Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 17
SKENARIO A

Grup 12
Tutor : dr. Ferry SpOG
Anisa Karamina Wardani

04101401003

Imam Hakiki

04101401007

Tasya Beby Tiara

04101401017

Khairunnissa

04101401018

Dzikrina Miftahul Husna

04101401022

Daniela Selvam

04101401027

Annisa Nanda Putri

04101401029

Ayu Aliyah

04101401030

KM. Azandy Akbar

04101401067

Ari Miska

04101401071

Riko Aldino Dian Putra

04101401128

Preetibah Ratenavelu

04101401136

Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan laporan tutorial skenario A blok 17 sebagai tugas kompetensi
kelompok. Shalawat beriring salam selalu tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar
Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa laporan tutorial ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa
mendatang. Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih kepada :
1. Allah SWT.
2. Kedua orang tua yang memberi dukungan materil maupun spiritual.
3. Dr. Ferry.SpOG selaku tutor.
4. Teman-teman sejawat dan seperjuangan.
5. Semua pihak yang membantu penulis.

Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan
kepada semua orang yang telah mendukung penulis dan semoga laporan tutorial ini
bermanfaat tidak hanya untuk penulis tetapi juga untuk orang lain dalam perkembangan ilmu
pengetahuan di masa yang akan datang.

Palembang,

Penulis

Februari 2013

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Blok

Obstreti dan ginekologi adalah blok 17 pada semester 6 dari Kurikulum

Berbasis Kompetensi (KBK) Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas


Sriwijaya Palembang.
Pada kesempatan ini dilaksanakan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran
untuk menghadapi tutorial yang sebenarnya pada waktu yang akan datang. Penulis
memaparkan kasus yang diberikan mengenai Ny. Y,37 tahun, dari keluarga menengah datang
ke dokter dengan keluhan perdarahan pervaginam.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari materi praktikum tutorial ini, yaitu :
1.

Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem
pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.

2.

Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan
pembelajaran diskusi kelompok.

3.

Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial dan memahami konsep dari
skenario ini.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Praktikum


Tutorial 2
Tutor

: dr. Ferry SpOG

Moderator

: Riko Aldino Dian Putra

Notulis

: Tasya Beby Tiara

Sekretaris

: KM. Azandy Akbar

Waktu

: Senin, 18 Februari 2013


Rabu, 20 Februari 2013

Peraturan tutorial

: 1. Alat komunikasi dinonaktifkan.


2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat
dengan cara mengacungkan tangan terlebih dahulu dan
apabila telah dipersilahkan oleh moderator.
3. Tidak diperkenankan meninggalkan ruangan selama proses
tutorial berlangsung.
4. Tidak diperbolehkan makan dan minum.

SKENARIO A
Mrs. Y, 37 years old, from middle income family is come to doctor (public health centre) with
chief complain vaginal bleeding. The mother also complain abdominal cramping. She also
missed her peroid for about 8 weeks. The mother also feels nauseous, sometimes have
vomiting and breast tenderness/ since 1 years ago she complain about vaginal discharge with
smelly odor and sometime accompanied by vulvar itchy. She already have 2 children before
and the youngest child is 6 years old. Her husband is a truck driver.
In the examination findings :
Height = 155 cm; Weight = 50 kg; Blood pressure = 120/80 mmHg; Pulse = 80x/m; RR =
20x/m.
Palpebral conjunctival looked normal, hyperpigmented breasts.
External examination : abdomen flat and souffle, symmetric, uterine fundal not palpable,
there is no mass, no pain tenderness and no free fluid sign.
Internal examination :
Speculum examination : portio livide, external os open with blood come out from external os,
there are no cervical erotion, laceration or polyp.
Bimanual examination : cervix is soft, the external os open, no cervical motion tenderness,
uterine size about 8 weeks gestation, both adnexa and parametrium within normal limit.
Hb 11g/dL; WBC 16.000/mm3; ESR 15 mm/hour; Peripheral Blood Image : WNL
Urine Pregnancy Test (HCG) positive
I. Klarifikasi Istilah
1. Vaginal bleeding
2. Abdominal cramping
3. Breast tenderness
4. Nausea
5. Vaginal discharge
6. Vulvar itchy
7. Abdominal souffl

: kondisi abnormal dimana darah keluar dari vagina yang


terjadi diluar siklus menstruasi
: nyeri yang dirasakan pada saat otot region abdomen
berkontraksi/mengencang
: sensitivitas yang tidak biasa pada payudara
: sensasi yang tidak menyenangkan yang secara samar
mengacu pada epigastrium dan abdomen, dengan
kecenderungan untuk muntah
: kondisi dimana keluar cairan dari vagina, warna bervariasi
bisa fisiologis atau patologis
: rasa gatal pada vulva
: suara yang terdengar seperti meniup pada saat auskultasi di

abdomen
8. Hyperpigmented breast : peningkatan pigmen (perubahan warna) lebih kecoklatan
pada payudara
9. Portio livide
: bagian uterus yang menjorok ke vagina yang berwarna
kebiruan akbiat hipervaskularisasi
10. Cervical erotion
: perubahan yang terjadi di mulut Rahim dan biasanya
didiagnosis pada saat pemeriksaan dalam vagina
11. Laceration
: luka robek
12. Polyp
: setiap pertumbuhan atau massa yang menonjol dari
membrane mukosa
13. Parametrium
: jaringan ikat yang terdapat diantara kedua lembar
ligamentum latum
14. WNL
: keadaan normal (whitin normal limit)
15. Uterine fundal
: fundus uteri, bagian atas dari uterus
16. BHCG
: hormone kehamilan yang diproduksi ovum yang diimplan
dan dapat diproduksi tanpa adanya embrio
II. Identifikasi masalah
1. Nona Y, 37 tahun datang ke dokter dengan keluhan perdarahan vagina
2. Ia juga mengeluh keram pada perut dan tidak menstruasi lagi sejak 8 minggu yang
lalu, serta mengalami mual, kadang muntah dan nyeri payudara
3. Sejak satu tahun yang lalu dia mengeluh vaginal discharge dengan bau yang tidak
sedap dan kadang diikuti oleh gatal pada vulva.
4. Dia sudah mempunyai 2 anakyang berumur 6 tahun dan suaminya seorang supir truk.
5. Pemeriksaan umum : Tinggi 155cm; berat 50 kg; tekanan darah 120/80 mmHg;
denyut nadi 80x/m; RR 20x/m. Konjungtiva palpebra terlihat normal, hiperpigmentasi
payudara
6. Pemeriksaan luar : abdomen flat dan souffle, simetris, fundus uteri tidak teraba, tidak
ada massa, tidak ada nyeri tekan dan tanda cairan bebas.
7. Pemeriksaan dalam :
Speculum : portio lividum, OUE terbuka dengan darah keluar dari OUE, tidak ada
erosi serviks, laserasi atau polip
8. Pemeriksaan bimanual : serviks lembut, OUE terbuka, no cervical motion tenderness,
ukuran uterus sekitar 8 minggu kehamilan, adnexa dan parametrium dalam batas
normal
9. Hb : 11g/dL; WBC 16.000/mm3, ESR 15/jam; gambaran darah perifer : dalam batas
normal. Urine : tes kehamilan (HCG) positif

III. Analisis Masalah


1. a. bagaimana perubahan anatomi dan fisiologi yang dialami ibu selama kehamilan
normal?

1. Anatomi dan fisiologi kehamilan 8 minggu:


Ukuran mencapai seukuran buah anggur diameter sekitar 2.5 cm. Sudah berbentuk
manusia.
Telah terjadi pembentukan kelopak mata dan telinga; kadang-kadang terlihat adanya
pangkal hidung.
Tungkai dan lengan sudah terbentuk secara lengkap.
Jari-jari sudah semakin panjang dan terpisah satu sama lain.
Genitalia eksterna sudah terbentuk

Fisiologi:
Sirkulasi melalui tali pusat di mulai
Penyatuan vili chorealis belum terlalu dalam
b. bagaimana etiologi dan mekanisme perdarahan pervaginam?
Penyebab perdarahan pervaginam yang tidak berbahaya pada ibu hamil trimester
1, antara lain :
1. Melekatnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim. Hal ini merupakan
hal yang normal terjadi pada masa kehamilan dan biasanya jumlah darah yang
keluar sangat sedikit.
2. Tejadinya perubahan hormonal tubuh pada masa kehamilan. Jumlah darah
yang keluar sangat sedikit dan biasanya terjadi pada minggu awal kehamilan.
Namun, pada sebagian wanita perdarahan ini ada yang menetap sampai akhir
kehamilan.
Penyebab perdarahan pervaginam yang berbahaya pada ibu hamil trimester 1,
antara lain :
1. Abortus / keguguran : keluarnya hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel
sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Perdarahan pervaginam
yang terjadi biasanya disertai nyeri perut.

