Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, serta
hidayahNya kepada kami, yang pada kesempatan kali ini kami dapat menuangkan tinta untuk
mengukir ilmu pengetahuan yang sangat di butuhkan dan semoga dapat bermanfaat bagi penulis
serta semoga pula bermanfaat bagi pembaca.
Sholawat serta salam marilah selalu dan selalu kita hadirkan keharibaan Rasulullah muhammad
SAW sebagai uswah al-hasanah yang senantiasa di harapkan syafaatnya di hari kiamat.
Tidak lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada Bpk. Abdul Kholid, M.Pd.I Selaku dosen
pembimbing mata kuliah Studi Hadits II, untuk ridho dan barokah dari beliau sangat kami
harapkan menuju jalan ilmu yang manfaat. Terimah kasih juga atas semua pihak yang telah
membantu terselesaikannya penulisan makalah ini.
Kami sangat mengharap kritik dan saran dari pembaca sehingga makalah atau ilmu ini bisa lebih
senpurna dan bermanfaat bagi penulis, terlebih lagi bermanfaat bagi pembaca. Amin.

Jombang, 10 Juni 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.iv
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Periwayatan Hadits.........................................................v
B. Cara-cara Periwayatan Hadits..........................................................v
C. Macam-macam Periwayatan Hadits..............................................xii
BAB III PENUTUP.....................................................................xv
DAFTAR PUSTAKA.xvi

BAB I
PENDAHULUAN

Hadits adalah sabda Nabi. Mempelajari hadits adalah bagian dari keimanan umat terhadap
kenabian Muhammad SAW. Hal ini karena figur Nabi Muhammad sebagi pembawa risalah Allah
SWT itu tidak bisa diteladani kecuali dengan pengetahuan yang memadai tentang diri dan sejarah
hidupnya serta tentang sabda dan perilaku hidupnya yang terkait sebagai pembawa risalah.
Kajian tentang sabda dan perilaku Nabi oleh para ahli diformulasikan dalam wujud ilmu hadits
(ulumul hadits). Dalam ulumul hadits, hadits Nabi yang dipelajari tidak hanya menyangkut sabda
atau teks (matan) hadits, tetapi menyangkut seluruh aspek yang terkaitr dengannya, terutama
menyangkut periwayatan hadits dan orang-orang yang meriwayatkannya.
Di sini, melakukan pengkajian secara khusus tentang periwayatan hadits menjadi sangat penting.
Dengan menunjukkan macam-macam periwayatan hadits, adab atau tata cara periwayatan hadits,
serta cara-cara menerima dan menyampaikan hadits dapat diketahui mana hadits yang shahih dan
mana hadits yang dhaif.
Maka pengkajian seperti yang telah disebutkan di atas dirasa perlu untuk menambah pengetahuan
dan ilmu-ilmu baru serta sebagai penunjang pemahaman terhadap hadits Nabi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Periwayatan Hadits


