Anda di halaman 1dari 18

KERANGKA ACUAN KERJA

PENGELOLAAN ASET IRIGASI (PAI)


KABUPATEN LUMAJANG
1. LATAR BELAKANG
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 13 Tahun 2012 tentang
Pedoman Pengelolahan Aset Irigasi yaitu sebagai dasar melaksanakan ketentuan pasal 73
Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi yang berbunyi Pedoman
mengenai pengelolaan aset irigasi ditetapkan dengan peraturan Menteri.
Pengelolaan aset irigasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam
menunjang produksi

pertanian dan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, sistim

irigasi perlu dikelola dengan baik dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan aspirasi
masyarakat. Hal tersebut termuat dalam Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang
Sumber Daya Air.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2006 yang dimaksud dengan :
1. Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang pertanian yang jenisnya melliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air
bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak;
2. Daerah Irigasi adalah kesatuan lahan yang mendapat air dari satu jaringan irigasi;
3. Aset Irigasi adalah jaringan irigasi dan pendukung pengelolaan irigasi;
4. Jaringan Irigasi adalah saluran dan bangunan pelengkapnya yang

merupakan satu

kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan


pembuangan air irigasi;
5. Pengelolaan Aset Irigasi adalah proses manajemen yang terstruktur untuk perencanaan
pemeliharaan dan pendanaan sistem irigasi guna mencapai tingkat pelayanan yang
ditetapkan dan berkelanjutan bagi pemakai air irigasi dan pengguna jaringan irigasi
dengan pembiayaan Pengelolaan Aset Irigasi seefisien mungkin.
Inventarisasi merupakan langkah pertama dalam rangka Pengelolaan Aset Irigasi
(PAI). Sebagaimana tercantum dalam pasal 65 PP No.20 Tahun 2006 tentang Irigasi,
yang berbunyi Pengelolaaan Aset Irigasi mencakup inventarisasi, perencanaan,
pengelolaan, pelaksanaan pengelolaan dan evaluasi pelaksanaan Pengelolaan Aset
Irigasi serta pemutakhiran hasil inventarisasi aset irigasi.

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 1

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud

dari

Pengelolaan Aset Irigasi ini adalah

agar pengelolaan irigasi

mampu melaksanakan Pengelolahan Aset Irigasi secara efektif dan efiisien berkelanjutan
serta menyusun data aset irigasi yang menjadi wewenang kabupaten sebagai instrument
perencanaan yang diperlukan perencanaan.
Tujuan dari penyediaan data base pengelolahan aset irigasi adalah :
1.

Tersedianya informasi untuk mendukung inventarisasi aset irigasi guna mendapatkan


data jumlah, dimensi, jenis, kondisi dan fungsi seluruh aset irigasi serta data
ketersediaan air, nilai aset dan areal pelayanan pada setiap daerah irigasi dalam rangka
keberlanjutan sistem irigasi dan juga untuk mendapatkan data jumlah, spesifikasi,
kondisi dan fungsi pendukung pengelolaan irigasi;

2. Tersedianya informasi berbasis komputer yang mempunyai kemampuan untuk


membangun, menyimpan, dan menayangkan informasi dengan berreferensikan
geografis.
3. SASARAN :
Sasaran :
1. Inventarisasi data atau informasi terkait Operasional dan

Pemeliharaan serta

Pengelolahan Aset Irigasi;


2. Evaluasi data guna membentuk diagram alir dan kebutuhan data;
3. Mendesain basis data dan dipisahkan berdasarkan hasil keluaran yang dicapai.
4. SUMBER PENDANAAN
Dana untuk pelaksanaan kegiatan ini adalah sebesar Rp 50.000.000,- ( Lima
Puluh Juta Rupiah ) termasuk PPn

yang bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah ( APBD) Kabupaten Lumajang Tahun Anggaran 2015.


