Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN HASIL PENELITIAN

UJI MULTI LOKASI


PADA BUDIDAVA IKAN NILA DENGAN SISTIM AKUAPONIK

PROGRAM INSENTIF PENINGKATAN KEMAMPUAN


PENEUTI DAN PEREKAYASA TAHUN 2010
PROGRAM INSENTIF RlSET TERAPAN Fokus
Bidang Priorit&s : KETAHANAN PANGAN
Kode Produk Targe!: 1.02. TEKNOLOGI PERTANIAN LAHAN SUB OPTIMAL
Kode Kegiatan : 1.02.03. PENGEMBANGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KOMODITAS
PANGAN (IKAN) YANG HEMAT AIR
Peneliti Utama : Ir. Imam Taufik, M.Si

BADAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN (BRKP)


Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar
Alama!
Teip.

Fax

Hp
E-mail
Tanggal

: JI. Sempur No.1, Bogar 16514


: 0251 8313200,
: 0251 8327890

: 08128333142
: imam_opik67@yahoo.co.id
: 22 November 2010

LEIEAR

PENGESAHAN

: WI MULTI LOKASI PAOA BUOIOAYA IKAN NILA


DENGAN SISTIM AKUAPONIK
FOKUS BIOANG PRIORITAS: Ketahanan Pangan
KOOE PROOUK TARGET : 1.02 TeIcndogi Pertanian Lahan Sub Optimal
KOOE KEGIATAN
: 1.02.03. Pengembangan Teknologi Budidaya
Komoditas Pangan (Iken) Yang Hemal Air
Lokesl Penelitian
: Lapangan dan lab
Penelitian Tahun Ke
: Pertama
JUOUL KEGIATAN

KETERANGAN LEMBAGA PELAKSANAANIPENGELOLA PENEUTIAN


NAMA KOOROINATORI
PENElITl UTAMA
NAMA LEMBAGN
INSTANSI
UNITKERJA
AlAMATrrLP

Jangka Waktu Kegialan


Biaya Tahun 1
KEGIATAN{BarulLanjutan)
Rekapitulasi Biaya
No.

3.
4.

: Ir. Imam Taufik. M.Si


: BAOAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANANI
PUSAT RISET PERIKANAN BUOIOAYA
: Balai Rise! Perikanan Budidaya Air Tawar

: JI. SempurNo.1, Bogar 16154


02518313200; Fax: 02518327890
HP 08128333142
: 21ahun

: Rp.85.013.396

:Baru

Uralan

Jumlah (Rp)

29.400.000
18.450.000
32.497.000
4.666.396
85.013.396

Bahan Habis Pakai


Pen eluaran lain-lain
JUMLAH

MENYETUJUI
Bogor, 22 November 2010

KepalaPusa!Rise! Pelikanan
Budidaya

DR.lr.EndayKusnendar,M.Sc
NIP. 195602041980031003

Ir. lmam Taufik,M.Sc

NIP.196707091994031005
u

R1NGKASAN
Akuaponik merupakan komooasi

resifkulasi air yang terintegl8si

dengan

kegiatan pertanian secara nya1a mampu meningkatkan keuntungan bagi budidaya


perikanan. Penelitian diawali dengan rnembuat rancangan wadah yang akan dijadikan
prototipe kolam ikan sistim akuaponik dengan propol'8i luas bak filter biologis dan bak
media tanam sayur masing-masing 25% dari luas kolam. Tanaman sayul8n yang
digunakan adalah kangkung darat (Ipomea aqutica) yang terbukti efeldif menyerap
kelebihan unsur hara dalam air. Pembuatan 9 unit kolam akuaponik dilakukan maslng
masing 3 unit di tiga lokasi yang berbeda. sebagai perlakuan, yaitu: a) dataran tinggi; b)
dataran sedang; dan c) dataran rendah. lkan uji adalah nila Best berbobot rata-rata 1
g/ekor yang ditebar dengan kepadatan 100 ekor/m2 dan diberi pakan 5% dari berat
biomas/hari dengan frekwensi pemberian 2 kali. Pemeliharaan lkan dllakukan selama 2
bulan, peubah yang diukur meliputi: sintasan dan laju pertumbuhan ikan, serta
produktivitas ikan dan sayuran. Data sintasan dan pertumbuhan dianalisis secara
statistik dengan uji jarak Duncan pada selang kepercayaan 95%.
Dalam penerapan akuaponik air yang mengandung sisa pakan dan buangan
ikan memiliki kualitas air yang mengandung unsur hara penting bagi tanaman. Oleh
sebab itu dinamika kualitas air kolam dan bak filter perlu diteliti. Sampel air diambil dari
kolam ikan secara regular dan selama 24 jam pada periode tertentu dengan parameter
untuk suhu, kecerahan, pH, suspended solid, DO, CO2, Amoniak, Nitrat, Nitrit,
alkalinitas, N- total, P-total, BODS dan TOM. Analisa dilakukan secara deskriptif.
Pengambilan sample plankton dilakukan secara reguler per 2 minggu dan
dengan selang waktu 3 hari dilakukan khusus pada periode tengah masa pemeliharaan
ikan nila. Sampel makrobentos diambil dari sedimenllumpur kolam ikan dan bak filter
setiap 2 minggu. Pengawetan sampel dilakukan menggunakan formalin 4% untuk
selanjutnya diidentifikasi di laboratorium. Indeks diversitas (H') dan keseragaman (E)
menurut Shannon-Weaner dianalisis untuk mengetahui keragaan .biota non Ikan dari
setiap lokasi penelitian. Analisa dllakukan secara deskriptif.

Hasil penelltian menunjukkan bahwa lokasi tidak berpengaruh nyata terhadap


budidaya dengan sistim akuaponik. Kualitas air kolam akuaponik pada semua !okasi
masih dalam kisaran yang dapat d~lerir oleh ikan nila. Kelimpahan plankton dalam air
kolam di data ran tinggi, sedang dan rendah tergolong sangat subur (eutropik).
Makrobentos yang hidup dikolam tersebut dimendominasi oleh Lemnaea sp.

iii

PRAKATA
Laporan ini merupakan laporan haail riset dengan judul Uji multi lokasi pada
budidaya ikan nila dengan aisUm akllaponik. yang merupakan pelaksanaan kegiatan
program insentif peningkatan kemampuan peneliti dan perakayasa tahun 2010.
Tujuan riset adalah menerapkan budidaya ikan nila dengan aistim akuaponik
secara multi Iokasi untuk menghasilkan paket teknologi yang langguh dan teruji
sehingga dapat diadopsi serta diaplikasikan oleh masyarakat disegala daerah. Selain itu
kajian ilmiah yang Ingin diperoleh melalui riset ini adalah mengetahui dinamika kualitas
air dan keragaan biota non ikan sebagai upaya bagi peningkatan produktivitaa dan
keseimbangan ekologis kolam guna pengelolaan budidaya ikan nila.
Hasl! riset diharapkan dapat diterima dan diterapkan dengan mudah oleh semua
kalangan masyarakat di berbagai Iokasi sebagai auatu altematlf kegiatan produktif yang
dapat meningkatkan pendapatan.

8ogor. 22 November 2010

lim Peneliti

iv

DAfTARISI
Halaman

ii.

LEMBAR IDENTrTAS DAN PENGESAHAN


RINGKASAN

iii.

PRAKATA

iv.

DAFTAR lSI

v.

DAFTAR TABEl

vi.

DAFTAR GAMBAR

vii.

BABI.
BAB II.

BAB III.
BABIV.

PENDAHULUAN
1.1.
t.atar Belakang
1.2.
Perumusan Masalah
:
TlNJAUAN PUSTAKA
2.1.
Akuaponlk
2.2.
lkan nila
2.3.
Kualitas air
TUJUAN DAN MANFAAT
METODOLOGI
4.1.
Penerapan Sistim Akuaponik Pada Budidaya
lkan Nila BEST Di Beberapa Lokasi Yang Berbeda
4.2.
Dinamika Kualitas Air Dalam Budidaya lkan Nila
Dengan Sistim Akuaponik Pada Bertagai Lokasi

4.3.

BABV.

1.

1.

3.
4.
5.

..
.
..
..

6.

7.

..

8.

Keragaan Biola Air Non Ikan Dalam Budidaya Ikan Nila


Dengan Penerapan $istim Akuaponik Di Dalaran Rendah.
Sedang dan Tinggi
.

9.

HASI!.,DAN PEMBAHASAN
5.1.

Kondisi umum lokasi

5.2.