Periwayatan hadits adalah proses penerimaan (naql dan tahammul) hadits oleh seorang rawi dari
gurunya dan setelah dipahami, dihafalkan, dihayati, diamalkan (dhabth), ditulis di-tadwin (tahrir),
dan disampaikan kepada orang lain sebagai murid (ada) dengan menyebutkan sumber
pemberitaan riwayat tersebut.
Dalam proses ini terjadi dua peristiwa, yaitu tahammul dan ada. Tahammul adalah dan cara
penyampaian hadits dari seorang syaikh atau guru kepada muridnya. Sedangkan ada adalah
proses penerimaan hadits oleh seorang murid dari syaikh atau gurunya. Dengan demikian, antara
dua peristiwa di atas tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling berkaitan.
Dalam proses periwayatan ini diketahui bahwa para rawi berbeda-beda keadaannya pada waktu
menerima hadits dari gurunya, termasuk dari shahib al-hadits, selain dalam keadaan normal dan
baik, mungkin dalam keadaan kanak-kanak, masih kafir, suka maksiat (fasiq), atau sedang dalam
keadaan gila, dan sebagainya.
Kompleksitas periwayatan hadis dan bervariasinya ke-tsiqat-an rawi memungkinkan para rawi
meriwayatkan hadis selafazh yang diterima dari gurunya atau mungkin meriwayatkan hadis tidak
persis dalam lafazh tetapi makna dasarnya tidak berbeda.
B. Cara-cara Periwayatan Hadits
Ada delapan macam kaifiyah tahammul wa al-ada atau sistem dan cara penerimaan dan
penyampaian hadis, yaitu sebagai berikut:
1. As-Sama
Periwayatan hadits dengan cara as-sama yaitu seorang syekh membacakan hadist sedang murid
mendengarkannya, sama saja apakah syekh tersebut membaca dari hafalannya atau kitabnya,
begitu pula murid mendengar dan mencatat apa yang di dengarnya atau mendengar saja dan tidak
menulisnya.
Maksud periwayatan hadits dengan cara as-sama adalah seorang murid menerima langsung
periwayatan gurunya dengan cara mendengarkan bacaan dari hafalan atau pun tulisan sang guru.
Dalam periwayatan bentuk as-sama, biasanya seorang guru membacakan haditsnya, sedangkan
murid mendengarkan dengan seksama untuk kemudian menulis apa yang telah ia dengar, atau
hanya mendengar saja untuk kemudian menghafalnya.
Di dalam periwayatan yang berbentuk as-sama, disyaratkan adanya pertemuan antar guru dan
murid. Namun, pertemuan tersebut tidak harus bertemu muka. Menurut pandangan jumhur ulama,
periwayatan hadits yang diterima dengan adanya tabir (penghalang) yang memisahan antara sang
guru dan murid sudah dianggap sah dan tergolong periwayatan bentuk as-sama. Syaratnya, yang
didengar sang murid benar-benar suara gurunya.
Periwayatan hadits dari belakang tabir pernah dicontohkan oleh Aisyah. Ketika meriwayatrkan
hadits, Aisyah berada di belakang tabir, kemudian para sahabat berpedoman pada suara tersebut
dalam meriwayatkan hadits-hadits Aisyah.
Menurut jumhur ulama, as-sama merupakan periwayatan yang paling tinggi dalam
pweriwayatan hadits. Jika melihat pada masa Nabi, cara as-sama adalah cara yang sering
dilakukan. Para sahabat mendengarkan dengan seksama apa yag dikataka Nabi SAW., kemudian
para sahabat saling mencockan hadits yang telah didapat dari Nabi SAW terseburt.

Kata atau lafadz yang digunakan dalam penyampaian hadits dengan cara as-sama diantaranya
adalah samitu (aku telah mendengar) dan hadatsaniy (telah menceritakan kepadaku). Namun,
jika yang meriwayatkan itu banyak, maka lafadznya adalah samina (kami telah mendengar) dan
haddatsana (telah menceritakan kepada kami). Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa rawi
mendengarkan hadits dari sang guru secara bersama-sama.
2. Al-Qiraah
Periwayatan hadits dengan cara al-qiraah yaitu seorang murid membaca sedang guru
mendengarkan, sama saja apakah ia sendiri membaca suatu hadits atau orang lain sedang ia
mendengarkannya, dan sama saja baik bacaanya dari hafalan atau dari suatu kitab, begitu pula
sama saja guru tersebut mengikuti kepada orang yang membaca hadist dari hafalannya atau ia
sendiri menyadarkan kitab atau orang siqoh lainnya.
Dari pengertian di atas diketahui bahwa Al-qiraah adalah periwayatan hadits dengan cara
seorang murid membacakan hadits kepada sang guru. Periwayatan tersebut biasanya disebut
dengan istilah al-arad. Disebut al-arad, karena seorang rawi menyuguhkan bacaan haditsnya
kepada sang guru, dan sang guru mendengarkan bacaan tersebut. Bisa jadi bacaan tersebut berasal
dari hafalan atau dari buku perawi, dan sang guru mengikuti bacaan tersebut dengan hafalannya,
memegang kitabnya sendiri, atau memegang kitab orang lain yang tsiqah.
Para ulama berbeda pendapat mengenai periwayatan hadits dengan cara al-qiraah. Ada sebagian
ulama yang menilai periwayatan hadits dengan cara al-qiraah setingkat dengan periwayatan
hadits dengan cara as-sama. Tetapi, pendapat yang lebih kuat mengatakan bahwa periwayatan
hadits dengan cara al-qiraah tingkatannya lebih rendah dibandingkan dengan periwayatan hadits
dengan cara as-sama.
Ketika menyampaikan periwayatan hadits dengan cara al-qiraah, perawi biasanya menggunakan
kalimat: qaratu fulanan (aku telah membaca kepada si fulan), atau qaratu alaihi (aku telah
membaca di hadapannya), atau quria ala fulanin wa ana asmau (dibacakan oleh seseorang
dihadapannya dan aku mendengarkannya). Namun, yang umum dipakai menurut ahli hadits
adalah lafadz akhbarana (telah mengabarkan kepada kami).
3. Al-Ijazah
Periwayatan hadits dengan cara al-ijazah yaitu perizinan untuk meriwayatkan, baik secara lafdzi
maupun berupa kitab. Maksud periwayatan hadits dengan cara al-ijazah adalah izin meriwayatkan
sesuatu tertentu kepada orang tertentu. Biasanya izin ini diberikan oleh seorang guru kepada
muridnya untuk meriwayatkan suatu hadits dalam bentuk ucapan atau tulisan. Lafadz yang
digunakan oleh sang guru kepada muridnya adalah aku izinkan kepadamu untuk
meriwayatkandariku demikian.
Periwayatan ini dibagi menjadi empat macam, yaitu:
a. Seorang syekh mengijinkan riwayat tertentu untuk seorang tertentu seperti ajaztuka shahih Albukhari (aku mengijinkan kepadamu shahih bukhari), macam ini merupakan yang paling tinggi
dari macam-macam ijazah yang berasal dari munawalah.
b. Mengijinan kepada seorang tdrtentu dengan suatu riwayat yang tidak tertentu, seperti ajaztuka
riwayaka masmuati (aku mengijazahkan kepadamu akan suatu riwayat yang telah aku dengar).
c. Mengijazahan kepada seorang yang tidak tertentu akan suatu riwayat yang tidak tertentu, seperti
ajaztu ahla zamani riwayata masmuati (aku ijazahkan kepada orang-orang dizamanku akan

suatu riwayat yang aku dengar).


d. Mengijazahkan kepada orang yang belum ada : adakalanya berupa orang yang mengikuti orang
yang sudah ada, seperti ajaztu l Fulanin wa limanyuladulah (aku mengijahkan kepada si fulan dan
kepada orang yang dilahirkan oleh si fulan tersebut ),dan adakalanya berupa orang yang belum
ada secara bebas, seperti ajaztu limanyuladu li fulanin (aku ijazahkan kepada orang yang
dilahirkan oleh si fulan ).
Kata-kata yang diupakai dalam menyampaikan riwayat lewat jalur ijazah adalah ajaza lifulanin (ia
telah memberikan ijazah kepada si fulan), haddatsana ijazatan (ia telah memberikan hadsits
dengan ijazah kepada kami), akhbarana ijazatan (telah mengabarkan kepada kami dengan cara
ijazah), atau anbaana ijazatan (ia telah memberitakan kepada kami dengan ijazah).
4. Al-Munawalah
Periwayatan hadits dengan cara al-munawalah adalah seorang guru memberikan naskah yang telah
ia koreksi kepada muridnya untuk diriwayatkan.
Periwayatan ini dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a. Dibarengi dengan ijazah : merupakan ijazah yang paling tinggi secara mutlak, diantara
bertuknya adalah seorang syekh menyerahkan kitabnya kepada muridnya dan berkata: ini
adalah riwayatku dan fulan maka riwayatkanlah dariku, kemudian mengabadikan kitab tersebuatb
untuk dimilikinya atau untuk sebagai pinjaman agar disalinnya.
b. Terlepas dari ijazah : bentuknya adalah sorang syekh menyerahkan kitabnya kepada muridnya
hanya dengan menyatakan secara ringkas ini adalah riwayat yang aku dengar.
Menurut pendapat yang shahih, adapun yang dibarengi ijazah boleh diriwayatkan dan tingkatanya
lebih rendah dari as-sima dan al-qiroah ala syekh. Sedangkan yang terlepas dari ijazah tidak
boleh meriwayatkannya
Dalam redaksi hadits yang diterima dengan jalan al-munawalah terdapat kata-kata seperti:
nawalaniy wa ajazaniy (ia telah memberikan munawalah dan ijazah kepadaku), haddatsana
munawalatan wa ijazatan (ia telah menceritakan kepada kami dengan munawalah dan ijazah), atau
akhbarana munawalatan (ia telah mengabarkan kepada kami dengan munawalah).
5. Al-Mukatabah
Periwayatan hadits dengan cara al-mukatabah adalah seorang syaikh menulis riwayat yang
didengarnya kepada orang yang hadir atau yang tidak hadir dengan tulisannya sendiri atau dengan
perintahnya.
Dapat difahami bahwa model periwayatan hadits dengan cara seorang guru menulis sendiri atau
menyuruh orang lain menuliskan riwayatnya untuk diberikan kepad` orang yang ada di
hadapannya ataupun yang tidak hadir.
Kata-kata yang sering digunakan dalam riwayat dengan mukatabah misalnya seseorang
bercerita kepadaku melalui surat, atau seseorang telah menulis surat kepadaku.
6. Al-Ilam
Periwayatan hadits dengan cara al-Ilam adalah seorang syaikh memberitahukan kepada
muridnya bahwa hadist ini atau kitab ini merupakan hasil pendengaranya sendiri.
Dapat difahami bahwa pemberitahuan sang guru kepada seorang muridnya bahwa hadits tertentu

