Anda di halaman 1dari 11

1.

Sistem Isometrik
Sistem ini juga disebut sistem kristal regular, atau dikenal pula dengan sistem kristal kubus
atau kubik. Jumlah sumbu kristalnya ada 3 dan saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.
Dengan perbandingan panjang yang sama untuk masing-masing sumbunya.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Isometrik memiliki axial ratio (perbandingan sumbu a
= b = c, yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu c. Dan
juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut
kristalnya ( , dan ) tegak lurus satu sama lain (90).

Gambar 1 Sistem Isometrik


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Isometrik memiliki
perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 3. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1,
pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c juga ditarik garis dengan nilai 3 (nilai
bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini
menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem isometrik dibagi menjadi 5 Kelas :

Tetaoidal

Gyroida

Diploida

Hextetrahedral

Hexoctahedral

Beberapa contoh mineral dengan system kristal Isometrik ini adalah gold, pyrite, galena,
halite, Fluorite (Pellant, chris: 1992)
2. Sistem Tetragonal
Sama dengan system Isometrik, sistem kristal ini mempunyai 3 sumbu kristal yang masingmasing saling tegak lurus. Sumbu a dan b mempunyai satuan panjang sama. Sedangkan
sumbu c berlainan, dapat lebih panjang atau lebih pendek. Tapi pada umumnya lebih panjang.

Pada kondisi sebenarnya, Tetragonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b c ,


yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan
juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini berarti, pada sistem ini, semua sudut
kristalografinya ( , dan ) tegak lurus satu sama lain (90).

Gambar 2 Sistem Tetragonal


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Tetragonal
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan
nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6
(nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 30. Hal ini
menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu b.
Sistem tetragonal dibagi menjadi 7 kelas:

Piramid

Bipiramid

Bisfenoid

Trapezohedral

Ditetragonal Piramid

Skalenohedral

Ditetragonal Bipiramid

Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Tetragonal ini adalah rutil, autunite,
pyrolusite, Leucite, scapolite (Pellant, Chris: 1992)
3. Sistem Hexagonal
Sistem ini mempunyai 4 sumbu kristal, dimana sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu
lainnya. Sumbu a, b, dan d masing-masing membentuk sudut 120 terhadap satu sama lain.
Sambu a, b, dan d memiliki panjang sama. Sedangkan panjang c berbeda, dapat lebih panjang
atau lebih pendek (umumnya lebih panjang).
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Hexagonal memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a = b = d c , yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan
sumbu d, tapi tidak sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = 90 ;

= 120. Hal ini berarti, pada sistem ini, sudut dan saling tegak lurus dan membentuk
sudut 120 terhadap sumbu .

Gambar 3 Sistem Hexagonal


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Hexagonal memiliki
perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan nilai 1,
pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6 (nilai
bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 20 ; d^b+= 40.
Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20 terhadap sumbu b dan sumbu
d membentuk sudut 40 terhadap sumbu b+.
Sistem ini dibagi menjadi 7:

Hexagonal Piramid

Hexagonal Bipramid

Dihexagonal Piramid

Dihexagonal Bipiramid

Trigonal Bipiramid

Ditrigonal Bipiramid

Hexagonal Trapezohedral

Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Hexagonal ini adalah quartz, corundum,
hematite, calcite, dolomite, apatite. (Mondadori, Arlondo. 1977)
4. Sistem Trigonal
Jika kita membaca beberapa referensi luar, sistem ini mempunyai nama lain yaitu
Rhombohedral, selain itu beberapa ahli memasukkan sistem ini kedalam sistem kristal
Hexagonal. Demikian pula cara penggambarannya juga sama. Perbedaannya, bila pada sistem
Trigonal setelah terbentuk bidang dasar, yang terbentuk segienam, kemudian dibentuk
segitiga dengan menghubungkan dua titik sudut yang melewati satu titik sudutnya.
Pada kondisi sebenarnya, Trigonal memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a = b = d c ,
yang artinya panjang sumbu a sama dengan sumbu b dan sama dengan sumbu d, tapi tidak
sama dengan sumbu c. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = 90 ; = 120. Hal ini

berarti, pada sistem ini, sudut dan saling tegak lurus dan membentuk sudut 120 terhadap
sumbu .

