Anda di halaman 1dari 30

Laporan Praktikum

Mata Kuliah: Wisata Budaya dan Spiritual

15 September 2015

IDENTIFIKASI ASPEK DAN ELEMEN BUDAYA PADA


MASYARAKAT NON PERKOTAAN
(Studi Kasus: Sidoarjo)
DisusunOleh :
Kelompok 2 / Praktikum 1
AnggaSaputraOktavian
Nur Ardi Samra
DhantyArdini Cahyati Lubis
Kadek Sukasari
Dosen :

J3B114005
J3B114046
J3B114056
J3B214072

Kania Sofiantina Rahayu, S.Kom, M.Par, MTHM


RiniUntari, S.Hut,M.Si
Asisiten Dosen :
Rima Pratiwi Batubara, S. Hut
Alvionita Ritawati, A. Md

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Tujuan

II. TINJAUAN PUSTAKA

III. KONDISI UMUM

IV. METODE PRAKTIKUM

11

A. Waktu dan Lokasi

10

B. Alat dan Bahan

10

C. Tahapan Kerja

10

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

12

A. HASIL

12

B. Pembahasan

13

1. Aspek Budaya

12

2. Elemen Budaya

14

V. KESIMPULAN

23

A. Kesimpulan

23

DAFTAR PUSTAKA

24

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Kebudayaan, suatu istilah yang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Istilah
yang berasal dari bahasa sansakerta buddhayah yang berarti budi atau akal. Sementara
kebudayaan itu sendiri kurang lebih memiliki makna semua hasil dari karya, rasa, dan
cita-cita masyarakat. Indonesia sendiri memiliki beraneka ragan suku dan budaya yang
emembentang dari sabang sampai merauke, atau dar Aceh sampai Papua.
Dengan jumlah pulau yang begitu banyak yang dipisahkan dengan lautan yang
begitu luas, tidak heran Indonesia juga kaya akan kebudayaan yang begitu beraneka
ragam. Suku Jawa, sebagai salah satu suku bangsa terbesar di Indonesia dengan jumlah
mencapai hampir seratus juta, dan juga kebudayaanya yang telah lahir selama berabadabad, memiliki kebudayaan yang begitu beraneka ragam. Budaya itu masih tetap lestari
karena diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai kebudayaan dalam
masyarakat Non Perkotaan yaitu masyarakat Sidoarjo yang termasuk dalam Suku Jawa
yang dikaji dalam 7 (tujuh) unsur kebudayaan seperti peralatan dan perlengkapan hidup,
mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem
pengetahuan, dan religi.
B. Tujuan
1. Mengidentifikasi aspek budaya pada masyarakat Kabupaten Sidoarjo
2. Mengidentifkasi elemen budaya pada myarakat Kabupaten Sidoarjo

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Identifikasi

Menurut Koenjtaraningrat (Koenjtaraningrat, 1987: 17). Mengidentifikasi


suatu fenomena sosial berarti Kartika Handayani : Identifikasi Anak Jalanan Di Kota
Medan, 2009. mengenal secara keseluruhan gejala yang terjadi dimasyarakat dengan
melihatnya melalui ukuran-ukuran pada gejala yang sama.
Menurut psikologi, definisi identifikasi merupakan sebuah istilah dari Sigmund
Freud. Identifikasi berarti dorongan untuk menjadi identik dengan orang lain.
Identifikasi dilakukan seseorang kepada orang lain yang dianggapnya ideal dalam suatu
segi, untuk memperoleh sistem norma, sikap dan nilai yang dianggapnya ideal, dan
masih merupakan kekurangan pada dirinya.
B. Pariwisata
Koen Meyers (2009) berpendapat pariwisata adalah aktivitasperjalanan yang
dilakukan oleh semntarawaktu dari tempat tinggal semula ke daerahtujuan dengan alasan
bukan untuk menetapatau mencari nafkah melainkan hanya untukmemenuhi rasa ingin
tahu, menghabiskanwaktu senggang atau libur serta tujuan-tujuan lainnya.
Kodhyat (1998)mengatakan pariwisata adalah perjalanandari suatu tempat
ketempat lain, bersifatsementara, dilakukan perorangan ataukelompok, sebagai usaha
mencarikeseimbangan atau keserasiaan dankebahagiaan dengan lingkungan
dalamdimensi sosial, budaya, alam dan ilmu.
Gamal (2002), pariwisata difenisikan sebagaibentuk. Suatu proses kepergian
sementaradari seorang, lebih menuju ke tempat lain diluar tempat tinggalnya.
Dorongankepergiaanya adalah karena berbagaikepentingan ekonomi, sosial, budaya,
politik,agama, kesehatan maupun kepentingan lain.
Suwantoro (1997),pariwisata adalah suatuproses kepergiaan sementara dari
seseorangatau lebih menuju tempat lain dari luartempat tinggalnya karena suatu alasan
danbukan untuk melakukan kepergian yangmenghasilkan uang.
Soekadijo (1996), pariwisata adalah gejala yangkomplek dalam masyarakat,
didalamnyaterdapat hotel, objek wisata, souvenir,pramuwisata, angkutan wisata,
biroperjalanan wisata, rumah makan dan banyaklainnya.
Burkart dan Medlik (1987),pariwisata sebagaisuatu tranformasi orang untuk
sementara dan dalam jangka waktu jangka pendek ketujuan-tujuan di luar tempat dimana
mereka hidupdan bekerja, dan kegiatan kegiatanmereka selama tinggal di tempattempattujuan itu.
Menurut WTO (1999), pariwisata adalahkegiatan manusia yang melakukan
perjalananke dan tinggal di daerah tujuan di luarlingkungan kesehariannya

C. Budaya
Kebudayaan Menurut Ahli Luar Negri:
1. Nostrand (1989: 51)
Mendefinisikan budaya sebagai sikap dan kepercayaan, cara berpikir, berperilaku,
dan mengingat bersama oleh anggota komunitas tersebut.
2. Richard brisling (1990: 11)
Kebudayaan sebagai mengacu pada cita-cita bersama secara luas, nilai,
pembentukan dan penggunaan kategori, asumsi tentang kehidupan, dan kegiatan goaldirected yang menjadi sadar tidak sadar diterima sebagai "benar" dan "benar" oleh
orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai anggota masyarakat.
3. Croydon (1973: 4)
Budaya adalah suatu sistem pola terpadu, yang sebagian besar berada di bawah
ambang batas kesadaran, namun semua yang mengatur perilaku manusia sepasti senar
dimanipulasi dari kontrol boneka gerakannya.
4. Larson dan Smalley (1972: 39)
Kebudayaan sebagai "blue print" yang memandu perilaku orang dalam suatu
komunitas dan diinkubasi dalam kehidupan keluarga. Ini mengatur perilaku kita dalam
kelompok, membuat kita peka terhadap
masalah status, dan membantu kita mengetahui apa tanggung jawab kita adalah untuk
grup. budaya yang berbeda struktur yang mendasari yang membuat bulat bulat
masyarakat dan komunitas persegi persegi.
5. Ralph Linton (1945: 30)
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan Dari Masyarakat Yang manapun dan
regular tidak Hanya mengenai sebagian Dari cara Hidup Name of ITU yaitu Masyarakat
Yang dianggap lebih diinginkan Dibuat Tinggi atau lebih.
6. Raymond Williams (1961: 16)
Budaya adalah seluruh kehidupan, materi, intelektual, dan spiritual.
7. Al. Krueber (1958: 582-583)
Kebudayaan sebagai suatu sistem Dari ide-ide dan Konsep-Konsep Kebudayaan
Dari wujud sebagai rangkaian tindakan berpola suatu aktivitas dan Manusia yang.
8. Sir Edwards B Tylor (1871: 1)
Kebudayaan adalah keseluruhan Kompleks Dari ide dan segala Sesuatu Yang
dihasilkan Manusia KESAWAN pengalaman historisnya. Termasuk disini adalah
pengetahuan, kepercayaan, Seni, moral, Hukum, kebiasaan, kemampuan Lainnya Serta
therapy terapi dan Yang diperoleh Manusia sebagai anggota Masyarakat.
9. C. Klluckhohn (1949: 35)
Sebagai total dari cara hidup suatu bangsa, warisan sosial yang diperoleh individu
dari grupnya.

