Anda di halaman 1dari 12

1

1. MATERI METODE
1.1. Materi
1.1.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah oven, blender, ayakan, beaker
glass, kain saring, timbangan analitik, kertas lakmus, termometer, gelas ukur, pengaduk,
dan hot plate.
1.1.2.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah limbah udang, HCl 0,75 N; 1 N; dan
1,25N, NaOH 3,5%; 40%; 50%; 60%.
1.2. Metode
Demineralisasi
Limbah udang dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan, lalu dicuci dengna air
panas 2 kali, dan dikeringkan kembali.

Limbah udang kemudian dihancurkan hingga menjadi serbuk dan diayak dengan
Deproteinasi
ayakan 40-60 mesh.
Hasil demineralisasi dicampur dengan NaOH dengan perbandingan 6:1
HCl ditambahkan dengan perbandingan 10:1. Kelompok B1 dan B2 menggunakan
HCl 0,75N, B3 dan B4 HCl 1N, dan B5 HCl 1,25N
Deasetilasi
Kemudian dipanaskan pada suhu 90oC selama 1 jam.
Kitin yang didapat kemudian ditambahkan NaOH 40% untuk kelompok B1 dan B2,
dipanaskan
pada
90oC selama
1 jam.kelompok B5
NaOH 50% Kemudian
untuk kelompok
B3 dan
B4,suhu
dan NaOH
60% untuk
Kemudian disaring dan didinginkan
o
Lalu dicuci pada
sampai
pH90
netral.
Kemudian dipanaskan
suhu
C selama 1 jam

Lalu dicuci sampai pH netral.


Lalu dicuci sampai pH netral.

Kemudian dikeringkan pada suhu 80oC selama 24 jam


Kemudian dikeringkan pada suhu 70oC selama 24 jam
1

Kemudian dikeringkan pada suhu 80oC selama 24 jam

2. HASIL PENGAMATAN
Hasil pengamatan mengenai kitin dan kitosan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Kitin Kitosan
Kelompok
B1
B2
B3
B4
B5

Perlakuan
HCl 0,75N + NaOH 40% + NaOH
3,5%
HCl 0,75N + NaOH 40% + NaOH
3,5%
HCl 1N + NaOH 50% + NaOH
3,5%
HCl 1N + NaOH 50% + NaOH
3,5%
HCl 1,25N + NaOH 60% + NaOH
3,5%

Rendemen
Kitin I (%)

Rendemen
Kitin II (%)

Rendemen
Kitosan (%)

30,00

34,88

25,00

36,00

29,40

31,82

50,00

50,00

28,00

22,22

19,23

28,57

20,00

Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas, dapat dilihat bahwa kulit udang diberi
perlakuan yang berbeda. Rendemen kitin I tertinggi diperoleh kelompok B2 sebesar
36,00% dengan perlakuan penambahan HCl 0,75 N dan NaOH 40%, sedangkan
rendemen terendah diperoleh kelompok B4 sebesar 28,00% (HCl 1 N dan NaOH 50%).
Rendemen kitin II tertinggi diperoleh kelompok B3 sebesar 50,00% dengan perlakuan
penambahan HCl 1 N dan NaOH 50%, sedangkan rendemen terendah diperoleh
kelompok B5 sebesar 20,00% dengan perlakuan penambahan HCl 1,25 N dan NaOH
60%. Rendemen kitosan tertinggi diperoleh kelompok B3 sebesar 50,00% dengan
perlakuan penambahan HCl 1 N dan NaOH 50%. Sedangkan kelompok B2 dan B3
tidak mendapatkan hasil rendemen kitosan.
3. PEMBAHASAN
Kitin dapat diekstrak dari kerangka luar dari Crustacea seperti udang, kepiting, prawn,
dan crayfish (kaya et al., 2014). Menurut Zakaria et al. (2012), kitin dapat diubah
menjadi kitosan dengan cara menghilangkan gugus asetil menggunakan larutan
konsentrat natrium dioksida. Deasetilasi dari kitin menjadi kitosan yaitu dengan
menghidrolisis glukosamin dengan kitosanase (Wieczorek et al., 2014). Kitin tidak
dapat larut dalam air dan pelarut organik. Kitin hanya mampu larut dalam N,Ndimethylacetamide (DMAc)-LiCl, heksafluoroasetone atau heksafluoro-2-propanol.

