Anda di halaman 1dari 26

TRAUMA KEPALA

Oleh klp 1:
Ryo Kasehung
Alvian Pakuli
Merlin Biki
Sri Fitri Yanti Alisi
Melisa I. Robot

TRAUMA KEPALA

Trauma pada kepala dapat


menyebabkan fraktur pada
tengkorak dan trauma jaringan lunak
/ otak atau kulit seperti kontusio /
memar otak, edema otak,
perdarahan atau laserasi, dengan
derajat yang bervariasi tergantung
pada luas daerah trauma.

Tipe trauma kepala

Trauma kepala terbuka

Trauma kepala tertutup (Komusio


serebri/Gegar otak, Kontusio serebri
/Memar otak, Perdarahan sub dural,
Perdarahan Intraserebral )

Trauma kepala terbuka

Trauma kepala ini menyebabkan fraktur


tulang tengkorak dan laserasi duramater.
Kerusakan otak dapat terjadi bila tulang
tengkorak menusuk otak
Fraktur longitudinal sering menyebabkan
kerusakan pada meatus akustikus interna,
foramen jugularis dan tuba eustachius.
Setelah 2-3 hari akan tampak battle sign
(warna biru dibelakang telinga diatas os
mastoid) dan otorrhoe (liquor keluar dari
telinga). Perdarahan dari telinga dengan
trauma kepala hampir selalu disebabkan
oleh retak tulang dasar tengkorak.

Fraktur basis tengkorak tidak selalu


dapat dideteksi oleh foto rontgen, karena
terjadi sangat dasar. Tanda-tanda klinik
yang dapat membantu mendiagnosa
adalah :

Battle sign ( warna biru/ekhimosis dibelakang


telinga di atas os mastoid )
Hemotipanum ( perdarahan di daerah
gendang telinga )
Periorbital ecchymosis ( mata warna hitam
tanpa trauma langsung )
Rhinorrhoe ( liquor keluar dari hidung )
Otorrhoe ( liquor keluar dari telinga)

Komplikasi

Komplikasi pada trauma kepala


terbuka adalah infeksi, meningitis
dan perdarahan / serosanguinis.

Trauma kepala tertutup

Komusio serebri ( Gegar otak )


Merupakan bentuk trauma kapitis
ringan, dimana terjadi pingsan
(kurang dari 10 menit ). Gejala lain
mungkin termasuk pusing, nodanoda didepan mata dan linglung

Kontusio serebri (Memar otak )


Merupakan perdarahan kecil /
ptechie pada jaringan otak akibat
pecahnya pembuluh darah kapiler.
Hal ini bersama-sama dengan
rusaknya jaringan saraf atau otak
yang akan menimbulkan edema
jaringan otak di daerah sekitarnya

Berdasarkan atas lokasi benturan,


lesi dibedakan atas koup kontusio
dimana lesi terjadi pada sisi
benturan, dan tempat benturan.
Pada kepala yang relatif diam
biasanya terjadi lesi koup, sedang
bila kepala dalam keadaan bebas
bergerak akan terjadi kontra koup.

Gejala perdarahan epidural yang klasik


atau temporal berupa kesadaran yang
makin menurun, disertai oleh
anisokoria pada mata ke sisi dan
mungkin terjadi hemiparese
kontralateral. SEdangkan perdarahan
epidural di daerah frontal dan parietal
atas tidak memberikan gejala khas
selain penurunan kesadaran (biasanya
somnolen) yang tidak membaik setelah
beberapa hari.

Perdarahan sub dural


Merupakan perdarahan antara
duramater dan arakhnoid, yang
biasanya meliputi perdarahan vena.
Perdarahan subdural dibedakan atas
akut, subakut, dan kronis

Perdarahan subdural akut sering


dihubungkan dengan cedera otak
besar dan cedera batang otak.
Tanda-tanda akan gejala klinis
berupa sakit kepala, perasaan
kantuk, dan kebingungan, respon
yang lambat, dan gelisah. Keadaan
kritis terlihat dengan adanya
perlambatan reaksi ipsilateral pupil.

Perdarahan subdural subakut,


biasanya berkembang 7 sampai 10
hari setelah cedera dan dihubungkan
dengan kontusio serebri yang agak
berat. Tekanan serebral yang terusmenerus menyuebabkan penurunan
tingkat kesadaran yang dalam

Perdarahan subdural kronik, terjadi


karena luka ringan. Mulanya
perdarahan kecil memasuki ruang
subdural. Beberapa minggu kemudian
menumpuk di sekitar membran
vaskuler dan pelan-pelan meluas.
Gejala mungkin tidak terjadi dalam
beberapa mingggu atau bulan.
Keadaan ini pada proses yang lama
akan terjadi penurunan reaksi pupil
dan motorik.

Perdarahan Intraserebral
Merupakan penumpukan darah pada
jaringan otak. Perdarahan mungkin
menyertai contra coup phenomenon.
Kebanvalan dihubungkan dengan
kontusio dan terjadi dalam area
frontal dan temporal. Akibat adanya
substansi darah dalam jaringan otak
akan menimbulkan edema otak.
Gejala neurologik tergantung dari
ukuran dan lokasi perdarahan.

Patofisiologi

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan


oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang
dihasilkan di dalam sel-sel saraf hampir seluruhnya
melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan
oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak
walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan
fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa
sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh
kurang dari 20 mg%, karena akan menimbulkan
koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari
seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila
kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan
terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi serebral.

Faktor kardiovaskuler
Trauma kepala menyebabkan perubahan
fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal
miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan
edema paru.
Tidak adanya stimulus endogen saraf
simpatis mempengaruhi penurunan
kontraktilitas ventrikel. Hal ini menyebabkan
penurunan curah jantung dan meningkatkan
tekanan atrium kiri. Akibatnya tubuh
berkompensasi dengan meningkatkan
tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya
peningkatan tekanan atrium kiri adalah
terjadinya edema paru.

Faktor Respiratori
Adanya edema paru pada trauma kepala
dan vasokonstriksi paru atau hipertensi
paru menyebabkan hiperpnoe dan
bronkokonstriksi
Konsentrasi oksigen dan karbon dioksida
mempengaruhi aliran darah. Bila PO2
rendah, aliran darah bertambah karena
terjadi vasodilatasi. Penurunan PCO2, akan
terjadi alkalosis yang menyebabkan
vasokonstriksi (arteri kecil) dan penurunan
CBF (cerebral blood fluid).
Edema otak ini menyebabkan kematian
otak (iskemik) dan tingginya tekanan intra
kranial (TIK) yang dapat menyebabkan
herniasi dan penekanan batang otak atau
medulla oblongata.

Faktor metabolisme
Pada trauma kepala terjadi
perubahan metabolisme seperti
trauma tubuh lainnya yaitu
kecenderungan retensi natrium dan
air dan hilangnya sejumlah nitrogen
Retensi natrium juga disebabkan
karena adanya stimulus terhadap
hipotalamus, yang menyebabkan
pelepasan ACTH dan sekresi
aldosteron.

Faktor gastrointestinal
Trauma kepala juga mempengaruhi
sistem gastrointestinal. Setelah
trauma kepala (3 hari) terdapat
respon tubuh dengan merangsang
aktivitas hipotalamus dan stimulus
vagal. Hal ini akan merangsang
lambung menjadi hiperasiditas.

Faktor psikologis
Selain dampak masalah yang
mempengaruhi fisik pasien, trauma
kepala pada pasien adalah suatu
pengalaman yang menakutkan. Gejala
sisa yang timbul pascatrauma akan
mempengaruhi psikis pasien. Demikian
pula pada trauma berat yang
menyebabkan penurunan kesadaran
dan penurunan fungsi neurologis akan
mempengaruhi psikososial pasien dan
keluarga.

Pemeriksaan diagnostik

X-Ray tengkorak
CT-Scan
Angiografi

Penatalaksanaan medis
pada trauma kepala

Dexamethason/kalmethason sebagai
pengobatan anti edema serebral, dosis
sesuai dengan berat ringannya trauma.
Therapi hiperventilasi (trauma kepala
berat). Untuk mengurangi vasodilatasi.
Pemberian analgetika.
Pengobatan anti edema dengan larutan
hipertonis yaitu manitol 20% atau
glukosa 40% atau gliserol 10%.
Antibiotika yang mengandung barrier
darah otak (penisilin) atau untuk infeksi
anaerob diberikan metronidazole

Makanan atau cairan. Pada trauma


ringan bila muntah-muntah tidak
dapat diberikan apa-apa, hanya
cairan infus dextrosa 5%,
aminofusin, aminofel (18 jam
pertama dari terjadinya
kecelakaan), 2-3 hari kemudian
diberikan makanan lunak.
Pembedahan.

Pada trauma berat, hari-hari


pertama (2-3 hari), tidak terlalu
banyak cairan. Dekstrosa 5% 8 jam
pertama, ringer dekstrose 8 jam
kedua dan dekstrosa 5% 8 jam
ketiga. Pada hari selanjutnya bila
kesadaran rendah, makanan
diberikan melalui nasogastric tube
(2500-3000 TKTP). Pemberian
protein tergantung nilai urea N.