Anda di halaman 1dari 14

Makalah Kasus

Disusun Oleh:
Anthony Hadi Wibowo
Andrew Kencana
Giovani Anggasta
Lia Pamungkas
Martha Regisna Silalahi

PEMBIMBING:
dr. Imelda
dr. Carla

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa


Rumah Sakit Ketergantungan Obat Cibubur
Periode 13 September s/d 16 Oktober 2015
Fakultas Kedokteran Ukrida
Jl. Terusan Arjuna No. 6, Kebon Jeruk. Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus : Jumat/ 2 Oktober 2015
SMF ILMU JIWA
PANTI SOSIAL BINA INSAN BANGUN DAYA
Nama
:
NIM
:
Dokter Pembimbing :
Nomor rekam medis
Nama Pasien
Masuk RS pada tanggal
Riwayat Perawatan
I.

II.

Tanda Tangan,
.........................
:: Aldo Januar
: 15 September 2015
: Pernah dirawat di ruang detox Juni 2014 lalu.

IDENTITAS WBS
Nama

: An. AJ

Usia

: 16 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA kelas 3

Suku bangsa

: Cirebon

Alamat

: Cilandak Barat- Jakarta Selatan

Status perkawinan

: Belum Kawin

Pekerjaan

: Pelajar

RIWAYAT PSIKIATRI
Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 16 September 2015 jam 11.30 WIB dan
alloanamnesis dengan ibu Os tanggal 21 September 2015 11.30 WIB.

A. KELUHAN UTAMA
Pasien datang ke RSKO di bawa oleh ibunya karena menggunakan ganja.
B. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG
2

Menurut OS ia dibawa ke ruang detoksifikasi RSKO pada malam hari tanggal 15


September 2015 dalam keadaan tidak sadar. Pasien mengatakan ia tidak sadar karena ia di
berikan obat penenang dari ibunya melalui suster yang merawat luka patah kakinya akibat
kecelakaan pada Desember 2014 lalu. Pasien mengaku hal itu dilakukan oleh ibunya
karena ia menolak di bawa ke RSKO karena ketauan masih menggunakan ganja 1 minggu
sebelumnya yang di ketahui ibunya dari linting ganja yang di temukan di asbak
rumahnya. Pasien mengatakan ia sadar setibanya di RSKO dan mengamuk-ngamuk
karena ia merasa di masukkan secara paksa tanpa sepengetahuannya.
Pasien mengaku ia rutin mengkonsumsi ganja sebanyak 2 kali dalam seminggu, yaitu
sebanyak 1-2 linting ganja dengan cara di bakar. Ia mengaku biasa menggunakan ganja
bersama teman-temannya sebanyak 5-6 orang yang di beli seharga Rp50.000,-/linting
dengan cara patungan menggunakan uang jajannya atau di bayari oleh teman-temannya.
Pasien mengatakan ia merasa tenang dan bahagia setelah menggunakan ganja. Ia juga
mengatakan ia merasa lebih mudah mengantuk dan mudah beristirahat setelah
menggunakan ganja. Namun setelah bangun tidur dan beraktivitas pasien mengatakan ia
hanya merasa seperti biasa lagi, iya menyangkal merasa gelisah, tidak nyaman ataupun
tidak bisa beraktivitas.
Awalnya pasien menggunakan ganja pertama kali kelas 3 SMP karena penasaran dan
ingin coba-coba karena melihat teman-teman sepergaulannya di sekolah, namun sekarang
menjadi rutin setiap minggunya. Pasien menyangkal ia ketagihan ganja, ia hanya
menggunakan bila sedang bersama teman-teman atau saat ada masalah saja.
Sebelum menggunakan ganja ia menggunakan rokok sejak kelas 2 SMP yang dia peroleh
dari kakak kelasnya di SMP, yang memaksanya untuk merokok. Ia mengatakan di
keluarganya ia tidak di larang untuk merokok. Sehingga sampai saat ini ia tetap rutin
merokok sebanyak 2 bungkus/hari.
Pada Juni 2014 pasien mengaku pernah di rawat di ruang detoksifikasi RSKO juga karena
ketahuan ibunya melihat linting ganja di asbak rokok kamarnya. Pasien di bawa dengan
cara digrebek di rumah oleh tim RSKO yang bekerjasama dengan ibu pasien untuk
melakukan intervensi. Ia mengatakan hanya dirawat selama 1 minggu dan meminta
pulang paksa dengan alasan tidak nyaman dan bosan tinggal di ruang detox.
2 minggu setelah kepulangan pasien dari detox, ia mengaku menggunakan kembali ganja
dengan alasan sedang ingin merasakan kembali ketenangan. Ia menggunakan ganja
dengan alasan sering di marahi oleh guru ataupun ibunya.
Pasien mengatakan ia sudah pernah mencoba untuk melepaskan diri dari ganja dan
menolak teman-temannya untuk menggunakan ganja kembali. Namun ia merasa tidak
3

