Anda di halaman 1dari 21

Case Report

BASAL CELL CARCINOMA

NAMA

: Salman Saisar Hidayat

NIM

: 2011730095

PEMBIMBING: Dr. Lili K, Sp.B

STASE BEDAH
RSUD CIANJUR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

LAPORAN KASUS

IDENTITAS
Nama

: Tn. w

Usia

: 38 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Selajambe RT/RW 08/04

No. CM

: 160045

Tanggal

: 21 September 2015

ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)
KU

: Os mengeluh perut terasa nyeri pada bagian kanan bawah

RPS

: OS datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah sejak 3 hari


sebelum masuk rumah sakit, nyeri perut hilang timbul dan dirasakan
semakin berat. Nyeri pada ulu hati disangkal, demam disangkal, batuk
pilek disangkal, BAB tidak ada keluhan, BAK tak ada keluhan. Mual
dan muntah disangkal.

RPD

: Tidak pernah mengalami keluhan yang sama

RPK

: Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama

R.Pengobatan

: Belum pernah berobat sebelumnya.

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis GCS= E4V5M6 = 15

Tanda Vital

: 80 x/menit, reguler, isi cukup, pulsasi kuat


: 120/80 mmHg
: 20 x / menit
: 36,3 0 C

Nadi
Tekanan Darah
Pernapasan
Suhu

Status Generalis
Kepala

: Normocephal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-),Sklera ikterik (-/-),reflek cahaya (+),isokor

Hidung

: Septum deviasi (-), sekret (-/-)

Telinga

: Normotia, simetris, sekret (-/-).

Mulut

: Mukosa bibir lembab, stomatitis (-), faring hiperemis (-), tonsil T1/T1

Leher

: Pembesaran KGB (-)


Pembesaran Tiroid (-)

Thorax
Paru
-

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Bagian dada tertinggal(-), retraksi (-)


: Bagian dada teringgal (-),vocal fremitus sama dada kanan dan kiri
: Sonor kedua lapangan paru
: Vesikuler, wheezing (-/-), ronki (-/-)

Jantung
-

Inspeksi
Palpasi
Auskultas
Abdomen

: Iktus cordis tidak terlihat


: Iktus cordis teraba
: BJ I dan II murni, tidak ada bunyi tambahan

Inspeksi
Auskultasi
Palpasi
Perkusi

: Datar, distensi (-)


: BU (+) normal
: NT (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
: Timpani keempat kuadran

Ekstremitas atas
-

Akral
Edema
RCT

: Hangat
: -/: < 2 detik

Ekstremitas bawah
-

Akral
Edema
RCT

: Hangat
: - /: < 2 detik

Status Lokalis

a/r zygomaticus Sinistra tampak benjolan


Ukuran 3 cm.
Permukaan berbenjol-benjol
Konsistensi keras
Batas tidak tegas

Terfiksir
Warna hitam
Nyeri Tekan (+)
Resume
Berdasarkan anamnesis:
60 tahun datang dengan keluhan pada wajah dekat mata sebelah kiri 2 tahun
SMRS. Awalnya benjolan seperti tahi lalat berwarna hitam sebesar kacang hijau,
benjolan terus bertambah besar , sekarang ukuran kira-kira 3 cm, nyeri (+), nyeri
seperti ada yang menggigit dalam benjolan, nyeri tidak menjalar hanya di tempat
benjolan, benjolan hanya satu.
Dari pemeriksaan fisik:
Status lokalis :
a/r zygomaticus Sinistra tampak benjolan
Ukuran 3 cm.
Permukaan berbenjol-benjol
Konsistensi keras
Batas tidak tegas
Terfiksir
Warna hitam
Nyeri Tekan (+)
Diagonis Banding:
Basal Cell Carcinoma
Squama Cell Carcinoma
Melanoma Malignan

Analisa Kasus.
DD

BCC

SCC

Melanoma
Maligna

>

(50-70 thn)

Awalnya benjolan spt tahi lalat (kecil),


warna hitam

Kemerahan

(coklat-hitamabu-abu)

Benjolan terus bertambah besar,tapi tidak


cepat

Analisa kasus
60 tahun

Benjolan pada wajah 2 tahun SMRS


(Daerah terkenan paparan matahari)

