Anda di halaman 1dari 10

ASUHAN KEPERAWATAN INSUFISIENSI MITRAL

Cici berusia 15 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluhan mudah letih
dan lemas 2 minggu belakangan ini, klien mengeluh dada terasa sakit saat
bernapas dan melakukan aktivitas yang terlalu berat. Klien mengatakan sesak
napas pada malam hari. TD 140/100 mmHg, N 130x/menit, T 37C, RR 18 x/menit.
1. Pengkajian
Nama Pasien
: Cici
Umur
: 15 tahun
Ruangan Rawat : Anthurium 312
Suku/Bangsa
: Jawa/Indonesia
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Alamat
: Jl. Hayam Wuruk 3/30
Diagnosa medis : Insufisiensi Pulmonal
Tanggal MRS
: 10 November 2012

A. Riwayat Kesehatan dahulu


: tidak ada
B. Riwayat Kesehatan Keluarga
: tidak ada
C.
Keluhan Utama
: dada terasa sakit saat bernapas dan
melakukan aktivitas yang terlalu berat, sesak napas pada malam hari.
D. Keluhan Tambahan
: Dispneu saat latihan atau beraktivitas dan mudah
letih.
E. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
Denyutan dan bendungan arteri leher (karotid) terlihat jelas; dipnea
saat ortopnea; paroksismal nokturnal dispneu; biasanya pasien
mengalami angina pectoris; takipneu; batuk menetap atau nokturnal;
terlihat cemas: gelisah, pucat, berkeringat, fokus menurun, gemetar;
terjadi edema pada daerah ektremitas.
2) Palpasi
Denyutan arteri karotid lambat dengan volume nadi kecil, denyutan
arteri teraba di daerah perikordium, tekanan nadi melebar (perbedaan
tekanan sistolik dan diastolik), denyutan nadi di jari terasa kuat, cepat dan
tajam, dan tiba-tiba kolaps (denyut water hammer)
3) Perkusi
Bunyi redup pada daerah dada akibat terjadi edema pulmonal dan
penumpukan sputum.
4) Auskultasi
Bunyi jantung S1 lebih keras dibandingkan S2, palpitasi, adanya gallop
dan bising artificial, takikardi. Kadang ditemukan bising sistolik (sistolic
ejection click), bising mid/late diastolik (bising Austin Flint), dan thrill.
Pernapasan payah dan bising dengan terdengar krekels dan mengi.
F. Pemeriksaan Penunjang

a) Elektrokardiografi
Pada insufisiensi aorta kronik diadapatkan adanya pembesaran
ventrikel kiri yang ditandai dengan voltase dan repolarisasi dengan
gelombang Q prominen. Pada insufisiensi akut berat tidak disertai dengan
adanyai hipertrofi ventrikel kiri dan voltase QRS normal.
b) Sinar-X dada atau radiologi
Pada pemeriksaan ini akan tampak pembesaran jantung (cardiothoragic ratio meningkat), distensi vena paru, hidrothorax, lapangan paru
bercak-bercak karena edema paru, dan bayangan hili paru tebal dan
melebar.
c) Ekokardiografi
Pemeriksaan ini terlihat struktur dan gerakan katup yang abnormal.
d) Kateterisasi jantung
Pemeriksaan ini akan terlihat ventrikel kiri tampak opag selama
penyuntikan bahan kontras ke dalam pangkal aorta.
e) Pemeriksaan enzim jantung
Pada pasien dengan insufisiensi aorta dalam pemeriksaan ini akan
terlihat peningkatan enzim jantung yaitu cpk dan ckmb.
DATA SUBJEKTIF
1. Pasien mengeluh mudah letih dan
lemas
2. Pasien mengatakan dada terasa
sakit saat bernapas dan
beraktivitas yang terlalu berat
3. Pasien mengatakan sesak napas
pada saat malam hari
2. Diagnosa keperawatan
Analisis data
Data subjektif :
1. Pasien mengeluh
mudah letih dan
lemas
2. Pasien mengatakan
dada terasa sakit
saat bernapas dan
beraktivitas yang
terlalu berat
3. Pasien mengatakan
sesak napas pada
saat malam hari
Data objektif :
Tanda tanda vital :
1. TD 140/100 mmHg
2. N 130x/menit

Tanda
1.
2.
3.
4.

DATA OBJEKTIF
tanda vital :
TD 140/100 mmHg
N 130x/menit
T 37C
RR 18 x/menit.

