Anda di halaman 1dari 16

PENDUGAAN PRESTASI PADA TERNAK RUMINANSIA BESAR DAN

KECIL (SAPI DAN KAMBING)


(Laporan Praktikum Ilmu Tilik Ternak)

Oleh:
Kelompok II
Yeni Widiawati
1214141079

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penilaian ataupun pendugaan prestasi ternak dikalangan para peternak
sangat penting untuk

dilakukan. Hal ini menjadi penting karena

pendugaan prestasi ini dapat menjadi parameter bagi para peternak untuk
mengukur seberapa berhasilnya usaha pemeliharaan terhadap ternak
mereka. Usaha pemeliharaan para peternak dikatakan berhasil jika ternakternak yang mereka pelihara dapat menunjukkan performans terbaiknya.
Performans dari ternak itu sendiri dapat berupa berat badan yang dicapai
ternak tersebut.

Namun, banyak kendala yang menghambat untuk

melaksanakan pendugaan prestasi pada ternak. Salah satu kendalanya yaitu


tidak adanya alat-alat yang dibutuhkan untuk melakukan pendugaan
prestasi ternak mereka. Misalnya seperti tidak tersedianya timbangan
berkapasitas besar di peternakan yang masih skala produksinya kecil dan
peralatan lain yang memiliki harga yang mahal.
Dengan demikian, dalam usaha untuk mengatasi kendala yang dihadapi
jika alat ukur untuk menduga berat badan ternak yang berkapasitas besar
tidak tersedia, dapat dilakukan penaksiran berat badan ternak tersebut
dengan menggunakan dimensi tubuhnya. Misalnya melalui panjang badan
dan juga lingkar dada, karena lingkar dada seekor ternak memiliki korelasi
yang sangat kuat untuk menduga berat hidup ternak. Dari adanya taksiran
dari berat badan ternak dan juga penilaian terhadap sifat-sifat kualitatif
maupun sifat kuantitatif ternak, maka diharapkan pendugaan prestasi
ternak tersebut dapat dilakukan oleh peternak.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:


1. Mampu melakukan penilaian terhadap bagian-bagian tubuh sapi potong dan
kambing.
2. Mampu menduga prestasi sapi siap potong dan kambing berdasarkan hasil
penilaian terhadap bagian-bagian tubuh sapi potong dan kambing.
3. Mampu menduga prestasi sapi potong bibit berdasarkan hasil pengamatan
terhadap bagian-bagian tubuh sapi potong dan kambing.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kambing Rambon merupakan hasil persilangan antara kambing Peranakan


Etawah (PE) jantan dengan Kacang betina sehingga kandungan genetik kambing
Kacang dalam kambing Rambon lebih tinggi daripada kambing PE (Djajanegara
dan Misniwaty, 2005).
Kambing Rambon dikenal juga dengan nama kambing Jawarandu atau Bligon.
Penampilan kambing Bligon lebih mirip dengan kambing Kacang (Hardjosubroto,
1994; Devendra dan Burns; 1994; Batubara et al. 2009).
Parameter tubuh adalah nilai-nilai yang dapat diukur dari bagian tubuh ternak
termasuk ukuran-ukuran yang dapat diukur bagian tubuh tenak sapi, antara lain
ukuran kepala, tinggi, panjang, lebar, dalam dan lingkar. Indikator penilaian
produktivitas dapat dilihat berdasarkan parameter tubuh ternak tersebut. Parameter
tubuh yang sering digunakan dalam menilai produktivitas antara lain lingkar dada,
tinggi badan dan panjang badan. Berat badan juga merupakan indikator penilaian
produktivitas dan keberhasilan manajemen peternakan (Saladin, 1981).
Dalam usaha untuk mengatasi kendala yang dihadapi jika alat ukur untuk
menduga berat badan ternak yang berkapasitas besar tidak tersedia, dapat
dilakukan penaksiran berat badan ternak tersebut dengan menggunakan dimensi
tubuhnya. Misalnya melalui panjang badan dan juga lingkar dada, karena lingkar
dada seekor ternak memiliki korelasi yang sangat kuat untuk menduga berat hidup
ternak (Parakkasi, 1999).
Pendugaan umur dan berat badan seekor ternak menjadi sangat penting untuk
diketahui, khususnya bagi peternak dan pedagang ternak sehingga tidak terjadi
kecurangan-kecurangan yang dapat merugikan sebelah pihak (Sutardi, 1983).
Lingkar dada diperoleh dengan melingkarkan seutas tali di belakang gumba
melalui belakang belikat. Sementara panjang badan diukur dari bahu hingga
penonjolan tulang duduk (Wahyudin 2007). Menurut Gunawan (1990), bahwa
4

