Anda di halaman 1dari 6

STRATEGI PEMENANGAN PILKADA JAKARTA JOKOWI DAN AHOK

DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI POLITIK


Disusun oleh:
Muhammad Ridwan Aziz (09413244053)
Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Yogyakarta
Mata Kuliah Sosiologi Politik
Dosen Pengampu: Dr. Suharno, M. Si dan Nur Hidayah M.Si
A. PENDAHULUAN
Pemilu yang dalam hal ini adalah pilkada merupakan salah satu sarana pelaksanaan
kedaulatan rakyat yang berdasarkan pada demokrasi perwakilan. Pilkada Jakarta misalnya,
yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2012 mendatang, dimana dalam Pilkada
tersebut rakyat akan menentukan siapa yang nantinya akan menjadi orang nomor satu di
Jakarta selanjutnya. Dari banyak calon peserta pilkada, ada satu calon yang kontroversi
dalam pilkada tersebut, mereka adalah pasangan Joko Widodo (dipanggil Jokowi) dan
Basuki Tjahja Purnama (dipanggil Ahok). Mereka merupakan calon yang bukan berasal dari
Jakarta, Jokowi berasal dari Solo, dan Ahok berasal dari Bangka Belitung. Meskipun
demikian, nama-nama pasangan calon yang diusung oleh partai PDI-P dan GERINDRA ini
merupakan orang-orang nomor satu di daerahnya. Jokowi misalnya, sampai sekarang Ia
masih menjabat sebagai Walikota kota Solo.
Ada yang menarik dari pasangan ini, memanfaatkan jejaring sosial di internet untuk
kampanye mereka, yang menurut Dan Nimmo (1993) disebut sebagai saluran komunikasi
interpersonal berperantara. Menurut Jokowi memanfaatkan jejaring sosial di internet ini
bisa menghemat dana kampanye (Harian Jogja, 28/03/2012). Hal tersebut serupa dengan
yang dilakukan Janet Gray Hayes, wanita pertama yang terpilih menjadi Walikota San Jose,
California pada tahun 1974. Ia menggunakan saluran interpersonal berperantara, yakni
memasang Hayes Hotline, sambungan telepon langsung ke kantor kampanyenya yang
memungkinkan orang berbicara secara pribadi kepadanya tentang masalah-masalah yang
mendapat perhatiannya (Dan Nimmo, 1993:168).

Dengan demikian, dari pemaparan di atas penulis akan menyampaikan dalam tulisan ini
mengenai strategi pemenangan yang dilakukan oleh pasangan ini. Strategi pemenangan yang
akan dibahas adalah mengenai bagaimana pasangan tersebut menggunakan strategi
komunikasi politiknya untuk memenanangi Pilkada Jakarta yang akan berlangsung pada
tanggal 11 Juli 2012 mendatang. Strategi komunikasi politik tersebut diantaranya meliputi
(1) pembicaraan politik pasangan dalam mempengaruhi rakyat Jakarta, (2) kelembagaan
yang diusung, dan (3) mengenai bagaimana pasangan tersebut memilah dan memilih media
yang digunakan dalam kampanyenya.
B. PEMBAHASAN
1. Pembicaraan Politik Pasangan Jokowi dan Ahok
Berpolitik sama halnya dengan berkomunikasi, yang dalam hal ini adalah mengenai
suatu proses penyampaian pesan kepada khalayak atau melibatkan pembicaraan. Ilmuwan
politik Mark Roelofs (Dan Nimmo, 1993: 8), mengatakan dengan sederhana bahwa Politik
adalah pembicaraan atau lebih tepatnya berpolitik adalah berbicara. Dalam bukunya
Cholisin, dkk (2007: 114) mengatakan bahwa komunikasi politik ialah proses penyampaian
informasi politik dari pemerintah kepada masyarakat dan sebaliknya. Kemudian David V.J.
Bell menjelaskan tiga jenis pembicaraan politik, diantaranya adalah pembicaran kekuasaan,
pembicaraan pengaruh, dan pembicaraan autoritas (Dan Nimmo, 1993: 75).
a. Pembicaraan kekuasaan
Menurut David V.J. Bell pembicaraan kekuasaan berarti mempengaruhi orang lain
dengan ancaman atau janji. Terkait mengenai kasus Jokowi dan Ahok dalam Pilkda
Jakarta, pasangan ini memberikan dukungan janji berupa suatu upaya untuk mengatasi
kemacetan dan menanggulangi banjir (www.suarapembaharuan.com, diakses tanggal
30/03/12 pukul 09.04 WIB). Selain itu, pasangan ini juga akan membuat Satpol PP DKI
Jakarta menjadi santun (http://megapolitan.kompas.com, diakses tanggal 30/03/12 pukul
09.10 WIB) dan akan bertugas di lapangan untuk mengawasi pembangunan dari pada
duduk di kantor (www.centroone.com, diakses tanggal 30/03/12 pukul 09.36 WIB).
Janji-janji pasangan ini dilakukan guna mempengaruhi orang lain (masyarakat) agar
masyarakat mengira kedua pasangan ini nantinya akan melakukan hal tersebut jika
terpilih nanti menjadi Kepala Daerah Jakarta.
b. Pembicaraan Pengaruh

