Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum III

2015
Wisata Budaya dan Spiritual

15

September

IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN SPIRITUAL


PADA MASYARAKAT ISLAM DI KOTA JAKARTA
Oleh
Kelompok 2/P1 :
Angga Saputra Oktavian
Nur Ardi Samra
Dhanty Ardini Cahyati Lubis
Kadek Sukasari

(J3B114005)
(J3B114046)
(J3B114056)
(J3B214072)

Dosen :
Bedi Mulyana S.Hut, M.Par, M.oT
Asisten Dosen :
Rima Pratiwi Batubara, S.Hut

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................2
I.

PENDAHULUAN.................................................................................................3
A.Latar Belakang...................................................................................................3
B.Tujuan................................................................................................................4

II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................5


A.Identifikasi.........................................................................................................5
B.Spiritual..............................................................................................................5
C.Masyarakat Kota................................................................................................8
III. KONDISI UMUM.................................................................................................9
A.Geografis............................................................................................................9
B.Pemerintahan.....................................................................................................9
C.Penduduk...........................................................................................................9
D.Budaya dan Nilai..............................................Error! Bookmark not defined.
IV. METODE PRAKTIKUM....................................................................................11
A.Lokasi dan Waktu.............................................................................................11
B.Alat dan Objek.................................................................................................11
C.Jenis dan Metode Pengambilan Data...............................................................11
D.Tahapan Pengerjaan.........................................................................................11
V. PEMBAHASAN..................................................................................................12
A.Hasil.................................................................................................................12
B.Pembahasan.....................................................................................................13
1. Aspek Spiritual................................................................................................13
2. Elemen Spiritual..............................................................................................14
VI. KESIMPULAN...................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..................................................Error! Bookmark not defined.

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip atau dengan suatu cara,
berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang individu.
Menjadi seorang yang spiritual berarti menjadi seorang yang terbuka, memberi, dan
penuh kasih. Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk individu memiliki
berbagai spiritual dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Spiritual erat kaitannya dengan sistem kepercayaan dan kespiritualan. Sistem
kepercayaan antara manusia dengan Sang Pencipta biasanya menjadi spiritualitas
yang utama. Selain itu, bermula dari kebudayaan yang merupakan hasil cipta, rasa,
karsa yang di dalamnya terdapat nilai-nilai spiritualitas yang tinggi. Kebudayaan
dikatakan memiliki nilai spiritualitas yang tinggi dikarenakan dalam setiap
kebudayaan yang berlaku di masyarakat terdapat nilai-nilai maupun filosofi tertentu.
Sehingga hal tersebut dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk memiliki
kesadaran spiritual yang tinggi.
Spiritual memiliki aspek dan elemen yang berbeda. Aspek spiritual
diantaranya adalah merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna, memiliki sebuah
komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap aspek kehidupan,
dan meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi adalah
menguntungkan. Sedangkan, elemen spiritual meliputi kapasitas transendensi,
kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi,
kemampuan untuk menyadari akan merasakan hal-hal suci, kemampuan untuk
memanfaatkan sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan dalam
kehidupan, dan kemampuan untuk bertingkah laku baik.
Kota Jakarta merupakan kota yang masyarakatnya memiliki kondisi spiritual
yang tinggi. Salah satu pemicu spiritual yang ada di masyarakat adalah agama. Kota
Jakarta merupakan kota yang religius dan berspiritual. Maka dari itu, kerukunan
antar umat beragaman sangat jelas terlihat di Kota Jakarta. Kerukunan tersebut
bahkan terlihat pada saat perayaan hari-hari besar agama. Masyarakat yang memiliki
perbedaan keyakinan tetap memiliki spirit yang sama untuk menjalin hubungan baik.
Kota Jakarta dihuni oleh beberapa agama, diantaranya adalah Hindu. Agama Hindu
yang berkembang pada masyarakat Jakarta dipengaruhi oleh masyarakat yang berasal
dari Bali. Bahkan hingga saat ini, perayaan hari besar Agama Hindu di Kota Jakarta
tidak terlepas dari kespiritualan Bali.
Masyarakat Kota Jakarta memiliki aspek dan elemen spiritual yang tinggi.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perayaan-perayaan hari besar yang hingga
saat ini masih dijaga keasliannya. Berbagai ritual agama yang hingga saat ini masih
dilaksanakan memberi pengaruh kepada masyarakat terutama dari segi spiritualitas.
Agama Hindu yang merupakan agama mayoritas kedua di Kota Jakarta turut
membangun jiwa spiritualitas masing-masing masyarakat yang mmeluk agama
tersebut maupun masyarakat agama lain untuk memiliki kesadaran spiritual.

B.

Tujuan

Praktikum dilaksanakan dengan beberapa tujuan. Tujuan berkaitan dengan


spiritual masyarakat perkotaan yang telah ditentukan lokasinya. Adapun secara
lengkap mengenai spiritual dari segi aspek dan elemen akan ditampilkan pada bagian
hasil dan pembahasan. Tujuan praktikum identifikasi aspek dan elemen spiritual pada
masyarakat perkotaan adalah sebagai berikut.
1. Mengidenfikasi aspek spiritual di Kota Jakarta.
2. Mengidentifikasi elemen spiritual di Kota Jakarta.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A.

Identifikasi

J.P Chaplin yang diterjemahkan Kartini Kartono yang dikutip oleh Uttoro
2008 identifikasi adalah penentuan atau penetapan identits seseorang atau benda
sedangkan menurut psikoanalis identifikasi adalah suatu proses yang dilakuakan
seseorang secara tidak sadar, atas dasar ikatan emosional dengan tokoh tertentu,
sehingga ia berprilaku atau membayangkan dirinya seakan-akan ia adalah tokoh
tersebut. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
identifikasi adalah penempatan atau penentu identitas seseorang atau benda pada
suatu saat tertentu.
B.