ketelitian pengukuran akan lebih baik apabila ternak dikelompokkan menurut


jenis kelamin.
Menurut Y. Bambang Sugeng (2004) pemilihan bibit berdasarkan penilaian bentuk
luar akan semakin sempurna atau meyankinkan bila dengan dilanjutkan
pengukuran bagian-bagian tertentu seperti panjang tubuh, lebar dan dalam dada,
lingkar dada, dan sebagainya.
Lebar kemudi adalah jarak antara tepi sendi paha kiri dan kanan. Cara pengukuran
kita lakukan dengan menarik garis horizontal dari tepi luar sendi paha kiri dan
kanan. Ukuran ini merupakan besarnya tubuh sapi yang bersangkutan untuk
diukur melalu lingkar dada. Cara pengukuran kita lakukan dengan menggunakan
pita ukur atau raffia mengikuti lingkar dada atau tubuh di belakang bahu melewati
gumba. Dan, pada sapi berpunuk, pengukurannya tepat di belakang punuk.
Panjang badan merupakan jarak antara tepi depan sendi bahu dan tepi belakang
tulang tapis. Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis horizontal dari
tepi depan sendi bahu sampai ke tepi belakang tulang tapis. Panjang tungging
merupakan jarak antara muka pangkal paha sampai tepi belakang tulang tapis.
Cara pengukuran kita lakukan dengan menarik garis horizontal dari tepi luar
pangkal paha sampai tepi belakang tulang tapis.
Undang Santosa (2001) menyatakan bahwa pengukuran ukuran tubuh ternak sapi
dapat dipergunakan untuk menduga bobot badan seekor ternak sapi dan sering kali
dipakai juga sebagai parameter teknis penentuan sapi bibit berbagai rumus
penentuan bobot badan berdasarkan ukuran-ukuran tubuh telah banyak diketahui,
bahkan berbagai penelitian telah mengoreksi rumus tersebut disesuaikan dengan
keadaan lingkungan, pengaruh genetis, dan waktu.

III.

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Adapun waktu dan tempat diadakannya praktikum ilmu tilik ternak pada
ternak ruminansia besar dan kecil adalah sebagai berikut:
Hari/tanggal

: Senin, 24 November 2014

Waktu

: pukul 10.00 WIB s/d selesai.

Tempat: Kandang Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas


Lampung.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ilmu tilik ternak
pada ternak ruminansia besar dan kecil adalah sebagai berikut:
Alat yang digunakan meliputi kartu penilaian sapi potong induk dan
jantan, serta kartu penilaian kambing induk dan jantan. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah 2 ekor sapi jantan dan 1 ekor kambing jantan.
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum ilmu tilik ternak pada ternak
ruminansia besar dan kecil adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengamatan terhadap sapi potong jantan dan juga kambing,
selanjutnya melakukan penilaian pada setiap individu ternak
ruminansia besar dan kecil tersebut.
2. Mengisi kartu-kartu penilaian dengan nilai yang merupakan hesil
pengamatan terhadap ternak ruminansia besar dan kecil yabg digunaka
praktikum.
3. Memberi peringkat pada sapi potong dan kambing berdasarkan nilai
yang diperoleh.
4. Menulis laporan hasil praktikum tersebut dan menentukan sapi atau
kambing mana yang terbaik.