atau kitab tertentu adalah riwayatnua sendiri dari si fulan (guru seseorang), namun tidak disertakan
izin untuk meriwayatkannya.
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meriwayatkan hadits dengan cara ini. Sebagian
ulama membolehkan dan sebagian yang lain melarangnya. Sebagian ulama yang melarang
beralasan bahwa kemungkinan sang guru mrngetahui bahwa di dalam hadits tersebut ada
kecacatan, kerenanya sang guru tidak memberi izin untuk meriwayatkannya.
Kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan riwayat dengan cara ini misalnya alamaniy
syaikhiy bikadza (guruku telah memberitahu kepadaku dengan seperti ini).
7. Al-Wasiyyah
Periwayatan hadits dengan cara al-wasiyyah adalah model periwayatan hadits dengan cara
seseorang guru memberikan wasiat pada saat mendekati ajalnya atau pada saat mau mengadakan
perjalanan kepada seorang rawi untuk meriwayatkahn haditsnya, atau dengan memberikan sebuah
kitab yang ia miliki.
Menurut Ibnu Sirin, mengamalkan hadits yang diriwayatkan dengan cara wasiat dibolehkan. Akan
tetapi, sebagian besar ulama tidak membolehkannya, jika penerima wasiat tidak menerima ijazah
dari pewasiat.
Biasanya kata-kata yang digunaan dalam meriwayatkan hadits dengan cara al-wasiyyah adalah
awsho ilaiyya fulanun bikitabin (si fulan telah meqwasiatkan kepadaku sebuah kitab), atau
haddatsaniy fulanun washiyyatan (si fulan telah bercerita kepadaku dengan sebuah wasiat).

8. Al-Wijadah
Yaitu seorang murid mendapatkan beberapa hadits dengan tulisan syaikh yang tidak
diriwayatkanya. Atau seorang rawi mendapat tulisan hadits atau kitab dari seorang guru, tetapi ia
tidak mengenal sang guru tersebut. Haditsnya pun belum pernah didengar ataupun ditulis oleh si
perawi.
Para ulama berbeda pendapat mengenai hadits yang diriwayatkan lewat jalur al-wijadah. Kalangan
ulama Malikiyyah tidak memperbolehkan hadits diriwayatkan dengan cara wijadah, sedangkan
Imam Syafii membolehkannya.
Dalam menyampaikan hadits dengan cara al-wijadah, biasanya rawi menggunakan kalimat aku
mendapatkan buku ini daritulisan si filan atau aku telah membaca tulisan si fulan.
Ada yang berpandangan bahwa hadits yang diriwayatkan dengan cara al-wijadah tergolong hadits
munqathi, karena rawi tidak menerima sendiri dari orang yang menulisnya.

C. Macam-macam Periwayatan Hadits


Macam-macam periwayatan hadits adalah sebagai berikut:
a. Riwayat Al-Aqran dan Mudabbaj
Apabila seorang rawi meriwayatkan sebuah hadits dari kawan-kawannya yang sebaya umurnya
atau yang sama-sama belajar dari seorang guru, maka periwayatannya disebut riwayat alaqran.sedangkan jika masing-masing rawi yang segenerasi tersebut saling meriwayatkan hadits,
periwayatannya disebut riwayat mudabbaj.