Ketika kadar N-asetilasi kurang dari 50% maka kitin menjadi larut dalam larutan asam
(pH < 6) yang kemudian akan disebut sebagai kitosan (Kumirska et al., 2010).
Cangkang udang mengandung kitin sebesar 20-50% dari berat keringnya (Suhardi,
1993). Kitin memiliki karakkteristik berwarna putih, berbentuk padatan amorf (kristal),
dan biodegradable oleh mikroba penghasil enzim lisozim dan kitinase (Peter, 1995).
Kitosan bersifat anti bakteri, biokompatibel, pengkelat, bioaktif, dan dapat terbiodegrasi
(Knorr, 1984). Kemampuan kitosan menghambat bakteri dipengaruhi oleh konsentrasi
pelarutan kitosan (Cahyaningrum et al., 2007). Kitin beserta turunannya dapat
digunakan sebagai bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi dalam bidang
pangan (Suhardi, 1993). Kitosan mampu menghilangkan tannin dan deacidify di ekstrak
kopi sehingga digunakan dalam industry kopi, wine, bir, jus buah, dan lain-lain (Jothi &
Nachiyar, 2013). Kitosan dapat digunakan enkapsulasi bahan makanan aktif dan
immobilisasi enzim (Zhao et al., 2011).
Metode dalam praktikum kitin dan kitosan ini telah sesuai dengan pernyataan Rokhati
(2006) yaitu dilakuannya 3 tahapan proses yaitu demineralisasi, deproteinasi, dan
deasetilasi. Demineralisasi bertujuan untuk penghilangan mineral terutama kalsium
karbonat (CaCO3) pada cangkang udang. Mula-mula limbah udang dicuci dengan air
mengalir dan dikeringkan, kemudian dicuci di dalam air panas dua kali dan dikeringkan
kembali. Pencucian dengan air mengalir bertujuan untuk menghilangkan pengotor
dalam limbah udang. Pengeringan bertujuan untuk menguapkan sisa air pencucian
(Roger, 1986). Kemudian limbah udang dihancurkan hingga menjadi serbuk dan diayak
dengan ayakan 40-60 mesh. Penghancuran bertujuan untuk memperbesar luas
permukaan serbuk, sehingga kontak dengan senyawa pelarut dapat berlangsung
sempurna (Lay, 1994). Setelah itu ditambahkan HCl 0,75 N; 1 N; dan 1,25 N dengan
perbandingan 10:1. Penambahan asam encer seperti asam sulfat, asam laktat, atau asam
klorida dapat melarutkan komponen mineral sehingga dapat mengurangi kandungan
mineral dalam limbah udang (Bastaman, 1989). Lalu larutan dipanaskan selama 1 jam
pada suhu 90oC sambil diaduk. Menurut Laila & Hendri (2008), pengadukan bertujuan
untuk meratakan serbuk dalam larutan HCl dan mencegah terjadinya peluapan
gelembung gas CO2 yang dihasilkan dari proses demineralisasi. Pemanasan pada suhu
90oC bertujuan untuk mempercepat proses perusakan mineral dalam cangkang kulit

