Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengujian mutu benih, yang meliputi pengujian mutu fisik, genetis dan fisiologis,
merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Di dalam
setiap pengujian, standar tolak ukur untuk mutu kualitas benih memiliki berbedabeda. Karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukkan korelasi
dengan nilai pertanaman benih di lapangan harus di evaluasi pengujian.
Pengujian mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui uji viabilitas dan vigor
benih.
Uji viabilitas benih meliputi pengukuran daya kecambah dan kadar air benih.
Yang dimaksud Viabilitas adalah Daya Hidup. Sedangkan pengertian Viabilitas
Benih itu sendiri adalah kemampuan benih untuk berkecambah dan menghasilkan
kecambah normal dalam jangka waktu tertentu sesuai dalam ketentuan dalam
sertifikasi benih. Dengan demikian, uji viabilitas dalam hal ini perlu dilakukan
untuk memberi informasi yang berguna bagi produsen, pedagang, dan konsumen
benih.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat memahami tentang uji viabilitas pada benih.

2. Mahasiswa dapat memahami tentang faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi uji viabilitas benih.

II.

PEMBAHASAN

Pengujian benih merupakan analisis beberapa parameter fisik dan kualitas


fisiologis sekumpulan benih yang biasanya didasarkan pada perwakilan sejumlah
contoh benih. Pengujian dilakukan untuk mengetahui mutu kualitas kelompok
benih. Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di
lapangan. Salah satu contoh pengujian benih adalah uji viabilitas benih atau uji
perkecambahan benih.

Uji viabilitas benih dapat dilakukan secara tak langsung, misalkan dengan
mengukur gejala-gejala metabolisme ataupun secara langsung dengan mengamati
dan membandingkan unsur-unsur tumbuh tertentu. Sebagai parameter untuk
viabilitas benih digunakan presentase perkecambahan. Persentase kecambah yang
tinggi sangat diinginkan oleh para petugas persemaian, dan segala sesuatu selain
benih murni yang berkecambah akan dianggap sebagai hal yang tidak berguna,
oleh karena itu pegujian kecambah atau viabilitas harus menggambarkan
kecambah yang potensial.

Pengujian viabilitas ada beberapa macam yaitu pengujian pemotongan (cutting


test), tetrazolium (TZ), pemotongan embrio, dan pengujian hydrogen peroksida
(H2O2). Pengujian viabilitas benih biasanya kurang tepat diterapkan untuk benihbenih yang berukuran sangat kecil, bahkan teknik pengambilan/pemotongan
embrio hampir tidak mungkin dilakukan. Uji tetrazolium memanfaatkan prinsip
dehidrogenase yang merupakan group enzim metabolism pada sel hidup, yang

mana mudah diamati perubahan warnanya. Selain uji TZ, uji hydrogen peroksida
(H2O2) juga merupakan uji yang efektif. uji ini merupakan uji viabilitas yang
lain, yang membentuk transisi menjadi pengujian kecambah.

Pengertian viabilitas secara tidak langsung menurut Sadjad ialah sama dengan
gejala hidup. Namun, fenomena tumbuh benih bukan merupakan satu-satunya
parameter untuk menandakan gejala hidup. Gejala hidup sudah dapat terlihat dari
hasil proses metabolisme, yaitu berupa peningkatan laju pernapasan benih. Gejala
metabolisme yang segera tampak sesudah hidrasi terjadi oleh proses imbibisi ialah
perombakan bahan-bahan cadangan dalam benih.

Viabilitas Viabilitas benih menurut Mugnisjah (1990) ialah daya hidup benih yang
dapat ditunjukkan oleh gejala metabolisme atau gejala pertumbuhannya atau
metabolismenya. Menurut Pramono (2011), viabilitas benih adalah daya hidup
benih yang ditunjukkan aktif secara metabolik dan memiliki enzim yang dapat
mengkatalisa reaksi metabolik yang diperlukan untuk pertumbuhan kecambah.
Viabilitas benih saat diproduksi, dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1.
Ketersediaan air, 2. ketersediaan hara, 3. serta kondisi dan keadaan lingkungan
yang mendukung. Viabilitas benih merupakan salah satu penentu mutu fisiologis
benih dan ditentukan oleh daya berkecambah dan vigor benih. Daya berkecambah
mencerminkan kemampuan benih untuk dapat tumbuh dan berkembang dalam
lingkungan yang suboptimum. Deteksi viabilitas benih yang didasarkan
kebocoran elektrolit dari sejumlah benih termasuk metode tidak langsung.
Pertumbuhan kecambah atau bibit pada pendeteksian viabilitas disebut indikasi

viabilitas langsung, sedangkan indikasi aktivitas enzim, disebut viabilitas tidak


langsung (Sadjad, 1994).

Metode uji viabilitas :


a. Uji Kertas Digulung (UKD) untuk benih besar : tanaman pangan : jagung,
padi

Uji Kertas Digulung didirikan ((UKDd)

Uji Ketas Digulung didirikan dalam plastik (UKDdp)

Uji Kertas Digulung dimiringkan (UKDm)

b. Uji Antar Kertas (UAK) untuk benih besar dan kecil : tanaman pangan dan
sayuran (tomat dan cabe dalam praktikum)
c. Uji Diatas Kertas (UDK) untuk benih kecil : sayuran : bayam dan wijen.

Kriteria kecambah pada uji viabilitas :


a. Normal (tumbuh sempurna, sehat)
b. Abnormal

Cacat : akar pendek (salah satu bagian kecambah hilang)

Rusak : kotiledon/ perakaran putus

Busuk : akibat serangan hama dan penyakit

Lambat : pertumbuhan kecambah tidak normal pada akhir pengamatan

c. Benih Mati (busuk)

d. Benih Segar Tidak Tumbuh (benih mengembang, tidak tumbuh plumula


(mengalami imbibisi)
d. Benih Keras (dormansi : tidak mengalami imbibisi karena kulit keras).

III.

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:


1. Uji viabilitas benih meliputi pengukuran daya kecambah dan kadar air
benih. Yang dimaksud Viabilitas adalah Daya Hidup. Sedangkan
pengertian Viabilitas Benih itu sendiri adalah kemampuan benih untuk
berkecambah dan menghasilkan kecambah normal dalam jangka waktu
tertentu sesuai dalam ketentuan dalam sertifikasi benih.
2. Viabilitas benih saat diproduksi, dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1.
Ketersediaan air, 2. ketersediaan hara, 3. serta kondisi dan keadaan
lingkungan yang mendukung.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal Rehabilitasi


Lahan dan Perhutanan Nasional. 2006.Manual
Pengujian Benih Tanaman Hutan. Sumedang : Balai
Perbenihan Tanaman Hutan Jawa dan Madura.
Justice, O. L. L., N. Bass. 1994. Prinsip dan Praktek
Penyimpanan Benih. (terj.). PT Rajagrafindo Persada.
Jakarta. 446 hal.
Leadem, C.L. 1984. Quick Test for Tree Seed Viability.
Management Report NO 18. B.C.Ministry Forest Land
Research Branch.
Sadjad, S. 1972. Kertas merang untuk uji viabilitas benih
di Indonesia. Beberapa penemuan dalam bidang
teknologi benih. (Disertasi). Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Schmidt, Lars. 2000. Pedoman Penanganan Benih
Tanaman Hutan Tropis dan Subtropis. Naiem M,
penerjemah; Harum F, editor. Jakarta: Dirjen RLPS,
Departemen Kehutanan. Terjemahan dari : Guide to
Handling Tropical and Subtropical Forest Seed.