2. Blighted ovum : suatu kehamilan yang tidak berkembang sempurna, yaitu


hanya tumbuh kantung janin saja tanpa ada tanda - tanda pertumbuhan janin
didalamnya.
3. Kehamilan Ektopik : Kehamilan yang terjadi di luar rahim. Gejala pada
umumnya yaitu perdarahan dan nyeri perut hebat.
4. Mola hidatidosa / Hamil anggur : Kehamilan yang tidak terdapat janin di
dalamnya, melainkan hanya gelembung - gelembung yang berisi darah,
berwarna merah keunguan.
perdarahan vagina pada kasus ini akibat abortus. Saat terjadi perdarahan
desidua basalis nekrotik

dalam jaringan yang berdekatan dengan temapat

perdarahan ovum terlepas sebagian ( menjadi benda asing dalam uterus )


kontraksi uterus untuk mengeluarakan hasil konsepsi perdarahan melalui vagina

c. apa hubungan usia, jenis kelamin dan status social dengan keadaan yang dialami
Ny. Y ?
Usia: usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun. Wanita yang
berusia lebih dari 30 tahun seringkali mengalami konsidi kesehatan kronik. Hal ini
berpengaruh jika wanita tersebut hamil. Risiko abortus meningkat seiring usia
wanita tersebut diatas 30 tahun, baik kromosom janin itu normal atau tidak.
Wanita diatas 30 tahun semakin tipis cadangan telur yang ada, indung telur juga
semakin kurang peka terhadap rangsangan gonadotropin. Makin lanjut usia
wanita, maka risiko abortus makin meningkat karena menurunnya kualitas sel
telur atau ovum dan meningkatnya risiko kejadian kelainan kromosom. Pada
gravida tua terjadi abnormalitas kromosom janin sebagai salah satu faktor etiologi
abortus.Usia 30-34 tahun 11.7 %. Usia 35-39 tahun 17.7%, 40-44 tahun 33.8%,
>44 tahun 53.2%
Sosial ekonomi: keterbatasan sosial ekonomi juga berpengaruh langsung terhadap
pendapatan keluarga untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan berpengaruh
juga untuk pemberian nutrisi untuk ibu hamil. Jika nutrisi tidak terpenuhi dengan
baik makan pertumbuhan janin akan terhambat dan memperbesar risiko abortus
akibat janin yang gagal tumbuh.

2. a. bagaimana etiologi dan mekanisme dari abdominal cramping ?


Etiologi
Reaksi fisiologis dari rahim secara periodic karena rahim sedang berisi (sejak
trimester kedua kehamilan).
Gangguan asupan oksigen ke rahim sehingga aliran darah pun menjadi tidak
lancar.
Asupan gizi ibu hamil yang kurang bagus. Kemungkinan karena adanya
pertumbuhan dan pembesaran dari rahim dimana otot dan ligament
merenggang untuk menyokong rahim.
Kekurangan Ca diatas umur sekitar 20 tahun biasanya kadar kalsium dalam
tubuh kita jadi berkurang.

Mekanisme
Kondisi kram perut yang timbul dengan disertai perdarahan pervaginam pada
kehamilan merupakan tanda warning dari kemungkinan adanya berbagai macam
gangguan pada kehamilan (solusio plasenta, ectopic pregnancy, abortus, dll).
Infeksi transmisi ke plasenta inflamasi di villi chorion pelepasan sitokin
nekrosis hasil konsepsi bisa terlepas dari tempat implantasi embrio dianggap
sbg benda asing uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya dari cavum uteri
konstriksi pembuluh darah myometrium (a.radialis) iskemik nyeri hebat (kram).

b. bagaimana siklus menstuasi normal?


Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula
setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14
terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh
hormon FSH. Pada saat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan
ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang
masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya

LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding


uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu
estrogen

menghambat

pembentukan

FSH

dan

memerintahkan

hipofisis

menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel de Graaf yang masak untuk


mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya
ovulasi disebut fase estrus.
Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi
badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron
yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh
darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal,
selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH,
akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron
berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium
menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan
(menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase
menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi
dan terjadilan proses oogenesis kembali.

Siklus mentruasi ini melibatkan kompleks hipotalamus-hipofisis-ovarium.

Sistem hormonal yang mempengaruhi siklus menstruasi adalah:

1. FSH-RH (follicle stimulating hormone releasing hormone) yang


dikeluarkan hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan FSH
2. LH-RH (luteinizing hormone releasing hormone) yang dikeluarkan
hipotalamus untuk merangsang hipofisis mengeluarkan LH
3. PIH (prolactine inhibiting hormone) yang menghambat hipofisis untuk
mengeluarkan prolaktin

Pada tiap siklus dikenal 3 masa utama yaitu:


1. Masa menstruasi yang berlangsung selama 2-8 hari. Pada saat itu
endometrium (selaput rahim) dilepaskan sehingga timbul perdarahan dan hormonhormon ovarium berada dalam kadar paling rendah
2. Masa proliferasi dari berhenti darah menstruasi sampai hari ke-14. Setelah
menstruasi berakhir, dimulailah fase proliferasi dimana terjadi pertumbuhan dari
desidua fungsionalis untuk mempersiapkan rahim untuk perlekatan janin. Pada fase
ini endometrium tumbuh kembali. Antara hari ke-12 sampai 14 dapat terjadi
pelepasan sel telur dari indung telur (disebut ovulasi)
3. Masa sekresi. Masa sekresi adalah masa sesudah terjadinya ovulasi.
Hormon progesteron dikeluarkan dan mempengaruhi pertumbuhan endometrium
untuk membuat kondisi rahim siap untuk implantasi (perlekatan janin ke rahim)
Daur Menstruasi

Masa Subur
Masa subur adalah masa dimana akan terjadi kehamilan pada saat fertilisasi.
Pada masa itulah, sel telur yang dihasilkan berada dalam keadaan siap untuk
dibuahi.

c. mengapa Ms. Y tidak mengalami menstruasi selama 8 minggu dan apa


hubungannya dengan keluhan yang dialaminya?
Pada kasus, tidak menstruasi ini belum bisa dikategorikan sebagai amenorea
(karena syarat amenorea adalah tidak haid untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut)
pada kasus baru terlambat menstruasi selama 2 bulan. Penjelasan yang mungkin
pada pasien adalah:
1. Pasien dalam masa kehamilan dengan terjadinya perdarahan pervaginam oleh
sebab-sebab organic.

2. Pasien dalam kondisi infeksi dengan terjadinya perdarahan pervaginam oleh


sebab-sebab organic (diperkuat oleh leukositositosis dan limfositosis, namun
kemungkinan kehamilan lebih berperan dalam menimbulkan amenorea ini).
3. Pasien dalam pemakaian obat-obat tertentu (amenorea iatrogenik) dengan
terjadinya perdarahan oleh sebab-sebab organic (perlu anamnesis lebih lanjut)
Mekanisme:
Adanya Kehamilan dinding dalam uterus (endometrium) tidak luruh amenore
tidak menstruasi selama 8 minggu.

d. bagaimana etiologi dan mekanisme mual dan muntah?


Perubahan fisik selama kehamilan dipercaya menyebabkan overstimulasi
pada kontrol neurologis mual dan muntah yang berada di batang otak. Perubahan
fisik tersebut antara lain:
Peningkatan hormon HCG dan estrogen dalam darah pada trimester pertama,
Peregangan pada otot uterus, menekan lambung (mencetuskan perasaan
penuh) dan usus (yang menyebabkan pencernaan kurang efisien)
Relaksasi relatif pada otot saluran pencernaan (yang menyebabkan pencernaan
kurang efisien)
Peningkatan asam lambung yang disebabkan lambung kosong atau makan
makanan yang salah.

e. bagaimana etiologi dan mekanisme breast tenderness?


