
adanya pandangan Positivisme dan Popper.
3. Perkembangan ilmu menurut Thomas Kuhn yaitu dimulai dari pra
paradigma lalu sains normal dimana para ilmuwan kurang kritis
dalam memandang ilmu yang dianutinya kemudian lahir sebuah
anomali, anomali merupakan ada ketidak normal karena adanya
kegitan radikal-radikal oleh ilmuwan karena menemukan
penemuan-penemuan, sehingga terbentuklah krisis, Pada masa
krisis menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan
dari para ilmuan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa
dan dipertanyakan. Para ilmuan mulai keluar dari jalur ilmu
normal, kemudian berlanjut pada Revolusi sains menyatakan
bahwa revolusi sains merupakan suatu episode yang
nonkumulatif dan merupakan sebagai perubahan tentang dunia.

DAFTAR PUSTAKA
Haryono Imam.1991. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Hidayati, http://blog.unsri.ac.id/hidayati/filsafat-ilmu/paradigma-kuhn/mrdetail/29380, diakses
pada hari kamis (09/04/2015), pukul 10.25 WIB
Kuhn, Thomas. S. 2000. The Structure of Scientific Revolution, terjemahan dalam Bahasa
Indonesia oleh Tjun Sujarman. Bandung: Remaja Rosdakarya

Mikhael Dua. 2007. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Maumere: Penerbit Ledalero


Jena, Yeremias. 2012. Thomas Kuhn Tentang Perkembangan Sains dan Kritik Larry Laudan,
Jakarta: Department of Ethics/Philosophy, Atma Jaya Catholic University.
Sardar, Zianuddin. 2002. Thomas Kuhn dan Perang Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Jendela.