Anda di halaman 1dari 22

PORTOFOLIO

Kasus 3
Topik : Ca Mammae Dextra
Tanggal (kasus) : 2 mei 2015
Presentan : dr. Lilis Khairani
Tanggal Presentasi : 5 september 2015
Pendamping : dr. Eva Trijaniarti
Tempat Presentasi : Ruang rapat RSUD Bayung Lencir
Objekttif Presentasi :

Keilmuan
Penyelenggara Tinjauan Pustaka
Keterampilan
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi
Anak
Remaja
Lansia
Dewasa
Deskripsi : perempuan 32 tahun, Ca Mammae Dextra
Tujuan : Tatalaksana Ca Mammae
Bahan Bahasan Tinjauan
Riset

Audit
Cara membahas

Pustaka
Diskusi

Presentasi dan diskusi

Data Pasien Nama : Ny. S

Umur : 32 tahun

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Status : menikah

Alamat : Medan

Agama : Kristen

Kasus

Pos

Email
No. Reg:
03..

Kebangsaan : Indonesia
RSUD Bayung Lencir
Telp:Terdaftar : 2 mei 2015
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosa /Gambaran klinis : Ca Mammae, keadaan umum tampak sakit sedang.
2. Riwayat Pengobatan : 3. Riwayat Kesehatan dan Penyakit :
Sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh nyeri pada payudara
kanannya, nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri seperti ditusuk jarum, pasien juga
mengaku terdapat benjolan seperti biji kacang merah di payudara kanannya.
Sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku nyeri semakin
bertambah dan payudara kanannya membengkak ukuran p:2,5 cm, l: 1,5cm, merah, dan
terdapat retkasi pada kulit payudara kanannya. pasien juga mengeluh keluar cairan
kuning kental bercampur darah dari puting payudara kanannya. Jumlahnya sebanyak
setengah gelas belimbing. Pasien juga mengeluh terdapat benjolan di ketiak kanannya.
Ukuran p:1cm, l:1cm. demam (-), batuk (-), pilek (-). BAB dan BAK biasa.
4. Riwayat Keluarga : ibu pasien mempunyai penyakit kanker payudara
5. Riwayat Pekerjaan : pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga
DAFTAR PUSTAKA
1

1. Sjamsuhidayat R, Wim de jong, 2005, Tumor Ganas.. Buku Ajar Ilmu Bedah,
Jakarta..
2. Herman singhal, MD. Breast Cancer Foundation. Stage of Breast Cancer. 2010.
Access: 5 mei 2015
3. Wan desen, 2008. Onkologi Klinis. Edisi 2. FK UI
4. Anonim. Kanker Payudara. 2010. http://wikipedia.com, access: 5 mei 2015
5. National Breast Cancer Foundation. Stage of Breast Cancer. 2010. Access: 5 mei
2015
6. Susan Strock. Breast Lump Self Exam. 2008. http://medline.com, Access: 5 mei
2015
Hasil pembelajaran
1. Diagnosis Ca Mammae
2. Mekanisme terjadinya Ca Mammae
3. Edukasi pada pasien mengenai Ca Mammae
4. Langkah-langkah Penatalaksanaan Ca Mammae
5. Motivasi kepatuhan berobat dan pencegahan berulang
1.Subjektif :
Sejak satu bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh nyeri pada payudara
kanannya, nyeri dirasakan hilang timbul, nyeri seperti ditusuk jarum, pasien juga
mengaku terdapat benjolan seperti biji kacang merah di payudara kanannya.
Sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit, pasien mengaku nyeri semakin bertambah
dan payudara kanannya membengkak ukuran p:2,5 cm, l: 1,5cm, merah, dan terdapat
retkasi pada kulit payudara kanannya. pasien juga mengeluh keluar cairan kuning kental
bercampur darah dari puting payudara kanannya. Jumlahnya sebanyak setengah gelas
belimbing. Pasien juga mengeluh terdapat benjolan di ketiak kanannya. Ukuran p:1cm,
l:1cm. demam (-), batuk (-), pilek (-). BAB dan BAK biasa. Riwayat ibu pasien pernah
menderita penyakit kanker payudara.