5. NAMA DAN ORGANISASI PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN
Nama Pekerjaan

: Pengelolaan Aset Irigasi

Pejabat Pembuat Komitmen

Satuan kerja

: Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lumajang

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 2

6. LOKASI PEKERJAAN
Pengelolaan Aset Irigasi untuk:
-

Daerah Irigasi ;..

Daerah Irigasi ;..

7. STANDART TEKNIS :

- Peraturan Menteri

Pekerjaan Umum

No. 13 Tahun 2012

tentang

Pedoman

Pengelolahan Aset Irigasi;


- SNI 03-1724-1989

: Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidraulik untuk


Bangunan Sungai;

8. STUDI STUDI TERDAHULU


- Pengelolaan Aset Irigasi Tahun 2013
9. REFRENSI HUKUM
Landasan hukum antara lain :
1. UU Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 2006 tentang Irigasi;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
Sumber Daya Air;
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 32 Tahun 2007 tentang Pedoman Operasi dan
Pemeliharaan Jaringan Irigasi;
5. Permendagri No. 21 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan;
10.

LINGKUP PEKERJAAN

10.1 Kegiatan Pelaksanaan Inventarisasi Data


Proses Pengumpulan Data dilakukan dengan mencari data dari buku dan peta yang
dimiliki oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lumajang yang berhubungan dengan
objek permasalahan. Selain itu data diperoleh secara penelusuran dengan bantuan alat
GPS langsung dari lapangan.
Kegiatan pelaksanaan inventarisasi asset irigasi mencakup :

Membuat PSK = Peta Skema Konstruksi ;


Mendata aset jaringan irigasi dan aset pendukung pengelolaan irigasi yang
terdahulu;

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 3

Menghitung nilai dari masing-masing aset;


Menghitung biaya pemeliharaan/perbaikan dari masing-masing aset irigasi.

Secara rinci kegiatan pelaksanaan inventarisasi aset irigasi tersebut diuraikan di bagianbagian berikut ini.
10.1.1 Ragam Aset Irigasi yang Harus Disurvei
Aset Irigasi terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu :
1.

Daerah Irigasi sesuai dengan Keputusan Menteri Nomor 293/tahun 2014 tentang
kewenangan Daerah irigasi.

2.

Aset jaringan irigasi, yang dapat diperinci lagi secara fungsional menjadi :
- Jaringan pembawa, yaitu yang membawa air dari sumber ke sawah-sawah;
Masing-masing aset jaringan terbagi menjadi dua komponen, yaitu :
- Komponen sipil yang mayoritas terdiri dari bahan bangunan pasangan batu
dan atau beton;
- Komponen Mekanikal

3.

yang

terdiri

dari

pintu-pintu

air

dan

alat

pengangkatannya.
Aset Pendukung pengelolaan aset irigasi, yang disingkat aset pendukung,
terdiri dari :
- Kelembagaan
- Sumber Daya Manusia (SDM)
- Bangunan Gedung
- Peralatan OP
-

Lahan

10.1.2 Data Umum


Data yang diperlukan untuk inventarisasi dikumpulkan melalui pengisian formulir
isian. Data umum yang dikumpulkan terdiri dari :
a. Identitas Daerah Irigasi
Data yang dikumpulkan untuk identifikasi daerah irigasi (DI) meliputi data yang
tidak berubah (data statis) dan data yang kemungkinan berubah menurut waktu
(data dinamis) sebagai berikut :
Data Statis :

Nama DI
Kewenangan pengelola ;
Kepemilikan ;
Kantor pengelola ;
Letak di wilayah sungai ;
Sumber air ;
Lokasi bangunan pengambilan (intake)
Keperluan Penggunaan jaringan ;
Pola tanam DI ;

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 4

Luas potensial ;