udang (Puspawati & Simpen, 2010). Larutan kemudian dicuci sampai pH netral dan
dikeringkan pada suhu 80oC selama 24 jam. Setelah itu dihitung rendemen kitin I.
Pencucian larutan sampai pH netral bertujuan untuk menetralkan larutan kitin yang
semula dalam kondisi asam karena penambahan HCl. Pengeringan dengan oven
bertujuan untuk menguapkan sisa air pada produk kitin (Roger, 1986).
Metode selanjutnya adalah deproteinasi. Menurut Rokhati (2006), deproteinasi
merupakan proses penghilangan protein menggunakan larutan basa NaOH. Setelah
tepung yang dihasilkan dari proses demineralisasi dikeringkan, kemudian dicampur
dengan NaOH 3,5% (6:1) lalu dipanaskan pada suhu 90oC dan diaduk selama 1 jam.
Penambahan NaOH bertujuan untuk melarutkan protein pada kitin dari hasil tahap
demineralisasi (Reece & Mitchell, 2003). NaOH dapat memperbesar volume dari
partikel substrat dan menghidrolisis gugus asetil pada kitin yang menyebabkan ikatan
antar komponen merenggangkan sehingga kitin mengalami deasetilasi dan berubah
menjadi kitosan. Pemanasan akan menyebabkan denaturasi protein sehingga
memudahkan pemisahan protein (Suharto,1984). Sedangkan pengadukan dapat
meratakan dan mengefisienkan proses denaturasi protein oleh larutan NaOH karema
proses pemanasan dan pengadukan akan mengkonsentrasikan NaOH (Ramadhan et al.,
2010). Setelah itu residu disaring dan didinginkan. Residu kemudian dicuci sampai pH
netral serta dikeringkan pada suhu 80oC selama 24 jam, dari proses ini akan dihasilkan
kitin. Pendinginan bertujuan untuk mengendapkan kitin sehingga kitin tidak terbuang
ketika proses pencucian. Pencucian hingga pH netral berfungsi untuk menetralkan kitin
yang bersifat basa karena penambahan NaOH, serta pencegahan degradasi kitin selama
pengeringan akibat adanya kandungan gugus amino bebas. Pengeringan bertujuan untuk
menguapkan sisa air pada produk kitin (Roger, 1986).
Tahap ketiga yaitu deasetilasi. Deasetilasi merupakan proses pembentukan kitosan dari
kitin, dimana gugus asetamida pada kitin akan digantikan dengan gugus amino dengan
menggunakan NaOH (Muzzarelli, 1997). Derajat deasetilasi merupakan parameter mutu
kitosan yang menunjukkan banyaknya gugus asetil yang dapat dihilangkan dari
rendemen kitosan maupun kitin (Knoor, 1982). Deasetilasi dilakukan dengan cara kitin
ditambah larutan NaOH 40%, 50%, dan 60% (20:1), sambil diaduk selama 1 jam dan
didiamkan selama 30 menit. Larutan NaOH bersifat alkali dapat menghidrolisis ikatan

gugus karboksil dengan atom nitrogen dari kitin melalui proses deasetilasi dari gugus
asetamida sehingga menjadi gugus amina, sehingga menghasilkan rendemen kitosan
yang semakin besar (Ramadhan et al., 2010). Kemudian diaduk selama 1 jam dan
didiamkan selama 30 menit. Lalu dipanaskan 90 oC selama 1 jam sambil diaduk.
Pengadukan dapat meratakan pemanasan dari derajat deasetalasi kitosan. Semakin
tinggi suhu, maka derajat deasetilasi kitosan juga semakin meningkat dan pH juga
semakin basa (Reece dan Mitchell, 2003). Setelah itu disaring dan residu dicuci
menggunakan air sampai pH netral, lalu dikeringkan pada suhu 70 oC selama 24 jam dan
dihasilkan kitosan. Pencucian hingga pH netral berfungsi untuk menetralkan kitin yang
bersifat basa karena penambahan NaOH. Pengeringan bertujuan untuk menguapkan air
yang tertinggal dari proses pencucian serta dapat dihasilkan produk kitosan yang
berbentuk kering (Rogers, 1986).
Berdasarkan hasil pengamatan, kulit udang diberi perlakuan yang berbeda pada tiap
kelompok. Rendemen kitin I merupakan rendemen hasil proses demineralisasi.
Rendemen kitin I tertinggi diperoleh kelompok B2 sebesar 36,00% dengan perlakuan
penambahan HCl 0,75 N dan NaOH 40%, sedangkan rendemen terendah diperoleh
kelompok B4 sebesar 28,00% (HCl 1 N dan NaOH 50%). Semakin besar konsentrasi
HCl yang ditambahkan dalam proses demineralisasi, maka akan semakin kecil
rendemen kitin yang dihasilkan karena senyawa mineral dalam bahan semakin mudah
dilepaskan (Laila & Hendri, 2008). Berdasarkan pernyataan tersebut seharusnya
kelompok B5 dengan konsentrasi HCl tertinggi memiliki berat rendemen kitin I terkecil
dan kelompok B1 dengan konsentrasi HCl terendah memiliki berat rendemen kitin I
terbesar. Menurut Lehninger (1975), semakin rendah nilai rendemen yang dihasilkan
dapat disebabkan karena perlakuan pemanasan dan pengadukan yang tidak sempurna.
Pengadukan dan pemanasan menyebabkan proses demineralisasi dalam kitin lebih
cepat, serta panas yang diterima larutan lebih merata sehingga dapat menyebabkan
jumlah rendemen menurun. Selain itu, ketidaksesuaian dapat terjadi karena pada saat
pencucian, ada sebagian kitin yang terbuang. Kitin dapat terdegradasi akibat konsentrasi
asam yang terlalu tinggi dan waktu perendaman yang lama sehingga rendemen kitin
yang dihasilkan lebih rendah (Knorr, 1984).