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada praktikum ini adalah
sebagi berikut:
Tabel 1. Kartu penilaian sapi tipe pedaging jantan.
I. Keterangan ternak
Bangsa sapi
Umur sapi
Kondisi gigi seri
Nama sapi
Tanda-tanda khusus
II.
No

Sapi A
PO
4 tahun
4 gigi permanen
Williyam
Putih

Sapi B
PO Persilangan
4 tahun
Philips
Hitam

Penilaian sifat kuantitatif sapi potong


Bagian tubuh Nilai
maksimal

Hasil pengukuran

Hasil penilaian

Sapi A

Sapi

Sapi

Sapi B

Tinggi badan

10

Panjang

10

108

96

badan
Lingkar

10

126

117

badan
Berat badan

10

148

138

umur

10

20

20

Jumlah
Hasil penilaian sapi potong adalah sebagai berikut:

Total nilai = (0,5) (jumlah nilai sifat kualitatif) + (0,5) (jumlah nilai sifat
kuantitatif)
Sapi A
=(0,5 x 0)+(0,5 x 20)
=0 +10
Skor =10

Sapi B
=(0,5 x 0)+(0,5 x 20)
=0 +10
Skor =10

Tabel 2. Kartu penilaian Kambing Jantan


I. Keterangan ternak : kambing jantan
Bangsa kambing
Umur kambing
Kondisi gigi seri
Nama kambing
Tanda-tanda khusus
III.

Kambing A
Rambon
1 tahun
Gigi seri sudah berubah
Warna hitam

Penilaian sifat kualitatif kambing jantan


No.
I.

Unsur penilaian

Skor

1.

Bagian Kepala
Kriteria standar
Bentuk kapala panjang, sempit, relatif

2.
3.
4.

kecil
Mata sehat, cerah, sempurna
Profil wajah cembung
Rahang bawah sedikit lebih panjang

Skor

maksimum
7
1
1
1
1

daripada rahang atas namun bersatu


5.

dengan rahang atas secara sempurna


Telinganya panjang, pada bagian
pangkal

(pertautan

telinga

dengan

kepala) tidak terdapat patahan, telinga


mengarah

ke

depan,

daun

telinga

menyerupai daun bambu, ujung telinga


6.

sedikit melipat
Tanduk pipih, kecil, melengkung ke arah

7.

belakang
Pada kambing jantan terdapat bulu yang

8.
9.
II.
1.

panjanag pada dagu (jenggot)


Kepala berwarna hitam atau coklat
Mulut lebar
Bagian tubuh
Kriteria standar
Bentuk tubuh panjang dan terkesan
ramping
9

1
1
8
1

2.
3.
4.

Leher panjang
Bulu tubuh berwarna putih
Bulu pada bagian leher,

pundak,

2
0
1

5.
6.

punggung, paha panjang


Surai lebat dan panjang
Tubuhnya tegap, dadanya lebar dan

0
1

7.
III.
1.
IV.
1.

dalam
Punggungnya lurus
Bagian Kaki
Kriteria standar
Kaki panjang dan lurus, tegak, dan

2
5
4

simetris
Bagian Organ Reproduksi
Kriteria standar
Kambing jantan: testis sepasang, besar,

5
4

kompak
Jumlah maksimum sifat kualitatif

25

22

IV. Penilaian sifat kuantitatif kambing jantan


No.

I.
II.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
III.
1.
2.
IV.

1.

Unsur penilaian

Berat badan (kg)


Vital statistik
Tinggi badan (cm)
Lingkar dada (cm)
Panjang badan (cm)
Dalam dada (cm)
Lebar dada (cm)
Tinggi pinggul (cm)
Lebar pinggul (cm)
Kepala
Panjang kepala (cm)
Lebar kepala (cm)
Kaki
Lingkar pergelangan
kaki
Depan: - kiri (cm)
-

2.