Gambar 4 Sistem Trigonal


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Trigonal
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = 1 : 3 : 6. Artinya, pada sumbu a ditarik garis dengan
nilai 1, pada sumbu b ditarik garis dengan nilai 3, dan sumbu c ditarik garis dengan nilai 6
(nilai bukan patokan, hanya perbandingan). Dan sudut antar sumbunya a+^b = 20 ; d^b+=
40. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 20 terhadap sumbu b dan
sumbu d membentuk sudut 40 terhadap sumbu b+.
Sistem ini dibagi menjadi 5 kelas:

Trigonal piramid

Trigonal Trapezohedral

Ditrigonal Piramid

Ditrigonal Skalenohedral

Rombohedral

Beberapa contoh mineral dengan sistem kristal Trigonal ini adalah tourmaline dan cinabar
(Mondadori, Arlondo. 1977)
5. Sistem Orthorhombik
Sistem ini disebut juga sistem Rhombis dan mempunyai 3 sumbu simetri kristal yang saling
tegak lurus satu dengan yang lainnya. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang yang
berbeda.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Orthorhombik memiliki axial ratio (perbandingan
sumbu) a b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau
berbeda satu sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = = 90. Hal ini berarti,
pada sistem ini, ketiga sudutnya saling tegak lurus (90).

Gambar 5 Sistem Orthorhombik


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem Orthorhombik
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan
menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya
a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 30 terhadap sumbu
b.
Sistem ini dibagi menjadi 3 kelas:

Bisfenoid

Piramid

Bipiramid

Beberapa contoh mineral denga sistem kristal Orthorhombik ini adalah stibnite, chrysoberyl,
aragonite dan witherite (Pellant, chris. 1992)
6. Sistem Monoklin
Monoklin artinya hanya mempunyai satu sumbu yang miring dari tiga sumbu yang
dimilikinya. Sumbu a tegak lurus terhadap sumbu n; n tegak lurus terhadap sumbu c, tetapi
sumbu c tidak tegak lurus terhadap sumbu a. Ketiga sumbu tersebut mempunyai panjang
yang tidak sama, umumnya sumbu c yang paling panjang dan sumbu b paling pendek.
Pada kondisi sebenarnya, sistem Monoklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a b
c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu
sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi = = 90 . Hal ini berarti, pada ancer
ini, sudut dan saling tegak lurus (90), sedangkan tidak tegak lurus (miring).

Gambar 6 Sistem Monoklin


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, sistem kristal Monoklin
memiliki perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan
menjadi ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya

a+^b = 30. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45 terhadap sumbu
b.
Sistem Monoklin dibagi menjadi 3 kelas:

Sfenoid

Doma

Prisma

Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Monoklin ini adalah azurite, malachite,
colemanite, gypsum, dan epidot (Pellant, chris. 1992)
7. Sistem Triklin
Sistem ini mempunyai 3 sumbu simetri yang satu dengan yang lainnya tidak saling tegak
lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu tidak sama.
Pada kondisi sebenarnya, sistem kristal Triklin memiliki axial ratio (perbandingan sumbu) a
b c , yang artinya panjang sumbu-sumbunya tidak ada yang sama panjang atau berbeda satu
sama lain. Dan juga memiliki sudut kristalografi = 90. Hal ini berarti, pada system
ini, sudut , dan tidak saling tegak lurus satu dengan yang lainnya.

