Anda di halaman 1dari 26

SKABIES

I. DEFINISI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Sinonim atau nama
lain skabies adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo.(1)
Skabies terjadi baik pada laki-laki maupun perempuan, di semua geografi
daerah, semua kelompok usia, ras dan kelas sosial. Namun menjadi masalah
utama pada daerah yang padat dengan gangguan sosial, sanitasi yang buruk, dan
negara dengan keadaan perekonomian yang kurang. (2,3)
Skabies ditularkan melalui kontak fisik langsung, (skin-to-skin) maupun tak
langsung (pakaian, tempat tidur, yang dipakai bersama). Gejala utama adalah
pruritus intensif yang memburuk di malam hari atau kondisi dimana suhu tubuh
meningkat. Lesi kulit yang khas berupa terowongan, papul, ekskoriasi dan
kadang-kadang vesikel.(4-6)
II.

EPIDEMIOLOGI
Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia

terjangkit tungau skabies.(4) Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi


skabies cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh
jenis kelamin, ras, umur, ataupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang
berkontribusi adalah kemiskinan dan kondisi hidup di daerah yang padat, sehingga
penyakit ini lebih sering di daerah perkotaan. (3)
Terdapat bukti menunjukkan insiden kejadian berpengaruh terhadap musim
dimana kasus skabies lebih banyak didiagnosis pada musim dingin dibanding
musim panas. Insiden skabies semakin meningkat sejak dua dekade ini dan telah
memberikan pengaruh besar terhadap wabah di rumah sakit, penjara, panti asuhan,
dan panti jompo. (3,7)
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak
faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: kebersihan yang

buruk, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologi.


Penyakit ini dapat dimasukkan dalam P.H.S. (Penyakit akibat Hubungan Seksual).
(1)

Sedangkan untuk insiden skabies di negara berkembang menunjukkan siklus


fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan, termasuk Indonesia yang
masih cukup tinggi, terendah di Sulawesi Utara dan tertinggi di Jawa Barat.
Penelitian skabies di Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya oleh Amiruddin, dkk
menemukan insiden penderita skabies selama 1983 1984 adalah 2,7%.
Penelitian di RSUD Dadi Ujung Pandang oleh Abu A, mendapatkan insiden
skabies 0,67% (1987 - 1988).(8)
III.

ETIOLOGI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi

terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Sarcoptes scabiei


adalah parasit manusia obligat yang termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida,
ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Bentuknya lonjong, bagian chepal depan
kecil dan bagian belakang thoracoabdominal dengan penonjolan seperti rambut
yang keluar dari dasar kaki. (1,4,5)
Tungau skabies mempunyai empat kaki dan diameternya berukuran 0,3 mm.
Sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tungau ini tidak dapat
terbang atau melompat namun merayap dengan kecepatan 2,5 cm per menit pada
kulit yang hangat dan hanya dapat hidup selama 30 hari di lapisan epidermis.(3,4)
Skabies betina dewasa berukuran sekitar 0,4 mm dengan luas 0,3 mm , dan
jantan dewasa lebih kecil 0,2 mm panjang dengan luas 0,15 mm. Tubuhnya
berwarna putih susu dan ditandai dengan garis melintang yang bergelombang dan
pada permukaan punggung terdapat bulu dan tulang belakang (denticles).(9)

Gambar 1.

Gambaran morfologi
Sarcoptes scabiei
Dikutip dari kepustakaan 4

Terdapat empat pasang kaki pendek, di bagian depan terdapat dua pasang
kaki yang berakhir dengan perpanjangan peduncles dengan pengisap kecil di
bagian ujungnya. Pada tungau betina, terdapat dua pasang kaki yang berakhir
dengan rambut (Satae) sedangkan rambut pada tungau jantan terdapat pada
pasangan kaki ketiga dan peduncles dengan pengisap pada pasangan kaki
keempat.(9)
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut; setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, tungau jantan akan mati. Tapi kadang-kadang masih dapat
hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau
betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan
kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir
sehari sampai mencapai 40-50 telur yang dihasilkan oleh setiap tungau betina
selama rentang umur 4-6 minggu dan selama itu tungau betina tidak
meninggalkan terowongan. Setelah itu, larva berkaki enam akan muncul dari telur
setelah 3-4 hari dan keluar dari terowongan dengan memotong atapnya. Larva
kemudian menggali terowongan pendek (moulting pockets) dimana mereka
berubah menjadi nimfa. Setelah itu berkembang menjadi tungau jantan dan betina
dewasa. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa
memerlukan waktu antara 8 12 hari.(1,9)

Gamb
Siklus
Hidup

ar 2.

Sarcoptes scabiei
Dikutip dari kepustakaan 10
Tungau skabies lebih suka memilih area tertentu untuk membuat
terowongannya dan menghindari area yang memiliki banyak folikel pilosebaseus.
Biasanya, pada satu individu terdapat kurang dari 20 tungau di tubuhnya, kecuali
pada Norwegian scabies dimana individu bisa didiami lebih dari sejuta tungau.
Orang tua dengan infeksi virus immunodefisiensi dan pasien dengan pengobatan
immunosuppresan mempunyai risiko tinggi untuk menderita Norwegian scabies.
(3,9)

IV.

