Anda di halaman 1dari 13

Agus (tidak kawin) bekerja pada CV Rejeki dengan memperoleh gaji sebesar

Rp3.700.000,00 sebulan. Perusahaan ikut dalam program jamsostek. Premi Jaminan


Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dan iuran Jaminan Hari Tua dibayar oleh
pemberi kerja setiap bulan masing-masing sebesar 1,00%, 0,30% dan 3,70% dari gaji.
Agus membayar iuran Pensiun Rp 50.000,00 dan iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00%
dari gaji untuk setiap bulan. Pada bulan April 2015,Agus memperoleh bonus sebesar
Rp10.000.000,00 sehingga pada bulan April 2015 Agus menerima pembayaran berupa
gaji sebesar sebesar Rp3.700.000,00 dan bonus sebesar Rp10.000.000,00
Perhitungan PPh 21 atas gaji dan bonus
* Gaji 12 x 3.700.000
Bonus
Premi JKK
12 x 37,000(1% x 3,700,000)
Premi Jaminan Kematian
12 x 11,100 (0,3% x 3,700,000)
* Penghasilan Bruto 1 tahun
* Pengurangan
Biaya Jabatan
5% x 54,977,200
luran pensiun
12 x 50,000
Iuran Jaminan Hari Tua
12 x 74,000 (2% x 3,700,000)
* Penghasilan neto setahun adalah
* PTKP setahun
Untuk WP sendiri
* Penghasilan Kena Pajak setahun
PPh Pasal 21 terutang(masih lapisan tarif
*
5%)

Perhitungan PPh 21 atas gaji


* Gaji
Premi JKK
12 x 37,000(1% x 3,700,000)
Premi Jaminan Kematian
12 x 11,100 (0,3% x 3,700,000)
* Penghasilan Bruto 1 tahun
* Pengurangan
Biaya Jabatan
5% x 54,977,200
luran pensiun
12 x 50,000
Iuran Jaminan Hari Tua
12 x 74,000 (2% x 3,700,000)
* Penghasilan neto setahun adalah
* PTKP setahun
Untuk WP sendiri
* Penghasilan Kena Pajak setahun
PPh Pasal 21 terutang(masih lapisan tarif
*
5%)
* Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21)
Atas bonus adalah 1,322,017-847,017
* Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21)
atas gaji yang dipotong bulan April 2015
847,017/12

Total PPh yang dipotong bulan April 2015

44.400.000
10.000.000
444.000
133.200
54.977.200
2.748.860
600.000
888.000
4.236.860
50.740.340
24.300.000
26.440.340
5% x 26,440,340

1.322.017

44.400.000
444.000
133.200
44.977.200
2.248.860
600.000
888.000
3.736.860
41.240.340
24.300.000
16.940.340
5% x 26,440,340

847.017

475.000
70.585

545.585

Dalam artikel sebelumnya saya telah nge share tentang cara menghitung dan contoh
perhitungan PPh 21 untuk karyawan tetap. Pada umumnya setiap perusahaan yang suka
memberikan bonus kepada karyawan bagian pemasaran apabila target penjualannya
tercapai, atau juga setiap menjelang hari raya biasanya perusahaan memberikan
Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar 1x gaji per bulannya.
Bonus ataupun THR dan penghasilan lainnya yang sejenis itu yang sifatnya tidak tetap
dan biasanya dibayarkan sekali dalam setahun yang diberikan kepada pegawai tetap
dikategorikan sebagai Penghasilan Tidak Teratur.
Cara menghitung PPh Pasal 21 atas Penghasilan Tidak Teratur bagi Pegawai Tetap
dihitung sebagai berikut:
1. Hitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan ditambah dengan
penghasilan tidak teratur.
2. Hitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan tanpa ditambah
penghasilan tidak teratur.
3. Selisih antara PPh Pasal 21 menurut penghitungan angka 1 dan angka 2 adalah PPh
Pasal 21 atas penghasilan tidak teratur.
Contoh...
Tn. Bagas (TK) bekerja di PT. Anju Jaya Sejahtera dengan memperoleh gaji sebulan Rp.
5.000.000,- dengan tidak memperoleh tunjangan lainnya. Jabatan Tn. Bagas sebagai
supervisor pemasaran. Pada bulan Maret 2015 Tn. Bagas menerima Bonus atas penjualan
PT. AJS tahun 2014 yang melampaui target yang telah ditetapkan sebesar Rp. 6.500.000,dan pada bulan Juni 2015 Tn. Bagas menerima THR sebesar Rp. 5.000.000,- Setiap
bulan Tn. Bagas membayar Iuran pensiun sebesar Rp. 100.000,Hitung PPh 21 Tn Bagas untuk bulan Maret dan bulan Juni!!