Gambar 7 Sistem Triklin


Pada penggambaran dengan menggunakan proyeksi orthogonal, Triklin memiliki
perbandingan sumbu a : b : c = sembarang. Artinya tidak ada patokan yang akan menjadi
ukuran panjang pada sumbu-sumbunya pada sistem ini. Dan sudut antar sumbunya a+^b =
45 ; b^c+= 80. Hal ini menjelaskan bahwa antara sumbu a+ memiliki nilai 45 terhadap
sumbu b dan b membentuk sudut 80 terhadap c+.
Sistem ini dibagi menjadi 2 kelas:

Pedial

Pinakoidal

Beberapa contoh mineral dengan ancer kristal Triklin ini adalah albite, anorthite, labradorite,
kaolinite, microcline dan anortoclase (Pellant, chris. 1992)

7 Sistem Kristal pada Mineral

TUJUH SISTEM KRISTALOGRAFI1. Sistem Reguler


(Cubic = Isometric = Tesseral =
Tessuler)Ketentuan:Sumbu : a = b = cSudut : a = b = g = 900Karena Sb a = Sb b = Sb c, maka
disebut juga Sb a. Cara Menggambar: a- / b+ = 300a : b: c = 1 : 3 : 3 Gambar sistem kristal
Reguler yang termasuk dalam Nama kristal Hexahedron.Dengan contoh mineral Galena (PbS),