PATOGENESIS
Reaksi alergi yang sensitif terhadap tungau dan produknya memperlihatkan

peran yang penting dalam perkembangan lesi dan terhadap timbulnya gatal. Alergi
kepekaan terhadap tungau atau produknya tampaknya memainkan peran penting
dalam menentukan perkembangan lesi selain terowongan, dan gatal. Namun,
urutan kejadian imunologi tidak jelas dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Bukti menunjukkan bahwa hipersensitivitas baik langsung dan tipe lambat yang
terlibat.(9)
4

Uji kulit dengan ekstrak tungau memberikan hasil yang meragukan,


meskipun menunjukkan hasil positif pada tes intradermal telah sering diperoleh
pada pasien dalam beberapa bulan infeksi skabies. Tingkat IgE yang normal
dilaporkan dalam satu seri pasien skabies, tetapi dalam penelitian selanjutnya
menunjukkan peningkatan yang signifikan pada banyak individu. Pada dua orang
pasien skabies yang disertai gangguan keratinisasi menunjukkan peningkatan
kadar

eosinofil.

Terbentuknya

papul

dan

nodul

dihubungkan

dengan

hipersensitifitas tipe lambat yang didukung oleh perubahan histologis dan


dominasi infiltrat limfosit T di kulit. Percobaan untuk menentukan apakah ekstrak
Sarcoptes scabiei mempengaruhi sitokin yang di ekspresikan oleh limfosit T
menunjukkan peningkatan produksi IL-10, sehingga hal ini dapat memainkan
peran dalam menekan proses inflamasi dan respon kekebalan tubuh, dan dengan
demikian menunda timbulnya gejala. Pada proses imunologi yang lain, kadar
serum IgG dan IgM yang tinggi serta IgA yang rendah, kembali normal setelah
pengobatan. IgM dan deposit C3 telah dibuktikan pada dermo-epidermaljunction
di area terowongan, dan beredar kompleks imun dalam serum setelah perawatan
skabies. Frekuensi antigen leukosit manusia (HLA)-A11 adalah lebih tinggi di
antara pasien dengan skabies dibandingkan pada populasi orang norwegia normal.
(9)

Kelainan kulit yang menyerupai dermatitis tersebut sering terjadi lebih luas
dibandingkan lokasi tungau dengan efloresensi dapat berupa papul, nodul, vesikel,
urtika dan lainnya. Akibat garukan yang dilakukan oleh pasien dapat timbul erosi,
ekskoriasi, krusta hingga terjadinya infeksi sekunder. (1)
Cara penularan skabies:(4)
1.

Kontak langsung (Kulit dengan kulit, tidur bersama dan hubungan


seksual).

2.

Kontak tidak langsung (melalui benda misalnya pakaian handuk, sprei,


bantal dan lain - lain)
Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau

kadang kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var.animalis
5

yang kadang kadang dapat menulari manusia, terutama pada mereka yang
banyak memelihara binatang peliharaan misalnya anjing. (1)
Jalur utama dari transmisi penularan yaitu kontak langsung antara kulit-kekulit. Namun transmisi dengan cara pakaian bersama atau metode tidak langsung
lainnya sangat langka tetapi mungkin terjadi pada Norwegian scabies (misalnya,
dalam host immunocompromised). Transmisi antara anggota keluarga. Transmisi
seksual juga terjadi.(4)
V.

DIAGNOSIS
1. Gambaran Klinis
Kelainan klinis pada kulit yang ditimbulkan oleh infestasi Sarcoptes
scabiei sangat bervariasi. Meskipun demikian kita dapat menemukan
gambaran klinis berupa keluhan subjektif dan objektif yang spesifik.
Dikenal ada 4 tanda utama atau cardinal sign pada infestasi skabies, yaitu :
(1,11)

1. Pruritus nocturna
Setelah pertama kali terinfeksi dengan tungau skabies, kelainan kulit
seperti pruritus akan timbul selama 6 hingga 8 minggu. Infeksi yang
berulang menyebabkan ruam dan gatal yang timbul hanya dalam beberapa
hari. Gatal terasa lebih hebat pada malam hari.(3,6) Hal ini disebabkan
karena meningkatnya aktivitas tungau akibat suhu yang lebih lembab dan
panas. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita
menjadi gelisah.(11)
2. Menyerang manusia secara berkelompok
Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam
sebuah keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga. Begitu pula
dalam sebuah pemukiman yang padat penduduknya, skabies dapat
menular hampir ke seluruh penduduk. Didalam kelompok mungkin akan
6

ditemukan individu yang hiposensitisasi, walaupun terinfestasi oleh parasit


sehingga tidak menimbulkan keluhan klinis akan tetapi menjadi
pembawa/carier bagi individu lain.(11)
3. Adanya terowongan
Kelangsungan hidup Sarcoptes scabiei sangat bergantung kepada
kemampuannya meletakkan telur, larva dan nimfa didalam stratum
korneum, oleh karena itu parasit sangat menyukai bagian kulit yang
memiliki stratum korneum yang relatif lebih longgar dan tipis. (11)
Lesi yang timbul berupa eritema, krusta, ekskoriasi papul dan nodul
yang sering ditemukan di daerah sela-sela jari, pergelangan tangan bagian
depan dan lateral telapak tangan, siku, aksilar, skrotum, penis, labia dan
pada areola wanita.(3) Bila ada infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi
polimorfik (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain).(11)