Jawab
A. PPh 21 Bonus
1. PPh Pasal 21 Gaji & Bonus
Penghasilan
Gaji Per Tahun (Rp. 5.000.000 x 12)

Rp. 60.000.000

Bonus

Rp. 6.500.000

Penghasilan Bruto Setahun

Rp. 66.500.000

Pengurangan:
Biaya Jabatan 5% x 66.500.000

Rp. 3.325.000

Iuran Pensiun 12 x 100.000

Rp. 1.200.000

Jumlah Pengurangan

Rp. 4.525.000 -

Penghasilan Neto Setahun

Rp. 61.975.000

PTKP:
Untuk WP Sendiri
Penghasilan Kena Pajak
PPh Pasal 21 Terutang (5% x Rp. 37.675.000,-)

Rp. 24.300.000 Rp. 37.675.000


Rp. 1.883.750,-

2. PPh Pasal 21 Gaji


Gaji Per Tahun (Rp. 5.000.000 x 12)

Rp.

60.000.000
Pengurangan:
Biaya Jabatan 5% x 60.000.000

Rp. 3.000.000

Iuran Pensiun 12 x 100.000

Rp. 1.200.000

Jumlah Pengurangan
Penghasilan Neto Setahun

Rp. 4.200.000
Rp. 55.800.000

PTKP:
Untuk WP Sendiri

Rp.

24.300.000
Penghasilan Kena Pajak
PPh Pasal 21 Terutang (5% x Rp. 31.500.000,-)

3. PPh Pasal 21 Bonus

Rp. 31.500.000
Rp. 1.575.000,-

PPh Pasal 21 Gaji & Bonus

Rp. 1.883.750

PPh Pasal 21 Gaji

Rp. 1.575.000 -

PPh Pasal 21 atas Bonus

Rp. 308.750

B. PPh 21 THR
1. PPh Pasal 21 Gaji & THR
Penghasilan
Gaji Per Tahun (Rp. 5.000.000 x 12)

Rp.

60.000.000
THR

Rp. 5.000.000
Penghasilan Bruto Setahun

Rp. 65.000.000

Pengurangan:
Biaya Jabatan 5% x 65.000.000

Rp. 3.250.000

Iuran Pensiun 12 x 100.000

Rp. 1.200.000

Jumlah Pengurangan

Rp. 4.450.000

Penghasilan Neto Setahun

Rp. 60.550.000

PTKP:
Untuk WP Sendiri

Rp. 24.300.000

Penghasilan Kena Pajak

Rp. 36.250.000

PPh Pasal 21 Terutang (5% x Rp. 36.250.000,-)

Rp. 1.812.500,-

2. PPh Pasal 21 Gaji


Gaji Per Tahun (Rp. 5.000.000 x 12)

Rp. 60.000.000,-

Pengurangan:
Biaya Jabatan 5% x 60.000.000

Rp. 3.000.000

Iuran Pensiun12 x 100.000

Rp. 1.200.000

Jumlah Pengurangan
Penghasilan Neto Setahun

Rp. 4.200.000
Rp. 55.800.000

PTKP:
Untuk WP Sendiri
Penghasilan Kena Pajak
PPh Pasal 21 Terutang (5% x Rp. 31.500.000,-)

