Anda di halaman 1dari 32

CINCHONAE CORTEX

Kategori : Simplisia Cortex


Nama

lain

Kulit kina, Peruvian bark, Jesuit bark


Nama

tanaman

asal

Cinchona succirubra
Keluarga

Rubiaceae
Zat

berkhasiat

utama

Alkaloida kinina, sinkonina, sinkodina, kena tanat, kinidin, asam tanat, asam kina, damar,
malam
Persyaratan

Kadar

Kadar

kinin

tidak

kurang

dari

0,8

Penggunaan :
Antipiretika, anti malaria, amara.
Pemerian

Bau khas terutama dari kulit dahan, pada penyimpanan lama bau menghilang, rasa pahit dan
kelat
Bagian

yang

digunakan

Kulit batang, kulit dahan, kulit akar


Keterangan :
Sediaan

Cinchonae

extractum

Perbedaan

Cinchona

succirubra

Cinchona

ledgeriana

Cinchona

calisaya

Untuk

memperoleh

Untuk

mendapat

berisi
berisi
berisi

banyak
banyak

kulit
alkaloida

alkaloida

6-10

alkaloida

6-8

alkaloida

ditanam

Cinchona

succirubra

ditanam

Cinchona

ledgeriana

Untuk cepat-cepat mendapat banyak alkaloida ditanam Cinchona ledgeriana diatas Cinchona
succirubra
Cara

secara
Panen

okulasi.
:

1. Dicabut (cara Indonesia) pohon-pohon yang jaraknya 60-100 cm satu sama lain, dicabut

seluruhnya dan diambil kulit batang dan kulit akarnya, setelah 6-7 tahun, pada daerah tadi
dilakukan

pencabutan

lagi.

2. Dipangkas : pohon-pohon yang berumur 7 tahun dipangkas batangnya beberapa cm diatas


tanah, dari pangkal batang nanti tumbuh sejumlah cabang baru yang nanti juga dipungut.
3.

Dikikis

Kulit

batang

dikikis

tanpa

mengenai

kulit

kayunya.

4. Menurut penelitian ternyata kulit kina yang banyak terkena sinar matahari alkaloidnya
lebih rendah daripada kulit kina yang ditempat teduh. Jika kulit kina tersebut ditutupi dengan
lumut, maka kadar alkaloidnya akan naik luar biasa. Setelah kulit kina ini dipanen, bekasnya
ditutupi lumut kembali, maka timbul kulit kina baru yang juga tinggi kadar alkaloidnya.
Pengambilan kulit dilakukan sedikit demi sedikit sampai seluruh kulit lama terambil.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup

CINCHONAE CORTEX (kulit kina)


Posted Sabtu, 04 Juni 2011 by cupzz itu apri

Sebelumnya tau kah kamu apa itu kina ? Kina merupakan tanaman obat
berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan
Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai
Bolivia. Daerah tersebut meliputi hutan-hutan pada ketinggian 900-3.000 m
dpl. Bibit tanaman kina yang masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari
Bolivia, tetapi tanaman kina yang tumbuh dari biji tersebut akhirnya mati.
Pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina dari Bolivia ditanam di Cibodas dan
tumbuh 75 pohon yang terdiri atas 10 klon. Nama daerah : kina, kina merah,
kina kalisaya, kina ledgeriana.

Dan sekarang kita akan membahas tentang kulit

kina. Kulit kina diperoleh dari tanaman asal Cinchona succirubra yang
merupakan keluarga Rubiaceae. Kulit kina mempunyai nama lain Peruvian
bark dan Jesuit bark dengan zat berkhasiat utama alkaloida kinia, sinkonina,
sinkodina, kina tanat, kinidin, asam tanat, asam kina, damar dan malam.
Simlpisia ini mempunyai bau khas aromatik dari kulit dahan yang pada
penyimpanan lama bau akan menghilang, rasa pahit dan kelat. Kulit kina
dipercaya mampu mengobati malaria selain itu juga bisa untuk menambah
nafsu makan dan menurunkan suhu badan.
Menurut penelitian ternyata kulit kina yang banyak terkena sinar mataharia
lkaloidnya lebih rendah dari kulit kina yang ditempat teduh. Jika kulit kina
tersebut ditutupi dengan lumut, maka kadar alkaloidnya akan naik luar biasa.
Setelah kulit kina di panen, bekasnya ditutupi lumut kembali, maka timbul
kulit kina baru yang juga tinggi kadar alkaloidnya.
http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2d2

Cortex 2
Nama lain
Nama tanaman asal
Keluarga
Zat berkhasiat utama / isi
kinidin,

4. CINCHONAE CORTEX (FI)


: Kulit kina, Peruvian bark, Jesuit bark
: Cinchona succirubra
: Rubiaceae
: Alkaloida kinina, sinkonina, sinkodina, kina tanat,
asam tanat, asam kina, damar, malam
: Kadar kinin tidak kurang dari

Persyaratan kadar
%
Penggunaan
Pemerian
pada penyimpanan lama
Bagian yang digunakan
Keterangan
- Sediaan
- Perbedaan

8,0

: Antipiretika, antimalaria, amara.


: Bau khas terutama dari kulit dahan,
bau menghilang, rasa pahit dan kelat.
: Kulit batang , kulit dahan, kulit akar
:
: Cinchonae extractum
:

Cinchona succirubra berisi 9 % alkaloida.

Cinchona ledgeriana berisi 6 - 10 % alkaloida.

Cinchona calisaya berisi 6 - 8 % alkaloida

Untuk
ditanam

Untuk

memperoleh
banyak
Cinchona succirubra
mendapat

banyak

kulit

alkaloida

ditanam
-

- Cara panen

Cinchona ledgeriana .

Untuk cepat-cepat mendapat banyak alkaloida


ditanam Cinchona ledgeriana diatas Cinchona
succirubra secara okulasi.

1. Dicabut (cara Indonesia) pohon-pohon yang


jaraknya 60 cm 100 cm satu sama lain, dicabut
seluruhnya dan diambil kulit batang dan kulit
akarnya, setelah 6-7 tahun, pada daerah tadi
dilakukan pencabutan lagi.
2. Dipangkas : pohon-pohon yang berumur 7 tahun
dipangkas batangnya beberapa cm di atas tanah,
dari pangkal batang nanti tumbuh sejumlah
cabang baru yang nanti juga dipungut.
3. Dikikis : Kulit batang dikikis tanpa mengenai kulit
kayunya
4. Menurut penelitian ternyata kulit kina yang banyak
terkena sinar matahari alkaloidnya lebih rendah
dari kulit kina yang ditempat teduh. Jika kulit kina
tersebut ditutupi dengan lumut, maka kadar
alkaloidnya akan naik luar biasa. Setelah kulit
kina ini di panen, bekasnya ditutupi lumut
kembali, maka timbul kulit kulit kina baru yang
juga tinggi kadar alkaloidnya. Pengambilan kulit
dilakukan sedikit demi sedikit sampai seluruh
kulit lama terambil.

-Penyimpanan

Dalam wadah tertutup baik

4. CINCHONAE CORTEX (FI) Cinchona adalah genus beranggotakan sekitar 25 spesies dari
suku Rubiaceae yang berasal dari Amerika Selatan tropika. Anggota genus ini berupa tanaman
perdu besar atau pohon kecil hijau abadi yang tumbuh hingga ketinggian 5-15 meter. Kulit
pohonnya merupakan sumber dari berbagai jenis alkaloid, yang paling dikenal adalah kuinina,
suatu senyawa antipiretik (penawar demam) yang terutama digunakan dalam pengobatan
malaria. Dari banyak penghasil kuinina, hanya C. officinalis dan C. pubescens (syn. C.

succirubra) yang dibudidayakan dalam perkebunan. C. officinalis subsp. ledgeriana yang dipakai
sebagai batang bawah. Kedua jenis ini dikenal dalam perdagangan sebagai tumbuhan kina.
Wikipedia Nama lain Nama tanaman asal Keluarga Zat berkhasiat utama / isi Persyaratan kadar
Penggunaan Pemerian Bagian yang digunakan Keterangan - Sediaan - Perbedaan - Cara panen
-Penyimpanan : : : : : : : : : : : : : Kulit kina, Peruvian bark, Jesuit bark. Cinchona succirubra
Rubiaceae Alkaloida kinina, sinkonina, sinkodina, kina tanat, kinidin, asam tanat, asam kina,
damar, malam. Kadar kinin tidak kurang dari 8,0 % Antipiretika, antimalaria, amara. Bau khas
terutama dari kulit dahan, pada penyimpanan lama bau menghilang, rasa pahit dan kelat. Kulit
batang , kulit dahan, kulit akar. Cinchonae extractum alkaloida. -

Cinchona ledgeriana berisi 6 - 10 % alkaloida. -

- 8 % alkaloida -

Cinchona succirubra berisi 9 %

Untuk memperoleh banyak kulit ditanam

Cinchona calisaya berisi 6


Cinchona succirubra

Untuk mendapat banyak alkaloida ditanam Cinchona ledgeriana . -

Untuk cepat-

cepat mendapat banyak alkaloida ditanam Cinchona ledgeriana diatas Cinchona succirubra
secara okulasi. 1.