(progresif)

Gatal
Mudah berdarah

+
+

Benjolan hanya di satu tempat

+/-

Metastasis

Lokasi a/r nassal

Konsistensi keras

Batas tidak tegas

Terfiksir

Nyeri

Permukaan berbenjol-benjol

Nyeri tekan
KGB

Diagnosa

Basal Cell Carcinoma a/r Zygomaticus Sinistra


Tindakan
Eksisi
Terapi
Antibiotik (cefriaxon)
Analgesik (Ketorolac)

TINJAUAN PUSTAKA

BASAL CELL CARCINOMA


Anatomi Kulit

Kulit (dikenal sebagai integumen umum). Secara anatomis kulit dibagi menjadi tiga
lapisan, yaitu:
Epidermis
Epidermis terutama terdiri dari sel sel khusus yang melakukan fungsi vital.
Dermis
Dermis terdiri dari matriks ekstraseluler yang menyediakan dukungan untuk
jaringan yang kompleks seperti saraf, pembuluh darah, dan struktur adneksa.
Membrane basalis.
Membrane basalis

memenuhi fungsi fungsi biologis termasuk organisasi

jaringan, persediaan faktor pertumbuhan dan penghalang selektif semipermeabel.


Epidermis

Mempunyai ciri yaitu perdarahannya sedikit dan lapisannya tipis. Terutama terdiri dari
keratinosit, epidermis yang bersifat dinamis, berlapis lapis sel yang matang. Dari lapisan
internal sampai lapisan eksternal terdiri dari :
1.

Stratum basale/Germinativum
o Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis.
o Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade.
o Lapisan terbawah dari epidermis.
o Terdapat melanosit yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin( melindungi
kulit dari sinar matahari)
Sel basal adalah mitosis aktif, sel tunggal yang terakhir yang dibedakan keratinosit pada

struktur dasar dari epidermis. Sebagai sel basal, mereka meninggalkan lamina basalis untuk
memulai diffrensiasi dan migrasi ke atas. Pada lapisan spinosus keratinosit dihubungkan oleh
tonofibrils dan memproduksi keratin. Sebagai sel sel yang naik ke atas, mereka kehilangan
kemampuan mitosis mereka. Dengan masuk ke dalam lapisan granular, sel menumpuk pada
granula keratohyalin. Pada lapisan tanduk, keratinosit yang sudah tua, kehilangan hubungan
interseluler dan tempatnya. Dari lapisam basal sampai menuju tempatnya, keratinosit
mempunyai waktu transit kira kira 40 56 hari.
2. Stratum spinosum
o Lapisan epidermis yang paling tebal.
o Terdiri dari sel polygonal
o Sel sel mempunyai protoplasma yang menonjol yang terlihat seperti duri.
3. Stratum Granulosum
o Sitoplasma mengandung granula
4. Stratum lucidum
o Lapisan sel-sel mati tanpa inti sel
5. Stratum corneum
o Terdiri dari 20 25 lapis sel tanduk tanpa inti.
Dermis
Mempunyai perdarahan yang lebih banyak dari epidermis dan lapisannya tebal. Pada
dermis terdapat nervus sensorik, folikel rambut, kelenjar ( sebasea, holokrin, keringat,
apokrin, dan jaringan ikat ). Dermis juga terbagi atas dua lapisan, yaitu :

