Anda di halaman 1dari 19

A.

Konsep Dasar
1. Sectio cesarea
a. Pengertian
Sectio cesarea berasal dari bahasa latin caedere yang artinya memotong.
Operasi caesar atau sectio cesarea adalah proses persalinan yang dilakukan
dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan
bayi (Soewarto, 2008).
Sectio cesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus (Hakimi, 2010).
Sectio cesarea adalah persalinan melalui sayatan pada dinding abdomen
dan uterus yang masih utuh dengan berat janin >1000 gram atau umur
kehamilan lebih dari 28 minggu (Manuaba, 2010).
Sectio cesarea adalah prosedur bedah untuk melahirkan janin dengan insisi
melalui abdomen dan uterus.
Mengenai kontra indikasi perlu diketahui bahwa sectio cesarea perlu
dilakukan baik untuk kepentingan ibu maupun untuk kepentingan anak. Oleh
sebab itu, sectio cesarea tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa
apabila misalnya terjadi indikasi panggul sempit, atau apabila janin sudah
meninggal dalam rahim, janin terlalu kecil untuk hidup diluar kandungan,
atau apabila janin terbukti menderita cacat seperti hidrosefalus dan
sebagainya.

b. Anatomi dan Fisiologi System Reproduksi Wanita

1) Anatomi Sistem Reproduksi Wanita


a) Anatomi sistem reproduksi wanita
Organ reproduksi wanita terbagi atas 2 bagian yaitu organ reproduksi eksterna
wanita (organ bagian luar ) dan organ reproduksi interna wanita (organ bagian
dalam)
b) Organ reproduksi eksterna wanita
(1) Vulva atau pudenda, meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat
mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora dan labia
minora, klitoris, selaput darah (hymen), vestibulum, muara uretra, berbagai
kelenjar, dan struktur vaskular.
(2) Mons veneris atau mons pubis adalah bagian yang menonjol di atas simfisis
dan pada perempuan setelah pubertas ditutup oleh rambut kemaluan. Pada
perempuan umumnya batas atas rambut melintang sampai pinggir atas
simfisis, sedangkan ke bawah sampai ke sekitar anus dan paha.
(3) Labia mayora (bibir-bibir besar) terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong
mengecil ke bawah, terisi oleh jaringan lemak yang serupa dengan yang ada
di mons veneris.
(4) Labia minora (bibir-bibir kecil atau nymphae) adalah suatu lipatan tipis dan
kulit sebelah dalam bibir besar. Kulit yang meliputi bibir kecil mengandung
banyak glandula sebasea (kelenjar-kelenjar lemak) dan juga ujung-ujung saraf
yang menyebabkan bibir kecil sangat sensitif. Jaringan ikatnya mengandung
banyak pembuluh darah dan beberapa otot polos yang menyebabkan bibir
kecil ini dapat mengembang.

(5) Klitoris kira-kira sebesar kacang ijo, tertutup oleh preputium klitoridis dan
terdiri atas glans klitoridis, korpus klitoridis, dan dua krura yang
menggantungkan klitoris ke os pubis. Glans klitoridis terdiri atas jaringan
yang dapat mengembang, penuh dengan urat saraf, sehingga sangat sensitif.
(6) Vestibulum berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dan depan ke belakang
dan dibatasi di depan oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua bibir kecil dan
di belakang oleh perineum (fourchette).
(7) Bulbus Vestibuli sinistra et dekstra merupakan pengumpulan vena terletak di
bawah selaput lendir vestibulum, dekat namus ossis pubis. Panjangnya 3-4
cm, lebarnya 1-2 cm dan tebalnya 0,5-1 cm. Bulbus vestibuli mengandung
banyak pembuluh darah, sebagian tertutup oleh muskulus iskio kavernosus
dan muskulus konstriktor vagina.
(8) Introitus Vagina mempunyai bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Pada
seorang Virgo selalu dilindungi oleh labia minora yang baru dapat dilihat jika
bibir kecil ini dibuka. Introitus vagina ditutupi oleh selaput dara (himen).
Himen ini mempunyai bentuk berbeda-beda, dan yang semilunar (bulan sabit)
sampai yang berlubang- lubang atau yang bersekat (septum).
(9) Perineum terletak antara vulva dan anus, panjangnya rata-rata 4 cm. Jaringan
yang mendukung perineum terutama ialah diafragma pelvis dan diafragma
urogenitalis (Prawirohardjo, 2009).
c) Organ reproduksi interna wanita
(1) Vagina (Liang Kemaluan/Liang Senggama)