Penerapan Sistim Akuaponik Pada Budidaya lkan


Nila BEST Di Beberapa Lakasi Yang Berteda....................
Dinamiks Kualitas Air Dalam Budidaya lkan Nils
Dengan Sistim Akuaponik Pads Bertagai Lokasi................
Keragasn Biota Air Non Ikan Dalam Budidaya Ikan Nila
Dengan Penerapan Sistim Akuaponik Di Dalaran Rendah.
Sedang dan Tinggi
:........................

5.3.
5.4

10.

BABVI.

.
.

10.
15.

24.

KESIMPULAN DAN SARAN


6.1.

Kesimpulan

26.

6.2.

Saran

26.

BAB VII. DAFTAR PUSTAKA

~..........................................................................

27.

LAMPIRAN

DAFTAR TABEl
Halaman

paI.'

1: fisb kirnia, dal biologi kualitas air

Tabel1.

Pengukuran

Tabel2.

Sintasan ikan nila pada masing-masing lokasi penelitian


selama peneIitian (nilai rata-fata + standar deviasl)

8.
'" .

11.

Nilai rata-rata Iaju peI1umbuhanharian individu (%) ikan nila Best


pada setiap pertakuan selama penelitian.

13.

Tabel4.

Nilai rata-rata produktivitas (gIM'lhali) ikan nila Best pads


setiap pei1aku., selama penelitian.

13.

Tabel 5.

Produksi (glrumpun) kangkung pada setiap waktu panen dali


maslng-masing kolam pei1akuan

14.

Tabel 6.

Kisaran dinamika parameter kualitas air pada kolam dan filter


akuaponik Dataran tlnggi............

15.

Tabel 3.

Kisaran dioamika parameter kualitas air pada kolan dan filler


akuaponik dataran sedang.
Tabel 8. Kisaran dinamika parameter kualitas air pada kolam dan filter
akuaponik dataran rendah..............................................................
Tabel 9. Komposisi jenis plankton dali ke 3 Iokasi bel1leda.........................
Tabe110. Kelimpahan (indl1),keanekaragarnan, keseragaman dan
dominanasi plankton.......................................................................
Tabe111. Jenis, Kelimpahan (indlm~ dan Ukuran (mm) Makrobentos..........
Tabel 7.

16.
17
2....
2....
25.

..
vi

DAFTAR G.AIIBAR
Halaman
Gambar 1.

Bobot rata-rata incIividu iIcan (gIekor) dari masing-masing


perlakuan pada setiap waldu pengukuran (minggu)

Gambar 2.

Kondisi suhu air aelama 24 jam pada kolam dan filter dataran
tinggi kolam-fi1tBrsejalan ftukluasi 1l.hI.....
Kondisi pH selama 24 jam data ran tinggi. Analisa pakai pH tetes
mengakibatkan rangenya terlalu kasar maka .
sulit melihat petbedaan.............................................
Kondisi oksigen terlarut selama 24 jam pada kolam akuaponlk
di dataran 1IrW.....................................................
Kondisi suoo air selama 24 jam pada kolam akuaponik di
dataran eedang.................................................................................
Kondisi pH air selama 24 jam pada kolam akuaponik di dataran
sedang.............................................................................................
Kondisi oksigen terlarut dalam air selama 24 jam pada kolam
akuaponik di dataran sedang.....
Kondisj suhu air selama 24 jam pada kolam akuaponik di data ran
rendah.............................................................................................
Kondisi pH air selama 24 jam pada kolam akuaponik
di dataran rendah............................................................................
Kondisi oksigen terlarut dalam air selama 24 jam pada kolam
akuaponik di dataran rendah....
Proses fotosintesa pada tanaman berklorofil dengan bantuan sinar
matahari............................................................................
Keterkaitan antara kondisi pH, 00 dan suhu air selama 24 jam
pada kolam akuaponik....
Grafik perkembangan kelimpahan plankton di dataran sedang.......

Gambar 3.
Gambar 4.
Gambar 5.
Gambar 6.
Gambar 7.
Gambar 8.
Gambar 9.
Gambar 10.
Gambar 11.
Gambar 12.
Gambar 13.

12.
18.
18.
19.
20.
20.
21.
21.
22.
22.
23.
23.
25.

vii

BAB l PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Akuaponik

(aquaphonic) merupakan salah satu teknologi

budidaya yang

mengkombinasikan pemeliharaan ikarl dengan tanaman (Nelson, 1998). Teknologi ini


merupakan teknologi terapan hemat lahan dan air dalam budidaya ikan sehingga dapat
dijadikan sebagai suatu model perikanan perkotaan dan pertamanan di kompleks
perumahan.
Sebagai salah satu teknologi baru dalam bidang perikanan, sistim budidaya
akuaponik perlu diuji kehandalannya sebagai suatu paket teknologi yang berlaku secara
multi lokasi yaitu paket teknologi yang dapat diterapkan pada berbagai lokasi yang
berbeda secara topografis seperti dataran tinggi, sedang dan rendah.
Penerapan sislim akuaponik pada budidaya ikan nila di lokasi-lokasi berbeda
diduga memiliki keanekaragaman hayati biota air non ikan yang berbeda. Plankton dan
makrobentos merupakan bagian penting dari rantai makanan (food chain) dalam
lingkungan budidaya ikan dan memiliki peranan penting pada kualitas air suatu perairan
(Pennak, 1978). Apabila perairan tersebut cukup unsur hara untuk pertumbuhan
plankton dan terdapat banyak jenis benthos hal tersebut mengindikasikan bahwa
kualitas air di perairan tersebut bagus (Macan,1960). Oengan mengetahui komposisi
jenis dan kelimpahan plankton dan makrobentos pada kolam ikan nila dalam penerapan
sistim akuaponik akan diketahui kondisi ekologis kolam dan keseimbangannya guna
pengelolaan lingkungan budidaya.
1.2.

Perumusan Masalah
Oi daerah perkotaan, usaha budidaya perikanan sering kali dianggap sudah tidak

layak lagi karena terbatasnya lahan dan sumber air akibat terdegradasi oleh laju
industrialisasi dan pemukiman. padahal kota merupakan pasar yang sangat potensil
bagi produk perikanan. Kondisi ini dapat diatasi dengan menerapkan sistim budidaya
akuaponik yang terbukti hemat lahan dan air dengan produksi gar'lda berupa ikan dan
sayuran. Sejauh ini sistim budidaya akuaponik masih sebatas kajian riset yang terus

..

dikembangkan dan disempumakan, sehingga perlu diuji penerapannya diberbagai lokasi


yang berbeda seperti dataran tinggi, sedang dan rendah dengan jenis komoditas yang
berbeda pula. Oalam sistim akuaponik kualitas air, jenis dan komposisi biota air non ikan
merupakan suatu rangkaian yang akan meningkatkan produktivitas dari ikan dan

aayuran. Deri hasil kajian ini, buddIya .....


teknologl budidaya yang tanggdI cia,
oIeh maaya ... kat diaegala daerah.

ten.f

oilik dilafapkan mampo men~i


yq dIpat

paket

diadopsl Berta diaplblbn

BAS

2.1.

AUAN PUSTAKA

AkUllponlk
Berdasart<an serang.calan ~

pellelitian Balai Riset Pertkanan Budidaya Air

Tawar (BRPBAT). Bogor sistim akuaponik terbukti dapat diterapkan untuk budidaya
jenis-jenia ikan nila/Oreochromfs nfloticus (Kusdlartl, et.al., 2006),

mas (Cyprinus

carpio), lele dumbolCiarias gariepinus (Widyastuti, et.al, 2008) dan ikan ekonomis
lainnya. Penerapan akuaponik merupakan jawaban dali efisiensi air dan peng,ematan
lahan budidaya serta tambahan pendapatan (income) dali hasil panen tanaman
(WidyasMi, et.a!., 2008).
Dengan budidaya akuaponik nitrat

dan pospat yang merupakan limbah dali

budidaya ikan dapat diserap dan digunakan sebagai pupuk oleh tanaman akuatik
sehingga menurunkan konsentrasi cemaran (N dan P) serta meningkatkan kualitas air.
Sistim ini mengintegrasikan budidaya ikan secara tertutup (resircu/ating aquaculture)
yang dipadukan sistim tanam sayuran. Penggunaan biofilter diharapkan meningkatkan
kualitas air untuk digunakan kembali dalam pemeliharaan ikan, Dinamike kualitas air
dalam sistim akuaponik ini pertu dikaji guna peningketan produktivitas kolam iken nila.
Pemantauan kualitas air diantaranya untuk mengetahui gambaran kualitas air pada
suatu tempat secara umum parameter fisika, kimia dan biologi yang selanjutnya menilai
kelayakan untuk kepentingan budiadaya pelikanan (Mason,1993 da/am Efendi, 2003).
Untuk kegiatan budidaya perikanan kualitas air yang tepat dan berada dalam kisaran
layak bert<aitan dengan sintasan dan pertumbuhan ikan (Boyd, 1982; Effendi, 2002).
Fray (1971) menyatakan bahwa suhu dan pH merupaken faktor kontrol, sedangkan
oksigen dan cahaya merupakan faktor pembatas temadap organlsme (ikan).
Penerapan sistim akuaponik pada budidaya ikan nila di lokasHokasi berbeda
diduga memiliki keanekaragaman.hayati biota air non iken yang berbeda. Plankton dan
makrobentos merupakan bagian penting dali rantai makanan (food chain) dalam
lingkungan budidaya ikan dan memiliki peranan penting pada kuaUtasair suatu perairan