Lapisan luar atau lapisan papiler yang terdiri dari serat serat kolagen dan
retikular, berisi substansia dasar.
Lapisan dalam atau lapisan retikuler yang dibentuk oleh serabut serabut
kolagen padat, kasar dan bercabang cabang yang sejajar dengan permukaan
kulit.
Dermis sebagian besar terdiri dari protein struktural dan komponen struktural.
Kolagen, protein fungsional utama dalam dermis. Tropocolagen, preskursor kolagen,
terdiri dari tiga rantai polipeptida ( hydroxyprolin, hidroksilin, dan glisin ). Molekul
panjang kemudian saling melintasi untuk satu sama lain membentuk serat kolagen. Dari
tujuh struktural kolagen yang berbeda, kulit terutama mengandung sebagian besar tipe
serat retikulin kolagen, tapi ini hanya di zona membrane basal dan daerah perivaskuler.
Serat elastik mampu melawan kekuatan peregangan, serat serat ini memungkinkan
kembali ke bentuk awal setelah kulit mengalami respon stress deformitas.
Suplai darah ke dermis didasarkan pada jaringan yang rumit dari pembuluh darah
yang memberikan aliran untuk struktur yang dangkal, serta mengatur suhu tubuh. Ini
dicapai dengan bantuan saluran pembuluh darah vertical yang menghubungkan dua
pleksus horizontal, salah satu dalam dermis papiler dan yang lainnya di subkutan.
Sensasi kulit dicapai melalui aktivasi pleksus serabut otonom dari kulit yang
bersinapsis untuk kelenjar keringat, erector pili, dan pembuluh darah. Serabut ini juga
terhubung ke reseptor sel hidup yang menyampaikan informasi dari kulit kembali ke
sistem syaraf pusat. Meissner, ruffini, dan Pacini yang mengirimkan informasi pada
tekanan lokal, getaran, sentuhan, suhu, nyeri, dan gatal.
Adneksa Kulit
Kulit memiliki tiga struktur utama, yaitu :

Kelenjar ekrin
Kelenjar ekrin dan kelenjar apokrin merupakan kelenjar sederhana, tubuler, melingkar
pada dasar dermis. Keringat yang diproduksi kelenjar ekrin yang terletak di seluruh
tubuh, tetapi banyak terkonsentrasi pada telapak tangan, telapak kaki, ketiak, dan

kening, kecuali bibir dan bagian tertentu genitalia eksterna. Kelenjar ekrin merupakan
regulator suhu tubuh. Kelenjar ini tidak berbau ( odorless ).

Kelenjar pilosebasea

Kelenjar apokrin.
Kelenjar apokrin banyak terdapat pada kelopak mata dan ketiak, yang mempunyai bau
yang khasbila terjadi dekomposisi oleh bakteri. Folikel rambut tubuh sejak 3 bulan
intrauterine. Folikel rambut merupakan mitosis aktif germinal center yang
memproduksi rambut. Bersama dengan dengan minyak, yang disekresikan oleh
kelenjar sebasea, kedua struktur tersebut membentu unit pilosebasea. Selain
memproduksi rambut, folikel rambut juga mempunyai beberapa fungsi penting.
Folikel rambut berisi persedian sel induk pluripotent penting dalam produktivitas
epidermis. Sel sel ini mampu mengekspansi daerah sekitarnya untuk menggantikan
sel yang hilang atau rusak serta menggantikan kelangsungan epidermis setelah
terluka. Sebagai contoh, dalam skin graft kulit, folikel rambut yang tersisa
memberikan pasokan untuk meregenerasi keratinosit, untuk meregenerasi epidermis
dan mengembalikan integritas kulit. Kelenjar sebasea menghasilkan cairan seperti
minyak yang berfungsi untuk lubrikasi rambut dan kulit serta menjaga
kelembabannya. Banyak pada dahi, pipi dan hidung.Lapisan bawah dermis yang
terdiri dari lemak disebut hypodermis atau subdermis atau subkutis.
Fungsi kulit secara umum:

perlindungan terhadap mekanik, kimia, osmotik, termal, kehilangan air, dan invasi
mikroba.

Permeabilitas selektif terhadap berbagai zat kimia

Proses Biosintesis (misalnya, prekursor vitamin D dibawah pengaruh sinar ultraviolet)

Target berbagai hormon (mengatur pigmentasi,sekresi, turgidity,dll)

Regulasi panas melalui sirkulasi, kelenjar keringat, jaringan adiposa.

Reservoir darah, lemak dan air, (turgor).

Ekskresi metabolit (keringat)

Organ sensorik dan refleks reseptif.

