Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN KASUS

Pneumonia Berat
Penyakit Jantung Bawaan
Underweight, Stunted, Gizi Kurang
Missed Opportunity Of Immunization

Monika S.Ked
Pembimbing:
dr. Stevie Adi Susanto Sp.A

Identitas
Nama
: An. AA
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Usia
: 10 bulan
Agama
: Islam
Alamat
:Dusun Air Terjun Kel. Parit Baru
Kec.Salatiga Pemangkat Singkawang
Timur, Kota
Singkawang
Tanggal Lahir
: 24 September 2014
Urutan Anak
: Anak keempat dari empat bersaudara

Identitas Orang Tua


Identitas
Nama

Ayah
Tn. J

Ibu
Ny. R

Umur

39 tahun

35 tahun

Pendidikan

SD

SMA

Pekerjaan

Petani

Petani

Anamnesis
Masuk IGD tanggal : 15 Agustus 2015
Anamnesis dilakukan tanggal : 16 Agustus 2015
Keluhan Utama : Kesulitan bernafas

Riwayat Penyakit Sekarang


2 bulan lalu

Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Penyakit Keluarga

Genogram

Keterangan:
: pasien

: keluarga yang menderita


jantung

: keluarga yang
menderita asma

Simpulan: Terdapat riwayat asma dan penyakit jantung di keluarga

Riwayat Kehamilan

Simpulan : Riwayat kehamilan baik

Riwayat Persalinan

Simpulan : Riwayat persalinan baik

Riwayat Pemberian Makan

Simpulan : Riwayat : Riwayat pemberian makan baik secara kuantitas dan kualitas,
namun menjadi berkurang selama sakit.

Riwayat Imunisasi

Simpulan: Imunisasi tidak lengkap, missed opurtunity of immunization

Riwayat Tumbuh Kembang

Simpulan: Riwayat tumbuh menjadi terganggu selama pasien sakit, riwayat


perkembangan baik.

Riwayat Sosioekonomi, tempat


tinggal & lingkungan

Simpulan : Tingkat pendidikan orang tua pasien rendah, tingkat sosial ekonomi rendah.
Terdapat pajanan terhadap polusi udara di lingkungan rumah

Anamnesis Sistem
1.Sistem serebrospinal : tidak ada keluhan
2.Sistem penglihatan : tidak ada keluhan
3.Sistem pendengaran : tidak ada keluhan
4.Sistem kardiovaskuler : tidak ada keluhan
5.Sistem respiratorius :batuk, kesulitan bernafas,sesak jika berbaring.
6.Sistem gastrointestinal : nafsu makan menurun, sesak jika minum
ASI banyak dan lama.
7.Sistem muskuloskeletal : tidak ada keluhan
8.Sistem urogenital : tidak ada keluhan
9.Sistem integumentum : sering berkeringat.
10.Sistem termoregulasi : demam.

Pemeriksaan Fisik
KU dan Tanda Vital

Status Generalis
1. Kulit

Status Generalis
9. Leher

: Pembesaran kelenjar getah bening


tidak ditemukan, massa tiroid
normal.

10. Dada

: Simetris saat statis dan dinamis,


retraksi subcostal (+), retraksi
intercostal (-)

Status Generalis
11. Jantung:

Status Generalis

Urogenital
Anus/Rektum
Genitalia
Ekstremitas

: ballotemen (-), nyeri tekan suprapubik(-)


: anus (+)
: fimosis (-), hipospadia (-)
: akral hangat, edema (-), CRT < 2 detik

Simpulan: Distress pernafasan, adanya infiltrat di kedua lapang paru,


adanya penyempitan saluran nafas, hepatomegali.

Pemeriksaan Penunjang
15 Agustus 2015
Hemoglobin

13,0 gr/dl

Leukosit

15.700 mm3

Trombosit

348.000 mm3

Hematokrit

40,4 %

Eritrosit

6,50 x 106/uL

Simpulan : Pemeriksaan darah rutin dalam batas normal

Pemeriksaan Penunjang

Foto thoraks dilakukan di RS


Pemangkat
Kesan : terdapat gambaran infiltrat
alveolar di paru kiri

Foto thoraks dilakukan di RSAA


Kesan:
Cor : CTR 62% (kardiomegali)
Pulmo: corakan vaskularisasi paru
bertambah.

