Anda di halaman 1dari 6

https://sitinuralfiah.wordpress.

com/bahan-ajar-2/sumber-sumber-hukum-islam/

SUMBER-SUMBER HUKUM ISLAM


Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti
wadah ditemukannya dan ditimbanya norma hukum. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al
Quran dan sunah. Selain menggunakan kata sumber, juga digunakan kata dalil yang berarti
keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran. Selain itu, ijtihad, ijma, dan qiyas
juga merupakan sumber hukum karena sebagai alat bantu untuk sampai kepada hukum-hukum
yang dikandung oleh Al Quran dan sunah Rasulullah SAW
Secara sederhana hukum adalah seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang
diakui sekelompok masyarakat; disusun orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat itu;
berlaku mengikat, untuk seluruh anggotanya. Bila definisi ini dikaitkan dengan Islam atau syara
maka hukum Islam berarti: seperangkat peraturan bedasarkan wahyu Allah SWT dan sunah
Rasulullah SAW tentang tingkah laku manusia yang dikenai hukum (mukallaf) yang diakui dan
diyakini mengikat semua yang beragama Islam. Maksud kata seperangkat peraturan disini
adalah peraturan yang dirumuskan secara rinci dan mempunyai kekuatan yang mengikat, baik di
dunia maupun di akhirat.

A. Al Quran
Al Quran berisi wahyu-wahyu dari Allah SWT yang diturunkan secara berangsur-angsur
(mutawattir) kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Al Quran diawali dengan
surat Al Fatihah, diakhiri dengan surat An Nas. Membaca Al Quran merupakan ibadah.
Al Quran merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim berkewajiban untuk
berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi manusia yang
taat kepada Allah SWT yaitu menngikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangnannya
Al Quran memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia.
Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yantg berkaitan dengan iman
kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar
Tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim memilki budi pekerti
yang baik serta etika kehidupan.
Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat dan haji.
Tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam masyarakat
Isi kandungan Al Quran
Isi kandungan Al Quran dilihat dari segi kuantitas dan kualitas.
1. Segi Kuantitas
Al Quran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 ayat, 323.015 huruf dan 77.439 kosa kata
2. Segi Kualitas
Isi pokok Al Quran (ditinjau dari segi hukum) terbagi menjadi 3 (tiga) bagian:
Hukum yang berkaitan dengan ibadah hukum yang mengatur hubungan rohaniyah dengan Allah
SWT dan hal hal lain yang berkaitan dengan keimanan. Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu
Tauhid atau Ilmu Kalam
Hukum yang berhubungan dengan Amaliyah yang mengatur hubungan dengan Allah, dengan
sesama dan alam sekitar. Hukum ini tercermin dalam Rukun Islam dan disebut hukum syariat.
Ilmu yang mempelajarinya disebut Ilmu Fiqih
Hukum yang berkaitan dngan akhlak. Yakni tuntutan agar setiap muslim memiliki sifat sifat
mulia sekaligus menjauhi perilaku perilaku tercela.
Bila ditinjau dari Hukum Syara terbagi menjadi dua kelompok:
Hukum yang berkaitan dengan amal ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, nadzar, sumpah
dan sebagainya yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhannya.
Hukum yang berkaitan dengan amal kemasyarakatan (muamalah) seperti perjanjian perjanjian,
hukuman (pidana), perekonomian, pendidikan, perkawinan dan lain sebagainya.
Hukum yang berkaitan dengan muamalah meliputi:

Hukum yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam berkeluarga, yaitu perkawinan dan
warisan
Hukum yang berkaitan dengan perjanjian, yaitu yang berhubungan dengan jual beli
(perdagangan), gadai-menggadai, perkongsian dan lain-lain. Maksud utamanya agar hak setiap
orang dapat terpelihara dengan tertib
Hukum yang berkaitan dengan gugat menggugat, yaitu yang berhubungan dengan keputusan,
persaksian dan sumpah
Hukum yang berkaitan dengan jinayat, yaitu yang berhubungan dengan penetapan hukum atas
pelanggaran pembunuhan dan kriminalitas
Hukum yang berkaitan dengan hubungan antar agama, yaitu hubungan antar kekuasan Islam
dengan non-Islam sehingga tercpai kedamaian dan kesejahteraan.
Hukum yang berkaitan dengan batasan pemilikan harta benda, seperti zakat, infaq dan sedekah.
Ketetapan hukum yang terdapat dalam Al Quran ada yang rinci dan ada yang garis besar. Ayat
ahkam (hukum) yang rinci umumnya berhubungan dengan masalah ibadah, kekeluargaan dan
warisan. Pada bagian ini banyak hukum bersifat taabud (dalam rangka ibadah kepada Allah
SWT), namun tidak tertutup peluang bagi akal untuk memahaminya sesuai dengan perubahan
zaman. Sedangkan ayat ahkam (hukum) yang bersifat garis besar, umumnya berkaitan dengan
muamalah, seperti perekonomian, ketata negaraan, undang-undang sebagainya. Ayat-ayat Al
Quran yang berkaitan dengan masalah ini hanya berupa kaidah-kaidah umum, bahkan seringkali
hanya disebutkan nilai-nilainya, agar dapat ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Selain ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan hukum, ada juga yang berkaitan dengan
masalah dakwah, nasehat, tamsil, kisah sejarah dan lain-lainnya. Ayat yang berkaitan dengan
masalah-masalah tersebut jumlahnya banyak sekali.

B. Hadits
Hadits merupakan segala tingkah laku Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan,
maupun ketetapan (taqrir). Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al
Quran. Allah SWT telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan
yang disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. Hal ini sejalan dengan firman
Allah SWT: (lihat Al-Quran onlines di google)
!$tBur N39s?#u Aq9$# nr s $tBur N39pktX mYt (#qgtFR$$s 4
Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah, (QS Al Hasyr : 7)
Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku Nabi Muhammad SAW
mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan akhlak mulia. Apabila seseorang bisa
meneladaninya maka akan mulia pula sikap dan perbutannya. Hal tersebut dikarenakan
Rasulullah SAW memilki akhlak dan budi pekerti yang sangat mulia. Hadits sebagai sumber
hukum Islam yang kedua, juga dinyatakan oleh Rasulullah SAW:
Artinya: Aku tinggalkan dua perkara untukmu seklian, kalian tidak akan sesat selama kalian
berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah rasulnya. (HR Imam Malik)
Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki kedua fungsi sebagai berikut.
Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al Quran, sehingga kedunya (Al Quran
dan Hadits) menjadi sumber hukum untuk satu hal yang sama. Misalnya Allah SWT didalam Al
Quran menegaskan untuk menjauhi perkataan dusta, sebagaimana ditetapkan dalam firmannya :
(lihat Al-Quran onlines di google)
Artinya: Jauhilah perbuatan dusta (QS Al Hajj : 30)
Ayat diatas juga diperkuat oleh hadits-hadits yang juga berisi larangan berdusta.
Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Quran yang masih bersifat umum.
Misalnya, ayat Al Quran yang memerintahkan shalat, membayar zakat, dan menunaikan ibadah

haji, semuanya bersifat garis besar. Seperti tidak menjelaskan jumlah rakaat dan bagaimana cara
melaksanakan shalat, tidak merinci batas mulai wajib zakat, tidak memarkan cara-cara
melaksanakan haji. Rincian semua itu telah dijelaskan oelh rasullah SAW dalam haditsnya. Contoh
lain, dalam Al Quran Allah SWT mengharamkan bangkai, darah dan daging babi. Firman Allah
sebagai berikut: (lihat Al-Quran onlines di google)
Artinya: Diharamkan bagimu bangkai, darah,dan daging babi (QS Al Maidah : 3)
Dalam ayat tersebut, bangkai itu haram dimakan, tetap tidak dikecualikan bangkai mana yang
boleh dimakan. Kemudian datanglah hadits menjelaskan bahwa ada bangkai yang boleh
dimakan, yakni bangkai ikan dan belalang. Sabda Rasulullah SAW:




:
,


,





( )
:



Artinya: Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua macam
bangkai adalah ikan dan belalalng, sedangkan dua macam darah adalah hati dan limpa (HR
Ibnu Majjah)
Menetapkan hukum atau aturan-aturan yang tidak didapati dalam Al Quran. Misalnya, cara
menyucikan bejana yang dijilat anjing, dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dicampur
dengan tanah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:


)