Definisi
Basal Cell Carcinoma (BCC) adalah neoplasma ganas yang berasal dari sel-sel non
keratinosit yang berasal dari lapisan basal epidermis dan jenis kaknker kulit yang paling
sering mengenai manusia.
WHO mendefinisikan Basal Cell Carcinoma secara histologi sebagai tumor kulit yang
invasif lokal, penyebarannya lambat dan jarang bermetastase, berkembang di epidermis atau
folikel rambut, secara fakta, sel-sel perifer tersebut biasanya mirip dengan sel-sel basal dari
epidermis . Tumor berasal dari sel lapisan basal atau dari lapisan luar sel folikel rambut yang
paling sering muncul pada daerah-daerah yang sering terpapar sinar matahari. BCC biasanya
tumbuh lambat dan jarang bermetastase, akan tetapi dapat menyebabkan kerusakan lokal
yang nyata apabila dibiarkan atau diterapi dengan tidak adekuat.
Epidemiologi
Angka kejadian BCC jauh lebih besar pada laki-laki dari pada perempuan. Hal ini
mungkin mencerminkan suatu tingkat yang lebih tinggi paparan sinar matahari dari laki-laki
karena pola kerja.Sebuah studi Minnesota memberikan angka kejadian tahunan untuk lakilaki dan wanita adalah masing-masing 175 dan 124 per 100.000. Namun, kejadian pada
wanita meningkat karena perubahan mode pakaian diluar rumah dan waktu yang dihabiskan
akibat pola rekreasi atau pekerjaan tertentu. Survei di Australia menunjukkan bahwa kejadian
baru penderita BCC primer baru meningkat 1,5 % dalam 10 tahun dan lebih dari 700 orang
per 100.000 orang menderita BCC multipel. Kejadian BCC meningkat menurut usia dan lebih
sering terjadi pada orangtua. Lebih dari 90 % dari BCC yang terdeteksi terdapat pada pasien
yang berusia 60 tahun atau lebih.
Etiopatogenesis
Etiologi dan faktor resiko dari KSB dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Faktor Eksogen
Radiasi ultraviolet adalah penyebab BCC paling penting dan paling sering. Radiasi
ultraviolet gelombang pendek, Ultraviolet B, 290-320 nm, yang menyebabkan
sunburn, lebih sering menyebabkan BCC dibandingkan ultraviolet gelombang
panjang, ultraviolet B, 320-400 nm.

Radiasi lain, yaitu sinar X dan sinar grenz juga berhubungan dengan terjadinya BCC
Paparan arsen lewat obat-obatan, pekerjaan atau diet. Kontaminasi air sering
menyebabkan ingesi arsen
Pengobatan dengan imunosupressan jangka panjang juga dapat meningkatkan resiko
BCC. Oleh karena itu, penerima transplantasi organ atau sel stem mempunyai resiko
tinggi hidup untuk menderita BCC
Adanya trauma, jaringan parut, luka bakar juga dapat menimbulkan BCC
2. Faktor Endogen
Kulit tipe 1, rambut kemerahan atau keemasan dengan anak mata berwarna hijau atau
biru telah menunjukkan faktor resiko yang tinggi untuk terdinya BCC, dengan
perkiraan ratio 1;6 perkembangan BCC dilaporkan lebih sering terjadi setelah
freckling pada usia anak dan setelah sunburn hebat pada usia anak.
Xeroderma pigmentosum : Penyakit autosomal resesif ini dipicu oleh faktor
pendedahan pada kulit, dimulai dengan perubahan pigmen dan akhirnya menjadi
BCC. Efeknya berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menginduksi kerusakan
DNA karena ultraviolet.
Sindrom nevoid BCC (Sindrom nevus sel basal, sindrom Gorlin): BCC muncul pada
keadaan autosomal dominan, timbul pada usia muda. Biasanya terdapat odontogenik
keratosistik, plitting palmoplantar, kalsifikasi intracranial dan kelainan tulang iga.
Biasa juga timbul tumor seperti meduloblastoma, meningioma dan ameloblastoma.
Sindrom Bazex:terdapat atropoderma folikuler (tanda-tanda ice pick, khususnya pada
dorsal tangan), BCC multipel dan anhidrosis lokal.
Terdapat riwayat kanker kulit non melanoma sebelumnya. Insiden kanker kulit
nonmelanoma adalah 35 % pada 3 tahun pertama dan 50% pada 5 tahun kedua
setelah dignosis awal kanker kulit.
Aspek terpenting darei BCC adalah bahwa kanker kulit ini terdiri dari sel tumor
epithelial berasal dari sel primitif selubung akar rambut sementara komponen stroma
menyerupai lapisan papilaris dermis dan terdiri dari kolagen, fibroblast dan substansia dasar
yang sebagian besar berupa berbagai jenis glukosa aminoglikans (GAGs). Kedua komponen
ini saling ketergantungan sehingga tidak bisa berkembang tanpa komponen yang lainnya.
Hubungan ketergantunan ini sifatnya sangat unik, hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa
KSB sangat jarang bermetastasis dan mengapa pertumbuhan BCC pada kultur sel dan