Kanan
(cm)
Belakang: - kiri (cm)

Ukuran

Hasil

Skor

standar

pengukuran

Max

(jantan/cm)
54-65

.
5

90-110
89-97
63-68
35
17
95-115
15

53 cm
65 cm
56 cm
28 cm
17 cm
58 cm
17 cm

5
5
5
5
5
5
5

4
4
2
3
5
3
5

20 cm
13 cm

5
5

5
5

10

9 cm

10

9 cm

10

10 cm

10

Skor

Kanan
(cm)
Organ Reproduksi

10

10 cm

23

28 cm

VI.

Jantan: lingkar testis


(cm)
telinga

1.

panjang (cm)

25-41

13 cm

2.

Lebar (cm)

8-14

6 cm

VII.

Surai
23-28
Panjang (cm)
Jumlah nilai maksimum sifat

75

65

V.
1.

kuantitatif
Hasil penilaian kambing jantan adalah sebagai berikut:

Nilai yang diperoleh pada penilaian kambing jantan yaitu diperoleh:


Total nilai = (0.25) (jumlah nilai sifat kualitatif) + (0,75) (jumlah nilai sifat
kuantitatif)
= (0,25) (22) + (0,75) (65)
= 5,5 + 48,75
= 54,25.

B. Pembahasan
1. Penilaian sapi potong
Tujuan dari penilaian terhadap sapi potong ini adalah untuk menduga
sapi yang siap dipotong. Penilaian yang dilakukan meliputi seluruh
bagian tubuh dari sapi tersebut. Masing-masing bagian tubuh telah
dikelompokkan menurut bagian-bagiannya. Pengelompokannya sendiri
berdasarkan penilaian sifat kualitatif sapi jantan yaitu sebagai berikut:
Penilaian sifat kualitatif ini meliputi:

Kepala dan leher

Warna bulu

Dada dan punggung

11

Pinggang dan punggung

Paha dan kaki

Pertumbuhan dan keharmonisan bentuk

Testis (besarnya sesuai dengan tubuhnya, simetris, dan konformasi


baik)

Penilaian pada sapi jantan ini hanya dilakukan penilaian terhadap sifat
kuantitatif. Paramenter yang diukur pada penilaian kuantitatif yaitu
meliputi tinggi badan, panjang badan, lingkar dada, berat sapi, dan umur
sapi. Masing-masing bagian tersebut telah dilakukan pengukuran dan hasil
yang diperoleh telah dilakukan penilaian. Skor yang diperoleh pada
penilaian sifat kuantitatif pada sapi jantan A dan B diperoleh skor masingmasing 10 poin.
Berdasarkan pada pengamatan dan penilaian yang telah dilakukan, maka
sapi jantan B (Phillips) dan sapi jantan A (pangeran William) yang
memperoleh skor yang sama yaitu hanya 10 poin.
2. Penilaian kambing potong
Penilaian yang dilakukan pada kambing jantan tipe pedaging ini
meliputi penilaian sifat kualitatif dan sifat kuantitatif.
a. Penilaian sifat kualitatif
Meliputi:

Bagian kepala

Bagian tubuh

Bagian kaki

Organ reproduksi

Masing - masing dari poin di atas memiliki bagian masing masing


untuk dinilai dan nilai maksimum untuk sifat kualitatif yaitu 25 poin.
b. Penilaian sifat kuantitatif

12

Meliputi:

Berat badan

Vital statistik (ukuran tubuh); tinggi badan, lingkar dada,


panjang badan, dalam dada, lebar dada, tinggi pinggul, dan
lebar pinggul.

Kepala; panjang kepala dan lebar kepala.

Kaki; lingkar pergelangan kaki.

Organ reproduksi; lingkar testis.

Telinga; panjang dan lebar telinga.

Surai; panjang surai.

