Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
Bab II ini membahas tentang materi yang berkenaan tentang kredensial meliputi
Definisi kredensial, tujuan kredensial, jenis jenis kredensial, proses kredensial di dunia dan
di Indonesia, standar praktik keperawatan.
A. Definisi Kredensial
Credentialing berasal dari bahasa Inggris yang yang artinya mandat dalam bahasa
Indonesia (kamus bahasa Indonesia). Credentialing biasa juga disebut kredensial (dalam
bahasa Indonesia). Kredensial adalah proses pembentukan kualifikasi profesional yang
berlisensi, yang diberikan kepada anggota atau organisasi, dengan menilai latar belakang dan
legitimasi (www.wordpress.com, 2009).
Kredensial adalah pengesahan kualifikasi, kompetensi, atau otoritas yang diberikan
kepada individu atau organisasi oleh pihak ketiga yang relevan diakui secara de jure atau de
facto yang mempunyai otoritas atau dianggap kompetensi untuk melakukannya
(www.wikipedia.com, 2009). Sedangkan menurut Priharjo (1995), kredensial merupakan
proses untuk menentukan dan mempertahankan kompetensi keperawatan. Proses kredensial
merupakan salah satu cara profesi keperawatan mempertahankan standar praktik dan
akuntabilitas persiapan pendidikan anggotanya.
Berdasarkan penjelasan diatas kelompok menarik kesimpulan bahwa kredensial
adalah proses pengakuan profesi yang diberikan kepada induvidu atau organisasi dengan
mempunyai otoritas atau dianggap kompeten dalam melakukan suatu tindakan atau
kebijakan.
B. Tujuan Kredensial
Menurut Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Tenaga Kesehatan (2005) tujuan
dari kredensial adalah sebagai berikut :
1. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
2. Melidungi masyarakat atas tindakan keperawatan yang dilakukan
3. Menetapkan standar pelayanan keperawatan
4. Menilai boleh tidaknya praktik
5. Menilai kesalahan dan kelalaian
6. Melindungi masyarakat dan perawat
7. Menentukan dan mempertahankan kompetensi keperawatan
8. Membatasi pemberian kewenangan melaksanakan praktik keperawatan hanya bagi yang
kompeten
9. Meyakinkan masyarakat bahwa yang melakukan praktek mempunyai kompetensi yang
diperlukan
C. Jenis-Jenis Credentialing
Menurut Kozier (1990) proses kredensial meliputi pemberian ijin praktik (lisensi),
registrasi (pendaftaran), pemberian sertifikat (sertifikasi) dan akreditasi.
1. Ijin Praktik ( Lisensi )

Ijin praktik keperawatan pada dasarnya bukan merupakan topik baru bagi para perawat
Indonesia. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam berbagai kesempatan telah
mendiskusikan topik ini. Para ahli yang antusias dalam mengembangkan kualitas dan praktik
keperawatan telah pula memberikan sumbangan pikiran. Namun, izin praktik keperawatan
sampai tulisan ini dibuat masih tetap merupakan perjuangan keperawatan. Bagi setiap profesi
atau pekerjaan untuk mendapatkan hak izin praktik bagi anggotanya, biasanya harus
memenuhi tiga criteria (Kozier, Erb, 1990) :
a. Ada kebutuhan untuk melindungi keamanan atau kesejahteraan masyarakat.
b. Pekerjaan secara jelas merupakan area kerja yang tersendiri dan terpisah.
c. Ada suatu organisasi yang melaksanakan tanggung jawab proses pemberian izin.
Izin praktik keperawatan diperlukan oleh profesi dalam upaya meningkatkan dan
menjamin professional anggotanya. Bagi masyarakat izin praktik keperawatan merupakan
perangkat perlindungan bagi mereka untuk mendapat pelayanan dari perawat professional
yang benar-benar mampu dan mendapat pelayanan keperawatan dengan mutu tinggi. Tidak
adanya izin keperawatan menempatkan profesi keperawatan berasa pada posisi yang sulit
untuk menentukan mutu keperawatan.
2. Registrasi
Registrasi merupakan pencantuman nama seseorang dan informasi lain pada badan
resmi baik milik pemerintah maupun non pemerintah (Robert Priharjo, 1995). Perawat yang
telah terdaftar diizinkan memakai sebutan Registered Nurse. Untuk dapat terdaftar, perawat
harus telah menyelesaikan pendidikan keperawatan dan lulus ujian dari badan pendaftaran
dengan nilai yang diterima.
Registered Nurse berarti seseorang yang melakukan praktik keperawatan profesional
dengan :
Mengkaji status kesehatan individu dan kelompok.
Menegakkan diagnosa keperawatan.
Menentukan tujuan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan.
Menentukan tujuan untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan.
Menyusun intervensi keperawatan untuk mengimplementasikan strategi keperawatan.
Memberi kewenangan intervensi keperawatan yang dilaksanakan orang lain, dan tidak
bertentangan dengan undang-undang.
Mempertahankan perawatan yang aman dan efektif baik langsung maupun tidak langsung.
Melakukan evaluasi respon terhadap intervensi.
Mengajarkan teori dan praktik keperawatan.
Mengelola praktik keperawatan.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam mengelola perawatan kesehatan.