enak dan takut kehilangan teman saat di bujuk kembali oleh teman-temannya, sehingga ia
tergoda kembali menggunakan ganja. Saat wawancara di lakukan pasien mengatakan
menyesal sekali dengan perbuatannya yang mengecewakan ibunya, ia ingin berubah
untuk ibunya dan demi cita-citanya, namun ia menolak untuk di lakukan rehabilitasi
dengan alasan akan merasa bosan dan tidak mau di suruh bekerja karena alasan kaki
kirinya yang pernah patah.
C. RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA
1. Gangguan psikiatrik
Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan seperti berhalusinasi,
berbicara sendiri, mendengar suara-suara bisikan yang tidak terlihat wujudnya,
berdiam diri sendirian, menangis terus-terusan, tidak punya semangat hidup atau
rencana bunuh diri. Ia juga menyangkal pernah di diagnosa dokter mempunyai
penyakit yang berhubungan dengan kelainan jiwa.
2. Riwayat Gangguan Medik
Pasien mengalami kecelakaan lalu lintas dengan motor pada Desember 2014,
yang menyebabkan kaki kirinya patah dan sudah di lakukan operasi. Saat
wawancara dilakukan ia mengatakan masih rutin dilakukan perawatan luka di
RSKO oleh perawat ruang detox.
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
1. Pasien pertama kali menggunakan rokok pada waktu kelas 2 SMP yang di
dapat dari kakak kelasnya yang memaksanya merokok. Ia mengatakan rutin
merokok 2 bungkus/ hari. Ia mengatakan merasa sulit berpikir bila ia tidak
menghisap rokok.
2. Pasien juga mengkonsumsi alkohol karena di ajak teman-temannya pertama
kali saat kelas 2 SMP juga. Dan ia rutin minum alkohol setiap 2x/minggu. Dan
mengatakan merasa bahagia setiap kali minum-minuman beralkohol.
3. Pasien pertama kali menggunakan ganja saat duduk di bangku kelas 3 SMP
yang di dapat dari teman-temannya. Alasan pertama kali menggunakan adalah rasa
penasaran dan ingin coba-coba. Ia menjadi rutin menggunakan ganja 2x/minggu
sebanyak 2-3 linting setiap kali pemakaian dengan cara di hisap. Ia mengatakan
4

saat menggunakan ganja merasa tenang dan bahagia serta merasa mengantuk dan
mudah untuk istirahat. Setelah penggunaan ia menyangkal adanya rasa gelisah,
tidak nyman atau tidak mampu beraktivitas, ia mengatakan bisa beraktivitas
kembali. Pasien juga menyangkal ketagihan menggunakan ganja, ia menggunakan
bila saat berkumpul dengan teman-teman atau bila ada masalah.
4. Riwayat Gangguan Sebelumnya

1999 2001 2003 2006 2009 2011

2012 2013

2014

2015

-Di DO karena
membawa ganja,
pindah ke SMA
Thamrin.

Orang tuanya
bercerai saat
ia berusia 8
tahun kelas
3 SD

Merokok
dan
minum
alkohol,
kelas 2
SMP, 13
tahun

D.RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI

Menggunakan
ganja, di DO
dari sekolah
dan pindah ke
Cirebon
menyelesaikan
SMP.

Kembali ke
Jakarta sekolah
di SMA 46,
dan tinggal
kelas di
bangku 1
SMA, pindah
ke SMA 82.
Hanya 1
semester
kembali kagi
ke SMA 46
mengulang
kelas 1 SMA

15
September
2015
masuk
kembali di
detox
RSKO

-Juni 2014 masuk


Detox RSKO selama 1
minggu.
-2 minggu setelah
keluar kembali
menggunakan ganja
-Desember 2014
kecelakaan lau lintas,
patah kaki kiri

1. Riwayat Perkembangan Fisik


Pasien lahir di Cirebon, lahir dalam keadaan sempurna tidak ada kelainan
bawaan, Pasien tumbuh sesuai umur. Berat badannya sebelum menggunakan ganja
dalam batas normal (50kg), setelah menggunakan ganja menjadi 40kg. Selama
perawatan di detox pasien mengaku berat badannya naik lagi menjadi 47 kg.