Rendemen kitin II merupakan rendemen hasil proses deproteinasi. Rendemen kitin II


tertinggi diperoleh kelompok B3 sebesar 50% dengan perlakuan penambahan HCl 1 N
dan NaOH 50%, sedangkan rendemen terendah diperoleh kelompok B5 sebesar 20%
dengan perlakuan penambahan HCl 1,25 N dan NaOH 60%. Angka & Suhartono (2000)
mengungkapkan bahwa seharusnya rendemen kitin I (rendemen demineralisasi) lebih
tinggi dibandingkan rendemen kitin II (rendemen deproteinasi). Menurut Fennema
(1985), kelarutan mineral dan protein pada suasana basa lebih besar dibandingkan pada
suasana asam, karena basa memiliki sifat hidrolisis yang lebih tinggi daripada asam.
Namun hasil pengamatan kelompok B1 dan B3 tidak sesuai dengan teori tersebut karena
mengalami peningkatan nilai rendemen kitin I ke rendemen kitin II. Ketidaksesuaian ini
mungkin disebabkan karena proses pengeringan yang tidak sempurna dan menyebabkan
air yang belum teruapkan ikut terhitung sebagai berat rendemen kitin. Selain itu dapat
disebabkan karena pengadukan yang tidak sempurna sehingga larutan NaOH tidak
bereaksi sempurna dengan kitin (Kaunas, 1984). Fennema (1985) menambahkan bahwa
semakin besar konsentrasi NaOH yang diberikan, maka semakin rendah pula nilai
rendemen kitin-nya. Dengan demikian seharusnya kelompok B5 memperoleh nilai
rendemen kitin II yang lebih rendah dibandingkan kelompok lain karena menggunakan
konsentrasi NaOH tertinggi. Hal ini telah sesuai dengan hasil hasil pengamatan.
Rendemen kitosan tertinggi diperoleh kelompok B3 sebesar 50%. Sedangkan kelompok
B2 dan B5 tidak memperoleh rendemen kitosan. Dari semua kelompok menunjukkan
adanya penurunan rendemen pada kitosan, kecuali kelompok B3. Semakin tinggi
konsentrasi NaOH yang ditambahkan, maka rendemen kitosan akan semakin rendah.
Larutan

NaOH

dengan

konsentrasi tinggi dapat memicu

terjadinya

proses

depolimerisasi pada rantai molekul kitosan sehingga menyebabkan berat molekul


kitosan mengalami penurunan (Hong et al., 1989). Namun menurut Ramadhan et al.
(2010), larutan alkali dengan konsentrasi tinggi dapat menghidrolisis kitin, sehingga
menghasilkan rendemen kitosan yang semakin besar. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi NaOH yang ditambahkan, maka semakin
besar pula nilai rendemen kitosan yang diperoleh.
4. KESIMPULAN

Demineralisasi bertujuan untuk penghilangan mineral terutama kalsium karbonat


(CaCO3).

Penambahan HCl dapat melarutkan komponen mineral sehingga dapat


mengurangi kandungan mineral dalam limbah udang.

Deproteinasi bertujuan untuk menghilangkan protein menggunakan larutan basa


NaOH.

Penambahan NaOH bertujuan untuk melarutkan protein pada kitin dari hasil
tahap demineralisasi, memperbesar volume dari partikel substrat, dan
menghidrolisis gugus asetil pada kitin sehingga kitin berubah menjadi kitosan.

Deasetilasi bertujuan untuk mengganti gugus asetamida pada kitin dengan gugus

amino dengan menggunakan NaOH sehingga kitin berubah menjadi kitosan.