2. Objektif :
Status Present
Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

TD

: 120/80 mmhg

Nadi

: 82 x/menit, regular, isi dan tegangan cukup

Respirasi

: 20 x/menit, regular.

T ax

: 36,0C

Status Generalis
Kepala

: N-Cephali

Mata

: conj. anemis(-)/(-), sclera ikterus(-)/(-) Reflek pupil +/+, strabismus (-),


nistagmus (-) deviation conjugee (-) air mata (+).

THT

: NCH (-), sianosis (-), tonsil T1/T1 hiperemis (-),


Pharing hiperemis (-)

Leher

: Pembesaran kelenjar (-), kaku kuduk (-)

Thorak

: retraksi (-)

Cor

: S1S2 N, regular, murmur(-)

Po

: Bronkovesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-

Abdomen

: Distensi (-), BU (+) N, nyeri tekan epigastrium (-), H/L tidak teraba,
turgor menurun

Extremitas

: akral hangat, gerakan ke segala arah, edema (-/-), jaringan parut (-),
telapak tangan pucat (-), sianosis(-), CRT <2

Status Lokalis :

Mammae dextra : terdapat benjolan berukuran p:2,5cm, l:1,5cm, berdungkul-dungkul,


tepi tidak rata, hiremis, terdapat peau dorange. Keluar cairan dari
putting secret kuning kental bercampur darah.
Axilla dextra

: terdapat benjolan ukuran p:1cm, l:cm, hiperemis (-)

Pemeriksaan Penunjang :
Tidak dilakukan.
Assesment :

Ny.S, perempuan umur 32 tahun sudah menikah bekerja sebagai ibu rumah tangga
dengan keluhan nyeri di payudara kanan sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit.
Berdasarkan data anamnesis tersebut didapatkan pasien berusia 32 tahun. Hal ini sesuai
dengan teori bahwa pada umumnya kebanyakan pada usia setengah baya dan lansia.
Jaranng terjadi pada usia kurang dari 30 tahun, sedangkan yang kurang dari 20 tahun
sangat jarang.
Dari anamnesis didapatkan keluhan yaitu nyeri pada payudara kanan. nyeri semakin
bertambah dan payudara kanannya membengkak ukuran p:2,5 cm, l: 1,5cm, merah, dan
terdapat retkasi pada kulit payudara kanannya. pasien juga mengeluh keluar cairan
kuning kental bercampur darah dari puting payudara kanannya. Jumlahnya sebanyak
setengah gelas belimbing. Pasien juga mengeluh terdapat benjolan di ketiak kanannya.
Ukuran p:1cm, l:1cm. Gambaran klinis dari penderita ca mammae yaitu nyeri pada
payudara, benjolan, keluar cairan kuning kental bercampur darah keluar dari putting dan
retraksi kulit dipayudara kanan (peau dorange) merupakan keluhan utama yang sering
dirasakan penderita ketika berkunjung ke dokter. Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel
normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap
inisiasi dan promosi. Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel
yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetic sel ini disebabkan
oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi
(penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama
terhadap suatu karsinogen. Kelainan genetic dalam sel atau bahan lainnya yang disebut
promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan
fisik menahun pun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami suatu
keganasan. Semua gejala yang dialami Ny. S sesuai dengan gambaran klinis dari ca
mammae.
Pada riwayat penyakit keluarga didapatkan bahwa ibu pasien memiliki sakit kkanker
payudara. Hal ini dapat memperburuk keadaan pasien dengan adanya factor keturunan.
Terdapat peninngkatan resiko keganasan pada wanita yang keluarganya menderita kanker
payudara. Pada studi genetic ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan
gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatuu gen kerentanan terhadap kanker
payudara, probabilitas utuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun dan
sebesar 85% pada umur 70 tahun.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tampak sakit sedang, kesadaran compos
mentis, tekanan darah120/80 mmhg, frekuensi nadi 82 x/menit, regular, isi dan tegangan
cukup, frekuensi pernafasan 20 x/menit, regular, suhu 36,0C. pada pemeriksaan Status
Lokalis :Mammae dextra : terdapat benjolan berukuran p:2,5cm, l:1,5cm, berdungkuldungkul, tepi tidak rata, hiremis, terdapat peau dorange. Keluar cairan dari putting secret
kuning kental bercampur darah, Axilla dextra terdapat benjolan ukuran p:1cm, l:cm,
hiperemis (-).Hal ini sesuai dengan gejala pada ca mammae yang sudah menunjukkan
pada fase promosi, dimana pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi
akan berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan
terpengaruh oleh promosi. Karena itu diperlukan beberapa factor untuk terjadinya
keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsiogen).
Dari identifikasi, anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosa
sementara pasien menderita ca mammae dextra.