Akibat pengaruh estrogen terjadi hiperplasia sistem duktus dan jaringan
interstisial payudara.
Hormon laktogenik plasenta (diantaranya somatomammotropin) menyebabkan
hipertrofi dan pertambahan sel-sel asinus payudara, serta meningkatkan
produksi zat-zat kasein, laktoalbumin, laktoglobulin, sel-sel lemak, kolostrum.
Terjadi hiperpigmentasi kulit serta hipertrofi kelenjar Montgomery, terutama
daerah areola dan papilla akibat pengaruh melanofor.
3. a. bagaimana mekanisme vaginal discharge?
Secret vagina berupa leukorea merupakan cairan yang dikeluarkan alat
genital yang tidak berupa darah. Dapat dibedakan antara leukorea fisiologik dan
yang patologik. Leukorea fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa
mucus dengan epitel dan leukosit yang jarang, sedangkan pada leukorea patologik
terdapat banyak leukosit.
Penyebab paling banyak dari leukorea patologik adalah infeksi, disini secret
vagina mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan
sampai hijau, seringkali kental dan berbau. Radang vulva, vagina, serviks dan
cavum uteri dapat menyebabkan leukorea patologik. Leukorea juga dapat
ditemukan pada neoplasma jinak atau ganas apabila tumor tersebut memasuki
lumen saluran alat genitalia.
Fluor albus patologis disebabkan oleh ketidakseimbangan flora normal pada
vagina yang diinduksi oleh infeksi patogen lain, sehingga kuman patogen tersebut
bercampur dengan sekret normal yang diproduksi kelenjar bartoline, sehingga

membuat perubahan warna pada sekret (menjadi kehijauan/kekuningan/keabuan)


dan lebih kental. Kuman patogen yang bercampur dengan sekret normal dapat
mengubah pH sekret yang normalnya asam (karena produk dari Lactobacillus
acidophillus) berubah menjadi basa, perubahan pH ini menyebabkan pengeluaran
produk metabolik (amine) yang dapat menimbulkan bau tidak sedap (smelly odor)
pada sekret yang dikeluarkan.
b. bagaimana mekanisme dari vulvar itchy?
Sekret normal yang dikeluarkan kelenjar bartoline tidak menimbulkan gatal,
namun bila sekret tersebut bercampur dengan kuman patogen dan menyebabkan
iritasi pada jaringan sekitar tempat keluarnya sekret (dalam hal ini adalah vulva),
paparan kuman patogen yang bercampur dengan sekret tersebut dapat
menyebabkan gatal pada vulva.
c. apa hubungan antara keadaan satu tahun yang lalu dengan keluhan yang dialami
Ny. Y sekarang?
Kemungkinan infeksi satu tahun yang lalu adalah etiologi dari abortus pada kasus
ini sendiri.
4. a. apa hubungan sudah melahirkan 2 anak dengan keadaan yang sekarang?
Ada beberapa kemungkinan yang terjadi, seperti rahim ibu sudah mulai kaku
kembali, umur ibu yang sudah menjadi resiko tinggi kehamilan.
b. apa hubungan pekerjaan suami Ny. Y dengan keadaan Ny. Y?
Pekerjaan suaminya yang supir truk, kemungkinan terbesar adalah Penyakit
Menular Seksual (PMS) karena suami jarang pulang, kemungkinan untuk jajan
sendiri itu lebih besar, dan tanpa kebersihan yang tidak jelas, memungkinkan
suaminya tertular dan lalu menularkan penyakit tersebut ke istrinya.

5. a. bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan fisik umum?


Hasil pemeriksaan fisik
Height-155cm; Weight-50kg

Interpretasi
BMI sebelum lahir = 18,7 (Normal)

BP 120/80mmHg
(Normal: 120/80mmHg)
HR 80x/m (N: 60-100x/m)
RR 20 x/minute (N: 16-24)
Palpebral conjunctival looked
normal
Hyperpigmentation of breast

Normal
Normal
Normal
Normal
Linea nigra - hiperpigmentasi kulit di daerah
areolar akibat peningkatan estrogen dan
progesteron yang berlebihan yang memicu
kepada perlepasan MSH (melanosit stimulating
hormon)
yang
merangsang
keluarnya
melanosform, menunjukkan tanda kehamilan

b. bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksan eksternal?


Hasil pemeriksaan luar
Abdomen flat and souffle,
symmetric
Uterine fundal not palpable
there is no mass, no pain tenderness
and no free fluid sign.

Interpretasi
Normal
Normal
Normal

c. bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan speculum?


Hasil pemeriksaan Speculum
Portio Livide

Os external open

Interpretasi
Tanda kehamilan, yaitu tanda Chardwick
Peningkatan vaskularisasi dan hiperemia terlihat
jelas pada kulit dan otot-otot perineum dan vulva
sehingga vagina terlihat berwarna keunguan.
OUE terbuka karena adanya kontraksi uterus

untuk mengeluarkan hasil konsepsi.


blood
Pengeluaran hasil konsepsi.
Tidak normal pada kehamilan, beberapa kondisi
yang mungkin: KET,mola hidatidosa, dll
No cervical erotion, laceration or Perdarahan bukan berasal dari erosi, laserasi
ataupun polip
polyp
d. bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan bimanual?
Hasil pemeriksaan bimanual
Cervix is soft

Interpretasi
Normal dalam kehamilan

the external os open


Adanya kondisi uterus ingin mengeluarkan janin
no cervical motion tenderness
Normal
uterine size about 8 weeks gestation Menandakan kehamilan sekitar 8 minggu

both adnexa and parametrium


within normal limit.

Normal

f. bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal pemeriksaan lab?


Hasil pemeriksaan bimanual
Hb 11 g/dL

Interpretasi
Normal (dalam kehamilan TM I = 11g/dL)

WBC 16.000 mm3


Pheriperal blood image WNL
ESR 15mm/hour
Urine Pregnancy Test (HCG)
positive

Leukositosis (normal 5000-10.000 mm3)


Normal
Normal (dibawah 20mm/hour untuk wanita)
Menandakan adanya kehamilan pada ibu

6. Apa diagnosis banding pada kasus ini ?


Abortus

KET

Infeksiosa
Anamnesis:
Perdarahan pervaginam
Demam
Kram perut
Keluhan kehamilan
Riwayat abortus tidak aman
Pemeriksaan fisik:
Takikardi
Pucat
Abdomen datar
Nyeri tekan perut
Free fuid sign
Portio livide
OUE terbuka
Keluar darah berbau
Uterus
Pemeriksaan lab:
Anemia
Leukositosis
LED
HCG

Mola

Perdarahan

Hidatidosa

Uterus Disfungsi

+
+
+
+
+

+
+
+
-

+
-/+
-

+
+/-

+
+
+
+
+
+
+
<

+
+
-/+
+
+
N/<

+
+/?
>

+/+/+
N

+
+
+
+

+/+/-

+
-/+

+/-

7. Bagaimana cara penegakan diagnosis dan diagnosis kerja pada kasus ini ?
lakukan anamnesis terlebih dahulu. Di kasus ini ditemukan keram pada perut,
perdarahan pervaginam, riwayat 1 tahun terakhir vaginal discharge yg bau dan kadang
gatal, dan riwayat pekerjaan suaminya adalah supir truk. Kemungkinan ada 2
diagnosis disini yaitu KET dan abortus. Untuk memastikan kita lakukan Urine

Pregnancy Test dan pada kasus positif, kemungkinan diagnosisnya adalah antara
kedua diatas.
Pemeriksaan fisik ditemukan hyperpigmented breast yg menandakan kehamilan,
pada abdomen tidak ada massa, tidak ada nyeri, dan tidak ada cairan bebas yang bisa
menyingkirkan diagnosis KET. Pada pemeriksaan speculum ditemukan OUE yang
telah terbuka, portio livide, mengeluarkan darah, tetapi tak ada menjelaskan tentang
jaringan yang keluar untuk membedakan jenis abortus. pemeriksaan lab ditemukan
leukositosis yang menandakan infeksi, dan Urine Pregnancy Test positif menandakan
adanya kehamilan. lalu bisa ditambahkan pemeriksaan penunjang seperti USG untuk
memastikan ada janin. Dari gejala dan tanda diatas, bisa ditegakkan diagnosis
Abortus Insipiens et causa infeksiosa.
8. Apa Epidemiologi penyakit pada kasus ini ?
Pada kasus Ny. Y faktor resiko yang berperan pada abortus adalah dari maternal itu
sendiri, faktor resiko abortus dari maternal dapat dibagi menjadi,
a. penyekit sistemik 2%
b. abnormalitas uterus 8%
c. psikosomatik 15%
Abortus terjadi pada 25% dari seluruh kehamilan, 15% pada clinical pregnancy, dan
60% pada chemical pregnancy, 8% dari seluruh kejadian abortus adalah abortus
spontan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 12 minggu.