Setelah melewati introitus vagina, terdapat liang kemaluan (vagina) yang


merupakan suatu penghubung antara. introitus vagina dan uterus. Dinding
depan dan belakang vagina berdekatan satu sama lain, masing- masing
panjangnya berkisar antara 6-8 cm dan 7-10 cm. Bentuk vagina sebelah
dalam yang berlipat-lipat disebut rugae.
(2) Uterus
Uterus berbentuk seperti buah avokad atau buah pir yang sedikit gepeng ke
arah depan belakang. Ukurannya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga.
Dindingnya terdiri atas otot-otot polos. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5
cm, lebar di atas 5,25 cm, tebal 2,5 cm, dan tebal dinding 1,25 cm. Letak
uterus dalam keadaan fisiologis adalah anteversiofleksio (serviks ke depan
dan membentuk sudut dengan vagina, sedangkan korpus uteri ke depan dan
membentuk sudut dengan serviks uteri).
3) Tuba Falloppi
Tuba Falloppi terdiri atas :
(a) Pars irterstisialis, yaitu bagian yang terdapat di dinding uterus.
(b) Pars ismika merupakan bagian medial tuba yang sempit seluruhnya. Pars
ampullaris, yaitu bagian yang berbentuk sebagai saluran agak lebar, tempat
konsepsi terjadi.
(c) Infundibulum, yaitu bagian ujung tuba yang terbuka ke arah abdomen dan
mempunyai fimbriae. Fimbriae penting artinya bagi tuba untuk menangkap
telur dan selanjutnya menyalurkan telur ke dalam tuba. Bentuk infundibulum
seperti anemon (sejenis binatang laut).

(d) Ovarium (Indung Telur) Perempuan pada umumnya mempunyai 2 indung


telur kanan dan kiri. Mesovarium menggantung ovanium di bagian belakang
ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar
ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira-kira 4 cm, lebar dan tebal kirakira 1,5 cm (Prawirohardjo, 2009).
d) Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita
Secara garis besar berfungsi sebagai sistem reproduksi dapat
digolongkan sebagai berikut:
(1) Genetalia eksterna Fungsi dari genetalia eksterna adalah dikhususkan untuk
kopulasi (koitus)
(2) Genetalia interna
(3) Vagina berfungsi sebagai saluran keluar untuk mengeluarkan darah haid dan
secret lain dari rahim, alat untuk bersenggama, jalan lahir pada waktu
persalinan.
(4) ) Uterus setiap bulan berfungsi dalam siklus haid, tempat janin tumbuh dan
berkembang, berkontraksi terutama sewaktu bersalin.
(5) Tuba fallopi berfungsi untuk menyalurkan telur atau hasil konsepsi kearah
kavum uteri dengan arus yang ditimbulkan oleh gertaran rambut getar
tersebut.
(6) Ovarium berfungsi sabagai saluran telur, menangkap dan membawa ovum
yang dilepaskan oleh indung telur, yempat terjadinya
(Prawirohardjo, 2006).
e) Klasifikasi Sectio Caesarea

pembuahan

Abdomen ( Sectio Caesaria Abdominalis ) Sectio caesaria klasik atau


korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10
cm.
Kelebihan :
(1) Mengeluarkan janin lebih cepat
(2) Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih
(3) Sayatan biasa di perpanjang proksimal atau distal.
Kekurangan :
(a) Infeksi

mudah

menyebar

secara

intraabdominal

karena

tidak

ada

reperitonealisasi yang baik.


(b) Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptur uteri spontan.
(c) Sectio Caesarea Ismika atau Profunda atau Low Cervical dengan

insisi

pada segmen bawah rahim.


Kelebihan :
(a) Penjahitan luka lebih mudah
(b) Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.
(c) Tumpang tindih dari peritoneal Flap baik sekali untuk menahan penyebaran
isi uterus ke rongga peritoneum.
(d) Perdarahan kurang
(e) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan kurang
atau lebih kecil.
Kekurangan :

(a) Luka melebar ke kiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan
pedarahan yang banyak.
(b) Keluhan pada kandung kemih postoperative tinggi.

c. Etiologi
Beberapa penyebab dilakukan sectio caesarea yaitu :
1) Cephalo pelvic disproportion/ disproporsi kepala panggul yaitu apabila bayi
terlalu besar atau pintu atas panggul terlalu kecil sehingga tidak dapat
meleawati jalan lahir dengan aman, sehingga membawa dampak serius bagi
ibu dan janin.
2)

Plasenta previa yaitu plaesenta melekat pada ujung bawah uterus sehingga
menutupi serviks sebagian atau seluruhnya, sehingga ketika serviks membuka
selama persalinan ibu dapat kehilangan banyak darah, hal ini sangat
berbahaya bagi ibu maupun janin.

3) Tumor pelvis (obstruksi jalan lahir, dapat menghalangi jalan lahir akibatnya
bayi tidak dapat dikeluarkan melalui vagina. Kelainan tenaga atau kelainan
his, misalnya pada ibu anemia sehingga kurang kekuatan/tenaga ibu untuk
mengedan dapat menjadi rintangan pada persalinan, sehingga persalinan
mengalai hambatan/kemacetan.
4) Ruptura uteri imminent (mengancam) yaitu adanya ancaman akan terjadi
ruptur uteri bila persalinan spontan. Kegagalan persalinan : persalinan tidak
majui dan tidak ada pembukaan, disebabkan serviks yang kaku, sering terjadi
pada ibu primi tua atau jalan persalinan yang lama.

5)

Pertimbangan lain yaitu ibu dengan resiko tinggi persalinan,apabila telah


mengalami sectio caesarea atau menjalani operasi kandungan sebelumya,
ruptur uteri bisa terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi
sectio caesarea klasik, miomektomi, misalnya ibu dengan riwayat mioma
sehingga dilakukan miomektomi (Manuaba, 2007).

d. Patofisiologi
Sectio Cesarea merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat
diatas 500 gr dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi
dilakukan tindakan ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus,
distorsia jaringan lunak, placenta previa dan lain-lain untuk ibu. Sedangkan
untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah
dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek
kognitif berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek
fisiologis yaitu produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI
yang keluar hanya sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi
kuman. Oleh karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan
prinsip steril.
Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa
nyaman. Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa
bersifat regional dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak
pengaruhnya terhadap janin maupun ibu anestesi janin sehingga kadangkadang bayi lahir dalam keadaan apnoe yang tidak dapat diatasi dengan

mudah. Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu
sendiri yaitu terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak
yang keluar. Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak
efektif akibat sekret yang berlebihan karena kerja otot nafas silia yang
menutup.
Anestesi ini juga mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan
mobilitas usus. Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung
akan terjadi proses penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian
diserap untuk metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari
mortilitas yang menurun maka peristaltik juga menurun. Makanan yang ada
di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk juga menurun.
Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu dipasang pipa
endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat pada
perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi (Saifuddin, 2002).

e. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan hemoglobin, dilakukan untuk mendeteksi adanya anemia dan
penyakit ginjal. Peningkatan hemoglobin dapat menunjukan indikasi adanya
dehidrasi, penyakit paru-paru obstruksi menahun, gagal jantung kongesti
2) Urinalisis adalah analisa fisik kimia dan mikroskopik terhadap urin berguna
untuk menentukan kadar albumin/glukosa.
3) USG abdomen adalah sebuah teknik diagnostik pencitraan menggunakan
suara ultra yang digunakan untuk mencitrakan organ internal otot, ukuran,

struktur dan luka patologi, membuat teknik ini berguna untuk memeriksa
organ,

melokalisasi

plasenta,

menentukan

pertumbuhan,

kedudukan,

persentasi janin, mengetahui usia kehamilan, dan melihat keadaan janin.


4) Amnioskopi : Melihat kekeruhan air ketuban
5) Tes stress kontraksi atau tes nonstress : Mengkaji respon janin terhadap
gerakan/ stress dari pola kontraksi uterus/ pola abnormal (Smeltzer 2001).

f. Penatalaksanaan
Medis Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan Sectio
Caesarea yaitu sebagai berikut :
1) Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat.
2) Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap
berkontraksi dengan kuat.
3) Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan, pemberian
narkotik biasanya disertai anti emetik, misalnya prometazin 25 mg.
4) Periksa aliran darah uterus paling sedikit 30 ml/jam.
5) Pemberian cairan intra vaskuler, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24
jam pertama setelah pembedahan.
6) Ambulasi, satu hari setelah pembedahan klien dapat turun sebertar dari
tempat tidur dengan bantuan orang lain.
7) Perawatan luka, insisi diperiksa setiap hari, jahitan kulit (klip) diangkat pada
hari keempat setelah pembedahan.