jaringan sangat sulit terjadi. Hal ini dikarenakan bolus metastase yang besar dengan
komponen sel dan stroma didalamnya sulit memasuki sistem limfatik ataupun sistem
vaskular. Dan inilah yang membedakan antara BCC dengan melanoma maligna dan
karsinoma sel skuamosa yang keduanya sering mengadakan metastase
Beberapa gen telah dikaitkan dengan perkembangan BCC. Sitokrom 450 (CYP) dan
glutathione S-Transferase (GST), keduanya terlibat dalam berbagai macam detoksifikasi
mutagen. Polimorfisme spesifik dalam supergen ini telah diidentifikasi, khususnya GSTM1,
GSTT1, GSTP1 dan CYP2D6 dapat juga berhubungan dengan pengembangan beberapa KSB
multiple. Sindrom nevus sel basal terjadi karena adanya mutasi gen PTCH yang terletak pada
kromosom 9q22. Gen PTCH adalah homolog manusia dari drosophilia patched gene,
mengatur jalur Hedgehog secara negatif melalui penghambatan SMO, dan merupakan protein
transmembran, KSB sporadik juga telah ditunjukkan memiliki mutasi PTCH lebih dari 68%
kasus. Mutasi pada tumor supresor gen p53 menyebabkan inaktifassi gene tersebut dan
perkembangan resistensi tumor terhadap apoptosis. Sekitar 53 % dari BCC mungkin memiliki
mutasi alel tunggal dari gen p53. Tipe kulit berhubungan dengan polimorfisme reseptor
melanocortin (MCR1) dan merupakan faktor risiko independen terjadinya BCC. Warna mata
dan fungsi tanning juga terkait dengan polimorfisme di tirosinase dan merupakan salah satu
resiko terjadinya BCC.

Klasifikasi dan Stadium Karsinoma


Tumor Primer (T)
Tx
T0
Tis
T1
T2
T3
T4

Tumor primer tidak dapat dinilai


Tidak ada bukti tumor primer
Karsinoma in situ
Diameter tumor 2 cm
Diameter tumor 2-5 cm
Diameter tumor > 5 cm
Tumor menginvasi struktur extradermal dalam (yaitu: tulang rawan,

otot rangka atau tulang.


Limfonodus Regional (N)
Nx
Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai
N0
Kelenjar getah bening regional tidak metastasis
N1
Kelenjar getah bening regional metastasis
Metastasis (M)
Mx
Metastasis jauh tidak dapat dinilai

M0
M1
Stadium
Stadium 0
Stadium I
Stadium II
Stadium III
Stadium IV

Metastasis jauh tidak ada


Metastasis jauh
Tis
T1
T2
T3
T4
Semua T
Semua T

N0
N0
N0
N0
N0
N1
Semua N

M0
M0
M0
M0
M0
M0
M1

Faktor Risiko Kambuh Lokal Berdasarkan Karakteristik Tumor Primer


FAKTOR
Lokasi
- Badan dan ekstremitas
- Dahi dan leher
- Wajah
Batas
Insidensi
Imunosupresi
Sebelum
terapi
radiasi/peradangan kronik
Laju pertumbuhan yang cepat
Gejala-gejala neurologis
Diferensiasi
Perineural/Invasi vascular