3.

Sertifikasi
Sertifikasi merupakan proses pengabsahan bahwa seorang perawat telah memenuhi
standar minimal kompetensi praktik pada area spesialisasi tertentu seperti kesehatan ibu dan
anak, pediatric , kesehatan mental, gerontology dan kesehatan sekolah (Priharjo,
1995). Sertifikasi mengacu pada konfirmasi karakteristik tertentu dari sebuah benda, orang,
atau organisasi. Sertifikasi telah diterapkan di Amerika Serikat.
Sertifikasi merupakan proses pengakuan oleh badan sertifikasi terhadap kompetensi
seorang tenaga profesi setelah memenuhi persyaratan untuk menjalankan profesi kesehatan
tertentu sesuai dengan bidang pekerjaannya.

4.

Akreditasi
Akreditasi merupakan suatu proses pengukuran dan pemberian status akreditasi kepada
institusi, program atau pelayanan yang dilakukan oleh organisasi atau badan pemerintah
tertentu (Priharjo, 1995). Akreditasi merupakan pengakuan yang diberikan kepada pihak
tertentu setelah melalui supervisi dan evaluasi, dinyatakan berhasil memenuhi berbagai
kriteria yang ditentukan (www.wordpress.com, 2007).
Status akreditasi suatu lembaga merupakan cermin kinerja lembaga yang bersangkutan
dan menggambarkan mutu, efisiensi, serta relevansi suatu program-program yang
diselenggarakan. Hal-hal yang diukur dalam akreditasi meliputi struktur, proses dan kriteria
hasil.

D. Proses Kredensial Keperawatan di Dunia


Perkembangan kredensial keperawatan cukup bervariasi di setiap negara. Berikut ini
gambaran proses kredensial di beberapa Negara yang perkembangan keperawatannya
sudah maju antara lain : Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
1. Amerika Serikat
Di Amerika Serikat misalnya, izin praktik keperawatan diberikan pada perawat
professional mulai pada tahun 1903 tepatnya di Negara bagian North Carolina. Pada tahun
1923 semua Negara bagian telah mempunyai izin praktik bagi para perawat. Untuk
mendapatkan izin praktik maka seorang lulusan dari pendidikan professional keperawatan
harus mendaftarkan diri pada dewan keperawatan yang ada di setiap provinsi untuk
mengikuti ujian. Di Amerika Dewan ini bernama State Board of Nursing, atau Board of
Registered Nursing, atauBoard of Nurse Examinors. Biaya ujian cukup bervariasi antara US$
25- 100.
Perawat di Amerika juga didaftar sebagai pelengkap dari pemberian izin praktik.
Selain kepada perawat professional maka izin praktik juga diberikan pada para lulusan dari
pendidikan jangka pendek (misalnya dua tahun) untuk menjadiRegistrated Nurse
Assistance (RNA) yang lingkup kerjanya adalah membantu para Registered Nurse (RN)
dalam memberikan asuhan keperawatan.
Bagi para perawat yang telah menyelesaikan pendidikan spesialisasi keperawatan
(Master Degree) maka kepada mereka diperbolehkan mengikuti ujian untuk mendapatkan
izin advanced nursing practice. Ujian yang diselenggarakan sesuai dengan spesialisasi
misalnya perawat spesialis anestesi, perawat spesialis kebidanan, perawat spesialis klinik,
perawat spesialis anak, perawat spesialis kesehatan keluarga, perawat spesialis kesehatan
sekolah, perawat spesialis jiwa dan lain-lain. Setelah lulus ujian maka kepada mereka diberi
sebutan keprofesian sesuai spesialisasi yang diambil.