Data dinamis :
Luas fungsional ;
Luas terbangun jaringan utama ;
Luas terbangun jaringan tersier ;
Luas tanam padi pada musim tanam 1 (MT 1), musim tanam 2 (MT 2) dan
musim tanam 3 (MT 3) pada 1 tahun yang lalu ;
Luas tanam padi pada MT1. MT2 dan MT3 yang diharapkan setelah selesai
dilaksanakan Rencana Pengelolaan Aset Irigasi (RPAI) yaitu rencana 5 tahun
yang meliputi perbaikan dan penggantian aset irigasi, serta peningkatan aset
pendukungnya.
Catatan yang dirasa perlu selain hal-hal tersebut diatas
b. Data Ketersediaan Air
Data tentang ketersediaan air di sumber yang di inventarisasi adalah :
Data Statis :
Nama bangunan utama (bendungan, bendung, pompa) ;
Nama sungai atau sumber lainnya
Data dinamis dari bulan ke bulan :
Debit sumber air rata-rata per periode pemberian air, yaitu dapat setiap 10
harian atau 15 harian ;
Debit pengambilan dari intake yang direncanakan setiap periode ;
Debit realisasi dari intake
c. Daftar Foto
Daftar foto ini merupakan catatan foto-foto yang telah diambil untuk memudahkan
pencarian kembali pada saat pemasukan ke komputer.
Meliputi sumber air, Bangunan utama, Pembawa, Bangunan ukur, pintu air, Rumah
jaga juru dan PPA, Kantor UPTD.
10.1.3 Data Aset Jaringan
Sebagaimana dijelaskan diatas, aset jaringan dari komponen sipil dan komponen
mekanikal.
Data asset jaringan yang dikumpulkan terdiri dari data mengenai :
a. Bangunan utama dan Nomenklaturnya ;
b. Bangunan pelengkap pembawa dan Nomenklaturnya ;
c. Saluran ;
d. Bangunan drainase dan Nomenklaturnya
Data statis yang dikumpulkan di Lembar 1/2 terdiri dari :
a. Koordinat lokasi dan elevasi (X,Y,Z dari alat GPS) setiap bangunan ;
b. Dimensi;
Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 5

c. Bahan bangunan aset;


d. Luas daerah yang dilayani;
e. Tahun aset selesai dibangun dan dioperasikan, serta ;
Data dinamis yang dikumpulkan di lembar 2/2 terdiri dari :
a. Nilai Aset Baru (NAB) yaitu nilai seandainya aset yang sekarang ada dibangun
b.
c.
d.
e.

dengan menggunakan harga-harga satuan mutakhir.


Kondisi umum aset.
Fungsi umum aset
Pernah/tidak pernah direhabilitasi hingga seperti baru dan tahunnya
Usulan-usulan perbaikan atau penggantian, yang meliputi :
- Jenis pekerjaan yang diperlukan
- Rincian perbaikan yang diperlukan
- Areal pelayanan yang terpengaruh oleh kerusakan/pekerjaan perbaikan
- Total biaya yang diperlukan
- Urgensi dari pekerjaan yang diusulkan, dan
- Tujuan utama dari pekerjaan

10.1.4 Aset Pendukung


Data aset pendukung yang dikumpulkan meliputi :
Kelembagaan
Sumber Daya Manusia
Bangunan Gedung
Peralatan Operasi dan Pemeliharaan (OP)
Lahan milik irigasi
10.1.5 Kode-kode yang diperlukan
Untuk kepentingan system informasi pengelolaan aset irigasi (SIPAI) diperlukan
kode-kode sebagai berikut :
Kode Kabupaten
Kode Wilayah Sungai
Kode Daerah Irigasi
Kode Aset Irigasi
Kode yang pada saat ini telah resmi adalah Kode Kabupaten/Kota yang dikeluarkan
oleh BPS. Oleh karena itu sebelum kode-kode lain diterbitkan secara resmi, maka
secara internal dibuat kode-kode yang lainnya yang diperlukan untuk kepentingan
pengolahan data. Masing-masing kode akan dijelaskan berikut ini.
(1) Kode Kabupaten/Kota dari BPS
Kode Kabupaten/Kota diambil dari ketentuan yang dibuat oleh BPS. Kode terdiri
dari $ digit. Dari kode tersebut sudah dapat diketahui suatu Kabupaten/Kota
masuk provinsi mana.
Kode Kabupaten/Kota (4 digit)
(2) Kode Wilayah Sungai
Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 6

