Anda di halaman 1dari 13

Anastesi general yaltu keadaan tidak sadar yang sifatnya sementara kemudian

diikuti oleh hilangnya nyeri seluruh tubuh akibat pemberian obat anastesi.
Menurut bentuk fasiknya anatesi general terbagi lagi menjadi teknik anastesi
intravena dan anastesi inhalasi. Anastesi inhalasi merupakan salah satu teknik
anastesi general dengan cam memberi kombinasi obat anastesi inhalasi berupa
gas atau cairan yang mudah menguap melalui mesin anastesi untuk dihirup oleh
pasien. Teknik dalam pelaksanaan anastesi umum secara inhalasi balk secara
spontan maupun terkontrol dapat menggunakan sungkup wajah, LMA, ataupun
endotrakeal tube. Anastesi intravena dilakukan hanya dengan menyuntikan obat
Iangsung ke pembuluh darah dan vena. Anastesi total intravena memakai
kombinasi obat anastesi intravena yang berkhasiat hipnotik, analgetik, dan
relaksasi secara berimbang, sehingga memenuhi trias anastetik. (Latief, et al
2010). Untuk TWA, dapat dilakukan teknik penggunaan intubasi dan tanpa
intubasi. Tindakan intubasi dengan ET pada umumnya jarang dilakukan karena
memiliki risiko komplikasi berupa trauma terhadap mukosa saluran nafas antara
lain adallah gej ala tenggorok (nyeri tenggorok, batuk, suara serak) pasca
intubasi. (Sulistyono, 2010). (gambar 1).
Den gan anestesi umum, akan diperoleh trias anestesia, yaitu: (Dobson,
2009)
Hipnosis Oidur)
Analgesia (bebas dan nyeri)
Relaksasi otot
Hipnosis didapat dad sedatif, anestesi inhalasi (halotan, enfluran,
isofluran, sevofluran). Analgesia didapat dad N20, analgetika narkotik, NSAID
tertentu. Obat-obat tertentu misalnya thiopental hanya menyebabkan tidur
tanpa relaksasi atau analgesia, sehingga hanya baik untuk induksi. Hanya eter
yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modem saat ml menggunakan
obat-obat selain eter, maka trias anestesi diperoleh dengan menggabungkan
berbagal macam obat. Eter menyebabkan tidur, analgesia dan relaksasi, tetapi
karena baunya tajam dan kelarutannya dalam darah tinggi sehingga agak
mengganggu dan lambat (meskipun aman) untuk induksi. Sedangkan relaksasi
otot didapatkan dan obat
9

dilakukan insisi standar. Pada umumnya immobilisasi tercapai path 95% pasien,
jika kadamya dinaikkan di atas 30% nilai KAM. Dalam keadaan seimbang tekanan
parsial zat anestetik dalam alveoli sama dengan tekanan zat dalam darah dan
otak tempat kerja obat. Keterbatasan lain bahwa konsep MAC hanya
membandingkan tingkat anestesi saja dan tidak dapat memperkirakan efek
fisiologis pada sistem organ penting seperti fungsi kardiovaskular dan ginjal,
terutama pada pasien berpenyakit menahun. (Latief, 2010).
Menurut Latief (2010), konsentrasi uap anestetik dalam alveoli selama induksi
ditentukan oleh:
a. Konsentrasi inspirasi
lnduksi makin cepat kalau konsentrasi makin tinggi, asalkan tidak terjadi depresi
nafas atau kejang laring. Induksi makin cepat jika disertai oleh N20 (efek gas
kedua).
b. Ventilasi alveolar
Ventilasi alveolar meningkat, konsentrasi alveolar makin tinggi, dan sebaliknya.
c. Koefisien gas / darah
Makin tinggi angkanya, makin cepat larut dalam darah, makin rendah
konsentrasi dalam alveoli, dan sebaliknya.
d. Curahjantung atau aliran darah pam
Makin tinggi curahjantung, makin cepat uap diambil darah.
e. Hubungan ventilasi perfiisi
Gangguan hubungan mi memperlambat ambilan gas anestetik.
Sebagian besar gas anestetik dikeluarkan lagi oleh paru-paru. Sebagian lagi
dhnetabolisir oleh hepar dengan sistem oksidasi sitokrom P450. Sisa
metabolisme yang larut dalam air dikeluarkan rnelalui ginjal. Beberapajenis agen
anestesi umum inhalasi yang sering dipakai menurut (Latief, 2010):
a. N20 (gas gelak, nitrous oxide, dinitrogen monoxida)
N20 dalam ruangan berbentuk gas tak berwama, bau manis, tak iritasi, tak
terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara. Zat mi dikemas dalam bentuk cair,
dalam silinder warna biru 9000 liter atau 1800 liter dengan tekanan 750 psi
11

