Anda di halaman 1dari 14

6.

PENGUKURAN PENTANAHAN PENGAMAN


6.1.

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah selesai melaksanakan praktikum job Pengukuran entanahan Pengaman,
mahasiswa diharapkan dapat :
1. Memahami secara benar tentang : definisi tahanan pentanahan, tahanan jenis tanah,
manfaat pentanahan.
2. Mengukur tahanan pentanahan pengaman dengan menggunakan Earth Tester.
3. Mengevakuasi dan menentukan kondisi baik tidaknya suatu pentanahan.
4. Menghitung tahanan jenis tanah dari suatu hasil pengukuran tahanan pentanahan.

6.2.

TEORI DASAR

6.2.1. Tujuan Pengetahuan Peralatan


Pengetahuan peralatan atau yang biasa disebut sebagai pentanahan pengaman adalah
pengetahuan bagian dari peralatan yang pada kerja normal tidak dialiri arus.
Tujuan pengetahuan peralatan adalah :
1. Untuk membatasi tegangan antara bagian-bagian peralatan yang tidak dialiri arus dan
antara bagian-bagian ini dengan tanah sampai pada suatu harga yang aman (tidak
membahayakan) untuk semua kondisi operasi normal atau tidak normal. Untuk
mencapai tujuan ini, suatu sistem pengtanahan peralatan atau instalasi dibutuhkan.
Sistem pengetanahan ini gunanya ialah untuk memeroleh otensial yang merata
(uniform) dalam semua bagian struktur dan peralatan, dan juga untuk menjaga agar
operator atau orang yang berada didaerah instalasi itu berada pada potensial yang
sama dan tidak bebrbahaya pada setiap waktu. Dengan dicapainya potensial yang
hampir merata pada semua titik dalam daerah sistem pengetahanan ini, kemungkinan
timbulnya perbedaan potensial yang besar pada jarak yang dapat dicapai oleh manusia
sewaktu terjadi hubung singkat kawat ke tanah menjadi sangat kecil.
2. Tujuan kedua dari pengetanahan peralatan ini adalah untuk memperoleh impendensi
yang kecil/rendah dari jalan balik arus hubung singkat ke tanah. Kecelakaan pada
personil timbul pada saat hubung singkat ke tanah terjadi. Jadi bila harus hubung
singkat ke tanah itu dipaksakan mengalir melalui impedansi tanah yang tinggi, ini
akan menimbulkan perbedaan potensial yang besar dan berbahaya. Juga impedansi
yang besar pada sambungan-sambungan pada rangkaian pengetanahan dapat
menimbulkan busur api listrik dan pemanasan yang besarnya cukup menyalakan
material yang mudah terbakar.

Dari uraian-uraian di atas, maka secara singkat tujuan dari pengetanahan peralatan itu
diformulasikan sebagai berikut :

a. Untuk mencegah terjadinya tegangan kejut listrik yang berbahaya untuk orang dalam
daerah instalasi listrik,
b. Untuk memungkinkan timbulnya arus tertentu baik besarnya maupun lamanyadalam
keadaan gangguan tanah tanpa menimbulkan kebakaran atau ledakan pada bangunan
dan isinya,
c. Untuk memperbaiki penampilan (performance) dari sistem.

6.2.2. Eksposur tegangan


Apabila ada kontak yang tidak disengaja antara bagian-bagian yang dilalui oleh arus
dengan kerangka metal dari peralatan, kerangka metal itu menjadi bertegangan yang sama
dengan tegangan peralatan. Untuk mencegah terjadinya tegangan kejut yang berbahaya
kerangka metal itu harus dihubungkan ke tanah melalui impedansi yang rendah. Impedansi
pengetanahan itu harus sedemikian kecilnya sehingga tegangan yang timbul pada kerangka
peralatan harus cukup kecil dan tidak berbahaya. Sesuai dengan standar Internasional
Electrotechnical Commission (IEC ), tabel dibawah ini adalah tabel harga batas tegangan
sentuh maksimum yang biasanya digunakan untuk sistem tegangan konsumen.

Tabel VI.I Besar dan Lama Tegangan Sentuh Maksimum

Tegangan Sentuh Volt


(RMS)

Waktu Pemutusan Maksimum


(detik)

< 50

50

5.0

75

1.0

90

0.5

110

0.2

150

0.1

220

0.05

280

0.03

Untuk memenuhi persyaratan dalam tabel VI.I di atas, maka tahanan pengetahuan pengaman
RE harus memenuhi persamaan berikut :

50
RE < kIn
Ohm6.1
Dimana :
In = arus nominal dari alat pengaman lebur atau alat pengaman arus lebih (A)
k = bilangan yang besarnya tergantung dari karakteristik alat pengaman
= 2.5 5 untuk pengaman lebur atau sekring
= 1.25 3.5 pengaman lainnya.
Sebagai aturan umum disebutkan bahwa seseorang tidak boleh menyentuh, walau
sekajappun, peralatan dengan tegangan di atas 100 Volt.