(Pennal<, 1978). Apabila perairan tersebut cukup unsur hara untuk pertumbuhan
plankton dan terdapat banyak jenis benthos hal tersebut mengindikesikan bahwa

..

kualitas air di perairan terseout bagus (Macan,1960). Dengan mengetahui komposisi


jenis dan kelimpahan plankton dan makrobentos pada kolam ikan nlla dalam penerapan
sistim akuaponik akan diketahui kondisi ekologis kolam dan keseimbangannya guna
pengelolaan lingkungan budidaya.

2.2.

lluln nlla
lkan nila (Or8ochromis nloticus)

Illef\IIl8kan

jenis ikan yang mempunyal nllal

ekonomis tinggi dan merupata.! komoditas petllitg dalam bisnis ikan air tawar dunia.
Beberapa hal yang mendukung peillilblY<' komoditas nila adalah a) memiliki reslslensl
yang relaitif linggi terhadap kualitas air dan penyakit, b) memiliki loleransi yang luas
lerhadap kondisi IIngkungan, c) memiliki lutmampuan yang efisien dalam membenlUk
protein kualitas linggi dan bahan Ofganik, limbah domestik, dan pertanian, d) memiliki
kemampuan tumbuh yang baik, serta e) mudah IUmbuh dalam slatim budidaya intensif
(Carman dan Suciplo, 2009).
Kunggulan ikan nila dibanding komoditas air tawar lainnya semakln nyata
dengan ditemukannya strain baru lewal serangkaian penelitian pemuliaan dan BRPBAT,
yaltu nila BEST (Bogar Enhanced Strain

Tilapi8). Hasil seleksi menunjukkan

peningkatan bobol tubuh sebesar 10.62% dibanding generasi telua, peningkatan


panjang sebesar 2.7%, respon seleksi berdasar perbedaan ratean antera populasi
seleksi dan populas! sebelumnya adalah 11.5 gram untuk bobol dan 4.1 mm unluk
panjang (Gusliano et.at., 2007).
Nila Besl merupakan hasil program seleksi tamili. Penggunaan seleksi tamili
dalam sebuah program pemuliaan ikan nlla merupakan langkah tepal yang harus
dltempuh mengingal performa nila sangal dipengaruhi oleh faklor lingkungan. Hasil
pengujian pada salinltas 5 ppt, nila BEST letap merupakan strain lerbaik dalam
perlUmbuhan dibandingkan dengan slrain lokal Kuningan, Red NIFI, nila merah, dan nila
hitam yang ada di masyarakat Berdasarkan seleksi hasil famili dan beberapa strain nila
BEST pada karakter pertumbuhan, diharapkan bahwa keberadaannya dapat menjadi
obal penyembuh bagi perbudidaya yang berharap iTtemeliharaikan nila unggu!.
Hingga saat ini budidaya pembesaran ikan nila masih sangal layak untuk
dikembangkan dalam suatu unit usaha karena harga jual ikan ini di pasar domestik
sangal menggiurkan, sementara Itu beberapa pasar di daerah seperti Jawa Tengah,
Jawa Barat dan Padang masih kekurangan pasokan. MenuM data slatislik hampir 80%

dan produk nila lerserap untuk pasar tokal, belum lagi peluang pasar unluk eksport
(Carman dan Sucipto, 2009).

2.3. Ku.llta
Ir

Kualitas air memegang pe a: a:::e


keglatan budidaya. Kuafitas S"- ~~
untuk menunjang kehidupan ca-

9 dalam bidang perikanan terutama untuk


sebagai faktor kelayakan suatu perairan

pr...,"TYxn&rl

organisme akuatik yang nifainya

ditentukan dalam kisaran tertent.. (Boyd 1982)


Suhu berpenganl1 secara Iangsmg maupun tidak langsung terhadap faktor
faktor seperti aktivitas enzim,

tingkat metabolisme maupun kadar oksigen. Proses

penyerapan cahaya beIfangsung secara lebih intenslf pada laplsan atas perairan
sehingga fapisan atas perai"an mell1lliki suhu yang febih tlnggi (lebih panas) dan
densitas yang feblh kedl daripada fapisan bawah (Effendi, 2003). lkan nifa merupakan
jenis ikan yang linggi toleranslnya terhadap perubahan suhu, suhu yang baik untuk Ikan
nifa berklsan 22 - 37"C (Jangkaru atal., 1991)
Bahan polutan cenderung lebih beraam pada air dengan tingkat kesadahan
rendah (soft) dengan nifai pH yang stabif, sedangkan kesadahan yang tnggi cenderung
menurunkan toksisitas dari polutan dalam tiap nifai pH (Mason, 1992). Kelarutan
phosphorus, calcium akan menurun tajam pada pH kurang dari 6 (James E et al .,
2006). Air yang digunakan untuk budidaya ikan pada kolam air tenang sebaiknya
mempunyai pH antara 6.7 - 8.2 (Zenoveld et.al., 1991) atau pH sekitar 7 - 8.5 (Effendi,

2000).
Amonia dalam air merupakan produk hasH metabolisme ikan dan pembusukan
senyawa

organik

oleh

bakteri. Keberadaan

amonia

dafam air

mempengaruhl

pertumbuhan karena dapat mereduksi masukan okslgen yang disebabkan oleh


rusaknya insang, menambah energi untuk keperiuan detoksifikasi, mengganggu
osmoregulasi dan mengakibatkan kerusakan flSik pada jaringan (Boyd, 1990)
Kandungan nitrit (N-N02) dalam perairan dapat menghambat kemampuan darah
biota air dalam mengikat okslgen, sehingga biota ini akan terserang methaemoglobln
yang dapat menyebabkan kematian. Setelah nitrit terbentuk dan terakumulasi maka
nitrobakter

akan tumbuh

dengan

mengkonsurnsi nitrit tetsebut

dan

kemudlan

menguraikannya menjadi nitrat (N-NOs) (Purwakusuma, 2003). Nitrat umunya tidak


berbahayalberaam bagi ikan tetapi menurut EPA (1986) nitrat dapat berbahaya apabifa
pada kondisi tertentu nitrat tersebut berkurang dan berubah menjadi nitrit, namun pada
konsentrasi sekitar 90 mgll tidak a~n merugikan ikan.

BAS II.

TlJJUA.Iij

DAN IlAHFAAT

Posisi adu tawar berbaga P"'OO.K oerilanan eebenamya dapat diperoaiki apabila
pembudidaya lkan mampu nletldeat. o;or.surnenyang umumnya berada diperl<otaan.
Akan tetapl diperl<otaan pada umumnya ketersediaan lahan dan sumber air sangat
terbetas disamping kualitasnya audah teroemar sehingga tidak cukup layak bagi usaha
budidaya ikan. Kesenjangan terseOut eetlenarnya dapat diatasi dengan menerapkan
teknlk budidaya ikan secara hemat lahan dan air melalul sistim akuaponik.
Penelitian mengenai penerapan budidaya ikan nila dengan slstlm akuaponik
secara multi lokasl diharapkan mampu memantapkan serta menghasilkan paket
teknologl yang tangguh dan teruji sehingga dapat diadopsi serta diaplikasikan oleh
masyarakat disegala daerah. Selain Itu, mengetahui dinamlka kualitas air dalam sistim
akuaponik secara multi lokasi merupakan hal yang cukup penting sebagi upaya
peningkatan produktivitas dalam kegiatan budidaya ikan nila.
Disamplng dlnamika kualltas air, mengetahui keragaan biota non ikan juga
merupakan baglan yang tak dapat dipisahkan dalam pengembangan slstim akuaponik
yang dapat diterapkan pada berbagai lokasi sehingga dapat tercipta keselmbangan
kondisi ekologis kolam guna pengelolaan budidaya ikan nila secara berl<elanjutan.

