Anda di halaman 1dari 45

REFERAT

TUMOR KOLOREKTAL

Lucky Miftah Saviro


Salman saisar hidayat
2011730095

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Midgut akan
membentuk
usus halus,
kolon asenden,
dan kolon
transversum
proksimal.

Gambar Embriologi Kolon

Hindgut akan
berkembang
menjadi kolon
transversus
distalis, kolon
desenden,
rektum, dan
anus proksimal,

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Penatalaks
Prognosis
anaan
Perkembangan anus dan
rektum pada minggu
kelima sampai kesepuluh
masa gestasi.
A. Closing Plate
(Proktodeum
memisahkan kloaka
dari daerah luar).
Septum urorektal
(panah) menuju ke
bawah untuk membagi
kloaka.
B. Kloaka hampir terpisah
menjadi rektum dorsal
sinus urogenital
ventral. Tailgut
menghilang
C. Penggabungan septum
urorektal dengan
closing plate untuk
membentuk badan
perineum
D. Closing plate

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Usus besar
(kolon & rektum)
berjalan
sepanjang katup
ileosekal sampai
ke anus.

Anatomi Makroskopik Kolon

Secara
anatomis, dibagi
menjadi kolon
asendens, kolon
transversum,
kolon
desendens,
kolon sigmoid,
dan rektum.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Anatomi Mikrsokopik Kolon

Gambar Diameter Kolo

Tiga Cabang Aorta: Aorta asenden, arkus aorta, dan aorta desenden, (Aorta Thoracicus dan Aorta
Abdominis)

Suplai Arteri Kolon

Anatomi Arteri
Rektum

Arteri
Mesenterika
Inferior

Aorta
Abdominal
Arteri Iliaka
Komunis

Arteri Iliaka
Interna

Arteri rektalis
media
Arteri rektalis

Gambar Vena Kolon

Anatomi Vena
Rektum

Vena Mesenterika
Inferior
Vena Iliaka Interna

Vena Cava
Inferior
Vena Iliaka
Komunis

Vena Rektalis Superior

Vena pudenda
Interna

Vena Rektalis
Media

Vena Rektalis Inferior

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Dekat dengan
dinding kolon
Dekat dengan
arteri
Terletak pada
arteri
mesenterika
superior atau
inferior.

Drainase limfatik pada kolon

Terletak pada
cabang utama
pembuluh darah
besar

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Suplai
saraf
kolorektal

Parasimpat
is

Simpatis

T6 T12

L1 L3

Kolon
asenden
dan
transversu
m

Kolon
desenden
dan rektum

N. Vagus
dextra

Nn.
Erigentes
(S2 S4)

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Suplai
saraf
kolorektum

N.
Ganglion
Simpatis

N.
Preganglio
n
parasimpat
is

Pleksus
pelvis

Mengellilingi dan menginervasi prostat, uretra,


vesika semilunaris, vesika urinaria, dan otot dasar
panggul

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Fisiologi Kolon
Absorpsi
Setengah proksimal kolon dapat mengabsorpsi
garam, air, dan vitamin (terutama vit. K) yang
diproduksi oleh bakteri.

Penahan
Setengah distal kolon berfungsi sebagai
penahan feses sementara sampai di keluarkan

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Fisiologi Kolon
Motilitas
Gerakan retropulsif (kolon asenden)
Gerakan tonik (kolon desenden)
Gerakan retropulsif-tonik (peristaltik)

Proteksi
Mukus dan ion bikarbonat melindungi dari asam yang
diproduksi oleh bakteri. Ion bikarbonat dihasilkan oleh
chloride shift, yaitu pertukaran dengan natrium.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Rektum

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Adenokarsinoma kolorektal merupakan keganasan


yang paling umum ditemukan pada traktus GI.
Lebih dari 150.000 kasus baru di Amerika
dan lebih dari 52.000 pasien meninggal tiap
tahunnya, hal ini membuat kanker kolorektal
menjadi pembunuh kedua pada penyakit kanker
di Amerika. (American Cancer Society, 2009).
Insidensinya terbagi rata antara pria dan wanita
dan tetap berada pada angka yang konstan
selama 20 tahun terakhir.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Usia > 50
tahun
(90%
kasus)
Merokok

Kanker
kolorekt
al

IBD

Faktor
herediter
(20%
kasus)

Faktor
diet

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Imaging
Pendekata
Gam
Studies
n Diagnosis

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Penatalaks
anaan

Prognosis

Fotograf
kolonoskopik

Gambaran
histologis

Gambar
sekuens
molekular
genetik pada

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Imaging
Pendekata
Gam
Studies
n Diagnosis

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Penatalaks
anaan

Prognosis

Lokasi Kanker

Embriologi
Manifestasi
Klinis
Gen
Adenomatous

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Imaging
Pendekata
Gam
Studies
n Diagnosis

Kromosom

Kelas Gen

5q

Tumor

Polyposis Coli

suppressor

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Penatalaks
anaan

Prognosis

Insidensi

Fungsi

Keterangan

Adhesi dan komunikasi

Mutasi pada FAP, Gardners

interseluler

dan Turcots syndrome.