6.2.3. Tahanan Jenis Tanah


Tahanan jenis tanah adalah tahanan listrik dari tahanan tanah yang berbentuk kubus
dengan volume 1 meter kubik. Tahanan jenis dinyatakan dalam ohm-m. pernyataan ohm-m
mereprentasikan tahanan diantara dua permukaan yang berlawanan dari suatu volume yang
berisi 1m3. Untuk mendapatkan tahanan pentanahan yang kecil diperlukan upaya sebagai
berikut, mengetahui tahanan jenis tanah, kemudian membuat bentuk kutub tanah yang sesuai.
Faktor keseimbangan antara tahanan pengetahanan dan kapasitansi disekelilingnya
adalah tahanan jenis tanah ( . Harga tahanan jenis tanah pada daerah kedalaman yang
terbatas tidaklah sama. Beberapa factor yang mempengaruhi tahanan jenis tanah yaitu:

6.2.4. Metode Pengukuran Tahanan Jenis Tanah


Pengukuran tahanan jenis tanah biasanya dilakukan dengan cara:
1. Metode tiga titik (three-point method).
Metode tiga titik (three-point method) dimaksudkan untuk mengukur tahanan
pentanahan. Misalkan tiga buah batang pentanahan dimana batang 1 yang tahanannya hendak
diukur dan batang-batang 2 dan 3 sebagai batang pengetanahan pembantu yang juga belum
diketahui tahanannya, seperti pada gambar.
Bila tahanan diantara tiap-tiap batang pengetahanan diukur dengan arus konstan, tiap
pengukuran dapat ditulis sebagai berikut :

R1-2 =

V 12
I

= R11 + R22 2R12

R1-3 =

V 13
I

= R11 + R33 2R13

R2-3 =

V 23
I

= R22 + R33 2R23

V 12+V 13 V 23
I

= 2R12 + 2R13 2R23

Tetapi, V1-3 = V1-2 = V2-3


Akhirnya R11 = R + R12 + R13 R23 ..6.2

Rangkaian pengukuran tahanan jenis tanah dengan metode tiga titik

Tahanan batang pengetanahan dari elektroda 1 dapat dibuat :


R12 + R13 + R23 = 0 ..6.3
2. Metode empat titik ( four electrode method )
Metoda pengukuran yang dipergunakan adalah metoda empat titik seperti pada
gambar. Bila arus I masuk ke dalam tanah melalui salah satu elektroda dan kembali ke
elektroda yang lain sehingga pengaruh diameter konduktor dapat diabaikan. Arus masuk ke

tanah mengalir secara radial dari elektroda, misalkan arah arus dalam tanah dari elektroda 1
ke elektroda 2 berbentuk permukaan bola dengan jari-jari r, luas permukaan tersebut adalah 2
r2 , dan rapat arus adalah :
J=

I
2
2. .r

6.4

Dimana :
J = kerapatan arus [ A/m2]
r = jari-jari [m]
I = arus yang mengalir dalam tanah [ A ]

Rangkaian pengukuran tahanan jenis tanah dengan metoda empat titik


Jika

adalah tahanan jenis tanah, maka medan dalam tanah pada arah radial

dengan jarak ( r ) adalah :


E(r) = J [V/m]
Sehingga menjadi E(r) =

2. .r 2

[V/m]..6.5

Potensial pada jarak r dari elektroda adalah integral dari gaya listrik dari jarak r ke
titik tak berhingga :

V=

E
r

(r).dr =

2. . a

Perbandingan antara tegangan dan arus atau tahanan menjadi :

R = 2. . a

( Ohm ).6.6

Dari gambar terlihat, r13 = r34 = r24,


Jadi
I
1 1

V3 =
(
2.
a 2a
Dan

I
2.

V4 =

1 1

2a a

Beda tegangan antara 3 dan 4 adalah :

V34

1
2

([ 1a 21a )( 21a 1a )]

V34 = I 2 a
Dan

R34 =

=
I 2 a

Sehingga :

= R34( 2 a

Dimana :

R34

= jarak antara elektroda [m]


= tahanan antara elektroda 3 dan 4 [

= tahanan jenis tanah [ -m]

6.2.5. Elektroda Pentanahan

Elektroda pentanahan adalah penghantar yang ditanam dalam tanah dan membuat
kontak langsung dengan tanah. Adanya kontak langsung tersebut bertujuan agar diperoleh
pelaluan arus yang sebaik baiknya apabila terjadi gangguan sehingga arus tersebut
disalurkan ketanah.
Menurut PUIL 2000 [3.18.11] elektroda adalah penghantar yang ditanamkan kedalam
tanah yang membuat kontak langsung dengan tanah. Untuk bahan elektroda pentanahan
biasanya digunakan bahan tembaga, atau baja yang bergalvanis atau dilapisi tembaga
sepanjang kondisi setempat tidak mengharuskan memakai bahan lain misalnya pada
perusahaan kimia.