Gambar 3. Lesi pada sela jari, penis, dan areola mammae


Dikutip dari kepustakaan 4
Erupsi

eritematous

dapat

tersebar

di

badan

sebagai

reaksi

hipersensitivitas pada antigen tungau. Lesi yang patognomonis adalah


terowongan yang tipis dan kecil seperti benang, berstruktur linear kurang
lebih 1 hingga 10 mm, berwarna putih abu-abu, pada ujung terowongan
ditemukan papul atau vesikel yang merupakan hasil dari pergerakan
tungau di dalam stratum korneum. Terowongan ini terlihat jelas kelihatan
di sela-sela jari, pergelangan tangan dan daerah siku. Namun, terowongan
tersebut sukar ditemukan di awal infeksi karena aktivitas menggaruk
pasien yang hebat.(3)
7

Gambar 4. Tempat-tempat predileksi skabies


Dikutip dari kepustakaan 12
4. Menemukan Sarcoptes scabiei
Apabila kita dapat menemukan terowongan yang masih utuh
kemungkinan besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa
maupun skibala dan ini merupakan hal yang paling diagnostik. Akan
tetapi, kriteria yang keempat ini agak susah ditemukan karena hampir
sebagian besar penderita pada umumnya datang dengan lesi yang sangat
variatif dan tidak spesifik.(11) Diagnosa positif hanya didapatkan bila
menemukan tungau dengan menggunakan mikroskop, biasanya posisi
tungau determined dalam liang, dapat menggunakan pisau untuk teknik
irisan ataupun denggan menggunakan jarum steril, tungau ini mayoritas
dapat ditemukan pada tangan, pergelangan tangan dan lebih kurang pada
daerah genitalia, siku, bokong dan aksila. Pada anak anak tungau banyak
ditemukan dibawah kuku karena kebiasaan menggaruk, pengambilan
tungau ini dengan menggunakan kuret.(13)

2.

Bentuk Klinis
8

Selain bentuk skabies yang klasik, terdapat pula bentuk-bentuk yang tidak
khas, meskipun jarang ditemukan. Kelainan ini dapat menimbulkan kesalahan
diagnostik yang dapat berakibat gagalnya pengobatan. Bentuk-bentuk skabies
antara lain : (11)
1. Skabies pada orang bersih
Skabies yang terdapat pada orang yang tingkat kebersihannya cukup, bisa
salah didiagnosis. Biasanya sangat sukar ditemukan terowongan. Kutu
biasanya hilang akibat mandi secara teratur.(8) Klinis ditandai dengan lesi
berupa papula dan kanalikuli dengan jumlah yang sangat sedikit, kutu
biasanya hilang akibat mandi secara teratur. (11)
2. Skabies nodular
Skabies nodular adalah varian klinik yang terjadi sekitar 7% dari kasus
skabies dimana lesi berupa nodul merah kecoklatan berukuran 2-20 mm
yang sangat gatal. Umumnya terdapat pada daerah yang tertutup terutama
pada genitalia, inguinal dan aksila. Pada nodul yang lama tungau sukar
ditemukan, dan dapat menetap selama beberapa minggu hingga beberapa
bulan walaupun telah mendapat pengobatan anti skabies.(14)
3. Skabies incognito
Penggunaan obat steroid topikal atau sistemik dapat menyamarkan gejala
dan tanda pada penderita apabila penderita mengalami skabies. Akan tetapi
dengan penggunaan steroid, keluhan gatal tidak hilang dan dalam waktu
singkat setelah penghentian penggunaan steroid lesi dapat kambuh kembali
bahkan lebih buruk. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena penurunan
respon imun seluler.(8,11)

Gambar 5. Skabies incognito dengan lesi krusta terlokalisasi pada


penderita dengan pengobatan regimen imunosupresan
Dikutip dari kepustakaan 4
4. Skabies yang ditularkan oleh hewan
Sarcoptes scabiei var canis bisa menyerang manusia yang pekerjaannya
berhubungan erat dengan hewan tersebut, misalnya anjing, kucing dan
gembala. Lesi tidak pada daerah predileksi skabies tipe humanus tetapi
pada daerah yang sering berkontak dengan hewan peliharaan tersebut,
seperti dada, perut, lengan. Masa inkubasi jenis ini lebih pendek dan
sembuh sendiri bila menjauhi hewan tersebut dan mandi bersih-bersih oleh
karena varietas hewan tidak dapat melanjutkan siklus hidupnya pada
manusia.(8,11)
5. Norwegian Scabies (Skabies berkrusta)
Merupakan skabies berat ditandai dengan lesi klinis generalisata berupa
krusta dan hiperkeratosis dengan tempat predileksi pada kulit kepala
berambut, telinga, bokong, telapak tangan, kaki, siku, lutut dapat pula
disertai kuku distrofik bentuk ini sangat menular tetapi gatalnya sangat
sedikit. Dapat ditemukan lebih dari satu juta populasi tungau dikulit. Bentuk
ini ditemukan pada penderita yang mengalami gangguan fungsi imun
misalnya AIDS, penderita gangguan neurologik dan retardasi mental.(3,11)