atau 50 atm. Pemberian anestesia dengan N20 hanis disertai 02 minimal 25%.
Gas mi bersifat anestesi lemah, tetapi analgesinya kuat, sehingga sering
digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Jarang digunakan
sendirian, tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain. Pada akhir
anestesia setelah N20 dihentikan maka N20 akan cepat keluar mengisi alveoli,
sehingga terjadi pegenceran 02 dan terjadilah hipoksia difusi. Untuk
menghindarinya, berikan 02100% selama 5-10 menit.
b. Halotan
Merupakan turunan etan, berbau enak dan talc merangsang jalan nafas. Halotan
hams disimpan dalam botol gelap (cokiat tua) supaya tidak dirusak oleh cahaya
dan diawetkan oleh timol 0,01%. Selain untuk induksi dapatjuga untuk
laringoskopi intubasi. Pada nafas spontan rumatan anestesia sekitar 1-2 vol %
dan path nafas kendali sekitar 0,5 1 vol % yang tentunya disesuaikan dengan
respon Minis pasien. Halotan menyebabkan vasodilatasi serebral, meninggikan
aliran darah otak yang sulit dikendalikan dengan teknik anestesia hiperventilasi,
sehingga tidak disukai untuk bedah otak.
c. Enfluran
Merupakan halogenasi eter dan cepat poluer setelah ada kecurigaan gangguan
fungsi hepar setelah pengunaan ulang oleh halotan. Kombinasi dengan adrenalin
lebih aman 3 kali dibanding halotan. Di metabolisme hanya 2-8% oleh hepar
menjadi produk non volatil yang dikeluarkan lewat urin. Sisanya dikeluarkan
lewat pam dalam bentuk ash. Induksi dan puhih anestesi Iebih cepat
dibandingkan halotan. Efek depresi nafas lebih kuat, depresi terhadap sirkulasi
lebih kuat, dan lebih iritatif dibandingkan halotan, tetapi jarang menimbulkan
aritmia. Efek relaksasi terhadap otot lurik lebih balk dibandingkan halotan.
d. Isofluran
Merupakan halogenasi eter yang pada dosis anestetik atau sub anestetik dapat
menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen, tetapi meninggikan aliran
darah otak dan tekanan intrakranial, namun hal mi dapat dikurangi dengan
teknik anestesia hiperventilasi, digunakan untuk bedah otak.
12

Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga digemari
untuk anesthesia teknik hipotensi dan banyak digunakan pada pasien dengan
gangguan koroner. Isofluran dengan konsentrasi> 1% terhadap uterus ham ii
menyebabkan relaksasi dan kurang responsive jika diantisipasi dengan oksitosin,
sehingga dapat menyebabkan perdarahan pasca persalinan. Dosis pelumpuh
otot dapat dikurangi sampai 1/3 dosis biasa jika menggunakan isofluran.
e. Sevoflurane
Merupakan halogenasi eter. lnduksi dan pulih dan anestesi lebih cepat
dibandingkan dengan isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak
merangsangjalan nafas, sehingga digemari untuk induksi anestesia inhalasi di
samping halotan. Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang menyebakan
aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat sama seperti isofluran dan belum ada
laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian dihentikan sevofluran cepat
dikeluarkan oleh badan. Belum ada laporan yang membahayakan terhadap
tubuh manusia.
Padajenis anastesi umum inhalasi ada dua pola pemafasan pada pasien, yakni
spontan dan control. Pola nafas spontan dilakukan pada operasi kecil, keadaan
umum pasien balk, lokasi di permukaan tubuh kecuali di daerah kepala leher,
posisi terlentang dan durasi kurang lebih 30 menit dan menggunakan sungkup
muka. Hati-hati terhadap obstruksi jalan nafas dan depresi nafas. Sedangkan
pola nafas kendali atau nafas bantu (control) dilakukan pada operasi besar dan
lama. Nafas kendali yang diberikan sebaiknya dilakukan dengan tangan
(manual), (Mangku, Senaphati, 2010).
Adapun teknik dalam pelaksanaan anastesi umum secara inhalasi balk secara
spontan maupun terkontrol seperti berikut ml:
1. Inhalasi sungkup muka
Komponen trias anastesi yang dipenuhi adalah: hipnotik, analgesia dan relaksasi
otot ringan. Menggunakan sungkup muka dengan pola nafas spontan. Dengan
indikasi: pada operasi kecil dan sedang di daerah permukaan tubuh, berlangsung
singkat dan posisi terlentang tanpa
13