Jenis-jenis elektroda yang digunakan dalam pentanahan adalah sebagai berikut :


1. Elektroda batang
Elektroda batang adalah elektroda dari pipa besi baja profil atau batangan logam
lainnya yang dipancangkan kedalam tanah secara dalam.Panjang elektroda yang digunakan
sesuai dengan pentanahan yang diperlukan.
Untuk menentukan besarnya tahanan pembumian dengan satu buah elektroda batang
dipergunakan rumus sebagai berikut :

Rbt=

4L
ln
1
2 L
d

Dimana :

Rbt= tahanan pembumian elektroda batang []

= tahanan jenis tanah [m]

L = panjang batang yang tertanam [m]

d = diameter elektroda batang [m]

Gambar 6.1.c.
Elektroda Batang dan lapisan-lapisan Tanah di sekeliling Elektroda.
Setelah didapatkan nilai tahanan pentanahan dengan satu buah elektroda batang,
dimana belum didapatkan nilai tahanan yang diinginkan, maka tahanan pentanahan dapat
diperkecil dengan memperbanyak elektroda yang ditanahkan dan dihubungkan parallel.

Gambar 6.1.d.
Pentanahan dengan dua batang konduktor (Hubungan parallel)
Disini kedua batang konduktor tersebut dihubungkan diatas tanah. Besar tahanan
pentanahan adalah sebagai berikut :

R=

Untuk s > Lx

4 Lx

Lx 2 +2 Lx 4
ln
1 +
1 2 +
4. . Lx
a
4 s
3s
5 s4

Untuk s < Lx
R=

4 Lx
4. Lx
s
s2
s4
ln
1 + ln
2+

+
4. . Lx
a
s
2. Lx 16. Lx 2 512. Lx 4

Dimana :
S

= Jarak antara kedua konduktor (cm)

Lx

= Jari-jari batang konduktor (cm)


= Panjang konduktor yang ditanam (cm)

Sistem pentanahan sederhana terdiri dari sebuah elektroda pentanahan yang di tanam
kedalam tanah. Penggunaan satu buah elektroda adalah yang paling umum dan dapat
ditemukan di masyarakat, di luar rumah atau tempat bisnis. Sistem pentanahan yang
kompleks terdiri dari beberapa elektroda batang, terhubung, jaringan mesh, networks, dan
sebagainya. Sistem tersebut umumnya terpasang pada gardu pembangkit listrik, pusat
perkantoran, dan menara - menara. Jaringan kompleks dapat jauh meningkatkan jumlah
bagian kontak yang langsung dengan tanah disekitarnya dan mengurangi nilai tahanan
pentanahan.

2. Elektroda Bentuk Plat


Elektroda plat adalah elektroda dari plat logam. Pada pemasangannya elektroda ini
dapat ditanam tegak lurus atau mendatar tergantung dari tujuan penggunaannya. Bila
digunakan sebagai elektroda pembumian pengaman maka cara pemasangannya adalah tegak
lurus dengan kedalaman kira-kira 1 meter dibawah permukaan tanah dihitung dari sisi plat
sebelah atas. Bila digunakan sebagai elektroda pengatur yaitu mengatur kecuraman gradient
tegangan guna menghindari tegangan langkah yang besar dan berbahaya, maka elektroda plat
tersebut ditanam mendatar.

Keterangan gambar :
L = panjang alat
t =kedalaman tertanam
b = lebar plat

Gambar 6.1.e

Elektroda Plat Dipasang Vertikal

Untuk menghitung besar tahanan pembumian elektroda plat dipergunakan rumus


sebagai berikut :

Rpl=

b
1+1,84
4.1 L
t

Dimana :

Rpl= tahanan pembumian elektroda plat []

= tahanan jenis tanah [.m]

L = panjang elektroda plat [m]

b = lebar plat [m]


t

= kedalaman plat tertanam dari permukaan tanah [m]