10

Gambar 6. Norwegian scabies pada plantar


Dikutip dari kepustakaan 4
6. Skabies pada bayi dan anak
Pada anak yang kurang dari dua tahun, infestasi bisa terjadi di wajah dan
kulit kepala sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Nodul pruritis
eritematous keunguan dapat ditemukan pada aksila dan daerah lateral badan
pada anak-anak. Nodul-nodul ini bisa timbul berminggu-minggu setelah
eradikasi infeksi tungau dilakukan. Vesikel dan bula bisa timbul terutama
pada telapak tangan dan jari. (3)
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh
kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki dan sering terjadi infeksi
sekunder berupa impetigo, ektima, sehingga terowongan jarang ditemukan.
Pada bayi, lesi terdapat di wajah.(11)

Gambar 7. Skabies pada anak


Dikutip dari kepustakaan 4

11

7. Skabies Bed-Ridden
Skabies terbaring ditempat tidur dimana penderita kronis dan orang tua
yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang
lesinya terbatas.(8)
3.

Pemeriksaan penunjang
Bila gejala klinis spesifik, diagnosis skabies mudah ditegakkan. Tetapi
penderita sering datang dengan lesi yang bervariasi sehingga diagnosis pasti
sulit ditegakkan. Pada umumnya diagnosis klinis ditegakkan bila ditemukan
dua dari empat cardinal sign. (11) Beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menemukan tungau dan produknya yaitu :
1. Kerokan kulit
Papul atau kanalikuli yang utuh ditetesi dengan minyak mineral atau
KOH 10% lalu dilakukan kerokan dengan meggunakan skalpel steril yang
bertujuan untuk mengangkat atap papula atau kanalikuli. Bahan pemeriksaan
diletakkan di gelas objek dan ditutup dengan kaca penutup lalu diperiksa
dibawah mikroskop.(11)
2. Mengambil tungau dengan jarum
Bila menemukan terowongan, jarum suntik yang runcing ditusukkan
kedalam terowongan yang utuh dan digerakkan secara tangensial ke ujung
lainnya kemudian dikeluarkan. Bila positif, tungau terlihat pada ujung jarum
sebagai parasit yang sangat kecil dan transparan. Cara ini mudah dilakukan
tetapi memerlukan keahlian tinggi.(11)
3. Tes tinta pada terowongan (Burrow ink test)
Papul skabies dilapisi dengan tinta cina, dibiarkan selama 20-30 menit.
Setelah tinta dibersihkan dengan kapas alkohol, terowongan tersebut akan
kelihatan lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta
12

didalam terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran


kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk S.(11)
4. Membuat biopsi irisan (epidermal shave biopsy)
Dilakukan dengan cara menjepit lesi dengan ibu jari dan telunjuk
kemudian dibuat irisan tipis, dan dilakukan irisan superfisial menggunakan
pisau dan berhati-hati dalam melakukannya agar tidak berdarah. Kerokan
tersebut diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan minyak mineral
yang kemudian diperiksa dibawah mikroskop.(11)
5. Biopsi irisan dengan pewarnaan Hematoksilin and Eosin

Gambar 8. Sarcoptes scabiei dalam epidermis (panah) dengan pewarnaan H.E


Dikutip dari kepustakaan 4
6. Uji tetrasiklin
Pada lesi dioleskan salep tetrasiklin yang akan masuk ke dalam
kanalikuli. Setelah dibersihkan, dengan menggunakan sinar ultraviolet dari
lampu Wood, tetrasiklin tersebut akan memberikan efluoresensi kuning
keemasan pada kanalikuli.(11)
VI.

DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis bandingnya adalah:


1. Insect bite (gigitan serangga) :
Karakteristik lesi berupa urtikaria papul eritematous 1-4 mm
berkelompok dan tersebar di seluruh tubuh, sedangkan tungau skabies lebih
suka memilih area tertentu yaitu menghindari area yang memiliki banyak
folikel pilosebaseus.(9,15)
13

Pada umumnya popular urtikaria terjadi akibat gigitan dan sengatan


serangga tetapi area lesinya hanya terbatas pada daerah gigitan dan sengatan
serangga saja sedangkan skabies ditemukan lesi berupa terowongan yang
tipis dan kecil seperti benang berwarna putih abu-abu, pada ujung
terowongan ditemukan papul atau vesikel.(3,15)
Gigitan serangga biasanya hanya mengenai satu anggota keluarga saja,
sedangkan skabies menyerang manusia secara kelompok, sehingga dalam
sebuah keluarga biasanya mengenai seluruh anggota keluarga.(11,15)