Emas (Au), Pyrite (FeS2) dan Halite (NaCl). Gambar sistem kristal Reguler yang termasuk
dalam Nama Kristal Pentagonal Dodecahedron. Dengan contoh mineral ;Magnetite (Fe3O4),
Intan (C).2. Sistem Tetragonal
(Quadratic)Ketentuan:Sumbu : a = b cSudut : a = b = g =
900Karena Sb a = Sb b disebut juga Sb aSb c bisa lebih panjang atau lebih pendek dari Sb a
atau b.Bila Sb c lebih panjang dari Sb a dan Sb b disebut bentuk ColumnarBila Sb c lebih
pendek dari Sb a dan Sb b disebut bentuk Stout. Cara menggambar: a + / b-- = 30oa : b : c =
1 : 3 : 6 Contoh mineral : Cassiterite (SnO2), Calcophyrite (CuFeS) Gambar sistem kristal
Tetragonal yang termasuk dalam Nama Kristal Tetragonal Prisma Orde I dengan contoh
mineralChalcopyrite (CuFeS2) dan Cassiterite (SnO2). 3. Sistem HexagonalKetentuan:Ada 4
sumbu yaitu a, b, c, dSumbu a : = b = d cSudut : b1 = b2 = b3 = 900Sudut : g1 = g2 = g3 =
1200Sb a, b, dan d terletak dalam bidang horisontal / lateral dan membentuk 600.Sb c dapat
lebih panjang atau lebih pendek dari Sb a. Cara menggambar: a+ / b = 170 b+ / d = 390b :
d : c : = 3 : 1 : 6Contoh Mineral : Apatite [Ca5((F,Cl,OH)PO4)3] Gambar sistem kristal
Hexagonal yang termasuk dalam Nama Kristal Hexagonal Prisma dengan contoh
mineral Quarst (SiO2)dan Apatite [Ca5((F,Cl,OH)PO4)3] 4. Sistem
Trigonal
(Rhombohedral)KetentuanSumbu : a = b = d cSudut : b1 = b2 = b3 =
900Sudut : g1 = g2 = g3 = 1200 Cara menggambar:Sama dengan sistem
Hexagonal, perbedaannya hanya pada Sb c bernilai 3.Penarikan Sb a sama dengan
padaSistem Hexagonal. Gambar sistem kristal Trigonal prisma orde I yang termasuk dalam
Nama Kristal Hexagonal Prisma dengan contoh mineral Gypsum (CaSO4 2H2O) 5. Sistem
Orthorombic(Rhombic = Prismatic = Trimetric)Ketentuan:Sumbu : a b cSudut a = b = g =
900Sb c adalah sumbu terpanjangSb a adalah sumbu terpendekSb a disebut Sb BrachySb b
disebut Sb MacroSb c disebut Sb Basal Cara menggambar: a- / b+ = 300a : b : c = 1 : 4 :
6 Gambar sistem kristal Orthorombik dengan nama Orthorombic Brachi Makro
Basal Pinacoid dengan contoh mineral Barite(BaSO4) 6. Sistem Monoklin
(Oblique =
Monosymetric = Clinorhombic = Hemiprismatik = Monoclinohedral)Ketentuan:Sumbu :
a b cSudut : a = g = 900 b 900Sb a disebut sumbu ClinoSb b disebut sumbu OrthoSb c
disebut sumbu Basal Cara menggambar a- / b + = 450a : b : c = 1 : 4 : 6Sb c adalah sumbu
terpanjangSb a adalah sumbu terpendek Gambar sistem kristal Monoklin dengan
nama Monoklin Hemybipyramid dengan contoh mineral Orthoclase (K Al Si3O8) 7. Sistem
Triklin
(Anorthic = Asymetric = Clinorhombohedral)Ketentuan:Sumbu :
a b cSudut : a b g 900Semua Sb a, b, c saling berpotongan danmembuat sudut miring
tidak sama besar.Sb a disebut Sb BrachySb b disebut Sb MacroSb c disebut Sb Basal Cara
menggambar: a+ / c = 450 b- / c + = 800a : b : c = 1 : 4 : 6 Gambar sistem
kristal Triklin dengan nama Triklin Hemybipyramiddengan contoh
mineral Kyanite (Al2O SiO4) 2. Sumbu Simetri Gyre PolairBerlaku bila kenampakan (konfigura
si) satu sama lain pada kedua belah pihak
berbeda/tidak sama. Jika salah satu sisinya berupa sudut atau corner maka pada
sisi lainnya berupa bidang atau plane. Dinotasikan dengan huruf L atau g.
Contoh : L2= g2.UNSUR-UNSUR SIMETRI KRISTALDari masing-masing sistem kristal dapat
dibagi lebih lanjut menjadi klas-klas kristal yang jumlahnya 32 klas. Penentuan klasi_kasi
kristal tergantung dari banyaknya unsur-unsur simetri yang terkandung di dalamnya. Unsurunsur simetri tersebut meliputi: 1. bidang simetri 2. sumbu simetri 3. pusat simetri
Bidang simetri Bidang simetri adalah bidang bayangan yang dapat membelah kristal
menjadi dua bagian yang sama, dimana bagian yang satu merupakan pencerminan dari yang
lain. Bidang simetri ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bidang simetri aksial dan bidang
simetri menengah. Bidang simetri aksial bila bidang tersebut membagi kristal melalui dua
sumbu utama (sumbu kristal). Bidang simetri aksial ini dibedakan menjadi dua, yaitu bidang
simetri vertikal, yang melalui sumbu vertikal dan bidang simetri horisontal, yang berada tegak
lurus terhadap sumbu c. Bidang simetri menengah adalah bidang simetri yang hanya melalui
satu sumbu kristal. Bidang simetri ini sering pula dikatakan sebagai bidang siemetri diagonal.
Sumbu simetri Sumbu simetri adalah garis bayangan yang dibuat menembus pusat kristal,
dan bila kristal diputar dengan poros sumbu tersebut sejauh satu putaran penuh akan
didapatkan beberapa kali kenampakan yang sama. Sumbu simetri dibedakan menjadi tiga,
yaitu gire, giroide dan sumbu inversi putar. Ketiganya dibedakan berdasarkan cara
mendapatkan nilai simetrinya. Gire, atau sumbu simetri biasa, cara mendapatkan nilai
simetrinya adalah dengan memutar kristal pada porosnya dalam satu putaran penuh. Bila
terdapat dua kali kenampakan yang sama dinamakan digire, bila tiga trigire (4), empat tetragire
(3), heksagire (9) dan seterusnya. Giroide adalah sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai
simetrinya dengan memutar kristal pada porosnya dan memproyeksikannya pada bidang