Untuk mendapatkan Akreditasi atau pengakuan program perawatan harus memenuhi


sejumlah kriteria yang ditetapkan oleh National League For Nursing (NLN). Akreditasi yang
tersedia adalah untuk program pendidikan keperwatan dasar dan program master (National
Comisson On Nursing, 1983).
Dalam hal sertifikasi, seorang perawat yang akan yang akan menerima sertifikasi
harus lulus ujian the National Council Lisencure Examination for Registered
Nurses (NCLEX-RN), dimana ujian ini diberikan oleh masing-masing badan keperawatan
negara bagian.
2. Kanada
Di Kanada, perawat dalam bekerja tidak melalui proses pemberian izin kecuali di
provinsi Quebec. Namun, mereka tercatat atau didaftar oleh persatuan perawat di masingmasing provinsi dan oleh College of Nurse of Ontario.
Dalam hal sertifikasi, the CNA Testing Service (CNATS) memberikan tes untuk
menilai kemampuan kandidat di setiap provinsi. Kemungkinan perawat dapat praktik di
wilayah atau provinsi di luar tempat mereka mengambil sertifikat, hal tersebut bergantung
pada perjanjian atau Negara bagian dan provinsi yang terlibat.
3. Australia
Terdapat dua tingkatan perawat di Australia: Registered Nurse (RN) dan Enrolled
Nurses (ENs). Registered Nurse yaitu perawat yang memiliki tingkat pendidikan di
program studi S1. Enrolled Nurses adalah perawat yang telah melalui pendidikan diploma.
Di Australia terdapat enam Negara bagian dan dua daerah. Masing-masing negara
bagian memiliki badan pengawas perawat yang mengurus tentang registrasi perawat. Setiap
perawat harus terdaftar atau mendaftarkan diri mereka di negara bagian atau wilayah di mana
mereka berniat untuk melakukan praktik keperawatan di Negara atau daerah yang
diinginkan. Ada pengakuan hukum timbal balik di Australia yang memberikan izin dalam
melintasi batas-batas negara bagian di Australia. Oleh karena itu seorang perawat yang
terdaftar di satu negara dapat mengajukan permohonan untuk melakukan pendaftaran di
negara bagian lain di bawah pengakuan hukum timbal balik.

E. Proses Kredensial Keperawatan di Indonesia


Meskipun keperawatan di Indonesia masih dalam tahap perkembangan, namun
Indonesia masih tetap melaksanakan proses kredensial. Dalam hal ini kami akan memberikan
penjelasan mengenai gambaran proses kredensial di Indonesia.
1. Izin Praktik
Kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai jenjang pendidikan keperawatan
dengan standar atau mutu antar institusi pendidikan yang tidak sama. Secara sederhana dapat
dinyatakan bahwa seseorang yang telah lulus dari pendidikan keperawatan belum tentu cukup
menguasai kompetensinya sebagai perawat. Situasi inilah yang membuat para pemimpin
keperawatan cukup prihatin. Pihak pasien tidak tahu apakah pendidikan perawat atau justru
diperburuk oleh kualitas keperawatan yang diberikan oleh para perawat yang dipersiapkan
dengan tidak mantap.
Adapun tahapan-tahapan dibuatnya Surat Izin Praktek menurut SK Menkes No. 647
tahun 2000 :
a. Surat Izin Perawat (SIP)

Adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan di seluruh


wilayah Indonesia. SIP ini di berikan kepada perawat yang baru lulus, perawat yang sudah
bekerja dan perawat yang sedang menjalani pendidikan formal. Berlaku selama 5 tahun dan
diperpanjang 6 bulan sebelum masa berlakunya habis. Surat Izin Perawat ini dikeluarkan oleh
dinas kesehatan provinsi.
b. Surat Izin Kerja (SIK)
Merupakan bukti tertulis yang diberikan pada perawat untuk melakukan praktik
keperawatan. Surat Izin Kerja ini diberikan kepada semua perawat yang akan melaksanakan
praktik keperawatan selambat-lambatnya 1 bulan setelah sang perawat diterima kerja atau
bagi yang sudah bekerja paling lambat 2 tahun.
c.