Gambar 9. Tampak gigitan serangga berupa bulla


Dikutip dari kepustakaan 15
2. Folikulitis : Merupakan peradangan folikel rambut yang disebabkan oleh
bakteri Stafilokokus berupa makula eritem disertai papul atau pustul yang
ditembus oleh rambut. Berbeda dengan skabies, folikulitis memiliki rasa
gatal dan rasa terbakar pada daerah rambut. Kadang-kadang penyakit ini
ditimbulkan oleh discharge (sekret) dari luka dan abses. Kemudian, lesi
folikulitis muncul pada daerah yang ditumbuhi oleh rambut, sedangkan pada
skabies menghindari area yang memiliki banyak folikel pilosebaseus.(9,16)

Gambar 10. Tampak


Dikutip dari kepustakaan
3.

folikulitis pada kulit


16

Prurigo nodularis: Merupakan tanda klinik yang kronis yaitu nodul yang
gatal dan secara histologi ditandai adanya hiperkeratosis dan akantosis
14

hingga ke bawah epidermis. Sedangkan pada skabies ditemukan Sarcoptes


scabiei di bagian teratas epidermis yang mengalami akantosis. Pada prurigo,
penyebabnya belum diketahui. Namun dalam beberapa kasus, faktor stress
emosional menjadi salah satu pemicu sehingga sulit untuk ditentukan
apakah ini adalah penyebab atau akibat dari prurigo sedangkan pada skabies
disebabkan oleh adanya tungau Sarcoptes scabiei melalui pewarnaan
Hematoksilin-Eosin (H.E).(9,17)

Gambar
Tampak
nodularis

11.
prurigo
di daerah
lengan
Dikutip dari kepustakaan 17

VII.

PENATALAKSANAAN
Terdapat beberapa terapi untuk skabies yang memiliki tingkat efektifitas

yang bervariasi. Faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan yang antara lain
umur pasien, biaya pengobatan, berat derajat erupsi, dan faktor kegagalan terapi
yang pernah diberikan sebelumnya.(3)
Pada pasien dewasa, skabisid topikal harus dioleskan di seluruh permukaan
tubuh kecuali area wajah dan kulit kepala,dan lebih difokuskan di daerah sela-sela
jari, inguinal, genital, area lipatan kulit sekitar kuku, dan area belakang telinga.
Pada pasien anak dan skabies berkrusta, area wajah dan kulit kepala juga harus
dioleskan skabisid topikal. Pasien harus diinformasikan bahwa walaupun telah
diberikan terapi skabisidal yang adekuat, ruam dan rasa gatal di kulit dapat tetap
menetap hingga 4 minggu. Jika tidak diberikan penjelasan, pasien akan
beranggapan bahwa pengobatan yang diberikan tidak berhasil dan kemudian akan
15

menggunakan obat anti skabies secara berlebihan. Steroid topikal, anti histamin
maupun steroid sistemik jangka pendek dapat diberikan untuk menghilangkan
ruam dan gatal pada pasien yang tidak membaik setelah pemberian terapi skabisid
yang lengkap.(3)
a. Penatalaksanaan secara umum
Edukasi pada pasien skabies :

(18)

1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.


2. Pengobatan meliputi seluruh bagian dari kulit tanpa terkecuali baik
yang yang terkena oleh skabies ataupun bagian kulit yang tidak terkena.
3. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan
pada malam hari sebelum tidur.
4. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
5. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan
teratur dan bila perlu direndam dengan air panas
6. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu
walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
7. Setiap orang di yang tinggal dalam satu rumah sebaiknya mendapatkan
penanganan di waktu yang sama.
8. Melapor ke dokter anda setelah satu minggu
b. Penatalaksanaan secara khusus
Ada banyak cara pengobatan secara khusus pada pengobatan skabies dapat
berupa topikal maupun oral antara lain :
a. Permethrin
Permethrin merupakan sintesa dari pyrethtoid, sifat skabisidnya sangat
baik. obat ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan skabies karena
efek toksisitasnya terhadap mamalia sangat rendah dan kecenderungan
keracunan akibat salah dalam penggunaannya sangat kecil. Hal ini
16

disebabkan karena hanya sedikit yang terabsorbsi dan cepat dimetabolisme


di kulit dan deksresikan di urin. Tersedia dalam bentuk krim 5 % dosis
tunggal digunakan selama 8-12 jam, digunakan malam hari sekali dalam 1
minggu selama 2 minggu, apabila belum sembuh bisa dilanjutkan dengan
pemberian kedua setelah 1 minggu. Permethrin tidak dapat diberikan pada
bayi yang kurang dari 2 bulan, wanita hamil, dan ibu menyusui. Efek
samping jarang ditemukan berupa rasa terbakar, perih, dan gatal. Beberapa
studi menunjukkan tingkat keberhasilan permetrin lebih tinggi dari lindane
dan crotamiton. Kelemahannya merupakan obat topikal yang mahal.(11,18)
b. Presipitat Sulfur 2-10%
Presipitat sulfur adalah antiskabietik tertua yang telah lama digunakan,
sejak 25 M. Preparat sulfur yang tersedia dalam bentuk salep (2% -10%)
dan umumnya salep konsentrasi 6% lebih disukai. Cara aplikasi salep sangat
sederhana, yakni mengoleskan salep setelah mandi ke seluruh kulit tubuh
selama 24 jam tiga hari berturut-turut. Keuntungan penggunaan obat ini
adalah harganya yang murah dan mungkin merupakan satu-satunya pilihan
di negara yang membutuhkan terapi massal.(11,13)
Bila kontak dengan jaringan hidup, preparat ini akan membentuk
hidrogen sulfida dan pentathionic acid (CH2S5O6) yang bersifat germisid
dan fungisid. Secara umum sulfur bersifat aman bila digunakan oleh anakanak, wanita hamil dan menyusui serta efektif dalam konsentrasi 2,5% pada
bayi. Kerugian pemakaian obat ini adalah bau tidak enak, mewarnai pakaian
dan kadang-kadang menimbulkan iritasi.(11)
c. Benzyl benzoate
Benzyl benzoate adalah ester asam benzoat dan alkohol benzil yang
merupakan bahan sintesis balsam peru. Benzyl benzoate bersifat
neurotoksik pada tungau skabies. Digunakan sebagai 25% emulsi dengan
periode kontak 24 jam dan pada usia dewasa muda atau anak-anak, dosis
dapat dikurangi menjadi 12,5%. Benzyl benzoate sangat efektif bila
17