Planning
Diagnosa : Ca Mammae Dextra
Tatalaksana :
Medikamentosa :
o Asam mefenamat 3x500 mg
o Amoxicillin 3x500 mg
Konsultasi : Rujuk ke dr.Sp.B / Pro Konsul dr.Sp.B untuk Pro. Operasi.
Edukasi Keluarga :
Menyakinkan keluarga untuk tetap tenang dan tidak panik
Memberikan informasi kepada keluarga mengenai penyakit pasien dan rencana
tatalaksana selanjutnya
Edukasi pasien :
Motivasi untuk operasi

Prognosis :
Qua ad vitam : dubia
Qua ad fungsionam : dubia at malam
Qua ad sanasionam : dubia
Pasien di rujuk ke Rumah Sakit yang ada di medan untuk di lakukan operasi.

TINJAUAN PUSTAKA

1. PENGERTIAN
Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan
lemak, maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang
terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di
payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase
pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening
ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di
tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)
Ca mammae (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel
kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit
payudara. Ca mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu,
jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. (Medicastore, 2011)
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen
yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara
(Karsono, 2006).
Carsinoma mammae atau kanker payudara adalah neoplasma ganas dengan
pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang jaringan
sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase ( Soeharto Resko
Prodjo, 1995).
Kanker payudara adalah terjadinya gangguan pertumbuhan yang ganas yang
terjadi pada jaringan payudara. Kanker biasanya terdiri dari gumpalan yang keras
dan kenyal tanpa adanya batas. Mungkin adanya garis asimetris antara kedua
payudara.Bila kanker sudah berkembang, tanda-tanda akan lebih nyata sepeti
jaringan menjadi merah,borok,membengkak dan kanker terlihat dengan jelas.
Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan
di Indonesia.Biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40-49 tahun dan letak
terbanyak di kuadran lateral atas. Kelenjar susu merupakan sekumpulan kelenjar
kulit. Pada lateral atasnya, jaringan kelenjar ini keluar dari buatannya ke arah

aksila, disebut tonjolan spence atau ekor payudara (Arif Mansjoer, Kapita selecta
kedokteran Edisi 2 ).
Setiap payudara terdiri atas 12 sampai 20 lobulus kelenjar yang masingmasing mempunyai saluran ke papila mammae, yang disebut duktus laktiferus.
Pendarahan payudara terutama berasal dari cabang arteri Perforantes
Anterior dari arteri Mammaria Interna, arteri torakalis yang bercabang dari arteri
aksilaris dan beberapa arteri Interkostalis.
Penyaliran limf dari daerah sentral dan medial yang selain menuju ke
kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju ke aksila kontra
lateral, ke m. rektus abdominis lewat ligamentum falsifarum hepatis ke hati,
pleura dan payudara kontra lateral. (Sjamsuhidajat, 2004)
2. ETIOLOGI CA MAMMAE
Sebab-sebab keganasan pada mammae masih belum diketahui secara pasti
(Price & Wilson, 1995), namun ada beberapa teori yang menjelaskan tentang
penyebab terjadinya Ca mammae, yaitu:

Mekanisme hormonal
Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan

dalam lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi ca


mammae (Smeltzer & Bare, 2002: 1589).

Virus
Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa

abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.