horisontal. Sumbu inversi putar adalah sumbu simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya
dengan memutar kristal pada porosnya dan mencerminkannya melalui pusat kristal. Penulisan
nilai simetrinya dengan cara menambahkan bar pada angka simetri itu.
Pusat simetri Suatu kristal dikatakan mempunyai pusat simetri bila kita dapat membuat
garis bayangan tiap-tiap titik pada permukaan kristal menembus pusat Kristal dan akan
menjumpai titik yang lain pada permukaan di sisi yang lain dengan jarak yang sama terhadap
pusat kristal pada garis bayangan tersebut. Atau dengan kata lain, kristal mempunyai pusat
simetri bila tiap bidang muka kristal tersebut mempunyai pasangan dengan kriteria bahwa
bidang yang berpasangan tersebut berjarak sama dari pusat kristal, dan bidang yang satu
merupakan hasil inversi melalui pusat kristal dari bidang pasangannya. Dari tujuh sistem
kristal dapat dikelompokkan menjadi 32 klas kristal. Pengelompokkan ini berdasarkan pada
jumlah unsur simetri yang dimiliki oleh kristal tersebut. Sistem isometrik terdiri dari lima kelas,
sistem tetragonal mempunyai tujuh kelas, rombis memiliki tiga kelas, heksagonal mempunyai
tujuh kelas dan trigonal lima kelas. Selanjutnya sistem monoklin mempunyai tiga kelas. Tiap
kelas kristal mempunyai singkatan yang disebut simbol. Ada dua macam cara simbolisasi
yang sering digunakan, yaitu simbolisasi Schon_ies dan Herman Mauguin (simbolisasi
internasional).
2 . 1 . 1 . P e n e n t u a n K e l a s S i m e t r i Dari ke-7 sistem kristal tersebut,
dapat dikelompokkan menjadi 32 klas kristal.Pengelompokkan ini berdasarkan
pada jumlah unsur simetri yang dimiliki oleh kristaltersebut. Sistem isometrik
terdiri dari lima kelas, sistem tetragonal mempunyai tujuh kelas, rombis memiliki tiga
kelas, heksagonal mempunyai tujuh kelas dan trigonal limakelas. Selanjutnya sistem monoklin
mempunyai tiga kelas. Tiap kelas kristal mempunyaisingkatan yang disebut simbol. Ada dua
macam cara simbolisasi yang sering digunakan,yaitu simbolisasi Schoenflies dan
Herman Mauguin (simbolisasi internasional).2.1.1.1.Menurut Herman Mauguin Sistem
Reguler Bagian I : menerangkan nilai sumbu a (Sb a, b, c), mungkin bernilai 4 atau
2 danada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus sumbu a
tersebut.Bagian ini dinotasikan dengan : 4 , 4, 4 , 2 , 2m mA n g k a m e n u n j u k a n n i l a i
s u m b u d a n h u t u f m m e n u n j u k a n a d a n y a b i d a n g simetri yang tegak lurus
sumbu a tersebut.Bagian II : menerangkan sumbu simetri bernilai 3. apakah sumbu
simetri yang bernilai 3 itu, juga bernilai 6 atau hanya bernilai 3 saja.Maka bagian II selalu di
tulis: 3 atau 3Bagian III : menerangkan ada tidaknya sumbu simetri intermediet
(diagonal) bernilai 2 dan ada tidaknya bidang simetri diagonal yang tegak lurus
terhadapsumbu diagonal tersebut.Bagian ini di notasikan: 2 , 2 , m atau tidak ada.m Sistem
Tetragonal Bagian I : menerngkan nila sumbu c, mungkin bernilai 4 atau tidak
bernilai danada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus sumbu c.Bagian ini di notasikan:
4 , 4 , 4 mB a g i a n I I : m e n e r a n g k a n a d a t i d a k n y a s u m b u l a t e r a l d a n a d a
t i d a k n y a b i d a n g simetri yang tegak lurus yterhadap sumbu lateral tersebut.Bagian ini di
notasikan: 2 , 2, m atau tidak
ada.B a g i a n I I I : m e n e r a n g k a n a d a t i d a k n y a s u m b u s i m e t r i i n t e r m e d i
e t d a n a d a tidaknya bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu inetrmediet
tersebut.Bagian ini di notasikan: 2 , 2 , m atau tidak ada.m Sistem Hexagonal dan Trigonal Bagian
I: menerangkan nilai sumbu c (mungkin 6, 6, 6, 3, 3) danada tidaknya bidang simetri horisontal
yang tegak lurus sumbu c tersebut.Bagian ini di notasikan : 6, 6, 6, 3, 3Bagian II:
menerangkan sumbu lateral (sumbu a, b, d) dan ada tidaknya bidang simetri vertikal
yang tegak lurus.Bagian ini di notasikan: 2 , 2 , m atau tidak ada.mBagian III: menerangkan
ada tiaknya sumbu simetri intarmediet dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus
terhadap sumbu intermediet tersebut.Bagian ini di notasikan: 2 , 2, m atau tidak ada.m Sistem
OrthorombicBagian I: menerangkan nilai sumbu a dan ada tiaknya bidang yang
tegak lurusterhadap sumbu a tersebutDinotasikan: 2 , 2 , mmB a g i a n I I : m e n e r a n g k a n
a d a t i d a k n y a n i l a i s u m b u b d a n a d a t i d a k n y a b i d a n g simetri yang tegak lurus
terhadap sumbu b tersebut.Bagian ini di notasikan: 2 , 2, mmB a g i a n I I I : m e n e r a n g k a n
n i l a i s u m b u c d a n a d a t i d a k n y a b i d a n g s i m e t r i y a n g tegak lurus terhadap
sumbu tersebut.Di notasikan: 2 , 2m Sistem MonoklinHanya ada satu bagian, yaitu
menerangkan nilai sumbu b dan ada tidaknya bidangsimetri yang tegak lurus sumbu b
tersebut. Sistem TrinklinSistem ini hanya ada 2 klas simetri,
yaitu:- Mempunyai titik simetri klas pinacoidal 1- Tidak mempunyai unsur simetri klas assymet
ric 1 2.1.1.1. Menurut Schoenflish Sistem Reguler Bagian I : Menerangkan nilai c.
Untuk itu ada 2 kemungkinan yaitu sumbu c bernilai 4 atau bernilai 2.Kalau sumbu c
bernilai 4 dinotasikan dengan huruf O (octaeder).Kalau sumbu c bernilai 2 dinotasikan denga

