Anda di halaman 1dari 10

METABOLISME PROTEIN

BIOSINTESIS ASAM AMINO YANG NONESENSIAL


SECARA NUTRISIONAL
PERAN BIOMEDIS
Keduapuluh asam amino yang terdapat diprotein bersifat esensial bagi
kesehatan. Meskipun relative jarang dijumpai didunia barat, defisiensi asam amino
masih bersifat endemic dibeberapa tempat di Afrika Barat yang sangat mengandalkan
diet dari padi-padian yang kurang mengadung asam amino, seperti triprofan dan lisin.
Penyakit-penyakit ini mencangkup kwashiorkor yang timbul jika anak disapih dengan
makanan yang kaya akan pati, tetapi kurang mengandung protein dan marasmus,
yaitu terjadi defisiensi baik asupan kalori maupun asam amino spesifik.
Manusia dapat membentuk 12 dari 20 asam amino yang umum dari zat-zat
antara amfibolik glikolisis dan siklus asam sitrat. Meskipun secara nutrisional
nonesensial, namun kedua-belas asam amino ini tidak bersifat non esensial. Keduapuluh asam amino tersebut secara biologis esensia. Dari 12 asam amino yang secara
nutrisional nonesensial, 9 buah diantaranya dibentuk dari zat antara amfibolik dan 3
buah (sistein, tirosin, dan hidroksilin) dibentuk dari asam amino yang esensial secara
nutrisional. identifikasi 12 asam amino yang dapat disintesis oleh manusia terutama
didasarkan pada data yang berasal dari diet dengan protein yang digantikan oleh
asam amino murni. Bab ini hanya membahas amino yang disintesis di jaringan
manusia, bukan 8 lainnya yang disintesis oleh tumbuhan, eukariot rendah atau
prokariot.
ASAM AMINO YANG NONESENSIAL SECARA NUTRISIONAL MEMILIKI
JALUR BIOSINTESIS PENDEK
Enzim glutamate dehydrogenase, glutamin sintesease, dan aminotransferase
menempati posisi sentral dalam biosintesis asam amino. Kerja kombinasi ketiga
enzim ini adalah mengubah ion ammonium menjadi nitrogen amino dari berbagai
asam amino.
Glutamate dan glutamin. Aminasi reduktif ketoglutarat dikatalisis oleh
glutamate dehydrogenase (gambar 27-1). Aminasi glutamate menjadi glutamin
dikatalisis oleh glutamin sintease ( gambar 27-2).
Alanin transaminasi piruvat membentuk alanine ( gambar 27-3)

27

Aspartat dan aspaaragin. Transaminasi oksaloasetat membentuk aspartat.


Perubahan aspartat menjadi asparagin dikatalisis oleh asparagin sintetase ( gambar
27-4), yang mirip dengan glutamin, sintease ( gambar 27-2) kecuali bahwa glutamin
menyediakan nitrogen, bukan ion ammonium. Namun asparagine sintetase bakteri
juga dapat menggunakan ion amonimum. Penggabungan hidrolisis PPi dengan Pi
oleh pirofosfatase memastikan bahwa reaksi tersebut berlangsung.
Serin. Oksidasi gugus hidroksil pada zat antara glikolisis 3-fosfogliserat
mengubahnya menjadi suatu asam okso, dengan transaaminasi dan defosforlasi
selanjutnya yang menghasilkan serin ( gambar 27-5).
Glisisn. Glisin aminotransferase dapat mengkatalisis sintesis glisin dari
glioksilat dan glutamate dan alanin tidak seperti kebanyakan reaksi aminotransferase,
reaksi-reaksi ini sangat cenderung mengarah pada pembentukan glisin. Rute penting
lain pada mamalia untuk membentuk glisin adalah dari kolin. ( gambar 27-6) dan dari
serin ( gambar 27-7).
Prolin.Prolin dibentuk dari glutamat melalui pembalikan reaksi-reaksi
katabolisme prolin ( gambar 27-8).
Sistein. Sistein meskipun secara nutrisional tidak esensial, namun dibentuk
dari metionin yang esensial secara nutrisional. Setelah perubahan metionin menjadi
homosistein, homosistein dan serin membentuk sistein dan homoserin.
Tirosin. Fenilalanin hidroksilase mengubah fenilalanin menjadi tirosin
( gambar 27-10). Jika diet mengadung fenilalanin ( yang secara nutrisional esensial)
dalam jumlah memadai, tirosin secara nutrisional menjadi tidak esensial. Tetapi
karena reaksi Fenilalanin hidroksilase bersifat irreversible, tirosin dalam makanan
tidak dapat menggantikan fenilalanin. Katalisis oleh oksigenase berfungsi-campuran
ini menyebabkan penggabungan satu atom O2 dengan fenilalanin dan mereduksi atom
yang lain menjadi air. Kemampuan mereduksi yang dimiliki oleh tetrahidrobiopterin ,
akhirnya berasal dari NADPH.
Hidroksipolin dan hidroksilisin. Hidroksipolin dan hidroksilisin terutama
terdapat dalam kolagen. Karena tidak terdapat tRNA untuk kedua asam amino
terhidroksilasi ini, tidak ada hidroksiprolin atau hidroksilisin dalam makanan yang
terdapat dalam protein. Keduanya mengalami penguraian sempurna. Hidroksipolin
dan hidroksilisin keduanya berasal dari prolin dan lisin, tetapi hanya setelah asamasam amino ini tergabung kedalam peptide. Hidroksilasi residu prolil dan lisil yang
terkait pada peptide dikatalisis oleh prolil hidroksilase dan lisil hidroksilase jaringan,
termasuk di kulit dan otot rangka, serta jaringan granulasi luka ( gambar 27-11).
Hidroksilase adalah oksigenase yang memiliki fungsi campuran dan memerlukan
subtrat O2 molekular, askorbat, Fe2+, dan - ketoglutarat. Untuk setiap mol prolin atau

28

lisin yang dihidroksilasi , satu mol - ketoglutarat didekarboksilasi menjadi suksinat.