Menurut keputusan Menteri PU No. 11A/PRT/M/2006, wilayah Indonesia dibagi


menjadi 133 Wilayah Sungai (WS). Seperti halnya DI, sesuai dengan UU No.7
Tahun 2004 tentang SDA, WS dibagi menjadi beberapa status kewenangan
pengurusannya. Terdapat WS yang berstatus diurus oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
Dalam Permen tersebut telah pula ditentukan kode dari masing-masing WS, yang
terdiri dari 6 digit.
Kode Wilayah Sungai (6 Digit) :
(3) Kode Daerah Irigasi
Oleh karena kode Daerah Irigasi belum ada peraturan yang menetapkannya, maka
untuk kepentingan SIPAI kode DI tersebut ditetapkan sbb :
Kode untuk DI yang utuh terletak dalam satu Kabupaten/Kota :
Kode terdiri dari 8 digit :
1

Digit 1 dan 2 merupakan kode Provinsi dari BPS


Digit 3 dan 4 merupakan kode Kabupaten/Kota dari BPS
Digit 5 s/d 8 merupakan nomor urut DI dalam satu Kabupaten/Kota yang
bersangkutan.
Kode untuk DI lintas Kabupaten/Kota :
Kode terdiri dari 8 digit :

Digit 1 dan 2 merupakan kode Provinsi dari BPS


5 6
1 2
3 4
7 8
Digit 3 dan 4 berupa angka 00 merupakan kode lintas Kabupaten/Kota
Digit 5 s/d 8 merupakan nomor urut DI lintas dalam kewenangan provinsi
yang bersangkutan
Kode untuk DI lintas Provinsi :
Kode terdiri dari 8 digit :
0 0
0 0
5 Provinsi.
6
1 2
3kode
4 lintas
7 8
Digit ke 1 s/d 4 berupa angka 00 00 merupakan
Digit ke 5 s/d 8 merupakan nomor urut DI lintas dalam kewenangan Pusat.
Kode Kewenangan
Selain kode-kode tersebut diatas, diluar dari itu ada kode kewenangan

dengan ketentuan sebagai berikut :


A = Kode untuk DI dibawah kewenangan Pusat
B = Kode untuk DI dibawah kewenangan Provinsi
C = Kode untuk DI dibawah kewenangan Kabupaten/Kota
Kode kewenangan tersebut sengaja dipisahkan dari kode-kode tersebut diatas
karena kewenangan tersebut mudah berubah. misalnya bila terjadi pemekaran
wilayah Kabupaten/Kota yang baru maka dengan teknik pemisahan kode
kewenangan tersebut mudah untuk menyesuaikannya.
Kode Kepemilikan
Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 7

Dalam kode DI ini masih belum dibedakan antara DI-DI milik pemerintah
dengan DI-DI yang dimiliki oleh Badan Usaha, Badan Sosial, P3A, Desa dan
Perseorangan sebagaimana tercantum dalam pasal 66 ayat (8) PP No. 20 tahun
(4)

2006.
Kode Aset Irigasi
Sebelum menentukan kode dari asset irigasi terlebih dahulu perlu dibuat struktur
pengelompokan aset terlebih dahulu. Untuk aset irigasi yang berupa jaringan
maupun aset pendukung struktur pengelompokannya adalah sebagai berikut
(Gambar 1) :

Gambar 1 Strukturisasi Aset Irigasi


Sebagaimana ditetapkan dalam PP 20 Tahun 2006, asset irigasi terdiri dari
jaringan irigasi dan pendukung pengelolaan irigasi. Dalam pengkodean hal
tersebut berarti aset irigasi terdiri dari dua kelompok. Klasifikasi selanjutnya
kelompok terbagi menjadi sub kelompok dan sub kelompok menjadi sub sub
kelompok, akhirnya sub sub kelompok terdiri dari satuan aset.
Sampai dengan sub-sub kelompok aset irigasi terdiri dari 4 digit, setiap sub-sub
kelompok terdiri dari beberapa jenis asset yang bias sampai 2 digit, sedangkan
satu jenis asset dalam satu DI yang besar dapat mencapai angka 3 digit. Oleh
karena itu secara keseluruhan kode asset irigasi terdiri dari 9 digit. Lihat
Gambar-2 Skema Pembentukan Kode Aset Irigasi pada halaman berikut ini
Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 8

Kode Aset Irigasi (9 digit)

Gambar 2 Skema Pembentukan Kode Aset Irigasi


Perlu diketahui dalam table Kode Aset, terdapat baris-baris yang dikosongkan
dengan maksud untuk ditambahkan bilamana ada tambahan jenis-jenis asset yang
Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 9

belum termasuk dalam daftar. Dengan cara : Dituliskan jenis asset yang baru yang
belum ada dalam daftar kedalam formulir, kemudian diberikan kode asset
sementaranya dengan melanjutkan nomor kode jenis asset terakhir yang telah ada
dalam daftar.
10.2 Kegiatan Pembuatan Web Database
Proses pembuatan web database ini dimaksudkan agar hasil dari inventarisasi yang telah
dilaksanakan untuk di publikasikan dengan pembuatan web database yang memuat
semua hasil inventarisasi.
Tampilan dari web database yang mencakup hasil inventarisasi ini yaitu :

11.

Tampilan gambar skema dengan google map.

Tampilan Summary Bangunan dan Saluran

Tampilan Summary Kondisi Bangunan dan Saluran

Tampilan Estimasi biaya perbaikan

Kinerja Per Daerah Irigasi

METODOLOGI PELAKSANAAN

11.1 Bagan Alur Kegiatan Inventarisasi


Untuk mempermudah pemahaman mengenai urutan kegiatan inventarisasi asset irigasi
dapat dilihat pada bagan alur dibawah ini. Gambar -3 menunjukan bagan alur
inventarisasi asset jaringan yang dilakukan sekali dalam setahun dan Gambar-4
menunjukkan bagan alur inventarisasi asset pendukung yang dilakukan sekali dalam 5
tahun.

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 10

gambar-3 Bagan Alur Inventarisasi Aset Jaringan Sekali Setahun

Gambar-4 Bagan Alur Inventarisasi Aset Pendukung sekali 5 Tahun

11.2 Inventarisasi Aset Irigasi


Inventarisasi asset irigasi dilaksanakan dengan dukungan perangkat computer.
Kegiatan inventarisasi asset Irigasi dalam rangka PAI mencakup kegiatan sebagai
berikut :

Persiapan kegiatan inventarisasi asset irigasi

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 11

Pengumpulan data sekunder di kantor dan pengisian formulir yang dapat


diadakan di kantor

Penelusuran jaringan untuk mendapatkan data GPS dan pengisian formulir untuk
data yang harus dilihat di lapangan

Validasi data kantor

Pemasukan data ke computer

Penyusunan laporan inventarisasi

11.2.1 Persiapan
Hal hal yang perlu dipersiapkan :
a. Penugasan personil tenaga ahli dan pembantu yang diperlukan
b. Pelatihan pengisian formulir data inventarisasi dan pengoperasian alat GPS
c. Pengecekan peralatan yang diperlukan
d. Penyusunan jadwal kegiatan, termasuk pemberitahuan kepada P3A / GP3A IP3A
tentang jadwal penelusuran jaringan
e. Pengadaan / penyediaan peralatan.
11.2.2 Data Sekunder
Tidak seluruh data perlu didisi di lapangan, terutama data yang tidak
berubah/permanen dan data mengenai Identitas Daerah Irigasi dan Ketersediaan Air.
Data yang dapat diisi di kantor dalam formulir isian telah ditandai dengan blok warna
abu-abu.
11.2.3 Penelusuran Jaringan Untuk Mendapatkan Data GPS
Kegiatan di lapangan berupa penelusuran jaringan. Penelusuran tersebut dapat
dibedakan menurut tujuannya menjadi dua macam, yaitu :
Penelusuran dalam rangka mengambil data koordinat geografis dan elevasi suatu
posisi titik melalui alat GPS dan pengambilan foto digital mutakhir.
Penelusuran untuk pengisian formulir inventarisasi yang datanya harus didapat dari
lapangan.
Kegiatan penelusuran data GPS sebaiknya dilakukan terpisah dari kegiatan
penelusuran untuk pengisian formulir, karena waktu yang diperlukan lebih singkat
daripada waktu untuk penelusuran jaringan untuk mengisi formulir isian.
11.2.4 Penelusuran Jaringan Untuk Mengisi Formulir Isian
Pada saat penelusuran dilakukan pula pemotretan-pemotretan dengan kamera digital.
Data koordinat GPS maupun pemotretan digital tersebut dimasukkan ke dalam

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 12

computer. Untuk tidak menyulitkan saat penyimpanan data ke dalam computer, pada
saat pelaksanaan di lapangan perlu dibuat catatan-catatan. Untuk pemotretan telah
disediakan formulir untuk hal itu (SIPAI-D03)
11.2.5 Validasi Data
Sebelum data dimasukkan ke dalam pangkalan data (database) di komputer terlebih
dahulu harus divalidasi untuk meyakinkan kebenarannya. Validasi data dilakukan oleh
Ahli Irigasi.
Data yang perlu divalidasi terutama mengenai dimensi aset, umur aset, kondisi, fungsi
dan biaya-biaya yang diusulkan.
11.2.6 Pemasukan Data dan Pengolahan Data ke Komputer
Setelah divalidasi, data dimasukkan ke dalam pangkalan data di komputer melalui
software tersendiri. Pemasukan data ini dilakukan oleh operator computer,
selanjutnya diolah oleh ahli geodesi untuk digitasi dan disajikan dalam bentuk peta.
11.2.7 Perhitungan Nilai Aset Baru (NAB)
Salah satu isian dalam lembar 2/2 dari formulir isian asset jaringan adalah besarnya
nilai dari aset yang ditinjau apabila dibangun pada saat sekarang, yang disebut Nilai
Aset Baru (NAB). Petunjuk pengisian Formulir Aset Jaringan Blanko lembar 2/2
dapat digunakan sebagai acuan dalam perhitungan NAB.
Dengan demikian diharapkan pelaksana inventarisasi dapat mengembangkan lebih
lanjut untuk keseluruhan jenis aset jaringan.
Prinsip perhitungan dalam contoh tersebut adalah masing-masing jenis aset jaringan
dibagi-bagi menjadi beberapa segmen yang lebih sederhana dan menjadikan data yang
didapat dari formulir isian menjadi variable perhitungan volume pekerjaan. Kemudian
dilakukan penyederhanaan bagian-bagian dari masing-masing segmen tersebut hingga
mudah untuk dihitung. OLeh karena diadakan penyederhanaan baik bentuk maupun
proses pembangunannya, maka kompensasi untuk itu diadakan koefisien pengali
untuk harga satuan pekerjaan yang wajar pada saat inventarisasi dilakukan.
Sistem perhitungan untuk masing-masing aset jaringan tersebut perlu dibuat, agar
dalam pelaksanaan inventarisasi pada tahun-tahun selanjutnya, hanya diperlukan
penggantian besaran harga satuan pekerjaan dengan yang terbaru,
11.2.8 Rekapitulasi Aset Fisik dan Aset Pendukung
Aset fisik daerah irigasi termasuk jumlah bangunan, jumlah petak tersier, panjang
saluran dan jalan, serta asset pendukungnya yang meliputi kelembagaan operasional,

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 13

kelembagaan petani, sumber daya manusia, bangunan gedung, peralatan dan lahan
tanah, perlu direkap dan diisi dalam table-tabel rekapitulasi asset fisik dan pendukung.
12.

JANGKA WAKTU PELAKSANAAN


Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah 4 (Empat) bulan atau
120 (Seratus Dua Puluh) hari kalender bulan terhitung semenjak dikeluarkannya Surat
Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lumajang

13. PERALATAN, MATERIAL, PERSONIL DAN FASILITAS DARI PEJABAT


PEMBUAT KOMITMEN
Pejabat Pembuat Komitmen mempunyai keawajiban :
1. Menyiapkan bahan/ data sesuai yang dibutuhkan;
2. Menyediakan surat pengantar ke SKPD terkait untuk inventarisasi data sekunder
dan data lapangan;
3. Menyediakan fasilitas ruang rapat untuk diskusi pembahasan laporan hasil kegiatan.
14. PERALATAN DAN MATERIAL DARI PENYEDIA JASA KONSULTANSI
Penyedia Jasa Konsultansi wajib menyediakan segala keperluan peralatan dan
material yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, antara lain :
1.

Kendaraan untuk mobilisasi personil dan peralatan GPS;

2.

Peralatan kantor : alat tulis kantor, komputer dan software, printer.

15. TENAGA AHLI / PERSONIL YANG DIBUTUHKAN


TENAGA AHLI
1.
2.
S-

Team Leader ( S-1


Sipil/SDA/Irigasi/Drainase)
Ahli Informatika (S-1
Informatika)

Kualifikasi
Ahli Muda
Sipil/SDA/Irigasi/Dra
inase
Ahli Informatika

Pengalaman

Jumlah

Orang/ Bulan
1 org x 6 bln

1 org x 6 bln

TENAGA PENDUKUNG
1

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 14

1. Asisten Tenaga Ahli


Informatika

S1 Teknik Informatika

2. Asisten Tenaga Ahli Irigasi

1 org x 6 bln

1 org x 6 bln

SMA/SMK

1 org x 2 bln

SMA/SMK

1 org x 6 bln

SMA/SMK

1 org x 6 bln

S1
Sipil/SDA/Irigasi/Dra
inase

3. Surveyor
4. Administrasi
5. Operator Komputer

Personil yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan ini terdiri dari Tenaga Ahli dan
Tenaga Pendukung. Tim Ahli dipimpin oleh seorang Ketua Tim yang menguasai
pengelolaan Aset Irigasi.
A. Tenaga ahli yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Ketua Tim Konsultan (Team Leader)
Tenaga Ahli Bidang Sipil Hidro / Teknik Pengairan ( Team Leader ) kualifikasi
ahli

muda

dengan

latar

belakang

pendidikan

minimal

S1

Teknik

Sipil/SDA/Irigasi/Drainase dengan pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5 (lima)


tahun khusus di bidang perencanaan irigasi dan memiliki wawasan luas dalam
keirigasian. Team Leader harus mengkoordinir pekerjaan tim dan menjamin
standar pekerjaan yang seragam oleh para anggota tim dan unit kerja. Personil yang
diusulkan untuk mengisi posisi ini harus bermotivasi tingi dan mempunyai
kemampuan memimpin dan dapat bekerja sama dengan pihak-pihak lain.
Tugas dan tanggung-jawabnya adalah sebagai berikut :
Mengkoordinir semua personil yang terlibat dalam kegiatan pekerjaan baik dalam
pengambilan data maupun penyusunan laporan;
Memadukan tim pelaksana pekerjaan dengan tenaga ahli dan staf agar terjalin
kerja sama yang baik;
Membantu analisa dan manajemen data untuk menyusun kebutuhan kegiatan
Bertanggung jawab atas hasil pekerjaan.
b. Ahli Informatika
Tenaga Ahli Bidang Informatika ( Ahli Informatika ) kualifikasi ahli Informatika
dengan latar belakang pendidikan minimal S1 Informatika

dengan pengalaman

kerja sekurang-kurangnya 3 (Tiga) tahun.


Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 15

Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut :


Melakukan koordinasi dengan Team Leader
Menyiapkan perencanaan kerja yang berhubungan dengan tugas, wewenang dan
tanggung jawabnya
Melakukan analisa terhadap kondisi terkini dari kegiatan operasional
Membuat Database Pengeleloaan Aset Irigasi.
B. Tenaga Pendukung
Tenaga Pendukung yang diperlukan dalam proses pelaksanaan pekerjaan data base
Pengelolaan Aset Irigasi (PAI ) ini meliputi :
1).

Asisten

Ahli

Sipil/SDA/Irigasi/Drainase,

dengan

kualifikasi

ahli

Sipil/SDA/Irigasi/Drainase dengan latar belakang pendidikan minimal S1


Sipil/SDA/Irigasi/Drainase, menguasai dalam bidang pembuatan peta dengan
pengalaman 2 ( dua ) tahun.
2). Asisten Ahli Informatika, dengan latar belakang pendidikan minimal S1 Teknik
Informatika, menguasai dalam bidang data base/ sistem informasi dengan
pengalaman 2 ( dua ) tahun.
3). Surveyor, dengan latar belakang pendidikan minimal SMA/SMK, menguasai
survey irigasi dengan pengalaman 2 ( dua ) tahun.
4). Administrasi, dengan latar belakang pendidikan minimal SMA/SMK, menguasai
dalam bidang administrasi dengan pengalaman 2 ( dua ) tahun.
5). Operator Komputer, dengan latar belakang pendidikan minimal SMA/SMK,
menguasai dalam bidang Operator Komputer dengan pengalaman 2 ( dua )
tahun.

16. LAPORAN
16.1 Laporan Pendahuluan (Inception Report)

Berisi rencana kerja secara menyeluruh (antara lain persiapan meliputi


mobilisasi personil, penyediaan kantor lapangan, peralatan kantor dan
peralatan survey, kendaraan operasional dan lain lain), mobilisasi tenaga ahli
dan tenaga pendukung, jadwal kegiatan dan peralatan, metode kerja, data
eksisting yang tersedia, data hasil peninjauan awal, serta identifikasi dan
evaluasi permasalahan bila ada.

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 16

Laporan harus selesai pada minggu ke-2 (dua), setelah terbitnya Surat Perintah
Mulai Kerja (SPMK).

Laporan dibuat 3 (tiga) rangkap.

Laporan akan dibahas dan didiskusikan bersama dengan Dinas Pekerjaan


Umum Kabupaten Lumajang beserta pelaksana kegiatan.

16.2 Draft Laporan Akhir (Draft Final Report)

Laporan ini memuat seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dan perlu
dikonsultasikan dan didiskusikan dengan direksi paling lambat satu minggu
sebelum akhir pekerjaan.

Draft Laporan akhir dibuat 3 (tiga) rangkap.

16.3 Laporan Akhir (Final Report)

Laporan ini memuat seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan dan sudah
dibahas dan disetujui oleh direksi. Tanggapan, masukan dan perbaikan
perbaikan dari hasil pembahasan Draft Laporan Akhir akan ditampung dalam
laporan akhir ini.

Laporan akhir dibuat 3 (tiga) rangkap.

16.4 Laporan Hasil Inventarisasi

Laporan ini memuat hasil Inventarisasi asset Irigasi dan ditampilkan secara
tabular dan visual..

Laporan Hasil Inventarisasi dibuat 3 (tiga) rangkap.

16.5 Alih Pengetahuan


Konsultan berkewajiban melakukan Alih Pengetahuan kepada staf Dinas Pekerjaan
Umum Kabupaten Lumajang agar yang bersangkutan dapat melaksanakan :

Melakukan Update terhadap data yang disusun konsultan;


KEPALA DINAS PEKERJAAN UMUM
KABUPATEN LUMAJANG
Lumajang, ..2015

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 17

Kerangka Acuan Kerja Pengelolaan Aset Irigasi 2015

Page 18