Anda di halaman 1dari 16

TUGAS 2 SI-6161

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN INFRASTRUKTUR

DOSEN PENGASUH :
IR. M. ABDUH, MT. PH.D.

DISUSUN OLEH:
ANNA ELVARIA
25014017

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


PROGRAM MAGISTER TEKNIK SIPIL
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

MONITORING KONDISI JARINGAN JALAN


BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

1.

PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak sekali teknologi yang semakin


canggih. salah satunya adalah database. Teknologi database merupakan kumpulan
informasi yang disimpan di dalam komputer secara sistematik sehingga dapat diperiksa
menggunakan program komputer untuk memperoleh informasi dari basis data
tersebut. Perkembangan teknologi database saat ini berkembang sangat pesat, banyak
betuk-bentuk yang dulu hanya mempunyai teknologi sebagai tempat penyimpanan data
yang terdiri dari field-field, record dan diolah serta ditampilkan menjadi informasi dalam
berbagai format tampilan yang sederhana, bermula dari bentuk yang sederhana tersebut
maka didapatkan suatu metoda untuk menampilkan suatu database yang berguna untuk
menganalisa data untuk suatu keperluan tertentu.
Salah satu contoh tehnologi database saat ini adalah Sistem Informasi Geografis
(SIG). SIG didefinisikan sebagai suatu sistem manajemen database yang terkomputerisasi
untuk mendapatkan data, mengumpulkan data, mengolah kembali, mentransformasikan
dan melakukan analisis sekaligus menampilkan obyek baik secara spasial maupun dalam
bentuk tabel. SIG menawarkan suatu sistem yang mengintegrasikan data yang bersifat
keruangan (spasial/geografis) dengan data tekstual yang merupakan deskripsi
menyeluruh tentang obyek dan keterkaitannya dengan obyek lain. Dengan sistem ini data
dapat dikelola, dilakukan manipulasi untuk keperluan analisis secara komprehensif dan
sekaligus menampilkan hasilnya dalam berbagai format baik dalam bentuk peta maupun
berupa tabel atau report. Dengan adanya SIG diharapkan akan bermanfaat bagi
pengguna/user/stakeholders dalam membantu perencanaan pembangunan antar sektor,
pemetaan , serta monitoring infrastruktur jalan.

2.
2.1.

PEMBAHASAN
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sebuah sistem atau teknologi berbasis
komputer yang dibangun dengan tujuan untuk mengumpulkan, menyimpan, mengolah
dan menganalisa, serta menyajikan data dan informasi dari suatu obyek atau fenomena
yang berkaitan dengan letak atau keberadaannya di permukaan bumi. Pada dasarnya
dapat dirinci menjadi beberapa sub sistem yang saling berkaitan yang mencakup input

data, manajemen data, pemrosesan atau analisis data, pelaporan (output) dan hasil
analisa. Komponen-komponen yang membangun SIG adalah perangkat lunak, perangkat
keras, data, pengguna, dan aplikasi. SIG dalam pengelolaan sumber daya mendukung
tersedianya kelima komponen tersebut, sebagaimana diilustrasikan oleh gambar berikut
ini :

Gambar 2.1. Komponen Sistem Informasi Geografis


Penjelasan kelima komponen SIG diatas adalah sebagai berikut :
1.

Data posisi/koordinat/grafis/ruang/spasial, merupakan data yang merupakan


representasi fenomena permukaan bumi/keruangan yang memiliki referensi
(koordinat) lazim berupa peta, foto udara, citra satelit dan sebagainya atau hasil dari
interpretasi data-data tersebut. Data atribut/non-spasial, data yang
merepresentasikan aspek-aspek deskriptif dari fenomena yang dimodelkannya.
Misalnya data sensus penduduk, catatan survei, data statistik lainnya.

2.

Perangkat Lunak (Software) adalah perangkat lunak SIG berupa program aplikasi
yang memiliki kemampuan pengelolaan, penyimpanan, pemrosesan, analisis dan
penayangan data spasial (contoh : ArcView, Idrisi, ARC/INFO, ILWIS, MapInfo, dll)

3.

Perangkat keras (Hardware), perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan


sistem berupa perangkat komputer, printer, scanner, digitizer, plotter dan perangkat
pendukung lainnya.

4.

Pengguna (People), teknologi SIG tidaklah bermanfaat tanpa manusia yang


mengelola sistem dan membangun perencanaan yang dapat diaplikasikan sesuai
kondisi nyata Suatu proyek SIG akan berhasil jika di manage dengan baik dan
dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki keakhlian yang tepat pada semua
tingkatan.