Rp. 24.300.000
Rp. 31.500.000
Rp. 1.575.000,-

3. PPh Pasal 21 atas Bonus


PPh Pasal 21 Gaji & Bonus

Rp. 1.812.500

PPh Pasal 21 Gaji

Rp. 1.575.000

PPh Pasal 21 atas Bonus

Rp. 237.500

Contoh Menghitung PPh 21 Bonus


Contoh Penghitungan Pemotongan Pajak PenghasilanPasal 21 (PPh 21) Terhadap
Penghasilan Berupa Bonus
Penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21) terhadap
penghasilan berupa bonus dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap dan
pada umumnya diberikan sekali dalam setahun seperti jasa produksi, tantiem, gratifikasi,
tunjangan hari raya, atau tahun baru, atau premi dilakukan berdasarkan, pertama,
Peraturan Menteri Keuangan PMK-162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Penghasilan
Tidak Kena Pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi. Kedua, Peraturan Dirjen Pajak Nomor
PER-31/PJ/2012 Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, Pelaporan Pajak
Penghasilan Pasal 21 Dan Atau Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan
Pekerjaan, Jasa Dan Kegiatan Orang Pribadi
Berikut ini diberikan dua ilustrasi contoh menghitung Pajak Penghasilan (PPh) 21
Terhadap Bonus. Contoh pertama, Joko (tidak kawin) bekerja pada PT Gandaria dengan
memperoleh gaji sebesar Rp2.500.000,00 sebulan. Pada bulan Maret 20xx Joko
memperoleh bonus sebesar Rp5.000.000,00 sehingga pada bulan Maret 20xx Joko
memperoleh penghasilan berupa gaji sebesar Rp2.500.000,00 dan bonus sebesar
Rp5.000.000,00. Setiap bulannya Joko membayar iuran pensiun ke dana Pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan sebesar Rp60.000,00. Bila diminta
menghitung PPh 21 atas Bonus, maka cara menghitung PPh Pasal 21 atas bonus adalah:
PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun):
Gaji setahun (12xRp2.500.000,00)

Rp 30.000.000,00

Bonus

Rp 5.000.000,00(+)

Penghasilan bruto setahun

Rp 35.000.000,00

Pengurangan :
1. Biaya Jabatan 5% x Rp 35.000.000,00

Rp 1.750.000,00

2. luran pensiun setahun 12 x Rp 60.000,00 Rp 720.000,00(+)


Rp 2.470.000,00(-)
Penghasilan neto setahun

Rp 32.530.000,00

PTKP
- untuk WP sendiri

Rp 24.300.000,00(-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 8.230.000,00

PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 8.230.000,00 = Rp 411.500,00

PPh Pasal 21 atas Gaji setahun


Gaji setahun (12 x Rp2.500,000,00)

Rp 30.000.000,00

Pengurangan :
1. Biaya Jabatan 5% x Rp 30.000.000,00

Rp 1.500.000,00

2. luran pensiun setahun 12 x Rp 60.000,00

Rp 720.000,00(+)
Rp 2.220.000,00(-)

Penghasilan neto setahun

Rp 27.780.000,00

PTKP
- untuk WP sendiri

Rp 24.300.000,00(-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 3.480.000,00

PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 3.480.000,00 = Rp 174.000,00

PPh Pasal 21 atas Bonus


PPh Pasal 21 atas Bonus adalah:
`

Rp 411.500,00 - Rp 174.000,00= Rp 237.500,00

Contoh kedua, karyawati Sita (tidak kawin) bekerja pada PT Putren dengan memperoleh
gaji sebesar Rp2.750.000,00 sebulan. Perusahaan ikut dalam program jamsostek. Premi
Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dan iuran Jaminan Hari Tua
dibayar oleh pemberi kerja setiap bulan masing-masing sebesar 1,00%, 0,30% dan 3,70%
dari gaji. Sita membayar iuran Pensiun Rp 50.000,00 dan iuran Jaminan Hari Tua sebesar
2,00% dari gaji untuk setiap bulan. Pada bulan April 20xx Sita memperoleh bonus
sebesar Rp4.000.000,00 sehingga pada bulan April 20xx Sita menerima pembayaran
berupa gaji sebesar sebesar Rp2.750.000,00 dan bonus sebesar Rp4.000.000,00. Bila
diminta menghitung PPh 21atas Bonus yang diterima Sita, maka cara menghitung PPh
Pasal 21 atas bonus adalah sebagai berikut:
PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun)

Gaji setahun (12 x Rp 2.750.000,00)

Rp 33.000.000,00

Bonus

Rp 4.000.000,00

Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 12 x Rp 27.500,00


Premi Jaminan Kematian 12 x Rp 8.250,00

Rp

330.000,00

Rp

Penghasilan bruto setahun

99.000,00 (+)

Rp 37.429.000,00

Pengurangan:
1. Biaya Jabatan 5% x Rp 37.429.000,00 =

Rp 1.871.450,00

2. luran pensiun setahun 12 x Rp 50.000,00 = Rp

600.000,00

3. luran Jaminan Hari Tua 12 x Rp 55.000,00 = Rp

660.000,00 (+)
Rp 3.131.450,00 (-)

Penghasilan neto setahun

Rp 34.297.550,00

PTKP
- untuk WP sendiri

Rp 24.300.000,00(-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 9.997.550,00

Dibulatkan

Rp 9.997.000,00

PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 9.997.000,00 = Rp 499.850,00