9. Apa Etiologi dan Faktor Resiko penyakit pada kasus ini ?


Faktor ovofetal: abortus yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan
umumnya disebabkan oleh ovum yang dibuahi gagal berkembang atau terjadi
malformasi janin, hal ini 70% terjadi karena kelainan chromosomal dan 20%

kasus terjadi karena trofoblast gagal melakukan inplantasi.


Faktor meternal: abortus yang terjadi pada minggu-minggu 11-12, abortus yang
terjadi karena adanya penyakit sistemik sepereti SLE dan infeksi maternal.
Masalah psikologis juga berperan.

Penyebab abortus bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya lebih dari satu
penyebab. Penyebab terbanyak diantaranya adalah:
Faktor genetik. Translokasi parental keseimbangan genetik
o Mendelian
o Multifaktor
o Robertsonian

o Resiprokal
Kelainan kongenital uterus
o Anomali duktus mulleri
o Septum uterus
o Uterus bikornis
o Unkompetensia serviks uterus
o Mioma uteri
o Sindroma asherman
Autoimun
o Aloimun
o Mediasi imunitas humoral
o Mediasi imunitas seluler
Defek fase luteal
o Faktor endokrin eksternal
o Antibodi antitiroid hormon
o Sintesis LH yang tinggi
Infeksi
Hematologik
Lingkungan

Pada kasus: penyebab abortus adalah infeksi, karena Mrs.Y mengeluh vaginal
discharge with smelly odor dan vulvar itchy, kemungkinan tertular dari suaminya
yang seorang supir truck yang melakukan hubungan dengan wanita lain selain Mrs.Y
yang tidak terjamin higienisnya. Beberapa jenis organisme yang bertanggung jawab
atas terjadinya abortus:

Bakteri
o Listeria monositogenes
o Klamidia trakomatis
o Ureaplasma urealitikum
o Mikoplasma hominis
o Bakterial vaginosis
Virus
o Sitomegalovirus
o Rubella
o Herpes simpleks virus
o HIV
o Parvovirus
Parasit
o Toksoplasmosis gondii
o Plasmodium falsiparum
Spirokaeta
o Treponema falsiparum

10. Bagaimana Patogenesis Penyakit pada kasus ini ?


Mrs. Y 37 tahun
(G3,P2,A0)

Faktor ovofetal:
kelainan ovum /
sperma

Kehamilan 8
minggu

Tidak menstruasi sejak 8


minggu

Perubahan mammae

(HCG) positive

Mual dan muntah

Uterine size 8 weeks

Perubahan konsistensi serviks

Kehamilan risiko tinggi:


-Umur ibu diatas 35 tahun
- - Jarak dengan anak terakhir
6 thn
Suami seorang supir
truk

Lepasnya sebagian atau seluruh embrio akibat


perdarahan minimal pada desidua embrio
dianggap sbg benda asing uterus
berkontraksi untuk mengeluarkannya dari
cavum uteri

Faktor maternal :
infeksi
peran

infeksi

terhadap

risiko

Abortus insipien

abortus,diantaraya sebagai berikut.


a.

Adanya

metabolik

toksik,

endotoksin, eksotoksin, atau sitokin


yang berdampak langsung pada janin
atau unit fetoplasenta.
b. Infeksi janin yang bisa berakibat
kematian

janin

atau

cacat

berat

sehingga janin sulit bertahan hidup.


c. Infeksi plasenta yang berakibat
insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut
kematian janin.
d. Infeksi kronis endometrium dari
penyebaran kuman genitalia eksterna
yang

bisa

implantasi.

mengganggu

proses

OUE
terbuka

Vaginal
bleeding

Abdominal
cramping

11. Apa manifestasi klinis penyakit pada kasus ini ?


Perdarahan ditandai dengan nyeri abdomen atau nyeri punggung, dan pervaginam
dengan dilatasi servik.

Abortus sudah tak mungkin dipertahankan bila terjadi

pendataran dan dilatasi servik dan atau terjadi pecahnya selaput ketuban.
12. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini ?
Abortus dengan infeksi :
a. Perbaiki keadaan umum
b. Antibiotika dosis tinggi
Ampicillin 3 X 1 g
Gentamisin 2 X 80 mg
c. Antipiretik L xylo-della 2 ml (jika suhu tinggi)
d. Kuretase setelah 12 24 jam kemudian, kecuali bila perdarahan banyak kuretase
segera dilakukan.
e. Anti tetanus toksoid 1500 u. Bila terjadi tetanus, kerjasama dengan bagian THT
Jika mengalami banyak perdarahan : berikan infus, transfusi darah, dan antibiotik.
Kuratase dilakukan setelah 6 jam kemudian. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan
sisa-sisa abortus, mencegah perdarahan, dan menghilangkan jaringan yang nekrosis
yang dapat menjadi media pembiakkan bagi mikroorganisme.
Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan
selama 36 jam dengan diberikan morfin
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani
dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul
dengan kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular.
Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta
secara manual.
13. Bagaimana Prognosis penyakit pada kasus ini ?
Dubia et bonam, tergantung tatalaksana yang dilakukan.
14. Apa komplikasi penyakit pada kasus ini ?
a. Perforasi Dalam
Melakukan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya
perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke
ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Oleh sebab itu letak uterus harus
ditetapkan lebih dahulu dengan seksama pada awal tindakan, dan pada dilatasi
serviks jangan digunakan tekanan berlebihan. Pada kerokan kuret dimasukkan
dengan hati-hati, akan tetapi penarikan kuret ke luar dapat dilakukan dengan
tekanan yang lebih besar. Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis.
Apabila terjadi perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi

dengan seksama dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah,


kenaikan suhu, turunnya hemoglobin, dan keadaan perut bawah. Jika keadaan
meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparatomi
percobaan dengan segera.
b. Luka pada serviks uteri.
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul
sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium
uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah perdarahan yang
memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina. Akibat jangka panjang
ialah kemungkinan timbulnya incompetent cerviks.
c. Pelekatan pada kavum uteri.
Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa
hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan sampai
terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan dinding
kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat
apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut
lagi.
d. Perdarahan.
Kerokan pada kehamilan agak tua atau pada mola hidatidosa ada bahaya
perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya diselenggarakan transfusi darah
dan sesudah kerokan selesai dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan
vagina.
e. Infeksi.
Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya infeksi
sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke seluruh
peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan
abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat
mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.
f. Lain-lain

Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl


hipertonik adalah apabila larutan garam masuk ke dalam rongga peritoneum atau
ke dalam pembuluh darah dan menimbulkan gejala-gejala konvulsi, penghentian
kerja jantung, penghentian pernapasan, atau hipofibrinogenemia. Sedangkan
komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pemberian prostaglandin antara lain
panas, enek, muntah dan diare.
Komplikasi yang Dapat Timbul Pada Janin:
Sesuai dengan tujuan dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan,
maka nasib janin pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal.
Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin
kemungkinan besar mengalami cacat fisik.
Secara garis besar tindakan abortus sangat berbahaya bagi ibu dan juga janin
yaitu bisa menyebabkan kematian pada keduanya.
5. Apa Kompetensi Dokter Umum untuk penyakit ini ?
3B.Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
pemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan
laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi
pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat).

IV. HIPOTHESIS
Ny. Y, 37 tahun mengalami perdarahan pervagina akibat abortus yang disebabkan infeksi
dan factor usia.

V. Kerangka Konsep

ANAMNESIS:

PEMERIKSAAN :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Usia 37 tahun
Perdarahan pervaginam
Abdominal cramping
Menstruasi telat sejak 8 minggu
Mual, muntah, payudara tegang
Riwayat 1 tahun vaginal discharge
bau dan kadang gatal
7. Punya anak 2 dan yang termuda
beruisa 6 tahun
8. Riwayat keluarga suami supir truk

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hyperpigmented breast
Os external terbuka
Perdarahan
Portio livide
Serviks lembek
Leukositosis
7. Urine Pregnancy Test Positive

Abortus Insipiens

V. Keterbatasan Ilmu Pengetahuan dan Learning Issues

What I Know

Abortus

Definisi

What I Dont

What I have to

Know

Prove

Source

Jenis jenis, Cara

Adanya infeksi

Internet, Text

penegakan

yang memicu

Book, Jurnal

diagnosis, DD,

terjadinya

gejala klinis,

abortus

etiologi dan
faktor resiko,
pathogenesis,
tatalaksana,
komplikasi

Anatomi
organ
Reproduksi
Wanita

Perubahan
pada ibu
hamil

Anatomi dan
fisiologi

BAB III
SINTESIS
A. Abortus
DEFINISI
Abortus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum
mampu hidup di luar rahim ( belum viable ) dengan criteria usia kehamilan kurang 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi para ahli tentang abortus, antara lain :
EASTMAN

: Abortus adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum


sanggup hidup sendiri di luar uterus. Belum sanggup diartikan apabila fetus
itu beratnya terletak antara 400-1000 gr, atau usia kehamilan kurang dari 28
minggu.