Total nilai maksimum dari sifat kuantitatif adalah 75 poin. Jadi, total nilai
dari penggabungan nilai sifat kualitatif dan nilai sifat kuantitatif adalah
100 poin.
Pada penilaian sifat kualitatif pada Kambing Kacang yaitu sebesar 22
poin dari nialai maksimum 25 poin. Kambing jantan yang diamati
memang memiliki penampilan yang baik. Dilihat dari warna bulu, bentuk
tubuh hingga kondisi tubuhnya yang gemuk dapat dipastikan bahwa nilai
sifat kualitatif kambing jantan tersebut memang baik. Sedangkan nilai
dari sifat kuantitatif yang diberikan yaitu sebesar 65 poin dari nilai
maksimum 75 poin. Nilai 65 sudah termasuk nilai yang bagus untuk
ukuran penilaian terhadap sifat kuantitatif kambing jantan.
Pada pengukuran vital statistik, ukuran telinga, dan panjang surai hasil
yang diperoleh sedikit tidak sesuai dengan ukuran normal pada kambing
jantan. Hal ini dapat terjadi karena kriteria standar yang digunakan
sebagai penilaian adalah ukuran yang digunakan pada kambing
peranakan etawah, sedangkan penilaian dan pengukuran yang dilakukan
adalah pada kambing kacang. Oleh karenanya, hasil yang diperoleh pada
saat pengukuran agak sedikit di bawah standar. Untuk hasil pengukuran

13

yang lain yang meliputi pengukuran pada kepala, kaki, dan organ
reproduksi telah sesuai dengan ukuran normal pada kambing jantan.
Jadi, total nilai yang diperoleh untuk penilaian prestasi kambing jantan
setelah dilakukan penghitungan dengan menggunakan rumus yaitu
sebesar 54,25 poin.

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pengamatan yang dilakukan adalah
sebagai berikut:
1. Berdasarkan pada pengamatan dan penilaian yang telah dilakukan, maka
sapi jantan B (Phillips) dan sapi jantan A (pangeran William) yang
memperoleh skor yang sama yaitu 10 poin.
2. Nilai dari penilaian sifat kualitatif pada kambing jantan yaitu sebesar 22
poin, sedangkan nilai pada sifat kuantitatif yaitu 65 poin. Total nilai yang
diperoleh yaitu 54,25 poin.
3. Perbedaan hasil pengukuran pada ukuran vital statistik kambing jantan
diperoleh berbeda dengan ukuran standar. Hal ini dapat terjadi karena
kriteria standar yang digunakan sebagai penilaian adalah ukuran yang
digunakan pada Kambing Peranakan Etawah, sedangkan penilaian dan

14

pengukuran yang dilakukan adalah pada Kambing Kacang. Oleh


karenanya, hasil yang diperoleh pada saat pengukuran agak sedikit di
bawah standar.

DAFTAR PUSTAKA

Batubara, A. M. Doloksaribu, dan B. Tiesnamurti. 2009. Potensi keragaman


sumberdaya genetik kambing lokal Indonesia. Lokakarya Nasional Pengelolaan
dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk
Mewujudkan Ketahanan Nasional.
Djajanegara, A. dan A. Misniwaty. 2005. Pengembangan usaha kambing dalam
konteks sosial-budaya masyarakat. Lokakarya Nasional Kambing Potong. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor. Indonesia.
Gunawan B. 1990. Pendugaan Model Fungsi Pertumbuhan Anak Domba Sebelum
Penyapihan. Pros. Sarasehan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong
Era PJP II. Bogor
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas
Press. Jakarta

15

Sugeng, Y.Bambang. 2004. Sapi Potong. Jakarta: Penebar Swadaya


Saladin, R. 1981. Ilmu Tilik Ternak. Diktat. Fakultas Peternakan Universitas
Andalas, Padang
Santosa, Undang. 2001. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Jakarta:
Penebar Swadaya
Sutardi, T. 1983. Pengaruh Kelamin dan Kondisi Tubuh terhadap Hubungan
Bobot Badan dan Lingkar Dada pada Sapi. Media Peternakan. Jakarta

16