D. Pengertian Masyarakat
Emile Durkheim : Menurut Emile Durkheim, pengertian masyarakat adalah
suatu kenyataan objektif dari individu-individu yang merupakan anggotanya.
Karl Marx : Menurut Karl Marx, pengertian masyarakat adalah suatu sturktur
yang mengalami ketegangan organisasi maupun perkembangan karena adanya
pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah secara ekonomi
M. J. Herkovits : Menurut M. J. Herkovits, pengertian masyarakat adalah
kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti suatu cara hidup tertentu.
J. L. Gillin dan J. P. Gillin : Menurut J. L. Gillin dan J. P. Gillin, pengertian
masyarakat adalah kelompok yang tersebar dengan perasaan persatuan yang sama
Max Weber : Menurut Max weber, pengertian masyarakat adalah suatu struktur
atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nila yang dominan pada
warganya
Selo Soemardjan : Menurut Selo Soemardjan, pengertian masyarakat adalah
orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
Paul B. Horton : Menurut Paul B. Horton, pengertian masyarakat adlaah
sekumpulan manusia yang relatif mandiri dengan hidup bersama dalam jangka waktu
cukup lama, mendiami suatu wilayah tertentu dengan memiliki kebudayaan yang sama,
dan sebagian besar kegiatan dalam kelompok itu.
Perbedaan antara desa dan kota
Dalam masyarakat modern, sering dibedakan antara masyarakat pedesaan (rural
community) dan masyarakat perkotaan (urban community). Menurut Soekanto (1994),
per-bedaan tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan pengertian
masyarakat sederhana, karena dalam masyarakat modern, betapa pun kecilnya suatu
desa, pasti ada pengaruh-pengaruh dari kota. Perbedaan masyarakat pedesaan dan
masyarakat perkotaan, pada hakekatnya bersifat gradual.
Kita dapat membedakan antara masya-rakat desa dan masyarakat kota yang
masing-masing punya karakteristik tersendiri. Masing-masing punya sistem yang
mandiri, dengan fungsi-fungsi sosial, struktur serta proses-proses sosial yang sangat
berbeda, bahkan kadang-kadang dikatakan berlawanan pula. Perbedaan ciri antara
kedua sistem tersebut dapat diungkapkan secara singkat menurut Poplin (1972) sebagai
berikut:

Masyarakat Pedesaan
>Perilaku homogen

Masyarakat Kota
>Perilaku heterogen

>Perilaku yang dilandasi oleh konsep


>Perilaku yang dilandasi oleh
kekeluargaan dan kebersamaan
pengandalan diri dan kelembagaan

konsep

>Perilaku yang berorientasi pada tradisi


>Perilaku yang berorientasi pada rasionalitas
dan status
dan fungsi
>Isolasi sosial, sehingga statik
Kesatuan dan keutuhan kultural
Banyak ritual dan nilai-nilai sakral
>Kolektivisme

>Mobilitas sosial, sehingga dinamik


Kebauran dan diversifikasi kultural
Birokrasi fungsional dan nilai-nilai sekular
>Individualisme

Warga suatu masyarakat pedesaan mempunyai hubungan yang lebih erat dan
lebih mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan
lainnya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan
(Soekanto, 1994). Selanjutnya Pudjiwati (1985), menjelaskan ciri-ciri relasi sosial yang
ada di desa itu, adalah pertama-tama, hubungan kekerabatan. Sistem kekerabatan dan
kelompok kekerabatan masih memegang peranan penting. Penduduk masyarakat
pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian, walaupun terlihat adanya tukang kayu,
tukang genteng dan bata, tukang membuat gula, akan tetapi inti pekerjaan penduduk
adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan di samping pertanian, hanya merupakan pekerjaan
sambilan saja.
Golongan orang-orang tua pada masyarakat pedesaan umumnya memegang
peranan penting. Orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada
kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Nimpoeno (1992) menyatakan bahwa di daerah
pedesaan kekuasaan-kekuasaan pada umumnya terpusat pada individu seorang kiyai,
ajengan, lurah dan sebagainya.
Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk
membedakan antara desa dan kota. Dengan melihat perbedaan perbedaan yang ada
mudah mudahan akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu
masyarakat dapat disebut sebagi masyarakat pedeasaan atau masyarakat perkotaan.
Ciri ciri tersebut antara lain :
1)
2)
3)

jumlah dan kepadatan penduduk


lingkungan hidup
mata pencaharian

4)
5)
6)
7)
8)
9)

corak kehidupan sosial


stratifiksi sosial
mobilitas sosial
pola interaksi sosial
solidaritas sosial
kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional

III. KONDISI UMUM


Kabupaten Sidoarjo terletak antara 112,5 dan 112,9 Bujur Timur dan antara 7,3
dan 7,5 Lintang Selatan. Batas sebelah utara adalah Kotamadya Surabaya dan
Kabupaten Gresik, sebelah selatan adalah Kabupaten Pasuruan, sebelah timur adalah
Selat Madura dan sebelah barat adalah Kabupaten Mojokerto. Topografi Kabupaten
Sidoarjo merupakan Dataran Delta dengan ketinggian antar 0 s/d 25 meter, ketinggian 03 meter dengan luas 19.006 Ha, meliputi 29,99%, merupakan daerah pertambakkan yang
berada di wilayah bagian timur. Wilayah bagian tengah yang berair tawar dengan
ketinggian 3-10 meter dari permukaan laut merupakan daerah pemukiman, perdagangan
dan pemerintahan, meliputi 40,81 %. Wilayah bagian barat dengan ketinggian 10-25
meter dari permukaan laut merupakan daerah pertanian, meliputi 29,20%.

Kondisi hidrogeologi Kabupaten Sidoarjo merupakan daerah air tanah, payau


dan air asin yang mencapai luas 16.312.69 Ha. Kedalaman air tanahnya rata-rata 0-5
meter dari permukaan tanah. Dan kondisi hidrologi Kabupaten Sidoarjo, terletak di dua
aliran sungai yaitu Kali Surabaya dan Kali Porong yang merupakan cabang dari Kali
Berantas yang berhulu di Kabupaten Malang. Untuk struktur tanah Kabupaten Sidoarjo
terdiri dari Alluvial kelabu seluas 6.236,37 Ha, Assosiasi Alluvial kelabu dan Alluvial
Coklat seluas 4.970,23 Ha, Alluvial Hidromart seluas 29.346,95 Ha, dan Gromosal
kelabu Tua Seluas 870,70 Ha.
Sejarah Kabupaten Sidoarjo bermula pada tahun 1019 - 1042 pada saat Kerajaan
Jawa Timur diperintah oleh Raja Airlangga yang merupakan putra dari Puteri
Mahandradata dan seorang Pangeran dari Bali yang bernama Udayana. Pada akhir masa
pemerintahannya di tahun 1042, Raja Airlangga membagi kerajaan menjadi dua bagian
kepada dua putranya yang bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan, agar
dikemudian hari tidak ada perebutan tahta dan permusuhan antar keduanya. Kedua putra
tersebut masing-masing memerintah Kerajaan Kediri yang berpusat di Daha dan
Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan (yang diyakini merupakan daerah
Sidoarjo). Kerajaan Kediri yang dipimpin Sri Samarawijaya memiliki hasil pertanian
yang sangat besar dan upeti selalu mengalir banyak, akan tetapi semua hasil tersebut