JEFFCOAT : Abortus adalah pengeluaran dari hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 28
minggu, yaitu fetus belum viable by law.
HOLMER : Abortus adalah terputusnya kehamilan sebelum minggu ke 16, dimana proses
plasentasi belum selesai.

ETIOLOGI
Factor-faktor yang menyebabkan kematian fetus adalah factor ovum sendiri, factor ibu, dan
factor bapak, antara lain :
1. Kelainan Ovum
Menurut HERTIG dkk pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus
spontan . Pada ovum abnormal 6% diantaranya terdapat degenerasi hidatid vili.
Abortus spontan yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang
kemungkinan kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya makin muda
kehamilan saat terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan
ovum (50-80%).

2. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi :


a. Kelainan kromosom, trisomi, ,monosomi X, triploidi, polisomi, kromosom
sex.
b. Lingkungan kurang sempurna.
c. Pengaruh dari luar : radiasi, virus, obat obatan.
3. Kelainan Sirkulasi plasenta :
Dijumpai pada ibu yang menderita penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum,
anomali plasenta, dan end ateritis villi korialis karena hipertensi menahun.
4. Penyakit pada ibu :
o Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi seperti pneumonia, tifoid,
rubella, demam malta, dan sebagainya. Kematian fetus dapat disebabkan
karena toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus disebabkan
karena toksin dari ibu atau invasi kuman atau virus pada fetus.
o Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol, dan lain-lain
o Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasio kordis, penyakit paru berat,
anemi gravis.
o Malnutrisi, avitaminosis dan gangguan metabolisme, hipotiroid, kekurangan
vitamin A, C atau E, diabetes melitus
o Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi
- Sangat terkejut karena obat-obat uterotonika, ketakutan, dsb
- Bisa karena operasi laparotomy. Contohnya terkena appendicitis, lalu
dioperasi bahayanya bisa terjadi abortus. Operasi apapun di daerah
-

abdominal bisa risiko abortus


Trauma langsung terhadap fetus, antara lain: selaput janin rusak
langsung karena instrument, benda, dan obat-obatan.

5. Kelainan pada traktus genitalia :


a. Anomali kongenital (hipoplasia uteri, uterus bikornis, dll)
b. Retroversi uteri gravidi inkarserata
c. Perlengketan intra uteri ASHERMAN SYNDROME
d. Mioma uteri sub mukosa
e. Uterus terlalu cepat teregang (kehamilan ganda, mola)
f. Distosia uterus, misalnya karena terdorong oleh tumor pelvis
g. Tidak sempurnanya persiapan uterus dalam menanti nidasi dari ovum yang
sudah dibuahi, seperti kurangnya progesteron atau estrogen, dan endometriris.

6. Inkompetensi cervix
Cervix longgar (tidak sempit lagi) sehingga mudah janin jatuh/ tidak tertahan di
dalam. Penyebabnya curettage (karena perlukaan, infeksi) dan operasi konisasi
(cervix diangkat)
7. Antagonis Rhesus
Pada antagonis rhesus, darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus, sehingga
terjadi anemia pada fetus yang berakibat meninggalnya fetus.
8. Penyakit bapak : Umur lanjut, penyakit kronis seperti TBC, anemi, dekompensasi
cordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, Pb, dll) sinar rontgen,
avitaminosis.

FREKUENSI
Diperkirakan frekuensi keguguran spontan berkisar antara 10-15%. Namun demikian,
frekuensi seluruh keguguran sukar ditentukan karena abortus buatan buatan banyak yang
tidak dilaporkan, kecuali jika terjadi komplikasi. Juga karena sebagian keguguran spontan
hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak datang ke dokter atau
Rumah Sakit.

Makin tua umur, abortus makin sering terjadi. Demikian juga dengan semakin
banyak anak, abortus juga akan semakin sering terjadi. Semakin tua umur

kehamilan, kemungkinan abortus makin kecil


Wanita < 20 tahun abortus 12%
Wanita > 40 tahun abortus 26%

PATOLOGI
Pada permulaan, terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan
sekitar, kemudian sebagian atau seluruh hasik konsepsi terlepas. Karena dianggap benda
asing maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu
hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu
dalam sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu telah masuk agak dalam sehingga sebagian
keluar dan sebagian lagi akan tertinggal karena itu akan terjadi banyak perdarahan.

KLASIFIKASI
Abortus dapat dibagi atas dua golongan :
1. Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului factor-faktor mekanis ataupun
medisinalis, semata-mata disebabkan oleh factor-faktor alamiah.
2. Abortus Provakatus (induced abortion)
Adalah abortus yang disengaja, baik dengan mengunakan obat-obatan ataupun alatalat. Abortus ini terbagi lagi menjadi :
a) Abortus Medisinalis
Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).
b) Abortus Kriminalis atau tidak aman
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal
atau tidak berdasarkan indikasi medis.

KLINIS ABORTUS SPONTAN


Dapat di bagi atas :
1. Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam )
Adalah ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
Proses awal dari suatu keguguran, yang ditandai dengan :
a) Perdarahan pervaginam, sementara ostium uteri eksternum masih tertutup dan
janin masih dalam intrauterine timbul pada pertengahan trimester pertama
b) Perdarahan biasanya sedikit, hal ini dapat terjadi beberapa hari.
c) Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai
perdarahan.
d) Tidak ditemukan kelainan pada serviks dan serviks tertutup
Penatalaksanaan
a) Tirah baring
b) Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau tokolitik (salbutamol
atau indometasin) karena obat ini tidak dapat mencegah abortus.

c) Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau


melakukan hubungan seksual
d) Bila reaksi kehamilan 2x berturut-turut negative, maka sebaiknya uterus
dikosongkan (kuret)

2. Abortus Incipien (Inevitable abortion, Abortus sedang berlangsung)


ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus.
Ditandai dengan adanya :
a) robeknya selaput amnion dan adanya pembukaan serviks
b) terjadi kontraksi uterus untuk mengeluarkan hasil konsepsi
c) perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan darah.
d) nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat.

Penatalaksanaan

Bila kehamilan < 16 minggu dapat dilakukan evakuasi uterus dengan Aspirasi
Vakum Manual (AVM).
Jika evakuasi tidak dapat dilakukan segera lakukan :
- Berikan ergometrin 0,2 mg I.M yang diulangi 15 menit kemudian jika
perlu ATAU Misoprostol 400 mg per oral dan bila masih diperlukan dapat

diulang setelah 4 jam jika perlu


- Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.
Bila kehamilan > 16 minggu tunggu ekspulsi spontan kemudian dilakukan
evakuasi uterus dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM).
Jika evakuasi tidak dapat dilakukan segera lakukan :
- Induksi oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai 8 tetes sampai
40 tetes/ menit, sesuai kondisi kontraksi uterus sampai terjadi pengeluaran

hasil konsepsi
- Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.
Lakukan Pemantauan Pasca Abortus

3. Abortus Kompletus
ialah proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi (desidua dan fetus) telah keluar
melalui jalan lahir sehingga rongga rahim kosong.
Tanda dan Gejala
a) Serviks menutup.

b) Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.


c) Gejala kehamilan tidak ada.
d) Uji kehamilan negatif.
Penatalaksanaan
Tidak perlu evakuasi lagi
Observasi untuk melihat perdarahan banyak/tidak.
Lakukan Pemantauan Pasca Abortus
Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas ferrosus 600mg/hari
selama 2 minggu, jika anemia berat berikan tranfusi darah.
4. Abortus Inkompletus
ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan
masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Gejala Klinis :
Didapati amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas
Perdarahan bisa sedikit atau banyak dan biasanya berupa stolsel (darah beku).
Sudah ada keluar fetus atau jaringan
Pada pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi didapati serviks
terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa jaringan pada kanalis servikalis atau
kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih kecil dari seharusnya.
Penatalaksanaan
- Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yg disertai perdarahan, dapat
dikeluarkan secara digital, atau cunam ovum kemudian dievakuasi
i. Bila perdarahan berhenti diberi ergometrine 0,2 mg I.M atau
misoprostol 400 mg per oral
ii. Bila perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa konsepsi dengan
-

kuret vakum (KV)


Bila tidak ada tanda-tanda infeksi, antibiotika prophilaksis
Bila terjadi infeksi beri Ampicillin 1 gr dan Metronidazol 500 mg setiap 8

jam
Bila anemia terapi dengan Fe kalau perlu transfusi darah.