Usulan Pemeriksaan Penunjang

EKG
Ekokardiografi
Cek darah rutin
Foto thoraks AP
Analisis gas darah

Daftar Masalah
Anak laki laki 10 bulan
Sesak sejak 2 bulan yang
lalu
Batuk
Demam hilang timbul
Lemah
Nafsu makan berkurang
Sering berkeringat
Tidak bisa menyusu lama

Terapi OAT dan antibiotik


pneumonia tidak
memberikan respon klinis
yang berarti
Riwayat infeksi saluran
nafas berulang
Riwayat imunisasi tidak
lengkap
Pertumbuhan terganggu
semenjak sakit

Daftar Masalah

Takikardia
Takipnea
Riwayat asma dalam
keluarga
Underweight, stunted, gizi
kurang
Riwayat sakit jantung dalam
keluarga
Retraksi subkostal
Tingkat pendidikan orang
Rhonki, wheezing dan
tua rendah
krepitasi di kedua lapang
paru
Terdapat pajanan terhadap
polusi udara sekitar rumah
Gambaran vaskular paru
meningkat
Tingkat sosioekonomi
rendah
kardiomegali
Gambaran infiltrat alveolar
pada paru kiri

Diagnosis
Diagnosis kerja

Diagnosis banding

Pneumonia berat dengan


impending distress
Suspek PJB
Diagnosis Fungsional : suspek
gagal jantung
Diagnosis Anatomi : VSD dd
ASD
Diagnosis Etiologi
: PJB
asianotik
Underweight, stunted, Gizi
Kurang
Missed opportunity of
immunization

Asma
TB paru
Bronkiolitis
aspirasi benda asing
pertusis
Difteri
viral croup

Tatalaksana
Medikamentosa

Non medikamentosa

O2 2 lpm nasal canul


IVFD D5 NS 28 tpm mikro
Infus paracetamol 28 mg/ 8 jam
(K/P)
Nebulisasi salbutamol 1 / 8 jam.
Injeksi ampisilin 3x250 mg IV
Injeksi chloramfenikol 3x150 mg
IV
Injeksi dexamethason 3x2 mg IV
Injeksi ranitidin 2x5 mg IV
PO furosemide 2x4 mg tab
PO digoksin 2x0,03 mg
Minum susu formula 40 cc/2 jam
(NGT)

Tirah baring dengan posisi


setengah duduk
Pemberian jus buah segar atau
buah lunak yang mengandung
kalium contohnya pisang.
Nutrisi
Kebutuhan energi 687,5 kkal/hari
Kebutuhan protein 15 g/hari
Kebutuhan cairan 150 cc/kg/hari 510
cc/hari

Edukasi imunisasi untuk catch up


imunisasi

Follow up harian
Pasien difollow up dari tanggal 16 Agustus 24 Agustus 2015.
Selama follow up sesak pasien tidak pernah hilang.
Selama follow up suhu tubuh pasien tidak pernah tinggi.
Sejak tanggal 23 timbul bising jantung berupa gallop pada pasien
dan pengobatan ditambah yaitu captopril oral.
Taggal 24 Aagustus pasien dirujuk ke RS Sudarso Pontianak untuk
dilakukan Ekokardiographi

Analisa Kasus

DIFTERI
Kesulitan
Sekret
berwarna
bernafas,
kemerahan
batuk
Selaput
keabuan
pada
tenggorok

Diagnosis difteri bisa disingkirkan

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

CROUP
Kesulitan
Batuk
menggonggong
bernafas

Diagnosis croup bisa disingkirkan

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

BRONKIOLITIS
Diagnosis bronkiolitis bisa disingkirkan
Kesulitan
Hiperinflasi
Sulit
Hipersonor
Ekspirasi
makan,
memanjang
bernafas
pada
dinding
menyusu
perkusi
dada
atau
dada
minum