PPh Pasal 21 atas Gaji setahun


Gaji setahun (12 x Rp2.750.000,00) =

Rp 33.000.000,00

Premi Jaminan Kecelakaan Kerja 12 x Rp 27.500,00

Rp

330.000,00

Premi Jaminan Kematian 12 x Rp 8.250,00

Rp

99.000,00(+)

Jumlah

Rp 33.429.000,00

Pengurangan :
1. Biaya Jabatan 5% x Rp33.429.000,00 =

Rp 1.671.450,00

2. luran pensiun setahun 12 x Rp50.000,00 = Rp


3. luran Jaminan Hari Tua 12 x Rp55.000,00 = Rp
Jurnlah
Penghasilan neto setahun =

600.000,00
660.000,00(+)
Rp 2.931.450,00(-)
Rp 30.497.550,00

PTKP
- untuk WP sendiri

Rp 24.300.000,00(-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 6.197.550,00

Pembulatan

Rp 6.197.000,00

PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 6.197.000,00 = Rp 309.850,00

PPh Pasal 21 atas Bonus


PPh Pasal 21 atas Bonus adalah:
Rp499.850,00 - Rp309.850,00 = Rp 190.000,00

Pegawai tetap menerima bonus, gratifikasi, tantiem, Tunjangan Hari Raya atau tahun
baru, premi dan penghasilan yang sifatnya tidak tetap, diberikan sekali saja atau sekali
setahun
Contoh :
Ikhsan Alisyahbani adalah pegawai tetap di PT Tiurmas Lampung Indah. la memperoleh
gaji bulan Desember sebesar Rp. 2.200.000,00 menerima THR sebesar Rp. 600.000,00
dan membayar iuran pensiun sebesar Rp. 25.000,00 sebulan. Ikhsan Alisyahbani
menikah tetapi belum mempunyai anak (status K/0)
PPh Pasal 21 atas gaji dan THR
Penghasilan Bruto setahun = 12x 2.200.000 = Rp. 26.400.000
THR = Rp. 600.000

Jumlah Penghasilan Bruto Rp. 27.000.000


Pengurangan:
Biaya Jabatan: 5%x 27.000.000 = 1.350.000
Iuran pensiun 1225.000 = 300.000
Total Pengurangan = Rp. 1.650.000
Penghasilan netto setahun Rp. 25.350.000
PTKP (K/0) setahun = Rp. 17.160.000
PKP setahun = Rp. 8.190.000
PPh Ps. 21 terutang:
5% x 8.190.000 = Rp. 409.500
PPh Pasal 21 atas gaji
Penghasilan Bruto setahun = 12x 2.200.000 = Rp. 26.400.000
Pengurangan:
Biaya Jabatan: 5%x 26.400.000 = 1350.000
Iuran pensiun 1225.000 = 300.000
Total Pengurangan = Rp. 1.650.000
Penghasilan netto setahun Rp. 24.750.000
PTKP (K/0) setahun = Rp. 17.160.000
PKP setahun = Rp. 7.590.000
PPh Ps. 21 terutang: 5% x 7.590.000 = Rp. 379.500
PPh Pasal 21 atas gaji dan THR PPh Pasal 21 atas gaji:
= Rp. 409.500,00 Rp. 379.500,00
= Rp. 30.000,00