sulit diperdagangkan karena Kerajaan Kediri jauh dan tertutup dari laut yang merupakan
sarana perdagangan pada masa itu. Lain halnya dengan Kerajaan Jenggala yang
dipimpin Mapanji Garasakan terletak di daerah Delta Brantas yang meliputi seluruh
pesisir Utara, Kerajaan Jenggala menguasai muara sungai besar dan bandar-bandar di
tempat tersebut. Dari perbedaan dan persaingan di antara dua Kerajaan tersebut yang
sudah berlangsung hingga sampai kurang lebih 90 tahun lamanya, maka timbullah
peperangan besar diantara keduanya yang bertujuan saling memperebutkan bandar dan
menuntut pengambil alihan Kerajaan Jenggala. Perang antara kedua Kerajaan tersebut
berakhir dengan takluknya Kerajaan Jenggala pada tahun 1035 (menurut prasasti
Ngantang) oleh Kerajaan Kediri yang pada saat itu dipimpin Sri Jayabhaya.
Kondisi geografis Kabupaten Sidoarjo yang strategis dan sejarah masa lalu
memperlihatkan bahwa Sidoarjo menyimpan banyak potensi sumber daya alam dan
potensi industrial/ perekonomian yang baik. Maka wajar jika Sidoarjo sebagai salah satu
penyangga Ibukota Propinsi Jawa Timur.
Pada tanggal 28 Juli 2009 ditetapkannya Peraturan Daerah Sidoarjo Nomor 6
Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sidoarjo Tahun 2009-2029
oleh Bupati saat itu Win Hendrarso. Dalam Perda tersebut Pasal 68 dinyatakan bahwa
Siborian termasuk menjadi salah satu kawasan strategis pembangunan perekonomian di
Kabupaten Sidoarjo. Kemudian pada pasal 74 lebih lanjut dinyatakan bahwa Siborian
adalah kependekan dari Kecamatan Sidoarjo, Kecamatan Jabon, dan By Pass Kecamatan
Krian yang dikembangkan untuk kawasan industri dan perdagangan. Pengembangan
kawasan tersebut meliputi: Kecamatan Sidoarjo yaitu berada di sepanjang Jalan Lingkar
Timur Sidoarjo untuk pengembangan industri dan perdagangan; Kawasan Jabon akan
dikembangkan kawasan mix use untuk kegiatan industri; dan pengembangan By Pass
Krian untuk kawasan industri dan perdagangan. Kawasan mix use, merupakan
penggunaan lahan campuran dimana terdapat beberapa kegiatan yang menjadi satu area
yang berdekatan seperti permukiman, perdagangan dan jasa, pemerintahan serta industri
yang terdapat pada satu lokasi
Siborian memiliki daya tarik bagi investasi usaha karena adanya potensi-potensi
yang dimiliki oleh masing-masing kawasan industri tersebut. Secara umum dapat
dikatakan bahwa kedekatan Kabupaten Sidoarjo dengan ibukota provinsi Jawa Timur
(yaitu Surabaya) merupakan daya tarik utama karena kota Surabaya memiliki hampir
seluruh fasilitas yang dibutuhkan oleh industri, seperti besarnya jumlah konsumen
produk industri, sumber-sumber daya yang diperlukan bagi industri (manusia,
pembiayaan/ perbankan, mesin-mesin, dan sebagainya), serta adanya pelabuhan udara
dan dermaga laut bagi kepentingan distribusi produk baik domestik maupun
internasional.
Keterdekatan kawasan Siborian dengan kawasan industri lain (Surabaya
Industrial Estate / SIER, Kawasan industri Ngoro, Pasuruan Industrial Estate Rembang /
PIER) serta banyaknya industri-industri kecil penunjang di sekitar Kabupaten Sidoarjo
dan Kota Surabaya juga menjadi daya tarik tersendiri, karena menyediakan bahan baku
utama dan penunjang bagi kegiatan industri. Pengembangan lokasi usaha dan industri
serta penanaman modal, khususnya sektor perdagangan dan industri manufaktur besar
pada akhirnya merambah pada kawasan-kawasan yang berdekatan dengan ibukota
provinsi. Dalam hal ini, Kabupaten Sidoarjo memiliki potensi yang sangat memadai

10

guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan bagi suatu investasi. Kenyataan


tersebut terbukti dengan semakin bertambahnya penanam modal baik penanam modal
dalam negeri maupun penaman modal asing yang melakukan aktivitas usaha dan
produksinya di wilayah Kabupaten Sidoarjo.

IV.

METODE PRAKTIKUM

Metode praktikum dalam ini meliputi waktu dan lokasi, alat dan objek, teknik
pengambilan data, dan tahapan kerja.Metode praktikum tersebut ditempuh guna
memperlancar kegiatan praktikum.Adapun metode-metode tersebut adalah sebagai berikut.
A. Waktu dan Lokasi
Praktikum ini dilakukan dengan studi literatur dan dalam beberapa waktu.Adapun
masing-masing dari kelompok mencari data secara individu kemudian digabungkan menjadi
sebuah laporan yang lengkap. Adapun pengambilan data dilaksanakan pada hari Rabu, 09
September 2015 pukul 13.30-17.00 WIB. Untuk lokasi sendiri menyesuaikan.
B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum adalah studi literatur
yang berasal dari internet, jurnal dan buku panduan paraktikum. Alat dan bahan yang lain
adalah alat tulis menulis yang berguna untuk mencatat semua informasi yang didapatkan dan
komputer/notebook yang bermanfaat untuk membuat laporan. Semua alat dan bahan tersebut
bermanfaat untuk menunjang dalam kegiatan praktikum ini.
C. Tahapan Kerja
Tahapan kerja dalam kegiatan praktikum dilakukan dengan sistematis.Tahapan kerja
tersebut mendukung kegiatan pengambilan data yang dilakukan dengan observasi. Adapun
tahapan kerja dalam kegiatan praktikum adalah sebagai berikut:
1. Menentukan lokasi yang akan dijadikan studi literatur.
2. Mencari data melalui studi literatur.
3. Menganalisa data yang diperoleh dari hasil studi literatur.
4. Menyajikan data hasil analisa ke dalam bentuk laporan.

11

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL
Berdasarkan hasil studi literatur ditemukan beberapa informasi mengenai
kebudayaan Kota Surabaya.Berikut hasil data yang diperoleh dapat dilihat pada (Tabel 1).
Tabel 1. Aspek dan Elemen Budaya Masyarakat Surabaya
No.
1.