5. Missed Abortion
ialah berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20 minggu, namun keseluruhan hasil
konsepsi tertahan dalam uterus 8 minggu atau lebih
Gejala Klinis
- Ditandai dengan kehamilan yang normal dengan amenorrhea, dapat disertai
-

mual dan muntah


Pertumbuhan uterus mengecil dengan fundus yang tidak bertambah tinggi.
Mamae menjadi mengecil

Gejala-gejala kehamilan menghilang diiringi reaksi kehamilan menjadi negative

pada 2-3 minggu setelah fetus mati.


Pada pemeriksaan dalam serviks tertutup dan ada darah sedikit
Pasien merasa perutnya dingin dan kosong.

6. Abortus Habitualis
ialah abortus yang terjadi 3 kali berturut turut atau lebih oleh sebab apapun.
Pemeriksaan :
a. Histerosalfingografi, untuk mengetahui adanya mioma uterus submukosa atau
anomali congenital.
b. BMR dan kadar jodium darah diukur untuk mengetahui ada atau tidak gangguan
glandula thyroidea
c. Psiko analisis

Terapi :
o Pada serviks inkompeten terapinya operatif SHIRODKAR atau MC DONALD
(cervical cerlage).
o Merokok dan minum alcohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan.
o Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar
hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya.

7. Abortus Infeksious
ialah suatu abortus yang telah disertai komplikasi berupa infeksi genital
Diagnosis :
- Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di
-

luar rumah sakit.


Pemeriksaan : Kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan, dan

sebagainya.
tanda tanda infeksi yakni kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,5 derajat Celcius,
kenaikan leukosit dan discharge berbau pervaginam, uterus besar dan lembek
disertai nyeri tekan.

Penatalaksanaan
-

Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup

Berikan antibiotika yang cukup dan tepat (buat pemeriksaan pembiakan dan uji

kepekaan bakteri)
o
Berikan suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
o
Berikan suntikan streptomisin 500mg setiap 12 jam
o
Atau antibiotika spektrum luas lainnya.
Bila tetap terjadi perdarahan banyak setelah 1-2 hari lakukan dilatasi dan
kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi

8. Septic Abortion
ialah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam
peredaran darah atau peritoneum.
Diagnosis septic abortion ditegakan jika didapatkan tanda tanda sepsis, seperti nadi
cepat dan lemah, syok dan penurunan kesadaran.
Penatalaksanaan sama dengan abortus infeksious, hanya dosis dan jenis antibiotika
ditinggikan dan dipilih jenis yang tepat sesuai dengan hasil pembiakan dan uji kepekaan
kuman. Perlu di observasi apakah ada tanda perforasi atau akut abdomen.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang ini diperlukan dalam keadaan abortus imminens, abortus habitualis
dan missed abortion :
1. Pemeriksaan ultrasonographi atau Doppler untuk menentukan apakah janin masih
hidup atau tidak, serta menentukan prognosis.
2. Pemeriksaan kadar fibrinogen pada missed abortion.
3. Tes kehamilan.
4. Pemeriksaan lain sesuai dengan keadaan dan diagnosis pasien.

DIAGNOSIS BANDING
1. KET : nyeri lebih hebat dibandingkan abortus.
2. Mola Hidantidosa : uterus biasanya lebih besar daripada lamanya anmenore dan
muntah lebih sering.
3. Kehamilan dengan kelainan serviks seperti karsinoma servisi uteri, polipus uteri, dsb.

KOMPLIKASI ABORTUS
1. Perdarahan (hemorrhage)
2. Perforasi : sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga
yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.
3. Infeksi dan tetanus
4. Payah ginjal akut
5. Syok, pada abortus dapat disebabkan oleh:
- Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik
- Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik
Blighted ovum
Blighted ovum adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada
bayi di dalam kandungan. Seorang wanita yang mengalaminya juga merasakan gejala-gejala
kehamilan seperti terlambat menstruasi, mual dan muntah pada awal kehamilan (morning
sickness), payudara mengeras, serta terjadi pembesaran perut, bahkan saat dilakukan tes
kehamilan baik test pack maupun laboratorium hasilnya pun positif.
Pada saat konsepsi, sel telur (ovum) yang matang bertemu sperma. Namun akibat
berbagai faktor maka sel telur yang telah dibuahi sperma tidak dapat berkembang sempurna,
dan hanya terbentuk plasenta yang berisi cairan. Meskipun demikian plasenta tersebut tetap
tertanam di dalam rahim. Plasenta menghasilkan hormon HCG (human chorionic
gonadotropin) dimana hormon ini akan memberikan sinyal pada indung telur (ovarium) dan
otak sebagai pemberitahuan bahwa sudah terdapat hasil konsepsi di dalam rahim. Hormon
HCG yang menyebabkan munculnya gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah, ngidam
dan menyebabkan tes kehamilan menjadi positif
Hingga saat ini belum ada cara untuk mendeteksi dini kehamilan blighted ovum.
Seorang wanita baru dapat diindikasikan mengalami blighted ovum bila telah melakukan
pemeriksaan USG transvaginal. Namun tindakan tersebut baru bisa dilakukan saat kehamilan
memasuki usia 6-7 minggu. Sebab saat itu diameter kantung kehamilan sudah lebih besar dari
16 milimeter sehingga bisa terlihat lebih jelas. Dari situ juga akan tampak, adanya kantung
kehamilan yang kosong dan tidak berisi janin.

Karena gejalanya yang tidak spesifik, maka biasanya blighted ovum baru ditemukan
setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan. Selain blighted
ovum, perut yang membesar seperti hamil, dapat disebabkan hamil anggur (mola hidatidosa),
tumor rahim atau penyakit usus.
Sekitar 60% blighted ovum disebabkan kelainan kromosom dalam proses pembuahan
sel telur dan sperma. Infeksi TORCH, rubella dan streptokokus, penyakit kencing manis
(diabetes mellitus) yang tidak terkontrol, rendahnya kadar beta HCG serta faktor imunologis
seperti adanya antibodi terhadap janin juga dapat menyebabkan blighted ovum. Risiko juga
meningkat bila usia suami atau istri semakin tua karena kualitas sperma atau ovum menjadi
turun.
Jika telah didiagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan
hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan apa
penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya. Jika karena infeksi maka dapat diobati
sehingga kejadian ini tidak berulang. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan
program imunoterapi sehingga kelak dapat hamil sungguhan.

B. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


A. Anatomi Sistem Reproduksi Wanita
1. Genetalia Eksterna (vulva)

Yang terdiri dari:


a. Tundun (Mons veneris)
Bagian yang menonjol meliputi simfisis yang terdiri dari jaringan dan lemak, area ini mulai
ditumbuhi bulu (pubis hair) pada masa pubertas. Bagian yang dilapisi lemak, terletak di atas
simfisis pubis.
b. Labia Mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris, berbentuk lonjong. Kedua bibir ini bertemu di
bagian bawah dan membentuk perineum. Labia mayora bagian luar tertutup rambut, yang
merupakan kelanjutan dari rambut pada mons veneris. Labia mayora bagian dalam tanpa
rambut, merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak). Ukuran labia mayora
pada wanita dewasa panjang 7- 8 cm, lebar 2 3 cm, tebal 1 1,5 cm. Pada anak-anak kedua
labia mayora sangat berdekatan.
c. Labia Minora
Bibir kecil yang merupakan lipatan bagian dalam bibir besar (labia mayora), tanpa rambut.
Setiap labia minora terdiri dari suatu jaringan tipis yang lembab dan berwarna
kemerahan;Bagian atas labia minora akan bersatu membentuk preputium dan frenulum
clitoridis, sementara bagian. Di Bibir kecil ini mengeliligi orifisium vagina bawahnya akan
bersatu membentuk fourchette.
d. Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil. Glans clitoridis
mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitif.
Analog dengan penis pada laki-laki. Terdiri dari glans, corpus dan 2 buah crura, dengan
panjang rata-rata tidak melebihi 2 cm.
e. Vestibulum (serambi)
Merupakan rongga yang berada di antara bibir kecil (labia minora). Pada vestibula terdapat 6
buah lubang, yaitu orifisium urethra eksterna, introitus vagina, 2 buah muara kelenjar
Bartholini, dan 2 buah muara kelenjar paraurethral. Kelenjar bartholini berfungsi untuk
mensekresikan cairan mukoid ketika terjadi rangsangan seksual. Kelenjar bartholini juga
menghalangi masuknya bakteri Neisseria gonorhoeae maupun bakteri-bakteri patogen.