8) Pemeriksaan laboratorium, hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan


untuk

memastikan

perdarahan

pasca

operasi

atau

mengisyaratkan

hipovolemia.
9)

Mencegah infeksi pasca operasi, ampisilin 29 dosis tunggal, sefalosporin,


atau penisilin spekrum luas setelahjanin lahir (Cuningham, 2005).

g. Komplikasi
1) Infeksi, Lokasinya pada rahim dapat meluas ke organ-organ dalam rongga
panggul disekitarnya. Faktor-faktor predisposisi partus lama, ketuban pecah
dini, tindakan vaginal sebelumnya.
2) Pendarahan bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri
uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri.
3) Luka kandung kemih.
4) Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga bisa terjadi ruptur uteri
pada kehamilan berikutnya.
5) Ruptur uteri pada kehamilan berikutnya (Wiknjosastro, 2005).
a. Pengertian
Gemelly adalah Kehamilan ganda atau kehamilan kembar adalah kehamilan
dengan dua janin atau lebih. Sejak ditemukannya obat-obat dan cara induksi
ovulasi maka dari laporan-laporan dari seluruh pelosok dunia, frekuensi
kehamilan kembar condong meningkat. Bahkan sekarang telah ada hamil
kembar lebih dari 6 janin.
1) Etiologi

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah bangsa umur dan paritas, sering


mempengaruhi kehamilan kembar 2 telur.
2) Factor obat-obat konduksi ovulasi: profertil, clomid, dan hormone
gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan dizigotik dan kembar lebih dari
2.
Menurut penelitian Gruelich (1930) pada 121 juta persalinan memperoleh
angka kejadian kehamilan ganda yaitu gemelly 1:85, triplet 1:7,629,
quadruplet 1:670,743 dan quintuplet 1:4 I.600.000
Bangsa mempengaruhi kehamilan ganda, di Amerika serikat lebih banyak
dijumpai pada wanita Negro dibandingkan kulit putih. Angka tertinggi
kehamilan ganda adalah dijumpai di Finlandia dan terendah di Jepang. Factor
umum; makin tua umur makin tinggi angla kejadian kehamilan kembar dan
menurun lagi setelah umur 40 tahun. Paritas; pada primipara 9,8 per 1000 dan
pada

multi para

(oktipara)

naik

jadi

18,9 per 1000 persalinan.

Keturunan ; keluarga tertentu akan cenderung melahirkan anak kembar Yang


biasanya diturunkan secara paternal, namun dapat pula secara maternal.

b. Jenis Gemelly
1) Gemelly dizigotik(kembar 2 telur), heterolog, biovuler dan futernal, kedua
telur bisa berasal dari :
a) 1 ovarium dan dari 2 folikel de graft
b) 1 ovarium dan dari 1 folikel de graft
c) 1 ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri

2) Gemelly monozigotik (kembar I telur), homotog, uniovuler, identik dapat


terjadi karena :
a)

Satu

telur

dengan

inti,

hambatan

pada

tingkat

blastula

b) Hambatan setelah amnion dibentuk, tetapi sebelum primitive steak


3) Coryoined

fwins,

super

fekundasi

dan

superficial

conjoined twins atau kembar siam adalah kembar dimana janin melengket
satu dengan yang lainnya. Misalnya torakopagus (dada dengan dada),
abdominopagus (perlengketan kedua abdomen), kraniopagus (kedua kepala)
dan sebagainya. Banyak kembar siam telah dapat dipisahkan secara operatif
dengan berhasil.
4) Superfukundasi adalah pembuahan dua telur yang dikeluarkan pada ovulasi
yang sama pada dua kali koiy\tus yang dilakukan pada jarak waktu yang
pendek. Hal ini dilaporkan oleh Archer seorang wanita kulit putih yang
melakukan koitus berturut-turut dengan seorang kulit putih dan kemudian
dengan pria Negro melahirkan bayi kembar : satu bayi putih dan satu bayi
Negro (mulatto). Superfetasi adalah kehamilan kedua yang terjadi beberapa
minggu atau bulan setelah kehamilan pertama. Belum pernah dibuktikan pada
manusia namun dapat ditemukan pada kuda. Pertumbuhan Janin Kembar
a. Berat badan satu janin kehamilan kembar rata-rata 1000 gr lebih ringan dari
janin tunggal
b. Badan baru lahir biasanya pada kembar dua di bawah 2500 gr, triplet di
bawah 2000 gr, quadriplet di bawah 1500 gr dan quintuplet di bawah I 000 gr.