Dicabut (cara Indonesia) pohon-pohon yang jaraknya 60 cm 100 cm satu

sama lain, dicabut seluruhnya dan diambil kulit batang dan kulit akarnya, setelah 6-7 tahun, pada
daerah tadi dilakukan pencabutan lagi. 2.

Dipangkas : pohon-pohon yang berumur 7 tahun

dipangkas batangnya beberapa cm di atas tanah, dari pangkal batang nanti tumbuh sejumlah
cabang baru yang nanti juga dipungut. 3.
kayunya 4.

Dikikis : Kulit batang dikikis tanpa mengenai kulit

Menurut penelitian ternyata kulit kina yang banyak terkena sinar matahari

alkaloidnya lebih rendah dari kulit kina yang ditempat teduh. Jika kulit kina tersebut ditutupi
dengan lumut, maka kadar alkaloidnya akan naik luar biasa. Setelah kulit kina ini di panen,
bekasnya ditutupi lumut kembali, maka timbul kulit kulit kina baru yang juga tinggi kadar
alkaloidnya. Pengambilan kulit dilakukan sedikit demi sedikit sampai seluruh kulit lama terambil.
Dalam

wadah

tertutup

baik

Sumber: http://www.riyawan.com/2014/07/cinchonae-cortex.html#.VBZ6PpSSzsU
Konten ini adalah milik dan hak cipta riyawan.com, harap mencantumkan link sumber jika ingin
mengcopy atau menyebarluaskan
a.

Pengertian Cortex
Bagian terluar dari tanaman berkayu, meliputi : kulit batang, cabang, atau kulit akar sampai ke
lapisan epidermis. Saat tumbuhan sudah cukup besar umumnya zat berkhasiat terdapat dalam
serat terutama alkaloid. Cortex juga merupakan bark, kulit kayu. Berupa seluruh jaringan di luar
kambium. Dapat berasal dan akar, batang, dan cabang

Contoh : Kina (Chinae cortex), Kayu Manis (Cinnamoni cortex), Secang (Caesalpinia sappan L), Pulai (Alstonia
scholaris L.R.Br), Kemuning (Murraya paniculata [L.] Jack.)

Mengenal Tanaman Kina ( Cinchona succirubra PAVON ET KLOT)

Sumber Gambar: www.google.com


Tanaman kina sudah dikenal sejak dahulu sebagai tanaman yang dapat digunakan sebagai obat. Bagian
tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah kulit batangnya yaitu dapat berkhasiat sebagai obat
malaria,
penurun
panas
dan
penambah
nafsu
makan.
Botani.
Tanaman kina (Cinchona succirubra PAVON ET KLOT) mempunyai sinonim yaitu Cinchona pubescens Vahl.
Klasifikasi
tanaman:
Tanaman kina termasuk dalam Divisi Spermatophyta, Sub divisi Angiospermae, Kelas Dicotyledonae, Bangsa
Rabiales, Suku Rabiaceae, Marga Cinchona dan Jenis Cinchona succirubra Pavon et Klot.
Tanaman Cinchona succirubra Pavon et Klot mempunyai nama dagang yaitu kina. Nama daerah di Sumatera
(Melayu)
adalah
kina,
dan
di
Jawa
Tengah
juga
kina.
Dekripsi
tanaman
kina:
Tanaman
kina
berbentuk
pohon,
tinggi
pohon
dapat
mencapai
17
m
Batang: tanaman kina ini berkayu dan berbentuk bulat. Warna pohon tanaman kina yaitu coklat kehijauan.
Daun: Daun kina merupakan daun tunggal, berbentuk lonjong hampir bulat, tepi daun rata, ujung dan pangkal
daun tumpul , panjang daun 15-35 cm, lebar daun 9-23 cm, pertulangan menyirip. Daun kina ini pada saat masih
muda
berwarna
hijau
dan
setelah
tua
berubah
menjadi
merah.
Bunga: Bunga kina merupakan bunga majemuk, berbentuk bintang. Panjang tangkai bunga 5-11 cm. Warna
bunga putih kekuningan, kelopak bertajuk lima, bagian pangkal menyatu dan berwarna hijau. Benang sari
berjumlah 5 buah. Tangkai sari berwarna putih sedangkan kepala sari berwarna cokelat. Putik berwarna hijau.
Mahkota bunga berbentuk tabung dengan ujung membesar dan berwarna cokelat muda.
Buah: Buah kina berbentuk kotak , lonjong. Buah kina ini keras, dan berwarna cokelat muda.
Biji:
Biji
kina
kecil
dan
berwarna
hitam.
Akar: Akar kina adalah akar tunggang, berwarna cokelat, dan berwarna keputih -putihan.
Kandungan kimia: kulit batang Cinchona succirubra mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan polifenol.
Cara pengobatan: Untuk obat malaria dipakai 2 gram serbuk kulit batang Cinchona succirubra. Serbuk tersebut
diseduh dengan satu gelas air matang panas, dan setelah dingin disaring. Hasil saringan tersebut sudah dapat
langsung digunakan sebagai obat. Hasil saringan tersebut dibagi dua sama banyak, dan minumlah dua kali
dalam
sehari,
yaitu
pagi
dan
sore
hari.
Penulis:
Sri
Wijiastuti,
Penyuluh
Pertanian
Pusluhtan.
Sumber: Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia jilid II. Pengarang: H.M. Hembing Wijayakusuma, Agustinus
Setiawan Wirian, Thomas Yaputra, Setiawan Dalimartha, Bambang Wibowo, Pustaka Kartini, Anggota IKAPI .
1992

Kina (Cinchona succirubra)


Nama Ilmiah

Kina (Cinchona succirubra)


Cinchona succirubra Pavon et Klot.
Botani
Sinonim: Cinchona pubescens Vahl.
Klasifikasi
Divisi:
Sub
Kelas:
Bangsa:
Suku:
Marga:
Jenis: Cinchona succirubra Pavon et Klot.

divisi:

Spermatophyta
Angiospermae
Dicotyledonae
Rubiales
Rubiaceae
Cinchona

Ciri-ciri
Habitus:
Pohon,
tinggi

17
m.
Batang:
Berkayu,
bulat,
coklat
kehijauan.
Daun: Tunggal, lonjong, hampir bulat, tepi rata-ujung dan pangkal tumpul, panjang 15-35 cm, lebar 9-23 cm,
pertulangan
menyirip,
masih
muda
hijau
setelah
tua
merah.
Bunga: Majemuk, bentuk bintang, tangkai 5-11 cm, putih kekuningan, kelopak bertaju lima, bagian pangkal
menyatu, hijau, benang sari lima, tangkai sari putih, kepala sari coklat, putik hijau, mahkota bentuk tabung,
ujung
membesar,
coklat
muda.
Buah:
Kotak,
lonjong,
keras,
coklat
muda.
Biji:
Kecil,
hitam,
Akar: Tunggang, coklat keputih-putihan.
Kandungan Kimia
Kulit batang kina mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan politenol.
Khasiat
Kulit batang kina berkhasiat sebagai obat malaria, penurun panas dan penambah nafsu makan.
Untuk obat malaria dipakai 2 gram serbuk kulit batang kina, diseduh dengan 1 gelas air matang panas setelah
dingin disaring. Hasil saringan diminum sehari dua kali sama banyak pagi dan sore.
Sumber
Semoga Bermanfaat

OBAT TRADISIONAL MALARIA


A. MALARIA

Nyamuk Anopheles bisa menyebabkan penyakit malaria. Nyamuk ini suka menggigit
dalam posisi menungging alias posisi badan, mulut, dan jarum yang dibenamkan ke kulit
manusia dalam keadaan segaris. Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
parasit jenis plasmodium ditandai demam berkala, menggigil dan berkeringat. Penyakit ini
dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya.
Penyakit malaria menyebabkan penderita mengalami gejala demam, menggigil,
arthralgia (sakit persendian), muntah-muntah, anemia, dan kejang. Dan mungkin juga rasa
"tingle" di kulit terutama malaria yang disebabkan oleh P. falciparum. Komplikasi malaria
termasuk koma dan kematian bila tak terawat; anak kecil lebih mungkin berakibat fatal.
d. Kandungan Kimia
Kulit batang kina mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan politenol.
e. Khasiat dan Cara pemakaian
Kulit batang kina berkhasiat sebagai obat malaria, penurun panas dan penambah
nafsu makan.
Untuk obat malaria dipakai 2 gram serbuk kulit batang kina, diseduh dengan
1 gelas air matang
panas setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sehari dua kali samabanyak
pagi dan sore.
Kina (Cinchona succirubra)

Nama Ilmiah
Cinchona succirubra Pavon et Klot.
Botani
Sinonim: Cinchona pubescens Vahl.
Klasifikasi
Divisi: Spermatophyta Sub divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Bangsa:
Rubiales Suku: Rubiaceae Marga: Cinchona Jenis: Cinchona succirubra Pavon et Klot.
Ciri-ciri
Habitus: Pohon, tinggi 17 m. Batang: Berkayu, bulat, coklat kehijauan. Daun:
Tunggal, lonjong, hampir bulat, tepi rata-ujung dan pangkal tumpul, panjang 15-35
cm, lebar 9-23 cm, pertulangan menyirip, masih muda hijau setelah tua
merah. Bunga: Majemuk, bentuk bintang, tangkai 5-11 cm, putih kekuningan,
kelopak bertaju lima, bagian pangkal menyatu, hijau, benang sari lima, tangkai sari
putih, kepala sari coklat, putik hijau, mahkota bentuk tabung, ujung membesar,
coklat muda. Buah: Kotak, lonjong, keras, coklat muda. Biji: Kecil, hitam, Akar:
Tunggang, coklat keputih-putihan.
Kandungan Kimia
Kulit batang kina mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan politenol.
Khasiat
Kulit batang kina berkhasiat sebagai obat malaria, penurun panas dan penambah
nafsu makan.

Untuk obat malaria dipakai 2 gram serbuk kulit batang kina, diseduh dengan 1
gelas air matang panas setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sehari dua
kali sama banyak pagi dan sore.

4.

CINCHONAE

Nama lain

CORTEX (FI)

: Kulit kina, Peruvian bark, Jesuit bark

Nama tanaman asal

: Cinchona succirubra

Keluarga

: Rubiaceae

Zat berkhasiat utama / isi


: Alkaloida kinina, sinkonina, sinkodina, kina tanat,
kinidin, asam tanat, asam kina, damar, malam
Persyaratan kadar

Kadar kinin tidak kurang dari 8,0 %

Penggunaan : Antipiretika, antimalaria, amara.


Pemerian
: Bau khas terutama dari kulit dahan, pada penyimpanan lama bau
menghilang, rasa pahit dan kelat.
Bagian yang digunakan :

Kulit batang , kulit dahan, kulit akar

Keterangan

- Sediaan

: Cinchonae extractum

- Perbedaan

Cinchona succirubra berisi 9


% alkaloida.

Cinchona ledgeriana berisi 6


10 % alkaloida.

Cinchona calisaya berisi 6 8


% alkaloida

Untuk memperoleh banyak


kulit ditanam
Cinchona
succirubra

Untuk mendapat banyak

alkaloida ditanam
Cinchona ledgeriana .

- Cara panen

1
.

Untuk cepat-cepat mendapat


banyak alkaloida ditanam
Cinchona ledgeriana diatas
Cinchona succirubra secara
okulasi.
Dicabut (cara Indonesia)
pohon-pohon yang jaraknya
60 cm 100 cm satu sama
lain, dicabut seluruhnya dan
diambil kulit batang dan kulit
akarnya, setelah 6-7 tahun,
pada daerah tadi dilakukan
pencabutan lagi.
Dipangkas : pohon-pohon
yang berumur 7 tahun
dipangkas batangnya
beberapa cm di atas tanah,
dari pangkal batang nanti
tumbuh sejumlah cabang
baru yang nanti juga
dipungut.
Dikikis : Kulit batang dikikis
tanpa mengenai kulit
kayunya
Menurut penelitian ternyata
kulit kina yang banyak
terkena sinar matahari
alkaloidnya lebih rendah dari
kulit kina yang ditempat
teduh. Jika kulit kina tersebut
ditutupi dengan lumut, maka

kadar alkaloidnya akan naik


luar biasa. Setelah kulit kina
ini di panen, bekasnya
ditutupi lumut kembali, maka
timbul kulit kulit kina baru
yang juga tinggi kadar
alkaloidnya. Pengambilan
kulit dilakukan sedikit demi
sedikit sampai seluruh kulit
lama terambil.
-Penyimpanan

Dalam wadah tertutup baik

4. CINCHONAE CORTEX (FI)


Nama lain
: Kulit kina, Peruvian bark, Jesuit bark
Nama tanaman asal
: Cinchona succirubra
Keluarga
: Rubiaceae
Zat berkhasiat utama / isi
: Alkaloida kinina, sinkonina, sinkodina, kina tanat,
kinidin,
asam tanat, asam kina, damar, malam
Persyaratan kadar
: Kadar kinin tidak kurang dari 8,0
%
Penggunaan
: Antipiretika, antimalaria, amara.
Pemerian
: Bau khas terutama dari kulit dahan,
pada penyimpanan lama
bau menghilang, rasa pahit dan
kelat.
Bagian yang digunakan
: Kulit batang , kulit dahan, kulit akar
Keterangan
:
- Sediaan
: Cinchonae extractum
- Perbedaan
: - Cinchona succirubra berisi 9 % alkaloida.
- Cinchona ledgeriana berisi 6 - 10 % alkaloida.
- Cinchona calisaya berisi 6 - 8 % alkaloida
- Untuk
memperoleh
banyak
kulit
ditanam
Cinchona succirubra
- Untuk
mendapat
banyak
alkaloida
ditanam
Cinchona ledgeriana .
- Untuk cepat-cepat mendapat banyak alkaloida
ditanam Cinchona ledgeriana diatas Cinchona
succirubra secara okulasi.
- Cara panen

1. Dicabut (cara Indonesia) pohon-pohon yang


jaraknya 60 cm 100 cm satu sama lain, dicabut
seluruhnya dan diambil kulit batang dan kulit

-Penyimpanan

akarnya, setelah 6-7 tahun, pada daerah tadi


dilakukan pencabutan lagi.
2. Dipangkas : pohon-pohon yang berumur 7 tahun
dipangkas batangnya beberapa cm di atas
tanah, dari pangkal batang nanti tumbuh
sejumlah cabang baru yang nanti juga dipungut.
3. Dikikis : Kulit batang dikikis tanpa mengenai kulit
kayunya
4. Menurut penelitian ternyata kulit kina yang
banyak terkena sinar matahari alkaloidnya lebih
rendah dari kulit kina yang ditempat teduh. Jika
kulit kina tersebut ditutupi dengan lumut, maka
kadar alkaloidnya akan naik luar biasa. Setelah
kulit kina ini di panen, bekasnya ditutupi lumut
kembali, maka timbul kulit kulit kina baru yang
juga tinggi kadar alkaloidnya. Pengambilan kulit
dilakukan sedikit demi sedikit sampai seluruh kulit
lama terambil.
: Dalam wadah tertutup baik

Klasifikasi Dan Deskripsi Tanaman Obat


Kina( Chinchona Spp. )
by Harno Malik

Klasifikasi Tanaman Kina


Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Rubiaceae
Genus : Chinchona

Spesies : Chinchona spp.