Etiologi
Penurunan curah jantung

Problem
Perubahan dalam
preload/peningkatan
tekanan atrium dan
kongesti vena,

Nyeri akut

Iskemia jaringan miokard

Intoleransi aktivitas

ketidakseimbangan
antara suplai oksigen
dan kebutuhan

3. T 37C
4. RR 18 x/menit.

Intervensi
Diagnose
keperawatan
Penurunan curah
jantung
Data subjektif :
1. Pasien
mengatakan
dada terasa
sakit saat
bernapas dan
beraktivitas
yang terlalu
berat
2. Pasien
mengatakan
sesak napas
pada saat
malam hari
Data objektif :
Tanda tanda
vital :
1. TD 140/100
mmHg
2. N 130x/menit
3. T 37C
4. RR 18 x/menit
Nyeri akut
Data subjektif :
4. Pasien
mengeluh
mudah letih
dan lemas
5. Pasien
mengatakan
dada terasa
sakit saat

Tujuan
Setelah di lakukan
tindakan
keperawatan
selama 2x24 jam,
dapat memenuhi
kriteria hasil:
Pasien tidak lagi
mengalami nyeri
dada saat bernafas
dan beraktivitas.

Intervensi

Rasional

bernapas
dan
beraktivitas
yang terlalu
berat
6. Pasien
mengatakan
sesak napas
pada saat
malam hari
Data objektif :
Tanda tanda
vital :
5. TD 140/100
mmHg
6. N
130x/menit
7. T 37C
RR 18 x/menit
Intoleransi aktivitas
Data subjektif :
7. Pasien
mengeluh
mudah letih
dan lemas
8. Pasien
mengatakan
dada terasa
sakit saat
bernapas
dan
beraktivitas
yang terlalu
berat
9. Pasien
mengatakan
sesak napas
pada saat
malam hari
Data objektif :
Tanda tanda
vital :
8. TD 140/100

No

Diagnosa Keperawatan

mmHg
9. N
130x/menit
10.T 37C
1 x/menit
Penurunan curah
RR 18
jantung berhubungan
dengan perubahan
dalam
preload/peningkatan
tekanan atrium dan
kongesti vena yang
ditandai dengan pasien
bertanya, Mbak,
kenapa ya kok akhirakhir ini saya mudah
sekali letih dan lemas?,
pasien mengatakan,
Mbak, dada saya terasa
sakit saat bernafas dan
melakukan aktivitas
yang terlalu berat., dan
pada saat dilakukannya
inspeksi dan palpasi
oleh perawat
ditemukannya edema
pada daerah
ekstremitas bawah.

Tujuan dan
Kriteria Hasil

Tujuan:
Menunjukka
n penurunan
nyeri dada
pasien.

Intervensi

1.
Lakukan
pemantau
an TD dan
nadi.

1. Indikator
klinis dari
keadekuatan
curah jantung.
Pemantauan
memungkinka
n deteksi
dini/tindakan
terhadap
dekompensasi.

2. Bantu
dengan
aktivitas
sesuai
indikasi
(misal:
berjalan)
bila pasien
mampu
turun dari
tempat
tidur

2. Melakukan
kembali
aktivitas
secara
bertahap
mencegah
pemaksaan
terhadap
cadangan
jantung.

Kriteria
Hasil:
Pasien tidak
lagi
mengalami
nyeri dada
saat
bernafas dan
beraktivitas.

R
a
s
i
o
n
a
l

3. Atur
posisi saat
istirahat
dengan
posisi semi
fowler .
4.
Kolaborasi
kan
dengan
tim
kesehatan
lain dalam
pemberian
oksigen
suplemen
dan obatobatan
sesuai
indikasi.

3. Posisi semi
fowler
memudahkan
oksigenasi.
4.
Memberikan
oksigen untuk
ambilan
miokard dalam
upaya untuk
mengkompens
asi
peningkatan
kebutuhan
oksigen.

3.3 Intervensi Keperawatan

3.4 Implementasi Keperawatan


No.
Dx.

Hari,
tanggal

Waktu

Implementasi

Jumat, 11
November
2012

07.30 WIB

1.

07.37 WIB

2. Telah dibantu dengan aktivitas sesuai indikasi


(misal: berjalan) dan pasien mampu turun dari tempat
tidur

07.56 WIB

3. Telah dilakukan pengaturan posisi saat istirahat


dengan posisi semi fowler .

08.10 WIB

4. Telah dilakukan kolaborasi dengan tim kesehatan


lain dalam pemberian oksigen suplemen dan obatobatan sesuai indikasi.

08.30 WIB

1. Telah dakukan pemantauan laporan nyeri dada dan


bandingkan dengan nyeri sebelumnya. Tindakan
menggunakan skala nyeri (0-10) untuk rentang
intensitas.

08.34 WIB

2. Telah di catat ekspresi verbal/non verbal nyeri,


respons otomatis terhadap nyeri (berkeringat, TD dan
nadi berubah, peningkatan atau penurunan frekuensi
pernapasan).

Jumat, 11
November
2012

08.36 WIB

09.00 WIB
3

Jumat, 11
November
2012

15.30 WIB

Telah dilakukan pemantauan TD dan nadi.

3. Telah diberikan lingkungan istirahat dan batasi


aktivitas sesuai kebutuhan.
4. Telah dilakukan kolaborasi dengan tim medis lainnya
dengan memberikan vasodilator, yaitu nitrogliserin,
nifedipin (Procardia) sesuai indikasi.
1. Telah dikaji toleransi pasien terhadap aktivitas
menggunakan parameter berikut: frekuensi nadi
20/menit diatas frekuensi istirahat; mencatat
peningkatan TD, dispnea atau nyeri dada; kelelahan
berat dan kelemahan; berkeringat; pusing; atau pingsan.
2. Telah dikaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas
contoh penurunan kelemahan/kelelahan, TD
stabil/frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada

15.35 WIB

aktivitas dan perawatan diri.