5.

Methode. Sebuah SIG yang baik adalah apabila didukung dengan metode
perencanaan desain sistem yang baik dan sesuai dengan business rules organisasi
yang menggunakan SIG tersebut.

Tugas Utama SIG


Berdasarkan desain awalnya tugas utama SIG adalah untuk melakukan analisis
data spasial. Dilihat dari sudut pemrosesan data geografik, SIG bukanlah penemuan baru.
Pemrosesan data geografik sudah lama dilakukan oleh berbagai macam bidang ilmu, yang
membedakannya dengan pemrosesan lama hanyalah digunakannya data digital. Adapun
tugas utama dalam SIG adalah sebagai berikut :
1.

2.

3.

4.

5.

Input Data, sebelum data geografis digunakan dalam SIG, data tersebut harus
dikonversi terlebih dahulu ke dalam bentuk digital. Proses konversi data dari peta
kertas atau foto ke dalam bentuk digital disebut dengan digitizing. SIG modern bisa
melakukan proses ini secara otomatis menggunakan teknologi scanning.
Pembuatan peta, proses pembuatan peta dalam SIG lebih fleksibel dibandingkan
dengan cara manual atau pendekatan kartografi otomatis. Prosesnya diawali dengan
pembuatan database. Peta kertas dapat didigitalkan dan informasi digital tersebut
dapat diterjemahkan ke dalam SIG. Peta yang dihasilkan dapat dibuat dengan
berbagai skala dan dapat menunjukkan informasi yang dipilih sesuai dengan
karakteristik tertentu.
Manipulasi data, data dalam SIG akan membutuhkan transformasi atau manipulasi
untuk membuat data-data tersebut kompatibel dengan sistem. Teknologi SIG
menyediakan berbagai macam alat bantu untuk memanipulasi data yang ada dan
menghilangkan data-data yang tidak dibutuhkan.
Manajemen file, ketika volume data yang ada semakin besar dan jumlah data user
semakin banyak, maka hal terbaik yang harus dilakukan adalah menggunakan
database management system (DBMS) untuk membantu menyimpan, mengatur, dan
mengelola data.
Analisis query, SIG menyediakan kapabilitas untuk menampilkan query dan alat
bantu untuk menganalisis informasi yang ada. Teknologi SIG digunakan untuk
menganalisis data geografis untuk melihat pola dan tren.

6.

Memvisualisasikan hasil, untuk berbagai macam tipe operasi geografis, hasil akhirnya
divisualisasikan dalam bentuk peta atau graf. Peta sangat efisien untuk menyimpan
dan mengkomunikasikan informasi geografis. Namun saat ini SIG juga sudah
mengintegrasikan tampilan peta dengan menambahkan laporan, tampilan tiga
dimensi, dan multimedia.

Fungsi SIG
Adapun fungsi -fungsi dasar dalam SIG adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

2.2.

Akuisisi data dan proses awal meliputi: digitasi, editing, pembangunan topologi,
konversi format data, pemberian atribut dll.
Pengelolaan database meliputi : pengarsipan data, permodelan bertingkat,
pemodelan jaringan pencarian atribut dll.
Pengukuran keruangan dan analisis meliputi : operasi pengukuran, analisis daerah
penyanggga, overlay, dll.
Penayangan grafis dan visualisasai meliputi : transformasi skala, generalisasi, peta
topografi, peta statistic, tampilan perspektif.
SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB

Terkait dengan pembangunan sistem informasi, media internet sekali lagi


merupakan media yang cukup efektif dan luas cakupannya dalam memberikan bukti
seperti yang diminta oleh masyarakat. Selama informasi yang disajikan akuntabel dan
akurat, maka pandangan masyarakat akan berubah. Untuk itu diperlukan sebuah strategi
untuk memberikan data yang akuntabel dan akurat untuk segala bidang.
Seiring dengan berkembangnya teknologi internet yang sangat pesat, yang
berimplikasi pada munculnya produk-produk baru, dalam konteks ini adalah map engine
GIS, yang lebih murah, memakan lebih sedikit sumberdaya, lebih cepat/responsif dan
lebih sedikit memerlukan upaya dalam hal pemeliharaan, maka dirasakan perlu untuk
melakukan peningkatan (upgrading) dan penyempurnaan dari sistem GIS on the web.
Seperti pada gambar konfigurasi sistem SIG Web berikut ini :

Gambar 2.2. Konfigurasi Sistem informasi Geografis Berbasis Web

Contoh :
Berikut disajikan beberapa file .SHP hasil pembuatan peta digital dengan menggunakan
Quantum GIS (Open Source).