2. Riwayat Perkembangan Kepribadian


a. Masa kanak-kanak (0-11 tahun)
Pasien menghabiskan masa kanak-kanaknya di Jakarta bersama kedua
orangtuanya. Ia mendapat kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya .
namun pada saat pasien duduk di bangku kelas 3 SD kedua orangtua nya bercerai
5

dan ia memilih untuk tinggal dengan ibunya. Sejak bercerai ibunya bekerja sebagai
wiraswasta yaitu pemilik salon, sehingga waktu kebersamaan dengan ibunya ia
akui berkurang dan ia di rawat sehari-hari oleh pembantunya. Ia mengaku bertemu
ayahnya sekali dalam seminggu
b. Masa Remaja (12-18 tahun)
Pada saat SMP, pasien mengaku pandai bergaul dan memiliki banyak teman.
Ia mengaku adalah orang yang tidak enakan dengan teman, tidak bisa menolak
ajakan teman dan selalu mengutamakan kepentingan teman-temannya di banding
dirinya. Ia juga pernah berkelahi dan tawuran yang dia lakukan atas ajakan temantemannya.
c. Masa Dewasa (> 18 tahun)
Pasien belom mencapai masa dewasa
3. Riwayat Pendidikan
SD
: Pasien pernah mendapat rangking, tidak pernah tinggal kelas. Tamat.
SMP : Pasien tidak pernah rangking, tidak pernah tinggal kelas, namun pernah di
DO dari sekolah karena ketauan membawa ganja, sehingga pindah sekolah SMP di
Cirebon. Taman.
SMA : Pasien tidak pernah rangking, pernah tinggal kelas 1x saat di bangku 1
SMA di SMA 46, ia juga pernah pindah sekolah ke SMA 82 karena tinggal kelas
selama 1 semester, kemudian dia kembali ke SMA 46 mengulang dari kelas 1 SMA
sampai kelas 3 SMA, di bangku kelas 3 SMA ia di DO kembali karena membawa
ganja ke sekolah dan pindah ke SMA Thamrin..
4. Riwayat Pekerjaan
Pasien belom bekerja
5. Kehidupan Beragama
Sebelum menggunakan ganja pasien mengaku rajin menunaikan ibadah shalat.
Namun sejak menggunakan ganja ia menjadi tidak pernah sholat karena malas. Saat
wawancara dia lakukan pasien mengatakan sejak dirawat di ruang detox ia mengakui
mulai ada keinginan kembali untuk sholat, meskipun belom sepenuhnya 5 waktu.
6. Riwayat Kehidupan Sosial dan Perkawinan
Pasein orang yang mudah bergaul dan cenderung mengutamakan temantemannya dibading dirinya sendiri atau keluarganya. Ia sulit menolak ajakan temantemannya dalam bentuk apapun termasuk menggunakan ganja.
Pasien belom menikah, ia juga mengatakan tidak sedang memiliki hubungan
khusus (pacaran) dengan perempuan, ia juga menyangkal pernah melakukan
hubungan seksual dengan pacar sebelumnya atau perempuan lain.

E. RIWAYAT KELUARGA
Pasien merupakan anak tunggal. Ayahnya masih ada dan menurut pasien tinggal di
Cirebon dan ibunya di Jakarta serumah dengannya. Orangtuanya bercerai tahun 2006. Saat
ia berusia 8 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 3 SD. Ia memilih tinggal bersama
ibunya dan di asuh oelh pembantunya karena kesibukan ibunya mencari nafkah..
Tidak didapatkan adanya riwayat gangguan jiwa dalam keluarganya dari
autoanamnesis. Namun di dapatkan riwayat penggunaan rokok oleh ayahnya dan dirinya.