RISIKO RENDAH

RISIKO TINGGI

< 20 mm
< 10 mm
< 6 mm
Tegas
Primer
Negatif
Negatif

20 mm
10 mm
6 mm
Tidak tegas
Berulang
Positif
Positif

Negatif
Negatif
Ya
Negatif

Positif
Positif
Sedang atau buruk
Positif

Gambaran Klinis
Pada kulit sering di jumpai tanda-tanda kerusakan seperti telangiektasis dan atropi. Lesi
tumor ini tidak menimbulkan rasa sakit. Adanya ulkus menandakan suatu proses kronis yang
berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan ulkus ini secara perlahan-lahan dapat
bertambah besar.
Gambaran klinik basal cell karsinoma bervariasi. Terdapat 5 tipe dan 3 sindroma klinik,
yaitu:

1. Tipe Nodular-Ulseratif (Ulkus Rosdens)


Jenis ini dimulai dengan nodus kecil 2-4 mm, translusen, warna pucat seperti
lilin (Waxy-nodule). Dengan inspeksi yang teliti, dapat dilihat perubahan pembuluh
darah superficial melebar (telangiektasis).
Permukaan nodus mula-mula rata tetapi kalau lesi membesar, terjadi cekungan
ditengahnya dan pinggir lesi menyerupai bintil-bintil seperti mutiara (pearly border).
Nodus mudah berdarah pada trauma ringan dan mengadakan erosi spontan yang
kemudian menjadi ulkus yang terlihat di bagian sentral lesi.
Kalau telah terjadi ulkus, bentuk ulkus seperti kawah, berbatas tegas, dasar
irreguler dan ditutupi oleh krusta. Pada palpasi teraba adanya indurasi disekitar lesi
terutama pada lesi yang mencapai ukuran lebih dari 1 cm, biasanya berbatas tegas,
tidak sakit atau gatal. Dengan trauma ringan atau bila krusta diatasnya diangkat,
mudah berdarah.
2. Tipe Pigmented
Gambaran klinisnya sama dengan nodula-ulseratif, pada jenis ini berwarna
coklat atau berbintik-bintik atau homogeni (hitam merata) kadang-kadang menyerupai
melanoma. Banyak dijumpai pada orang dengan kulit gelap yang tinggal pada daerah
tropis.
3. Tipe Morphea-Like atau Fibrosing
Merupakan jenis yang agak jarang ditemukan. Lesinya berbentuk plakat yang
berwarna kekuningan dengan tepi yang tidak jelas, kadang-kadang tepinya meninggi.
Pada permukaannya tampak beberapa folikel rambut yang mencekung sehingga
memberikan gambaran seperti sikatriks.
Kadang-kadang tetutup krusta yang melekat erat. Jarang mengalami ulserasi.
Tapi ini cenderung invasive kearah dalam. Tepi ini menyerupai morphea atau
skleroderma.
4. Tepi Superficial
Berupa bercak kemerahan dengan skuama halus dan tepi yang yang meninggi.
Lesi dapat meluas secara lambat, tanpa mengalami ulserasi. Umumnya multiple,
terutama dijumpai pada badan, kadang-kadang pada leher dan kepala.
5. Tipe Fibroepitelial
Berupa satu atau beberapa nodul keras dan sering bertangkai pendek,
permukaannya halus dan sedikit kemerahan. Terutama dijumpai dipunggung.Tipe ini
sangat jarang ditemukan.

Sindrom klinik yang merupakan bagian penting dari Basal Cell Karsinoma, yaitu:
Sindrom Karsinoma Sel Basal Nevoid
Dikenal sebagai sindrom Gorlin Goltz. Merupakan suatu sindrom yang diturunkan
secara autosomal dan terdiri dari:

Kelainan kulit : Berupa nodul kecil yang multiple yang terdapat pada masa
kanak-kanak atau akhir pubertas, terutama dijumpai pada muka dan badan.

Selama stadium nevoid, ukuran dan jumlah nodul bertambah. Sering setelah
umur dewasa, lesinya mengalami ulserasi dan kedalam stadium neoplastik
dimana terjadi invasi, destruksi dan mutilasi. Kematian dapat terjadi karena
invasi ke otak terdapat cekungan (pits) pada telapak tangan dan kaki.