f. Himen (selaput dara)


Terdiri dari jaringan ikat kolagen dan elastic. Lapisan tipis ini yang menutupi sabagian besar
dari liang senggama, di tengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi dapat mengalir
keluar. Bentuk dari himen dari masing-masing wanita berbeda-beda, ada yang berbentuk
seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan ada lunak, lubangnya ada yang seujung
jari, ada yang dapat dilalui satu jari. Saat melakukan koitus pertama sekali dapat terjadi
robekan, biasanya pada bagian posterior.

g. Perineum (kerampang)
Terletak di antara vulva dan anus, panjangnya kurang lebih 4 cm. Dibatasi oleh otot-otot
muskulus levator ani dan muskulus coccygeus. Otot-otot berfungsi untuk menjaga kerja dari
sphincter ani.
2. Genetalia Interna

a. Vagina
Merupakan

saluran

muskulo-membraneus

yang

menghubungkan

rahim

dengan

vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus
levator ani, oleh karena itu dapat dikendalikan.
Vagina terletak antara kandung kemih dan rektum. Panjang bagian depannya sekitar 9 cm dan
dinding belakangnya sekitar 11 cm.
Bagian serviks yang menonjol ke dalam vagina disebut portio. Portio uteri membagi puncak
(ujung) vagina menjadi:
-Forniks anterior -Forniks dekstra

-Forniks posterior -Forniks sisistra


Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan pH
4,5. keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi.
Fungsi utama vagina:
1) Saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi.
2) Alat hubungan seks.
3) Jalan lahir pada waktu persalinan.

b. Uterus
Merupakan Jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan
rektum. Dinding belakang dan depan dan bagian atas tertutup peritonium, sedangkan bagian
bawah berhubungan dengan kandung kemih.Vaskularisasi uterus berasal dari arteri uterina
yang merupakan cabang utama dari arteri illiaka interna (arterihipogastrika interna).
Bentuk uterus seperti bola lampu dan gepeng.
1) Korpus uteri : berbentuk segitiga
2) Serviks uteri : berbentuk silinder
3) Fundus uteri : bagian korpus uteri yang terletak diatas kedua pangkal tuba.
Untuk mempertahankan posisinya, uterus disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan
parametrium. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3
cm, nullipara 6-8 cm, multipara 8-9 cm dan > 80 gram pada wanita hamil. Uterus dapat
menahan beban hingga 5 liter
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan :
a) Peritonium
Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar uterus. Merupakan penebalan
yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe dan urat syaraf. Peritoneum meliputi
tuba dan mencapai dinding abdomen.
b) Lapisan otot
Susunan otot rahim terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan luar, lapisan tengah, dan lapisan
dalam. Pada lapisan tengah membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan

tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan serabut otot ini
membentuk angka delapan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat,
dengan demikian pendarahan dapat terhenti. Makin kearah serviks, otot rahim makin
berkurang, dan jaringan ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum
uteri internum anatomikum, yang merupakan batas dari kavum uteri dan kanalis servikalis
dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan selaput lendir kavum uteri
menjadi selaput lendir serviks) disebut isthmus. Isthmus uteri ini akan menjadi segmen
bawah rahim dan meregang saat persalinan.
c) Endometrium
Pada endometrium terdapat lubang kecil yang merupakan muara dari kelenjar
endometrium. Variasi tebal, tipisnya, dan fase pengeluaran lendir endometrium ditentukan
oleh perubahan hormonal dalam siklus menstruasi. Pada saat konsepsi endometrium
mengalami perubahan menjadi desidua, sehingga memungkinkan terjadi implantasi
(nidasi).Lapisan epitel serviks berbentuk silindris, dan bersifat mengeluarakan cairan
secara terus-menerus, sehingga dapat membasahi vagina. Kedudukan uterus dalam tulang
panggul ditentukan oleh tonus otot rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga,
tonus otot-otot panggul. Ligamentum yang menyangga uterus adalah:
1) Ligamentum latum
Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopii.
2) Ligamentum rotundum (teres uteri)
Terdiri dari otot polos dan jaringan ikat.
Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi.
3) Ligamentum infundibulopelvikum
Menggantung dinding uterus ke dinding panggul.
4) Ligamentum kardinale Machenrod
Menghalangi pergerakan uteruske kanan dan ke kiri.
Tempat masuknya pembuluh darah menuju uterus.
5) Ligamentum sacro-uterinum
Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale Machenrod menuju os.sacrum.
6) Ligamentum vesiko-uterinum
Merupakan jaringan ikat agak longgar sehingga dapat mengikuti perkembangan uterus
saat hamil dan persalinan.

d) Tuba Fallopii
Tuba fallopii merupakan tubulo-muskuler, dengan panjang 12 cm dan diameternya antara
3 sampai 8 mm. fungsi tubae sangat penting, yaiu untuk menangkap ovum yang di
lepaskan saat ovulasi, sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi, tempat
terjadinya konsepsi, dan tempat pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi sampai
mencapai bentuk blastula yang siap melakukan implantasi.
e) Ovarium
Merupakan kelenjar berbentuk buah kenari terletak kiri dan kanan uterus di bawah tuba
uterina dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus. Setiap bulan sebuah
folikel berkembang dan sebuah ovum dilepaskan pada saat kira-kira pertengahan (hari ke14) siklus menstruasi. Ovulasi adalah pematangan folikel de graaf dan mengeluarkan
ovum. Ketika dilahirkan, wanita memiliki cadangan ovum sebanyak 100.000 buah di
dalam ovariumnya, bila habis menopause.
Ovarium yang disebut juga indung telur, mempunyai 3 fungsi:
a. Memproduksi ovum
b. Memproduksi hormone estrogen
c. Memproduksi progesteron
Memasuki pubertas yaitu sekitar usia 13-16 tahun dimulai pertumbuhan folikel primordial
ovarium yang mengeluarkan hormon estrogen. Estrogen merupakan hormone terpenting
pada wanita. Pengeluaran hormone ini menumbuhkan tanda seks sekunder pada wanita
seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut pubis, pertumbuhan rambut ketiak, dan
akhirnya terjadi pengeluaran darah menstruasi pertama yang disebut menarche.
Awal-awal menstruasi sering tidak teratur karena folikel graaf belum melepaskan ovum
yang disebut ovulasi. Hal ini terjadi karena memberikan kesempatan pada estrogen untuk
menumbuhkan tanda-tanda seks sekunder. Pada usia 17-18 tahun menstruasi sudah teratur
dengan interval 28-30 hari yang berlangsung kurang lebih 2-3 hari disertai dengan ovulasi,
sebagai kematangan organ reproduksi wanita.

B. Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita


1. Hormon Reproduksi pada wanita
a. Hormon FSH yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan sel-sel folikel sekitar
sel ovum.
b. Hormon Estrogen yang berfungsi merangsang sekresi hormone LH.
c. Hormon LH yang berfungsi merangsang terjadinya ovulasi (yaitu proses pematangan
sel ovum).
d. Hormon progesteron yang berfungsi untuk menghambat sekresi FSH dan LH
C. Siklus Menstruasi
Siklus mnstruasi terbagi menjadi 4. wanita yang sehat dan tidak hamil, setiap bulan akan
mengeluarkan darah dari alat kandungannya.
1. Stadium menstruasi (Desquamasi), dimana endometrium terlepas dari rahim dan
adanya pendarahanselama 4hari.
2. Staduim prosmenstruum (regenerasi),

dimana

terjadi

proses

terbentuknya

endometrium secara bertahap selama 4hari


3. Stadium intermenstruum (proliferasi), penebalan endometrium dan kelenjar
tumbuhnya lebih cepat.
4. Stadium praemenstruum (sekresi), perubahan kelenjar dan adanya penimbunan
glikogen guna mempersiapkan endometrium.