3. Elektroda Bentuk Pita


Elektroda ini merupakan logam yang mempunyai penampan yang berbentuk pita atau
dapat juga berbentuk bulat, pita yang dipilin atau dapat juga berbentuk kawat yang dipilin.
Elektroda ini dapat ditanam secara dangkal pada kedalaman 0,5 sampai 1 meter dari
permukaan tanah, tergantung dari kondisi dan jenis tanah. Dalam pemasangannya elektroda
pita ini dapat ditanam dalam bentuk memanjang, radial, melingkar atau kombinasi dari
lingkaran dan radial.
Besar tahanan pembumian untuk elektroda pita dapat dihitung dengan rumus :

Rpt=

.L

2L
( ln d )

Dimana:
Rpt= tahanan pembumian elektroda pita [ ]

= tahanan jenistanah[ .m ]

L = panjang elektroda plat [ m ]


d

=lebar pita/diameter elektroda pita kalau bulat [ m ]

4. Elektroda Lain
Bila persyaratan dipenuhi jaringan air minum dari logam dan selubung logam kabel
yang tidak diisolasi yang langsung ditanamkan ke dalam tanah. Besi tulang beton atau
kontruksi baja bawah tanah lainnya boleh dipakai untuk elektroda.
5. Konduktor Pentanahan
Konduktor yang digunakan untuk pentanahan harus memenuhi beberapa persyaratan
antara lain :
a.) Memiliki daya hantar jenis ( konduktivity ) yang cukup besar sehingga tidak akan
memperbesar beda potensial local yang berbahaya.
b.) Memiliki kekerasan ( kekuatan ) secara mekanis pada tingkat yang tinggi terutama
bila digunakan pada daerah yang tidak terlindung terhadap kerusakan fisik.
c.) Tahan terhadap peleburan dari keburukan sambungan listrik, walaupun konduktor
tersebut akan terkena magnitude arus gangguan dalam waktu yang lama.
d.) Tahan terhadap korosi.

6.3. DAFTAR BAHAN DAN PERALATAN :


Earth Tester lengkap dengan perangkat pendukung

: 1 set

6.4.

GAMBAR RANGKAIAN PERCOBAAN

Sesuai dengan petunjuk pengoperasian Earth Tester.

6.5.

LANGKAH PERCOBAAN

1. Pisahakan terlebih dahulu pengentanahan (Grounding) yang akan diukur dari sistem
lainnya.
2. Buatlah rangkaian percobaan sesuai dengan diagram rangkaian yang terdapat pada
peralatan Earth Tester tersebut.
Terminal E adalah ujung atas dari elektroda pengentanahan yang akan diukur
tahanannya.
Terminal C1 dan P1 adalah ujung atas elektroda-elektroda bantu.
Terminal E, C, dan P adalah terminal yang bersesuaian yang terdapat pada panel Earth
Tester, yang pada saat malakukan pengukuran tahanan pengetahuan tahanan
pengentanahan akan saling dihubungkan dengan terminal E,E1, dan P1 tersebut di atas.
Gunakan warna penghantar yang sesuai dengan warna terminal-terminal yang
terdapat di panel alat ukur Earth Tester tersebut.
3. Sebelum melakukan penyambungan sebagaimana yang dimaksud pada lanfkah
percobaan 2 di atas. Lakukan pemeriksaaan terhadap tegangan baterai dari Earth
Tester terlebih dahulu. Pemeriksaan dilakukan dengan menekan tombol BATT.
CHECK pada Earth Tester. Pahami terlebih dahulu petunjuk penggunaannya yang
tertulis pada Earth Tester tersebut.
(Perhatikan : Bahwa pemeriksaan bateray boleh dilakukan hanya bila di
terminal E, C, dan P dalam keadaan tidak tersambung).
4. Ukurlah tahanan dari pengentanahan pengaman tersebut dengan cara dan urutan
proses sebagai berikut :

Mula-mula tekan tombol x10 dan kemudian tekan tombol MEAS.

Bila defleksi dari petunjuk meter berada pada skala penuh sehingga melampaui
batas ukurnya, tekan tombol x100 dan lihat pembacaan meter tersebut.

Jika nilai tahanan yang terukur kurang dari 10 , tekan x1 , untuk mendapatkan
pembacaan meter yang lebih teliti.

Selama pengikuran ini, lampu yang bertanda O.K. akan menyala, yang
menandakan bahwa pengkuran terlaksana dengan baik.
Jika keadaan tidak normal terjadi, maka lampu tersebut akan padam, dan untuk
itu lakukan pemeriksaan terhadap penyambungan ke terminal C dan P.

5. Catat nilai tahanan pengentanahan terukur dan masukkan dalam tabel percobaan.
Lakukan pengukuran untuk jarak-jarak E, C, dan P terhadap E 1, C1, dan P1 sesuai
dengan tabel percobaan yang disediakan.