Seri PPh - Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21


Rabu, 27 Juni 2012 - 09:43
Tarif Dan Penerapannya
1 Pegawai tetap, penerima pensiun bulanan, bukan pegawai yang memiliki NPWP
dan menerima penghasilan secara berkesinambungan dalam 1 (satu) tahun dikenakan
tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang PPh dikalikan dengan Penghasilan
Kena Pajak (PKP). PKP dihitung berdasarkan sebagai berikut:
1 Pegawai Tetap: Penghasilan bruto dikurangi biaya jabatan (5% dari
penghasilan bruto, maksimum Rp 6.000.000,00 setahun atau Rp 500.000,00
sebulan); dikurangi iuran pensiun, Iuran jaminan hari tua, dikurangi
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
2 Penerima Pensiun Bulanan: Penghasilan bruto dikurangi biaya pensiun
(5% dari penghasilan bruto, maksimum Rp 2.400.000,00 setahun atau Rp
200.000,00 sebulan) dikurangi PTKP.
3 Bukan Pegawai yang memiliki NPWP dan menerima penghasilan secara
berkesinambungan: 50 % dari Penghasilan bruto dikurangi PTKP perbulan.
2 Bukan Pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan dikenakan tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a dikalikan dengan 50% dari jumlah penghasilan bruto untuk
setiap pembayaran imbalan yang tidak berkesinambungan;
3 Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan dikenakan tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a dikalikan dengan jumlah penghasilan bruto untuk setiap kali
pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah;
4 Pegawai harian, pegawai mingguan, pemagang, dan calon pegawai, serta pegawai
tidak tetap lainnya yang menerima upah harian, upah mingguan, upah satuan, upah
borongan dan uang saku harian yang besarnya melebihi Rp.150.000 sehari tetapi
dalam satu bulan takwim jumlahnya tidak melebihi Rp. 1.320.000,00 dan atau tidak
dibayarkan secara bulanan, maka PPh Pasal 21 yang terutang dalam sehari adalah
dengan menerapkan tarif 5% dari penghasilan bruto setelah dikurangi Rp.
150.000,00. Bila dalam satu bulan takwim jumlahnya melebihi Rp.1.320.000,00
sebulan, maka besarnya PTKP yang dapat dikurangkan untuk satu hari adalah sesuai
dengan jumlah PTKP sebenarnya dari penerima penghasilan yang bersangkutan
dibagi 360.
5 Pejabat Negara, PNS, anggota TNI/POLRI yang menerima honorarium dan
imbalan lain yang sumber dananya berasal dari Keuangan Negara atau Keuangan
Daerah dipotong PPh Ps. 21 dengan tarif 15% dari penghasilan bruto dan bersifat
final, kecuali yang dibayarkan kepada PNS Gol. IId kebawah, anggota TNI/POLRI
Peltu kebawah/ Ajun Insp./Tingkat I kebawah.
Besar PTKP adalah :
Penerima PTKP

Setahun

Sebulan

Rp
Rp
15.840.000 1.320.000
Rp
tambahan untuk pegawai yang sudah menikah(kawin)
Rp 110.000
1.320.000
tambahan untuk setiap anggota keluarga *) paling banyak 3 (tiga)
Rp
Rp 110.000
orang
1.320.000
*) anggota keluarga adalah anggota keluarga sedarah dan semenda dalam satu garis
keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya.
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-undang Pajak Penghasilan
Tari
adalah:
f
Lapisan Penghasilan Kena Pajak
sampai dengan Rp 50 juta
5%
15
diatas Rp 50 juta sampai dengan Rp 250 juta
%
25
diatas Rp 250 juta sampai dengan Rp 500 juta
%
30
diatas Rp 500 juta
%
6 Bagi Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP dikenakan tarif 20 % lebih tinggi
dari tarif PPh Pasal 17.
untuk diri pegawai

Contoh Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21


7

Penghasilan Pegawai Tetap yang diterima Bulanan


4 Saefudin adalah pegawai tetap di PT Insan Selalu Lestari sejak 1 Januari
2010. Ia memperoleh gaji beserta tunjangan berupa uang sebulan sebesar
Rp.2.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp. 50.000,00 sebulan.
Saefudin menikah tetapi belum mempunyai anak (status K/0). Penghitungan
PPh Ps. 21:
Penghitungan PPh Ps. 21 terutang:
Gaji Sebulan = Rp. 2.000.000
Penghasilan bruto = Rp. 2.000.000
Pengurangan: Biaya Pensiun = 5% x 2.000.000 = Rp. 100.000
Iuran pensiun = Rp. 50.000 (+)
Total Pengurangan = Rp. 150.000
Penghasilan netto sebulan = Rp. 1.850.000
Penghasilan netto setahun = 12 x 1.850.000 = Rp. 22.200.000
PTKP setahun:
WP sendiri = Rp. 15.840.000
Tambahan WP kawin = Rp. 1.320.000

5 Total PTKP = Rp. 17.160.000


PKP setahun = Rp. 5.040.000
PPh Ps. 21= 5 % x 5.040.000 = Rp. 252.000
PPh Ps. 21 sebulan = Rp. 21.000
8 Penerima pensiun yang dibayarkan secara bulanan
6 Teja status kawin dengan 1 anak pegawai PT. Mulia, pensiun tahun 2005.
Tahun 2010Teja menerima pensiun sebulan Rp. 3.000.000,00. Penghitungan
PPh Ps. 21 :
Pensiun sebulan = Rp. 3.000.000
Pengurangan: Biaya Pensiun = 5% x 3.000.000 = Rp. 150.000 (-) (Maksimum
diperkenankan Rp. 200.000)
Penghasilan Netto sebulan = Rp. 2.850.000
Penghasilan Netto setahun = Rp. 34.200.000
PTKP (K/1) = Rp. 18.480.000
PKP = Rp. 15.720.000
PPh Ps. 21 setahun = 5% x 15.720.000 = Rp. 786.000
PPh Ps. 21 sebulan = (Rp. 786.000 : 12) = Rp. 65.500
9 Pegawai tetap menerima bonus, gratifikasi, tantiem, Tunjangan Hari Raya atau
tahun baru, premi dan penghasilan yang sifatnya tidak tetap, diberikan sekali saja
atau sekali setahun.
7 Ikhsan Alisyahbani adalah pegawai tetap di PT Tiurmas Lampung Indah.