huruf T (tetraeder). Bagian II :Menerangkan kandungan bidang simetrinya, apabila


kristal tersebut mempunyai: Bidang simetri horisontal
(h)Bidang simetri vertikal (v) Dinotasikan dengan hBidang simetri diagonal (d)Kalau
mempunyai:Bidang simetri horisontal (h)Bidang simetri vertikal (v) Dinotasikan dengan hKalau
mempunyai :Bidang simetri diagonal (d) Dinotasikan dengan vBidang simetri vertikal (v)Kalau
mempunyai :Bidang simetri diagonal (d) Dinotasikan dengan d Sistem Tetragonal, Kexagonal,
Trigonal, Orthorombic, Monoklin, Dan TrinklinBagian I :Menerangkan nilai sumbu yang tegak
lurus sumbu c, yaitu sumbu lateral (sumbu a, b, d) atau sumbu intermediet, ada 2
kemungkinan:Kalau sumbu tersebut bernilai 2 di notasikan dengan D (diedrish).Kalau sumbu
tersebut tidak bernilai dinotasikan dengan c (cyklich). Bagian II :Menerangkan nilai
sumbu c. Nilai sumbu c ini di tuliskan di sebelah kanan agak bawah dari notasi d
atau c.
Bagian III : Menerangkan kandungan bidang
simetrinya.Bidang simetri horisontal (h)Bidang simetri vertikal (v) Dinotasikan dengan hBidan
g simetri diagonal (d)Kalau mempunyai:Bidang
simetri horisontal (h)Bidang simetri vertikal (v) Dinotasikan dengan hKalau mempunyai
:Bidang simetri diagonal (d)Bidang simetri vertikal (v) Dinotasikan dengan vKalau
mempunyai :Bidang simetri diagonal (d) Dinotasikan dengan.