Hasil peta digital dapat disajikan seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 2.3. Peta digital pada Quantum GIS


Peta digital di atas akan dapat di lihat oleh pengguna secara umum melalui
internet. Dengan demikian di buatkan coding program Sistem Informasi Geografis
berbasis Web, seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 2.4. Peta Jalan Berbasis Web

Minimum Requarement sistem


Kebutuhan minimal sistem yang dapat digunakan untuk membangun Sistem informasi
geografis berbasis WEB di atas antara lain :
Web Server
Database PostGres/PostGis
MapServer
Framework Chameleon
Mapfile
PHPScript

2.3.

BASIS DATA SPASIAL MONITORING JARINGAN JALAN DENGAN METODE LINEAR


REFERENCING
2.3.1 METODE LINEAR REFERENCING
Dalam Sistem Informasi Geografis (SIG) terdapat sebuah metode metode
penyimpanan lokasi geografis dengan menggunakan posisi relatif sepanjang sebuah objek
linear (garis) terukur yang disebut dengan metode Linear Referencing. Metode ini
diimplementasi menggunakan tabel atribut dalam SIG yang disebut dengan event tables
(tabel kejadian). Event tables mengandung informasi tentang aset, kondisi, dan kejadian
yang dapat dialokasikan di sepanjang route features. Dalam metode ini dikenal dua buah
tipe kejadian/event yaitu: kejadian titik/point events dan kejadian garis/line events.
Metode ini akan dicoba digunakan untuk mengatasi permasalahan penyimpanan data
atribut jalan dan data grafis jalan secara bersamaan. Metode ini di uji cobakan pada
jaringan buatan untuk melihat efektifasnya jika dibandingkan dengan metode basis data
konvensional saat ini.
Banyak instansi menyimpan data tentang lokasi yang merupakan lokasi yang
berada disepanjang objek garis/line sebagai alternatif penyimpanan lokasi dengan
menggunakan koordinat (x, y). Sebagai contoh: lokasi rumah/alamat rumah lebih mudah
dimengerti dengan nomor rumah pada suatu ruas jalan dari pada menggunakan koordinat
tertentu. Kebutuhan tentang bentuk penyimpanan seperti inilah yang diharapkan dapat
diwadahi dengan metode linear referencing. Linear referencing adalah sebuah metode
penyimpanan lokasi geografis dengan menggunakan posisi relatif sepanjang sebuah objek
linear (garis) terukur (ESRI, 2010). Pengukuran jarak digunakan untuk menempatkan
lokasi kejadian-kejadian disepanjang sebuah garis seperti terlihat pada gambar

Gambar 2.2. Linear Referencing (dimodifikasi dari sumber: ESRI 2010)


Ukuran sepanjang objek linier digunakan untuk menempatkan kejadian setempat/
titik/point dan kejadian-kejadian panjang/garis/line menggunakan sejumlah ketentuan
ketentuan (aturan-aturan). Sebuah kejadian setempat/point dapat ditempatkan di
sepanjang sebuah objek garis seperti dalam gambar 2 sebagai:
Pada ukuran ke 12 di sepanjang garis (a); atau
4 unit ke timur dari ukuran ke 10 disepanjang garis (b).

Gambar 2.3. Penempatan kejadian pada metode linear referencing (dimodifikasi


dari sumber: ESRI 2010)

2.3.2 DYNAMIC SEGMENTATION (SEGMENTASI DINAMIS)


Dynamic segmentation adalah sebuah proses komputasi/perhitungan
penyimpanan kejadian-kejadian dan pengelolaannya dalam sebuah tabel kejadian (event
table) menggunakan sistem pengukuran linear referencing danmenampilkannya kedalam
sebuah peta (ESRI, 2003). Istilah dynamic segmentation diambil dari konsep bahwa