Riwayat al-aqran dan mudabbaj bias terjadi untuk setiap thabaqah rawi, shahabat, tabiin dan
lain-lain.
b. Riwayat Al-Akabir an Al-Ashaghir
Maksudnya adalah periwayatan hadits oleh seorang yang lebih tua atau yang lebih banyak
ilmunya kepada orang yang lebih muda atau lebih sedikit ilmunya. Seperti contoh, riwayat
shahabat dari tabiin (Ibn Abbas dari Kaab al-Akhbar), tabiin dari tabiat tabiin (AzZuhri dari Malik), ayah dari anak (Ibn Abbas dari Fadhal), dan lain-lain.
c. Riwayat Sahabat an At-Tabiin an Ash-Shahabat
Maksudnya periwayatan seorang sahabat yang menerima hadits dari seorang tabiin yang telah
menerima hadits dari sahabat yang lain. Seperti contoh, riwayat Sahal ibn Saad (sahabat) yang
menerima hadits dari Marwan ibn Hakam (tabiin) yang menerima hadits dari Zaid ibn Tsabit
(sahabat)
d. Riwayat As-Sabiq dan RiwayatAl-Lahiq
Apabila dua orang rawi pernah bersama-sama menerima hadits dari seorang guru, kemudian salah
seorang darinya meninggal dunia, namun sebelum meninggal dunia ia pernah meriwayatkan hadits
tersebut. Maka riwayat rawi yang meninggal tersebut disebut riwayat as-sabiq, sedangkan riwayat
yang disampaikan oleh rawi yang meninggal lebih akhir tersebut disebut riwayat al-lahiq.
e. Riwayat Musalsal
Dalam bahasa arab kata musalsal artinya tali-temali. Maksudnya terdapat satu sifat, keadaan atau
perkataan yang selalu sesuai, bias terjadi pada rawi dan pada periwayatannya.
Musalsal fi al-riwayah dapat mengenai:
a) Shighat meriwayatkan hadits, yakni bila masing-masing rawi yang meriwayatkan hadits
tersebut selalu menyesuaikan dengan shighat samitu, haddatsaniy, dan lain-lain, rawi yang
kemudian pun melakukan hal yang demikian.
b) Masa meriwayatkan, misalnya meriwayatkan suatu hadits selalu pada masa tertentu (pada Hari
Raya dan lain-lain)
c) Tempat meriwayatkan, yakni hadits selalu diriwayatkan atau dibacakan di tempat-tempat
tertentu.
f. Riwayat Muttafiq dan Muftariq
Apabila ada penyesuaian riwayat antara rawi yang satu dengan yang lain mengenai nama asli,
nama samaran, keturunan dan sebagainya dalam ucapan maupun tulisan, tetapi berlainan orangnya
yang dimaksud dengan nama tersebut disebut muttafiq, dan sebagai lawannya disebut muftariq.
Misalnya rawi yang bernama Hammad ada dua, Hammad ibn Zaid dan Hammad ibn Salamah.
g. Riwayat Mutalif dan Mukhtalif
Apabila terjadi kesamaan nama rawi, kuniyah dan laqab itu pada bentuk tulisan sedangkan pada
lafazh atau ucapannya tidak disebut mutalif dan sebagai lawannya disebut mukhtalif. Misalnya,
rawi Sallam (dengan satu huruf yang dirangkap) tulisannya sama dengan Salam (tidak ada huruf
yang dirangkap).

BAB III
PENUTUP

Pembahasan tentang periwayatan hadits adalah salah satu disiplin ilmu yang perlu untuk dikaji.
Karena begitu banyaknya seluk beluk yang ada dalam ilmu periwayatan hadits yang sangat
berpengaruh dalam memahami hadits Nabi namun masih terabaikan dan belum terkaji.

DAFTAR PUSTAKA
Khaeruman, Badri. Ulum al-Hadis. Bandung: Pustaka Setia. 2010.
Thohhan, Mahmud. Ulum al-Hadits Studi Kompleksitas Hadits Nabi. .: Titian Ilahi Press.
1997.
Khumaidi, Irham. Ilmu Hadis Untuk Pemula. Jakarta: CV Artha Rivera. 2008.Mbah Duan
di 23:01