Genetik
Ca mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya linkage
genetic autosomal dominan (Reeder, Martin, 1997).
Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom
17 mempunyai peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan
(Reeder, Martin, 1997).
mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien
dengan riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin &

kumar, 1995) serta mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).


Defisiensi imun

Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi


interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan
jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor .
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa
faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara,
yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Tinggi melebihi 170 cm


Masa reproduksi yang relatif panjang.
Faktor Genetik
Ca Payudara yang terdahulu
Keluarga
Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini,

dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma mammae.


f. Kelainan payudara ( benigna )
Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah
ditunjukkan bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang
porliferatif sedikit meningkat.
g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
h. Faktor endokrin dan reproduksi
Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun,
Menarche kurang dari 12 tahun
i. Obat anti konseptiva oral
Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun
mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker.

3. ANATOMI DAN FISIOLOGI


a.

Anatomi Payudara

Payudara normal mengandung jaringan kelenjar, duktus, jaringan otot


penyokong lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe. Pada bagian lateral
ats kelenjr payudara, jaringan kelenjar ini keluar dari bulatannya kearah aksila,
disebut penonjolan Spence atau ekor payudara. Setiap payudara terdiri atas 12-20
lobulus kelenjar yang masing-masing mempunyai saluran ke papilla mammae,
yang disebut duktus lactiferous. Diantara kelenjar susu dan fasia pectoralis, juga
diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin terdapat jaringan lemak. Diantara
lobules tersebut ada jaringan ikat yang disebut ligamnetum cooper yang memberi
rangka untuk payudara.
Perdarahan

payudara

terutama

berasal

dari

cabang a.

perforantes

anterior dan a. mammaria interna, a. torakalis lateralis yang bercabang dari a.


aksilaris, dan beberapa a. interkostalis.
Persarafan kulit payudara diurus oleh cabang pleksus servikalis dan n.
interkostalis. Jaringan kelenjar payudara sendiri diurus saraf simpatik. Ada
beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubungan dengan penyulit paralisis dan
mati

rasa

pasca

bedah,

yakni n.

intercostalis dan n.

kutaneus

brakius

medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas.
Penyaliran limfe dari payudara kurang lebih 75% ke aksila, sebagian lagi ke
kelenjar parasternal, terutama dari bagian yang sentral dan medial dan adapula
penyaliran yang ke kelenjar interpectoralis. Pada aksila terdapat rata-rata 50 buah
kelenjar getah bening yang berada disepanjang arteri dan vena brakialis.

10

Jalur limfe lainnya berasal dari daerah sentral dan medial yang selain
menuju ke kelenjar sepanjang pembuluh mammaria interna, juga menuju
ke aksila kontralateral, ke m. rectus abdominis lewat ligamentum falsiparum
hepatis ke hati, pleura dan payudara kontralateral.
b.

Fisiologi Payudara
Payudara merupakan kelenjar tubuloalveolar yang bercabang-cabang, terdiri

atas 15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus
mempunyai duktus ekskretorius masing-masing yang akan bermuara pada puting
susu, disebut duktus laktiferus, yang dilapisi epitel kuboid selapis yang rendah,
lalu ke duktus alveolaris yang dilapisi epitel kuboid berlapis, kemudian bermuara
ke duktus laktiferus yang berakhir pada putting susu.
Ada 3 hal fisiologik yang mempengaruhi payudara, yaitu :
a) Pertumbuhan dan involusi berhubungan dengan usia
b) Pertumbuhan berhubungan dengan siklus haid
c) Perubahan karena kehamilan dan laktasi.
4. PATOFISIOLOGI CA MAMMAE
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:
a.

Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang

memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan
oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus,
radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan
yang sama terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan
lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu
karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih
peka untuk mengalami suatu keganasan.
b.

Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah

menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh

11

oleh promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan
(gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).
Kanker mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena
kanker (Maternity Nursing, 1997). Penyebab pasti belum diketahui, namun ada
beberapa teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada mammae,
yaitu:

Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone estrogen


dan progesterone yang dihasilkan oleh ovarium mempengaruhi factor
pertumbuhan sel mammae (Smeltzer & Bare, 2002). Dimana salah satu
fungsi estrogen adalah merangasang pertumbuhan sel mammae. Suatu
penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat ovariumnya pada usia
muda lebih jarang ditemukan menderita karcinoma mammae, tetapi hal itu
tidak membuktikan bahwa hormone estrogenlah yang, menyebabkan kanker
mammae pada manusia. Namun menarche dini dan menopause lambat
ternyata disertai peninmgkatan resiko Kanker mammae dan resiko kanker
mammae lebih tinggi pada wanita yang melahirkan anak pertama pada usia

lebih dari 30 tahun.


Virus, Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya

massa abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.


Genetik
Kanker mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya
linkage genetic autosomal dominan.
Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom
17 mempunyai peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan.
mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien dengan
riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar, 1995)
serta mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).

Defisiensi imun
Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan produksi

interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya proliferasi sel dan


jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas antitumor. Gangguan proliferasi

12

tersebut akan menyebabkan timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan
paling sering pada system duktal. Mula-mula terjadi hyperplasia sel dengan
perkembangan sel atipikal. Sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan
menginvasi stroma. Kanker butuh waktu 7 tahun untuk dapat tumbuh dari sebuah
sel tunggal menjadi massa yang cukup besar untuk bias diraba. Invasi sel kanker
yang mengenai jaringan yang peka terhadap sensasi nyeri akan menimbulkan rasa
nyeri, seperti periosteum dan pelksus saraf. Benjolan yang tumbuh dapat pecah
dan terjadi ulserasi pada kanker lanjut.
Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui saluran limfe
dan melalui aliran darah. Dari saluran limfe akan sampai di kelenjer limfe
menyebabkan terjadinya pembesaran kelenjer limfe regional. Disamping itu juga
bisa menyebabkan edema limfatik dan kulit bercawak (peau d orange).
Penyebaran yang terjadi secara hematogen akan menyebabkan timbulnya
metastasis pada jaringan paru, pleura, otak tulang (terutama tulang tengkorak,
vertebredan panggul).
Pada tahap terminal lanjut penderita umumnya menderita kehilangan
progersif lemak tubuh dan badannya menjadi kurus disertai kelemahan yang
sangat, anoreksia dan anemia. Simdrom yang melemahkan ini dinyatakan sebagai
kakeksi kanker.

Pathway CA MAMMAE

13

5. MANIFESTASI KLINIS CA MAMMAE


Gejala umum Ca mamae adalah :

Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara


Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena

mulai timbul pembengkakan


Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu,

mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
Ada cairan yang keluar dari puting susu
Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan

terjadi retraksi
Ada rasa sakit
Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium

darah meningkat
Ada pembengkakan didaerah lengan
Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah

diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d' Orange).
Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.
Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain

14

6. PENTAHAPAN CA MAMMAE
Pentahapan mencangkup mengklasifikasikan kanker payudara berdasarkan
pada keluasan penyakit. Pentahapan segala bentuk kanker sangat penting karena
hal ini dapat membantu tim perawatan kesehatan merekomendasikan pengobatan
terbaik yang ada, memberikan prognosis, dan beberapa pemeriksaan darah dan
prosedur diagnostik dilakukan dalam petahapan penyakit. Pemeriksaaan dan
prosedur ini mencankup rontgen dada, pemindaian tulang, dan fungsi hepar,
pentahapan klinik yang paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah
sistem klasifikasi TNM yang mengevaluasi ukuran tumor, jumlah nodus limfe
yang terkena, dan bukti adanya metastasis yang jauh.
Tumor primer (T) :
1.

Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan

2.

T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer

3.

Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor

4.

T1 :Tumor <>
a. T1a : Tumor <>
b. T1b :Tumor 0,5 1 cm
c. T1c :Tumor 1 2 cm

5.

T2 :Tumor 2 5 cm

6.

T3 : Tumor diatas 5 cm

7.

T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding


thorax atau kulit :
a.
b.
c.
d.