Satu atom O2 masuk ke dalam prolin atau lisin., dan yang lain masuk ke suksinat
(gambar 27-11). Defisiensi vitamin-C yang dibutuhkan oleh kedua hidroksilase ini
menyebabkan skorbut.
Valin, leusin dan isoleusin . sementara leusi, Valin dan isoleusin adalah asamasam amino yang esensial secara nutrisional, aminotransferase jaringan saling
mengonversi secara reversible ketiga asam amino ini serta asam-asam keto-nya.
Jadi asam-asam keto ini dapat menggantikan asam aminonya dalam makanan.
Selenosistein, asam amino ke-21. Meskipun keberadaannya dalam protein
jarang dijumpai, selenosistein terdapat dibagian aktif beberapa enzim manusiayang
mengatalisis reaksi redoks. Contoh-contohnya mencangkup tioredoksin reduktase ,
glutation peroksidase, dan deiodinase yang mengubah tiroksin menjadi triioditironin.
Jika ada Selenosistein ikut serta dalam mekanisme katalitik enzim-enzim ini, dan
penggantian Selenosistein oleh sistein dapat menyebabkan penurunan bermakna
aktivitas kalalitik. Gangguan pada selesnoprotein manusia diperkirakan berperan
dalam tumorigenesis dan arterosklerosis, dan menyebabkan kardiomiopati akibat
defisiensi selenium ( penyakit keshan).
Biosintesis Selenosistein memerlukan l-sistein selenat ( SeO 42-), ATP, tRNA
spesifik, dan beberapa enzim. L-serin memberi rangka karbon untuk selesnosistein.
Selesnofosfat yang dibentuk dari ATP dan selenat ( gambar 27-12), berfungsi sebagai
donor selenium. Tidak seperti hidroksiprolin dan hidroksilisin, Selenosistein
terbentuk secara ko-translasional selama penggabungannya kedalam peptida.
Antikodon UGA spesifik-selenosistein berkaitan dengan elemen insersi selenosistein,
suatu struktur strem-loop diregio mRNA yang tidak ditranslasikan. SelesnosisteintRNAsec mula-mula ditempeli serin oleh ligase yang menempelkan tRNA sec.
Penggantian oksigen serin selanjutnya oleh selenium melibatkan selenofosfat yang
dibentuk oleh selenofosfat sintase ( gambar 27-12). Reaksi-reaksi selanjutnya yang
dikataalisis oleh enzim mengubah sisteil-tRNAsec menjadi aminoktril tRNAsec. dengan
adanya elongation factor (factor pemanjang) spesifik yang mengenali selenosisteil
tRNAsec, selenosistein kemudian dapat tergabung ke dalam protein.

29

30

31

32

33

34

RINGKASAN :

Semua vertebrata dapat membentuk asam-asam amino tertentu dari zat-zat


antara amfibolik atau dari asam amino lain dalam makanan. Zat antara dan
asam amino yang merupakan sumber tersebut adalah -ketoglutarat (Glu,Gln,
Pro, Hyp), oksaloasetat (Asp, Asn), dan 3 fosfogliserat (Ser, Gly)
Sestein, tirosin, dan hidroksilin dibentuk dari asam-asam amino yang secara
esensial nutrisional. Serin membentuk kerangka karbon, dan homosistein
memberi sulfur untuk biosintesis sistein. Fenilalanin hidroksilase mengubah
fenilalanin menjadi tirosin.
Baik hidroksipolin maupun hidroksilisin dalam makanan tidak dibentuk
menjadi protein karena tidak terdapat kodon atau tRNA yang menentukan
insersi keduanya ke dalam peptide.
Peptidil hidroksiprolin dan hidroksilisin terbentuk melalui hidroksilasi
peptidil prolin atau lisin dalm reaksi yang dikatalisis oleh oksidase fungsicampuran yang memerlukan vitamin C sebagai kofaktor. Penyakit skorbut
mencerminkan gangguan hidroksilasi akibat defisiensi vitamin C.
35

Selenosistein, suatu residu bagian aktif esensial pada beberapa enzim


mamalia, berasal dari tRNA yang telah mengalami modifikasi.

REFERENSI
Beckett GJ, Athur JR: selenium and endocrine systems. J Endocrinol 2005;184;455
Brown KM, Arthur JR: selenium, selenoprotein, and human health: a review, Public
Health Nutt 2001;4:593
Kohrl J et al: Selenium in biology: facts and medical perspectives Biol Chem
2000;381:849
Nordberg J et al : mammalian thioredoxin ruductase in irreversibly inhibited by
dinitrohalobenzenes by alkylation of both the redox active selenocystein and its
neighboring cysteine residue. J boil Chem 1998;273:10835
Scriver CR et a; (editors). The Metabolic and Moleculer Bases of Inherited Diseases,
8th ed.McGraw-Hill,2001.

36