Ia memperoleh gaji bulan Desember sebesar Rp. 2.500.000,00 menerima


THR sebesar Rp. 1.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp.
50.000,00 sebulan. Ikhsan Alisyahbani menikah tetapi belum mempunyai
anak (status K/0). PPh Pasal 21 atas gaji dan THR:
Penghasilan Bruto setahun = 12 x 2.500.000 = Rp. 30.000.000
THR = Rp. 1.000.000
Jumlah Penghasilan Bruto = Rp. 31.000.000
Pengurangan:
Biaya Jabatan = 5% x 31.000.000 = Rp. 1.550.000
Iuran pensiun = 12 x 50.000 = Rp. 600.000
Total Pengurangan = Rp. 2.150.000
8 Penghasilan netto setahun = Rp. 28.850.000
PTKP (K/0) setahun = Rp. 17.160.000
PKP setahun = Rp. 11.690.000
PPh Ps. 21 terutang = 5% x 11.690.000 Rp. 584.500
PPh Pasal 21 atas gaji
Penghasilan Bruto setahun = 12 x 2.500.000 = Rp. 30.000.000
Pengurangan:
Biaya Jabatan = 5% x 30.000.000 = Rp. 1.500.000
Iuran pensiun = 12 x 50.000 = Rp. 600.000
Total Pengurangan = Rp. 2.100.000
9 Penghasilan netto setahun Rp. 27.900.000
PTKP (K/0) setahun = Rp. 17.160.000
PKP setahun = Rp. 10.740.000
PPh Ps. 21 terutang = 5% x 10.740.000 Rp. 537.000
PPh Pasal 21atas gaji dan THR PPh Pasal 21 atas gaji:
= Rp. 584.500 Rp.537.000
= Rp. 47.500
10 Penerima Honorarium atau Pembayaran lain.
10 Saputra (memiliki NPWP) memberikan ceramah pada lokakarya dan
menerima honorarium Rp 1.500.000,00. Saputra juga memiliki sumber
penghasilan lainnya. Penghitungan PPh Pasal 21 :
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a x (50% x jumlah penghasilan bruto ) = 5% x
(50% x Rp1.500.000,00) = Rp37.500,00
11 Komisi yang dibayarkan kepada penjaja barang dagangan atau petugas dinas luar
asuransi.
11 Hendra seorang penjaja barang dagangan hasil produksi PT Jaya dan
berstatus bukan pegawai, dalam bulan Januari 2010 menerima komisi sebesar
Rp4.000.000,00. Hendra tidak memiliki sumber penghasilan lainnya.
Penghitungan PPh 21 :
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a x [(50% x jumlah penghasilan bruto ) - PTKP
perbulan]:
= 5% x [(50% x Rp4.000.000,00) - Rp 1.320.000,00]
= Rp 34.000,00
12 Honorarium atau imbalan lainnya kepada peserta kegiatan (pendidikan pelatihan
magang).
12 Febri sebagai peserta magang menerima honor sebesar Rp3.500.000,00.
PPh Pasal 21 yang terutang :
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a x jumlah penghasilan bruto = 5% x
Rp3.500.000,00 = Rp175.000,00
13 Penghasilan atas Upah Harian.
13 Erfin (tidak memiliki NPWP) pada bulan Agustus 2010 bekerja sebagai
buruh harian pada PT Dayat Harini Perkasa. Ia bekerja sehari sebesar Rp
200.000,00. Penghitungan PPh Pasal 21 terutang :
Upah sehari Rp 200.000,00
Batas Upah harian yang Tidak di potong PPh Rp 150.000,00
PKP Sehari Rp 50.000,00
PPh Pasal 21 Sehari = (5% x 120%*) x Rp 50.000,00 Rp 3.000,00
(* karena Erfin tidak memiliki NPWP maka tarifnya 20% lebih tinggi dari
Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a atau 5% x 120% = 6%)