Larutan NaOH dalam tahap deasetilasi menghidrolisis ikatan gugus karboksil
dengan atom nitrogen dari kitin sehingga menghasilkan rendemen kitosan yang

semakin besar.
Semakin besar konsentrasi HCl yang ditambahkan, semakin kecil rendemen
kitin yang dihasilkan.

Rendemen kitin I lebih tinggi dibandingkan rendemen kitin II.

Semakin besar konsentrasi NaOH yang diberikan, maka semakin rendah nilai
rendemen kitin-nya.

Semakin besar konsentrasi NaOH yang ditambahkan, semakin besar nilai


rendemen kitosan yang diperoleh.

Semarang, 5 Oktober 2015


Praktikan,

Asisten Dosen:
-Tjan, Ivana Chandra

Clementia Caroline
13.70.0020
5. DAFTAR PUSTAKA
Angka, S. L. dan M. T. Suhartono. (2000). Bioteknologi Hasil Laut. Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor.

Bastaman, S. (1989). Studies on Degradation and Extraction of Chitin and Chitosan


From Prawn shell (Nephropsnorregicus). Thesis. The Departement of
Mechanical,Manufacturing, Aeronautical and Chemical Engineering. The
Queens University.Belfast. 143 p.
Cahyaningrum, S. E., Agustini, Herdyastuti. 2007. Pemakaian Kitosan Limbah Udang
Windu sebagai Matriks Pendukung pada Imobilisasi Papain. Jurusan Kimia,
FMIPA, Universitas Negeri Surabaya. Jurnal Akta Kimindo Vol. 2 No. 2
Oktober 2007: 93-98.
Fennema, O.R. (1985). Food Chemistry. Second Edition. Marcel Dekker, Inc., New
York.
Hong, H., No K, Meyers SP, Lee KS. 1989. Isolation and Characterization of Chitin
from crawfish shell waste. J Agric Food. Chem 33:375-579.
Jothi N. & R.K. Nachiyar. 2015. Identification and Isolation of Chitin and Chitosan
from Cuttle Bone of Sepia prashadi Winckworth, 1936. Global Journal of
Biotechnology & Biochemistry 8 (2): 33-39.
Kaunas. (1984). Meat, Poultry, and Seafood Technology. Neyes Data Coorporation,
USA.
Kaya M., O. Seyyar, T. Baran, T. Turkes. 2014. Bat Guano As New And Attractive
Chitin And Chitosan Source. Frontiers in Zoology, 11:59.
Knoor, D. 1982. Function properties of chitin and chitosan. J.Food.Sci. 4736.
Knorr, D. 1984. Use of Chitinous Polymer in Food. Food Technology 39 1 : 85.
Kumirska J., M. Czerwicka, Z. Kaczyski, A. Bychowska, K. Brzozowski, J. Thming,
P. Stepnowski. 2010. Application of Spectroscopic Methods for Structural
Analysis of Chitin and Chitosan. Mar. Drugs 8, 1567-1636.
Laila, A & Hendri, J. (2008). Study Pemanfaatan Polimer Chitin Sebagai Media
Pendukung Amobilisasi Enzim -Amilase.http://lemlit.unila.ac.id /file/arsip
%202009/SATEK%202008/VERSI%20PDF/bidang%203/41.pdf.
Lehninger, A.L. 1975. Biochemistry. 2nd Ed. Worth Publisher Inc., New York.
Muzzarelli, R. A. A. & M. G. Peter. 1997. Chitin Handbook. Eds., Atec, Grottammare,
Italy. ISBN 88-86889-01-1.