3. Telah didorong memajukan aktivitas/toleransi
perawatan diri.

15.40 WIB
16.00 WIB

4. Telah diberikan bantuan sesuai kebutuhan dan


anjurkan penggunaan kursi mandi, menyikat gigi/rambut
dengan duduk dan sebagainya.

3.5 Evaluasi Keperawatan (SOAP)


No.
Dx.

Hari,
tanggal

Waktu

Evaluasi

Jumat, 11
November
2012

08.12 WIB

S: Pasien mengatakan Terimakasih suster, saya sudah


lebih baikan, lemah dan letih saya mulai berkurang, dan
dengan posisi seperti ini (semifowler) saya merasa lebih
nyaman.
O: Pasien tampak tersenyum menandakan keletihan
sudah mulai berkurang.
A: Penurunan nyeri dada pasien teratasi
P: Hentikan Intervensi

Jumat, 11
November
2012

10.00 WIB

S: Pasien mengatakan Terimakasih suster, nyeri pada


dada saya sudah mulai berkurang, dan saya akan
membatasi aktifitas saya kemudian beristirahat.
O: Pasien tampak menghentikan aktifitas-aktifitasnya
kemudian siap untuk istirahat.
A: Nyeri pasien hilang/terkontrol.
P: Hentikan Itervensi.

Jumat, 11
November
2012

17.00 WIB

S: Pasien mengatakan Terimakasih suster, saya sudah


bisa melakukan aktifitas saya sendiri secara mandiri.
O: Pasien tampak melakukan aktifitas perawatan diri
secara mandiri.
A: Intoleransi aktifitas teratasi
P: Hentikan intervensi.

3.6 Discharge Planning

1. Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang tata cara merawat diri di
rumah.
2. Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya menjaga kebersihan
lingkungan terutama lingkungan di dalam rumah dan gaya hidup sehat.
3. Berikan pendidikan dan konseling kepada keluarga tentang efek dari perawatan
yang telah dilakukan di rumah sakit.
4. Ajarkan keluarga pasien agar membimbing pasien untuk tetap melakukan
mobilisasi fisik secara mandiri di rumah.
5. Beritahu keluarga pasien agar selalu memantau kedisiplinan pasien dalam
meminum obat dan pemberian informasi tentang efek obat yang diberikan kepada
pasien.

BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Insufisiensi pulmonal adalah kelainan pada katup aorta yang menjadi lemah
ataupun membesar sehingga katup tidak dapat menutup dengan sempurna.
Insufisiensi darah dari aorta ke ventrikel kiri dapat terjadi dalam 2 macam
kelainan artifisial yaitu, dilatasi pangkal aorta, penyakit katup artifisial, dan
genetik. Tanda dan gejala yang biasa dirasakan oleh pasien dengan aorta
regurgitasi adalah sebagai berikut, rasa lelah, dyspnea saat aktivitas, palpitasi,
angina dengan hipertropi ventrikel kiri, temuan hemodinamik (pengisian dan
pengosongan denyut arteri yang cepat, tekanan nadi melebar disertai
peningkatan tekanan sistemik dan penurunan tekanan diastolik, tekanan
diastolik rendah),dan auskultasi (bising diastolic, bising austinflint yang khas,
Sistolic Ejection Click disebabkan oleh peningkatan volume ejeksi). Ada dua
macam manifestasi klinik pada insufisiensi aorta yaitu, insufisiensi aorta kronik
dan akut. Pada prosedur diagnostik dapat pula dilakukan elektrokardiografi, sinarX dada, ekokardiografi, kateterisasi jantung, aortografi, dan penigkatan cardiac
iso enzim.

4.2 Saran
Penggantian katup aorta adalah terapi pilihan, tetapi kapan waktu yang tepat
untuk penggantian katup masih kontroversial. Pilihan untuk katup buatan
ditentukan berdasarkan umur, kebutuhan, kontraindikasi untuk koagulan, serta
lamanya umur katup. Pembedahan dianjurkan pada semua pasien dengan
hipertrofi ventrikel kiri tanpa memperhatikan ada atau tidaknya gejala lain. Bila
pasien mengalami gejala gagal jantung kongestif, harus diberikan
penatalaksanaan medis sampai dilakukannya pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC.

Herdman, Heather. 2010. NANDA Internasional Diagnosis Keperawatan: Definisi


dan Klasifikasi 2009-2011. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Vol 2. Edisi 8. Jakarta: EGC.

Syarifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3.


Jakarta: EGC.

Wahab, Samik A. 2009. Kardiologi Anak: Penyakit Jantung Kongenital yang Tidak
Sianotik. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan denga Intervensi


NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC.