Anda di halaman 1dari 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi Kayu Apu (Pistia crispata L, Pistia stratiotes L)
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super divisi

: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (Berkeping satu/ monokotil)

Ordo

: Hydropterides

Famili

: Salviniaceae

Genus

: Pistia

Spesies

: Pistia crispata, Pistia stratiotes L.


Kayu apu (Pistia crispata) merupakan familia Salviniaceae dari genus Pistia.

Kayu apu memiliki dua tipe daun yang sangat berbeda. Daun yang tumbuh di
permukaan air berbentuk cuping agak melingkar, berklorofil sehingga berwarna hijau,
dan permukaannya ditutupi rambut berwarna putih agak transparan. Rambut-rambut
ini mencegah daun menjadi basah dan juga membantu kayu apu mengapung. Daun
tipe kedua tumbuh di dalam air berbentuk sangat mirip akar, tidak berklorofil, dan
berfungsi menangkap hara dari air seperti akar. Orang awam menganggap ini adalah
akar kayu apu. Kayu apu sendiri akarnya (dalam pengertian anatomi) tereduksi. Kayu
apu tidak menghasilkan bunga karena termasuk golongan paku-pakuan. Sebagaimana
paku air (misalnya semanggi air dan azolla) lainnya, kayu apu itu juga bersifat
heterospor, memiliki dua tipe spora, yaitu makrospora yang akan tumbuh menjadi
protalus betina dan mikrospora yang akan tumbuh menjadi protalus jantan. Kayu apu
hanya membutuhkan lingkungan yang basah dan hangat, dan tidak memerlukan
persyaratan khusus dalam pertumbuhannya (Murray et al.,2001).
Penelitian Irfan dan Shardendu (2009) menyatakan bahwa kayu apu dapat berperan
sebagai sumber pupuk organik dan menunjukkan bahwa kayu apu dapat digunakan

sebagai penyerap unsur nitrogen di alam, seperti terlihat pada kandungan nitrogen
kayu apu. Arisandi (2006) menyatakan bahwa kandungan C organik dan N total yang
cukup tinggi pada kayu apu, yaitu 40.5% dan 1.8% diharapkan mampu menyumbang
unsur hara ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik.
Hasil analisis bahan organik yang dilakukan di laboratorium Kimia Tanah Universitas
Brawijaya menunjukkan bahwa kandungan bahan organik kompos kayu apu adalah
22.8%, sedangkan kandungan bahan organik kayu apu segar adalah 19.6%. Hasil ini
menunjukkan bahwa kompos kayu apu dan kayu apu segar dapat dimanfaatkan
sebagai sumber bahan organik di dalam tanah.
2.2 Singkong
Singkong, (Manihot esculenta) Crantz, adalah semak berkayu yang selalu hijau
dengan akar dapat dimakan, yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis wilayah di
dunia. Hal ini juga disebut yuca, singkong, dan mandioca. Singkong memiliki
kemampuan untuk tumbuh di lahan marjinal di mana sereal dan tanaman lain tidak
tumbuh dengan baik, yang dapat mentolerir kekeringan dan dapat tumbuh di tanah
rendah gizi.(Swiss Development Cooperation, 1993).
Singkong merupakan salah satu makanan pokok rakyat Indonesia, singkong dengan
nama binomial Manihot esculenta dari kerajaan plantae. Merupakan tumbuhan tropik
dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya biasa dimakan karena sumber
karbohidrat begitupun daunnya yang dimanfaatkan sebagai sayuran. Singkong
dibedakan menjadi 2 tipe yaitu tipe pahit dan manis. Tipe yang berasa pahit
mengandung kadar racun yang tinggi dibanding yang berasa manis. Jika singkong
mentah tidak dimasak sempurna maka akan terbentuk hidrogen sianida (HCN). Pada
singkong mentah/pahit kadar hidrogen sianida lebih besar dari 50mg per kilogram
sedangkan untuk yang sudah matang/manis kadarnya lebih kecil dari 50mg per
kilogram.(http://klikharry.wordpress.com/2006/12/14/keracunan-sianida/).
Varietas-varietas singkong unggul yang biasa ditanam penduduk Indonesia, antara
lain:

Singkong Valenca

(Endang, 2000) Ketela pohon Valenca berasal dari benua Amerika, tepatnya dari
negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika,
Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang
terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.
Di Indonesia, ketela pohon Valenca menjadi makanan bahan pangan pokok setelah
beras dan jagung. (Rudi, 2006) Manfaat daun ketela pohon valenca sebagai bahan
sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan
obat-obatan.