Sama halnya dengan pembicaraan kekuasaan, yaitu mempengaruhi orang lain untuk
mencapai suatu kepentingan tertentu. Namun, terdapat perbedaan dalam alat yang
digunakan untuk mencapai tujuannya. Dalam pembicaraan pengaruh, alat-alat yang
digunakan untuk mencapai tujuan adalah dengan nasihat, dorongan, permintaan, dan
peringatan. Pasangan Jokowi dan Ahok dalam melakukan pembicaraan pengaruh, akan
melakukan kunjungan ke kediaman Sutiyoso, guna berkonsultasi dengannya. Ini mereka
lakukan agar mereka mendapatkan citra yang baik di mata masyarakat Jakarta, karena
masyarakat akan menilai bahwa apa yang dilakukan oleh calon peserta ini tidak gegabah
untuk menjadi kepala daerah nantinya, dan menyebabkan kemungkinan adanya suatu
dorongan dari masyarakat untuk memilih pasangan ini di Pilkada yang akan berlangsung
11 Juli 2012 nanti.
c. Pembicaraan Autoritas
Pembicaraan autoritas lebih merupakan bentuk perintah daripada bentuk bersyarat
(contingen) yang merupakan ciri khas kekuasaan dan pengaruh. Penulis akan mencoba
mengungkapkan mengenai pembicaraan autoritas yang dilakukan oleh pasangan Jokowi dan
Ahok ini. Pembicaraan yang dilakukan oleh pasangan ini, kemungkinan tidak dilakukan
pada saat proses kampanye berlangsung, melainkan dilakukan jika pasangan ini terpilih
nantinya. Direalisasikan atau tidaknya janji-janji yang mereka lakukan pada saat kampanye
tergantung pada mereka.
2. PDI-P dan GERINDRA sebagai Lembaga
Ketokohan seorang politikus, aktivis atau profesional akan meningkat, jika didukung
oleh lembaga yang ternama, atau berkiprah dalam lembaga tersebut. Jadi lembaga
merupakan sebuah kekuatan yang besar dalam membantu proses komunikasi politik yang
efektif. Lembaga adalah wadah kerjasama beberapa orang untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam dunia politik, lembaga itu berupa partai politik parlemen dan pemerintahan, atau
birokrasi. Lembaga-lembaga non-politik, pada dasarnya memiliki juga kekuatan politik,
meskipun kecil dan tentu tidak sama dengan lembaga politik (Anwar Arifin, 2006).
Citra diri partai politik sesuatu yang dipercaya dan diharapkan oleh rakyat tentang apa
yang dilakukan oleh partai politik tersebut. Partai Demokrasi Pembangunan Perjuangan
(PDI-P) dan Partai GERINDRA merupakan partai-partai politik yang sudah mempunyai
kenamaan di Indonesia. Citra diri mereka sudah dibuktikan oleh rakyat, sehingga mereka

pada waktu Pemilu tahun lalu menempati posisi lima besar dalam dunia perpolitikan
Indonesia. Pasangan Jokowi dan Ahok dalam hal ini berharap dengan mengusung partaipartai besar itu menjadikan mereka menang dalam Pilkada 11 Juli 2012 nanti.
3. Pemilihan Media dalam Komunikasi Politik
Penggunaan media dalam komunikasi politik, perlu dipilah dan dipilih dengan cermat
untuk mentesuaikan dengan kondisi dan situasi khalayak. Menurut McLuhan (Anwar Arifin,
2006: 86) eksistensi media adalah sebagai perpanjangan indera manusia. Satu tipe saluran
utama yang menekankan komunikasi satu kepada banyak orang, yaitu komunikasi massa.
Berdasarkan tingkat langsungnya komunikasi, komunikasi massa dibagi menjadi dua, yaitu
komunikasi tatap muka dan komunikasi yang membutuhkan perantara atau komunikasi jarak
jauh (Dan Nimmo, 1993: 168). Untuk komuniksi tatap muka, tidak diperlukan media karena
cukup hanya berbicara di depan khalayak. Sedangkan untuk komunikasi jarak jauh
diperlukan perantara untuk berkomunikasi dengan khalayak, seperti diperlukan penggunaan
media massa, media interaktif (internet, telpon misalnya).
Saluran komunikasi pada kasus pasangan Jokowi dan Ahok dalam Pilkada Jakarta,
mereka menggunakan dua tipe penggunaan komunikasi massa, yaitu komunikasi tatap muka
dan komunikasi jarak jauh. Pertama, dalam penggunaan komunikasi tatap muka, mereka
akan mendatangi masyarakat (www.centroone.com, diakses tanggal 30/03/12 pukul 09.30
WIB). Kedua, dalam penggunaan komunikasi jarak jauh, mereka akan menggunakan media
interaktif internet seperti memanfaatkan jejaring sosial Facebook dan Twitter (Kolom
Nusaraya, Harian Jogja, 28/03/12), dan memberikan nomor telepon mereka kepada
masyarakat (www.centroone.com, diakses tanggal 30/03/12 pukul 09.30 WIB). Hal ini
mereka lakukan guna menghemat dana dan agar masyarakat juga bisa langsung berinteraksi
dengan mereka, dengan memberikan masukkan mengenai keadaan Jakarta. Sementara, Isteri
dari Jokowi, Iriana Joko Widodo, juga membantu dalam kampanye mereka, seperti
memanfaatkan jaringan komunikasi antar alumni untuk mendukung suaminya dalam
pemilihan gubernur DKI Jakarta (dilansir pada www.antaranews.com, diakses tanggal
30/03/12 pukul 09.07 WIB).
C. PENUTUP
Usaha pemenangan yang dilakukan oleh pasangan Jokowi dan Ahok adalah (1)
memberikan dukungan janji untuk mengatasi kemacetan, menanggulangi banjir, dan berjanji