BAS '"
4.1.

Penerapan Slstlm Akuapon

Lousl Y.ng Berbeds

1ET000L0Gl
P1tda Bud"y. lun NI'- BEST 01 Beberapa

Wadah penelitian benIpa kolam budidaya yang dirancang dengan sistim


akuaponik, dilengkapi bak media tanam sayuran yang berisi arang kayu dan
ditempatkan di luar kolam. Luas bak media tanam sayuran sebesar 25% dari luas kolam
ikan (Nugroho dan Sutrisno, 2008) dan ....tuk kebutuhan resirkulasi air digunakan
pompa celup dengan kapasitas arnn

70 Itr/rnenit yang mendistribusikan air ke setiap

rumpun tanaman sayuran. Air yang teftalukan dari bak media tanam sayuran akan
mengalir dan kembali rnasuk ke kolam ikan dengan kualitas yang lebih baik. Pembuatan
kolam akuaponlk tersebut sebanyak 9 ta'lit. dimana setiap 3 unit ditempatkan di tlga
lokasi yang berbeda sebagai pertakuan.
lkan nila BEST (Oreochromis niJoticus) dlgunakan tebagai hewan uji berbobot
rata-rata 1 gr/ekor yang ditebar dengan kepadatan 100 ekorIM2 (Nugroho dan Sutrisno,

2008). Selama penelitian iken uji diberi pakan berupa pellet

sebanyak 5%1 berat

biomaslhari dengan frekwesi pemberlan 2 kali. Penyesuaian dosis pakan dilakukan


berdasarkan data berat rata-rata sample ikan yang diukur tiap 2 minggu.
Sayuran yang ditanam pada media filter adalah jenis kangkung air (Ipomea
aquatics) yang terbukti paling efektif dalam rnenyerap kandungan nitrogen (N) dan
pospat (P) dalam air yang perasal dari sisa pakan dan metabolisrne Ikan yang
dibudidayakan. Benih kangkung yang digunakan berukuran tinggi 7-10 em, ditanam 10
batang dalam 1 rumpun dengan jarak tanam 20 em. Dipanen setiap 2 mlnggu dengan
cara mernangkas pada pangkal batang berjarak 5 em dari akar, kemudian ditimbang
untuk rnengetahui produktivitasnya.
Penelitian 1 perneliharaan ikan dilakukan selama dua bulan dengan sasaran
produk berupa ikan nila ukuran sangkal (

10 g/ekor). Peubah y ang diukur

meliputi: sintasan,

produktivltas

laju

pertumbuhan

serta

ikan

dan'

sayuran.

Pengukuran
pertambahan berat ikan dilakukan setiap 2 mlnggu dengan cara sampling. Data yang
tert<umpul selanjutnya dianalisis secara statistik yang dilanjutkan dengan uji jarak

..

Duncan pada tingkat kepercayaan 95%.


Derajat sintasan dihitung dengan rumus Effendi (1979): SR

(SR

= Survival

Rate (%); No

= MlNo

x 100%

jumlah hewsn uji pada awal penelitian; dan Nt

jumlah

-------------------------------------------------~-

hewan uji pada akhir penerrtian}. L.aj.J ~


(1975). yaltu: G = [In W,-In

1()()';6

W._II.dxt
Wo

= bobot rata-rata individu pada

pada akhir pengamatan (g); .dt

= bobot

(G

= laju pertumbuhan

awal pengamatan (g); W,

harian indMdu (%);

= bobot rata-rata individu

= waktu pemeliharaan). Produktivitas bioamas ikan dan

tanaman kangkung ditentukan dengan


(gJhari); Wo

harian diukur dengan rumus Ricker

rumus: P = (Wt - Wo)/.& [P = produktivitas

awal biomass (g); WI

bobot akhir biomas (g); .&

waktu

pemeliharaan]

4.2.

Olnamlka Kualitlls Air Oalam Budldaya Ikan Nila Dengan Slatlm Akuaponlk
Pada Berbagal Lokasl
Pengukuran parameter kualitas air dilakukan setiap 2 minggu pada jam yang

sama, disamping itu dilakukan pengamatan suhu; DO; N total dan P Total untuk 24 jam
sebanyak 3 kali. Beberapa parameter kualitas air yang diukur serta metoda pengukuran
yang digunakan selama penelitian adalah seperti pada table di bawah ini.

Tabel1.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

10
11
12
13
14

Pengukuranparameterfislka. klmla. dan blologl kualitlls air

PlnlTleter
Fiala:
Suhu
Kecerahan
Kekeruhan
TDS
KImIa :
pH

00

co.

Satuan

vC
M

NTU
mgIl

ITlQ
ITlQ

BOD.,

mg

Nitrat (00.)
N toeal

mQ
mg

COD

PtoCal
Alkalinitas
Bahan organik

ITlQ

Alat

Termometer Hg
In situ
Secchi disk
Penetrasi cahaya In situ
Turtidimeter
NePhailometrtk, In situ
Penyaring milipore. Gravimelrik, Laboratorium
timbanoan analitik
pH meter

In situ
In situ

00 rneIef"

Peralatan titrasi
Peralatan titrasi
Peralatan titrasi
S
otome!er
S
r

ITlQ

mQ
mg

Metoda

Peralatan titrasi
Peralatan titrasi

Titrasi. Laboratorium
Trtrasi Laboratorium
Trtrasi. Laboratorium
Spektrofotomelrik, I aIxlratorium
Spektrofotoroetrik,l.aboratorium
Spef(trofotometrik, labOiatooium
Tttrasi. Laboratorium
Trtrasi Laboratorium

4.3.

Keragun Biota AIr Non Ibn Dalacn au .teya Ibn Nile Dengan P.enerapan
SlstIm Akuaponlt Of Datar80 Readah. Sedang Dan Tlnggl
Sample plankton akan

Cl3.'"1:)

lle'"'gIIIl

menggunakan plankton net aeeara

reguler setiap 2 minggu pada kolaM ka- Pe'iQ8iilbiiall sample dengan periode aetiap 3
hari guna melihat peft{amballga"l je-..$Ilfll

dilakukan pada periode teogah masa

pemeliharaan ikan nila. Pellga_eta., Ampel dilakukan menggunakan formalin 4% untuk


aelanjutnya diidentiftkasi di 1abonII0IUn.
Makrobentos diambil III8fWJIl3kan
sedalam 5

em kedalam sed~

plastik

COte

dongan cara monekan alat

kolam aetiap 2 minggu di setiap kolam ikiln nlla.

Semua material yang terambiJ dicumpulkan dan ditempatkan dalam kantong plastik
sampet

Pengawetan salllM'l

dilakukan meoggunakan formalin 4%. Alkohol 70%

digunakan selama proses identifikasi. Sampel kemudian diayak menggunakan ayakan


bertingkat dengan diameter lobang ayakan 0,5; 1; 1,5 dan 2 mm. Proses pengayakan
termasuk penyeleksian, identifikasi dan peoghitungan dilakukan di iaboratorium.
Identifikasi dilakukan dengan panduan Ward and Whipple (1966), Pennak

(1978) dan Fitter and Manuel (1986).

Indeks diversitas dan keseragaman spesies

(Dodds 2002) dijadikan indikator terjadinya suksesi yang mengarah ke kestabilan


kondisi sistem budidaya yang diterapkan. Rumus Shannon-Weaner berikut dlgunakan
untuk menghitung indeke diversitas dan keseragaman.

H' .. - I:PJ In PI
dimana pj adalah proporsi spesies j, dan H' indeks diversitas
E '" H'RnS
dimana S adalah jumiah spesies, dan E adalah indeks keseragaman
Komposisi dan kelimpahan jenis dari plankton dan makrobentos akan dianalisa.
Selanjutnya Indeks diversitas dan dominasi species dijadikan indikator terjadinya
suksesi yang mengarah ke kestabilan kondisi pada budidaya ikan nila dengan slstim
akuponik yang diterapkan. Penelitian dilakukan selama 2 bulan.