Spiritual

Spiritualitas adalah kebutuhan bawaan manusia untuk berhubungan dengan


sesuatu yang lebih besar dari diri manusia itu. Istilah sesuatu yang lebih besar dari
manusiaadalah sesuatu yang diluar diri manusia dan menarik perasaan akan diri
orang tersebut. Pengertian spiritualitas oleh Wigglesworth ini memiliki dua
komponen, yaitu vertikal dan horizontal:
- Komponen vertikal, yaitu sesuatu yang suci, tidak berbatas tempat dan waktu,
sebuah kekuatan yang tinggi, sumber, kesadaran yang luar biasa. Keinginan untuk
berhubungan dengan dan diberi petunjuk oleh sumber ini.
- Komponen horizontal, yaitu melayani teman-teman manusia dan planet secara
keseluruhan.
Komponen vertikal dari Wigglesworth sejalan dengan pengertian spiritualitas
dari Schreurs (2002) yang memberikan pengertian spiritualitas sebagai hubungan
personal terhadap sosok transenden. Spiritualitas mencakup inner life individu,
idealisme, sikap, pemikiran, perasaaan dan pengharapannya terhadap Yang Mutlak.
Spiritualitas juga mencakup bagaimana individu mengekspresikan hubungannya
dengan sosok transenden tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga
sejalan dengan pendapat Elkins et al. (1988) yang mengartikan spiritualitas sebagai
suatu cara menjadi dan mengalami sesuatu yang datang melalui kesadaran akan
dimensi transenden dan memiliki karakteristik beberapa nilai yang dapat
diidentifikasi terhadap diri sendiri, kehidupan, dan apapun yang dipertimbangkan
seseorang sebagai Yang Kuasa. Sedangkan komponen horizontal dari Wigglesworth
sejalan dengan pengertian spiritualitas dari Fernando (2006) yang mengatakan bahwa
spiritualitas juga bisa tentang perasaan akan tujuan, makna, dan perasaan terhubung
dengan orang lain. Pendapat ini tidak memasukkan agama dalam mendefinisikan
spiritualitas dan spiritualitas.
Spiritualitas dapat diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari termasuk juga
di tempat kerja. Ashmos (2000) mendefinisikan spiritualitas di tempat kerja sebagai
suatu pengenalan bahwa karyawan memiliki kehidupan dalam yang memelihara
dan dipelihara oleh pekerjaan yang bermakna yang mengambil tempat dalam konteks
komunitas. Pengertian spiritualitas di tempat kerja dari Ashmos memiliki tiga

komponen, yaitu kehidupan dalam (inner life), pekerjaan yang bermakna, dan
komunitas. Ashmos ingin menekankan bahwa spiritualitas di tempat kerja bukan
tentang agama, walaupun orang terkadang mengekspresikan kepercayaan agama
mereka di tempat kerja. Spiritualitas yang digunakan dalam penelitian ini mengacu
pada definisi dari Tischler (2002) yaitu spiritualitas sebagai suatu hal yang
berhubungan dengan perilaku atau sikap tertentu dari seorang individu, menjadi
seorang yang spiritual berarti menjadi seorang yang terbuka, memberi, dan penuh
kasih.
Elkins et al. (1988) melakukan penelitian dengan melibatkan beberapa orang
yang mereka anggap memiliki spiritualitas yang berkembang (highly spiritual).
Partisipan dalam penelitian ini diberikan pertanyaan menyangkut berbagai komponen
spiritualitas (yang didapat dari studi teoritis berbagai literatur humanistik,
fenomenologis dan eksistensialisme yang telah dilakukan sebelumnya) dan diminta
untuk menilai komponen-komponen tersebut berdasarkan pengalaman dan
pengertian pribadi mereka mengenai spiritualitas itu sendiri. Hasil dari penelitian ini
mengarahkan Elkins et al. untuk sampai pada sembilan komponen dari spiritualitas,
yaitu:
1. Dimensi transenden
Individu spiritual percaya akan adanya dimensi transenden dari kehidupan.
Inti yang mendasar dari komponen ini bisa berupa kepercayaan terhadap tuhan atau
apapun yang dipersepsikan oleh individu sebagai sosok transenden. Individu bisa jadi
menggambarkannya dengan menggunakan istilah yang berbeda, model pemahaman
tertentu atau bahkan metafora. Pada intinya penggambaran tersebut akan
menerangkan kepercayaannya akan adanya sesuatu yang lebih dari sekedar hal-hal
yang kasat mata. Kepercayaan ini akan diiringi dengan rasa perlunya menyesuaikan
diri dan menjaga hubungan dengan realitas transenden tersebut. Individu yang
spiritual memiliki pengalaman bersentuhan dengan dimensi transenden. Komponen
ini sama dengan komponen kesatuan dengan yang transenden dari LaPierre dalam
Hill (2000).
2. Makna dan tujuan dalam hidup
Individu yang spiritual memahami proses pencarian akan makna dan tujuan
hidup. Dari proses pencarian ini, individu mengembangkan pandangan bahwa hidup
memiliki makna dan bahwa setiap eksistensi memiliki tujuannya masingmasing.
Dasar dan inti dari komponen ini bervariasi namun memiliki kesamaan yaitu bahwa
hidup memiliki makna yang dalam dan bahwa eksistensi individu di dunia memiliki
tujuan. Komponen ini sama dengan komponen pencarian akan makna hidup dari
LaPierre dalam Hill (2000).
3. Misi hidup
Individu merasakan adanya panggilan yang harus dipenuhi, rasa tanggung
jawab pada kehidupan secara umum. Pada beberapa orang bahkan mungkin merasa
akan adanya takdir yang harus dipenuhi. Pada komponen makna dan tujuan hidup,
individu mengembangkan pandangan akan hidup yang didasari akan pemahaman
adanya proses pencarian makna dan tujuan. Sementara dalam komponen misi hidup,
individu memiliki metamotivasi yang berarti mereka dapat memecah misi hidupnya
dalam target-target konkrit dan tergerak untuk memenuhi misi tersebut.
4. Kesakralan hidup
Individu yang spiritual mempunyai kemampuan untuk melihat kesakralan
dalam semua hal hidup. Pandangan akan hidup mereka tidak lagi dikotomi seperti