membuka rongga perut. Keadaan umum pasien cukup baik balk (Status ASA I&ll),
lambung dalam keadaan kosong. Kontraindikasi dan teknik mi adalah operasi di
daerah kepala dan jalan nafas serta operasi dengan posisi miring atau
tertelungkup. Teknik mi termasuk dalam inhalasi tipe pernafasan spontan.
2. Inhalasi Sungkup Earing (LMA)
Merupakan teknik anastesi inhalasi dengan pola nafas spontan. Komponen trias
anastesi yang dapat dipenuhi adalah hipnotik, analgesia dan relaksasi otot
ringan. Indikasi dan penggunaannya adalah pada operasi kecil dan sedang di
daerah permukaan tubuh berlangsung singkat dan posisinya terlentang. Yang
menjadi kontraindikasi adalah operasi di daerah rongga mulut, operasi dengan
posisi tertelungkup. Teknik inhalasi mi termasuk tipe inhalasi spontan.
3. Inhalasi pipa endotrakeal (PET) nafas spontan
Komponen yang dipenuhi dari tnias anastesi pada penggunaan teknik mi adalah
hipnotik, analgesia, dan relaksasi otot (ringan). Indikasi dan penggunaan teknik
mi adalah untuk operasi di daerah kepala-leher dengan posisi terlentang,
berlangsung singkat dan tidak memerlukan relaksasi otot yang maksimal. Teknik
liii tidak dianjurkan pada operasi intracranial, torakotomi, laparotomy, operasi
dengan posisi khusus (misalnya miring atau tengkurap) dan operasi yang
berlangsung lama (lebih dari 1 jam).
4. Inhalasi pipa endotrakeal (PET) nafas kendali (Control Respiration)
Teknik mi dilakukan pada operasi kraniotomy, torakotomy, laparotomy, operasi
dengan posisi khusus misalnya posisi miring seperti operasi ginjal, tengkurap
seperti operasi pada tulang belakang, juga indikasi untuk operasi yang
berlangsung lama (>Ijam). Kontra indikasi penggunaan teknik mi berhubungan
dengan efek farmakologi obat yang digunakan. Ketiga komponen trias anastesi
dapat dipenuhi oleh teknik mi.
14

2,4 Tatalaksana Anastesia dan Reanimasi


2.4.1 Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat-obatan sebelum induksi baik secara oral,
intramuscular, intravena maupun perektal. Manfaat dan kegunaan dan
premedikasi masih menjadi perdebatan diantara pam ahli,ada yang mengatakan
bahwa premedikasi path anak-anak tidak diperlukan karena akan menimbuilcan
trauma yang akan dibawa sampai dewasa. Jackson pada tahun 1951,
mengatakan bahwa pemberian premedikasi pada bayi/anak tidak diperlukan
apabila persiapan persiapan prabedah telah dilakukan dengan balk, sedangkan
Eckenhoff(1953) mengatakan bahwa pemberian premedikasi dapat
membahayakan dan Hodges pada tahun 1960 menyatakan bahwa premedikasi
merupakan trauma path anak/bayi. Pada tahun 1982, Kay menyimpulkan, bahwa
untuk penderita rawat jalan tidak perlu dibenikan premedikasi. Terlepas dani
perlu atau tidaknya premedikasi pada anak, maksud dan tujuan dan premedikasi
yang terpenting adalah:
1. Untuk menghilangkan atau mengurangi rasa takut, cemas dan gelisah
sehingga anak menjadi tenang ketika masuk kamar operasi.
- Anak yang normal, apabila path prabethh telah dipersiapkan dengan balk dan
diberikan premedikasi, biasanya path waktu masuk kekamar bedah akan tenang
dan kooperatif.
2. Memudahkan dan melancarkan induksi anastesi
3. Mencegah terjadinya perubahan perubahan psikollogis atau perilaku pasca
anastesi/bedah.
4. Mengurangi secret pada saluran nafas dan rongga mulut.
5. Sebagai vagolitik- mencegah timbulnya reflex vagal akibat obat anastesi,
rangsangan fisik, atau manipulasi pembedahan. Path neonates ataupun path
bayi umumnya tidak dipenlukan pemberian premedikasi karena tidak begitu
bennanfaat.

