Anda di halaman 1dari 12

Tugas Makalah Sumber Hukum Islam

Dosen Pembimbing:
Ahmad Munir, S.Th.I, M.A

Nama Anggota :
1;
2;
3;
4;
5;
6;
7;
8;

Akmaniyah
Kusnadi
Okki Putra Diantoro
Irham Lithus
Barep Seto Purnomo
Syadin Sumartono
Hiksa Maulana Saputra
Saifur Ridhal

(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)
(Fak. Pertanian)

Mata Kuliah Umum Pendidian Agama Islam


Universitas Jember
2015

BAB I PENDAHULUAN
A; Latar Belakang
Islam adalah agama risalah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad
SAW. Dengan misi sebagai agama rahmatan lil alamin tentunya ajaran syariat
Islam harus diapatuhi oleh setiap muslim yang mukallaf. Ajaran-ajaran Islam itu
sendiri tak datang dengan kehendak Nabi Muhammad SAW sendiri, tapi ada
sebuah sumber hukum ajaran Islam yang dijadikan sebagai acuan seorang
muslim datang beribadah dan menghamba pada Sang Khaliq.
Secara umum adanya hukum di dunia ini bertujuan menyelamatkan
manusia dari kehancuran dan kesesatan. Sebuah qoul mengatakan :
Jikalau di dunia ini tiada hukum dan peraturan niscaya
manusia akan celaka. Maka, seyogyanya seorang muslim yang taat beragama
harus mengetahui terlebih dahulu apa yang seharusnya ia kerjakan dalam tatanan
peribadatan yang hakiki. Tiada suatu hukum yang menjerat manusia dalam
kesusahan dan kesesatan, tapi hukum dibuat untuk menyelamatkan manusia dari
kezoliman dan mengangkat derajat manusia guna menjadi makhluq yang mulia.
Dari itulah risalah agama Islam memiliki hukum paten dan konkrit
sebagai dasar-dasar memenuhi hak Allah SWT dan hak kepada sesama hamba
yang diwahyukan Allah SWT. Allah SWT berfirman :
dan tiadalah yang diucapkan itu (al-quran)
menurut kemauan nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya) Q.S. annajm 3-4.
Pada bab ini kita akan mempelajari, memhami, dan menerapkan sumber
hukum Islam yang telah disepakati oleh fuqoha, yakni : Al-quran, Al-sunnah,
Al-ijma, dan Al-qiyas.

B; Rumusan Masalah
a; Apa pengertian sumber hukum Islam?
b; Bagaimana kedudukan Al-quran dalam Islam?
c; Bagaimana kedudukan Al-sunnah dalam Islam?
d; Bagaimana kedudukan Al-Ijma dalam Islam?

2 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

e; Bagaimana kedudukan Al-qiyas dalam Islam?


C; Ruang Lingkup Masalah

Pada makalah ini akan dijabarkan secara terperinci tentang semua


rumusan masalah yang diberikan dari berbagai sumber terpercaya. Hanya
saja pembahasan yang diulas dalam makalah ini ialah penjabaran yang
mengarah kepada masalah hukum meliputi cakupan, kedudukan, objek
dan penetapannya. Sehingga tulisan ini meruapakan kesimpulan dari
beberapa ketetapan para Fuqoha yang memakari dibidangnya. Pendapat
yang diambil hanya pendapat yang kuat dan bersifat mayoritas.
D; Manfaat dan Tujuan
a; Memberi pengetahuan tentang apa sajakah sumber hukum Islam yang

absah.
b; Mempelajari setiap hukum yang ada untuk diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
c; Mampu bersikap bijaksana dalam setiap perbedaan pendapat yang
dikemukakan para pakar sebelum menetapkan sebuah hukum.
d; Meningkatkan mutu peribadatan pada Allah SWT.

BAB II PEMBAHASAN

A; Pengertian Sumber Hukum Islam

Dalam pembahasaan ushul fiqh, sumber-sumber hukum Islam disebut


masadirul lahkam. Beberapa istilah lain yang diberi pengrtian sama adalah
adillatul ahkam (dalil-dalil hukum). Dan ushulul ahkan (dasar-dasdar hukum).
Yang dimaksud dengan sumber-dumber huku adalah sesuatu yang diapakai

3 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

untuk menunjukkan hukum syariat yang berkaitan dengan perbuatan manusia


melalui jalan yang qadI atau dzonni.
Sumber-sumber hukum Islam dapat diklasifiasikan menjadi dua bagian.
Pertama, sumber hukum Islam dipandang dari sisi kesepakatan ulama dalam
menetapkan sumber hukum. Kedua,sumber-sumber yang dikaitkan dengan
kepada sumber pokok (masadirut tabiyah), namun tergolong perdapat yang
berupa dalil ijtihad, seperti ijma,qiyas, istihsan, istishab, masalihul maslahah,
urf, sahabi, syaru man qoblana, dan sadduz zarai.
Berdasarkan cara pengambilan atau perujukan hukum, sumber hukum
Islam dibagi menjadi menjadi dua bagian. Pertama, sumber-sumber hukum yang
dirujuk secara naqli yakni berdasarkan Al-quan dan Sunnah. Kedua,sumbersumber hukum yang dirujuk secara aqli seperti ijma dan qiyas.
B; Al-Quran Sebagai Sumber Hukum Islam

Defenisi Al-quran
Menurut Bahasa, Al-quran bersal dari kata qaraa-yaqrauqiraatan yang berarti bacaan atau yang dibaca. Dalam pengertian ini
ulama memberikan batasan terhadap istilah bacaan, kumpulan dan
himpunan huruf serta kata pada bagian dalam suatu sistematika dan tata
bahasa tertentu. Secara terminologi ialah Al-quan adalah kalam Allah
SWT sebagai mujizat, yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW
berbentuk mushaf (lembaran) tertulis dan ternuqil secara mutawatir, yang
diawali Surat Al-fatihah dan diakhiri Surat An-nas dan membacanya
sebagai ibadah.
Kedudukan Al-quran sebagai sumber hukum Islam
Beradsarkan pengertian diatas Al-quan merupakan sumber utama
pengambilan hukum suatu perkara. Urutan sumber hukum di atas
berdasarkan kepada dialog Nabi saw dengan Muadz ketika beliau di utus
ke Yaman menjadi Gubernur di sana Bagaimana engkau memberi
keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi
keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab Allah,
Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam kitab Allah ? Ia

4 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah. Nabi bertanya ? Jika tidak ada


dalam sunnah Rasulullah? Ia menjawab ; Aku akan berijtihad dengan
pendapatku dan seluruh kemampuanku, maka rasulullah merasa lega
dan berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada
utusan Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah
saw. ( Ahmad, Turmudzi, Abu Daud). Maka dari sanalah akar suatu
permasalahan dan pengambilan hukumnya harus sesuai dengan isi Alquran.

Alqur'an Dalil Kully dan Juz'i


Alqur'an sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan
hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara :
1. Penjelasan rinci ( zuj'i ) terhadap sebagian hukum-hukum yang
dikandungnya, seperti yang berkaitan dengan masalah aqidah, hukum
waris, hukum-hukum yang terkait dengan masalah pidana, hudud, dan
kaffarat. Hukum-hukum yang rinci ini, menurut para ahli ushul fiqh
sebagai hukum taabbudi yang tidak bisa dimasuki oleh logika.
2. Penjelasan Alqur'an terhadap sebagian besar hukum-hukum itu,
bersifat global / kully, umum, dan muthlaq, seperti dalam masalah shalat
yang tidak dirinci berapa kali sehari dikerjakan, berapa ra'kaat untuk satu
kali shalat, apa hukum dan syaratnya. Demikian juga dalam masalah
zakat, tidak dijelaskan secara rinci benda-benda yang wajib dizakati,
berapa nisab nisab zakat, dan berapa kadar yang harus dizakatkan. Untuk
hukum-hkum yang bersifat global, umum, dan muthlaq ini, Rasulullah
saw. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan, mengkhususkan, dan
membatasinya. Hal inilah yang diungkapkan Alqur'an dalan surat al-Nahl
: 44 Dan kami turunkan kepada engkau (Muhammad) Alqur'an agar
dapat engkau jelaskan kepada mereka apa yang diturunkan Allah
kepada mereka.
Ketahuilah, bahwasannya Al-quran yang diwahyukan itu
memliki dua makna. Pertama, kalamullah alqodim. Kedua, untaian yang
bibaca, didengar, dihafal dan ditulis pada dua sisi lembaran-lembaram,
itu merupakan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW dengan

5 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

perantara Jibril secara berangsur-angsur sebagai Ijaz bagi manusia.


Mengapa Al-quran dikatan kalamullah alqodim, karena Al-qur;an
merupakan gambaran dari dzat Allah yang qodim dan azaly. Juga
diatakan sebagai kitabullah, karena merupakan ciptaan Allah SWT
berupa simbol dan perkataan melalui Jibril yang tercantum di lauh
mahfudz. Dengan pemahaman ini, Alquran tidak disebut ciptaan Allah,
kecuali untuk mempelajari dan menjaga hilangnya pemikiran pada
makna Al-quran sebagai kalamullah alqodim.
C; Al-Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam

Pengertian Al-sunnah
As-sunnah sepengertian dengan Al-hadits. Dalam kitab Tarifat sunnah
beretimologi kebiasaan, sedangkan menurut kacamata syariat ialah
sesuatu yang diserupakan pada nabi berupa perkataan, perbuatan, dan
ketetapan. Secara garis besar sunnah dibagi menjadi dua macam.
Peratama sunnah al-huda atau yang disebut sunnah muakkadah seperti
adzan, iqomah, sholat rawatib, berkumur-kumur (saat wudlu), dan
menghirup air. Kedua, sunnah zaidah atau yang disebut sunnah
pelengkap (goiru muakkadah). Seperti siwak, perbuatan ketika sholat
(sunnah sholat) dan setelah sholat.
Berdasarkan pengertian tersebut sunnah digolongkan menjadi 3 :
i;
Sunnah Qouliyyah
Sunnah yang berupa perkataan nabi. Sunnah ini dinamakan juga
Al-hadits, da ada juga yang menamakannya Al-khobar. Oleh
sebab itu sunnah qouliyyah itu dinamakan sunnah, hadits, dan
khobar.
ii;
Sunnah filiyyah
Sunnah yang berupa perbuatan nabi. Misalnya, ketika
menerangkan tata cara beribadah (sholat, haji dll).
iii;
Sunnah Taqririyyah
Merupakan ketetapan nabi. Dengan cara beliau diam ketika
melihat perbuatan para sahabat. Perkataan dan perbuatan yang
didiamkan Rasulullah ini dapat menjadi hujjah bagi ummat Islam
contohnya, membiarkan dzikir dengan suara keras setelah sholat.

6 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

Kedudukan Al-Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam


Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki
kedua fungsi sebagai berikut :
i;
Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al
Quran, sehingga kedunya (Al Quran dan Hadits) menjadi
sumber hukum untuk satu hal yang sama. Misalnya Allah SWT
didalam Al Quran menegaskan untuk menjauhi perkataan dusta,
sebagaimana ditetapkan dalam firmannya Jauhilah perbuatan
dusta (QS Al Hajj : 30). Ayat diatas juga diperkuat oleh
hadits-hadits yang juga berisi larangan berdusta.
ii;
Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Quran

iii;

yang masih bersifat umum. Misalnya, ayat Al Quran yang


memerintahkan shalat, membayar zakat, dan menunaikan ibadah
haji, semuanya bersifat garis besar. Seperti tidak menjelaskan
jumlah rakaat dan bagaimana cara melaksanakan shalat, tidak
merinci batas mulai wajib zakat, tidak memarkan cara-cara
melaksanakan haji. Rincian semua itu telah dijelaskan oleh
Rasullah SAW dalam haditsnya. Contoh lain, dalam Al Quran
Allah SWT mengharamkan bangkai, darah dan daging babi.
Firman Allah sebagai berikut Diharamkan bagimu bangkai,
darah, dan daging babi (QS Al Maidah : 3)
Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam
Al Quran. Misalnya, cara menyucikan bejana yang dijilat anjing,
dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dicampur dengan
tanah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

iv;
)
(
Mennyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah dengan cara
membasuh sebanyak tujuh kali salah satunya dicampur dengan
tanah (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Baihaqi).
D; Al-Ijma Sebagai Sumber Hukum Islam

7 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

Definisi Al-ijma
Secara harfiah berarti keinginan dan kesepakatan. Istilahnya ialah
kesepakatan para imam mujtahidin pada suatu masa atas urusan agama.

Al-ijma sebagai sumber hukum Islam


Dasar penetapan Al-ijma sebagai sumber hukum Islam tercantum dalam
kitab nasaih al-din karya al-habib al-haddad sebagai berikut dan ketika
agama yang mulia ini tegak dan kokoh pondasinya ialah dengan mufakat,
saling menolong, dan persamaan persepsi. Adanya perpecahan,
permusuhan dan konflik merupakan tanda lemah dan hancurnya agama.
Maka jelaslah ijtima dalam agama merupakan pokok dari segala
kebaikan. Dan pertentangan itu pangkal dari segala kehancuran.
Oleh karenanya, penetapan suatu landasan hukum tidak boleh
cacat karena adanya perseteruan diantara para ahlil aqdi dan unsur-unsur
yang membangun. Sebuah hadits rasulullah SAW bahwasannya ummat
Islam tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Jelas hadits ini membuka
pemahaman kita bahwa diantara perbedaan yang ada merupakan rahmat
bagi semua kaum muslimin. Bukankah Allah SWT telah berfirman :

hendaklah kalian semua menjadi ummat (perkumpulan) yang selalu


menyeru pada kebaikan (yakni kebaikan dalam golongan keimanan dan
ketaatan), dan seruan itu merupakan derajat yang tinggi di sisi Allah
SWT dan kedekatan yang agung.
E; Al-qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam

Definisi qiyas
Kata Qiyas berasal dari kata : ; Ia telah mengukur, ; Ia sedang
mengukur, ; ukuran. Jadi kata qiyas itu artinya : ukuran, sukatan,
dan timbangan. Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara

8 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

istilah bermacam-macam: 1. Mengeluarkan hukum yang sama dari yang


disebutkan kepada yang tidak disebutkan dengan menghimpun antara
keduanya. 2. Membandingkan yang didiamkan kepada yang dinashkan
( diterangkan) karena ada illat hukum.

Kehujjahn Qiyas
Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan :
i;
Alquran. 2: :
Jumhur ulama ushul, memandang Qiyas dapat jadi hujjah atas
alasan ayat di atas. I'tibar dalam ayat di atas berasal dari kata
ubur, artinya, melewati atau melampaui. Maka Qiyas itu

ii;

iii;

melewati atau menyembrangkan hukum asal ( pokok ) kepada


hukum cabang. Jadi Qiyas termasuk ke dalam makna ayat di atas.
Al-sunnah. Sesuai sabda nabi : Bagaimana engkau memberi
keputusan jika dihadapkan kepadamu sesuatu yang harus diberi
keputusan ? Ia menjawab: Aku akan putuskan dengan Kitab
Allah, Bersabda Rasulullah: Jika engkau tidak dapatkan dalam
kitab Allah ? Ia menjawab: Dengan Sunnah Rasulullah. Nabi
bertanya ? Jika tidak ada dalam sunnah Rasulullah? Ia
menjawab ; Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan seluruh
kemampuanku, maka rasulullah merasa lega dan berkata: Segala
puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan
Rasulullah ( Muadz) dalam hal yang diridhai oleh Rasulullah
saw. ( Ahmad, Turmudzi, Abu Daud). Hadits diatas menunjukkan
bahwa Rasulullah menyetujui apa yang telah dilakukan Muaz
bin Jabal setelah berijtihad dengan alquran dan al-sunnah tetapi
tiada pemecahan, maka dilakukan qiyas. Karena qiyas termasuk
ijtihad.
Alasan Logika
iii.i
kalau

bukan

Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba


untuk

kemaslahatan

bagi

hamba.

Karena

kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat, Karena itu jika

9 | Page
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama
dengan yang ada nashnya, maka diduga keras dapat memberikan
kemaslahatan-kemaslahatan bagi hamba.
iii.ii

Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu

terbatas, sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan


tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang
dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan
kemaslahatan.
iii.iii

Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri

manusia dan logika yang sehat. Oleh karena itu jika dilarang
minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap
minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.

Dari uraian inilah terjawab, segala peristiwa yang tidak


ditunjukan oleh wahyu sering Rasulullah menetapkan hukumnya
dengan jalan Qiyas.

10 | P a g e
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN


A; Kesimpulan
Setelah memahami kaidah-kaidah yangterdapat dalam makalah ini, maka
dapat ditarik titik simpul bahwa hukum itu berputar
beserta ada atau tiadanya illat (permasalahan). Perbincangan masalah hukum
harus sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada. Jika disuatu kondisi memiliki
disiplin hukum tersendiri, maka disaat yang lain juga memiliki pandangan yang
berbeda. Dari situlah, garis besar segala hukum itu ditetapkan berdasarkan :
i;

Syariat

ii;

Akal

iii;

Sosial-Buadaya

B; Saran
i;

Dalam menyusun makalah ini hendaknya memiliki pandangan yang


luas dan bisa menerima sebuah perbedaaan aspek kajian dan output
keberagamaan pendapat.

ii;

Handaknya mencermati, mentelaah, dan mengkaji ulang segala aspek


itu dengan seksama bersama anggota kelompok.

iii;

Gunakanlah bahasa yang tepat sasaran, baik menggunakan istilah syari


ataupun istilah yang sudah dikenal oleh umum.

iv;

Cakupan masalah dan rumusan masalah hendakna bersatu padua agar


pembahasannya tidak melenceng dari rumusan masalah.

v;

Sabar dalam bekerja.

11 | P a g e
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam

DAFTAR PUSTAKA
Musih, Muhammad, M.Ag. Fiqih 3kelas XII MA.2011. Jakarta : Yudhistira.
Al-jurjani, Ali bin Muhammad. Al-tarifat. Al-haramain.
Muhammad bin Alwi,al-sayyid. Qul hadzihi sabili. Malang : As-shofwah
Atsari, Abu Ismal Muslim.Sumber Hukum &Aqidah Islam. 2005. Pustakaelpososwy

12 | P a g e
Pendidikan Agama Islam Sumber Hukum Islam