digunakan dengan baik dan teratur dan secara kosmetik bisa diterima. Efek
samping dari benzyl benzoate dapat menyebabkan dermatitis iritan pada
wajah dan skrotum, karena itu penderita harus diingatkan untuk tidak
menggunakan secara berlebihan. Penggunaan berulang dapat menyebabkan
dermatitis alergi. Terapi ini dikontraindikasikan pada wanita hamil dan
menyusui, bayi, dan anak-anak kurang dari 2 tahun. Tapi benzyl benzoate
lebih efektif dalam pengelolaan resistant crusted scabies. Di negara-negara
berkembang dimana sumber daya yang terbatas, benzyl benzoate digunakan
dalam pengelolaan skabies sebagai alternatif yang lebih murah.(18)
d. Lindane (Gamma benzene heksaklorida)
Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena, adalah
sebuah insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat tungau. Lindane
diserap masuk ke mukosa paru-paru, mukosa usus, dan selaput lendir
kemudian keseluruh bagian tubuh tungau dengan konsentrasi tinggi pada
jaringan yang kaya lipid dan kulit yang menyebabkan eksitasi, konvulsi, dan
kematian tungau, lindane dimetabolisme dan diekskresikan melalui urin dan
feses.(18)
Lindane tersedia dalam bentuk krim, losion, gel, tidak berbau dan tidak
berwarna. Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke seluruh tubuh
dari leher ke bawah selama 12-24 jam dalam bentuk 1% krim atau losion.
Setelah pemakaian dicuci bersih dan dapat diaplikasikan lagi setelah 1
minggu. Hal ini untuk memusnahkan larva-larva yang menetas dan tidak
musnah oleh pengobatan sebelumnya. Beberapa penelitian menunjukkan
penggunaan lindane selama 6 jam sudah efektif. Dianjurkan untuk tidak
mengulangi pengobatan dalam 7 hari, serta tidak menggunakan konsentrasi
lain selain 1%.(11)
Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas sistem saraf
pusat, kejang, dan bahkan kematian pada anak atau bayi walaupun jarang
terjadi. Tanda-tanda klinis toksisitas SSP setelah keracunan lindane yaitu
sakit kepala, mual, pusing, muntah, gelisah, tremor, disorientasi, kelemahan,
18

berkedut dari kelopak mata, kejang, kegagalan pernapasan, koma, dan


kematian. Beberapa bukti menunjukkan lindane dapat mempengaruhi
perjalanan

fisiologis

kelainan

darah

seperti

anemia

aplastik,

trombositopenia, dan pansitopenia.(18)


e.

Crotamiton krim (Crotonyl-N-Ethyl-O-Toluidine)


Crotamion (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim 10%

atau losion. Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%. Hasil
terbaik telah diperoleh bila diaplikasikan dua kali sehari selama lima hari
berturut-turut setelah mandi dan mengganti pakaian dari leher ke bawah
selama 2 malam, kemudian dicuci setelah aplikasi kedua. Efek samping
yang ditimbulkan berupa iritasi bila digunakan jangka panjang.(11)
Beberapa ahli beranggapan bahwa krim ini tidak direkomendasikan
terhadap skabies karena kurangnya efikasi dan data penunjang tentang
tingkat keracunan terhadap obat tersebut. Crotamiton 10% dalam krim atau
losion, tidak mempunyai efek sistemik dan aman digunakan pada wanita
hamil, bayi dan anak kecil. (18)
f. Ivermectin
Ivermectin

adalah

bahan

semisintetik

yang

dihasilkan

oleh

Streptomyces avermitilis, anti parasit yang strukturnya mirip antibiotik


makrolid, namun tidak mempunyai aktifitas sebagai antibiotik, diketahui
aktif melawan ekto dan endo parasit. Digunakan secara meluas pada
pengobatan hewan, pada mamalia, pada manusia digunakan untuk
pengobatan penyakit filaria terutama oncocerciasis. Diberikan secara oral,
dosis tunggal, 200 ug/kgBB dan dilaporkan efektif untuk skabies.
Digunakan pada umur lebih dari 5 tahun. Juga dilaporkan secara khusus
tentang formulasi ivermectin topikal efektif untuk mengobati skabies. Efek
samping yang sering adalah kontak dermatitis dan toxicepidermal
necrolysis.(11)