objek-objek garis tidak perlu dipisahkan atau dibagi-bagi (disegmentasi) setiap nilai
atributnya berubah (secara dinamis menempatkan segmen). Dengan dynamic
segmentation, beberapa set atribut dapat berasosiasi dengan bagian mana saja dari
sebuah objek linier tidak tergantung dimana kejadian itu berada, mulai dari awal hingga
akhir garis. Atribut ini dapat ditampilkan, queried, diperbaharui/diedit, dan dianalisis
tanpa mempengaruhi objek linier yang mendasarinya.
Model dynamic segmentation terdiri dari beberapa komponen yaitu arc, section,
dan route. yang berhubungan satu dengan yang lain membentuk suatu model data yang
disebut route-system. Model dynamic segmentation merupakan pengembangan dari
model topologi arc-node, model datanya dibangun di atas model data arc-node dengan
menggunakan konsep object-orientied (Gambar 2.4.). Model dynamic segmentation
digunakan untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan model
konvensional arc-node (metode topologi atau metode penstrukturan data dalam SIG)
tanpa mempengaruhi data utama arc yang terdapat dalam Arc Attribute Table (AAT).

Gambar 2.4. Model Dynamic Segmentation

2.3.3 BEBERAPA SKENARIO PENGGUNAAN LINEAR REFERENCING


Kebanyakan model data, objek-objek linier terpisah/terbagi pada
persimpangan/intersection yang terhubung oleh dua atau lebih objek garis, dan juga

terbagi berdasarkan perubahan nilai atributnya (seperti: perubahan nama jalan).


Beberapa skenario dalam penggunaan linear referencing adalah: Pengguna (user)
seringkali menginginkan me-record/mencatat atribut-atribut tambahan tentang sebuah
ruas jalan. Tanpa menggunakan linear referencing, hal ini bisa dilakukandengan cara
membagi ruas jalan ke dalam potonganpotongan kecil segmen sesuai dengan jumlah
atributnya dan akan selalu berubah setiap nilai atribut berubah. Sebagai alternatif,
persoalan tersebut dapat ditangani sebagai kejadian-kejadian linear referencing (linear
referencing events) seperti pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Contoh linear referencingevents pada sebuah ruas jalan (sumber: ESRI 2010)
Pada kondisi tertentu, objek linier juga dapat mempunyai atribut yang seringkali
berubah-ubah. Sebagai contoh: kondisi perkerasan sebuah segmen jalan dapat berubah
seiring waktu dan pemeliharaan yang dilakukan dan perubahan pada panjang segmennya
(Gambar 2.6.).

Gambar 2.6. Contoh skenario perubahan pada sebuah atribut jalan


akibat waktu dan pemeliharaan (sumber: ESRI 2010)
Segmentasi objek liniersesuai dengan perubahannya akan menjadi sangat
bermasalah ketika harus mempertimbangkan banyak atribut yang harus dimasukkan
kedalamnya. Sebagai tambahan untuk atribut kondisi jalan misalnya, kita juga perlu
menambahkan informasi volume lalulintas, jumlah lajur, Sebagai tambahan kondisi jalan,
kemungkinan kita juga menginginkan penambahan atribut lain seperti: volume lalulintas,
jumlah lajur, jenis perkerasan, batas kecepatan, dan lokasi kecelakaan (Gambar 2.7.).

Gambar 2.7. Berbagai atribut yang terkait objek linier jalan (sumber: ESRI 2010)

2.3.4 IMPLEMENTASI METODE LINEAR REFERENCING DALAM ARCGIS DATASET


ArcGIS adalah sebuah perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) yang
diproduksi oleh ESRI (Environmental Systems Research Institute). Dalam ArcGIS,
implementasi linear referencing menggunakan dua buah tipe data utama yaitu:
1. Route feature classes
2. Event tables
Dengan menggunakan dynamic segmentation, kejadian-kejadian dari tabel-tabel kejadian
(event tables) akan ditempatkan di objek garis dalam sebuah route feature class.
a. Route feature classes
Sebuah route feature class adalah sebuah kelas objek garis yang memiliki sistem
pengukuran tertentu. Nilai ukuran ini dapat digunakan untuk mengalokasikan kejadiankejadian, asset-aset, dan kondisi-kondisi sepanjang objek linier. Dalam ArcGIS, istilah
route mengacu pada sebuah objek linier, seperti jalan, sungai, atau pipa, yang memiliki
sebuah unique identifier (pengenal unik) dan sebuah sistem pengukuran di sepanjang
objek linier tersebut (Gambar 2.8.).

Gambar 2.8. Route dalam ArcGIS

Kumpulan dari routes dengan sistem pengukuran yang sama disebut dengan route
feature class. Setiap route dalam kelas objek juga memiliki sebuah unique identifier. Objek
garis dengan pengenal (identifier) yang sama akan dipertimbangkan sebagai bagian dari route
yang sama (Gambar 2.9.).