Aspek Elemen dan


Budaya
. Aspek Budaya

Jenis Kebudayaan
Material
Immaterial

Ide atau Gagasan

Deskripsi
Etnomatematika

Aktivitas

- Lelang Bandeng
- Nyandran

Benda-benda hasil
karya

Batik Tulis Sisdoarjo


- Museum 10 November

Elemen Budaya
a. Bahasa

Bahasa yang digunakan


adalah Boso Suroboyoan

b. Sistem pengetahuan

Pengrtahuan Kalender

c. Organisasi Sosial

- Karang Taruna Klagen


- Mukadinah

d. Sistem Mata
pencaharian

Petani, pedagang

e. Sistem Religi

Masyarakat
beragama Islam
Seni

yang

Sidoarjo

terdapat

Sidoarjo adalah
Kulit,
f. Kesenian

Wayang

Reog

Wayang
Cemandi,

Potehi,

Kepang, Tari Ujung

g. Sistem Perlengkapan
Hidup dan Teknologi

di

Kendhil, Anglo Cilik

Jaran

12

B. Pembahasan
Dari tabel di atas didapatkan hasil identifikasi mengenai aspek dan elemen budaya
masyarakat perkotaan di Kota Surabaya.Penjelasan mengenai aspek budaya meliputi ide
atau gagasan, aktivitas, dan benda-benda hasil karya.Sementara itu, elemen budaya
meliputi bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem mata pencaharian, sistem
religi, kesenian, dan sistem perlengkapan hidup dan teknologi. Penjelasan mengenai
aspek dan elemen budaya masyarakat perkotaan antara lain sebagai berikut:
1. Aspek Budaya
Aspek budaya yang terdapat di Kota Surabaya terdiri dari ide atau gagasan,
aktivvitas, dan benda-benda hasil karya.

13

a.

Ide atau Gagasan (Dhanty Ardini Cahyati Lubis, J3B114056)


Ide atau gagasan yang ada di masyarakat Kabupaten Sidoarjo adalah
Etnomatematika. Ide ini dikembangkan oleh pemerintah sidoarjo untuk mendeskripsikan
hasil eksplorasi etnomatika masyarakat sidorjo dengan pendekatan etnografi. Secara
bahasa, ethno berarti sesuatu yang sangat luas mencakup konteks social budaya
termasuk bahasa, mitos dan symbol kata dasar mathema yang berarti menjelaskan,
memahami dan melaukan kegiatan seperti pengkodean, mengukur, mengklasifikasi,
menyimpulkan, dan pemodelan. Etnomatematika merupakan penerapan matematika
yang diprktekkan berdasarkan kebudayaan, seperti benda hasil budaya, rumah adat,
suku, dan lainnya. Etnomatematika menggunakan konsep matematika secara luas yang
terkait dengan berbagai aktivitas matematika meliputi aktivitas pengelompokan
berhitung, mengukur, merancang bangunan ataupun alat, menetukan lokasi dan lainnya.
Salah satu kajian dari historis etnomatematika adalah menganalisis dan merkrontuksi
tradisi sona, yaitu anyaman tikar, kerajinan hasil karya dari besi, dan seni pahat. Karena
sebagian besar Sona Chokwe adalah simetris dan monolinear.

Sumber : http://hu.wikipedia.org
Gambar 1.Contoh Etnomatika

b. Aktivitas (Dhanty Ardini Cahyati Lubis, J3B114056)


1) Lelang Bandeng
Masyarakat sidoarjo dalam setiap tahunnya tepatnya dalam peringatan Maulid Nabi
Muhammad mengadakan tradisi lelang bandeng di alun-alun sidoarjo. Kegiatan ini
bertujuan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan juga menjadikan
cambuk untuk meningkatkan produksi ikan bandeng dengan cara pengembangan
motivasi dan promosi agar petani tambak lebih meningkatkan kesejahteraannya.
Kegiatan ini merupakan usaha dengan tujuan yang mulia, karena hasil bersih seluruhnya
digunakan untuk kegiatan social dan keagamaan melalui yayasan amal bhakti muslim
Kabupaten Sidoarjo. Tradisi ini selalu dibarengi dengan kegiatan lainnya, diantaranya
pasar murah, dan berbagai hiburan yang tidak dipungut biaya seperti Band, Orkes
Melayu, Ludruk, Samroh, dan Lomba MTQ tingkat kabupaten.

14

2) Nyadran
Nyadran merupakan kegiatan ruwatan seperti bersih desa, ruwah desa, dan
lainnya. Di Kabupaten Sidoarjo tepatnya di Desa Bolongwodo kecamatan candi terdapat
tradisi nyadran yang dilakukan pada saat bulan purnama. Bentuk kegiatannya berupa
pesta peragaan cara mengambil kupang di tengah laut selat Madura. Kegiatan ini
dilakukan pada dini hari sekitar pukul 01.00 pagi. Masyarakat berkumpul untuk
melakukan keliling, dimulai dari Bolongwodo menuju dusun Kepetingan.
Ketika iring-iringan perahu sampai di muara kali pecabean, perahu yang ditumpangi
oleh anak balita harus membuang seekor ayam. Hal ini didsarkan pada cerita dahulu
yang konon seseorang yang membawa anak kecil jika tidak membuang ayam, anak
tersebut akan kesurupan. Ketika sampai di Kepetingan, rombongan masyarakat
mengadakan makan bersama di makam Dewi Sekardadu. Sambil mengunggu fajar tiba,
masyarakat melakukan berziarah, bersedekah, dan berdoa di makam tersebut. Setelah
dari makam tersebut, masyarakat meninggalkan selat Madura dan kembali ke
Bolongwodo lalu disambut oleh masyarakat setempat.
c.

Benda-benda Hasil Karya (Dhanty Ardini Cahyati Lubis, J3B114056)


Salah satu benda-benda hasil karya masyarakat Sidoarjo adalah Batik Tulis
Sidoarjo. Batik ini merupakan batik khas sidoarjo yang dikerjakan disebuah kampong
pengrajin batik yang bernama Kampoeng Batik Jetis. Batik ini dipercaya sebagai
warisan leluhur sidoarjo. Menurut sejarah, batik tulis ini berpusat di jetis sejak tahun
1675. Batik ini mula-mula dikerjakan oleh mbah Mulyadi yang konon keturunan raja
Kediri yang lari ke Sidoarjo. Sampai sekarang, batik tersebut masih dibudidayakan dan
dijual di dalam negeri.

Sumber : http://areifew.com
Gambar 2.Batik Tulis Sidoarjo

15

2. Elemen Budaya
Elemen budaya yang terdapat di kota surabaya yaitu bahasa, sistem pengetahuan,
oraganisasi sosial, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian.
A. Bahasa (Kadek Sukasari,J3B214072)
Boso Suroboyoan adalah salah satu dialek Jawa di Jawa Timur. Selain digunakan
oleh warga Surabaya sendiri, juga digunakan oleh penduduk yang berdomisili di pintu
gerbang Surabaya, seperti Sidoarjo, Gresik, dan Mojokerto. Sebagian daerah juga ada
yang menggunakan dialek ini, seperti di Jombang, Malang, Pasuruan, dan Probolinggo.
Bahkan orang Madura sebagian besar bisa berdialek ini.
Jawa Timur dikenal dengan masyarakatnya yang to the point. Apalagi
masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Mereka sangat berbeda dari orang Jawa
kebanyakan yang bertutur kata dengan halus dan lembut. Masyarakat Arek, sebutan dari
masyarakat Jawa yang berdomisili di Surabaya dan sekitarnya, adalah masyarakat yang
tanpa basa-basi, jika ingin menyampaikan apa yang mereka rasakan, mereka langsung
mengatakan terus terang dan apa adanya.
B. Sistem Pengetahuan (Kadek Sukasari,J3B214072)
Salah satu bentuk sistem pengetahuan yanga ada, berkembang, dan masih ada
hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan atau kalender begitu juga dengan masyarakat
di Kabupaten Sidoarjo. Bentuk kalender Jawa adalah salah satu bentuk pengetahuan
yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena
penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan
bahkan sedikit budaya barat. Namun tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat ini,
walaupun penggunaanya yang cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap dalam
menggambarkan penanggalan, karena di dalamnya berpadu dua sistem penanggalan,
baik penanggalan berdasarkan sistem matahari (sonar/syamsiah) dan juga penanggalan
berdasarkan perputaran bulan (lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti
yang kita kenal saat ini, dan sistem panacawara yang mengenal 5 hari pasaran. Sejarah
penggunaan kalender Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada saat itu,
sultan agung, raja kerajaan mataram, yang sedang berusaha menytebarkan agama islam
di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya menggunakan sistem
kalender hijriah, namun angka tahun hijriah tidak digunakan demi asas kesinambungan.
Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun tetap menggunakan tahun saka,
yaitu tahun 1547.
Dalam sistem kalender Jawa pun, terdapat dua versi nama-nama bulan, yaitu
nama bulan dalam kalender Jawa matahari, dan kalender Jawa bulan. Nama- nama bulan
dalam sistem kalender Jawa komariah (bulan) diantaranya adalah suro, sapar, mulud,
bakdamulud, jumadilawal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, sela, dan dulkijah.
Namun, pada tahun 1855 M, karena sistem penanggalan komariah dianggap tidak cocok