Interaksi dan adhesi sel

Pertumbuhan tumor, invasi,

(APC)
Deleted in

18q

Onkogen

Colorectal

dan metastasis

Carcinoma (DCC)
P53

17p

Tumor

Transkripsi faktor untuk gen

>50% kanker kolon

suppressor

yang mencegah pertumbuhan

mempunyai mutasi p53

tumor
K-ras

12p

Onkogen

Transduksi signal

50% kanker kolon


mempunyai aktivitas K-ras

hMSH2, hMLH1,
hPMS1, hPMS2

2p

Mismatch
repair

Memperbaiki kesalahan

HNPCC

replikasi DNA

Gen-gen yang terlibat dalam kanker kolorektal

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Perdarahan saat BAB, feses dapat berwana


hitam, merah marun, ungu hitam, atau merah
segar tergantung pada lokasi keganasan.
Konstipasi atau diare atau obstruksi,
tergantung pada letak keganasan.
Nyeri abdomen
Gejala lain yang tidak umum: kelelahan,
penurunan berat badan, demam, massa pada
abdomen,

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Pada pemeriksaan fisik, mungkin


ditemukan perkusi yang timpani, asites,
dan distensi abdomen.
Jika ada obstruksi, maka patut dicurigai
adanya keganasan kolon.
Perforasi juga dapat ditemukan pada
pasien dengan kanker kolon.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

T1 Menginvasi Submukosa
T2 Invasi tumor ke muskulrasi propria
T3 Tumor menginvasi muskularis propria
ke subserosa atau adventisia

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Stadium T4
(A&C)Invasi tumor ke organ lain atau
struktur lain (misalnya os coccygeus).
(B&D) Perforasi peritoneum viseral dan

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Stadium N1
Dua gambaran stadium N1, yaitu
metastastasis kelenjar
limfonodus regional sebanyak 13 buah

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Stadium N2
Dua gambaran stadium N2,
yaitu metastastasis kelenjar
limfonodus regional sebanyak
>4 buah

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Stadium N2
Dua gambaran stadium N2,
yaitu metastastasis kelenjar
limfonodus regional sebanyak
>4 buah

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Stadium M1
Metastasis jauh limfonodus
non-regional

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Stadium

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Kedalaman

Status Limfonodus

Metastasis Jauh

Stadium 1

T1, T2

N0

M0

Stadium 2

T3, T4

N0

M0

Stadium 3

Seluruh T

Setiap N (Kecuali N0)

M0

Stadium 4

Seluruh T

Setiap N

M1

Stadium karsinoma kolorektal menurut American Joint Committee on


Cancer (AJCC)

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Hitung darah lengkap/Complete Blood


Count (CBC) dapat menunjukkan adanya
anemia.
Tes fungsi hepar dapat menunjukkan hasil
yang abnormal jika sudah terjadi metastasis
ke hepar.
Jika terjadi metastasis ke hepar maka kadar
CEA juga akan ikut meningkat (normal: < 5
ng/mL), namun jika tidak ada metastasis,
kadar CEA juga akan ikut meningkat.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Kolonoskopi
Mampu menilai ukuran tumor, namun tidak
dengan kedalaman invasi tumor.
Dapat juga sambil dilakukan biopsi dan kontrol
perdarahan

Radiologi
Foto polos toraks dilakukan jika adanya
kemungkinan metastasis ke paru sekaligus
menetukan status paru dan jantung
CT-scan hanya dilakukan jika ditemukan
SGOT/SGPT yang abnormal.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Diagnosis
Banding

Penatalaks
anaan

Tujuan penatalaksanaan karsinoma


kolon adalah untuk mengangkat tumor
primer beserta dengan suplai
limfovaskularnya. Karena pembuluh
limfe pada kolon bersamaan dengan
suplai arteri, panjang kolon yang
direseksi bergantung pada pembuluh
darah yang terlibat dalam menyuplai
sel kanker

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Diagnosis
Banding

Penatalaks
anaan

Stadium 0
Eksisi polip seluruhnya.

Stadium I
Kolostomi segmental jika terdapat invasi
limfovaskular dan diferensiasi sel yang luas. Jika
tidak, cukup di eksisi.

Stadium I dan II
Kebanyakan pasien pada karsinoma kolon stadium
I dan II dapat disembuhkan dengan reseksi, namun
ada beberap yang menggunakan terapi ajuvan.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Stadium III
Terapi ajuvan dengan 5-FU dan levamisole.

Stadium IV
Terapi paliatif

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Kemoterapi Ajuvan

Mayo Clinic Bolus: 5-FU 425 mg/m2 + leucovorin 20 mg/m2 pada hari 15 tiap 4
minggu. Total 6 minggu.