Gambar 2.9. Route feature class


b. Event Tables (Tabel-Tabel Kejadian)
Event tables mengandung informasi tentang aset, kondisi, dan kejadian yang dapat
dialokasikan di sepanjang route features. Setiap baris dalam event table bereferensi pada
sebuah kejadian/event dan lokasinya, dinyatakan sebagai pengukuran di sepanjang objek
linier bernama (identifiable). Ada dua buah tipe kejadian/event yaitu: kejadian titik/point
events dan kejadian garis/line events. Sebuah point event menggambarkan lokasi diskrit
disepanjang rute (titik), sedangkan sebuah line event menggambarkan sebagian dari rute
(garis).
Sebuah lokasi point event menggunakan hanya satu nilai ukur untuk mendeskripsikan
sebuah lokasi diskrit, seperti: KM 29.
Sebuah line event menggunakan dua buah nilai pengukuran yaitu from- dan tomeasure untuk mendeskripsikan sebagian dari sebuah rute (contoh: KM 29 s/d KM 35).

2.3.5 UJI COBA ANALISIS JARINGAN


a. Uji coba linier referencing dalam data buatan
Tabel 1 adalah data buatan yang menggambarkan kejadian ruas/garis dan kejadian
titik. Tabel kejadian ruas menunjukan jenis kerusakan jalan dan tabel kejadian titik
menunjukan kejadian kecelakaan kendaraan. Kejadian ini terjadi pada ruas jalan no 85

(kolom pertama). MP (Measured Point) adalah titik kilometer kejadian titik, FMP (From
Measured Point) adalah titik awal kejadian garis, TMP (To Measured Point) adalah titik
akhir kejadian garis. Ukuran ini (MP, FMP, dan TMP) selanjutnya digunakan untuk
menempatkan kejadian setempat/titik/point dalam dalam obyek linear ruas no 85 seperti
pada Gambar 2.10.

Gambar 2.10. Contoh kejadian garis dan titik pada ruas


dalam tabular dan grafis linear referencing
Contoh pembacaan :
Terdapat kejadian setempat/point dapat ditempatkan di sepanjang ruas 85:
Pada KM 5,20 terjadi kecelakaan truk (ditandai dengan bulatan kuning pada gambar).

Pada KM 6,00 terjadi kecelakaan motor (ditandai dengan tanda halilintar warna
ungu).
Kejadian panjang/garis/line dapat direferensikan dengan beberapa cara:
Kerusakan jalan berupa retak permukaan sepanjang 200 m dari km 4000 sampai km
4200 (warna merah).
Kerusakakan jalan berupa disintegration dari km 4500 ke km 5110 (warna orange).
Jika terjadi perubahan kejadian, maka proses editing nya cukup pada tabel event saja
tanpa harus mengubah data Grafisnya
3.

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dieroleh dari penggunaan SIG adalah sebagai berikut :
1.

2.
3.

4.

Dengan aplikasi sistem informasi geografis berbasis web seluruh pengguna baik
pengguna internal maupun masyarakat dapat melakukan monitoring secara langsung
kondisi Jalan dan diharapkan dapat membantu Pemerintah daerah dalam
menentukan anggaran pembangunan jalan ataupun perbaikan jalan yang rusak
parah. Pengguna dari masyarakat dapat memberikan informasi terhadap kondisi jalan
dengan data terkini.
Penggunaan metode linear referencing dapat diimplementasikan dalam pembuatan
basis data jaringan jalan karena objek jaringan jalan adalah berupa objek linier.
Penggunaan metoda linear referencing untuk monitoring dan evaluasi jaringan jalan
akan sangat membantu efektifitas pengelolaan data karena tidak diperlukan lagi
segmentasi jaringan jalan secara spasial cukup dengan tambahan atribut baru yang
terkait dengan sistem pengukuran jaringan jalan.
Penghematan ruang penyimpanan baik hardcopy maupun softcopy untuk basis data
jaringan jalan.

Referensi :
Setiawan, Budi. Monitoring kondisi jalan berbasis sistem informasi geografis untuk
membantu perencanaan dan pembangunan jalan kota Depok. Fakultas Sistem Informasi,
Universitas Gunadarma
Cahyo K dan D Yulianto, Nindyo. Basis data spasial monitoring jaringan jalan
dengan Metode Linear Referencing.Jurusan Teknik Sipil, Universitas Janabadra.