Rokok
Rokok, Alkohol, ganja
F. SITUASI KEHIDUPAN SOSIAL SEKARANG
Pasien mengatakan ia merasa menyesal telah menggunakan ganja. Selama di detox ua
bisa bersosialisasi dengan baik dengan penghuni detox.
III. STATUS MENTAL
A. DESKRIPSI UMUM
1. Penampilan
Paien laki-laki berusia 16 tahun, tubuh terlihat kurus, kulit sawo matang, rambut
pendek, berwarna hitam. Pada saat di wawancara pasien menggunakan baju hitam dan
celana pendek serta memnggunakan topi.
2. Kesadaran
a. Kesadaran sensorium/neurologik: Kompos mentis
b. Kesadaran psikiatrik: Tidak tampak terganggu
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
a. Sebelum wawancara: pasien tertidur di bangsal
b. Selama wawancara: pasien duduk dengan sikap tubuh tenang, kontak mata baik,
ramah, dan sikap bersahabat, serta lancar menjawab pertanyaan
c. Sesudah wawancara: pasien kembali ke bangsalnya dengan tenang
4. Sikap terhadap pemeriksa: pasien kooperatif (menjawab pertanyaan dengan baik)
7

5. Pembicaraan:
a. Cara berbicara: bicara spontan, sopan dan lancar, volume suara cukup tidak
dramatis, dan menjawab semua semua pertanyaan yang diberikan.
b. Gangguan berbicara: tidak ada.
B. ALAM PERASAAN (EMOSI)
1. Suasana perasaan (mood) : eutimik
2. Afek ekspresi afektif
a.
Arus
: normal
b.
Stabilisasi
: stabil
c.
Kedalaman
: dalam
d.
Skala diferensiasi
: luas
e.
Keserasian
: serasi
f.Pengendalian impuls : kuat
g.
Ekspresi
: wajar
h.
Dramatisasi
: tidak ada
i. Empati
: dapat diraba rasakan

C. GANGGUAN PERSEPSI
a.
b.
c.
d.

Halusinasi
Ilusi
Deperesonalisasi
Derealisasi

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

D. SENSORIUM DAN KOGNITIF (FUNGSI INTELEKTUAL)


1. Taraf pendidikan

3. Kecerdasan
4. Konsentrasi
5. Orientasi
a. Waktu

:
SMA
2. Pengetahuan umum

Cukup baik (mengetahui

nama-nama menteri)
:
Rata-rata
:
Cukup baik
:

Baik (pasien

dapat menyebutkan hari/tanggal, dan

dapat membedakan siang dan malam)


b. Tempat
:
Baik (pasien tahu sekarang sedang berada di detox)
c. Orang
:
Baik (pasien dapat membedakan dokter, pegawai panti,
laki-laki, perempuan)

d. Situasi

Baik (pasien tahu dokter muda sedang wawancara untuk

mencari tahu kondisi penyakitnya)


6. Daya ingat
a. Tingkat:
Jangka panjang : baik (pasien masih ingat kejadian dulu waktu SD)
Jangka pendek : baik (pasien dapat menyebutkan menu makan tadi malam)
Segera
: baik (pasien tahu nama pemeriksa)
7. Pikiran abstraktif

: tidak terganggu (pasien dapat menjawab peribahasa

berakit-rakit kita kehulu berenang-renang ketepian)


8. Visuospasial
: Baik (pasien menjelaskan tentang arah jalan kerumahnya)
9. Bakat kreatif
: pasien dapat bermain futsal
10. Kemampuan menolong diri sendiri: Baik (pasien dapat makan dan mandi sendiri)
E. PROSES PIKIR
1. Arus pikir
o Produktifitas
o Kontinuitas
o Hendaya bahasa
2. Isi pikir
o
o
o
o
o
o
o

: Baik, suara jelas, flight of ideas (-).


: Baik, inkoherensi (-),
: Tidak ada

Preokupasi dalam pikiran


Waham
Obsesi
Fobia
Gagasan rujukan
Gagasan pengaruh
Ide Bunuh Diri

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

F. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, selama wawancara pasien dapat berlaku dengan tenang dan tidak menunjukkan
gejala yang agresif. Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan menjawab pertanyaanpertanyaan dengan baik.

G. DAYA NILAI
1. Daya nilai sosial
menolong orang lain)
2. Uji daya nilai

: Baik (pasien tahu jika orang harus berbuat kebaikan dan


: Baik (pasien mengerti bagaimana harus berbuat baik kepada

sesama)

3. Daya nilai realitas

: Baik (pasien tidak mempunyai halusinasi auditorik dan visual

ataupun waham)

H. TILIKAN
Derajat 5, karena pasien mengethaui bahwa ia sedang mengalami ketergantungan akibat
penyalahgunaan zat yang di lakukannya namun ia menolak untuk di rehabilitasi

I. RELIABILITAS
Dapat dipercaya.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS INTERNUS
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. Tensi
4. Nadi
5. Pernafasan dan suhu
6. Sistem kardiovaskular
7. Sistem respiratorius
8. Sistem gastrointestinal
9. Extremitas

: Baik
: Compos Mentis
: 110/70mmHg
: 76 kali/menit
: 12 kali/menit, suhu tidak dilakukan
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal
: Fraktur cruris sinistra

B. STATUS NEUROLOGIK
Tidak dilakukan pemeriksaan
V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rencana pemeriksaan darah lengkap.