Deskripsi Tanaman Kina


1. C. succirubra : Tanaman berupa pohon dengan tinggi hingga 17m,
cabang berbentuk galah yang bersegi 4 pada ujungnya, mula-mula berbulu
padat dan pendek kemudian agak gundul dan berwarna merah.
Daun letaknya berhadapan dan berbentuk elips, lama kelamaan menjadi
lancip atau bundar, warna hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur
berwarna merah. Tulang daun terdiri dari 11 12 pasang, agak menjangat,
berbentuk galah, daun penumpu sebagian berwarna merah, sangat lebar.
Ukuran daun panjang 24 25cm, lebar 17 19cm. Kelopak bunga
berbentuk tabung, bundar, bentuk gasing, bergigi lebar bentuk segitiga,
lancip. Bunga wangi, bentuk bulat telur sampai gelendong.
2. C. calisaya : Letak daun berhadapan, bentuk bundar sungsang lonjong,
panjang 8 15cm, lebar 3 6cm, permukaan bagian bawah berbulu halus
seperti beludru terutama pada daun yang masih muda, panjang tangkai 1
1.5cm.
Daun penumpu lebih panjang dari tangkai daun, bila sudah terbuka daun
penumpu akan gugur. Bunga bentuk malai, berbulu halus, bunga
mengumpul di setiap ujung perbungaan, kelopak bentuk tabung dan
bergigi pada bagian atasnya.
Bunga bentuk bintang, berbau wangi dengan ukuran panjang 9mm, helaian
mahkota bunga bagian dalam berwarna merah menyala, berbulu rapat dan
pendek, panjang benang sari setengan bagian tabung bunga.
Buah berwarna kemerahan bila masak, bentuk seperti trelur panjang 4mm
dan bersayap.
3. C. ledgeriana : Tinggi pohon antara 4 10m, cabang bentuk segi empat,

berbulu halus atau lokos. Daun elip sampai lanset, bagian pangkal lancip
dan tirus, ujung daun lancip dan jorong, helaian tipis, berwarna ungu
terang tetapi daun muda berwarna kemerahan, tangkai daun tidak berbulu,
berwarna hijau atau kemerahan, panjang tangkai 3 6mm.
Ukuran daun panjang 25.5 28.5cm, lebar 9 13cm, namun adakalanya
panjang 7cm dan lebar 2cm. Daun penumpu bundar sampai lonjong
panjang 17 32mm dan tidak berbulu. Mahkota bunga berwarna kuning
agak putih dan berbau wangi, bentuk melengkung dengan ukuran panjang
8 12mm. Panjang malai 7 18 cm dan gagang segi empat sangat pendek
dan berbulu rapat.
Kelopak bunga bentuk limas sungsang 3 4mm, tabung tebal ditutupi bulu
warna putih, tabung mahkota bunga bagian luarnya berbulu pendek tapi
bagian dalamnya gundul dengan 5 sudut.
Tangkai sari tidak ada. Buah lanset sampai bulat telur dengan ukuran
panjang 8 12mm dan lebar 3 4mm. Biji lonjong sampai lanset panjang
4 5mm.
Nama Ilmiah
Cinchona succirubra Pavon et Klot.
Botani
Sinonim: Cinchona pubescens Vahl.
Klasifikasi
Divisi: Spermatophyta Sub divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledonae Bangsa: Rubiales Suku:
Rubiaceae Marga: Cinchona Jenis: Cinchona succirubra Pavon et Klot.
Ciri-ciri
Habitus: Pohon, tinggi 17 m. Batang: Berkayu, bulat, coklat kehijauan. Daun: Tunggal, lonjong,
hampir bulat, tepi rata-ujung dan pangkal tumpul, panjang 15-35 cm, lebar 9-23 cm, pertulangan
menyirip, masih muda hijau setelah tua merah. Bunga: Majemuk, bentuk bintang, tangkai 5-11
cm, putih kekuningan, kelopak bertaju lima, bagian pangkal menyatu, hijau, benang sari lima,
tangkai sari putih, kepala sari coklat, putik hijau, mahkota bentuk tabung, ujung membesar, coklat
muda. Buah: Kotak, lonjong, keras, coklat muda. Biji: Kecil, hitam, Akar: Tunggang, coklat

keputih-putihan.
Kandungan Kimia
Kulit batang kina mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan politenol.
Khasiat
Kulit batang kina berkhasiat sebagai obat malaria, penurun panas dan penambah nafsu makan.
Untuk obat malaria dipakai 2 gram serbuk kulit batang kina, diseduh dengan 1 gelas air
matang panas setelah dingin disaring. Hasil saringan diminum sehari dua kali sama banyak pagi
dan sore.
Chinchona succirubra Pavon et klot

A.
1.
2.
3.
4.
5.
B.
1.
2.
3.
C.

Nama
Nama

ilmiah
Sinonim
Nama

: Chinchona
Lokal
Familia

Ordo

succirubra Pavon
: Chinchona
:
:
:

Ciri
Habitus
Batang
Percabangan

:
berkayu
:

Tumbuhan
et
klot
pubescens Vahl
Kina
Rubiaceae
Rubiales
umum
Pohon
bulat
Daun

1.
Jenis
daun
:
Tunggal
2.
filotaksis
: sparsa
3.
Bentuk
&
ukuran
:
cordatus
15-35cm
4.
margo
folii
:
Integer
5.
Basis
folii
:
Obtusus
6.
Apex
folii
:
Obtusus
7.
Permukaan daun a.
Warna
atas : merah
bawah : hijau b.
Tekstur
atas
:
halus
bawah
:
halus
8.
Nervatio
:
Penninervis
9.
Stipule
:
Interpetioler.
10. Catatan tambahan
: Daun muda masih hijau
Daun tua berwarna merah
D. Bunga
1.
Bentuk
bunga
:
Aktinomorf
2.
Jumlah
&
warna
sepal
:
Lima
&
hijau
3.
Jumlah
&
warna
petal
:
lima
&
coklat
muda
4.
Jumlah
stamen
:
lima
5.
Kedudukan
ovarium
:
Inferior
6.
Infloresensi
:
Simosa
7.
Braktea/brakteola
:
8.
Rumus
Bunga
:
*
Ca
5
co
5
A
5
E.
Buah
1.
Tipe
buah
:
Baka(buni)
2.
Bentuk
&
ukuran
:
Kotak
lonjong
3.
Warna
:
Coklat
muda
F.
Lain-lain
1.
Getah
&
warna
getah
:
Bergetah
2.
Bau(aromatic,dll)
:
3.
sulur
:
4.
Duri
:
5.
Umbi
:
6.
Rhizoma
: Pembahasan Tanaman yang kami amati
adalaChinchona succirubra Pavon et klot atau yang lebih kita kenal dengan kina. Kina termasuk dalam familia
Rubiaceae dan ordo Rubiales. Kina merupakan tanaman yang biasa digunakan sebagai obat malaria. Tanaman
ini memiliki habitus pohon dan batangnya berkayu bulat.pohon bergetah. Daunnya memiliki f ilotaksis .Daun
muda berwarna hijau sedangkan yang tua berwarna merah.margoo folii integer,basis folii obtusus dan apex folii
obtusus.
Memiliki bunga dengan bentuk bunga aktinomorf, infloresensi simosa,kedudukan ovarium
inferior,jumlah sepal dan petal dengan warna sepal hijau dan warna petal coklat muda.jumlah stamen lima.
Rumus bunga * Ca 5 co 5 A 5 . kina juga memiliki buah dengan tipe buah baka/buni.Bentuknya kotak lonjong,dan
berwarna
coklat
muda.
Pada praktek kerja lapangan ini kami mengalami kesulitan dalam mengamati daun ,buah,dan bunga
karena tanaman kina adalah tanaman pohon yang tinggi.sehingga sulit mengamati dengan baik.
Nama Tanaman Chinchona succirubra Pavon
et
klot
1.
Formula dalam ramuan: Untuk obat malaria,dipakai 2 gram serbuk kulit batang kina ,diseduh dengan satu
gelas air panas,kemudian dibiarkan. Setelah agak dingin kemudian disaring. Hasil saringan diminum sehari dua
kali
satu
gelas,diminum
pagi
dan
sore.
2.
Kandungan senyawa kimia: Senyawa kimia pada kulit batang kina yaitu:alkaloida, saponin,
flavonoida,polifenol.
3.
Efek farmakologi: Untuk obat malaria,penurun panas,dan penambah nafsu makan. .
Last Update 16 Jun, 2010

TEKNOLOGI TEPAT GUNA


WARINTEK - Menteri Negara Riset dan Teknologi
Alat Pengolahan | Budidaya Pertanian | Budidaya Perikanan | Budidaya Peternakan |
Pengelolaan dan Sanitasi | Pengolahan Pangan
TTG - BUDIDAYA PERTANIAN
KINA
( Chinchona spp. )

1. SEJARAH SINGKAT
Kina merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan di sepanjang
pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia.
Daerah tersebut meliputi hutan-hutan pada ketinggian 900-3.000 m dpl. Bibit tanaman kina yang
masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari Bolivia, tetapi tanaman kina yang tumbuh dari biji
tersebut akhirnya mati. Pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina dari Bolivia ditanam di Cibodas
dan tumbuh 75 pohon yang terdiri atas 10 klon. Nama daerah : kina, kina merah, kina kalisaya,
kina ledgeriana
2. URAIAN TANAMAN
2.1 Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Keluarga : Rubiaceae

Genus : Chinchona

Spesies : Chinchona spp.