c. Berat badan masing-masin janin dari kehamilan kembar tidak sama umumnya
berselisih antara 50 sampai 1000gr, karena pembagian sirkulasi darah tidak
sama maka yang satu kurang bertumbuh dari yang lainnya.
d. Pada kehamilan ganda monozigotik:
beranastomosis

Pembuluh darah janin yang satu

dengan

janin

yang

lain, karena itu setelah bayi satu lahir tali pusat harus diikat untuk
menghindari perdarahan

Karena itu janin yang satu dapat terganggu

pertumbuhannya
monstrum

seperti

dan
akardiakus

menjadi
dan

kelainan

lainnya.

Dapat terjadi sindroma transfuse fetal: pada janin yang dapat darah lebih
banyak terjadi: hidramnion, polisitemia, edema dan pertumbuhan yang baik.
Sedangkan
janin kedua kurang pertumbuhan nya terjadilah: kecil, anemia, dehidrasi,
oligohidramni dan mikrokardia.
e. Pada kehamilan kembar dizigotik dapat terjadi satu janin meninggal dan yang
satu

tumbuh

sampai

cukup

bulan.

Janin yang mati bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda) atau pada
kehamilan agak tuajanin jadi gepeng disebut fetus papyraseus atau
kompresus. Letak Pada Presentasi lanin Pada kehamilan kembar sering terjadi
kesalahan presentasi dan posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua
dapat berubah setelah janin pertama lahir, misalnya dari letak lintang berubah
menjadi letak sungsang atau letak kepala. Berbagai kombinasi letak,
presentasi dan posisi bisa terjadi ; yang paling sering dijumpai adalah:

1) Kedua janin dalam letak membujur , presentasi kepala(44-47%)


2) Letak membujur,presentasi kepala bokong( 37-38%)
3) Keduanya presentasi bokong( 8-10%)
4) Letak lintang dan presentasi kepala( 5-5,3%)
5) Letak lintang dan presentasi bokong( 1,5-2%)
6) Dua-duanya letak lintang( 0,2-0,60/o)
7) Letak dan presentasi 69 adalah letak yang berbahaya, karena dapat terjadi
"kunci-mengunci" (interlocking) Diagnosis Kehamilan Kembar
c. Anamnesa
1) Inspeksi dan palpasi
a) Pada pemeriksaan pertama dan ulang pada kesan uterus lebih besar dan cepat
tumbuhnya dari biasa
b) Teraba gerakan-gerakan janin lebih banya
c) Banyak bagian-bagian kecil teraba
d) Teraba tiga bagian besar janin
e) Teraba 2 balotemen
2) Auskultasi
Terdengar dua denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak
berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya l0 denyut per menit atau
sama-sama dihitung dan berselisih
3) Pemerikaaan penunjang
a) Rontgen foto abdomen : keliatan 2 janin.