Singkong Mangi

Jenis singkong mangi (Endang, 2000) pertama kali dikenal di Amerika Selatan
kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di brasil dan paraguay. bentukbentuk modern dari spesies yang telah dibudi dayakan dapat ditemukan bertumbuh
liar di brasil selatan. meskipun spesies mangi yang liar ada banyak, semua varitas
mangi dapat dibudidayakan.

Singkong Gajah

Singkong gajah adalah singkong varietas Asli Kalimantan timur yang ditemukan
oleh Prof. Dr. Ristonom, MS dan dipublikasikan melalui Koran Lokal di Kalimantan
Timur dan internet sejak tanggal 08 Juli 2008. Sosialisai dan pengembangan dimulai
tanggal 01 Juni 2009 dengan acara Panen Raya dan Bazaar di Desa Bukit Pariaman,
Kec. Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan
Timur.
Singkong juga sangat dibutuhkan oleh berbagai bahan produksi berbagai macam
industri termasuk didalamnya industri kertas dan industri kimia. Besarnya potensi
singkong, peningkatan produkstifitas tentunya hars ditingkatkan," ungkapnya.
(Menurut MSI tahun 2011), luas panen Singkong diperkirakan mencapai 1,2 juta.
Hektar (ha) dengan produktivitas sebesar 19,5 ton perhektar, maka dihasilkan. Sekitar
23,5 juta ton singkong basah. Walau naik1,7 persen pada 2011 luas panen singkong
cenderung turun selama 10 tahun terakhir."Meskipun demikian, produksi singkong

cenderung naik, rata-rata 4,3 persen per tahun. Kenaikan produksi terjadi karena
peningkatan hasil per hektar dari 12,9 ton menjadi 19,5 ton per hektar," tandasnya.
(naa/jpnn). Ada berbagai macam produk singkong tetapi sebagian besar singkong
tersebut di konsumsi setelah panen seperti gorengan. Pemanfaatan singkong sebagian
besar diolah menjadi produk setengah jadi berupa pati (tapioka), tepung singkong,
gaplek dan chips. Produk olahan yang lain adalah bahan baku pembuatan tape, getuk,
keripik dan lain-lain (Damardjati dkk, 2002).
2.3 Biofiltrasi
Biofiltrasi adalah sebuah cara pemurnian limbah dengan bantuan bahan pengendali
biologis yang sangat efektif dan tidak membahayakan perairan maupun mencemari
perairan, bahkan dapat menyerap bahan logam berat seperti Mg dan lainnya. Adapun
pemanfaatan biofiltrasi ini seringkali digunakan untuk mengurangi kadar organik
dalam perairan seperti waduk. Apabila konsentrasi bahan organik terlalu tinggi dalam
perairan maka dampaknya akan menimbulkan pencemar bagi tumbuhan dan hewan di
perairan tersebut.
Walaupun bermanfaat bagi perairan, namun tumbuhan ini dapat menjadi gulma jika
perkembangbiakannya tidak dikontrol. Tumbuhan akan menutupi badan air yang
dapat merugikan tumbuhan lain yang hidup di dalamnya karena kurangnya intensitas
cahaya matahari yang masuk dari badan perairan. Pemanfaatan yang sangat seimbang
akan menimbulkan dampak yang sangat baik untuk menjaga kandungan air dan juga
memberikan kestabilan parameter air seperti pH, BOD dan lain sebagainya
Salah satu penangulangan pencemaran limbah industri rumah tangga adalah dengan
menggunakan Biofiltrasi yang sangat aman dan menguntungkan bagi komunitas
perairan, dibandingkan menggunakan bahan kimia. Pemanfaatan bahan kimia dapat
berdampak pada perairan yang biasanya mengubah kadar pH, BOD, DO dan lain
sebagainya.