VI.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Pasien laki-laki berusia 16 tahun datang ke RSKO di bawa oleh ibunya karena menggunakan
ganja. Ia menggunakan ganja sejak kelas 3 SMP di awali dengan rasa ingin tahu dan cobacoba dari teman sepergaulannya. Pasien menggunakan ganja 2x/minggu, sebanyak 2-3 linting
dengan cara di bakar yang ia beli dengan cara patungan bersama teman-temannya. Pada Juni
2014 ia sempat di rawat di detox RSKO selama 1 minggu. Namun 2 minggu setelah keluar ia
kembali menggunakan ganja dengan alasan rasa keinginan yang besar atau stress karena di
marahi oleh ibu dan gurunya. Saat menggunakan ia merasa tenang, bahagia , mengantuk dan
10

mudah untuk beristirahat. Setelah menggunakannya ia tidak mempunyain keluhan dan


menyangkal kalau dirinya ketagihan ganja. Ia mengatakan pernah berusaha beberapa kali
untuk menolak ajakan teman-temannya namun gagal karena ia merupakan orang yang setia
kawan, tidak enakan, dan mementingkan kepentingan teman-temannya daripada dirinya
sendiri atau keluarganya.
15 September 2015 ia kembali di bawa ibunya ke RSKO dengan cara di berikan obat
penennang melalui suster yang merawat luka patah kakinya akibat kecelakaan Desember
2014. Ia sempat sadar dan mengamuk karena merasa di bawa dengan cara paksa tanpa
sepengetahuannya. Saat wawancara di lakukan ia mengaku menyesal dengan perbuatannya
dan ingin berusaha melepaskan diri dari ganja dengan cara akan menolak ajakan temantemannya bila sudah keluar dari RSKO, namun ia menolak untuk di rehabilitasi.
VII.

FORMULA DIAGNOSTIK

Aksis I:
Susunan diagnostik ini berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna maka kasus ini termasuk:
1. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaak zat (cannaboid) kini abstinen, di
tegakkan karena: riwayat pemakaian canabis (+) sejak kelas 3 SMP
2. Gangguan jiwa fungsional/ Gangguan Mental Non-Organik , karena:
Tidak terdapat adanya gangguan kesadaran neurologik
Tidak ada gangguan fungsi intelektual
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis, WBS tidak pernah mengalami
trauma kepala atau penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat menimbulkan
disfungsi otak sebelum menunjukkan gejala gangguan jiwa. Oleh karena itu,
gangguan mental organik (GMO) dapat disingkirkan.
3. Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat dapat disingkirkan:
Data laporan individu (-)
Tidak ada sampel obat atau barang bukti pada WBS, tanda dan gejala klinis,
atau laporan pihak ketiga.
4. Skizofrenia Paranoid dapat ditegakkan karena memenuhi Kriteria Diagnosis umum
skizofrenia dan F20.0:
Terdapat delutional perception, waham tentang pengalaman inderawi yang
tak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik
atau mukjizat. WBS yakin dirinya anak indigo yang bisa menyembuhkan

orang.
Halusinasi auditorik: suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus
terhadap perilaku WBS, atau mendiskusikan perihal WBS di antara mereka
11

sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara). WBS dibisikan untuk

membuat agama baru.


Adanya pula halusinasi berupa halusinasi visual. Dapat melihat roh atau hantu

di sekitarnya.
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih.