akan membuat Satpol PP di Jakarta bersikap santun kepada masyarakat, serta akan bertugas
di lapangan untuk mengawasi jalannya pembangunan. (2) Dalam memberikan pengaruh,
pasangan Jokowi dan Ahok melakukan kunjungan kepada mantan Gubernur DKI Jakarta
Sutiyoso untuk berkonsultasi mengenai keadaan Jakarta. Hal ini dilakukan untuk
mempengaruhi pola pikir warga agar mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh
Jokowi dan Ahok tidak gegabah, sehingga mendorong masyarakat untuk memilih mereka
dalam pemilihan gubernur nantinya.
(3) Untuk memudahkan mereka dalam melakukan komunikasi politik, mereka
menggunakan PDI-P dan GERINDRA sebagai dasar lembaga mereka. (4) Dalam pemilihan
media komunikasi politik, pasangan ini menggunakan dua pendekatan. Pendekatan yang
pertama dengan melakukan pendekatan tatap muka, yaitu dengan mendatangi setiap warga
masyarakat. Kemudian, pendekatan yang kedua adalah dengan melakukan pendekatan
perantara, yaitu menggunakan media seperti membuat akun jejaring sosial internet
(Facebook dan Twitter) dan memberikan nomor telepon mereka kepada masyarakat. Hal ini
mereka lakukan guna menghemat biaya kampanye dan memudahkan masyarakat untuk
bekomunikasi dengan mereka.
Setelah penulis menjelaskan dengan panjang lebar mengenai langkah-langkah yang
dilakukan Jokowi dan Ahok untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta tanggal 11 Juli 2012
mendatang. Penulis melihat langkah-langkah yang dilakukan oleh pasangan Jokowi dan
Ahok ini bisa dibilang sangat berani karena mereka tidak mengetahui kondisi yang
sebenarnya mengenai tempat dimana mereka akan menjadi seorang pemimpin nantinya.
Namun, penulis juga kagum atas usaha mereka dalam memenangkan pemilihan guburnur
tersebut. Penulis berharap kepada pasangan Jokowi dan Ahok untuk merealisasikan janjijanji mereka, jangan hanya karena ingin mendapatkan simapati dari rakyat sehingga mereka
membuat janji-janji manis seperti yang telah dijelaskan di muka.
D. DAFTAR PUSTAKA
Anwar Arifin. 2006. Pencitraan dalam Politik (Strategi Pemenangan Pemilu dalam
Perspektif Politik). Jakarta: Pustaka Indonesia.
Cholisin, dkk. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Yogyakarta: UNY Press.
Dan Nimmo. 1993. Komunikasi Politik (Komunikator, Pesan, dan Media). Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

Harian Jogja Express. 2012. Jokowi Andalkan Facebook dan Twitter dalam kolom
Nusaraya. Tanggal 28 Maret 2012.
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/03/28/13410248/Jokowi.Akan.Buat.Satpol.PP.D
KI.Lebih.Santun. diakses pada tanggal 30/03/2012 pukul 09.10 WIB.
http://www.antaranews.com/berita/303739/istri-jokowi-galang-dukungan-dari-jaringanalumni diakses pada tanggal 30/03/2012 pukul 09.07 WIB.
http://www.centroone.com/news/2012/03/4s/kampanye-jokowi-ahok-bukan-dengan-kaos/
diakses pada tanggal 30/03/2012 pukul 09.30 WIB.
http://www.centroone.com/news/2012/03/4s/jokowi-mau-jadi-gubernur-jalanan/ diakses
pada tanggal 30/03/2012 pukul 09.36 WIB.
http://www.centroone.com/news/2012/03/4s/jokowi-ahok-ogah-ngoceh-janji-surga/ diakses
pada pukul 09.43 WIB.
http://www.suarapembaruan.com/home/megawati-dengan-jokowi-jakarta-bakalmembaik/18542 diakses pada tanggal 30/03/2012 pukul 09.04 WIB.