Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan sulfat ini adalah untuk menentukan konsentrasi sulfat
dalam suatu sampel air.
1.2 Metode Percobaan
Metode percobaan pada percobaan sulfat adalah spektrofotometri.
1.3 Prinsip Percobaan
Ion sulfat dalam air dengan penambahan Kristal BaCl 2 akan membentuk koloid
tersuspensi (kekeruhan). Semakin tinggi konsentrasi sulfat maka cairan akan
semakin keruh. Kekeruhan yang terjadi diukur dengan alat spektrofotometer pada
panjang 420 nm.
Reaksi:
SO42-+ Ba2+ BaSO4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sulfat merupakan senyawa yang stabil secara kimia karena merupakan
bentuk oksida paling tinggi dari unsur belerang. Sulfat dapat dihasilkan dari
oksida senyawa sulfida oleh bakteri. Sulfida tersebut adalah antara lain sulfida
metalik dan senyawa organosulfur. Sebalikya oleh bakteri golongan heterotrofik
anaerob, sulfat dapat direduksi menjadi asam sulfida.Secara kimia sulfat
merupakan bentuk anorganik daripada sulfida didalam lingkungan aerob (Rahayu,
2010).
Sulfat didalam lingkungan (air) dapat berada secara ilmiah dan atau dari
aktivitas manusia, misalnya dari limbah industry dan limbah laboratorium. Secara
ilmiah sulfat biasanya berasal dari pelarutan mineral yang mengandung S,
misalnya gips (CaSO4.2H2O) dan kalsium sufat anhidrat (CaSO4). Selain itu dapat
juga berasal dari oksidasi senyawa organik yang mengandung sulfat adalah antara
lain industri kertas,tekstil dan industri logam (Fachrunnisa, 2012).
Prinsip

penentuan

Sulfat

secara

spektrofotometri

adalah

dengan

mereaksikan ion sulfat yang ada di dalam sampel air dengan larutan BaCl2,
sehingga terbentuk suspensi BaSO4. kekeruhan yang dihasilkan diukur dengan
spektrofotometri pada panjang gelombang 420 nm (Rahayu, 2010).
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang
digunakan untuk menentukan komposisi satu sampel baik secara kuantitatif dan
kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Cahaya
yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV, dan inframerah, sedangkan
materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron
valensi (Priambodo, 2013).
Metode Spektrofotometri Ultra-violet dan Sinar Tampak berdasarkan pada
Hukum Lambert-Beer. Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah radiasi cahaya
Tampak, Ultra-violet dan cahaya-cahaya lain yang diserap atau ditransmisikan
oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal
larutan (Triyati, 1985).
Sumber cahaya dipergunakan untuk pengukuran absorpsi. Sumber cahaya
ini harus memancarkan sinar dengan kekuatan yang cukup untuk penentuan dan

pengukuran, juga harus memancarkan cahaya berkesinambungan yang berarti


harus mengandung semua panjang gelombang dari daerah yang dipakai (Triyati,
1985).
Umumnya terdapat 3 metode analisis yang digunakan dalam determining
sulfat, yaitu (Rahayu, 2013):
1. Metode Gravimetri
Metode gravimetri dapat memeberitahukan hasil yang akurat dan lebih
direkomendasikan sebagai prosedur standar untuk konsentrasi sulfat pada sampel
diatas 10 mg/l. Metode ini bergantung pada kemampuan ion bergabung yang
dapat dilarutkan dan diencerkan.
2. Turbidimetri
Metode ini didasarkan pada fakta bahwa barium sulfat mampu
mempercepat dalam bentuk atau fase koloid dan bahwa kecenderungan ini
ditambah untuk kehadiran sodium koloid-hidrolik asam. Penyelesaian yang berisi
gliserol dan kandungan organik lainnya. Dengan menstandarisasikan prosedur
yang digunakan untuk mendapatkan sol barium sulfat adalah mungkin untuk
mencapai hasil yang kuantitif dan dapat diterima untuk tujuan yang memuaskan.
Metode ini sangat cepat dan aplikasinya sangat luas. Mulai dari konsentrasi sulfat
yang lebih besar dari 10 mg/l dapat diambil dengan memperkecil bagian menjadi
ukuran sampel yang direkomendasikan yaitu 0.5 ml. Metode ini memakai kurva
kalibrasi dengan yang membandingkan keadaan sampel yang bervariasi.
3. Volumetri
Metode ini tidak dianjurkan untuk digunakan karena tidak diaplikasikan
secara tepat untuk pengujian sulfat pada air yang berada di alam untuk syarat yang
dapat diminum.
Kebanyakan sulfat sangat larut dalam air. Kecuali dalam kalsium sulfat,
stronsium sulfat dan barium sulfat, yang tak larut. Barium sulfat sangat berguna
dalam analisis gravimetri sulfat: penambahan barium klorida pada suatu larutan
yang mengandung ion sulfat. Kelihatan endapan putih, yaitu barium sulfat
menunjukkan adanya anion sulfat. Ion sulfat bisa menjadi satu ligan
menghubungkan mana-mana satu dengan oksigen (monodentat) atau dua oksigen