Aksis II
Tidak terdapat retardasi mental dan tidak ditemukan adanya gangguan kepribadian.
Aksis III
Pemeriksaan lab belum dilakukan
Aksis IV
Problem psikososial dan lingkungan kasus ini adalah
-

Masalah keluarga: tidak ada keluarga terdekat yang saat ini diketahui.
Masalah pendidikan: Masalah pekerjaan: WBS sebenarnya tidak mempunyai pekerjaan.
Masalah sosial: -

Aksis V
GAF scale setahun yang lalu dan sekarang sama, yaitu 51-60 (gejala sedang, disabilitas
sedang)
VIII.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I
:
WD:
F20.0 : Skizofrenia Paranoid
DD:
F21.0: Gangguan Skizotipal
Aksis II

: Tidak didapatkan RM, dan tidak ditemukan adanya gangguan

kepribadian
Aksis III : Tidak ada temuan yang bermakna dalam pemeriksaan Lab dan fisik.
Aksis IV : Masalah dengan keluarga, pendidikan dan lingkungan sosial.
Aksis V
: Global Assessment Functional (GAF) Scale 55.
IX.

PROGNOSIS

Faktor yang meringankan

Motivasi diri dan dukungan keluarga


12

Faktor yang memberatkan

Lingkungan dan pertemanan yang tidak berubah


Tidak bisa menolak ajakan teman dan lebih mementingkan pertemanan daripada diri
sendiri dan keluarga

Ad Vitam
Ad Functionam
Ad Sanationam
X.

: Ad bonam
: Dubia ad malam
: Dubia ad malam

DAFTAR PROBLEM
a. Organobiologik
b. Psikologis
c. Sosial/Keluarga

XI.

: Ada
: Ada
: Ada

TERAPI

PSIKOFARMAKA:
1. Amitriptilin 2x050 mg
Risperidone termasuk antipsikotik turunan benzisoxazole. Risperidone merupakan
antagonis monoaminergik selektif dengan afinitas tinggi terhadap reseptor serotonergik 5HT2 dan dopaminergik D2. Risperidone berikatan dengan reseptor 1-adrenergik.
Risperione tidak memiliki afinitas terhadap reseptor kolinergik.
Meskipun risperidone merupakan antagonis D2 kuat, dimana dapat memperbaiki
gejala positif skizofrenia, hal tersebut menyebabkan berkurangnya depresi aktivitas
motorik dan induksi katalepsi dibanding neuroleptik klasik. Antagonisme serotonin dan
dopamin sentral yang seimbang dapat mengurangi kecenderungan timbulnya efek
samping ekstrapiramidal, dia memperluas aktivitas terapeutik terhadap gejala negatif dan
afektif dari skizofrenia. Efek samping yang sering terjadi adalah insomnia, agitasi, rasa
cemas, sakit kepala.
2. THP (trihexyphenidil) 2x2 mg
Triheksifenidil adalah antikolinergik yang mempunyai efek sentral lebih kuat daripada
perifer, sehingga banyak digunakan untuk terapi penyakit parkinson. Senyawa ini bekerja
dengan menghambat pelepasan asetil kolin endogen dan eksogen. Obat ini diberikan
kepada WBS hanya jika terjadi gangguan ekstrapiramidal (parkinsonism) yang dapat
13

disebabkan obat antipsikotik. Efek sentral terhadap susunan saraf pusat akan merangsang
pada dosis rendah. Efek sampingnya adalah mulut kering, penglihatan kabur, pusing,
cemas, konstipasi, retensi urin, takikardi, dilatasi pupil, TIO meningkat, sakit kepala.

Rujuk ke psikiater/RSJ terdekat.


PSIKOTERAPI TERHADAP WBS :

a. Terapi perilaku kognitif


Apabila tilikan WBS sudah baik, terapi ini dapat digunakan untuk memperbaiki
distorsi kognitif, mengurangi distraktibilitas.
b. Psikoterapi suportif
Psikoterapi ini dapat dilakukan dengan bimbingan serta terapi kelompok seperti
grouping, morning meeting. Pendekatan lain yang bisa dilakukan adalah dengan cara:
Ventilasi: memberi kesempatan kepada pasien untuk mengeluarkan isi hatinya.
Sugesti: menanamkan kepada pasien bahwa ia pasti bisa melawan ketergantungan
ini asalkan ada keinginan yang kuat
Reassurance: meyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa dia sanggup
mengatasi masalahnya.
Bimbingan : memberikan bimbingan yang praktis yang berhubungan dengan
masalah kesehatan jiwa pasien, agar pasien lebih bersemangat mengatasinya.
c. Psikoterapi re-edukatif
-

Mengubah pola perilaku pasien dengan meniadakan kebiasaan tertentu dan


membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan

d. Sosioterapi
- Melibatkan pasienh dalam kegiatan aktivitas kelompok di detox
- Melibatkan pasien dalam kegiatan keagamaan di detox
e. Edukasi keluarga

14