19

g. Monosulfiran
Tersedia dalam bentuk lotion 25% sebelum digunakan harus
ditambahkan 2-3 bagian air dan digunakan setiap hari selama 2-3 hari.(11)
h. Malathion
Malathion 0,5% adalah dengan dasar air digunakan selama 24 jam,
pemberian berikutnya beberapa hari kemudian.(11) Namun saat ini tidak lagi
direkomendasikan karena berpotensi memberikan efek samping yang sangat
tinggi.(18)
c. Penatalaksanaan skabies berkrusta
Terapi skabies ini mirip dengan bentuk umum lainnya, meskipun skabies
berkrusta berespon lebih lambat dan umumnya membutuhkan beberapa
pengobatan dengan skabisid. Kulit yang diobati meliputi kepala, wajah, kecuali
sekitar mata, hidung, mulut dan khusus dibawah kuku jari tangan dan jari kaki
diikuti dengan penggunaan sikat di bagian bawah ujung kuku. Pengobatan
diawali dengan krim permethrin dan jika dibutuhkan diikuti dengan lindane dan
sulfur. Mungkin sangat membantu bila sebelum terapi dengan skabisid diobati
dengan keratolitik.(11)
d. Penatalaksanaan skabies nodular
Skabies nodular merupakan salah satu karakteristik skabies yang kronik
mengenai beberapa bagian tubuh seperti genitalia pria dan aksilla. Skabies
seperti ini ditangani dengan anti skabitik disertai dengan pemberian steroid. (18)
e. Pengobatan terhadap komplikasi
Pada infeksi bakteri sekunder dapat digunakan antibiotik oral khususnya
eritromisin.(11)
f. Pengobatan simptomatik

20

Obat antipruritus seperti obat anti histamin mungkin mengurangi gatal yang
secara karakeristik menetap selama beberapa minggu setelah terapi dengan anti
skabies yang adekuat. Pada bayi, aplikasi hidrokortison 1% pada lesi kulit yang
sangat aktif dan aplikasi pelumas atau emolien pada lesi yang kurang aktif
mungkin sangat membantu, dan pada orang dewasa dapat digunakan
triamsinolon 0,1% untuk mengurangi keluhan.(11)
Tabel 1. Pengobatan Skabies (3)

Jenis Obat

Dosis

Keterangan

Krim

Dioleskan selama 8-14 Terapi lini pertama di Amerika

Permethrin

jam, diulangi selama 7 Serikat dan kehamilan kategori B.

5%

hari.

Losion

Dioleskan selama 8 jam Tidak dapat diberikan pada anak

Lindane 1%

setelah itu dibersihkan, umur 2 tahun kebawah, wanita


olesan kedua diberikan 1 selama masa kehamilan dan laktasi.
minggu kemudian.

Krim

Dioleskan selama 2 hari Memiliki efek anti pruritus tetapi

Crotamiton

berturut-turut,

10%

diulangi dalam 5 hari.

Sulfur

Dioleskan selama 3 hari Aman untuk anak kurang dari 2

lalu efektifitasnya tidak sebaik topikal


lainnya.

presipitat 5- lalu dibersihkan.

bulan dan wanita dalam masa

10%

kehamilan

dan

laktasi,

tetapi

tampak kotor dalam pemakaiannya


dan data efisiensi obat ini masih
kurang.
Losion

Dioleskan selama 24 jam Efektif namun dapat menyebabkan


21

Benzyl

lalu dibersihkan

dermatitis pada wajah

Benzoat
10%
Ivermectin

Dosis tunggal oral, bisa Memiliki efektifitas yang tinggi

200 g/kg

diulangi selama 10-14 dan


hari

aman.

Dapat

digunakan

bersama bahan topikal lainnya.


Digunakan
skabies

pada

berkrusta

kasus-kasus
dan

skabies

resisten.
Setelah pengobatan berhasil untuk mematikan tungau, rasa gatal dapat
bertahan dan dirasakan selama 6 minggu sebagai reaksi eksematous. Pasien
dapat diobati dengan pengobatan eksema biasa dengan emolien dan
kortikosteroid topikal dengan atau tanpa antibiotik topikal tergantung adanya
infeksi sekunder Staphylocccus aureus. Antipruritus topikal crotamiton sering
membantu jika kulit gatal dengan hanya sedikit reaksi peradangan. Pasien harus
disarankan bahwa erupsi dari skabies membutuhkan waktu untuk proses
penyembuhan dan sebaiknya berhati-hati dengan penggunaan skabisid yang
berlebihan. (7)
VIII. PENCEGAHAN
Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan skabies, orang-orang
yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal
skabisid. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran
skabies karena seseorang mungkin saja telah mengandung tungau skabies yang
masih dalam periode inkubasi asimptomatik.(3)
Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal,
handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan
dikeringkan dengan udara panas karena tungau skabies dapat hidup hingga 3 hari
22

diluar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya juga harus dibersihkan (vacuum
cleaner).(3)
IX.