Kelainan tulang : Berupa kista pada rahang, kelainan pada tulang iga dan
tulang belakang (skoliosis,spina bifida)

Kelainan mata: berupa katarak, buta congenital.

Sindrom Linear and Generalized Follicular Basal Cell nevi


Merupakan jenis yang sangat jarang ditemukan pada lesi yang linear, berupa nodul
yang disertai komedo dan kista epidermal, tersusun seperti garis dan unilateral, akibat
kerusakan folikel rambut akibat pertumbuhan tumor.
Sindrom Bazex : atrophoderma dengan multiple karsinoma sel basal
Disamping itu ada juga tipe-tipe klinis yang jarang dijumpai, yaitu: Fibroepitelioma,
giant pore KSB,wild fire KSB, angiomatous KSB, Lipoma like KSB, giant exophytic
KSB, hiperkeratotic KSB dan intra oral KSB.
Gambaran Histopatologi
Sifat-sifat Histopatologis dari Basal Cell Carcinoma bervariasi, namun pada umumnya
mempunyai inti yang besar, oval, atau memanjang dengan sedikit sitoplasma. Sel pada Basal
Cell Carcinoma mirip dengan sel basal pada stratum basal epidermis hanya rasio antara inti
dengan sitoplasma lebih besar atau tidak tampak adanya jembatan antar sel. Inti dari sel Basal
Cell Carcinoma lebih seragam (tidak hanya berbeda dalam ukuran dan intensitas pewarnaan)
dan tidak ada gambaran anaplastik.
Parenkim tumor pada Basal Cell Carcinoma selalu dikelilingi oleh stroma yang sering
tampak sebagai jaringan dengan banyak fibroblast muda. Oleh karena parenkim tumor

berasal dari sel epithelial, dan stroma berasal dari mesoderm, yang berperan dalam
pembentukan adneksa kulit.
Berdasarkan sifat pertumbuhan merupakan hal yang lebih penting antara lain bentuk:
Noduler, kelompok sel tumor secara keseluruhan memberikan kesan berbatas tegas
dengan jaringan sekitar.
Noduler Infiltrate, pada bagian tengah tampak tonjolan tumor dengan tepi
menunjukkan pertumbuhan infiltrate kecil.
Infiltratif, jaringan tumor menunjukkan pertumbuhan infiltrative tidak teratur.

Selerosing, stroma menunjukkan jaringan ikat padat terdiri dari serabut


kolagen dan elastik.

Non Selerosing, kelompok sel tumor besar dengan jaringan ikat stroma tidak
begitu padat.

Multifokal, jaringan tumor berasal dari beberapa tempat pada epidermis.


Diagnosis Banding
Karsinoma Sel Skuamosa
Melanocytic Nervi (Nevus Pigmentosus)
Melanoma Malignan
Ttichoepitelioma.
Hiperplasia Sebaceous
Keratosis Seboroik
Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik (gejala klinis) dan pemeriksaan
histopatologis. Dari anamnesis terdapat kelainan kulit terutama dimuka yang sudah
berlangsung lama berupa benjolan kecil, tahi lalat, luka yang sukar sembuh, lambat menjadi
besar dan mudah berdarah. Tidak ada rasa gatal/sakit.Pada pemeriksaan fisik terlihat
papul/ulkus dapat berwarna seperti warna kulit atau hiperpigmentasi. Pada palpasi teraba
indurasi. Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. Pemeriksaan penunjang
berupa pemeriksaan histopatologi yaitu dengan dilakukannya biopsi.