15

Jenis Obat Premedikasi


Sesuai dengan maksud dan tujuan dan premedikasi, maka obat yang dipilih
umumnya dan golongan anti kholenergik, sedative hipnotik dan narkotik
analgetik.
1. Golongan Anti Kholinergik
Sulfas Atropin dan Skopolamin
Atropin iebih unggul dibandingkan skopolamin untuk mengendalikan bradikardia
dan aritmia lainnya terutama pada bayi usia < 6 bulan. Biasanya bradikardia
timbul karena manipulasi pembedahan atau karena obat-obat anastesi seperti
halothan dosis tinggi dan suksinikolin. Sedangkan apabila diharapkan
mengurangi sekresi air liur (Drying Effect) yang disertai clengan efek sedasi dan
amnesia maka sebaiknya dipilih skopolamin.
Dosis Sulfas Atropine: 0,02-0,03 mgfkgBB IM, anak <12 bin 0.01-0.02 mglkgbb,
1-3 tahun 0.Ollkgbb dengan dosis minimal 0.1 IV
Dosis Seopolamin : Usia 1 tahun: 0,10 mg Usia 1-5 tahun :0,15 mg
Usia 6-10 tahun : 0,20 mg (Atropin dan
skopolamin sebaiknya tidak diberikan kepada penderita dengan suhu tinggi dan
takikardia.
Glikopirolat
Merupakan senyawa garam amonium kwartener dengan khasiat anti kholinergik
yang kuat dan panjang efek sampingnya tidak begitu kuat disbanding dengan

sulfas atropine. Glikopirolat sering digunakan sebagai alternative pilihan lain


selain atropi. Dosis: 5- 10 U gr/kgBB intravena.
16

2. Golongan Hipnotik Sedatif


Diazepain
Merupakan obat golongan sedative yang banyak digunakan
sebagai premedikasi untuk anak, karena berkhasiat menenangkan
pada sekitar 80% kasus tanpa mendepresi nafas dan sedikit sekali
menimbulkan muntah.
Dosis : IV atau TM : 0,2OmgIkgBB
Per Oral : 0,25 -0,50 mg/kgBB
Per Rectal: 0,40-0,50 mg/kgBB
Midazolam Termasuk golongan benzodiazepine yang mudah larut
dalam air dengan waktu bkerja sangat cepat dan lama kerja tidak
terlalu lama dapat diberikan secara parenteral dan oral.
Dosis : IM: 0,05 mgfkgBB
Per Oral: 7,5-15mg
Per rectal : 0,35-0,45 mglkgBB

Anak : 0.5-1 mg/kgbb perektal


Promethazine
Termasuk golongan antihistamin yang mempnnyai efek sedasi cukup baik, dapat
diberikan secara per oral dengan dosis lmg/kgBB. Dosis maksimal 30mg.
Trimeprazine (Valergan)
Telah digunakan untuk premedikasi pada anak sejak tahun 1959, dalam bentuk
larutan dengan dosis 2-4 mglkgBB. Per Oral 2 jam sebelum induksi. Dengan dosis
mi cukup efektif untuk anak usia 2-10 tahun. Kerugian dan obat liii menimbulkan
takikardia post operatif tetapi keuntungannya selain menimbulkan sedasi, juga
bersifat anti emetic.
Barbiturat
Terdapat dua sediaan yang sering digunakan untuk
premedikasi yaitu Pentobarbitone (Nembutal) dan Quinal
17

Barbitone (Seconal) diberikan secara oral 1,5 jam pra bedah dengan dosis 2-5
mg/kgBB. Obat mi tidak pernah diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan karena
metabolismenya lama dan juga tidak dianjurkan untuk diberikan secara
intramuscular karena akan menimbulkan rasa sakit, aekrosis dan abses.
3. Golongan Narkotik Analgetik
Narkotik jarang diberikan sebagai obat premedikasi path bayilanak kecil karena
sering menimbulkan rasa pusing, mual, muntah dan sampai depresi pernafasan.
Pemberian morfin biasanya diberikan atas indikasi adanya cacat jantung bawaan
yang sianotik dengan dosis 0.05-0,20 mg/kgBB, 1 jam pra bedah. Meperidine
(Pethidin) merupakan obat golongan narkotik dengan sedasi ringan dan juga
sering menimbulkan muntah sehingga jarang dipergunakan untuk premedikasi
pada anak. Methadone merupakan obat golongan narkotik yang dapat diberikan
per oral dengan dosis 0,1- Omg/kgBB
2.4.2. Induksi Anastesi
Dan penelitian didapatkait bahwa penangkapan (up take) gas gas anastesi pada
pam anak-anak! bayi lebih cepat dibanding orang dewasa karena proporsi
jaringan pembuluh darahnya lebih banyak. Karena hal tersebut diatas induksi
inhalasi pada anak-anak/bayl lebih cepat dibanding orang dewasa dan
ekskresinya pun lebih cepat. Karena hal tersebut diatas banyak ahli anastesi
sering memakai tehnik ml. Tetapi kerugian dan tehnik ml adalah dapat
menimbulkan trauma psikis dan pengalaman yang buruk. Untuk mengatasi
kendala tersebut ada beberapa hal yang penlu diperhatikan:

- Persiapan pre operatifharus lebth baik


- Masker diberi nasa dan warna yang menanik
- Pemasangan masker jangan langsung menutupi muka
- Bisa memakai tehnik single breath
18

Obat Anastesi Untuk Inhalasi :N20/02, Ether, Halothane, Isoflurane, Enflurane.


Untuk persiapan induksi anesthesia sebaiknya sebaiknya kita ingat kata STATICS:
S=ScQ1pe
Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung, Laringo
Scope. P11th yang sesuai dengan usia pasien. Lampu hams cukup
terang.
T=Tubes
Pipa trakea. Pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon (cuffed)
dan> 5 tahun dengan balon.
A=Airway
Pipa mulut-faring (Guedel, orotracheal airway) atau pipa hidung
faring (naso-tracheal airway). Pipa mi untuk menahan Iidah tidak
menyumbat jalan napas.
T=Tape
Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

I Introducer
Mandarin atau stilet dan kawat dibungkus plastic (kabel) yang
mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa trakea mudah
dimasu&kan.
C = Connector
Penyambung antara pipa dan peralatan anesthesia
S = Suction
Penyedot lender, ludah dan lain-lainnya.
2.4.3. Maintanance
Pemantauan standar selama anastesi meliputi EKG kontinu, pemantauan
frekuensi jantung dan suhu tubuh, oksimetri denyut dan kapnografi dan
pengukuran nonivasif tekanan darah secara berulang. Parameter-parameter lain
yang diukur dapat meliputi keluaran urin, darah yang hilang, serta parameterparameter yang berkaitan dengan ventilasi,
19
termasuk oksigen yang dihirup, volume tidal, ventilasi permenit, tekanan
inspirasi puncak pada jalan nafas, dan seluruh aliran gas. Dianjurkan agar
melakukan oengukuran langsung terhadap kadar zat-zat anestetik volatile yang
dihirup dan dihembuskan. Pada kasus-kasus tertentu, dilakukan pengukuran
invasive yang dihirup dan dihembuskan. Pada kasus-kasus tertentu, dilakukan
pengukuran invasive terhadap tekanan arteri, tekanan vena pusat, tekanan arteri
pulmonal, curah jantung, tekanan jepit kapiler pulmonal, fraksi penyemburan
ventrikel kanan, dan kejenuhan oksigen pada arteri pulmonal.
2.4.4. Pasca Anestesi
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama
yang menggunakan general anestesi, maka kita perlu melakukan penilaian
terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke
ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room 4tRR) atau High
Care Unit (HCU). berikut dituliskan beberapa skor yang biasa
digunakan untuk menilai kondisi pasien pasca anestesi.
A. Aidrete Score (dewasa)
Penilaian:
Nilai Wama
Merah muda, 2

Pucat, 1
Sianosis, 0
Pernapasan
Dapat bemapas dalam dan batuk, 2
Dangkal namun pertukaran udara adekuat, 1
Apnoea atau obstruksi, 0
Sirkulasi
Tekanan darah menyimpang <20% dan normal, 2
Tekanan darah menyimpang 20-50 % dan normal, I
Tekanan darah menyimpang >50% dan normal, 0
20

Kesadaran
Sadar, siaga dan orientasi, 2
Bangun namun cepat kembali tertidur, I
Tidak berespons, 0
Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan, 2
Dua ekstremitas dapat digerakkan, 1
Tidak bergerak, 0
Jikajumlahnya> 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan
B. Steward Score (anak-anak)
Penilaian:
Pergerakan
Gerak bertujuan 2
Gerak tak bertujuan 1

Tidak bergerak 0
Pernafasan
Batuk, menangis 2
Pertahankanjalan nafas 1
Perlu bantuan 0
Kesadaran
Menangis 2
Bereaksi terhadap rangsangan I
Tidak bereaksi 0
Jikajumlah> 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
2.5 Hernia
2.5.1 Delinisi Hernia
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dan dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi 21