Anda di halaman 1dari 13

KL-3105 EKONOMI

REKAYASA
Semester I 2013/2014
Paramashanti

Pajak

Macam-macam Pajak
1. Pajak Pendapatan

yang dibebankan pada pendapatan perorangan dan


perusahaan dengan tarif yang disesuaikan dengan
pendapatannya dan didasarkan pada pendapatan bersih.
2. Pajak Kekayaan
yang dibebankan oleh pemerintah pada tanah, bangunan
rumah, permesinan dan peralatan, barang inventaris, dsb.
3. Pajak Penjualan
yang ditentukan sebagai fungsi dari pembelian barang/atau
pelayanan, dan tidak ada kaitannya dengan pendapatan
bersih.
Yang akan dibahas adalah Pajak Pendapatan.
3

Pendapatan dan Potongan


Pendapatan = hasil penjualan,
honorarium, penerimaan lainnya
dari pemilikan modal dan kekayaan
Potongan = pengeluaran yang terjadi
dalam hasil pendapatan (upah, gaji,
sewa, perbaikan, bunga pinjaman,
pajak, kerugian, penyusutan)

Pendapatan Terkena Pajak


Pendapatan terkena pajak =
pendapatan total potongan
Pajak pendapatan berhubungan
dengan badan hukum =
Pendapatan terkena pajak x
tingkat pajak efektif
5

Studi Sebelum dan Sesudah Pajak


Studi sebelum pajak: sudah dibahas
dalam materi terdahulu
Studi setelah pajak:
mempertimbangkan pengaruh
penyusutan dan potongan-potongan lain
untuk pembayaran bunga pinjaman
atau yang terkait dengan aturan-aturan
perpajakan misal untuk kredit investasi.
6

Cashflow Sesudah Pajak


Cashflow setelah pajak
= cashflow sebelum
pajak pajak
pinjaman

Perbandingan Ekonomi Sesudah


Pajak

Digunakan dengan metode


yang sama seperti pada
perbandingan ekonomi
sebelum pajak (namun
dengan menggunakan
cashflow setelah pajak),
misal dengan PW, AW, RR.
8

Contoh 1: Kasus depresiasi


Anggaran sebesar Rp 48 juta digunakan untuk
membeli mesin penguji yang memiliki usia
pemakaian 5 tahun dengan tanpa nilai jual lagi.
Selama 5 tahun, diperkirakan akan memperoleh
keuntungan berupa penghematan sebesar Rp 26
juta per tahun. Biaya operasional adalah sebesar
Rp 9 juta. Penyusutan dilaksanakan dengan
metode SOYD. Jika tingkat pajak pendapatan
efektif adalah sebesar 42%, maka apakah
pembelian mesin tersebut memenuhi tingkat
pengembalian minimum perusahaan yang dapat
diterima (sebesar 12%).
9

Contoh 2: kasus depresiasi dan


potongan bunga pinjaman
Jika terdapat alternatif lain dari Contoh 1,
dimana terdapat mesin lain dengan harga Rp
70 juta. Mesin ini memiliki usia kegunaan 5
tahun, nilai jual lagi Rp 22 juta, dan
memberikan penghematan sebesar Rp 23
juta per tahun. Jika tambahan biaya untuk
harga kedua mesin tersebut (Rp 70-48 juta =
Rp 22 juta) dipinjam dengan bunga 9% per
tahun dan harus dikembalikan pada akhir
tahun kelima, maka berikan hasil analisis
untuk alternatif ini.
10

Contoh 3
Diketahui 2 proyek, A dan B. Keduanya
membutuhkan biaya awal $120,000 untuk
membeli peralatan dan peralatan tersebut
mendatangkan manfaat tahunan sebesar
$20,000 untuk kedua proyek.
Kedua peralatan tersebut mempunyai umur 10
tahun, tetapi A mempunyai nilai sisa $0 dan B
nilai sisanya $60,000. Proyek mana yang harus
dipilih dengan tingkat bunga 10%?
Asumsikan depresiasi garis lurus dan tingkat
pajak efektif 40%.
11

Contoh 4
Sebuah mesin dibeli dengan modal investasi pinjaman.
Pembelian mesin tersebut akan mengurangi biaya
tenaga kerja. Biaya awal mesin tersebut adalah
$67,000, dimana $47,000 dibayar tunai dan $20,000
dengan uang pinjaman dengan tingkat bunga 9%.
Pinjaman tersebut mensyaratkan pembayaran utang
pokok pada akhir tahun ke-5, dengan bunga dibayar
setiap tahunDiperkirakan mesin tersebut mempunyai
umur manfaat 5 tahun dan nilai sisa $22,000.
Depresiasi menggunakan metode garis lurus. Dengan
mesin tersebut, akan terjadi penghematan sebesar
$23,000 per tahun. Tingkat pajak efektif marginal
adalah 40%. Analisislah kelayakan pembelian mesin
tersebut.
12

Contoh 5
Suatu investasi pada peralatan seharga Rp. 36.000.000
diharapkan dapat menghemat pengeluaran perusahaan
sebesar Rp. 8.900.000 tiap tahun untuk selama 8 tahun dan
ditaksir nilai akhirnya sama dengan nol pada akhir tahun ke
8. Dengan menggunakan pajak pendapatan (income tax
rate) sebesar 48 %, hitung rate of return investasi tersebut
dengan
menggunakan kondisi-kondisi berikut :
a. Sebelum pajak pendapatan (before income tax).
b. Setelah pajak pendapatan dengan menggunakan straight
line depreciation.
c. Setelah pajak pendapatan dengan SOYD.
d. Setelah pajak pendapatan dengan menggunakan double
rate declining balance depreciation untuk 4 tahun
pertama dan 4 tahun berikutnya digunakan straight line
depreciation.
13