16

dijadikan patokan petani dalam menentukan masa bercocok tanam, maka Sri Paduka
Mangkunegaran IV mengesahkan sistem kalender berdasarkan sistem matahari. Dalam
kalender matahari pun terdapat dua belas bulan
c. Organisasi Sosial (Angga Saputra,J3B114005)
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial.
Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat
dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki
hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu,
anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam
kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang
jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh
masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti
keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.

Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh
masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang
berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.
Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi
sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
Karang Taruna KLAGEN
MUKADDIMAH
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa dan karena
karunia-Nya juala, para remaja dan pemuda Dusun Klagen Desa Tropodo Kabupaten
Sidoarjo dapat mewujudkan keinginan dan harapannya untuk berhimpun dalam suatu
wadah organisasi sosial kepemudaan yang independen dan mandiri.
Generasi muda adalah komponen terbesar dalam komposisi penduduk di
Indonesia umumnya dan Dusun Klagen Desa Tropodo Kabupaten Sidoarjo. Khususnya
keberadaannya dapat mengisi ruang-ruang penting dalam setiap aspek hidup dan
kehidupan. Hal ini karena dalam usianya yang potensial, remaja dan pemuda adalah
manusia produktif yang menggerakkan pembangunan sekaligus menjadi bahan bakar
pertumbuhan bangsa hingga kemampuannya mempelopori dan menentukan kemajuan
bangsa menuju cita-cita kesejahteraan bersama yang diharapkan. Potensi produktifnya
juga sarat muatan negatif karena mereka justru dapat menjadi sumber terbesar dari
berbagai permasalahan bangsa, terutama permasalahan sosial.
Organisasi kepemudan sejak zaman kolonial hingga kini, dibentuk dan
dikembangkan utnuk tujuan menjawab segala agenda permasalahan bangsa, termasuk
permasalahan sosial yang setiap waktu cenderung mengalami perubahan baik secara
kuantitatif maupun kualitatif. Namun sejak lama pembentukan organisasi kepemudaan
cenderung selalu berorientasi pada upaya politisasi massa. Padahal sejak dahulu kita

17

mulai mebutuhkan wadah generasi muda yang peduli terhadap upaya-upaya penanganan
permasalahan sosial, tidak hanya secara lokal tetapi juga nasional.
Kebutuhan akan kehadiran organisasi sosial kepemudaan menjadi sangat
mendesak dan berarti manakala kita tahu bahwa sumber terbesar permasalahan sosial
adalah para remaja dan umumnya generasi muda, yang sekaligus memiliki potensi besar
untuk menyelesaikannya. Misi yang diemban dalam pembentukan organisasi sosial
kepemudaan bukan hanya sekedar membantu penyelesaian permasalahan sosial tetapi
juga meningkatkan taraf kesejahteraan sosial masyarakat, seperti yang diamanatkan oleh
Pembukaan UUD 1945, yakni memajukan kesejahteraan umum.
Pencapaian tujuan nasional dewasa ini bukan semata-mata tanggung jawab
pemerintah tapi juga seluruh komponen bangsa. Demikian pula dalam penanganan
permasalahan sosial semakin kompleks. Pembagian peran-peran strategis diantara
komponen masyarakat dalah prasyarat tercapainya penyelesaian agenda peramasalahan
sosial secara lebih universal, terpadu dan terarah. Karena itu organisasi sosial
kepemudaan perlu dibentuk dengan legitimasi fungsional dari pemerintah dan legitimasi
institusional dari masyarakat, yang mengambil peran penting untuk mengakomodir
permasalahan sosial terutama dikalangan generasi muda.
Kesadaran para remaja dan pemuda untuk berhimpun dalam organisasi sosial
menjadi cermin optimisme tercapainya kesejahteraan masyarakat yang lebih memadai.
Dan menjadi tanda kebangkitan suatu bangsa ini suara aklamatif dan mufakat
merapatkan barisan dan memperteguh tekad dalam tujuan mulia bersama.
d. Sistem Mata Pencaharian (Angga Saputra,J3B114005)

Demi meningkatkan kesejahteraan warga dalam bercocok tanam, khususnya


penanaman padi. JajaraN Sidoarjo bersama Forpimka Kec Wonoayu, Sidoarjo telah
menerapkan penanaman padi dengan sistem IPAT-BO (Intensifikasi Padi Aerob
Terkendali-Berbasis Organik).Pilot Project penanamannya dilakukan secara bersamasama oleh Komandan Kodim 0816 bersama-sama Forpimka Kec Wonoayu, yakni
Camat Wonoayu Prati Kusdijani S Sos, serta Danramil, Kapten Amin Kurdi dan
Kapolsek Wonoayu, AKP Sutowo serta dari Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan
di Desa Plaosan Kec Wonoayu.
Usai melakukan penanaman, Camat Wonoayu Prati Kusdijani mengatakan IPATBO ini merupakan sistem teknologi produksi yang holistik (terpadu), dengan
menitikberatkan pemanfaatan kekuatan biologis tanah, managemen tanaman,
pemupukan dan tata air secara terpadu dan terencana (by design). Karena untuk
mendukung pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran padi dalam kondisi
aerob/penanaman secara biologis.Program ini merupakan bantuan khusus desa, dengan
menggunakan Bibit Sidenuk. Dimana program penanamannya menggunakan sistem
IPAT-BO, dan pilihan Desa Plaosan karena desa itu merupakan desa yang telah siap
untuk dilakukan pilot project. Dengan program itu, hasil panen yang biasanya sekitar 6
hingga 8 ton per hektare. Nantinya diharapkan bisa meningkat hingga 14 ton per hektare
atau mencapai 100 % lebih, jelas Prati Kusdijani.Sementara kebutuhan-kebutuhan yang
harus dilakukan untuk pemeliharaan padi agar bisa tumbuh dengan baik, diantaranya

18

memerlukan pupuk Urea sebanyak 300 kg, Ponska 200 kg, Za 50 kg dan pupuk SP 46
sebanyak 150 kg. Ditambah lagi pupuk petroganik 500 kg, zat pembenah tanah 10 kg.
Selain itu, juga ada bakteri pengurai sebanyak 1 liter, bisa digunakan untuk mengurai
bakteri di jerami.
Sebagian besar warga desa Balongdowo berprofesi sebagai nelayan dengan hasil
tangkapan mayoritas berupa kupang yang merupakan salah satu icon kuliner khas
dariSidoarjo. Sedangkan sebagian kecil lainnya berprofesi sebagai petani, pegawai
negeri, guru, dan pedagang.
Secara umum mata pencaharian warga masyarakat Desa Penambangan dapat
teridentifikasi ke dalam beberap sektor yaitu pertanian, Buruh Tani, pengusaha kecil dan
menengah, peternakan, PNS dan lain-lain. Berdasarkan data yang ada, masyarakat yang
bekerja di sektor pertanian berjumlah 165 orang, yang bekerja sebagai buruh tani
berjumlah 185 orang, yang bekerja di sektor peternakan 25 orang, yang bekerja sebagai
pengusaha kecil dan menengah sejumlah 5 orang, dan bekerja sebagai PNS berjumlah
145 orang. Dengan demikian jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian
berjumlah 525 orang. Berikut ini adalah tabel jumlah penduduk berdasarkan mata
pencaharian.
e. Sistem Religi (Angga Saputra,J3B114005)

Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam
menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan,
muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga
mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu,
baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan
dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Mayoritas warga atau masyarakat desa sidoarjo memeluk agama islam karena
memang banyak sekali peninggalan-peninggalan nenek moyang yang telah tiada seperti
makam Dewi Sekar Dadu yang dulunya ibunya dari sunan Giri, Gresik. Dan makam
Mbah Ud yang sama hal nya dengan makam mbah Dewi Sekardadu. Hal ini membuat
para peziarah selalu ramai dan datang untuk berkunjung atau mendoakan beliau. Dari
kejadian tersebut pemerintah kota sidoarjo akhir nya membuat wisata religi oleh kedua
makam tersebut yang ada di Sidoarjo.
Makam Dewi Sekar Dadu
Di makam di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran ini, kerap
menjadi jujukan wisatawan, meski mereka wisatawan lokal.Di antaranya dari Malang,
Kediri, Mojokerto dan sebagainya. Ini akan kita kembangkan. Dewi Sekardadu ini kan
dalam sejarahnya adalah ibunya Sunan Giri, Gresik, ungkap Kepala Disporbudpar
Pramu Sigit Priyandono.
Selain itu, potensi wisata religi lain yang akan digarap adalah makam Mbah Ud,
di Pagerwojo.Banyaknya peziarah yang datang, membuat dua makam ini menjadi

19

potensi wisata tersendiri.Selain itu, nantinya akan ada makam lain yang kini masih
ditelusuri. Ada makam-makam lain, seperti di Krian, dan Taman, konon di sana juga
ada makam ulama zaman kerajaan Majapahit, tetapi itu masih akan kami telusuri,
katanya.
Ia menjelaskan salah satu kendala yang masih dicari solusi adalah letak makam
berada di perkampungan padat penduduk. Ini menyebabkan kendaraan besar seperti bus
kesulitan
masuk.Padahal
umumnya,
para
peziarah
datang
secara
berombongan.Sementara itu, Pramu Sigit juga mengunggulkan Pulau Sarinah, yakni
pulau bentukan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).Terbuat dari lumpur
seluas 82 hektar, yang berjarak sekitar 30 menit dari desa Tlocor, Jabon.
Makam Mbah Ud
Adapaun yaitu peninggalan makan dari Mbah Ud,Begitu warga Sidoarjo
mengenal KH Ali Masud yang terletak di Pagerwojo, Kecamatan Buduran. Lokasi
makam yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk menjadikan lokasi makam
ini
orang.
Makam sosok karismatik ini memang tidak banyak diketahui banyak orang, tidak seperti
keberadaan para penyebar Islam, Sunan atau juga wali yang ada di Pulau Jawa atau yang
lebih dikenal dengan sebutan Wali Songo atau sembilan wali.Hidayat salah seorang
warga Buduran Sidoarjo yang rutin melakukan ziarah di lokasi makam Mbah Ud ini
mengatakan, pada hari-hari tertentu saja makam Mbah Ud ini banyak dikunjungi
peziarah.
Ia menyebutkan, setiap Kamis malam Jumat biasanya makam ini banyak dikunjungi
peziarah bahkan jumlahnya sampai dengan ratusan. "Hal itu,berbeda lokasi ini,"
ungkapnya.
Di sekitar makam yang dikelilingi dinding papan berhias ukiran Jepara di bawah sebuah
joglo ini, akan dijumpai orang-orang yang bersimpuh membaca Al Quran dan berdoa
untuk mencari berkah di makam ulama ini.
Suasana sejuk dan tenang memang sangat terasa ketika menginjakkan kaki di
lokasi makam ini. Tidak ada yang spesial dari makam ini, hanya sebuah cungkup dan di
dalamnya bisa dilihat makam dengan batu nisan yang dibungkus kain putih.
Nyadran
Di Jawa, pada bulan Ruwah ( kalender Jawa ) ada tradisi yang dinamakan Ruwatan.
Bentuk bentuk Ruwatan ini dapat berupa bersih Desa ,Ruwah desa atau lainnya.Di
Sidoarjo tepatnya di Desa Balongdowo Kecamatan Candi ada tradisi masyarakat yang
dilakukan setiap bulan Ruwah pada saat bulan purnama.Tradisi tersebut dinamakan
Nyadran, Nyadran ini merupakan adat bagi para nelayan kupang desa Balongdowo
sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.Bentuk kegiatan Nyadran
berupa pesta peragaan cara mengambil kupang di tengah laut selat Madura.
Nyadran di Sidoarjo mempunyai ciri khas tersendiri. Kegiatan Nyadran
dilakukan oleh masyarakat Balongdowo yang mata pencaharian sebagai nelayan kupang,

20

pada siang harinya sangat disibukkan dengan kegiatan persiapan pesta upacara meski
puncak acaranya pada tengah malam.Kegiatan ini dilakukan pada dini hari sekitar pukul
1 pagi. Orang- orang berkumpul untuk melakukan keliling. Perjalanan dimulai dari
Balongdowo Kec, Candi menempuh jarak 12 Km. Menuju dusun Kepetingan Ds.
Sawohan Kec. Buduran. Perjalanan ini melewati sungai desa Balongdowo, Klurak kali
pecabean, Kedung peluk dan Kepetingan ( Sawohan).
Ada satu proses dari pesta nyadran ini yaitu Melarung tumpeng Proses ini
dilakukan di muara ( pertemuan antara sungai Balongdowo, sungai Candi, dan sungai
Sidoarjo ). Proses ini diadakan bila ada pesta Nyadran atau nelayan kupang yang
mempunyai nadzar /kaul. Dan masyarakat tersebut dengan gembira menyambut kegiatan
Nyadran ini terus berlanjut hingga sore hari. Setelah selesai warga sekitar kembali pada
kegiatannya masing-masing dan tidak lupa untuk tetap bersyukur kepada Tuhan Yang
Maha Esa yang telah memberikan kesejahteraan bagi warga sekitar dengan adanya
kegiatan seperti ini
f. Kesenian (Nur Ardi Samra, J3B114046)
Kesenian adalah keahlian dan keterampilan manusia untuk menciptakan dan
melahirkan hal-hal yang bernilai indah.Ukuran keindahannya tergantung pada kebudayaan
setempat, karena kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan.Dari segi ragam jenisnya,
kesenian bersumber pada keindahan suara, pandangan, perasaan, serta spritiual.

a. Wayang Kulit
Jenis wayang kulit yang ada di Sidoarjo sebagian besar adalah wayang kulit gaya Jawa
Timuran (gaya Wetanan) dan sebagian kecil gaya Kulonan. Hampir semua kecamatan
memiliki dalang wayang kulit Wetanan ini, diantaranya: Tarik, Balungbendo, Krian,
Prambon, Porong, Tulangan, Sukodono, Candi, Sidoarjo, Gedangan dan Waru.
Gaya Wetanan ini dapat dibagi lagi dalam penggolongan pecantrikan, yaitu:
a. Ki Soewoto Ghozali (alm) dari Reno Kenongo, Porong
b. Ki Soetomo (alm), dari Waru
c. Ki Suleman (alm), Karangbangkal, Gempol
Dari segi musik, instrumennya menggunakan gamelan slendro, mirip yang digunakan
dalam ludruk. Berbeda dengan gaya Kulonan yang menggunakan gamelan slendro dan
sekaligus pelog. Namun kemudian wayang gaya Wetanan juga menggunakan gamelan
pelog, terutama untuk mengiringi adegan-adegan tertentu.