Surat Izin Praktek Perawat (SIPP)


Yaitu bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk menjalankan praktik
keperawatan perorangan atau kelompok. Diberikan kepada perawat yang memiliki
pendidikan minimal D-III keperawatan dan memiliki pengalaman bekerja 3 tahun. SIPP
diperbaharui 6 bulan sebelum masa berlakunya habis. SIK dan SIPP berlaku sepanjang masa
berkaku SIP.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1239 / menkes / sk / XI /
2001 tentang Registrasi dan Praktek Perawat di BAB III mengenai perizinan :
Pasal 8
1) Perawat dapat melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan, praktek
perorangan/atau berkelompok.
2) Perawat yang melaksanakan praktek keperawatan pada sarana pelayanan kesehatan harus
memiliki SIK.
3) Perawat yang melakukan praktek perorangan/berkelompok harus memiliki SIPP.
1)
2)
a)
b)
c)
d)
e)
3)

Pasal 9
SIK sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (2) diperoleh dengan mengajukan
permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat.
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan melampirkan :
Foto kopi SIP yang masih berlaku
Surat keterangan sehat dari dokter
Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar
Surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan yang menyatakan tanggal mulai
bekerja.
Rekomendasi dari Organisasi Profesi.
Bentuk permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum pada formulir IV
terlampir.
Pasal 10
SIK hanya berlaku pada 1 (satu) sarana pelayanan kesehatan.
Pasal 11
Permohonan SIK sebagaimana dimaksud dalam pasal 9, selambat-lambatnya diajukan dalam
waktu 1 (satu) bulan setelah diterima bekerja.
Pasal 12

1) SIPP sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (3) diperoleh dengan mengajukan
permohonan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat.
2) SIPP hanya diberikan kepada perawat yang memiliki pendidikan ahli madya keperawatan
atau memiliki pendidikan keperawatan dengan kompetensi lebih tinggi.
3) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan dengan melampirkan:
a) Foto kopi ijazah ahli madya keperawatan, atau ijazah pendidikan dengan kompetensi lebih
tinggi yang diakui pemerintah;
b) Surat keterangan pengalaman kerja minimal 3 (tiga) tahun dari pimpinan sarana tempat
kerja, khusus bagi ahli madya keperawatan;
c) Foto kopi SIP yang masih berlaku;
d) Surat keterangan sehat dari dokter;
e) Pas foto ukuran 3x4 cm sebanyak 2 (dua) lembar;
f) Rekomendasi dari Organisasi Profesi.
4) Bentuk permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti tercantum pada formulir V
terlampir;
5) Perawat yang telah memiliki SIPP dapat melakukan praktik berkelompok.
6) Tata cara perizinan praktik berkelompok sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 13
1) Rekomendasi untuk mendapatkan SIK dan atau SIPP dilakukan melalui penilaian
kemampuan keilmuan dan keteramplan dalam bidang keperawatan, kepatuhan terhadap kode
etik profesi serta kesanggupan melakukan praktik keperawatan.
2) Setiap perawat yang melaksanakan praktik keperawatan berkewajiban meningkatkan
kemampuan keilmuan dan/ atau keterampilan bidang keperawatan melalui pendidikan dan/
atau pelatihan.
Pasal 14
1) SIK dan SIPP berlaku sepanjang SIP belum habis masa berlakunya dan selanjutnya dapat
diperbaharui kembali.
2) Pembaharuan SIK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat dengan melampirkan:
a) Foto kopi SIP yang masih berlaku
b) Foto kopi SIK yang lama
c) Surat keterangan sehat dari dokter
d) Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar
e) Surat keterangan dari pimpinan sarana pelayanan kesehatan
f) Rekomendasi dari Organisasi Profesi.
3) Pembaharuan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Kota setempat dengan melampirkan:
a) Foto kopi SIP yang masih berlaku;
b) Foto kopi SIPP yang lama;
c) Surat keterangan sehat dari dokter;
d) Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar;
e) Rekomendasi dari Organisasi Profesi.
2. Registrasi