pemisahan antara yang sakral dan yang sekuler, atau yang suci dan yang duniawi,
namun justru percaya bahwa semua aspek kehidupan suci sifatnya dan bahwa yang
sakral dapat juga ditemui dalam hal-hal keduniaan.
5. Nilai-nilai material
Individu yang spiritual menyadari akan banyaknya sumber kebahagiaan
manusia, termasuk pula kebahagiaan yang bersumber dari kepemilikan material.
Oleh karena itu, individu yang spiritual menghargai materi seperti kebendaan atau
uang namun tidak mencari kepuasaan sejati dari hal-hal material tersebut. Mereka
menyadari bahwa kepuasaan dalam hidup semestinya datang bukan dari seberapa
banyak kekayaan atau kebendaan yang dimiliki.
6. Altruisme
Individu yang spiritual menyadari akan adanya tanggung jawab bersama dari
masing-masing orang untuk saling menjaga sesamanya (our brothers keepers).
Mereka meyakini bahwa tidak ada manusia yang dapat berdiri sendiri, bahwa umat
manusia terikat satu sama lain sehingga bertanggung jawab atas sesamanya.
Keyakinan ini sering dipicu oleh kesadaran mereka akan penderitaan orang lain.
Nilai humanisme ini diikuti oleh adanya komitmen untuk melakukan tindakan nyata
sebagai perwujudan cinta altruistiknya pada sesama.
7. Idealisme
Individu yang spiritual memiliki kepercayaan kuat pada potensi baik manusia
yang dapat diaktualisasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Memiliki keyakinan
bukan saja pada apa yang terlihat sekarang namun juga pada hal baik yang
dimungkinkan dari hal itu, pada kondisi ideal yang mungkin dicapai. Mereka percaya
bahwa kondisi ideal adalah sesuatu yang sebenarnya mungkin untuk diwujudkan.
Kepercayaan ini membuat mereka memiliki komitmen untuk menjadikan dunia
tempat yang lebih baik, setidaknya dalam kapasitasnya masingmasing.
8. Kesadaran akan peristiwa tragis
Individu yang spiritual menyadari akan perlu terjadinya tragedi dalam hidup
seperti rasa sakit, penderitaan atau kematian. Tragedi dirasa perlu terjadi agar mereka
dapat lebih menghargai hidup itu sendiri dan juga dalam rangka meninjau kembali
arah hidup yang ingin dituju. Peristiwa tragis dalam hidup diyakininya sebagai alat
yang akan membuat mereka semakin memiliki kesadaran akan eksistensinya dalam
hidup.
9. Buah dari spiritualitas
Komponen terakhir merupakan cerminan atas kedelapan komponen
sebelumnya dimana individu mengolah manfaat yang dia peroleh dari pandangan,
kepercayaan dan nilai-nilai yang dianutnya. Pada komponen ini individu menilai efek
dari spiritualitasnya, dan biasanya dikaitkan dengan hubungannya terhadap diri
sendiri, orang lain, alam, kehidupan, dan apapun yang dipersepsikannya sebagai
aspek transenden.
Schreurs (2002) menyatakan spiritualitas terdiri dari tiga aspek yaitu aspek
eksistensial, aspek kognitif, dan aspek relasional:
1. Aspek eksistensial, seseorang belajar untuk mematikan bagian dari dirinya yang
bersifat egosentrik dan defensif. Aktivitas yang dilakukan seseorang pada aspek
ini dicirikan oleh proses pencarian jati diri (true self).
2. Aspek kognitif, yaitu saat seseorang mencoba untuk menjadi lebih reseptif
terhadap realitas transenden. Biasanya dilakukan dengan cara menelaah literatur

atau melakukan refleksi atas suatu bacaan spiritual tertentu, melatih kemampuan
untuk konsentrasi, juga dengan melepas pola pemikiran kategorikal yang telah
terbentuk sebelumnya agar dapat mempersepsi secara lebih jernih pengalaman
yang terjadi serta melakukan refleksi atas pengalaman tersebut, disebut aspek
kognitif karena aktivitas yang dilakukan pada aspek ini merupakan kegiatan
pencarian pengetahuan spiritual.
3. Aspek relasional, merupakan tahap kesatuan dimana seseorang merasa bersatu
dengan Tuhan (dan atau bersatu dengan cintaNya). Pada aspek ini seseorang
membangun, mempertahankan, dan memperdalam hubungan personalnya dengan
Tuhan.
C.