Penatalaksanaan
Oleh karena sinar matahari predisposisi utama untuk terjadinya kanker kulit maka perlu
diketahui perlindungan kulit terhadap sinar matahari, terutama bagi orang-orang yang sering
melakukan aktivitas diluar rumah dengan cara memakai sunscreens (tabir surya) selama
terpajan sinar matahari. Penggunaan tabir surya untuk kegiatan diluar rumah diperlukan tabir
surya untuk kegiatan diluar rumah diperlukan tabir surya dengan SPM yang lebih tinggi (>
15-30).
Adanya hubungan antara terbentukknya berbagai radikal bebas antara lain sinar UVV
pada beberapa jenis kanker kulit, telah banyak dilaporkan. Pemakaian antioksidan dapat
berfungsi untuk menetralkan kerusakan atau mempertahankan fungsi dari serangan radikal
bebas. Dapat mengakibatkan berbagai gejala klinik atau penyakit yang cukup serius
Banyak metode pengobatan Basal Cell Carcinoma, yaitu:
a. Bedah Eksisi
Bedah eksisi atau bedah scalpel pada Basal Cell Carcinoma dini memberikan tingkat
kesembuhan yang tinggi.
b. Radioterapi
Penyinaran lokal diberikan lapangan radiasi meliputi tumor dengan 1-2 cm jaringan
sehat disekelilingnya. Penyinaran dilakukan dengan dosis 200 cGy perfrasaksi, 5
fraksi dalam 1 minggu dengan total dosis 4000 cGy
c. Kuretasi dan elektrodesikasi
Dilakukan pada tingkat yang dini, cara yang terbaik dengan cara memotong dan
koagulasi dibantu dengan curettage. Jika hendak mengambil spesipik jaringan untuk
pemeriksaan histopatologis, dilakukan dengan elektro section (pure cutting). Terlebih
dahulu diberi marker 3 5 mm diluar tumor.
d. Bedah Beku (Cryosurgery)
Bedah beku adalah Suatu metode pengobatan dengan menggunakan bahan yang dapat
menurunkan suhu tubuh jaringan tubuh dari puluhan sampai ratusan derajat celcius
dibawah nol (Subzero).
e. Bedah Mikrografi Mohs
Evaluasi Histopatologi pada tepi irisan mendekati 100 % dibandingkan dengan
tekhnik seksi vertikal tradisional. Dengan analisa tepi irisan yang lengkap dapat
diketahui dan ditelusuri semua fokus-fokus tumor yang masih tertinggal. Reseksi

hanya pada daerah tumor, sehingga dapat menghemat jaringan atau meminimalkan
jaringan yang hilang.
f. Terapi Fotodinamik
Fotodinamik terapi (PDT) dilakukan dengan aplikasi topikal dari asam 5aminolaevulinic prodrug (ALA) atau Aminolaevulinic (MAL).
g. Imiquimod
Imiquimod merupakan modifikasi respon imun, mengikat reseptor permukaan sel toll
7 dan/ atau 8. Ikatan ini mengaktifkan produksi sitokin pro inflamasi dan selanjutnya
kematian sel T sitotoksik sel diperantarai.
Prognosis
Prognosis umumnya baik dengan five year survival rate mencapai 99 %. Basal Cell
Carcinoma mempunyai rekurensi tinggi, terutama bila pengobatan tidak adekuat. Biasanya
rekurensi terjadi 4 bulan pertama sampai 12 bulan setelah pengobatan
Faktor faktor yang mempengaruhi prognosis Basal Cell Karsinoma:

Ukuran tumor (peningkatan ukuran memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi)

Lokasi tumor (Lesi ditengah wajah, terutama di sekitar mata, hidung, bibir, dan
telinga adalah risiko yang lebih tinggi terulangnya.

Definition of clinical margins (poorly defined lesions are at higher risk of recurrence)

Histologi subtipe (subtipe tertentu memiliki risko yang lebih tinggi terulangnya)

Fitur histologis agresi (keterlibatan perineural dan/ atau perivascular risiko yang lebih
tinggi terulangnya)

Kegagalan penanganan sebelumnya (lesi yang rekuren)

DAFTAR PUSTAKA

Town send Courtney,M.Sabiston Textbook Of Surgery The Biological Basis Of Modern


Surgical Practice. 2004. 17thed. Library Of Congress Cataloging-In-Publication data.
Telfer N, Colver G, Morton C. Guidlines For The Management Of basal Cell
Carcinoma.NHS Foundation Trust. 2008.
Vant Y,Corik R. Histological Types Of Basal Cell Carcinoma.Scripta Medica (BRNO). 2006
John A,David J. Basal Cell Carcinoma In; wolff k, Goldsmith LA,katz SI, Gilchrest BA,
Paller A,Leffell DJ.Dermatology In General Medicine. 7th ed. United States Of America; McGraws-Hills Companies, In C.2008