21

Mengikuti selera konsumen, pergelaran wayang kulitpun akhirnya dilengkapi dengan


campursari bahkan juga musik dangdut. Malah sudah sejak lama wayang Wetanan
disertai pembuka tarian Remo segala, dimana pengunjung diminta memberikan saweran
yang dulu diselipkan ke dada.
Keberadaan wayang kulit di Sidoarjo semakin menurun karena tidak ada kaderisasi.
Hanya ada satu dalang cilik, anak Subiyantoro yang juga dalang. Juga tidak ada lembaga
formal atau nonformal yang mengajarkan wayang gaya Wetanan secara utuh, bukan
hanya disentuh saja. Belum lagi keterbatasan naskah yang siap dipentaskan.
b. Reog Cemandi
Reog Cemandi adalah kesenian asli Sidoarjo. Kesenian itu muncul pada tahun 1926.
Reog Cemandi berbeda dengan Reog Ponorogo. Yang membedakan adalah tidak adanya
warok, dan topengnya tidak dihiasi dengan bulu merak seperti ciri khas reog Ponorogo.
Irama musik yang digunakan adalah angklung dan kendang kecil. Jumlah pemain Reog
Cemandi sekitar 13 orang. Dua penari yang memakai topeng Barongan Lanang (lakilaki) dan Barongan Wadon (perempuan), enam penabuh gendang dan empat pemain
angklung. Saat memainkan tarian itu, dua penari Barongan Lanang dan Barongan Wadon
mengiringi penabuh gendang yang ada di tengahnya. Enam penabuh gendang itu
membentuk formasi melingkar sambil mengikuti irama.
Dulunya, reog Cemandi adalah pertunjukan yang

dipakai masyarakat desa

Cemandi,kecamatan Sedati untuk mengusir penjajah Belanda. Waktu itu, salah satu kyai
dariPondok Sidoresmo Surabaya, menyuruh masyarakat setempat untuk membuat
topengdari kayu pohon randu. Topeng itu dibentuk menyerupai wajah buto cakil dengan
duataring. Setelah itu, masyarakat setempat melakukan tari-tarian untuk mengusir
penjajahyang akan memasuki desa Cemandi.
Selain untuk mengusir penjajah pada waktu itu, tarian tersebut juga sebagai himbuan
kepada masyarakat sekitar untuk selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Anjuran itu
tersirat dalam sair pangelingan (pengingat) yang dilantunkan pemainnya sebelum
memulai pertunjukan. Lakune wong urip eling gusti ning tansah ibadah ing tengah
ratri, ucap Arif Juanda menirukan sair itu.

22

Kini, pertunjukan reog Cemandi itu sudah berubah fungsi. Masyarakat sekitar biasa
mengundang kesenian Reog Cemandi itu untuk hajatan mantenan, sunatan atau acara
lainnya. Selain itu, masyarakat sekitar percaya, bahwa tarian reog Cemandi bisa untuk
menolak balak (membuang sial). Kalau arak-arakan pasti kami yang di depan. Karena
untuk menolak balak, tegasnya lagi.
c.

Wayang Potehi
Kesenian adalah kesenian khas China, keberadaannya melekat dengan klenteng atau
rumah ibadah Tionghoa. Di Sidoarjo ada di klenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang
Tuah, di kawasan Pasar Ikan.
Di Sidoarjo, wayang potehi hanya digelar saat perayaan hari jadi Makco Thian Siang
Seng Bo di Kelenteng Tjong Hok Kiong, Jalan Hang Tuah Sidoarjo. Acara tahunan ini
juga diisi dengan hiburan rakyat untuk warga sekitar kelenteng. Untuk memeriahkan
HUT Makco, Subur biasanya menggelar pertunjukkan wayang potehi selama satu bulan
penuh di kompleks kelenteng. Wayang potehi di Sidoarjo merupakan bagian dari ritual
umat Tridharma ketimbang hiburan biasa. Karena itu, jarang sekali orang luar yang
menikmati kesenian langka ini. Padahal, unsur hiburan dan intrik di wayang potehi

justru lebih banyak daripada wayang kulit.


d. Jaran Kepang
Kelompok seni tradisi jaranan hampir punah di Kabupaten Sidoarjo, tak sampai hitungan
jari sebelah tangan. Sebelum 1980-an, cukup banyak grup jaranan yang menggelar
atraksi hiburan di kampung-kampung. Kelompok-kelompok seni Jaranan atau Jaran
Kepang yang selama ini ada di Sidoarjo bisa dikatakan bukan asli atau berdomisili di
Sidoarjo. Mereka berasal dari luar kota, seperti Tulungagung, yang sengaja ngamen di
Sidoarjo dalam waktu beberapa lama. Diperkirakan ada sekitar 10 grup. Namun ada satu
grup Jaran Kepang versi Sidoarjo, yang agak berbeda dengan Jaran Kepang pada
umumnya. Yakni, ketika dalam masa trance, pemainnya memanjat pohon kelapa dengan
kepala menghadap ke bawah. Grup ini hanya ada di desa Segorobancang, kec. Tarik.
e. Tari Ujung
Di daerah lain disebut Seni Tiban. Pertunjukan ini berupa tari dan dimaksudkan untuk
meminta hujan. Pertunjukan dua lelaki atau dua kelompok lelaki bertelanjang dada,
saling mencambuk dengan rotan secara bergantian. Dapat digolongkan seni pertunjukan

23

karena memang ditampilkan sebagai tontonan. Kadang dimainkan di atas panggung


namun masih ada juga yang menggunakan lapangan terbuka. Di berbagai daerah, Ujung
merupakan ritual untuk mendatangkan hujan, namun Ujung Sidoarjo memiliki latar
belakang sejarah sebagai peninggalan masa kerajaan Majapahit, dimana penduduk
disiapkan melatih kanuragan melawan musuh. Kelompok Seni Ujung terdapat di
kecamatan Tarik.
SISTEM PERLENGKAPAN HIDUP (Nur Ardi Samra, J3B114046)
EMBER GEMBRENG
Alat ini merupakan wadah atau tempat menampung air yang sering dipakai oleh
masyarakat di pulau jawa khususnya Madura. Biasanya juga dipakai untuk mencuci
pakaian, sayuran, dan macam jenis pekerjaan lainnya. Sebelum ditemukannya wadah
yang terbuat dari plat besi atau seng ini, masyarakat jawa menggunakan tempayan atau
wadah dari bahan tanah liat atau sering disebut tembikar yang diolah sehingga kuat
seperti genteng.
Ember gembreng ini berfungsi untuk menampung air. Sering digunakan sebagai
tempat mencuci sesuatu seperti pakaian, sayuran, air bersih, mencuci alat-alat masak dan
hal lainnya. Alat ini terbuat dari bahan plat besi atau seng atau plat baja yang cukup
ringan.
KENDHIL
Merupakan alat tradisional dari daerah jawa tengah dan sekitarnya.
Dipergunakan sebagai alat memasak beras menjadi nasi, sering disebut "menanak nasi".
Alat ini berfungsi seperti rice cooker, bedanya adalah cara menggunakannya yaitu pada
penggunaan kendhil, beras dimasak dengan air secukupnya hingga beras menjadi tanak
dan didiamkan selama beberapa menit dengan kondisi api dikecilkan kemudian kondisi
nasi harus selalu dicek agar nasi tidak gosong dan berkerak banyak. Sama halnya dengan
memasak nasi dengan Rice cooker listrik. Nasi dimasak secara langsung dengan energi
kalor pada wadah logam yang dihasilkan dari energi listrik. Perbedaannya pada hasilnya.