(
Artinya: Mennyucikan bejanamu yang dijilat anjing adlah dengan cara membasuh sebanyak
tujuh kali salah satunya dicampur dengan tanah (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Baihaqi)
Hadits menurut sifatnya mempunyai klasifikasi sebagai berikut:
Hadits Shohih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya
bersambung, tidak ber illat, dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit
yang samar-samar yang dapat menodai keshohehan suatu hadits
Hadits Hasan, adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, tapi tidak begitu kuat
ingatannya (hafalannya), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat dan kejanggalan pada
matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang makbul biasanya dibuat hujjah untuk sesuatu hal
yang tidak terlalu berat atau tidak terlalu penting
Hadits Dhoif, adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih syarat-syarat hadits shohih
atau hadits hasan. Hadits dhoif banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat
satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang
tidak dipenuhi
Adapun syarat-syarat suatu hadits dikatakan hadits yang shohih, yaitu:

Rawinya bersifat adil


Sempurna ingatan
Sanadnya tidak terputus
Hadits itu tidak berilat, dan
Hadits itu tidak janggal

C. Ijtihad
Ijtihad ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memecahkan suatu masalah yang tidak
ada ketetapannya, baik dalam Al Quran maupun Hadits, dengan menggunkan akal pikiran yang
sehat dan jernih, serta berpedoman kepada cara-cara menetapkan hukum-hukumyang telah
ditentukan. Hasil ijtihad dapat dijadikan sumber hukum yang ketiga. Hasil ini berdasarkan dialog
nabi Muhammad SAW dengan sahabat yang bernama muadz bin jabal, ketika Muadz diutus ke
negeri Yaman. Nabi SAW, bertanya kepada Muadz, bagaimana kamu akan menetapkan hukum
kalau dihadapkan pada satu masalah yang memerlukan penetapan hukum?, muadz menjawab,
Saya akan menetapkan hukumdengan Al Quran, Rasul bertanya lagi, Seandainya tidak
ditemukan ketetapannya di dalam Al Quran? Muadz menjawab, Saya akan tetapkan dengan
Hadits. Rasul bertanya lagi, seandainya tidak engkau temukan ketetapannya dalam Al Quran
dan Hadits, Muadz menjawab saya akan berijtihad dengan pendapat saya sendiri kemudian,

Rasulullah SAW menepuk-nepukkan bahu Muadz bi Jabal, tanda setuju. Kisah mengenai Muadz
ini menajdikan ijtihad sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam setelah Al Quran dan hadits.
Untuk melakukan ijtihad (mujtahid) harus memenuhi bebrapa syarat berikut ini:
mengetahui isi Al Quran dan Hadits, terutama yang bersangkutan dengan hukum
memahami bahasa arab dengan segala kelengkapannya untuk menafsirkan Al Quran dan hadits
mengetahui soal-soal ijma
menguasai ilmu ushul fiqih dan kaidah-kaidah fiqih yang luas.
Islam menghargai ijtihad, meskipun hasilnya salah, selama ijtihad itu dilakukan sesuai dengan
persyaratan yang telah ditentukan. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW bersabda:



( )


















Artinya: Apabila seorang hakim dalam memutuskan perkara melakukan ijtihad dan ternyata hasil
ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala dan apabila seorang hakim dalam
memutuskan perkara ia melakukan ijtihad dan ternyata hasil ijtihadnya salah, maka ia
memperoleh satu pahala. (HR Bukhari dan Muslim)
Islam bukan saja membolehkan adanya perbedaan pendapat sebagai hasil ijtihad, tetapi juga
menegaskan bahwa adanya beda pendapat tersebut justru akan membawa rahmat dan
kelapangan bagi umat manusia. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda:
( )







Artinya: Perbedaan pendapat di antara umatku akan membawa rahmat (HR Nashr Al
muqaddas)