BAS Y. HASL DAN PE_AHASAH

6.1. Kondlsl umum Ioka"


Penelitian inl dilakukan pada tiga Iokasi dengan ketinggian tanah dan permukaan
laut (OPL) yang berbeda sebagai per1akuan. Adapun ketiga lokasi yang dipilih dan
dianggap mewakili daerah deng.n ketinggian berbeda adalah:
-

Dataran tinggi (> 500 M OPL): dilakukan di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas
Kabupaten Cianjur yang ter1etak pada ketlnggian ~ 1008 M DPL. Meskipun
Iokasi ini merupakan lembah dengan vegetasi tanaman yang rapat tetapi letak
petakan kolam terbebas dart naungan (terbuka) sehingga cukup mendapat
intensitas cahaya matahari. Kolam yang digunakan di lokasi ini terbuat dan
tembok, berukuran 6 ~ (3 x 2 M).

Dataran sedang (100 - 500 M DPL): dilakukan di Desa Pasi~aya, Kecamatan


Ciomas - Kodya Bogor yang ter1etak pada ketinggian

246

M OPL. Lokasl Ini

merupakan tempat dilakukannya nset penkanan sehingga sangat ideal sebagai


stasiun pengujian. Kolam yang digunakan di Iokasi ini terbuat dan tembok,
dengan ukuran luas 10 M2(5 x 2 M).
-

Dataran rendah (0 - 100 M DPL): dilakukan di Desa Cimaja, Kecamatan Cisolok


- Kabupaten Sukabumi yang tenetak pada ketinggian

7M

DPL. Lokasi Ini

merupakan tempat produksi berbagai benih ikan air tawar seperti nlla, bawal,
patin dan mas sehingga cukup ideal sebagai tempat pengujian. Kolam yang
digunakan terbuat dan tembok berukuran luas 7.5 M2(3 x 2.5 M)

6.2. Penerapan Sistim Akuaponik Pada Budldaya Ikan Nlia BEST Di Beberapa
Loka.1 Yang Berbeda
a. Slnta.an
Derajat sintasan atau kelangsungan hidup ikan merupakan nllai perbandingan
antara jumlah ikan yang ditebar pada awal penelitian dengan jumlah ikan yang hidup
pada akhir penelitian dan dinyatakan dalam bentuk prosen. Hasil dan pemeliharaan Ikan
selama 8 minggu, temyata sintasrn ikan nila pada setiap Iokasi penelitian adalah seperti
pada table di bawah ini

T.OOI2. Sln" .. n llaln n.. ~


~
penelltlln (nl.. lnrta-nlta + ...,.,

delul)

loIuIal peneUtia'l ....

No.

P.rtak .. n (datuan)

Slnta.. n llaln .(%)

Trngg'

70.11~*6.44

Sedang

74.80"* 2.14

Rendah

71.2~ *4.71

Keterangan:")

..
Angka daIam koIom sarna yang ditkuti hUM

lidakbeda nyaIB (PcO.05)

mil

super$krip eama menunjukkan

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa sintasantertinggi dicapai oleh ikan nila
pada budidaya akuaponlk di datarsn sedang yaitu sebesar 74.80%, disusul oleh
datarsn rendah (71.20%) dan yang paling rendah adalah sintasan ikan pada
datarsn linggi (70.11%), tetapi dari hasll analiaia staitislik sintasan iken nila dari
keliga perlakuan tersebutmenunjukkantidak berbedanyata (P>O.05)H. al ini bersrti
bahwabudidayaikan nila Best berukursn 1 glekor dengan sistim akuaponik pada
padat penebaran 100 ekorIM2 selama 8 minggu pemeliharsan dapat dilakukan di
daerah dataran tinggi, sedangdan rendahakan menghasilkanderajatsintasanyang
tidak berbeda.
Dari hasil pengamatandi lapangan menunjukkanbahwa mortalitas ikan mas
terutama

terjadi

pada

minggu

pertama

pemeliharaankarena

ikan

masih

beradaptasi dengan kondisi lingkungan pemeliharaan.Secara umum kemampuan


ikan nila Best untuk bersdaptasi dengan lingkungan perairan di dataran tinggi,
sedang dan rendah temyata cukupbalk, terbuktidengannilai sintasan> 70%.

b. Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah istilah sedernana yang dapat dirumuskan sebagai


pertambahan ukuran panjang atau berat dalsm suatu waktu. Definisi demikian
merupakanpertumbuhanindividu

atau

pertambahanjaringan

aki~t

dari

pembelahan sel secara mitosis. Terjadinya proses tumbuh atau pertumbulian


pada ikan dapat dideteksi dari

meningkatnya bobot

ikan

sejalan

dengan

bertambahnya waktu pemeJiharaan.


Faktor utama yang memPJngaruhipertumbuhan ikan adalah faktor internal
(berasal dari ikan itu sendiri) dan fakior ekstemal (variabel lingkungantempat
hidup ikan). namun dari kedua faktor tersebut belum diketahuifaktor mana yang

memegang

peralan leblh domlnan. Dali hasi sa;,:>:->; ,Wlg diakJJkan setiap 2 minggu, rata-rata
bobot individu ikan mas dali Ietiap per".a!C.3"" dapat digambarkan seperti grafik di bawah
ini.
16.00
14.00

e- 12.00
0

:I

.!!

10.00
6.00
6.00
4.00

2.00
0.00
0

1--1lIr.!i'W ---- Dot. ~


Gambar 1. Sobot rata-rata Individu Ikan (glekor) dari masing-maslng
pada setlap waktu pengukuran (mlnggu)

pertakuan

Dali gambar diatas terlihat bahwa pertumbuhan ikan nila secara sampling pads
data ran sedang dan randah lebih cepat dibanding dataran tinggi. Hallni tentu
beri(aitan erat dengan temperatur air dan udara dimana semakin tinggi dataran dali
pennukaan laut maka temperatumya akan semakin rendah.
Pertumbuhan dapat terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino
(protein) yang berasal dali makanan. Seperti diketahui, bahan yang berasal dali
makanan akan digunakan oleh tubuh untuk metabolisme dasar, pergerakan, produksi
organ seksual, perawatan bagian-baglan tubuh atau mengganti set-set yang tidak
terpakai lagi. Bahan-bahan yang tidak berguna akan dikeluari(an da.1itubuh. Apabila
terdapat bahan berlebih dali keper1uan tersebut di atas akan 9ibaiat sel baru sebagai
penambahan unit atau penggantian sal dali bagian tubuh. Secara keseluruhan
rasuttantenya merupakan perubahan ukuran atau pertumbuhan (Affandi dan Tang,
2(02).

8erdasar1<an hasH pengulaJrr :IO!Xt: pada swal dan akhir penelijlan, maka
diketahui pertumbuhan ikan

mas pada

per1akuanadalah seperti pada

Tabel3.

Tabel 3.

NI.. I ,..ta..,.ta a.ju pertLmbuhan harlan Indlvldu (%) IIuIn nl" Best pilda

.. u.p pe... ".,.n ......

penelttan.

P.... k_n

No

LeJu peftUmbuhan ha"'n

(%)

Dataran linggi

2.97":1:0.36

Dataran sedang

3.20" :I: 0.27

Dataran rendah

Keterangan.

Indlvlclu

3.13":1:0.34
..

Angka dalam kolcm sarnayang dllkuti hUM samamenandakantidak


beda nyata (P<O.05)

Dan tabel di atas teriihat bahwa laju pertumbuhhan harian ikan nila paling tinggi
diperoleh pada budidaya akuaponik di dataran sedang yaitu sebesar 3.20%, disusul oleh
dataran rendsh (3.13%) dan dataran tinggi (2.97%). Akan tetapi selisih nilai tersebut
secara statistik tidak berbeda nyata (P>O.05).

c.

Produktlvltas
Produktivitas biomas diperoleh dan hasil korelasi antara sintasan dan laju

pertumbuhan ikan. Nilai tersebut merupakan pendekatan yang akurat untuk mengukur
pertambahan bolbot blomas ikan setiap han. Produktivitas ikan nila yang diperoleh pads
kolam budidaya akuaponik dari setiap periakuan adalah seperti pada tabel dibawah ini.
Tabel4.

Nllal rata-rata produktivltas


periakuan .... rna penelltlan.

No

Pertakuan

(glM2/harl) lkan nlla Best pad.

Produktivitas (gI~lharl)

Dataran tinggi

Dataran sedang

10.56":1: 0.86

Dataran rend~

9.93":1:2.19

Keterangan.

setiap

8.41":1:2.87

Angka dalam kolcm sama yang dllkuti hUM samamenandakantidak


beda nyata (P<O.05)

Dali

hasil

pengukuran

bobcx

:0 .as

pada

aIItlir

bahwa produktivitas paling tinggi ciperoetl :;ada ~


10.56 g!tRlllan. disusul oleh datarwl re'"ldar' \9 93
dataran linggl (8.41 g!tRlllan).

Secara

statist

penelitian diketahu!

dataran sedang sebesar

~lhanl

dan yang terakhir pada

produktifitas ikan nila dan keliga

perlakuan

Selain mampu

met9'a'"

daging ikan secara eftsien per satuan luss kolam.

budidaya dengan sistim a'oMllolik juga dapat menghasilkan sayuran sebagal produk
tambahan yang sanggl4) mengkonpensasi biaya produksi daging ikan. Salama 8
minggu pemerliharaan teIah dilalwkan panen kangkung sabanyak 4 kali dengan jumlah
produksi satiap kali panen saperti tercantum peda Tabel 5.

Tabel S.

Produksi (glrumpun) kangkung pada Htiap waktu panen dari ma.lng


masing kolam pertakuan

No

Pertakuan
(dataran)

Tinggi

17.13

10.85

5.31

4.45

Sedang

24.44

21.66

5.21

6.5

Rendah

33.97

14.10

3.45

5.31

Produksi (g1rumpun) pada panen ke1


3
4
2

Dari hasil panen yang dilakukan seliap 2 minggu diketahui bahwa produktivitas
tanaman kangkung pada semua lokasi secara nyata berkurang pada panen ke-3 yaitu
dalam periode pemeliharaan 6 minggu. Hal Ini disebabkan karena umur tanaman
kangkung yang sudah terlalu tua sehingga potsnsi untuk menumbuhkan tunas baru
telah menurun. Dengan demikian untuk mempertahankan produksi. sebaiknya setelah 2
kali panen (4 minggu pemeliharaan) tanaman kangkung dicabut dan diganli dengan bibit
yang baru.

14

11.3. Dlnamlka Kualltal AIr 0......Bucf'ld.ys .. n Hila Dengan Slstlm Akuaponlk


Pada Bertlegal Lobll
'
Untuk mengetahui

kritena klJa'itas

air dalam setiap kolam aituaponik. dilakukan

pengukuran sifat fisika-kimia air secara berkala setiap 2 minggu. Sedangkan untuk
memantau dinamika kualitas air harian dilakukan pengamatan (sampling) kualitas air
selama 24 jam sebanyak 3 kali seIama peneIitian.

I.

Pengukuran bert<ala
Oali hasil pengukuran secara berkala, diperoleh nilai kisaran beberaps

parameter kualitas air dari kolam akuaponik di datarsn tinggi. sedang dan rendah seperti
pada tabel berikut:

libel 6.

Kisaran dinlmlka parameter


akuaponlk Dataran tfnggl

Pa,..... elet
Suhu ("C)
Kecerahan (ml
TSS (mgIL)
00

(mQ/ll

C02 (mgIL)
Alkalin~as (mg/L)
Kesadahan (mQI1..l

kUllltas

alr padl

kolam dan

Filter
26,()"28,9

Kolam

27.2

25.2-28,5

0-002

<1

<1 - 21,8

8.1
-4.-47

<1-16,2

7.9-7,94

7.84 7,87

3.63--4,27

3.01- 3,9

1.66

1.66

1.66

114,84

1,198 -198.76

194.35 - 203,2

168-189

160.6 - 201,6

180.6 - 214,2
0.66-0987
1.021-1,118
0.187 - 0,308

O. pOSpat (mgILl

0.132-0531

T. pospat (mgil)

0.294 -0.841

0.814-0985
1.056-1,118

N-NH3 (mg/Ll

0.082-0125

0.191-021

N-N02 (mg/L)

0.15-0,512

0.017 - 0,059

0.056 - 0,068

'

2.976- 3.8

0.524 - 0,842

T.NiIrogeo (mgIL)

3.-495 3,953

1.-462-163

1.37 - 2,236

COD (mal\.)

19.81 - 20,55

5 -63,57

3.57 - 5,14

BOD (mQ/ll

3.17 - 3,3

0.58-10,17

5.14 - 0,57

5.Q6..1.1,37

8.3 - 9,75

9.75

N-N03 (mgIL)

TBOT (mgIL)

filter

0.502-0738

15

rabel7.

KJaaran dlnamlka pat


akuaponlk dafllran a.ec1ang

[til

.....

air pada

kolam dan

filter

Par.," ....

A_

r;;

ItoImI

Filter

26,2-28.4

28.5-28.7

Kecerahan (m)

0-0.02

TSS (mg/L)

<1

<1-42.1

<1-34.5

7,20-987
1.78-6.47
1.68

7.84-984
1.2-2.72

128.1 - 212.02
113.4 - 159.6

119.25 - 212,02
113.4 - 163,8

0.662- 1 279

0662-3,131

N-NH3 (mall)

1.292 - 1.1,448
0.257 - 0,859

1,606 - 3.321
0,024 - 2.246

0.966-3225
1,062 - 3,677
0.151-2615

N-N02 (mg/l)

0.002 - 0,064

0.003 - 0,113

0.011-0,155

N-N03 (mgll.)

0.493-0,n8

T.Nitroaen (mall)

1,843 - 1.929

Suhu l"C)

DH
00 (mg/L)

746-7.82

(mgll)

2.94 - 5.12
1.66

Alkalinilas (man.)

92.82 - 101.72

co,

Kesadahan (mgil)

O. DOSDIIt (mall)
T.~(mgll)

50.4-54.6

05-0702

1.86

0,5 - 0,751

1.046 - 5.896

1.452 - 6,508

COD (mall)
BOD (mgll)

6.42-8.57

2,857 - 51.31

3.143-54.2

1031,37

0,46 - 8,21

1.03 767

TBOT {m_9/l1

1,89 - 3,16

6.32 33.22

7.58 - 35.96

Sistem akuaponik menggunakan biofiHer dengan pasir, kenkil, cangkang ataupun


vanasi media plastik.sebagai substrat. Biofilters akan optimal pada suhu 25C sampai
30C dengan range pH dan 7 sampai 9 Oksigen tersaturasi, nilai BOD yang rendah (<20
mgll

) dan total alkalinitas lebih dan 100 mgll

atau lebih. Selain itu kelarutan

phosphorus, calcium akan menurun tajam pada pH kurang dan 6 (James E et 8/ .,


2006), Dan hasil pengamatan diperoleh bahwa pada dataran tinggi, sedang dan rendah
untuk parameter suhu, pH, DO, BOD, alkalinitas, kesadahan dan fosfor tertera pada
Tabel 6, 7 dan 8 menunjukkan seseuai dengan kritena di atas., :

16

Tabel 8.

KIMran dlnamlka parw,."r


akuaponlk datlran Nndah

Parvnet8r
Suhu("C)

,,30.1

kua....

air pada kolam da~ filter

RIIndah
Kolim

Fllbtr

28.3-30.6

28.().30S

Kecerahan{m)

0-0.02

TSS{rntL)
DH

<1

<1-29.2

<1 - 21.3

7,34

7.1

9 .1

00 (1ll!IIll

S.19

3.12

1.2

C02 (rntL)

392

3.92

392

1164

1.196-198.76

194.35 - 203.2

Kesadahan (mgill

113.4

130-138.6

13.86-17.3

O. pospat {mg/ll

1.639

1.772 -1804

1.842 - 2.268

T. pospat

1.717

1.925 - 2.313

2.295 - 2.331

N-NH3 (mall)

0193

0.707 -0746

0.743 - 0.852

N-N02 (mg/l)

0.157

0.309 - 0.087

0.103 - 0.325

N-N03 (malll

1.241

0.57 -C.754

0.62 -0.743

T.Nitrogen (mall)

3.74

2.632 - 2.922

5.9 -2.972

COO(m~

2-5.3

9.3 -17.3

BOO (rntL)
TBOT (mall)

0.32 -885

18-2.78

10.11

16.61-16.6

9.3-17.3

Alkallnltas

(mail)

(mall)

Fitoplankton dapat mengubah zat anorganik menjadi zat organik

dengan

bantuan cahaya matahari melalui proses fotosintesis (yang hasllnya dlsebut produksi
primer) dan juga sebagai pemasok oksigen. Produktifrtas primer fitoplankton ini
merupakan salah satu dan sebagian besar sumber penting dalam pembentukan energi
di perairan. Faktor-faktor yang mempengaruhl produksi primer (Iaju fotosintesis) antara
lain: cahaya matahari, suhu, nutrient, serta struktur dan kelimpahan Fitoplankton yang
mampu beradaptasi di ekosistem perairan (habitatnya) (Baksir, 2004). Cahaya rnatahari
yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan. Proses penyerapan cahaya ini
berfangsung secara lebih intensif pada lapisan atas perairan s~hitlgga lapisan atas
perairan memiliki suhu yang lebih tinggi (Iebih panas) dan densitas yang lebih keeil
daripada lapisan bawah (Effendi, 2003). Energi matahari yang masuk ke dalam perairan
akan ditransforrnasikan menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis

untuk

produktivitas di ekosistem. Proses pemanfaatan energi rnatahari dapat meningkatkan


produktivitas primer di perairan terjadi melalui proses perubahan energi organik yang
berlangsung dalam tubuh fitoplankton.