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

ASMA BRONKIAL
Diagnosis asma bronkial bisa disingkirkan
Respon
Retraksi
terhadap
dinding
bawah
bronkodilator
Kesulitan
Hiperinflasi
Ekspirasi
memanjang
bernafas
dinding
dadadada

Kriteria mayor

Kriteria minor

Asma pada
orang tua
Dermatitis atopi

Hipereosinofilia
Rinitis alergi
Tetap mengi
diluar flu
Uji skin prick
test (+)

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.
Van Aalderen VM. Childhoos Asthma: Diagnosis and Treatment; Review Scientifica. 2012.

TUBERCULOSIS
Diagnosis tuberculosis bisa disingkirkan
Penurunan
Riwayat
Demam
Keringat
tanpa
kontak
malam
BBseba
2 hari
TB
blnyang
dengan
berturut-turut
jelasorang dewasa

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

Diagnosis aspirasi benda asing dan pertusis


Aspirasi bendabisa
asingdisingkirkan

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

Gejala infeksi umum


PNEUMONIA

Rudan, Igor, Cynthia Boschi-Pinto, zrinka Biloglav, Kim Mulholland, and Harry Campbell. Epidemiology and etiology
of childhood pneumonia. Bulletin of World Health Organization 2008; 86:408-416

PNEUMONIA

Kesulitan
Nafas
Sulit
makan,
cuping
bernafas
menyusu
Ronki,
hidungkrepitasi,
atau minum
wheezing

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

Klasifikasi Pneumonia
(WHO)
Anak umur 2 bulan- 5 tahun
Pneumonia ringan

: nafas cepat

Pneumonia berat

: retraksi

Pneumonia sangat berat :tidak dapat minum/makan, kejang,


letargis, malnutrisi

World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: Bina Mulia; 2005.

Tanda Impending
Distress

Pemeriksaan darah rutin


Hemoglobin

13,0 gr/dl

Leukosit

15.700 mm3

Trombosit

348.000 mm3

Hematokrit

40,4 %

Eritrosit

6,50 x 106/uL

Pada pneumonia virus dan juga


pada pneumonia mikoplasma
umumnya ditemukan leukosit
dalam batas normal atau
sedikit meningkat.
Pada pneumonia bakteri
didapatkan leukositosis yang
berkisar antara 15.00040.000/mm3 dengan
predominan PMN. Leukopenia
(< 5.000/mm3) menunjukkan
prognosis yang buruk.

Pneumonia virus atau mikoplasma


Pnemonia bakteri yang telah
mendapat antibiotik sebelumnya
Rahajoe, Nastiti N, Bambang Supriyatno, dan Darmawan Budi Santoso.
Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2008

Infiltrate

Gambaran radiologis

Rahajoe, Nastiti N, Bambang Supriyatno, dan Darmawan Budi Santoso.


Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
2008

Terapi antibiotik
pneumonia
Pilihan antibiotik intravena yang dianjurkan adalah ampisilin dan
kloramfenikol, co-amoxiclav, ceftriaxone, cefuroxime dan
cefotaxime.
Apabila pilihan terapi antibiotik tersebut tidak dapat memperbaiki
klinis pasien, maka bisa dipertimbangkan untuk pemberian
meropenem.
Dosis Ampisilin 100 mg/kgBB/hari tiap 6 jam
Dosis Klorampenikol 100 mg/kgBB/hari tiap 6 jam

Inj ampisilin 3 x 250 mg IV


Inj chloramfenikol 3 x 150 mg IV
Inj. Ampisilin 242 mg / 6 jam (IV)
Inj. Chloramfenikol 242/ 6 jam (IV)

Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandraputra EP,


Harmoniati ED. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia; 2010.

Pemberian Beta Agonis


dan kortikosteroid
Pemberian nebulisasi dengan Beta antagonis diberikan untuk
memperbaiki mucociliary clearance.
Pemberian beta agonis dan dexamethason juga bertujuan untuk
mengevaluasi apakah terdapat perbaikan pada pernafasan pasien
karena pada pasien ini dicurigai asma sebab terdapat riwayat asma
pada keluarga

Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandraputra EP,


Harmoniati ED. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia; 2010.

