Anda di halaman 1dari 4

Resensi Buku Fikih Kebinekaan

Merajut Harapan Adil-Tenteram dalam Masyarakat


Pluralistik
Identitas Buku
Judul
Penulis

: Fikih Kebinekaan Pandangan Islam Indonesia tentang Umat,


Kewargaan, dan Kepemimpinan Non-Muslim
: Azyumardi Azra, dkk.

Editor

: Wawan Gunawan Abd. Wahid, dkk.

Thn. Terbit

: Cetakan I, Agustus 2015

Penerbit

: PT Mizan Pustaka

Tebal buku : 359 Halaman


Kebinekaan merupakan keniscayaan yang sejak dahulu sudah disadari oleh
seluruh manusia Indonesia. Ini dibuktikan dengan langkah para pendiri
republik ini yang mendapuk bhineka tunggal ika sebagai semboyan
berbangsa. Sebuah semboyan yang diambil dari kitab Sutasoma karya Empu
Tantular yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua.
Berbeda-beda (bhineka) dalam semboyan tersebut jelas merujuk pada
pluralitas atau kemajemukan. Pluralitas yang sunnatullah. Kemajemukan
atau kebeda-bedaan yang karena sunnatullah-nya itu harus dihargai dan
dihormati.
Kesadaran atas kebinekaan ini membuat Maarif Institute dan Mizan Pustaka
menerbitkan sebuah buku berjudul Fikih Kebinekaan. Dengan politik
legitimasi menghadirkan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, buku
ini berusaha menjadi penenang yang berkompeten atas keresahankeresahan masyarakat terkait kebinekaan, termasuk keresahan atas
fenomena kepemimpinan non-muslim.
Sesuai judulnya, Fikih Kebinekaan, buku ini menghadirkan analisis realitas
dengan sudut pandang fikih yang kontekstualpemahaman mendalam
manusia terhadap syariat Islam yang kekinian atau sesuai dengan zaman. Ini
terlihat dari paradigma M. Amin Abdullah, yang mencoba menegaskan
makna arrujuu ilaa alquraan wa as-sunnahdasar wajib hukum/syariat
Islam.

Paradigma Amin Abdullah dalam buku ini mengajak muslim-pembaca quran


untuk taariikhiyyah-maqaashiidiyyahmembaca quran dan sunnah dengan
sungguh-sungguh mempertimbangkan dinamika sejarah dan sosial-budaya
secara cermat-keilmuan (4970).
Pembacaan quranhadis yang maqshiidiyyah (memprioritaskan tujuan
beragama) ini menjadi konstituen yang mengkonstruksi metodologi ushul
fikih dan ilmu fikih kontemporer untuk kemaslahatan universal (rahmatan lil
alamin) tanpa melihat mazhab, kelompok-kelompok, agama, suku, dan ras.
Maqshiidiyyah ini juga membangun epistemologi Islam kontemporer yang
menjadi basis fikih kebinekaan. Epistemologi islam yang mendorong
pengkajian kembali dan reinterpretasi khazanah Islam klasik agar lebih
relevan dan kontekstual dengan berbagai dinamika sosial di kehidupan
masyarakat plural.
Indonesia dengan fakta pluralitas keagamaan penduduknya, telah
memberikan posisi terhormat bagi agama dalam landasan negara Pancasila
dan UUD 1945. Ini sebenarnya menadakan ketidaksekuleran Indonesia.
Meski demikian, Indoenesia tidak berarti memprioritaskan satu agama,
karena Indonesia bukan negara agama, terlebih negara Islam, walaupun
mayoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu, Indonesia tentu
harus memberikan kesamaan hak politik kepada seluruh penduduknya,
agama apa pun mereka, terlebih dengan prinsip demokrasi yang diterapkan.
Begitulah penjelasan Azyumardi Azra dalam tulisannya, Islam dan Konsep
Negara (halaman 115126).
Setelah penjelasan Azyumardi Azra tersebut, buku ini menarik garis konteks
Indonssia dengan Piagam Jakarta-Pancasilanya dan Madinah dengan Piagam
Madinah. Hal ini dapat ditemukan dalam tulisan Baidhawi.
Piagam Madinah dibuat berdasarkan pertimbangan praktis dan menyeluruh
tanpa bias kelompok tertentu. Kata ummah yang pertama kali dapat
dijumpai dalam piagam ini, merujuk pada kaum muslim dan non-muslim,
bahkan ditegaskan dalam pasal 2 piagam tersebut bahwa penduduk
madinah adalah satu ummah (halaman 135).
Zakiyuddin Baidhawi juga mengutip pasal 25 piagam ini yang berbunyi,
kaum Yahudi dari Bani Auf adalah satu umat dengan Mukminin. Bagi kaum
Yahudi agama mereka, dan bagi kaum Muslimin agama mereka (halaman
135).