17

b.

Pengamatan 24 jam
Hasil pengukuran beberapa 1*.116"" Ia.8Iitas air pada pengamatan 24 jam

dengan rentang waktu 6 jam pada setiap koIan IIal8pOl\lkadalahterganbar seperti


padagrafik bertkut:

30.0 ,---------------

-+-Kolam

lS.O

Filter

0.0

+----,----,----,----r---..,
11:00

17:00

23:00

s.oo

11:00

WaktuOam)

--

Gambar 2. Kondisi suhu air salama 24 jam pada kolam dan filter dataran tinggi
kolam-filter seJalanfluktuasi suhu.

_._

8.4
8.2
8.0
7.8

7.6

-+-kolam
Filter

7.4
7.2
7.0

6.8
11:00

17:00

23:00

5:00

11:00

WakruOam)

Gambar 3. Kondisi pH selama _ Jam dataran tinggi. Analisa pakai pH tetes


mengakibatkan rangenya terlalu kasar maka sulit melihat perbedaan

18

7.0
6.0
5.0

::i

4.0
~
0 3.0

Kolam

-4-Fllter

2.0
1.0
0.0
11:00

17:00

23:00

5:00

Waktu(jam'

-_

Gambar 4.

Kondisi oksigen terlarut


dataran tlnggl

11:00

_._-_

..

.. -

selama 24 jam pada kolam akuaponlk di

Nilai DO pada kolam selalu relative lebih tinggi dan filter bisa disebabkan oleh
aktifitas fotosintesis oleh plankton yang menghasilkan 02 pada siang han. Titik tertinggi
nilal DO ada pada pukuI11:00 begitu juga dengan nilai suhu dimana hal ini dipengaruhi
oleh intensitas cahaya matahan .
Terjadi perbedaan titik kritis nilai DO pads filter dan kolam yang mana pada
kolarn terjadi pada pukul 05:00 dan filter pada pukul 23:00 hal ini bisa terjadi karena
pada kolam terjadi perebutan suplai oksigen antara ikan dan plankton sehingga nilai DO
kntis pada pukul 05:00 dan baru naik kembali pads pukul 11:00 yang mana plankton
dapat kembali berfotosintesis dengan adsnya sinar matahari sehingga nilal DO kembali
nalk.

19

45.0 ,----------------

-i

30.0

-+-Kolam

15.0

0.0

.....

+------~-17:00

23:00

._-5:00

11:00

,--

Filter

17:00

Waktu(jam)

Gambar 5. Kondisi suhu air selama 24 jam pada kolam akuaponlk dl dataran
sedang

10.0
8.0

:z:
Q.

6.0
-+-Kolam

4.0

.....

Filler

2.0

17:00

23:00

5:00

11:00

17:00

Waktu(jam)

Gambar 6. Kondlsl pH air selama 24 jam pada kolam akuaponik dl dataran


sedang

20

7.00
6.00
5.00

:::.

1a

4.00

3.00

!.

Kolam
Filter

2.00
1.00
0.00
17:00

23:00

5:00

11:00

17:00

Wllktuijam)
Gambar7.

Kondisl okslgen teFtarut dalam air selama 24 jam


akuaponlk di dataran sedang

pada kolam

Pada dataran sedang nilai DO suhu dan pH tertinggi adalah pada pukul 17.00
hal ini diakibatkan intensitas cahaya matahari

dan aktivitas fotosintesis yang mana

dapat mempengaruhi parameter-parameter tersebut.

45.0 ,-----------------

30.0

:::I

(I)

,
~

--Kolam

15.0

0.0

Filter

+---..----.--~--~--~
17:00

23:00

5:00

11:00

17:00

Waktu(jam)

Gambar8. Kondis! suhu air se'-ma 24 jam pada kolam akuaponlk di dataran
rendah

21

12.0

9.0 .

Q.

./_..<..;.

6.0

...
Kolam
...... Flltt:>r

3.0

0.0
17:00

23:00

5:00

11:00

17:00

Waktu(jam)

--_. _ ...

---

Gambar 9. Kondisi pH air selama 24 jam pada kolam akuaponlk di dataran rendah

9.00
8.00

l\.

7.00
::l'

7 ~

6.00

"ill 5.00

.s
g

/
/

4.00

-I...... ....

3.00
2.00
1.00

'1-'::;;;'-

Kolam

...

...... Fillt:>r

0.00
17:00

23:00

5:00

11:00

17:00

Gambar 10. Kondisl okslgen tertaNt dalam air selama 2~ jam pada kolam
akuaponlk di dataran rendah

Pada analisa 24 jam nilai oI(sigen tenaNt paling tinggi pada pukuI11:00 berbeda

..

dengan nilai oksigen teriaNt pada datarsn sedang yang mana yang tertinggl adalah
pads pukuI17:00

berkaitan dengan nilai suhu di data ran rendah pada pukuI17:00

suhu dan pH mengalami penurunan jika dibandingkan dengan nilai suhu dan pH pada
pukul

11:00 penurunan DO, pH dan &.;-.... beiula. dengan kemJngkinan m8!lurunnya


intensitas matahari pada putcul17 00 ddalaian ,."dah yq mana dapat
mempengatUhl nilai DO yang ikut menurun dikanlnaKari aldifilas fotosintesis yang
mulai menurun sehingga

Oa hasil

dari fotosinteslS IT18fUU'I mengakibatkan nllai DO


dan pH rnenurun

(cOa

mempengaruhi nilai pH) COz berpeI sebagai pemicu fotosintesis dengan reaksi

sebagai berikut:
Chlorofil +

COz + rnatahari mengasHkanKarbohidrat dan Oa

Gambar 11. Proses fotosintesa


matahar1
Kadar

pada tanaman berldorofil

COa rendah laju fotosintesis

dengan bantuan slnar

menurun karena dapat te~adi titik konpensasi

COz.

Laju fotosintesis sama besamya dengan laju respirasi, berarti produk fotosintesis
habis terpakai untuk keper1uantumbuhanlplankton sendiri hal ini lah yang menyebabkan
te~adinya titik kritis nilai oksigen ter1arut

35.0
30.0
2S.0

...

20.0

......

15.0
10.0

s.o
0.0

17:00

--

-.

_.

~
~
23:00

s.oo

11:00

17:00

Gambar 12. Keterkaitan antara kondisl pH, DO dan suhu air selama 24 jam pada

kolam akuaponik

ea."

s. ."'. Ibn NUa Dengan P1pnerapan


5.4. Keragun Biota AIr Non Ibrt
Statim Akuaponlk 01 Datarar> CWnda s.-ng Dan llnggl
Dan hasil pengamatan 5e2'::"a :Je1cGtA-,.. cfiperoIeh hasil untuk jenis plankton
relatif sarna pada ke tiga lobs
Tabel9 dlbawah Ini.

'~ra - ~~ -:\_Komposisi

jenis plankton tertera pada

KomposlaJ jenta plant1Dn dart ke 310kasl berbeda

Tabel9.

JENS PLANKTON
No
1
2
3

4
5
6
7
8
9
10
11
12

FJIoplanll1Dn
Chloro
ChloreRa
Coelastrum
Hydrodicton
Pediastrum
Oocvstis
Scenedesmus
Zygnema
Ulothnx
Clostenum
Microspora
Volvox
Botryocxx:us

Zooplankton
Rotlfera
Brachionus sp
Enteromos1ntca
Daphnia

Kelimpahan plankton (Indll) menunjukan katagori cukup subur atau mesolropik


dengan kellmpahan plankton 200()"5000 Indll. (Tabel 10). Keanekaragaman plankton
termasuk rendah hingga sedang. Keseragaman dan domlnansl dalam katagon rendah.
Tabe110.

Kellmpahan (ind/l), keanekaragaman, keseragaman dan domlnanaal


plank1on.

Parameter
Kelimpahan Ondll}
Katagon
Keanekaraaaman
Index H'
Keseragaman
IndexE
Dominansi (D)

Dataran rendah
2.750-19.125
cukup subur sangalsubur
rendah -sedang
1.16-1.57
rendah

..

O.81.().84
rendah (0.25.().37)

Dataran sedang
2.750-34.875
cukup subur sangat subur
rendah -sedang
0.75-1.53
rendah
O.42.().84
rendah (O.23.().66)

Oataran tinggi
5.250-9.250
CliIkupsubur sangat subur
rendah -sedang
1.01-1.16
rendah
0.62.().76
rendah (0.40'().45)

24

Secara umum kelimpetMrl plalkbll1'l8llillgkat

secara ny8ta sejak mln.ggu ke 4

setelah tebar ikan sehingga kolam niIa pacIa sI$1in akuaponlk mencapai kalagori sangat
subur (eutropik). Dalam penelitian
ini kepadatan plankton di kolam dataran
sedang cenderung memiliki kepadatan lebih Wlggi dibandlng kolam penelitian di daerah

_l1li101_

lain (Gambar 13).

4~
,-------------------3~
+-----------------3~
+---------~~~c_---25000 .j---------;Mf/-~~.;_-Sl
2~ +-------~-#~--~~15000

+----+---,,

1~

.j---~--~----------- -S3
.j-~~~~----------

5000

Gambar 13.

---------

-S2

Grafik perl<embangan kelimpahan plankton di dataran sedang.

Hasil analisa makrobentos untuk jenis, kelimpahan (indlm2) dan ukuran (mm)
terdapat dalam Tabal11 dibawah Ini.
TabeI1'.

Jenis, Kelimpahan (indlm2) dan Ukuran (mm) Makrobentos

Makrobentos
Jenis
Ukuran (mm)
Kelimpahan
(ind/m2)

Dataran rendah

Dataran sedang

Oataran tlnggi

Lemnaea sp

Lemnaea sp

2,5-11

2-9

Lemnaea sp dan
Chironomous SP
4-3 dan 2-14

1-2

1-6

1-5 dan 1-3

Jenis Lamnaea sp atau biasa disebut susuh, keong mendom inansi


makrobentos di kolam akuaponik. Hanya kolam di daerah Cianjur ditemukan
Chironomous sp.
Kelimpahan makrobnetos dari ke 3 lokasi terkatagori rendah.

2S

BAS VI. KESIIIPULAN

8.1.

DAN SARAN

KESIMPULAN
Dari berbagai data hasil peneIitian serta pembahasan, dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut:
a. Budidaya ikan nila Best dengan sistim akuaponik dapat diterapkan di daerah dataran
tinggl, &edang maupun rendah, karena:
-

Perbedaan ketinggian dataran tidak berpengaruh nyata tertladap sintasan, laju


pertumbuhan dan produktifltas ikan nila.

Kriteria kualitas air dalam kolam akuaponik di dataran tinggi, sedang dan rendah
masih dalam klsaran yang layak bagi kehidupan ikan nila.

b.

Kelimpahan plankton dalam air kolam dengan sistim akuaponik di dataran tinggi,
sedang dan rendah tergolong sangat subur (eutroplk). Makrobentos yang hidup
dikolam tersebut dimendominasi oleh Lemnaea sp.

8.2.

SARAN
Perfu dilakukan soslslisasi ke masyarakat mengenai teknik budidaya ikan

dengan slstim akuapionik sehingga

mampu meningkatkan produktifrtas lahan dan air

secara optimal.

26

BAS VlL DAfT AR PUSTAKA


Mandi, R., dan U.M. Tang. 2002. F"1SioIogi hewan air. Unri Press. Pekanbaru, RJau,
Indonesia. 217 h.
Baksir A. 2004. Hubungan antara produi(tivitas primer fltoplankton dan intensitas
cahaya di waduk cirata kabupaten cianjur jawa barst. Makalah Falsafah
Salns Program PaSC8Sarjana IPB. 12 hal
Boyd, CE. 1982. Water quality management in aquaculture and fisheries science
Elsevier Scientific Publishing Company, Amsterdam. 312 hal.
Boyd, C.E. 1990. Water quality in pond for aquaculture, Brimingham Publishing Co.,
Alabama. 482 hal.
Carman, 0., dan A. Sucipto. 2009. Panen nila 2,5 bulan. Penebar Swadaya. 84 hal.
Dodds, W. K. 2002. Freshwater ecology. Concepts and environmental applications.
Academic Press. San Diego. 569 pp.
Effendi H. 2000. Telaah kualitas air bagl pengelola sumberdaya dan lingkungan
Perairan. Penelbit Kanisius. Jakarta. 258 hal
Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air bagi pengelola IlUmberdaya dan lingkungan
perainan. Kanisius 258 hal
Effendi, I. 2002. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya.188 hal
Effendi, M.1.1979. Metode biologi perikanan. Yayasan Dew! Sri, Bogor. 140 hal.
EPA. 1986. Quality criteria for water. Jumal EPA 440J5..8~1.U.S.
Environmental
Protection AlJency. Woshlngton D.C.
Fitter R and R. Manuel, 1986. Field Guide to the Freshwater life of Britain and North
West Europe, Wiiliam CollinsSons & Co Ud, London, 382 hal.
Gustiano, R.,O.Z. Ariflll, J. Subagja dan S. Asih, 2007. Peningkatan keragaan
pertumbuhan ikan nila dengan seleksi familL Laporan hasil riset. BRPBAT,
Bogor: 72-75.
James A Rakocy, MP Masser dan
Lasordo. 2006. Recirculating Aquaculture Tank
Production Systems: Aquaponics-Integrsting Fish and Pland Culture
(ReVision). Sourthem Regional Aquaculture Center. 16 pp
Kusdiarti, T.Ahmad. Sutrisno dan Y.R.Wtdyastuti. 2006. Budidaya Ikan Nila Hemat
Lahan dan Air dengan Sistim Akuaponik Laporan Hasil Penelitiaan. Balai
Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor: 95-102.
Macan,T.T, 1960. A Guide to Freshwater invertebrate animals. Longmans, Green & Co
Ltd, London, 118 hal.
Mason, C.F. 1992. Biology of fresh water pollution. long Man Inc. London. 250. hal.

Nelson, R.1998. Aquaponics Journal Vol.lV No.5. Nelson/Pade Multimedia PO Box


1848, Mariposa, CA, USA, : 22-23
Nugroho. E., dan Sutrisno. 2008. Budidaya ikan dan sayuran dengan slstem akuaponik.
Penebar Swadaya, Jakarta. 67 hal.
:
Pennak. R.W. 1978. Freshwater invertebrates of the United States. New York: The
Ronald Press Company, 769 pp.
Ward, H.B and Whipple, G.C. 1966. Freshwater Biology (Edmondson, W.T, ed), 2nd
edition, New York&London: John Wiley, 1248 pp.
WlClyastuti, Y.R.. I. Taufik dan Kusdiarti, 2008. Peningkatan Produktivitas Air Tawar
melalui Budidaya IkM Sistim Akuaponik. Prosiding Seminar Nasional
Umnologi IV, LlPI. Bogor: 62-73

27

Widyastuti, Y.R., Nurylldi dlin KUIdiaI1i 2008 Paa",Mtan produktMtas budiclaya iken
Iele dumbo (Clarias gariepnus: me's hi penerapan eiatim akueponik.
Pro.lding eemlnar PeriNl ..e.. t'r (ClllaI, SekDIah Tllggi PeI1kanan,Jakarta.
Zonneveld, N., E.A. Huisma'l dan J.H Bonn. 1991. Prinsip-prinelp budidaya ikan. PT
Gnrmedla Pustaka Utama. JaIcarta. 318 hal.

28

Lamplran:

Gambllr keglatan "_''''idwya iUra nil. Best dengan sistim akuaponlk


yang dUakukan di ct..ah ct.taran tinggi (1008 M DPL); dataran
sedang (246 M OPL)dan dIItaran rendah (7 M DPL)

Gambar 1.

8ak media tanam berisi arang kayu yang belfungsi sebagai media
tanaman dan filter air, ditempatkan di atas kolam tembok. Bak media
tanam berukuran 25% dan luas kolam.

Gambar 2.

Petak persemaian benih kangkung darat yang akan ditanam pada bak
media tanaman pada kolam akuaponik

29

Gambar 3.

Jenis dan ukuran ikan uji (nila Best) yang akan dipeliharadalam

kolam sistimakuaponik.

Gambar4.

Pengukuran beberapa parameter kualitas air pada kolam sistim


akuaponik

Gambar5.

Tanamankangkungberumur2 minggu setelah tanam yang siap


panen (kin), teknik pemanM8n dengan cara memotong pada
pangkal batang sekitar5 em dan akar (kanan).

.]