Dalam berijtihad seseorang dapat menmpuhnya dengan cara ijma dan qiyas. Ijma adalah
kese[akatan dari seluruh imam mujtahid dan orang-orang muslim pada suatu masa dari beberapa
masa setelah wafat Rasulullah SAW. Berpegang kepada hasil ijma diperbolehkan, bahkan
menjadi keharusan. Dalilnya dipahami dari firman Allah SWT: (lihat Al-Quran onlines di google)
Artinya: Hai orang-oran yang beriman, taatilah Allah dan rasuknya dan ulil amri diantara
kamu. (QS An Nisa : 59)
Dalam ayat ini ada petunjuk untuk taat kepada orang yang mempunyai kekuasaan dibidangnya,
seperti pemimpin pemerintahan, termasuk imam mujtahid. Dengan demikian, ijma ulam dapat
menjadi salah satu sumber hukum Islam. Contoh ijam ialah mengumpulkan tulisan wahyu yang
berserakan, kemudian membukukannya menjadi mushaf Al Quran, seperti sekarang ini
Qiyas (analogi) adalah menghubungkan suatu kejadian yang tidak ada hukumnya dengan
kejadian lain yang sudah ada hukumnya karena antara keduanya terdapat persamaan illat atau
sebab-sebabnya. Contohnya, mengharamkan minuman keras, seperti bir dan wiski. Haramnya
minuman keras ini diqiyaskan dengan khamar yang disebut dalam Al Quran karena antara
keduanya terdapat persamaan illat (alasan), yaitu sama-sama memabukkan. Jadi, walaupun bir
tidak ada ketetapan hukmnya dalam Al Quran atau hadits tetap diharamkan karena
mengandung persamaan dengan khamar yang ada hukumnya dalam Al Quran.
Sebelum mengambil keputusan dengan menggunakan qiyas maka ada baiknya mengetahui
Rukun Qiyas, yaitu:

Dasar (dalil)
Masalah yang akan diqiyaskan
Hukum yang terdapat pada dalil
Kesamaan sebab/alasan antara dalil dan masalah yang diqiyaskan
Bentuk Ijtihad yang lain

Istihsan/Istislah, yaitu mentapkan hukum suatu perbuatan yang tidak dijelaskan secara kongret
dalam Al Quran dan hadits yang didasarkan atas kepentingan umum atau kemashlahatan umum
atau unutk kepentingan keadilan

Istishab, yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan telah ditetapkan suatu
dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan dari hukum tersebut
Istidlal, yaitu menetapkan suatu hukum perbuatan yang tidak disebutkan secara kongkret dalam
Al Quran dan hadits dengan didasarkan karena telah menjadi adat istiadat atau kebiasaan
masyarakat setempat. Termasuk dalam hal ini ialah hukum-hukum agama yang diwahyukan
sebelum Islam. Adat istiadat dan hukum agama sebelum Islam bisa diakui atau dibenarkan oleh
Islam asalkan tidak bertentangan dengan ajaran Al Quran dan hadits
Maslahah mursalah, ialah maslahah yang sesuai dengan maksud syarak yang tidak diperoeh dari
pengajaran dalil secara langsung dan jelas dari maslahah itu. Contohnya seperti mengharuskan
seorang tukang mengganti atau membayar kerugian pada pemilik barang, karena kerusakan
diluar kesepakatan yang telah ditetapkan.
Al Urf, ialah urursan yang disepakati oelh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya
Zarai, ialah pekerjaan-pekerjaan yang menjadi jalan untuk mencapai mashlahah atau untuk
menghilangkan mudarat.
D. Pembagian Hukum dalam Islam
Hukum dalam Islam ada lima yaitu:
Wajib, yaitu perintah yang harus dikerjakan. Jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan), maka
yang mebgerjakannya akan mendapat pahala, jika tidak dikerjakan maka ia akan berdosa
Sunah, yaitu anjuran. Jika dikerjakan dapat pahala, jika tidak dikerjakan tidak berdosa
Haram, yaitu larangan keras. Kalau dikerjakan berdosa jika tidak dikerjakan atau ditinggalkan
mendapat pahala, sebagaiman dijelaskan oleh nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya
yang artinya:
Jauhilah segala yang haram niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah. Relalah dengan
pembagian (rezeki) Allah kepadamu niscaya kamu menjadi orang paling kaya. Berperilakulah
yang baik kepada tetanggamu niscaya kamu termasuk orang mukmin. Cintailah orang lain pada
hal-hal yang kamu cintai bagi dirimu sendiri niscaya kamu tergolong muslim, dan janganlah
terlalu banyak tertawa. Sesungguhnya terlalu banyak tertawa itu mematikan hati. (HR. Ahmad
dan Tirmidzi)
Makruh, yaitu larangan yang tidak keras. Kalau dilanggar tidak dihukum (tidak berdosa), dan jika
ditinggalkan diberi pahala
Mubah, yaitu sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan. Kalau dikerjakan tidak
berdosa, begitu juga kalau ditinggalkan.
Dalil fiqih adalah Al Quran, hadits, ijma mujtahidin dan qiyas. Sebagian ulama menambahkan
yaitu istihsan, istidlal, urf dan istishab.
Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannya terdiri atas empat macam.
Hukum yang diambil dari nash yang tegas, yakni adanya dan maksudnya menunjukkan kepada
hukum itu
Hukum seperti ini tetap, tidak berubah dan wajib dijalankan oleh seluruh kaum muslim, tidak
seorangpun berhak membantahnya. Seperti wajib shalat lima waktu, zakat, puasa, haji dan syarat
syah jual beli dengan rela. Imam syafiie berpendapat apabila ada ketentuan hukum dari Allah
SWT, pada suatu kejadian, setiap muslim wajib mengikutinya.
Hukum yang diambil dari nash yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu.
Dalam hal seperti ini terbukalah jalan mujtahid untuk berijtihad dalam batas memahami nas itu.
Para mujtahid boleh mewujudkan hukum atau menguatkan salah satu hukum dengan ijtihadnya.
Umpamanya boleh atau tidakkah khiar majelis bagi dua orang yang berjual beli, dalam
memahami hadits:






Dua orang yang jual beli boleh memilih antara meneruskan jual beli atau tidak selama keduanya
belum berpisah. Kata berpisah yang dimaksud dalam hadits ini mungkin berpisah badan atau
pembicaraan, mungkin pula ijab dan kabul. Sperti wajib menyapu semua kepala atau sebagian
saja ketika wudhu, dalam memahami ayat:
Artinya: Dan sapulah kepalamu (QS Al Maidah : 6)

Juga dalam memahami hadits tidak halal binatang yang disembelih karena semata-mata tidak
membaca basmalah.



Alat apapun yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan padanya nama Allah.
Hukum yang tidak ada nas, baik secara qai (pasti) maupun zanni (dugaan), tetapi pada suatu
masa telah sepakat (ijma) mujtahidin atas hukum-hukumnya
Seperti bagian kakek seperenam, dan batalnya perkawinan seorang muslimah dengan laki-laki
non muslim. Di sini tidak ada jalan untuk ijtihad, bahkan setiap muslim wajib mengakui untuk
menjalankannya. Karena hukum yang telah disepakati oleh mujtahdidin itu adalah hukum untuk
seluruh umat, dan umat itu menurut Rasulullah SAW tidak akan sepakat atas sesuatu yang sesat.
Mujtahidin merupakan ulil amri dalam mempertimbangkan, sedangkan Allah SWT menyuruh
hambanya menaati ulil amri. Sungguhpun begitu, kita wajib betul-betul mengetahui bahwa pada
huku itu telah terjadi ijma (sepakat) ulama mujtahidin. Bukan hanya semata-mata hanyan
didasarkan pada sangkaan yang tidak berdasarkan penelitian.
Hukum yang tidak ada dari nas, baik qati ataupun zanni, dan tidak pula ada kesepakatan
mujtahidin atas hukum itu. Seperti yang banyak terdapat dalam kitab-kitab fiqih mazhab. Hukum
seperti ini adalah hasil pendapat seorang mujtahid. Pendapat menurut cara yang sesuai denngan
akal pikirannya dan keadaan lingkungannya masing-masing diwaktu terjadinya peristiwa itu.
Hukum-hukum seperti itu tidak tetap, mungkin berubah dengan berubahnya keadaan atau
tinjauannya masing-masing. Maka mujtahid dimasa kini atau sesduahnya berhak membantah
serta menetapkan hukum yang lain. Sebagaimana mujtahid pertama telah memberi
(menetapkan) hukum itu sebelumnya. Ia pun dapat pula mengubah hukum itu dengan
pendapatnya yang berbeda dengan tinjauan yang lain, setelah diselidiki dan diteliti kembali pada
pokok-pokok pertimbangannya. Hasil ijtihad seperti ini tidak wajib dijalankan oleh seluruh
muslim. Hanya wajib bagi mujtahid itu sendiri dan bagi orang-orang yang meminta fatwa
kepadanya, selama pendapat itu belum diubahnya.