Masyarakat Kota

Masyarakat kota adalah sekumpulan orang yang hidup dan bersosialisasi di


daerah yang mungkin bisa dikatakan lebih maju dan lebih modern dan mudah untuk
suatu hal yang dicita-citakan. Karena masyarakat kota memiliki gengsi yang tinggi
sehingga sulit menemukan rasa solideritas yang tinggi maka dari itu masyarakat kota
lebih cederung individualis. Menurut Talcott Persons mengenai beberapa tipe
masyarakat kota yang dibagi pada empat macam diantaranya: Netral Afektif, Orietasi
diri, Universalisme, Heterogenitas.
Netral Efektif adalah masyarakat kota yang lebih mementingkat rasionalitas
dan sifat rasional ini erat hubungannya dengan konsep Gesellschaft atau Association.
Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang
menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah
sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya.
Orientasi diri adalah masyarakat dengan kekuatannya sendiri dan harus dapat
memepertahankan dirinya sendiri, pada umumnnya didalam kota tetangga bukanlah
orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan. Oleh karena itu setiap orang dikota
terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada oranglain, mereka cenderung untuk
individualistik.
Universalisme adalah berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum
oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk
universalisme. Heterogenitas adalah masyarajat kota yang ebi memikirkan sifat
heterogen artinya trdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan produksinya.
Heterogenitas masyarakat kota yang harus mempertahankan diri sendiri dikarenakan
tetangga yang biasanya menjadi kerabat dekat dikota bukanlah sebagai salah satu
yang bisa diandalkan sebagai seseorang yang bisa membantu dikala susah, mereka
cenderung bersifat sendiri-sendiri untuk bertahan hidup (individualistik).

III.

KONDISI UMUM
A.

Geografis

Kota Secara geografis Provinsi DKI Jakarta terletak antara 51912 sampai
62354Lintang Selatan dan 1062242 sampai 1065818 Bujur Timur dengan
ketinggian 7 mdpl. Batas-batas wilayah provinsi DKI Jakarta, yaitu sebelah utara berbatasan
dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bekasi, sebelah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Bogor, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Tangerang.

B.

Pemerintahan

Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sebagai ibu kota Negara Kesatuan


Republik Indonesia diatur dalam undang-undang Republik Indonesia Nomor 29
Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Undangundang ini menggantikan UU Nomor 34 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Provinsi
Daerah Khusus Ibu Kota Negara Republik Indonesia Jakarta, serta UU Nomor 11
Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus Ibu Kota Negara
Republik Indonesia Jakarta yang keduanya tidak berlaku lagi. Jakarta berstatus
setingkat provinsi dan dipimpin oleh seorang Gubernur. Berbeda dengan provinsi
lainnya, pembagian pemerintahan Provinsi DKI Jakarta hanya terdiri atas kota
administratif dan Kabupaten administratif, yang berarti tidak memiliki perwakilan
rakyat tersendiri. Dengan demikian, Provinsi DKI Jakarta hanya memiliki DPRD
Provinsi dan tidak memiliki DPRD Kabupaten/ Kota.

C.

Penduduk

Jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta sebanyak 9.607.787 jiwa yang


mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerahperkotaan sebanyak 9.607.787
jiwa (100,00 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 0 jiwa (0,00 persen).
Penduduk laki-laki Provinsi DKI Jakarta sebanyak 4.870.938 jiwa dan perempuan
sebanyak 4.736.849 jiwa. Seks Rasio adalah 103, berarti terdapat 103 laki-laki untuk
setiap 100 perempuan.
D.

Budaya dan Nilai

Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo atau sebuah campuran budaya


dari beragam etnis. Sejak Zaman Belanda, Jakartamerupakan ibu kota Indonesia
yang menarik pendatang dari dalam dan luar nusantara. Suku-suku yang mendiami
Jakarta antara lain Betawi, Jawa, Sunda, Minang, Batak, Dan Bugis. Selain budaya
Arab, Tiongkok, India dan Portugis. Suku Betawi yang diyakini sebagai penduduk
asli Jakarta sebenarnya berasal dari hasil perkawinan antar etnis dan bangsa dimasa

10

lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang betawi adalah keturunan
kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh belanda ke
Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku betawi sebenarnya terhitung
pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai
kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, Seperti orang Sunda,
Jawa, Arab, Bali, Bugiis, Makassar, Ambon, Melayu, dan Tionghoa. Asumsi
kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam
segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang
berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb ,
Fauzi Bowo mantan Gubernur Jakarta.
Ada beberapa hal yang positif dari betawi antara lain jiwa sosial mereka
sangat tinggi. Walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan
cenderung tendensius. Orang betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang
tercermin dari ajaran orang tua (terutama yang beragama islam) kepada anakanaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan
hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari
perilaku kebanyakan warga yang masih memainkan lakon atau kebudayaan yang
diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan
lain-lain. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar
masyarakat di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme
dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang medernisasi
tersebut.

11

IV.

METODE PRAKTIKUM

Metode yang digunakan dalam praktikum ini meliputi tempat dan waktu
penelitian, alat dan obyek, serta jenis dan teknik pengambilan. Metode-metode
tersebut ditempuh guna memperlancar kegiatan praktikum. Adapun metode
praktikum adalah sebagai berikut.
A.

Lokasi dan Waktu

Kegiatan praktikum dilaksanakan di Kampus Cilibende Gedung A Kelas CA


K08. Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Selasa, 17 September 2013. Praktikum
dilaksanakan pada pukul 07.00-10.20 WIB. Praktikum dilaksanakan dengan studi
literatur dengan studi kasus adalah Kota Jakarta. Fokus literatur pencarian meliputi
aspek dan elemen spiritual pada mayarakat Islam di Kota Jakarta.
B.

Alat dan Objek

Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum adalah buku tulis untuk
mencatat segala informasi yang didapat. Lembar panduan praktikum yang
dipergunakan untuk acuan dalam pengerjaan laporan. Sedangkan, objek dalam
kegiatan praktikum adalah Kota Jakarta sebagai fokus utama.
C.

Jenis dan Metode Pengambilan Data

Jenis data dalam kegiatan praktikum adalah data primer dan data sekunder.
Data primer meliputi aspek spiritual yang terdapat di Kota Jakarta. Selanjutnya
adalah elemen-elemen spiritual yang terdapat di Kota Jakarta. Sedangkan, data
sekunder dalam kegiatan praktikum adalah teori-teori kepustakaan mengenai
spiritual, aspek spiritual, elemen spiritual, dan masyarakat kota yang didapatkan dari
studi literatur.
Metode pengambilan data dalam kegiatan praktikum adalah menggunakan
studi literatur. Studi literatur meliputi pengambilan data dengan berbagai sumber
yang berkaitan dengan judul praktikum. Sumber literatur tersebut diantaranya adalah
melalui arikel di internet, buku elektronik, dan lember panduan praktikum.
D.

Tahapan Pengerjaan

Kegiatan praktikum ini dilakukan dengan beberapa tahapan pengerjaan.


Tahapan pengerjaan dilakukan dengan urutan sesuai panduan pengerjaan. Adapun
tahapan dalam kegiatan praktikum adalah sebagai berikut.
1. Pencarian pengertian mengenai tinjauan pustaka sesuai dengan judul praktikum.
2. Pengumpulan berbagai informasi mengenai aspek-aspek spiritual yang ada di
Kota Jakarta.
3. Pengumpulan berbagai informasi mengenai elemen-elemen spiritual yang berada
di Kota Jakarta.
4. Penulisan hasil informasi di tallysheet sesuai dengan poin-poin yang dimaksud.
5. Pembahasan mengenai hasil yang ditampilkan dalam tallysheet.

12

V.

PEMBAHASAN

Kegiatan praktikum mengenai spiritual di Kota Jakarta disajikan dalam


bentuk hasil dan pembahasan. Hasil merupakan tallysheet mengenai aspek dan
elemen spiritual di Kota Jakarta. Sedangkan, pembahasan adalah ulasan mengenai
hasil yang dibandingkan dengan teori mengenai spiritual dan kespiritualan,
khususnya masyarakat kota. Berikut adalah hasil dan pembahasan menganai aspek
dan elemen spiritual pada Masyarakat Kota Jakarta.
A.

Hasil

Hasil disajikan dalam bentuk tallysheet berupa tabel inventarisasi sesuai


dengan aspek maupun elemen spiritual (Tabel 1). Dalam tabel hasil juga disajikan
mengenai jenis Hasil juga menyajikan secara ringkas mengenai deskripsi dari
masing-masing poin.
Tabel 1. Tallysheet Inventarisasi Aspek dan Elemen Spiritual di Masyarakat
Perkotaan
No

Aspek dan Elemen


Spiritual

Jenis Spiritual
Ada

1.

Aspek Spiritual
a. Merasa yakin
bahwa hidup sangat
bermakna
b. Memiliki sebuah
komitmen terhadap
aktualisasi potensipotensi positif
dalam setiap aspek
kehidupan
c. Menyadari akan
keterkaitan dalam
kehidupan
d.

2.

Meyakini bahwa
berhubungan
dengan dimensi
tansendensi adalah
menguntungkan
Elemen Spiritual
a. Kapasitas
Transendensi
b. Kemampuan untuk
memasuki kondisi
kesadaran spiritual
yang lebih tinggi
c. Kemampuan untuk
menyadari akan
kemampuan
merasakan hal-hal
suci
d. Kemampuan untuk

Deskripsi

Tidak Ada

Masyarakat
perkotaan
Jakarta
mempercayai agama Islam sebagai
pedoman dalam menjalani kehidupan
Masyarakat penganut agama islam tidak
memakan Babi, karena merupakan
larangan yang telah ditetapkan oleh yang
maha kuasa

Islam menjadi agama dominan


bertoleransi terhadap agama lain

Mendekatkan diri kepada sang pencipta


melalui beberapa kegiatan

Kegiatan kerohanian Islam di kalangan


siswa pelajar di kota Jakarta.
Proses berdzikir.

dan

Seseorang melakukan ritual Akekah dan


Sunatan

Ulama sebagai sarana meminta solusi

13

e.

memanfaatkan
sumber-sumber
spiritual untuk
memecahkan
permsalahan dalam
kehidupan
Kemampuan untuk
bertingkah laku
yang baik

dalam menyelesaikan suatu permasalahan

Mengikuti prosesi akad nikah

B.

Pembahasan

Pembahasan merupakan ulasan dari hasil secara lebih terperinci dan


dibandingkan dengan teori yang ada. Pembahasan pada kegiatan praktikum ini dibagi
menjadi dua garis besar. Pembahasan mengenai aspek spiritual dan elemen spiritual.
Aspek spiritual diantaranya adalah merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna,
memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap
aspek kehidupan, dan meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi
adalah menguntungkan. Sedangkan, elemen spiritual meliputi kapasitas transendensi,
kemampuan untuk memasuki kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi,
kemampuan untuk menyadari akan merasakan hal-hal suci, kemampuan untuk
memanfaatkan sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan dalam
kehidupan, dan kemampuan untuk bertingkah laku baik.
1.
Aspek Spiritual
Aspek spiritual yang mancakup kehidupan dan kegiatan yang berhubungan
dengan spiritual. Aspek spiritual yang ada di Kota Jakarta berhubungan ajaran-ajaran
Agama Islam dalam kehidupan masyarakat. Agama Islam yang memiliki berbagai
ajaran yang berhubungan dengan pencipta maupun dengan sesama makhluk hidup
dapat menjadi aspek spiritual yang dapat menjadikan pemeluknya memiliki spiritual
yang lebih. Berikut adalah aspek spiritual yang berhubungan dengan ajaran Agama
Islam di Kota Jakarta
a.

Merasa Yakin Bahwa Hidup Sangat Bermakna (Nur Ardi Samra


J3B114046)
Manusia dalam menjalani hidup, membutuhkan pedoman agar dapat
menjalani hidup dengan baik. Masyarakat Jakarta meyakini bahwa kepercayaan dan
agama merupakan salah satu bentuk dari pedoman untuk menjalani hidup. Dalam
menghargai hidup, manusia harus selalu menjalani kehidupan dengan sebaik
baiknya. Agama merupakan bentuk dari kepercayaan manusia untuk menuntun
kehidupan yang lebih baik.
b. Memiliki Sebuah Komitmen Terhadap Aktualisasi Potensi-Potensi Positif
dalam Setiap Aspek Kehidupan (Nur Ardi Samra J3B114046)
Penganut agama Islam tidak boleh memakan babi, hal ini yang telah
ditentukan dalam ajaran agama Islam. Sebagai penganut yang berkomitmen,
masyarakat mengikuti ketentuan agama tersebut. komitmen ini dipegang teguh oleh
masyarakat muslim, karena mereka meyakini bahwa dengan mengikuti ketentuan
agama mereka, mereka akan mendapatkan kehidupan yang positif. Mentaati perintah
yang mahakuasa merupakan salah satu cara bagi masyarakat kota Jakarta yang
beragama islam agar selalu dapat diberi keberkahan oleh Tuhan mereka.

14

2.

Elemen Spiritual
Elemen spiritual secara teori hampir sama dengan aspek spiritual. Elemen
spiritual berkaitan dengan kapasitas transendensi, kemampuan untuk memasuki
kondisi kesadaran spiritual yang lebih tinggi, kemampuan untuk menyadari akan
kemampuan merasakan hal-hal suci, kemampuan untuk memanfaatkan sumbersumber spiritual untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan, kemampuan
untuk bertingkah laku yang baik. Pemeluk Agama Hindu di Kota Jakarta selain
melakukan ritual agama yang sakral, juga dilakukan festival dalam rangka
penyambutan hari besar. Berbagai festival dan perayaan tersebut masing-masing
memiliki nilai-nilai yang terkadung dan bermanfaat bagi masyarakat sehingga
berpotensi untuk membawa masyarakat pada kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
Berikut adalah elemen spiritual penganut Agama Hindu di Kota Jakarta.
a.

Kapasitas Transendensi (Angga Saputra Oktavian - J3B114005)


Banyaknya kenakalan pelajar (siswa) tampak jelas bahwa pada mereka yang
sedang tumbuh jiwanya. Terutama mereka yang hidup dikota-kota besar seperti di
Kota Jakarta yang mencoba mengembangkan diri kearah kehidupan yang lebih maju
dan modern sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dimana
beraneka ragam kebudayaan asing yang merusak seolah-olah tanpa seleksi. Mereka
dihadapkan pada aneka ragam pengalaman yang menyebabkan mereka bingung
memilih mana yang baik mana yang buruk. Nilai-nilai moral yang akan diambilnya
menjadi pegangan terasa kabur, terutama peranan pendidikan keluarga yang kurang
mengindahkan ajaran agama bagi anak-anaknya. Sebelum memasuki SMA,
kehidupan terarah dan teratur serta mengikuti tata cara tertentu, tetapi setelah
memasuki SMA terasa seolah-olah kehilangan kemudi dan arah.
Para pendidik termasuk orang tua mempunyai tanggung jawab yang bersama
dalam membentuk karakter serta tingkah laku yang baik bagi siswa terutama dalam
hal mengatasi kenakalannya dilingkungan sekolah. Mental merupakan faktor penting
dalam menentukan akhlak yang baik bagi manusia untuk berakhak mulia.
Oleh karena itu dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak didik (siswa),
maka disekolah tersebut dibentuklah kegiatan ekstrakurikuler Seksi Kerohanian
Islam, yaitu suatu kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran tatap muka yang
bertujuan untuk menunjang serta mendukung program kulikuler Pendidikan Agama
Islam yang bertujuan meningkatkan keimanan, pemahaman, pengamatan dan
pengamalan ajaran Agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman
dan bertaqwa kepada Allah SWT serta bermental mulia. Untuk mencapai tujuan
tersebut diatas dipakai dua cara pendekatan yaitu pendekatan teoritis dengan
melakukan studi kepustakaan dan pendekatan studi lapangan dengan mengadakan
penelitian langsung di SMAN khususnya yang ada di Kota Jakarta sebagai obyek
penelitian.
b.

Kemampuan untuk Memasuki Kondisi Kesadaran Spiritual yang Lebih


Tinggi (Angga Saputra Oktavian - J3B114005)
Pawai Perubahan gelombang otak selama proses dzikir. Efek yang paling
sering dialami oleh peserta dzikir metodenya adalah munculnya kondisi tenang,
pernapasan berjalan dengan lebih lambat, badan menjadi rileks dan beberapa dari
mereka dapat merasakan keheningan yang sangat dalam sehingga mereka

15

menuturkan ketika kondisi tersebut berlangsung mereka tidak mampu berkata-kata


seperti orang melamun tapi tetap sadar. Fenomena peserta ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan Hirai (dalam, Subandi 2002) yang menemukan bahwa
adanya perubahan gelombang otak selama proses meditasi berlangsung. Dari hasil
penelitiannya Hirai membagi menjadi empat tahap : pertama, dalam lima puluh
menit gelombang otak berubah dari betha ke alpha. Kedua, gelombang otak makin
halus sekitar 50% gelombang alpha muncul ketika subjek menutup mata, ketiga,
gelombang otak semakin lambat dan halus, dan keempat, gelombang otak menjadi
gelombang tetha yaitu gelombang yang pada umumnya muncul pada saat tidur atau
mimpi. Terakhir perubahan makin halus dan menjadi gelombang deltha yang sangat
lambat. Ditemukan juga bahwa makin lama seorang berlatih meditasi, makin halus
gelombang otaknya. Jadi dari kegiatan dzikir tersebut dengan tidak langsung dapat
mengubah kesadaran kita jauh lebih baik dari sebelumnya contoh nya adalah apabila
kita sedang emosi dan ingin meredakan dengan lebih baik dan membuat kita jauh
lebih tenang adalah dengan cara berdzikir. Banyak di lakukan ulama dan ustadz yang
ada di masjid-masjid di Kota Jakarta yaitu dengan menggelar suatu acara dzikir
malam setiap malam jumat. Apa lagi di masjid Istiqlal Jakarta yang banyak umat atau
ulama sedang melakukan suatu dzikir untuk mengkondisikan kesadaran mengenai
pikiran yang ada di otak dan hati kita.
c.

Kemampuan untuk Menyadari Akan Kemampuan Merasakan Hal-Hal


Suci (Kadek Sukasari J3B214072)

Pawai Masyarakat Indonesia dikenal memiliki banyak ritual, tak terkecuali


masyarakat Betawi, ritual ini merupakan suatu kebiasaan turun-temurun yang
diajarkan oleh orang tua dahulu dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Ada
beberapa ritual yang dilakukan oleh masyarakat Betawi. Masing-masing ritual
memiliki tujuan dan symbol tersendiri. Berikut ini beberapa dari ritual hidup
masyarakat Betawi.
Akekah atau biasa masyarakat Betawi menyebut Akeke adalah upacara
selamatan pemberian nama dan mencukur rambut bayi. Pada upacara itu dipotong
kambing sesuai dengan jenis kelamin si bayi. Apabila laki-laki dipotong kambing
sebanyak 2 ekor untuk perempuan cukup 1 ekor. Ketika acara akekah rambut si bayi
dipotong sambil di doa-doakan oleh masyarakat yang hadir dalam upacara akekah.
Selanjutnya, rambut yang tadi dicukur dikumpulkan kemudian ditimbang yang
selanjutnya untuk dibelikan emas sesuai dengan rambut bayi yang dicukur untuk
disumbankan kepada anak yatim-piatu. Akekah juga dimeriahkan dengan pembacaan
mauled Al-Barjanzi dan pembagian berekat (Besek) untuk para hadirin.
Sunatan bagi masyarakat Betawi adalah upacara memotong kulit ujung penis
bagi anak laki-laki sesuai dengan ajaran agama Islam. Biasanya sebelum hari H si
anak mulai diarak keliling kampong dengan menggunakan delman. Tujuannya adalah
untuk member kegembiraan serta semangat kepada si anak. Perlengkapan dan
pendukung acara ini antara lain; 1. Pakaian pengantin sunat, 2. Pembacaan shalawat
dustur, 3. Grup rebana ketimpring sebagai pengarak dan pembaca shalawat badar, 4.
Kuda hias, dan 5. Grup ondel-ondel. Perlengkapan tersebut tidaklah wajib digunakan

16

saat acara sunatan, hanya orang-orang yang berkeinginan saja yang melengkapinya
dengan tujuan agar suasana sunatan lebih meriah.
d. Kemampuan untuk Memanfaatkan Sumber-Sumber Spiritual Untuk
Memecahkan Permasalahan dalam Kehidupan (Kadek Sukasari
J3B214072)
Ulama memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai peristiwa sejarah
penting, terutama sejarah perubahan masyarakat (social engineering). Bahkan nyaris
tidak ada satu pun perubahan masyarakat di dunia ini yang tidak melibatkan peran
ulama. Mereka jugalah orang pertama yang menyebarkan kesadaran ini di tengahtengah masyarakat hingga masyarakat memiliki kesadaran kolektif untuk melakukan
perubahan. Jika kesadaran terhadap kerusakan masyarakat belum tumbuh di tengahtengah masyarakat, niscaya tidak akan tumbuh pula keinginan untuk berubah, apalagi
upaya untuk melakukan perubahan. Dari sini bisa disimpulkan, bahwa ulama
merupakan sumber dan inspirasi perubahan.
Peran dan fungsi strategis ulama dapat diringkas sebagai berikut. Pertama,
pewaris para nabi. Tentu, yang dimaksud dengan pewaris nabi adalah pemelihara dan
menjaga warisan para nabi, yakni wahyu/risalah, dalam konteks ini adalah al-Quran
dan Sunnah. Kedua, pembimbing, pembina dan penjaga umat. Pada dasarnya, ulama
bertugas membimbing umat agar selalu berjalan di atas jalan lurus. Ketiga,
pengontrol penguasa. Peran dan fungsi ini hanya bisa berjalan jika ulama mampu
memahami konstelasi politik global dan regional. Keempat, sumber ilmu. Ulama
adalah orang yang fakih dalam masalah halal-haram. Ia adalah rujukan dan tempat
menimba ilmu sekaligus guru yang bertugas membina umat agar selalu berjalan di
atas tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Begitu pula dengan masyarakat kota Jakarta yang mempercayai kemampuan
untuk memanfaatkan sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permasalahan
dalam kehidupan. Seperti yang telah diketahui, kota Jakarta disebut dengan kota
metropolitan yang tentunya banyak sekali sumber-sumber pekerjaan. Banyaknya
tempat bekerja inilah yang membuat masyaraktnya dikhawatirkan menimbulkan
permasalahan, karena pastinya akan banyak sekali terdapat godaan. Disinilah peran
ulama dalam membantu masyarakat menyelesikan permasalahan agar tetap berada di
jalan Tuhan.
e. Kemampuan untuk Bertingkah Laku yang Baik (Kadek Sukasari
J3B214072)
Suku Betawi sangat mencintai kesenian, salah satu ciri khas kesenian mereka
yaitu Tanjidor yang dilatar belakangi dari budaya Belanda, selain itu betawi memiliki
kesenian keroncong tugu yang dilatar belakangi dari budaya Portugis-Arab, kesenian
gambang kromong yang dilatar belakangi dari budaya Cina. Selain kesenian yang
selalu ditampilkan dengan penuh kemeriahan, tata cara pernikahan budaya Betawi
juga sangat meriah.