Susp. PJB
Keluhan yang
sama 1 bulan yang
lalu

Pneumonia
berulang

Gejala gagal
jantung (+)

Willar, Rocky dan J. M. Wantania. Beberapa Faktor yang Berhubungan


dengan Episode Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Anak dengan
Penyakit Jantung Bawaan.Sari Pediatri, Vol. 8, No. 2, 2006: 154 158

Pertahanan host kurang


Defisiensi pada lokal
paru
Penyakit jantung
bawaan
(VSD,ASD,PDA)

VSD menempati jumlah


kasus terbanyak pada
penyakit jantung bawaan
non sianotik (30,5%),
kemudian ASD (19,1%),
PDA (17%)

GAGAL JANTUNG
Kesulitan
Lemah
Makan
Penurunan
Tidak
Bengkak
Gejala
Peningkatan
cukup
saluran
(mudah
tidak
pada
bernafas
nafsu
JVP
nutrisi
adekuat
ekstremitas
cerna
lelah)
makan atau palpbera

Penyebab dari gagal jantung :


PJB
Demam rematik akut
Anemia berat
Pneumonia sangat berat
Gizi buruk

Gejala VSD
Defek septum ventrikel kecil

Dari gejala klinis dan hasil foto thorax


VSD pada pasien kemungkinan defek
sedang-besar
Wahab AS. Ventrikel Septal defek. Dalam: Kardiologi Anak: Penyakit
Jantung Tidak sianotik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006:
37-67

Gambaran Radiologis
Apabila VSD besar dengan shunt
kiri ke kanan yang besar,
gambarannya:
Hipertrofi beventrikular
Hipertrofi atrium kiri
Pembesaran batang arteri
pulmonalis (tonjolan pulmonal
prominen).
Corakan pulmonal bertambah
(plethora)
Kesan:
Cor : CTR 62% (kardiomegali)
Pulmo: corakan vaskularisasi paru
bertambah.

Terapi PJB dengan


Gagal Jantung

I. Meningkatkan curah jantung

Kekuatan kontraksi
ventrikel

Dengan preparat inotropik


(dobutamin, dopamin, digoksin
(digitalis), amrinon/milrinon

Pada kasus diberikan


digoksin 2x0,03 mg (oral)

Wahab AS. Gagal Jantung. Dalam: Kardiologi Anak:


Penyakit Jantung Tidak sianotik. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2006: 37-67

Frekuensi kontraksi
untuk memperpanjang
waktu pengisian

Dengan preparat beta blocker


(propanolol, metorolol)

.Dosis digitalisasi dapat diberikan dalam


1-3 hari, < 2 tahun 0,04-0,08 mg/kgBB,
maintenance 25-33% dari dosis awal.

Digoksin 2 x 0,19 mg oral

Terapi PJB dengan


Gagal Jantung

II. Menurunkan Aliran Balik dengan


menurunkan kerja jantung

Menurunkan preload

Furosemid 2 x 4,85 mg
(oral)

dosis 1-2 mg/kgBB/hari

Pada kasus
Furosemid 2x4 mg
(oral)

1. Dilatasi vena,
sehingga darah
yang kembali ke
jantung jadi
lambat (preparat
nitrat)
2. Cairan
intravaskular
dengan pemberian
diuretik

Menurunkan afterload

Pada kasus
captopril 2x 3 mg
(oral)
dosis 1 mg /kgBB/hari

Captopril 2 x 4,85
mg (oral)

Dilatasi arteri,
sehingga
terjadinya
penurunan
resistensi arteri
(dengan preparat
ACE inhibitor)

Wahab AS. Gagal Jantung. Dalam: Kardiologi Anak:


Penyakit Jantung Tidak sianotik. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2006: 37-67

Prognosis
Vitam
: dubia ad malam
Sanactionam : dubia ad malam
Fungsional
: dubia ad malam

TERIMAKASIH