KOMPLIKASI
Impegtiginisasi sekunder adalah komplikasi umum ditemukan dan berespon

baik terhadap pemberian antibiotik topikal ataupun oral, tergantung tingkat


piodermanya. Selain itu, limfangitis dan septiksemia dapat juga terjadi terutama
pada skabies Norwegian Scabies, post-streptococcal glomerulonephritis bisa
terjadi karena scabies-induced pyodermas yang disebabkan oleh Streptococcus
pyogens.(3)
X.

PROGNOSIS
Jika tidak dirawat, kondisi ini bisa menetap untuk beberapa tahun. Pada

individu yang immunokompeten, jumlah tungau akan berkurang seiring waktu.(3)


Investasi skabies dapat disembuhkan. Seorang individu dengan infeksi skabies,
jika diobati dengan benar, memiliki prognosis yang baik, keluhan gatal dan
eksema akan sembuh.(7)
XI.

KESIMPULAN
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi

terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya. Penularannya dengan 2


cara, yaitu kontak langsung dan kontak tak langsung. Pada penyakit skabies
ditemukan 4 tanda cardinal yaitu pruritus nocturna, menyerang manusia secara
berkelompok, adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan dan menemukan tungau.
Bentuk kelainan kulit pada penyakit skabies yaitu ditemukannya papul,
vesikel, erosi, ekskoriasi, krusta dan lain-lain, serta bermanifestasi klinis dalam
berbagai variasi. Bila infeksi sekunder telah terjadi dapat disebabkan bakteri yang
ditandai dengan munculnya pustul maupun timbulnya gejala infeksi sistemik

23

Penanganan yang menjadi pilihan utama adalah permethrin 5% topikal yang


dioleskan di kulit 8-12 jam serta edukasi pasien.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Handoko,PR. Skabies. In: Prof.Dr.dr.Adi Djuanda, editor. Ilmu penyakit
kulit dan kelamin. Ed 6. Jakarta. FK UI; 2010.p.122-123
2. Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian) Scabies
Following Systemic And Topical Corticosteroid Therapy. J Korean Med
Sci. 2010; 25: p. 188.
3. Stone SP, Goldfarb JN, Bacelieri RE. Scabies, other mites, and pediculosis
In: Wolff K, Lowell A, Katz GSI, Paller GAS, Leffell DJ, editors.
Fitzpatricks dermatology in general medicine. 7th ed. United state of
America. McGraw-Hill; 2008. p. 2029-2032.
4. Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006; 345: p. 1718-1723.
5. Siregar RS, Skabies. In. Hartanto H, editor. Atlas berwarna saripati
penyakit kulit. Ed 2. Jakarta. EGC; 2005. p.164.
6. Habif TP. Infestations and bites. In: Habif TP, editor. A clinical
dermatology : a color guide to diagnosis and therapy. 4th ed. London.
Mosby; 2004. p. 500.
7. Johnston G, Sladden M. Scabies: Diagnosis and treatment. Bmj journals.
2005; 331: p. 619, 622.
8. Harahap M. Skabies. In: Harahap M, editor. Ilmu Penyakit Kulit.Ed 1.
Jakarta: Hipokrates; 2000. p. 110-113.
9. Burns DA. Diseases caused by arthropods and other noxious animals. In:
Rooks textbook of dermatology. 8th ed. United kingdom. Willey-blackwell;
2010. p. 38.36 38.38.

25

10. Currie JB, McCarthy JS. Permethrin and Ivermectin for Scabies. New
England J Med. 2010; 362: p. 718.
11. Amiruddin MD. Skabies. In. Amiruddin MD, editor. Ilmu Penyakit Kulit.
Ed 1. Makassar: Bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin fakultas
kedokteran universitas hasanuddin; 2003. p. 5-10.
12. Granholm JM, Olazowaki J. Scabies prevention and control manual.
Michigan department of community health. 2005; 1: p. 10.
13. William DJ, Timothy GB, Dirk ME. Parasitic infestations, stings, and
bites. In: Sue Hodgson/Karen Bowler, editors. Andrews Disease of the
skin: Clinical Dermatology. 10th ed. Canada: Saunders Elsevier; 2006. p.
453.
14. Hengge UR, Currie BJ, Jager G, Lupi O, Schwartz RA. Scabies: a
Ubiquitous Neglected Skin Disease. PubMed Med. J. 2006; 6: p. 771
15. Elston DM. Bites and stings. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, Rapini RP,
editors. Bolognia: Dermatology. 2nd ed. USA: Mosby Elsevier; 2008. p. 84
16. Siregar RS, Folikulitis. In. Hartanto H, editor. Atlas berwarna saripati
penyakit kulit. Ed 2. Jakarta. EGC; 2005. p. 50-51
17. Jones JB. Eczema, lichenidentificatio, prurigo and erythroderma. In: Burns
T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks textbook of
dermatology. 8th ed. USA. Willey-blackwell; 2010. p. 23.42 22.43.
18. Karthikeyan K. Treatment of Scabies: Newer Perspectives. Postgraduate
Med J. 2005; 81: p. 8 - 10.

26