17

Untuk adat prosesi pernikahan betawi, ada banyak serangkaian prosesi.


Didahului masa perkenalan melalui Mak Comblang. Dilanjutkan lamaran,
pingitan, upacara siraman. Prosesi potong cuntung atau ngerik bulu kalong dengan
uang logam yang diapit lalu digunting. Kemudian dilanjutkan dengan malam pacar,
malam dimana mempelai wanita memerahkan kuku kaki dan tangannya dengan
pacar. Puncak adat betawi adalah Akad nikah.
Tradisi Meriah dan penuh warna-warni, demikian gambaran dari tradisi
pernikahan adat Betawi. Diiringi suara petasan, rombongan keluarga mempelai pria
berjalan memasuki depan rumah kediaman mempelai wanita sambil diiringi oleh
ondel-ondel, tanjidor serta marawis (rombongan pemain rebana menggunakan bahasa
arab). Mempelai pria berjalan sambil menuntun kambing yang merupakan ciri khas
keluarga betawi dari Tanah Abang.
Sesampainya didepan rumah terlebih dulu diadakan prosesi Buka Palang
Pintu, berupa berbalas pantun dan Adu Silat antara wakil dari keluarga pria dan
wakil dari keluarga wanita. Prosesi tersebut dimaksudkan sebagai ujian bagi
mempelai pria sebelum diterima sebagai calon suami yang akan menjadi pelindung
bagi mempelai wanita sang pujaan hati. Uniknya, dalam setiap petarungan silat,
pihak mempelai wanita pasti dikalahkan oleh jagoan calon pengantin pria.
Pada saat prosesi akad nikah, rombongan mempelai pria memberikan hantaran
berupa Sirih, gambir, pala, kapur dan pinang artinya segala pahit, getir, dan
manisnya kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama antara suami dan istri.
Maket Mesjid, maksudnya adalah agar mempelai wanita tidak lupa akan
kewajibannya kepada agama dan harus menjalani shalat serta mengaji. Kekudung,
berupa barang kesukaan mempelai wanita misalnya salak condet, jamblang, dan
sebagainya. Mahar atau mas kawin dari pihak pria untuk diberikan kepada mempelai
wanita. Pesalinan berupa pakaian wanita seperti kebaya encim, kain batik, kosmetik,
sepasang roti buaya. Buaya merupakan pasangan yang abadi dan tidak berpoligami
serta selalu mencari makan bersama-sama. Petise yang berisi sayur mayur atau bahan
mentah untuk pesta, misal wortel, kentang, bihun, buncis dan sebagainya.
Acara berlanjut dengan pelaksanaan akad nikah. Yang kemudian dilanjutkan
dengan penjemputan pengantin wanita. Selanjutnya, kedua pengantin dinaikkan ke
dalam sebuah delman yang sudah dihias dengan masing-masing seorang pengiring.
Delman tersebut ditutupi dengan kain pelekat hitam sehingga tidak kelihatan dari
luar. Akan tetapi, dengan kain pelekat hitam yang ditempelkan pada delman, maka
orang-orang mengetahui bahwa ada pengantin yang akan pergi ke penghulu.
Pada hari pesta pernikahan, baik pengantin pria maupun pengantin wanita,
mengenakan pakaian kebesaran pengantin dan dihias. Dari gaya pakaian pengantin
Betawi, ada dua budaya asing yang melekat dalam prosesi pernikahan. Pengantin
pria dipengaruhi budaya Arab. Sedangkan busana pengantin wanita dipengaruhi adat
Tionghoa. Demikian pula dengan musik yang meramaikan pesta pernikahan.

18

KESIMPULAN
Kesimpulan dari kegiatan praktikum Identifikasi Aspek dan Elemen Spiritual
pada Masyarakat Pekotaan adalah sebagai berikut.
1. Aspek spiritual merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna dapat dilihat dari
kepercayaan masyarakat dalam memeluk agama islam. Memiliki sebuah
komitmen teradap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap aspek
kehidupan dapat dilihat pada komitmen untuk tidak mengkonsumsi daging babi.
Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan berupa toleransi terhadap agama
lain. Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi tansendensi adalah
menguntungkan berupa mendekatkan diri kepada sang pencipta melalui beberapa
kegiatan rohani.
2. Elemen spiritual mengenai Kapasitas Transendensi adalah kegiatan kerohanian
islam di kalangan siswa pelajar di Jakarta, Kemampuan untuk memasuki kondisi
kesadaran spiritual yang lebih tinggi dengan cara berdzikir kepada yang maha
kuasa, Kemampuan untuk menyadari akan kemampuan merasakan hal-hal suci
berupa melakukan ritual Akekah dan Sunatan. Kemampuan untuk memanfaatkan
sumber-sumber spiritual untuk memecahkan permsalahan dalam kehidupan
berupa Ulama sebagai sarana meminta solusi dalam menyelesaikan suatu
permasalahan, Kemampuan untuk bertingkah laku yang baik berupa mengikuti
prosesi akad nikah

19

DaftarPustaka
monitorday.
2015.
jadwal-kegiatan-masjid-istiqlal-selamaramadhan.http://www.monitorday.com .[diunduhpada 17 september 2015]
wordpress.
2015.
itikaf-di-masjid-masjid-jamijakarta.https://koestoer.wordpress.com.[ diunduhpada17 september 2015]
kementrianagama. 2015. DKI Jakarta JuaraUmum STQ XXIII. Kemenag.go.id.
[diunduhpada 17 september 2015]
suaraislam. 2015. Itikaf di Masjid Istiqlal. www.suara-islam.com. .[diunduhpada 17
september 2015]