b) Ultrasonografi : kelihatan 2 janin, dua jantung yang berdenyut telah dapat


ditentukan pada triwulan I.
c) Elektrokardiogram fetal : diperoleh dua EKG yang berbeda dari kedua janin.
4) Reaksi kehamilan :
Karena pada hamil kembar umumnya plasenta besar atau ada dua
plasenta" maka produksi HCG akan tinggi jadi reaksi kehamilan titrasi bisa
positif . Hal ini dapat meragukan dengan molahidatidosa. Kadang kala
diagnosa baru diketahui setelah bayi pertama lahir, uterus masih besar dan
ternyata ada satu janin lagi dalam rahim. Kehamilan kembar sering
bersamaan dengan hidramnion dan toksemia gravidarum. Pengaruh Terhadap
Ibu dan janin :
a) Kebutuhan akan zat-zat bertambah sehingga dapat menyebabkan anemia dan
defi siensi zat-zat lainnya.
b) Frekuensi hidramnion bertambah 10 kali lebih besar.
c) Frekuensi pre-eklamsi dan eklamsi lebih serin
d) Karena uterus yang besar, wanita mengeluh sesak nafas, sering miksi, edema
dan varises pada tungkai dan vulva.
e) Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan post partum dan solusio plasenta dan
sesudah anak pertama lahir.
Terhadap janin:
a) Usia kehamilam tambah pendek dengan jumlah janin padakehamilan
kembar : 25% pada gemelli, 50% pada triplet dan 75% pada quadruplet akan
lahir 4 minggu sebelum cukup bulan. Jadi bayi premature akan tinggi.

b) Bila sesudah bayi pertama lahir terjadi solusio plasenta, angka kematian bayi
kedua tinggi.
c) Sering terjadi kesalahan letak janin, yang juga akan mempertinngi angka
kematian

janin.

Penanganan dalam Kehamilan Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan


kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosa telah
ditegakkan periksa akan lebih sering (1kali seminggu pada kehamilan 32
minggu ke atas). Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh
dilarang, karena akan merangsang partus premafurus. Pemakaian gurita
korset yang tidak terlalu ketat dibolehkan, supaya terasa lebih ringan.
Pemeriksaan darah lengkap.
d. Penanganan dalam Persalinan
1) Bila anak satu letaknya membujur, kala satu diawasi seperti biasa ditolong
seperti biasa dengan episiotomi mediolateralis
2)

Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk
menentukan Keadaan janin II. Tunggu, sambil memeriksa tekanan darah itu
dan lain-lain.

a) Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila janin II letaknya
membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak deras
mengalir keluar.Tunggu dan pimpinan persalinan anak II seperti biasa.
b) Awas akan kemungkinan terjadinya perdarahan post partum, maka sebaiknya
dipasang infuse profilaksis.

c) Bila ada kelainan letak anak II, melintang atau terjadi prolaps tali pusat dan
solusio plasentae, maka janin dilahirkan dengan cara operatif obstetric; Pada
letak lintang coba versi luar dulu. Atau lahirkan dengan cara versi dan
ekstrasi. Pada letak kepala persalinan dipercepat dengan ekshasi vakum atau
forseps. Pada letak bokong atau kaki; ekstraksi bokong atau kaki.
d) Indikasi section caecarea hanya pada;
1) Janin I letak lintang.
2) Terjadi prolaps tali pusat.
3) Plasenta praevia.
4) Terjadi interlocking pada letak kedua janin 69; anak satu letak sungsang dan
anak II letak kepala.
5)

Kala IV diawasi terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum;


berikan suntikan sinto-metrin yaitu l0 satuan sintosinon tambah 0,2 mg
methergin intravena.

e) Prognosis
Prognosis untuk ibu lebih jelek bila dibandingkan dengan kehamilan tunggal,
karena

seringnya

terjadi

toksemi

gravidarum,

hidramnion,

anemia

pertolongan obstetric operatif dan perdarahan post partum. Kematian


perinatal tinggi terutama karena premature, prolaps tali pusat soluiso tali
pusat. Kehamilan Supriae Kehamilan supriae atau kehamilan palsu atau
pseudocysis adalah keadaan dimana seorang wanita merasa dirinya benarbenar hamil, tetapi sebenarnya dia sama sekali tidak hamil. Keadaan ini
sering dijumpai pada wanita yang mandul dan sangat ingin sekali punya anak.

Sebagai akibat kelainan rasa kejiwaannya maka timbullah gejala-gejala


seperti wanita hamil; mual muntah, amenorea, perut membesar atau dibesarbesarkan, bahkan ada yang sampai merasakan gerakan-gerakan janinnya.
Pernah dilaporkan seorang wanita datang ke rumah sakit untuk melahirkan
bayi yang dikandungnya dan ibu ini dikirim bidan untuk bersalin. Setelah
diperiksa untuk diteliti, ternyata bahwa wanita ini tidak hamil; uterus besar
biasa dan tanda-tanda kehamilan lainnya tidak ada. Setelah diberitahukan
yang sebenarnya barulah ibu ini insyaf bahwa dia tidak hamil.

Anda mungkin juga menyukai