Dari pasal-pasal ini, terang bahwa Madinah dibentuk berdasarkan garis


kesatuan setiap individu, ras, agama dan kelompok (ummah). Dalam konsep
ummah ini, menurut Zakiyuddin, penduduk Madinah telah bekerja untuk
mengembangkan Madinah dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Konsep
kesatuan (ummah) ini telah menjadikan Madinah dan masyarakatnya
beridentitas dengan mentalitas dan peradaban yang tinggi (138).
Piagam Madinah telah membentuk bangsa yang kuat dalam hal politik
dengan menerima Nabi sebagai pemimpin...Kepemimpinan telah terintegrasi
dengan nilai-nilai moral positif yang telah dimasukkan dalam satu konsep
ummah, termasuk....kerja sama, pengertian, kesetiaan, keadilan, hak-hak
muslim dan nom-muslim,....hak menyuarakan pendapat, hak-hak perempuan
dan hak minoritas, kewarganegaraan....tanggung jawab, ras hormat,
kepercayaan.... (halaman 138).
Kesamaan antara Piagam Madinah dan Piagam Jakarta yang melahirkan
Pancasila sebagai dasar negara Indoenesia adalah penegasan keadilan,
keadilan sosial, dan kesamaan hak seluruh penduduk (ummah).
Dari pembacaan maqshiidiyyah dan hukum Islam yang kontemporer dan
kontekstual, ditambah dengan kenyataan bahwa negara Indonesia bukanlah
negara Islam, terlebih dengan prototipe negara Madinah yang dihuni oleh
penduduk yang majemuk, akan tetapi tetap menjunjung tinggi dengan
keadilan hak, maka di bagian terakhir buku ini yang ditulis oleh Wawan
Gunawan Abd.Wahid, ditegaskan bahwa kepemimpinan non-muslim
dibolehkan.
Putusan ini berdasarkan analisis fikih kontekstual. Misalnya, jika realitas yang
diperhadapkan adalah pemimpin-Muslim yang tidak mampu memimpin dan
pemimpin non-muslim yang mampu memimpin. Oleh karena itu, sekali lagi,
memilih pemimpin yang non-muslim di tengah masyarakat muslim
hukumnya diperbolehkan. Hal ini karena masalah kepemimpinan bukanlah
masalah muthagayyiraat (absolut). Selain itu, berdasarkan pengkajian atau
pembacaan kontektualitas, larangan memilih pemimpin non muslim
dikaitkan dengan sebab yang menyertainya, yaitu ketika non-muslim
melakukan penistaan terhadap umat Islam (halaman 325).
Kehadiran buku ini membantu keterwujudan harapan atas adil-tenteram
hidup pluralistik masyarakat Islam berkemajuan dan masyarakat
berkemajuan Indonesia, bahkan dunia pada umumnya. Buku ini layak
dijadikan rujukan untuk menjawab keresahan-keresahan umat Islam,
terkhusus bagi Indonesia yang telah menjumpai kenyataan kempemimpinan

non-muslim. Untuk dijadikan pedoman dalam hidup di tengah pluralitas pun


tentu demikian.
Buku ini, bahkan dinilai otoritatif atau berkompeten untuk dijadikan landasan
karena penulis-penulis yang ulil amri atau ulama di bidangnya masingmasing. Terlebih dengan hadirnya sambutan baik Menteri Agama Republik
Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin.
Meski kontroversi tentu dapat hadir atas buku ini, khususnya dari kalangan
umat yang tidak atau belum bisa menggunakan cara pandang atau
pembacaan hukum Islam seperti yang digunakan oleh para penulis di dalam
buku ini. (Zulfikar Hafid)