2.2 Deskripsi
1.

C. succirubra : Tanaman berupa pohon dengan tinggi hingga 17m, cabang berbentuk galah
yang bersegi 4 pada ujungnya, mula-mula berbulu padat dan pendek kemudian agak
gundul dan berwarna merah. Daun letaknya berhadapan dan berbentuk elips, lama
kelamaan menjadi lancip atau bundar, warna hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur
berwarna merah. Tulang daun terdiri dari 11 12 pasang, agak menjangat, berbentuk
galah, daun penumpu sebagian berwarna merah, sangat lebar. Ukuran daun panjang 24
25cm, lebar 17 19cm. Kelopak bunga berbentuk tabung, bundar, bentuk gasing,
bergigi lebar bentuk segitiga, lancip. Bunga wangi, bentuk bulat telur sampai gelendong.

2.

C. calisaya : Letak daun berhadapan, bentuk bundar sungsang lonjong, panjang 8 15cm,
lebar 3 6cm, permukaan bagian bawah berbulu halus seperti beludru terutama pada
daun yang masih muda, panjang tangkai 1 1.5cm. Daun penumpu lebih panjang dari
tangkai daun, bila sudah terbuka daun penumpu akan gugur. Bunga bentuk malai, berbulu
halus, bunga mengumpul di setiap ujung perbungaan, kelopak bentuk tabung dan bergigi
pada bagian atasnya. Bunga bentuk bintang, berbau wangi dengan ukuran panjang 9mm,
helaian mahkota bunga bagian dalam berwarna merah menyala, berbulu rapat dan
pendek, panjang benang sari setengan bagian tabung bunga. Buah berwarna kemerahan
bila masak, bentuk seperti trelur panjang 4mm dan bersayap.

3.

C. ledgeriana : Tinggi pohon antara 4 10m, cabang bentuk segi empat, berbulu halus
atau lokos. Daun elip sampai lanset, bagian pangkal lancip dan tirus, ujung daun lancip
dan jorong, helaian tipis, berwarna ungu terang tetapi daun muda
berwarna kemerahan, tangkai daun tidak berbulu, berwarna hijau atau kemerahan,
panjang tangkai 3 6mm. Ukuran daun panjang 25.5 28.5cm, lebar 9 13cm, namun
adakalanya panjang 7cm dan lebar 2cm. Daun penumpu bundar sampai lonjong panjang
17 32mm dan tidak berbulu. Mahkota bunga berwarna kuning agak putih dan berbau
wangi, bentuk melengkung dengan ukuran panjang 8 12mm. Panjang malai 7 18cm
dan gagang segi empat sangat pendek dan berbulu rapat. Kelopak bunga bentuk limas
sungsang 3 4mm, tabung tebal ditutupi bulu warna putih, tabung mahkota bunga bagian
luarnya berbulu pendek tapi bagian dalamnya gundul dengan 5 sudut. Tangkai sari tidak
ada. Buah lanset sampai bulat telur dengan ukuran panjang 8 12mm dan lebar 3
4mm. Biji lonjong sampai lanset panjang 4 5mm.

2.3 Jenis Tanaman


Dari sekian banyaknya spesies kina di Indonesia, hanya 2 spesies yang penting yaitu C. succirubra
Pavon (kina succi) yang dipakai sebagai batang bawah dan C. ledgriana (kina ledger) sebagai
bahan tanaman batang atas..Klon-klon unggul yang dianjurkan adalah antara lain: Cib 6, KP 105,
KP 473, KP 484dan QRC. C. calisaya Wedd. (kina kalisaya) juga banyak dikenal dan ditanam oleh
masyarakat.
3. MANFAAT TANAMAN
Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk obat. Di antara alkaloid
tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untuk penyakit malaria dan kinidine
untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk depuratif,
influenza, disentri, diare, dan tonik.
4. SENTRA PENANAMAN

Sentra produksi kina di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra
Barat.
5. SYARAT PERTUMBUHAN
5.1. Iklim
1.

Angin yang kencang dan lama menyebabkan banyak kerusakan karena patahnya cabang
dan gugurnya daun.

2.

Curah hujan tahunan untuk lokasi budidaya kina yang ideal adalah 2.000-3.000mm/ tahun
dan merata sepanjang tahun.

3.

Tanaman ini memerlukan penyinaran matahari yang tidak terlalu terik.

4.

Tanaman tumbuh baik pada temperatur antara 13,5-21 derajat C.

5.

Tanaman menghendaki daerah beriklim lembab dengan kelembaban relatif harian


minimum dalam satu tahun 68 % dan 97 %.

5.2. Media Tanam


1.

Tanah yang cocok untuk tanaman kina adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan
organik, tidak bercadas dan berbatu.

2.

Derajat keasaman (pH) antara 4,6-6,5 dengan pH optimum 5,8.

5.3. Ketinggian Tempat


Di daerah asalnya di pegunungan Andes tanaman ini tumbuh pada ketinggian 1050 1500 m
diatas permukaan laut (dpl). Di Indonesia tanaman ini menyukai daerah dengan ketinggian 8002.000 m dpl dengan ketinggian optimum untuk budidaya tanaman kina adalah 1.400-1.700 m dpl.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan.Pada kebun produksi, kina diperbanyak dengan cara vegetatif. Penyediaan bahan
tanaman dilaksanakan dengan semai sambung, stek sambung, semai ledger, dan stek ledger. Di
Indonesia penyiapan dilakukan dengan cara stek sambung.
1.

Pembibitan Semai Sambung


1.

Batang bawah : Batang bawah adalah semai kina succi yang ditanam di kebun dan
batang atas entres kina ledger. Penyambungan dilaksanakan pada saat bibit bawah
berumur 8-12 bulan, tinggi 30-40 cm dan diameter batang 1 cm. Satu-dua minggu
sebelum penyambungan daun semai succi dirempel sampai ketinggian 20-25 cm
dari permukaan tanah.

2.

Entres batang atas : Didapat dari tanaman berumur 3-5 tahun dengan daya
regenerasi optimal. Setiap 5 tahun pohon induk entres dipangkas setinggi 1 m dari
permukaan tanah agar ranting entres selalu muda.

3.

Penyambungan : Batang bawah, pada ketinggian 4-5 cm dari permukaan tanah,


disayat dari atas ke bawah sepanjang 1,5 cm. Siapkan entres kina ledger (1 cm)
yang daunnya sudah dibuang dan runcingkan bagian bawah entres. Selipkan
entres ke sayatan di batang bawah, ikat dengan tali bambu dan oleskan lilin
sambungan penutup luka (lilin dicairkan dulu) sampai tertutup rapat.
Penyambungan dilakukan sekitar pukul 12.00, jika cuaca tidak terik dapat
dilakukan sampai pukul 14.00. Setelah sambungan berumur 3 minggu tunas

entres telah tumbuh, pucuk batang bawah succi dipotong. Pada saat umur 7-8
minggu panjang tunas 3-4 cm batang bawah dipotong setengahnya. Setelah
berumur 12 minggu dan panjang tunas sambungan 12 cm, batang suci dipotong
kira-kira 1 cm dari sambungan.

2.

4.

Pemeliharaan : Pemeliharaan yang dilakukan selama periode persemaian bibit ini


(disebut persemaian II) adalah penyiangan, pemberantasan hama-penyakit dan
pemupukan. Pupuk diberikan setiap 3 bulan dimulai pada waktu bibit sambungan
berumur 2 bulan dan berakhir 1 bulan sebelum dicabut (dipindahtanam). Pupuk
berupa 160-200 g Urea, 80-100 g TSP dan 160-200 g KCl yang diberikan dalam
larikan sedalam 2-3 cm di antara barisan bibit setelah disiangi.

5.

Pindah tanam : Bibit dipindahkan ke kebun produksi saat berumur 1 tahun di


persemaian II, tinggi 40 - 50 cm dan akar tunggang 50 cm. Seminggu sebelum
bibit dibongkar 2/3 bagian daun dibuang dan sehari sebelum dibongkar tanah
pembibitan disiram air sampai basah. 50 bibit diikat menjadi satu.

Pembibitan Stek Sambung.


1.

Batang bawah Succi : Berasal dari batang muda atau tunas-tunas dari bekas
tebangan, bukan dari cabang. Pohon induk yang baik dipilih dari pohon yang
pertumbuhannya cepat dan mudah berakar dalam penyetekan. Bahan stek diambil
setelah tunas berumur 8-12 bulan dan, mempunyai ukuran sebesar pinsil.

2.

Batang atas ledger : Pohon induk batang atas ledger dipilih dari klon-klon yang
dianjurkan. Pohon induk ditanam pada jarak 1,25 cmx1,25 cm, lokasi kebun dipilih
datar, dekat tempat pembibitan. Pohon induk yang siap diambil
steknya pada umur 3-5 tahun.

3.

Bahan tanaman dan penyambungan : Batang bawah succi yang baik diambil dari
pertumbuhan tunas berumur 10-12 bulan yang dipotong pada pohon induk sampai
pangkal pangkasan. Semua daun dibuang, batang dibungkus dengan batang
pisang dan disimpan di tempat teduh. Bahan stek diambil dari bagian batang yang
masih berair, berwarna coklat muda dan agak tua. Batang dipotong miring 45-60
menjadi stek-stek berukuran 10 cm dengan satu mata tunas. Bagian sisi ujung
atas batang bawah dibelah sedalam 1,5-2,0 cm untuk menyelipkan batang atas.
Pohon induk batang atas ledger terbaik berumur 3-5 tahun setelah pemangkasan.
Batang atas hanya diambil pucuknya sekitar 12 cm, terdiri dari 3-4 ruas paling
ujung. Pangkal pucuk dipotong runcing sepanjang 2 cm. Batang atas diselipkan ke
belahan batang bawah, diikat dengan tali bambu.

4.

Media tanam : Pembibitan stek sambung dilakukan di kantung plastik/polibag


ukuran 12x25 cm. Pada sekeliling dan di tengah polibag bagian bawah diberi
luang-lubang. Media tanaman berupa tanah andosol dengan pH 4,6- 6,0 yang
diisikan ke dalam polibag sebanyak 2/3 bagiannya. Sebelumnya tanah disterilkan
dengan larutan Trimaton 150 ml/15 l atau Vapam 250 ml/15 l untuk 1 m 3 .

5.

Penanaman stek : Media dalam polibag disiram sampai lembab, oleskan Rootone
(perangsang akar) pada ujung tanaman stek sambung lalu tanamkan pada media
sedalam 5 cm. Padatkan tanah di sekitar stek supaya tanaman tegak.

6.

Penyungkupan : Bedengan diberi sungkup plastik dengan rangka dari bambu, besi
atau kawat dengan jari-jari 50-70 cm dengan tinggi puncak 70 cm. Sungkup
jangan bocor dan air hujang yang menggenangi plastik harus dibuang.

7.

Pemeliharaan : Penyiraman dilakukan 3-4 minggu sekali. Sungkup dibuka setelah


stek berumur 3-4 bulan dan tinggi 20-25 cm. Pembukaan dilakukan secara
bertahap. Jika hujan, sungkup ditutup. Pada bulan ke 6 sungkup dibuka sama
sekali dan pada bulan ke 7 dilakukan seleksi bibit. Tanaman diberi pupuk daun
Gandasil atau Bayfolan 0,2-0,3% setiap minggu atau urea 0,2%. Pemupukan

hanya dilakukan pada bibit yang tumbuhnya lambat sebanyak 1-5 g NPK 15-1515/polibag. Penyiangan.dilakukan dengan tangan, penyemprotan insektisida
dilakukan jikaada gejala serangan.
8.

3.

4.

Pindah tanam : Bibit dipindahkan ke kebun setelah berumur 10-12 bulan, tinggi
40-50 cm. Dan akar telah mencapai dasar polibag.

Pembibitan Semai Ledger


1.

Bibit semai kina ledger : Adalah bibit semai dari biji kina ledger yang berasal dari
poliklonal dengan klon-klon yang terpilih dan dipelihara khusus. Penyiapan bibit
relatif singkat hanya 1,5 tahun karena tidak perlu penyambungan.

2.

Persemaian : Dilakukan langsung pada bedengan atau dengan memakai polibag


berukuran 12 x 25 cm berisi tanah hutan.

3.

Pindah tanam : Bibit dipindahtanamkan pada umur 1 tahun dan tinggi 40-50 cm.
Bibit dari bedengan dipindahkan dengan cara dicabut sedangkan bibit dari polibag
dipindahkan dengan tanahnya setelah polibag disobek dengan hati-hati.

Pembibitan Stek Ledger


1.

Stek ledger : Setek ledger adalah bibit kina dari pucuk ledger. Tanaman kina ledger
umumnya sulit dikembangbiakan dengan stek. Bahan stek yang digunakan adalah
pucuk, dari pohon induk yang telah berumur 3-5 tahun, dan setiap 3-5 tahun
harus dipangkas setinggi 25-30 cm dari sambungan. Pohon induk ditanam dari
bibit semai sambung dengan jarak tanam 1,25x1,25 m. Bahan stek dipilih dari
pucuk yang coklat muda, masih berair tetapi sudah agak tua dengan panjang 2025 cm dan dipetik di pagi hari. Panjang stek 12-15 cm terdiri dari 3-4 ruas.
Sebelum ditanam daun dibuang /dirompes setengahnya.

2.

Pembibitan : Persiapan pembibitan, media, bedengan, penanaman stek,


penyungkupan dan pemeliharaan sama dengan pembibitan stek sambung. Bibit
dipindahtanamkan ke lapangan umur 10-12 bulan, tinggi rata-rata 40-50 cm.

6.2. Pengolahan Media Tanam


Pengolahan tanah dimaksudkan untuk mendapatkan tanah yang gembur, bersih dari tunggul sisasisa akar dan gulma. Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan pencangkulan tanah sedalam
60 cm, dan pengolahan tanah ke dua sedalam 40 cm dilakukan 2-3 minggu setelah pengolahan
tanah pertama. Pada pertanian organic saat pengolahan tanah yang kedua yaitu menghancurkan
bongkahan dan membuat struktur tanah lebih remah dan gembur, juga dilakukan penebaran
pupuk kandang atau kompos sekitar 50 60 ton per hektar sebagai pupuk dasar..
1.

Persiapan Lahan : Setelah pengolahan tanah dilakukan pengukuran dan pematokan


dengan memberi tanda, setiap 20 m ke arah mendatar, ke arah kemiringan atas dan
bawah. Dengan demikian terbentuk petakan-petakan areal seluas 20 x 20 m2 = 400m 2
yang disebut satu patok. Tanda-tanda patok berupa hanjuang dipelihara dengan baik dan
mati segera diganti.

2.

Pengapuran : Pengapuran hanya dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 4,5 dengan
dosis kapur yang sesuai dengan keperluan. Kapur berupa dolomit, kalsit, dicampurkan
merata 100gram/lubang.

3.

Pemupukan (sebelum tanam) : Pupuk untuk memacu pertumbuhan bibit diberi 50 gram
TSP. Diberikan dalam larikan sekitar tanaman.

6.3. Teknik Penanaman

1.

Penentuan Pola Tanaman : Pola penanaman tergantung tofografi lahan. Tiga macam jarak
tanam yaitu jarak tanam rapat 75 cm x 75 cm, jarak tanam menengah 100 cm x 100 cm,
dan jarak tanam lebar yaitu 1,25 cm x 1,25 cm. PTP Nusantara VIII di Bukit Tunggul
menerapkan jarak tanam 100 x 150 cm dengan populasi tanaman per hektar sekitar
6.500.

2.

Pembutan Lubang Tanam : Pengajiran untuk pedoman penanaman sehingga sesuai dengan
pola dan jarak tanam yang dibuat. Lubang tanam dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 40 cm
(untuk bibit dari polibag) dan 30 cm x 30 cm x 40 cm (untuk bibit cabutan).

3.

Cara Penanaman :

4.

1.

Bibit cabutan : Panjang akar bibit sekitar 30 cm, tinggi bibit 40-50 cm dan 2/3
daunnya dirompes. Masukkan bibit dengan tegak jangan miring. Tanah timbunan
dipadatkan dengan cara diinjak dengan kaki, kemudian diratakan.

2.

Bibit dalam Polibag : Polibag dibuka dengan cara menyobeknya lalu bibit ditanam
bersama medianya, disangga dengan belahan bambu, ditimbun dengan tanah.
Tanah di sekitar batang dipadatkan dan tanaman disiram.

3.

Tanaman pelindung : Tanaman ini berfungsi sebagai penutup tanah dan


memperbaiki iklim mikro agar lebih segar. Tanaman berupa legum Crotalaria
atauTephrosia yang ditanam selama 3 tahun.

Perioda Tanam : Masa penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan yaitu pada
bulan September dan biasanya di saat kondisi tidak terlalu terik untuk menghindari
penguapan yang terlalu banyak dari bibit yang akan ditanam. Dengan menentukan masa
tanam secara tepat maka akan menentukan
keberhasilan pertumbuhan tanaman.

6.4. Pemeliharaan Tanaman


1.

Penyulaman : Penyulaman dilakukan satu bulan setelah penanaman, dilakukan secara


terus-menerus sampai 3 bulan, menjelang kemarau. Penyulaman pada tahun ke tiga tidak
dianjurkan. Kebutuhan bibit sulaman maksimum 10% dan pada tahun kedua 5%

2.

Penyiangan : Penyiangan dimaksudkan untuk penggemburan tanah sedalam 10 cm dengan


menggunakan cangkul. Penyiangan dilakukan 1,52 bulan sekali. Kegiatan penyiangan
sampai umur 2-3 tahun.

3.

Pembubunan : Untuk pertanaman kina sebenarnya tidak diperlukan kegiatan pembubunan


karena memang tanaman ini merupakan tanaman pohon
yang berumur dalam. Namun demikian pada tanaman muda dapat dilakukan kegiatan ini
untuk menimbun kembali tanah di sekitar daerah perakaran yang terbawa air dan
dilakukan sekaligus pada saat pemberian pupuk organic kompos setiap 3 4 bulan sekali
agar pertumbuhan perakarannya lebih baik.

4.

Pemupukan :
1.

Pemupukan Organik : Pemupukan secara organic dengan menggunakan pupuk


kompos yang merupakan pupuk organic komplek bias diberikan sbb: Untuk
tanaman muda dilakukan pemupukan secara rutin setiap 2 3 bulan sekali
sebanyak 5 7 kg per tanaman. Sedangkan untuk
tanaman yang telah tua (diatas 3 tahun) bias dilakukan pemupukan kompos
organic setiap 6 bulan sekali sebanyak 10 12 kg pertanaman. Adapun pemberian
pupuk di sekitar batang tanaman di daerah perakaran dilakukan sekaligus dengan
pekerjaan dangir dan penyiangan.

2.

Pemupukan Konvensional

Tanaman muda

1 tahun: Urea 108 kg, TSP 62 kg, KCl 30 kg dan Kieserit 19 kg.

2 tahun: Urea 173 kg, TSP 83 kg, KCl 40 kg dan Kieserit 37 kg..

3 tahun: Urea 217 kg, TSP 124 kg, KCl 60 kg dan Kieserit 37 kg.

4 tahun: Urea 325 kg, TSP 165 kg, KCl 80 kg dan Kieserit 56 kg.

Tanaman dewasa

5 tahun: Urea 390 kg, TSP 186 kg, KCl 80 kg dan Kieserit 56 kg.

6 tahun: Urea 390 kg, TSP 186 kg, KCl 80 kg dan Kieserit 56 kg.

7 tahun keatas: Urea 433 kg, TSP 207 kg, KCl 100 kg dan Kieserit
75 kg.

Catatan : Kieserit iberikan jika ada gejala kekurangan Mg. Pemupukan dilakukan saat curah hujan
terakhir antara 100-300 mm, dilaksanakan dua kali setahun. Cara pemberian pupuk diberikan
secara setempat.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1.

Ulat : Ulat yang menyerang daun atau ranting muda adalah:


1.

Ulat jeungkal (Boarmia bhurmitra, Antitrygoides divisaria, Hyposidra talaca)


dikendalikan dengan insektisida Thiodan 35 EC;

2.

Ulat sinanangkeup (Paralebeda plagifera) dikendalikan dengan Dedevap 650 EC;

3.

Ulat bugrug (Metanastria hirtaca) dikendalikan dengan Lebaycid 550 EC;

4.

Ulat badori (Attacus atlas), dikendalikan dengan Baythroid 50 EC;

5.

Ulat kaliki (Samia cyntia) dikendalikan dengan Bayrusil 250 EC;

6.

Ulat kenari (Cricula trifenestrata) dikendalikan dengan Karphos 25 EC;

7.

Ulat bajra (Setora nitens) dikendalikan dengan Lannate L;

8.

Ulat kantong (Clania variegata) dikendalikan dengan Decis 2,5 EC, Thuricide,
Ripcord 5 EC;

9.

Ulat merang (Euproctis flexuosa) dikendalikan dengan Lannate 25 WP;

2.

Pengendalian mekanis: dilakukan dengan mengumpulkan telur, kupu serta


telur-telurnya, kemudian dimusnahkan dengan cara dikubur atau dibakar.

Penggerak cabang merah (Zeuzera coffeae)


1.

Gejala: menyerang cabang dan ranting hingga layu dan mudah patah. Pada
ranting patah ada lubang gerekan.

2.

Pengendalian: memangkas cabang atau ranting yang terserang.

Penggerek pangkal batang (Phasus damor)

1.

Gejala: kerusakan pada leher akar, daun kuning atau kemerahan, layu, kering,
rontok dan tanaman mati.

2.

Pengendalian: menanam bibit yang sehat dan insektisida.

Penggerek cabang (Xyleberus. Sp).

1.

Gejala: pada ranting, cabang atau batang terlihat adanya tahi gergaji yang halus.
Hama ini berasosiasi dengan jamur ambrosia.

2.

Pengendalian: menyemprot larutan fungisida sistemik dan insektisida Gusadrin 150


ESC, Benlate 50 W).

Penggerek pucuk (Alcalides cinchonae)

1.

Gejala: bekas serangan menyebabkan pucuk berwarna coklat dan mati.

2.

Pengendalian: penyemprotan dengan insektisida Gusadrin 150 ESC, Benlate 50


WP.

Kutu putih (Pseudaulacaspis pentagona)

1.

Gejala: menyerang ranting dan mengisap cairan selnya, ranting menjadi berwarna
putih dan dihuni oleh hewan kecil lonjong. Hama ini tidak menimbulkan kerugian
dan serangan akan hilang dengan datangnya musim hujan.

Helopeltis (Helopeltis theivora, H. antonii)

1.

Gejala: daun dan pucuk yang terserang menjadi salah bentuk. Pada serangan
berat tanaman mati dan dari jauh bagian daun kebun kina kelihatan warna
kehitam-hitaman.

2.

Pengendalian: dengan penyemprotan insektisida Lannate L, Lannate 25 WP,


Lebaycid 550 WP.

7.2. Penyakit
1.

Kanker batang
o

Penyebab: jamur Phytophthora Sp. Terdapat tiga spesies jamur kanker batang
yaitu:
1.

P. cinnamomi penyebab kanker garis, serangannya di Indonesia sangat


luas.

2.

P. parasitica penyebab kanker gelang, serangannya relatif sedikit.

3.

P. citricola hanya menyerang tunas-tunas kina muda, serangannya juga


terbatas. Kanker garis membentuk jalur sempit yang mengendap pada
kulit batang.

Gejala: berbeda-beda tergantung umur dan klon. Kanker gelang membentuk


warna karat pada permukaan kulit batang. Jika kulit luar dikupas tanpak

bahwa kulit bagian dalam membusuk. Pembusukan ini berkembang melingkari


batang yang dapat menyebabkan tanaman mati.
o

2.

3.

Pengendalian: kulit yang sakit dikorek, jaringan busuk dipotong sampai ke bagian
sehat dan dilumasi Antimucin WBR 0,5% dan Difolatan 4F 3%. Setelah obat
mengering luka ditutupi dengan petrolatum 2295 A, Shell Tapflux atau.Shell Otina
Compound. Permukaan kayu yang terbuka ditutup ter untuk mencegah masuknya
kumbang penggerek.