D. Hormon-Hormon Reproduksi
1. Estrogen

Estrogen dihasilkan oleh ovarium. Ada banyak jenis dari estrogen tapi yang paling
penting untuk reproduksi adalah estradiol. Estrogen berguna untuk pembentukan ciriciri perkembangan seksual pada wanita yaitu pembentukan payudara, lekuk tubuh,
rambut kemaluan,dll. Estrogen juga berguna pada siklus menstruasi dengan
membentuk ketebalan endometrium, menjaga kualitas dan kuantitas cairan cerviks
dan vagina sehingga sesuai untuk penetrasi sperma.
2. Progesteron
Hormon ini diproduksi oleh korpus luteum. Progesterone mempertahankan ketebalan
endometrium sehingga dapat menerima implantasi zygot. Kadar progesterone terus
dipertahankan selama trimester awal kehamilan sampai plasenta dapat membentuk
hormon HCG.
3. Gonadotropin Releasing Hormone
GNRH merupakan hormon yang diproduksi oleh hipotalamus diotak. GNRH akan
merangsang pelepasan FSH (folikl stimulating hormone) di hipofisis. Bila kadar
estrogen tinggi, maka estrogen akan memberikan umpanbalik ke hipotalamus
sehingga kadar GNRH akan menjadi rendah, begitupun sebaliknya.
4. FSH (folikel stimulating hormone) dan LH (luteinizing Hormone)
Kedua hormon ini dinamakan gonadotropoin hormon yang diproduksi oleh hipofisis
akibat rangsangan dari GNRH. FSH akan menyebabkan pematangan dari folikel. Dari
folikel yang matang akan dikeluarkan ovum. Kemudian folikel ini akan menjadi
korpus luteum dan dipertahankan untuk waktu tertentu oleh LH.
5. LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi
memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga
mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal
siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi
dalam menghasilkan progesteron. Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya
dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1
jam). Kerja sangat cepat dan singkat.

6. HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)


Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta).
Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar
100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml),
kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml).
Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi
hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga
memiliki fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan
sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).
7. LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi
dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi
pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada kehamilan,
prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen). Fungsi
laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi /
pascapersalinan. Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus,
sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan
pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenorhea.

C. PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA IBU HAMIL


a. Hormon yang mempengaruhi perubahan fisiologis ibu hamil
1. ESTROGEN
Menyebabkan pertumbuhan baik ukuran maupun jumlah sel.
2. PROGESTERON
Peningkatan sekresi, mengendurkan (relaksasi) otototot polos.
b. Perubahan pada Sistem Reproduksi
1. UTERUS
- Ukuran pada kehamilan cukup bulan : 30 x 25 x 20 cm dengan kapasitas lebih dari
4000cc.
- Berat : Berat uterus naik secara luar biasa, dari 30 gram menjadi 1000 gram pada
akhirkehamilan (40 pekan).
- Posisi rahim dalam kehamilan

Pada permulaan kehamilan dalam letak artefleksi atau retrofleksi.


Pada 4 bulan kehamilan rahim tetap berada dalam rongga pelvis.
Setelah itu mulai memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat
sampai mencapai batas hati.
Rahim yang hamil biasanya mobile bisa lebih mengisi rongga abdomen kanan
atau kiri.

Pertumbuhan rahim tidak sama kesemua arah, tetapi terjadi pertumbuhan yang cepat
didaerah implatasi plasenta, sehingga rahim bentuknya tidak sama yg disebut Tanda
Piskacek.

Ismus rahim mengadakan hipertropi dan bertambah panjang, sehingga teraba lebih
lunak (soft) disebut tanda hegar. Pada kehamilan 5 bulan rahim teraba seperti berisi
cairan air ketuban dinding rahim teraba tipis

2. Serviks uteri
- Serviks bertambah vaskularisasi dan menjadi lunak (soft) disebut tanda goodell.
- Kelenjar endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mukus, karena
bertambahnya pembuluh darah dan melebar, warnanya menjadi livid, ini disebut
tanda Chadwick.
3. Vagina dan vulva
Akibat hipervaskularisasi vagina dan vulva kelihatan lebih merah atau kebiru-biruan.
Warna livid pada vagina dan portio serviks disebut tanda Chadwick.
4. Dinding perut (abdominal wall)
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan robeknya serabut
elastik dibawah kulit, maka timbulah striae gravidium. Kulit perut pada linea alba
bertambah pigmentasinya disebut linea nigra.
5. Payudara
- Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan
pemberian ASI pada laktasi.
- Hormon yang berpengaruh pada proses laktasi :
a. Estrogen
b. Progesteron
c. Somatomamotropin
d. PIH
-

Penampakan payudara sebagai berikut :


a. Payudara menjadi lebih besar
b. Areola payudara menjadi lebih besar
c. Pengeluaran ASI belum berlangsung karena prolaktin belum berfungsi karena
hambatan dari PIH untukmengeluarkan ASI.

d. Glandula montgomery makin tampak, putting susu semakin menonjol.


e. Setelah persalinan, hambatan prolaktin tidak ada sehingga pembuatan ASI
dapat berlangsung.
c. Perubahan pada organ dan system lainnya
1. Sistem sirkulasi darah
- Selama kehamilan sirkulasi darah ibu dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke
plasenta, uterus yg membesar dgn pembuluh2 darah yang membesar pula,
payudara dan alat2 lain yg berfungsi berlebihan selama kehamilan.
- Selama kehamilan volume darah ibu semakin meningkat secara fisiologi dengan
adanya
- pencairan (hemodilusi).
Volume darah akan bertambah besar sekitar 25% dgn puncak kehamilan 32
minggu.
Hemodilusi menyebabkan anemia fisiologi dalamkehamilan.
Kadar Hb ibu hamil
a. Hb 11 gr% = tidak anemia
b. 9 10 gr% = anemia ringan
c. 7 8 gr% = anemia sedang
d. < 7 gr% = anemia berat
2. Sistem pernafasan
- Perubahan sistem pernafasan juga dapat berubah untuk dapat memenuhi kebutuhan
O2.
- Terdapat desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar pada 32
minggu.
- Ibu hamil bernafas 20-25% lebih dalam dari biasanya.
3. Sistem pencernaan
- Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat menyebabkan :
a. Pengeluaran air liurberlebihan (hipersalivasi)
b. Daerah lambung terasa panas
c. Terasa mual, pusing terutama dipagi hari (morning sickness)
d. Muntah (emesis gravidarum)
- Progenteron menimbulkan gerakan usus (peristaltik) semakin berkurang sehingga
menyebabkan obstipasi

4. Perubahan Tulang dan Gigi


- Persendian panggul terasa agak longgar, karena ligamen melunak juga terjadi sedikit
pelebaran pada riang persendian.
- Apabila pemberian makan tidak memenuhi kebutuhan kalsium janin, kalsium
internal pada tulang-tulang panjang akan berkurang untuk memenuhi kebutuhan ini.
5. Traktus urinarius

Karena pengaruh desakan hamil muda dan turunnyakepala bayi pada hamil tua
terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering kencing, desakan tersebut menyebabkan
kandung kencing cepat penuh.
Persediaan air seni bertambah 69-70%.

6. Perubahan pada kulit


Terjadi Hiperpigmentasi Hormon MSH
a.
b.
c.
d.

Muka : disebut masker kehamilan (cloasma gravidarum)


Payudara : putting susu dan areola payudara
Perut : linea nigra striae
Vulva

7. Berat badan ibu hamil


Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 sampai 16,5 kg selama hamil atau
terjadi kenaikan berat badan sekitar kg/minggu
8. Perubahan Metabolisme
Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan dapat terjadi retensi air.Metabolisme
basal naik sebesar 15% sampai 20% dari semula, terutama pada trisemester I.
Keseimbangan asam basa mengalami penurunan disebabkan hemodulasi darah dan
kebutuhan mineral yang diperlukan janin.
Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan
janin.
Perkembangan organ kehamilan dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan
protein tinggi sekitar gr/kg BB atau sebutir telur ayam sehari.
Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak dan protein.
Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil :
a. Kalsium 1,5 gram setiap hari 30-40 gram untuk pembentukan tulang janin
b. Fosfor, rata-rata gram dalam sehari
c. Zat besi 800 mgr atau 30 sampai 50 mgr sehari

DAFTAR PUSTAKA
Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29
Buku Acuan Nasional: Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta: 2009
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. 2009. Jakarta: PT Bina Pustaka

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kandungan. 2009. Jakarta: PT Bina Pustaka


Supono. Ilmu Kebidanan Bab 1 Fisiologi.1985.Palembang: FK Unsri
Obstetri Williams Edisi 21. EGC, Jakarta: 2006
Arif M. dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta 2001.
Prof. Dr. Rustam. M, MPH, Sinopsis Obstetri, Jilid 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC.