Anda di halaman 1dari 7

1

Wacana Indonesia Bebas Rabies Tahun 2015


Istilah rabies dikenal sejak zaman Babylon kirakira abad ke-23 sebelum
masehi (SM) dan Democritus menulis secara jelas bahwa binatang menderita rabies
pada tahun 500 SM. Tulisan adanya infeksi rabies pada manusia dengan gejala
hidrofobia dilaporkan pada abad pertama oleh Celcus dan gejala klinis rabies baru
ditulis pada abad ke-16 oleh Fracastoro, seorang dokter Italia. Pada tahun 1880, Louis
Pasteur mendemonstrasikan adanya infeksi pada susunan saraf pusat. Pengobatan
dilakukan dengan cara kauterisasi sampai ditemukannya vaksin oleh Louis Pasteur
pada tahun 1930 dan baru dapat diperlihatkan dengan mikroskop elektron pada tahun
1960. Rabies adalah penyakit infeksi akut susunan saraf pusat pada manusia dan
mamalia yang berakibat fatal. Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang
termasuk genus Lyssa-virus, famili Rhabdoviridae, dan menginfeksi manusia melalui
sekret yang terinfeksi pada gigitan binatang.1
Penyebaran rabies tersebar di seluruh dunia dan hanya beberapa negara bebas
rabies seperti Australia, Skandianvia, Inggris, Islandia, Yunani, Portugal, Uruguay,
Chili, Papua Nugini, Selandia Baru, Jepang, dan Taiwan. Pada survey tahun 1999, 45
dari 145 negara dinyatakan tidak terdapat kasus rabies. Jumlah kematian di dunia
karena penyakit rabies pada manusia diperkirakan lebih dari 50.000 orang tiap
tahunnya dan terbanyak pada negaranegara di Asia dan Afrika yang merupakan
daerah endemis rabies. Rabies banyak dijumpai di negara-negara Asia, diantaranya
yaitu India, Sri Lanka, Pakistan, Bangladesh, China, Filipina, dan Thailand.
Sekarang, bagaimana dengan Indonesia? Menurut Dirjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, dr.,
SpP(K), terdapat sembilan provinsi yang dinyatakan bebas rabies, yaitu Bangka
Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, NTB,
Papua Barat, dan Papua. Dengan kata lain, terdapat 24 provinsi di Indonesia yang
masih belum bebas rabies. Sejak tahun 1997 sampai 2003 dilaporkan lebih dari

86.000 kasus gigitan binatang tersangka rabies rata-rata 124.000 kasus per tahun dan
yang terbukti rabies adalah 538 orang atau 76 kasus per tahun. Kasus rabies di
Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser pada tahun 1884 pada seekor kerbau,
kemudian oleh Penning pada tahun 1889 pada seekor anjing, dan oleh Eilerls de
Zhaan pada tahun 1889 pada manusia. Semua kasus ini terjadi di Jawa Barat dan
setelah itu rabies terus menyebar ke daerah Indonesia lainnya.1,2
Infeksi rabies biasanya terjadi melalui kontak dengan binatang seperti anjing,
kucing, kera, serigala, kelelawar, dan ditularkan pada manusia melalui gigitan
binatang atau kontak virus dengan luka pada host atau melalui membran mukosa.
Infeksi rabies pada manusia terjadi dengan masuknya virus melalui luka pada kulit
(garukan, lecet, dan luka robek) atau mukosa. Cara infeksi lainnya yaitu melalui
inhalasi pada orang yang mengunjungi gua kelelawar tanpa ada gigitan, kontak virus
rabies pada kecelakaan kerja di laboratorium atau vaksinasi dari virus rabies yang
masih hidup. Setelah virus rabies masuk ke tubuh manusia, selama dua minggu virus
menetap pada tempat masuk dan di jaringan otot di dekatnya virus berkembang biak
atau langsung mencapai ujungujung serabut saraf perifer tanpa menunjukkan
perubahan-perubahan fungsinya. Selubung virus menjadi satu dengan membran
plasma dan protein ribonukleus kemudian memasuki sitoplasma. Beberapa tempat
pengikatan adalah reseptor asetilkolin postsinaptik pada neuromuscular junction di
susunan saraf pusat. Dari saraf perifer virus menyebar secara sentripetal melalui
endoneurium sel-sel Schwann dan melalui aliran aksoplasma mencapai ganglion
dorsalis dalam waktu 60-72 jam dan berkembang biak. Selanjutnya virus menyebar
dengan kecepatan 3 mm per jam ke susunan saraf pusat melalui cairan serebrospinal.
Virus menyebar secara luas dan memperbanyak diri dalam semua bagian neuron,
kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf volunter
maupun saraf otonom. Penyebaran selanjutnya dari SSP ke saraf perifer termasuk
serabut saraf otonom, otot skeletal, otot jantung, kelenjar adrenal, ginjal, mata, dan

pankreas. Pada tahap berikutnya, virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar
lakrimalis, dan sistem respirasi. Virus juga tersebar pada air susu dan urin.1,2
Apabila penyakit ini sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan
manusia, biasanya selalu diakhiri dengan kematian, sehingga menimbulkan rasa
cemas dan takut bagi orang-orang yang terkena gigitan, kekhawatiran, dan keresahan
bagi masyarakat pada umumnya. Gejala klinis terdiri dari tiga stadium, yaitu
prodormal, neurologi akut, dan koma. Stadium prodormal berlangsung satu sampai
empat hari dan biasanya tidak didapatkan gejala spesifik. Umumnya disertai gejala
respirasi atau abdominal, misalnya ditandai oleh demam, menggigil, batuk, nyeri
menelan, nyeri perut, sakit kepala, malaise, mialgia, mual, muntah, diare, dan nafsu
makan menurun. Gejala yang lebih spesifik yaitu adanya gatal dan parastesia pada
luka bekas gigitan yang sudah sembuh. Pada stadium neurologi akut, tandatanda
klinis lain yang dapat dijumpai berupa hiperaktivitas, halusinasi, gangguan
kepribadian, meningismus, lesi saraf kranialis, fasikulasi otot, gerakangerakan
involunter, fluktuasi suhu badan, dan dilatasi pupil. Kematian paling sering terjadi
pada stadium ini yang dapat terjadi akibat gagal nafas yang disebabkan oleh kontraksi
hebat otot-otot pernafasan atau keterlibatan pusat pernafasan dan miokarditis, aritmia,
serta henti jantung akibat stimulasi saraf vagus. Apabila tidak terjadi kematian, maka
penderita akan memasuki stadium koma yang terjadi dalam sepuluh hari. Pada
penderita yang tidak ditangani, penderita dapat meninggal setelah terjadi koma.
Tindakan terhadap orang yang digigit atau korban yaitu segera cuci luka gigitan
dengan air bersih dan sabun atau detergen selama lima sampai sepuluh menit
kemudian bilas dengan air yang mengalir, lalu keringkan dengan kain bersih atau
kertas tisu. Luka kemudian diberi obat luka yang tersedia, misalnya obat merah lalu
dibalut longgar dengan pembalut yang bersih. Penderita atau korban secepatnya
dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih
lanjut. Tidak ada terapi untuk penderita yang sudah menunjukkan gejala rabies,
penanganan hanya berupa tindakan suportif dalam penanganan gagal jantung dan

gagal nafas. Walaupun tindakan perawatan intensif umumnya dilakakukan, tapi


hasilnya tidak menggembirakan. Perawatan intensif hanyalah metode untuk
menyelamatkan

hidup

pasien

dengan

mencegah

komplikasi

respirasi

dan

kardiovaskuler yang sering terjadi. Penderita rabies dapat diberikan obat-obat sedatif
dan analgetik secara adekuat untuk memulihkan kekuatan dan nyeri yang terjadi.
Pencegahan infeksi virus rabies pada penderita harus dilakukan perawatan luka yang
adekuat atau pemberian vaksin anti rabies dan immunoglobulin.1,2
Tanda-tanda penyakit rabies pada hewan dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu
bentuk diam atau dumb rabies dan bentuk ganas atau furious rabies. Tanda-tanda
rabies bentuk diam adalah terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh, hewan
tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan,
air liur menetes berlebihan, serta tidak ada keinginan menyerang atau mengigit.
Selanjutnya hewan akan mati dalam beberapa jam. Sedangkan tanda-tanda rabies
bentuk ganas adalah hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya,
menyerang orang, hewan dan benda-benda yang bergerak, bila berdiri sikapnya kaku,
ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya, anak anjing menjadi lebih lincah dan
suka bermain, tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam
beberapa jam. Tindakan terhadap hewan yang menggigit anjing, kucing, dan kera
yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita rabies adalah
bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya, maka hewan
tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk
diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif rabies, maka hewan tersebut
harus mendapat vaksinasi rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya.
Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar atau tidak ada pemiliknya, maka hewan
tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan
setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat
dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan, setelah terlebih dahulu diberi
vaksinasi rabies. Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus

dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas
Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Tindakan terhadap
anjing, kucing, atau kera yang dipelihara adalah menempatkan hewan peliharaan
dalam kandang yang baik, sesuai, dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang
dan sekitarnya. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan
yang baik, pemeliharaan yang baik, dan melaksanakan vaksinasi rabies secara teratur
setiap tahun ke Dinas Peternakan atau dokter hewan. Memasang rantai pada leher
anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan.2,3
Mengingat akan bahayanya rabies terhadap kesehatan dan ketenteraman
masyarakat karena dampak buruknya selalu diakhiri kematian, maka usaha
pengendalian penyakit berupa pencegahan dan pemberantasan perlu dilaksanakan
seintensif mungkin, bahkan menuju pada program pembebasan. Rabies merupakan
penyakit lama yang hingga saat ini masih menjadi masalah bagi Indonesia. Rabies
menjadi perhatian khusus di beberapa negara, karena memiliki angka mortalitas yang
tinggi. Begitu juga di Indonesia, penyakit ini telah menjadi kejadian luar biasa (KLB)
seperti di empat wilayah, antara lain Maluku, Kalimantan Barat, Banten, dan Bali.
Pemerintah sendiri mencanangkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2015 nanti.
Namun masih banyak kendala yang dihadapi untuk mencapai target tersebut. Pada
awalnya, pemerintah mencanangkan Indonesia bebas Rabies pada tahun 2005,
sayangnya ini tidak terwujud. Kenapa hal ini dapat terjadi? Lantas, apakah mungkin
Indonesia dapat bebas rabies pada tahun 2015 nanti? Ini suatu permasalahan besar
untuk pemerintah, Departemen Pertanian, Departmen Kesehatan, Instansi Kesehatan,
dan seluruh masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa Kedokteran Indonesia.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen
Kesehatan, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, dr., SpP(K) mengatakan untuk dapat
mewujudkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2015, maka harus dilakukan
penanganan terhadap hewan penular rabies, menekan jumlah penderita rabies, dan
mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Untuk itu diperlukan pengendalian

secara terpadu, salah satunya dengan membuat rabies center di puskesmas atau rumah
sakit yang diberikan fasilitas vaksin, penyuluhan, dan melindungi kelompok berisiko
tinggi terkena virus rabies. Adanya rabies center diharapkan masyarakat mengetahui
bahwa rabies ditularkan oleh gigitan hewan penular rabies, bahaya rabies yang bisa
mengakibatkan kematian, pertolongan atau tindakan pertama apa yang harus
dilakukan oleh masyarakat dan keluarga setelah digigit. Langkah-langkah terpadu
yang bisa dilakukan dalam mewujudkan bebas rabies, antara lain:
1. Program vaksin dan eliminasi hewan penular rabies
2. Observasi hewan
3. Pengawasan lalu lintas hewan penular rabies
4. Penyuluhan
5. Pendataan dan registrasi anjing
6. Pengamatan dan penyidikan penyakit
7. Penertiban dan pengawasan pemeliharaan binatang
8. Peran serta masyarakat
9. Tindakan terhadap hewan penular rabies serta kondisi penderita
Selain langkah-langkah tersebut, nantinya akan dibentuk tim koordinasi rabies di
semua jenjang administrasi yang melibatkan bagian peternakan dari Departemen
Pertanian, bagian Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dari
Departemen Kesehatan dan Departemen Dalam Negeri.
Pokok kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh sektor peternakan, antara lain:
1. Vaksinasi hewan yang dilaksanakan melalui vaksinasi masal (bulan rabies)
2. Pengawasan lalu lintas hewan, melalui Perda yang mengacu kepada UU.No,6
1967 tentang Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan
3. Eliminasi anjing-anjing liar atau tidak ada pemiliknya dengan melakukan
pengamatan langsung di tempattempat persembunyian atau sarang-sarang
anjing
Pokok-pokok yang seharusnya dilaksanakan oleh Sektor Kesehatan :

1. Vaksinasi Anti Rabies pada kasus gigitan hewan tersangka rabies melalui
pemberian Vaksinasi Anti Rabies (VAR) atau kombinasi Vaksinasi Anti
Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) di puskesmas dan rumah sakit
2. Pencucian luka gigitan hewan-hewan tersangka rabies dengan sabun atau
detergen lain untuk mengurangi masuknya kuman ke dalam tubuh
3. Melaksanakan pengawasan lebih lanjut terhadap pengobatan melalui
kunjungan petugas puskesmas ke tempat penderita
4. Melakukan pelacakan kasus gigitan tambahan melalui penyelidikan
epidemiologi, terutama daerah-daerah yang termasuk KLB
5. Melakukan rujukan penderita rabies ke rumah sakit guna perawatan intensif
Rabies ini bisa dicegah dengan vaksin, tapi nantinya diharapkan terdapat vaksin yang
dapat diberikan melalui makanan atau melalui oral, sehingga diharapkan semua
masyarakat Indonesia terutama yang berisiko tinggi terkena virus rabies dapat
terhindar dari penyakit ini. Bila seluruh pokok-pokok kegiatan tersebut dilaksanakan
dengan penuh komitmen sejak diresmikan pada tahun 2005 dan diperlengkap oleh
kesadaran individu mengenai epidemiologi, tanda, jejala, preventif, dan kuratif rabies
oleh seluruh masyarakat, maka dapat menimalisasi jumlah penderita rabies yang
semakin membuming dan akhirnya dapat terwujud Indonesia Bebas Rabies Tahun
2005. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan rabies merupakan prioritas
kedua setelah flu burung H5N1 dalam kategori penyakit zoonosis. Angka terkena
rabies di Indonesia sejak tahun 2005 cenderung di atas 100 orang setiap tahunnya dan
paling banyak menyerang anak-anak usia lima sampai sembilan tahun. Maka jangan
menganggap remeh penyakit rabies, karena jika tidak ditangani dengan baik tingkat
kematiannya hampir mencapai 100 persen. Untuk itu mari saling bekerja sama dalam
mewujudkan Indonesia bebas rabies pada tahun 2015.