T4a : Melekat pada dinding dada


T4b : Edema kulit, ulkus, peau dorange
T4c : T4a dan T4b
T4d : Mastitis karsinomatosis

Nodus limfe regional (N) :


1.

Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan

2.

N0 : Tidak teraba kelenjar axila

3.

N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat

4.

N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama


lain atau melekat pada jaringan sekitarnya
15

5.

N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral

Metastas jauh (M) :


1.

Mx : Metastase jauh tidak dapat ditentukan

2.

M0 : Tidak ada metastase jauh

3.

M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:


1. Stadium I
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada
kulit dan otot pektoralis.

2. Stadium IIa
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa
keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh

3. Stadium IIb

16

Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan


tanpa penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

4. Stadium IIIa
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa
penyebaran jauh.

5. Stadium IIIb
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan
terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan
limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau
menginfiltrasi / menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema
pada tangan. Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan
pembengkakan bisa juga luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai
Inflamatory Breast Cancer. Bisa sudah atau bisa juga belum menyebar ke

17

pembuluh getah bening di ketiak dan lengan atas, tapi tidak menyebar ke bagian
lain dari organ tubuh

6. Stadium IIIc
Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe
infraklavikular ipsilateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis
kelenjar limfe mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau
metastasis kelenjar limfe supraklavikular ipsilateral

7. Stadium IV
Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver atau tulang
rusuk.

18

Status penampilan (performance status) kanker menurut WHO (1979) :


1. 0 : Baik, dapat bekerja normal.
2. 1 : Cukup, tidak dapat bekerja berat namun bekerja ringan bisa.
3. 2 : Lemah, tidak dapat bekerja namun dapat berjalan dan merawat diri
sendiri 50% dari waktu sadar.
4. 3 : Jelek, tidak dapat berjalan, dapat bangun dan merawat diri sendiri,
perlu tiduran lebih 50% dari waktu sadar.
5. 4 : Jelek sekali, tidak dapat bangun dan tidak dapat merawat diri sendiri,
hanya tiduran saja.
7. PEMERIKSAAN

LABORATORIUM

DAN

DIAGNOSTIK CA

MAMMAE
a. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker
(CEA) dalam serum/plasma, Pemeriksaan sitologis
b. Test diagnostik lain:
Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET
Invasif : Biopsi, Aspirasi biopsy (FNAB), True cut / Care biopsy, Incisi
biopsy, Eksisi biopsy

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :

19

1.

Pemeriksaan payudara sendiri

2.

Pemeriksaan payudara secara klinis

3.

Pemeriksaan manografi

4.

Biopsi aspirasi

5.

True cut

6.

Biopsi terbuka

7.

USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis,


pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi.

8. KOMPLIKASI
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura,
tulang dan hati.
Selain itu Komplikasi Ca Mammae yaitu:
1. metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darah
kapiler (penyebaran limfogen dan hematogen), penyebarab hematogen dan
limfogen dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang, otak, syaraf.
2. gangguan neuro vaskuler
3. Faktor patologi
4. Fibrosis payudara

20

5. kematian
9. PENATALAKSANAAN CA MAMMAE
1. Pembedahan
a. Mastectomy radikal yang dimodifikasi
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis
mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis
minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
b. Mastectomy total
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot
dinding dada tidak diangkat.
c. Lumpectomy/tumor
Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut
diangkat. Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara
normal yang berada di sekitar tumor tersebut.
d. Wide excision/mastektomy parsial.
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
e. Ouadranectomy.
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot
pectoralis mayor.
2. Radiotherapy
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di
sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis,
radang tenggorokan.
3. Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.
Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan
membuat, mudah terserang penyakit.
4. Manipulasi hormonal.

21

Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah


bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat
juga digabung dengan therapi endokrin lainnya.\
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta : EGC
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius
Marilyan, Doenges E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatyan px) Jakarta : EGC
Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions
Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St.
Louis :Mosby Year-Book
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi
10.Jakarta:EGC
Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid
2 . Edisi 4. Jakarta. EGC
Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi.
EGC : Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta
Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification
2009-2011, NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd

22