Dalam masa transisi professional keperawatan di Indonesia, sistem pemberian izin


praktik dan registrasi sudah saatnya segera diwujudkan untuk semua perawat baik bagi
lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), akademi, sarjana keperawatan maupun program
master keperawatan dengan lingkup praktik sesuai dengan kompetensi masing-masing. Bagi
perawat yang telah menyelesaikan pendidikan diberbagai institusi harus segera
meregistrasikan diri, agar melanjutkan praktik keperawatan.
Pada pasal 27 Undang-undang No 23 Tahun 1992, dicantumkan :
Setiap perawat yang akan melakukan praktik keperawatan di Indonesia harus memiliki Surat
Tanda Registrasi Perawat (STRP). Registrasi perawat dilakukan dalam 2 (dua) kategori :
LPN untuk perawat Vokasional.
RN untuk perawat Profesional.
Untuk melakukan Registrasi awal perawat harus memenuhi persyaratan :
Memiliki Ijazah perawat Diploma III dan SPK untuk LPN (diakomodasi pada pasal peralihan).
Memiliki Ijazah Ners atau Ners Spesialis I atau Ners Spesialis II untuk RN.
Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah janji perawat.
Memiliki surat keterangan sehat, fisik, dan mental.
Lulus uji kompetensi.
Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan kode etik profesi keperawatan
Rekomendasi dari organisasi profesi.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1239 / menkes / sk /
XI / 2001 Tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan di BAB II mengenai Pelaporan dan
Registrasi:
Pasal 2
1) Pimpinan penyelenggaraan pendidikan perawat wajib menyampaikan laporan secara tertulis
kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi mengenai peserta didik yang baru lulus, selambatlambatnya 1 (satu) bulan setelah dinyatakan lulus pendidikan keperawatan.
2) Bentuk dan isi laporan dimaksud pada ayat (1) sebagaimana tercantum dalam formulir I
terlampir.
Pasal 3
1) Perawat yang baru lulus mengajukan permohonan dan mengirimkan kelengkapan registrasi
kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dimana sekolah berada guna memperoleh SIP
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah menerima ijazah pendidikan keperawatan.
2) Kelengkapan registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a) Foto kopi ijazah pendidikan perawat

b) Surat keterangan sehat dari dokter


c) Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar
3) Bentuk permohonan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam formulir II
terlampir.
Pasal 4
1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi atas nama Menteri Kesehatan, melakukan registrasi
berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 untuk menerbitkan SIP.
2) SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
atas nama Menteri Kesehatan, dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak
permohonan diterima dan berlaku secara nasional.
3) Bentuk dan isi SIP sebagaimana tercantum dalam formulir III terlampir.
Pasal 5
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi harus membuat pembukuan registrasi mengenai SIP yang
telah diterbitkan.
2) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi menyampaikan laporan secara berkala kepada Menteri
Kesehatan melalui Sekretariat Jenderal c.q. Kepala Biro Kepegawaian Departemen
Kesehatan mengenai SIP yang telah diterbitkan untuk kemudian secara berkala akan
diterbitkan dalam buku registrasi Nasional.
1)

1)
2)
3)
4)
5)
6)

1)
2)
a)
b)
c)

Pasal 6
Perawat lulusan luar negeri wajib melakukan adaptasi untuk melengkapi persyaratan
mendapatkan SIP.
Adaptasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada sarana pendidikan milik
pemerintah.
Untuk melakukan adaptasi perawat mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi.
Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan melampirkan :
a. Foto kopi ijazah yang telah dilegalisir oleh direktur jenderal pendidikan tinggi.
b. Transkrip nilai ujian yang bersangkutan.
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) menerbitkan rekomendasi untuk melaksanakan adaptasi.
Perawat yang telah melaksanakan adaptasi berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 2, pasal 3 dan pasal 4.
Pasal 7
SIP berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperbaharui serta merupakan dasar untuk
memperoleh SIK dan/ atau SIPP.
Pembaharuan SIP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada Dinas Kesehatan
Propinsi dimana perawat melaksanakan asuhan keperawatan dengan melampirkan:
SIP yang telah habis masa berlakunya
Surat keterangan sehat dari dokter
Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 (dua) lembar.

3. Sertifikasi
Di Indonesia proses pengesahan ini dilakukan oleh Badan Nasional Profesi
(BNSP) / Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk menetapkan bahwa seseorang memenuhi

persyaratan kompetensi yang ditetapkan, mencakup permohonan, evaluasi, keputusan


sertifikasi, survailen dan sertifikasi ulang dan penggunaan sertifikat. Kumpulan tersebut dan
sumber daya untuk melakukan proses sertifikasi sesuai dengan skema sertifikasinya, untuk
menerbitkan sertifikat kompetensi termasuk pemeliharaannya.
4.
Pengesahan dilakukan apabila seorang perawat telah memenuhi persyaratan
kompetensi yang ditetapkan oleh pemerintah.
4. Akreditasi
Pendidikan keperawatan pada waktu tertentu dilakukan penilaian/pengukuran untuk
pendidikan D III keperawatan dan sekolah perawat kesehatan dikoordinator oleh Pusat
Diknakes sedangkan untuk jenjang S1 oleh Dikti. Pengukuran rumah sakit dilakukan dengan
suatu sistem akrteditasi rumah sakit yang sampai saat ini terus dikembangkan.
Di Indonesia pengakuan formal dan pemberian Lisensi lembaga-lembaga sertifikasi
profesi melalui proses Akreditasi oleh BNSP yang menyatakan bahwa LSP telah memenuhi
persyaratan untuk melakukan kegiatan Sertifikasi profesi atau kegiatan uji kompetensi
profesi.

