Anda di halaman 1dari 2

SEMUA TENTANG HARI SUMPAH PEMUDA

Oleh : Aliessa Kusumastuti


Suara nyanyian katak nan merdu senantiasa menemani setiap malam disaat
musim hujan, dan kini suarapun berganti dengan lantangnya suara ayam jago yang
berkokok. Hawa dingin pagi masih terasa hingga menembus pori-pori kulit.
Alarm di handphone milikku sudah menunjukkan pukul 04.08 WIB, saatnya aku
bergegas bangun untuk menyiapkan segala keperluan sekolah. Aku baru teringat
sekarang adalah Hari Sumpah Pemuda yang ke-85, dari jauh-jauh hari, aku sudah
berencana untuk tidak naik kendaraan sendiri ke sekolah maupun diantarkan. Di garasi,
sudah kusiapkan sepeda onthel jaman dahulu lengkap dengan bendera merah-putih di
belakangnya. Aku ingin menebarkan semangat para pemuda yang ingin bersatu demi
merebut Indonesia dari tangan penjajah.
Selamat Hari Sumpah Pemuda Bunda. seraya memberi pelukan hangat.
Selamat Hari Sumpah Pemuda juga sayang.
Aku berangkat ke sekolah dulu ya Bunda. Melepas pelukan secara perlahan
dan mengecup tangan Bunda.
Hati-hati di jalan sayang.
Siap Bun.
Aku juga sudah berniat untuk berbuat kebaikan yang lebih dari biasanya, aku
ingin semua orang yang kujumpai hari ini merasakan kobaran api semangat yang ada
dalam diriku. Di sepanjang perjalanan aku malah dikatai tidak waras oleh banyak orang.
Dasar orang gila, udah sekolah cuma pake sepeda doang, ada benderanya lagi
buat buntutnya, hahaha. Teriak salah satu pemuda yang sedang nongkrong di pinggir
jalan.
Tapi aku tidak peduli dengan semua itu, kuanggap saja angin lalu. Yang penting
adalah niatku baik untuk memperingati Hari Supah Pemuda dapat terlaksana.
Di sekolah, aku ingin mengajak semuanya mengikuti upacara termasuk tukang
kebun juga, dengan sangat khidmat sehingga terasa upacara kali ini benar-benar berbeda
dari upacara yang setiap hari Senin dilakukan, bahwa hari ini adalah upacara Hari
Sumpah Pemuda yang tak akan pernah terlupakan bagiku. Dengan pengeras suara yang
kupinjam dari Ruang Kesiswaan, aku berlari menuju tengah lapangan dan mengajak
semuanya untuk melaksanakan upacara.

Mari semuanya, kita turun ke lapangan untuk melaksanakan upacara Hari


Sumpah Pemuda diharapkan upacara berjalan dengan khidmat. Ajakku dari tengah
lapangan.
Akhirnya semua sesuai dengan apa yang kuharapkan jauh-jauh hari sebelumnya.
Tapi aku merasa kurang dengan semua ini. Tunggu, apa yang kurang hari ini? Oh ya, aku
lupa bahwa aku akan mengunjungi para pahlawan bangsa di tempat yang damai. Ya
taman makam pahlawan tepatnya. Sebelum ke sana, aku ingin membeli bunga mawar
putih untuk mereka. Aku tidak ingin perjuangan mereka jaman dahulu, disia-siakan di
jaman sekarang.
Tak terasa, matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu. Sesampainya di
rumah, aku langsung bergegas mandi. Setelah itu, aku meminta Bunda untuk bercerita
tentang Hari Sumpah Pemuda sebelum tidur.
Bunda, maukah Bunda bercerita apa saja asalkan menyangkut dengan Hari
Sumpah Pemuda? pintaku seperti anak kecil yang harus didongengkan sebelum tidur.
Pastinya sayang, Bunda akan menceritakan apa yang kamu mau dengan senang
hati. Jawab Bunda tenang.
Setelah Bunda selesai bercerita, aku memegang tangan Bunda dan perlahan
memejamkan mata.
Terimakasih Bunda, sudah mau bercerita tentang Hari Sumpah Pemuda khusus
untukku dan terimakasih juga untuk para pahlawan bangsaku. Bunda, sekarang tiba
saatnya aku untuk beristirahat, aku sudah merasa cukup untuk hari ini. Aku akan tidur
tenang dan panjang tanpa ingin terbangun lagi.
Tangis Bunda, langsung pecah saat itu juga, seakan tak percaya dengan apa yang
telah terjadi.