sebagai kelat atau jembatan. Contoh ialah molekul logam netral kompleks
PtSO4P(C6H5)32, di mana ion sulfat berperan sebagai ligan bidentat. Ikatan
oksigen-logam dalam molekul sulfat kompleks mempunyai ciri kovalen. Sulfat
berwujud sebagai zat mikroskopik (aerosol) hasil dari pembakaran bahan bakar
fosil dan biomassa. Apa yang dihasilkan menambah keasaman atmosfer dan
mengakibatkan hujan asam (Anonim, 2013).

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
1. Beakerglass 250 ml, 2 buah;
2. Beakerglass 200 ml, 1 buah;
3. Beakerglass 100 ml, 1 buah;
4. Labu ukur 100 ml, 6 buah;
5. Gelas ukur 10 ml, 1 buah;
6. Pipet takar 10 ml, 1 buah;
7. Pipet gondok 10 ml, 1 buah;
8. Pipet tetes, 1 buah;
9. Bola hisap, 1 buah;
10. Corong, 1 buah;
11. Spatula, 1 buah;
12. Labu semprot, 1 buah.
3.1 Bahan dan Reagen
3.2.1 Bahan
1. Kristal BaCl2;
2. Sampel.
3.2.2 Reagen
Larutan Salt Acid:
Dilarutkan 240 gr NaCl dalam aquadest tambahkan 20 ml HCl pekat, kemudian
diencerkan dengan aquadest sampai volume 1 liter.

3.2 Cara Kerja


Cara kerja pada percobaan ini adalah:
1. 50 ml contoh air yang telah disaring (contoh air jernih), ditambahkan 10 ml
larutan Salt Acid dan sedikit Kristal BaCl2 dikocok dengan magnetic stirer dan
biarkan selama 5 menit;
2. Buat larutan standar dengan konsentrasi 0, 10, 30, 50, 80, 100 ppm. Perlakukan
sampel sama dengan larutan standar untuk analisis spektrofotometer.
3.3 Rumus
1. Pengenceran
M1.V 1 = M2.V 2
Keterangan:
M1 = Konsentrasi sebelum pengenceran
M2 = Konsentrasi setelah pengenceran
V1 = Volume sebelum pengenceran
V2 = Volume setelah pengenceran
2. Rumus regresi linear kurva:
y = a + bx
Keterangan:
y = Nilai absorban
x = Konsentrasi larutan (ppm)

( y i ) ( x i2 ) - ( x i ) ( x i y i )
a=
n x i2 - ( x i )2
b=

( n x i y i ) - ( x i ) ( y i )
2
n x i2 - ( xi )

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Sulfat. URL: http://id.wikipedia.org/wiki/Sulfat. Tanggal diakses:
6 Juni 2013
Fachrunnisa,

Andi.

2012.

Penentuan

Kadar

Sulfat.

URL:

http://organiksmakma3b03.blogspot.com/2012/04/penentuan-kadarsulfat.html. Tanggal diakses: 6 Juni 2013


Priambodo,

Anton.

2013.

Spektrofotometri.

URL:

http://antonchemical.blogspot.com/2013/01/spektrofotometri.html.
Tanggal diakses: 6 Juni 2013
Rahayu, Eka Putri. 2010. Penentuan Kadar Sulfat dalam Air. URL:
http://ekaputriayu.blogspot.com/. Tanggal diakses: 6 Juni 2013
Rahayu, Silda Adi. 2013. Laporan Akhir Praktikum Laboratorium Lingkungan.
Universitas Andalas Padang
Triyati, Etty. 1985. Ebook: Spektrofotometer Ultra-Violet Dan Sinar Tampak Serta
Aplikasinya

Dalam

Oseanologi.

URL:

http://www.oseanografi.lipi.go.id/sites/default/files/oseana_x(1)39-47.pdf.
Tanggal diakses: 6 Juni 2013