Roswell Park: 5-FU 500 mg/m2 + leucovorin 500 mg/m2 per minggu untuk 6
minggu dengan 2 minggu waktu istirahat (tidak minum obat). Total 3 siklus.

Capecitabine: 2000 mg/m2 dalam dua dosis dua kali per hariselama 14 hari, 7
hari istirahat. Total 8 siklus.

FOLFOX 4: Oxaliplatin 85 mg/m2 IV hari 1; leucovorin 200 mg/m2 IV;


fluorouracil 400 mg/m2 IV bolus, diikuti oleh fluorouracil 600 mg/m2 untuk 22
jam selama hari ke-1 dan 2, diberika tiap 14 hari. Total 12 siklus.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Terapi untuk Metastasis


Mayo Clinic Bolus: 5-FU 425 mg/m2 + leucovorin 20 mg/m2 pada hari 15 tiap 4 minggu.

Roswell Park: 5-FU 500 mg/m2 + leucovorin 500 mg/m2 per minggu selama 6 minggu dengan 2 minggu waktu istirahat.

IFL (Saltz Regimen, Triple Therapy): CPT-11 100125 mg/m2 IV tiap 90 min, 5-FU 500 mg/m2, semua diberikan selama 4
minggu dan 2 minggu waktu istirahat.

FOLFOX 4: Oxaliplatin 85 mg/m2 IV hari ke-1; leucovorin 200 mg/m2 IV; fluorouracil 400 mg/m2 IV bolus, diikuti oleh
fluorouracil 600 mg/m2 untuk 22 jam selama hari ke-1 dan 2 diberikan selama 14 hari.

XELIRI: Irinotecan 200250 mg/m2 day 1; capecitabine 7501000 mg/m2 PO dua kali perhari hari ke-114, tiap 21 hari.

XELOX: Oxaliplatin 100 mg/m2 hari ke- 1; capecitabine 7501000 mg/m2 PO BID dua kali perhari hari ke-114, tiap 21
hari.

Bevacizumab: (Avastin) 5 mg/kg IV tiap 14 hari diselingi dengan 5-FU-based chemotherapy.

Cetuximab: (Erbitux) 400 mg/m2 loading dose mencapai 120 menit (minggu ke-1); 250 mg/m2 selama 60 menit per
minggu dosis maintenance, dengan irinotecan atau sebagai single agent pada pasien yang tintoleransi irinotecan.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi
Fisiologi
Kolon

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Reseksi kanker
kolorektal (lingkaran
merah) berdasarkan
letak tumor primer,
suplai darah, dan
drainase limfa.

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Follow up Setelah Reseksi


Dalam 2 tahun pertama, cek tiap 3-4 bulan.
Dua tahun berikutnya, cek tiap 6 bulan
Yang dinilai adalah fungsi usus dan seksual
Cek endoskopi kembali 1 tahun setelah reseksi dan 3
tahun setelahnya.
Kadar CEA juga dicek tiap 3-6 bulan dan CT-scan
abdomen atau pelvis tiap 6-12 bulan

Embriologi
Manifestasi
Klinis

Anatomi,
Posisi,
Vaskular,
dan Inervasi

Temuan
Lab.

Fisiologi

Insidensi

Faktor
Risiko

Patogenesi
s

Imaging
Studies

Pendekata
n Diagnosis

Penatalaks
anaan

Prognosis

Tabel stadium karsinoma kolorektal


dan angka keselamatan selama 5
tahun

Screening
Tipe Pasien

Tes Screening

Populasi umum

FOBT rutin dan


sigmoidoskopi tiap 3-5
tahun atau konoskopi tiap
10 tahun mulai umur 50
tahun

Pasien dengan hubungan


satu keluarga jauh yang
mempunyai riwayat KKR
atau polip ATAU pasien
yang mempunyai
hubungan keluarga inti
dengan riwayat KKR

FOBT rutin dan


sigmoidoskopi tiap 3-5
tahun atau konoskopi tiap
10 tahun mulai umur 50
tahun

Pasien dengan risiko


moderat KKR

Polipelktomi; ulangi
kolonoskopi tiap 3 tahun;

Daftar Pustaka
1. Brunicardi FC, Anderson DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG,
Metthews JB, Pollock RE: Schwartzs Principles of Surgery, 9 th
Edition).
2. Townsend: Sabiston Textbook of Surgery, 17th ed., Copyright
2004 Elsevier.
3. Norton, JA, et al: Surgery. Basic Science and Clinical
Evidence. 2000. Springer.
4. MD Anderson Manual of Medical Oncology. 2007. McGrawHill Company.
5. University of California San Francisco. Rectal Cancer
Diagnosis: Conditions and Treatments. UCSF Medical Centre.
http://www.ucsfhealth.org/conditions/rectal_cancer/diagnosis
.html