F. Standar Praktik Keperawatan


Standar praktik keperawatan merupakan salah satu perangkat yang diperlukan oleh
setiap tenaga perawat. Standar pratik keperawatan mengidenfikasikan harapan-harapan
minimal bagi para perawat profesional dalam memberikan keperawatan yang aman, efektif
dan etis.
Dengan adanya standar pratik keperawatan, maka profesi keperawatan dapat
mewujutkan tanggung jawab atau kebulatan tekadnya untuk melindungi masyarakat. Standar
pratik keperawatan membantu dan menuntut para perawat dalam menjalankan tugasnya
memberikan asuhan keperawatan.
Model standar praktik keperawatan pada tiap-tiap negara cukup bervariasi. Secara
umum komponen yang dapat dimasukkan dalam standar praktik keperawatan adalah (College
of Nurses of Ontario, 1990) :
1.
Pernyataan tentang pengetahuan keperawatan yang harus dipahami dan dianalisa oleh
perawat profesional seperti konsep dasar keperawatan, peran perawat, gubungan
interpersonal, proses keperawatan, prinsip intervensi dan masalah kesehatan yang lazim.
2.
Akuntabilitas profesional baik independen maupaun interdependen.
3.
Tahap demi tahap proses keperawatan.
Standar pratik keperawatan di Indonesia telah diterbitkan oleh depertemen kesehatan
pertama kali pada tahun 1987. Standar praktik ini telah diperbaharui lagi
dan disahkan berdasarkan SK Dirjenyanmed No. YM.00 03.2.6.7637 pada tanggal 18
Agustus 1993. Kemudian pada tahun1996, Dewan Pimpinan Pusat PPNI telah menyusun
standar profesi keperawatan berdasarkan SK.No.03/DPP/SK/I/1996 yang terdiri dari :
1. Standar pelayanan keperawatan
2. Standar praktek keperawatan
3. Standar pendidikan keperawatan

4. Standar pendidikan berkelanjutan


Berdasarkan SK. DPP PPNI No.03/DPP/SK/I/1996 standar praktek keperawatan
adalah sebagai berikut :
Standar 1 : Pengumpulan data tentang status kesehatan klien atau pasien dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan.
Standar 2 : Diagnosis keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan.
Standar 3 : Rencana asuhan keperawatan meliputi : tujuan yang dibuat berdasarkan
diagnosa keperawatan
Standar 4 : Rencana asuhan keperawatan meliputi : pririoritas dan pendekatan tindakan
keperawatan yang di tetapkan untuk mencapai tujuan yang disusun berdasarkan
diagnosis keperawatan
Standar 5 : Tindakan keperawatan memberi kesempatan kepada klien atau pasien untuk
berpartisipasi dalam peningkatan, pemeliharaaan dan pemulihan kesehatan.
Standar 6 : Tindakan keperawatan membantu klien atau pasien mengoptimalkan
kemampuannya untuk hidup sehat.
Standar 7 : Ada tidaknya kemajuan dalam pencapaian tujuan ditentukan oleh klien
atau pasien dan perawat
Standar 8 : Ada tidaknya kemajuan dalam pencapaian tujuan memberi arah untuk
melakukan pengkajian ulang, pengaturan kembali urutan prioritas, penetapan tujuan baru, dan
perbaikan rencana asuhan keperawatan.
Pada saat ini keperawatan menghadapi berbagai teori dan tekhnologi baru yang
dirancang untuk membantu pemeliharaan kesehatan dan penanganan masalah kesehatan
masyarakat.
Upaya untuk tetap dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan baru merupakan
hal yang menarik dan menantang. Upaya ini tidak saja menyangkut pembenahan kualitas
praktik keperawatan tetapi juga pembenahan aspek hukum yang melindungi perawat sebagai
tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan dan masyarakat yang menerima layanan
kesehatan.