Peter, Martin G. (1995). Application and Environmental Aspects of Chitin and


Chitosan. Journal of Pure and Appl. Chem. Marcel Dekker, Inc., Germany. Hlm.
629-639.
Puspawati, N. M dan I N. Simpen. (2010). Optimasi Deasetilasi Khitin dari Kulit Udang
dan Cangkang Kepiting Limbah Restoran Seafood menjadi Khitosan melalui
Variasi Konsentrasi NaOH. Jurnal Kimia Volume 4. Halaman 70 90.
Ramadhan, L. O. A. N.; C. L. Radiman; D. Wahyuningrum; V. Suendo; L. O. Ahmad;
dan S.Valiyaveetiil. (2010). Deasetilasi Chitin secara Bertahap dan Pengaruhnya
terhadap Derajat Deasetilasi serta Massa Molekul Chitosan. Jurnal Kimia
Indonesia Vol. 5 (1), 2010, 4. 17-21.
Reece, C., dan Mitchell. (2003). Biologi, Edisi kelima-jilid 2. Penerbit Erlangga. Jakarta
Rogers, E.P. (1986). Fundamental of Chemistry. Books/Cole Publishing Company.
California.Science Published Ltd., England.
Rokhati, N. (2006). Pengaruh Derajat Deasetilasi Khitosan Dari Kulit Udang Terhadap
Aplikasinya Sebagai Pengawet Makanan. Jurnal Reaktor, Vol. 10 No. 2, Hal. :
54-58.
Suhardi. 1993. Khitin dan Khitosan, Pusat Antar Universitas pangan dan Gizi, PAU
UGM, Yogyakarta.
Suharto, B. (1984). Pengaruh Perlakuan 1,5 % NaOH dan Pengukusan Terhadap Nilai
Gizi Bahan Pakan Berserat Kasar Tinggi. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Wieczorek A.S., S.A. Hetz, S. Kolb. 2014. Microbial Responses To Chitin And Chitosan
In Oxic And Anoxic Agricultural Soil Slurries. Biogeosciences, 11:33393352.
Zakaria Z., Z. Izzah, M. Jawaid, A. Hassan. 2012. Effect of Degree of Deacetylation of
Chitosan on Thermal Stability and Compatibility of Chitosan Polyamide Blend.
BioResource 7(4):5568-5580.
Zhao, L. M. L. E. Shi, Z. L. Zhang, J. M. Chen, D. D. Shi, J. Yang and Z. X. Tang.
(2011). Preparation and Application of Chitosan Nanoparticles and Nanofibers.
Brazilian Journal of Chemical Engineering Vol. 28, No. 03, pp. 353 362.
6. LAMPIRAN

10

6.1. Perhitungan
Rumus:
Rendemen Kitin I =

Berat kering
100
Berat basah

Rendemen Kitin II =

Berat kering
100
Berat basah

Rendemen Kitosan=

Berat kering
100
Berat basah

Kelompok B1
Rendemen Kitin I
Rendemen Kitin I =

3 gram
100
10 gram

Rendemen Kitin I =30,00

Rendemen Kitin II
Rendemen Kitin II =

1,5 gram
100
4,3 gram

Rendemen Kitin II =34,88


Rendemen Kitosan
Rendemen Kitosan=

0,5 gram
100
2,0 gram

Rendemen Kitosan=25,00

Kelompok B2
Rendemen Kitin I
Rendemen Kitin I =

4,5 gram
100
12,5 gram

Rendemen Kitin I =36,00


Rendemen Kitin II
Rendemen Kitin II =

0,5 gram
100
1,7 gram

11

Rendemen Kitin II =29,4

Rendemen Kitosan
Rendemen Kitosan=

0 gram
100
0 gram

Rendemen Kitosan=0

Kelompok B3
Rendemen Kitin I
Rendemen Kitin I =

3,5 gram
100
11 gram

Rendemen Kitin I =31,82

Rendemen Kitin II
Rendemen Kitin II =

1,5 gram
100
3 gram

Rendemen Kitin II =50,00


Rendemen Kitosan
Rendemen Kitosan=

0,1 gram
100
1 gram

Rendemen Kitosan=50,00

Kelompok B4
Rendemen Kitin I
Rendemen Kitin I =

3,5 gram
100
12,5 gram

Rendemen Kitin I =28


Rendemen Kitin II
Rendemen Kitin II =

1 gram
100
4,3 gram

Rendemen Kitin II =22,22

12

Rendemen Kitosan
Rendemen Kitosan=

0,5 gram
100
2,6 gram

Rendemen Kitosan=19,23

Kelompok B5
Rendemen Kitin I
Rendemen Kitin I =

3 gram
100
10,5 gram

Rendemen Kitin I =28,57


Rendemen Kitin II
Rendemen Kitin II =

0,5 gram
100
2,5 gram

Rendemen Kitin II =20

Rendemen Kitosan
Rendemen Kitosan=

0 gram
100
0,5 gram

Rendemen Kitosan=0

6.2. Laporan Sementara


6.3. Diagram Alir
6.4. Abstrak Jurnal