24

Jika menggunakan "kendhil", pasti menghasilkan kerak nasi pada permukaan bawah
wadahnya, sedangkan padarice cooker nasi dapat matang secara merata sehingga tidak
menimbulkan kerak pada bagian bawah wadahnya. Memasak dengan menggunakan
kendhil biasanya menggunakan bahan bakar arang atau kayu bakar, jadi panas yang
dihasilkan sifatnya tidak merata pada permukaan bidang dalam wadahnya.Sebagai alat
untuk memasak nasi atau "menanak nasi"
KEREKAN DAN EMBENG CANGKING
Alat ini merupakan alat tradisional yang sudah ada sejak jaman Majapahit atau
sebelumnya, yaitu untuk mengambil air bersih dari dalam tanah. Pada saat ini alat
tersebut masih digunakan di daerah pedesaan. Kedalaman sumur menentukan
panjangnya tali yang dibutuhkan. Untuk mengambil air didalam sumur dibutuhkan
katrol atau "kerekan" dalam bahasa jawa, supaya beban air dalam wadah ember tidak
terlalu berat ketika ditarik keatas.

Fungsi alat ini adalah Sebagai alat untuk mengambil air bersih dari dalam tanah
melalui sumur yang telah digali dengan kedalaman tertentu. Biasanya sumur tersebut
bersifat tetap dengan bis beton atau tanah liat "tembikar" yang melapisi dinding sumur,
agar dinding tanah pada sisi-sisinya tidak jatuh dan mengotori air bersih tersebut.
ANGLO CILIK
Merupakan alat yang sering dipakai sebagai sarana melakukan upacara spiritual
adat jawa untuk memohon berkat dari yang maha kuasa bagi keselamatan jalannya suatu
upacara adat atau keselamatan arwah keluarga yang sudah meninggal dunia.
Fungsi Anglo ini sendiri adalah Sebagai alat untuk membakar dupa berupa
kemenyan dengan menggunakan arang kayu. Berfungsi untuk membuat sesaji guna
memohon berkah dari Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan perlindungan dan

25

kedamaian dalam menjalani hidup di dunia. Fungsi kemenyan sendiri secara tidak
langsung untuk memacu adrenalin dalam tubuh melewati zat bau yang tercium, sehingga
dapat berdoa secara hikmat kepada Tuhan.
TUMBU

Alat ini mempunyai fungsi sebagai wadah atau tempat menyimpan sementara
kebutuhan pangan seperti umbi-umbian, buah, kacang-kacangan dan jenid lainnya yang
berukuran kecil dan medium. Hingga saat ini alat memasak tersebut masih digunakan
oleh masyarakat di Jawa tengah dan sekitarnya

Fungsi alat ini adalah untuk menyimpan sementara bahan-bahan makanan bagi
masyarakat jawa sebelum dibersihkan dan dimasak.
TAMPAH
Mempunyai fungsi yang sama dengan alat tradisional "Tampah", tetapi alat ini
dapat dipakai untuk membersihkan kacang-kacangan dan beras dalam jumlah yang
sekaligus banyak. Alat ini masih banyak digunakan oleh masyarakat di Jawa tengah dan
sekitarnya.

Fungsi alat ini adalah Sebagai alat untuk membersihkan beras dan jenis kacangkacangan dari kotoran-kotoran sebelum di cuci dan dimasak dalam jumlah yang lebih
banyak. Cara membersihkannya dengan cara di ayak secara manual tangan, kemudian
kotoran akan otomatis tersisih, maka diperlukan keahlian khusus untuk menggunakan
alat ini. Alat ini juga sering dipakai untuk menjemur krupuk karaka tau "gendar", yaitu
krupuk yang dihasilkan dari sisa nasi yang diberi ragi dan diiris sesuai ketebalan krupuk.
LUMPANG DAN ALU CILIK

26

Merupakan alat tradisional untuk membuat bumbu dapur jenis kacang-kacangan dan
jenis bumbu yang mempunyai dimensi sedang. Lumpang berukuran besar juga
digunakan untuk menumbuk padi oleh masyarakat jawa tengah dan sekitarnya. Fungsi
alat ini adalah Sebagai alat untuk menumbuk bumbu dapur berupa kacang-kacangan atau
jenis bumbu lainnya yang mempunyai ukuran sedang. Lumpang mempunyai bermacammacam ukuran. Lumpang dengan ukuran besar juga digunakan untuk menumbuk padi
untuk menjadi beras.
LAYAH DAN MUTHU
Merupakan perlengkapan memasak didapur yang digunakan masyarakat di Propinsi
Jawa tengah dan sekitarnya. Alat tradisional ini selain menggunakan material batu alam,
ada juga yang terbuat dari kayu, baik "layah" maupun "muntu". Digunakan untuk
membuat bumbu masakan.

Fungsi alat ini adalah Sebagai alat untuk menumbuk bumbu masakan seperti
merica, garam, cabai, garam, lengkuas, kunyit dan lain sebagainya yang mempunyai
dimensi rempah-rempah berbentuk kecil sehingga dapat mudah untuk diulek menjadi
bumbu.

27

V. KESIMPULAN
A. Kesimpulan

Kabupaten Sisdoarjo seperti yang sudah dijelaskan diatas memang meiliki


banyak sekali tradisi dan budaya yang cukup kental terutama dalam elmen bahasa,
karena Kabupaten Sdoarjo ini masuk ke dalam Suku Jawa dimana penggunaannya masih
sangat kental sekali. Kemudian dari sistem matapencahariannya pun masyarakat ita
Sidoarjo banyak yang bekerja sebagi petani dan pedagang.
Dari bahasan-bahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki
budaya lokal yang bervariasi. Budaya lokal tersebut harus dijaga agar dapat
memperkokoh ketahanan budaya bangsa. Selain itu kita harus memahami arti
kebudayaan serta menjadikan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia sebagai
sumber kekuatan untuk ketahanan budaya bangsa. Selain itu diperlukan pula antisipasi
atau cara-cara agar budaya lokal tidak bercampur dengan budaya asing.

28

DAFTAR PUSTAKA
Setiadi Elly, Hakam Abdul K. 2006. Effendi Ridwan, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar.
Jakarta : Kencana.
Widyosiswoyo Supartono. 2004. Ilmu Budaya Dasar. Bogor Selatan : Ghalia Indonesia
Tony Buzan, Head First. 2003. 10 Cara Memanfaatkan 99% Dari Kehebatan Otak Anda
Yang Selama Ini Belum Pernah Anda Gunakan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, hal 80
Stephen R. Covey. 2005. The8th Habit: Melampaui Efektifitas, Menggapai Keagungan.
Jakarta: PT Gramedia pustaka utama, hal 79
Danah Zohar dan Ian Marshal. 2001. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual dalam
Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: Mizan,
hal 4
Kartini Kartono,Dali Gulo. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: Pioner Jaya
Prof. Dr. Mundardjito. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia : Sistem Teknologi. Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada
Ismaun.2007. Kapita Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan).
Bandung : UPI
Khodijah, Nyayu. 2009. Psikologi Pendidikan. Palembang : Grafika Telindo Press

29

Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka


Moersaleh. 1987. Filsafat Administrasi. Jakarta : Univesitas Terbu
Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis. Bandung : Erlangga
Widagdho, Djoko. 2003. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : Bumi Aksara