Penyakit jamur upas (Upasia salmonicolor)


o

Gejala: sebelum mengering daun-daun dari cabang yang sakit berwarna kuning
kemerahan. Pada batang atau cabang terdapat benang-benang jamur
yang belum masuk ke dalam kulit, dan mirip dengan sarang laba-laba.

Pengendalian: menyemprotkan bubur Bordeaux. Dapat juga dilakukan pelumasan


dengan bubur bordeaux pekat, Perenox 3%, Calixin Ready mix atau Calixin RM
(tridemorf) dengan menggunakan kuas.

Penyakit mopog (Rhizoctonia solani)


o

Gejala: di bedengan-bedengan pesemaian terdapat kelompok-kelompok semai


yang mati seperti tersiram air panas.

Pengendalian : dengan mengurangi kelembaban persemaian, menyemprotkan


fungisida pada tanah bedengan berupa Brassicol sebanyak 30 g/m 2 dan
mengurangi penyiraman. Persemaian dapat disemprot dengan Dithane M-45 atau
Brestan 0,05%.

7.3. Gulma
Gulma di areal tanam terdiri atas golongan rumput-rumputan seperti lempuyangan (Panicum
repens) dan paparean (Phalaris arundinaceae); golongan berdaun lebar seperti sintrong
(Crassocephalum crepidioides) dan babadotan (Ageratum conyzoides).
Pengendalian: dengan memperbaiki kultur teknis, menyiangi/mencabut, menggunakan tanaman
penutup tanah lebum dan dengan herbisida pra tumbuh dan purna
tumbuh.
7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organic
Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan
dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal
pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT
(Pengendalian Hama
Terpadu) yang komponennya adalah sbb:
1.

Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat

2.

Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami

3.

Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

4.

Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.

5.

Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan
pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta.rotasi tanaman pada setiap masa
tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.

6.

Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak
menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada
tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan
aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam
pengendalian hama antara lain adalah:
1.

Tembakau (Nicotiana tabacum ) yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak


sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk
serangga kecil misalnya Aphids.

2.

Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yang mengandung piretrin yang dapat


digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat
syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat
rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.

3.

Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis) yang mengandung rotenone untuk
insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan
semprotan.

4.

Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yang mengandung azadirachtin yang
bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti
wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis
medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan
Tungro.

5.

Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida


yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

6.

Jeringau (Acorus calamus) yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan
biasanya digunakan untuk racun serangga dan pembasmi cendawan, serta hama gudang
Callosobrocus.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Bagian tanaman kina yang biasa diambil hasilnya adalah bagian kulit batang, dahan, cabang dan
ranting. Produk ranting dapat dimulai saat tanaman berumur 6-7 tahun tahun (sebelum
tebangan), dengan bagian yang terkecil yang diambil adalah kulit cabang yang diameternya lebih
1 cm. Ranting yang diameternya kurang dari 1 cm memiliki kadar kinin sulfat (SQ) yang rendah,
dan biaya pengambilannya relatif mahal. Umur tanaman yang siap panen untuk panen cara
tebangan adalah 9-11 tahun dan untuk panen cara penjarangan adalah 3,5, 5, 6, 7, 8,12, 18 dan
24 tahun dengan jumlah tanaman yang dicabut untuk masing-masing penjarangan adalah 12,5%
dari total tanaman.
8.2. Cara Panen
1.

Cara penebangan. : Tanaman kina ditebang hati-hati dengan gergaji pada ketinggian 2030 cm dari sambungan, atau leher akar dengan kemiringan 45 derajat. Batang kina dari
batas ini dipotong sampai ketinggian 2 meter. Kulit kina dilepaskan dari batang dengan
cara dipukul-pukul. Panen tebangan pertama disebut Stumping 1. Dari tunggul diharapkan
tumbuh tunas-tunas baru, dan dipelihara maksimum 4 tunas untuk dipanen berikutnya.
Penen berikutnya disebut stumping 2 dst. Setelah 4 kali stumping tanaman dibongkar.
Panen tebangan yang baik pada awal musim penghujan, hindari terik matahari.

2.

Cara penjarangan : Dilakukan dengan cabutan untuk memanen secara bertahap dalam
persentase yang telah direncanakan. Pemilihan tanaman yang akan dibongkar tergantung
persentase panenan setiap periode. Apabila tanaman akan dibongkar adalah 10%, maka

dari 10 tanaman diambil 1 tanaman


secara rata-rata.
8.3. Periode Panen
Pemanenan biasanya dilakukan secara bertahap yaitu pada saat dilakukan pemangkasan cabang
dan ranting dan pemangkasan batang utama. Pemanenan dilakukan pada ranting/cabang yang
telah memenuhi ukuran standar yaitu lebih dari 1cm (diameter). Pemanenan sebaiknya dilakukan
saat musim kemarau pada pagi hari. Hal ini dimaksudkan untuk dapat mengelola hasil panen
secara langsung terutama masalah pengeringan. Untuk menghindari cemaran cendawan karena
kadar air yang tinggi pada kulit batang maka sebaiknya setelah panen/pengulitan segera dilakukan
pengeringan dengan jalan menjemur di bawah terik matahari.
8.4. Perkiraan Hasil Panen
Dari 1 batang utama kina (2 meter) didapatkan 1-1,5 kg kulit. Hasil kulit kina diperhitungkan
dalam kadar SQ7 maupun besarnya produksi kulit, sehingga hasilnya diperhitungkan dari perkalian
kadar SQ7 dengan berat kulit kering dalam kg yang disebut potensi produksi. Pola produksi kulit
kering dan kadar kinine sulfat (SQ7) hasil panenan cara penjarangan dapat dilihat berikut ini:
1.

Umur 3,5 tahun, sistim panenan: penjarangan I (12,5% panenan) dengan produksi kulit
kering 500 kg/ha pada kadar SQ7 3 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 15,00 kg/ha.

2.

Umur 5,0 tahun, sistim panenan: penjarangan II (12,5% panenan) dengan produksi kulit
kering 700 kg/ha pada kadar SQ7 5 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 37,50 kg/ha.

3.

Umur 6,0 tahun, sistim panenan: penjarangan III (12,5% panenan) dengan produksi kulit
kering 1.000 kg/ha pada kadar SQ7 6 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 60,00 kg/ha.

4.

Umur 7,0 tahun, sistim panenan: penjarangan IV (12,5% panenan) dengan produksi kulit
kering 1.375 kg/ha pada kadar SQ7 6 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 82,50 kg/ha..

5.

Umur 8,0 tahun, sistim panenan: penjarangan V (12,5% panenan) dengan produksi kulit
kering 1.750 kg/ha pada kadar SQ7 7 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 122,50 kg/ha.

6.

Umur 12,0 tahun, sistim panenan: penjarangan VI (12,5% panenan) dengan produksi kulit
kering 3.125 kg/ha pada kadar SQ7 8 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 250,00 kg/ha.

7.

Umur 18,0 tahun, sistim panenan: penjarangan VII (12,5% panenan) dengan produksi
kulit kering 6.250 kg/ha pada kadar SQ7 6 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 375,00
kg/ha.

8.

Umur 24,0 tahun, sistim panenan: penjarangan VIII (12,5% panenan) dengan produksi
kulit kering 9.375 kg/ha pada kadar SQ7 5 proses. Potensi produksi SQ7 adalah 468,75
kg/ha.

9. PASCAPANEN
1.

Penyortiran Basah dan Pencucian : Batang yang akan diambil kulitnya dikumpulkan di
suatu tempat yang teduh. Cabang dan ranting dipotong tepat pada pertautan cabang
dengan batang, Cabang atau ranting yang ukuran garis tengahnya di atas 1 cm
dibersihkan dari ranting kecil dan daun-daun. Setelah itu batang tersebut dibersihkan,
kemudian dipotong sepanjang 40 - 50 cm untuk diambil kulitnya. Pencucian pada kulit
batang dilakukan dengan air bersih, jika air bilasannya masih terlihat kotor lakukan
pembilasan sekali atau dua kali lagi Hindari pencucian yang terlalu lama agar kualitas dan
senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus
dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung
bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-

lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam
wadah plastik/ember.
2.

Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari
atau alat pemanas/oven. Pengeringan kulit batang dilakukan selama kira-kira 2 - 3 hari
atau setelah kadar airnya dibawah 8%. Pengeringan dengan sinar matahari dilakukan di
atas tikar atau rangka pengering, pastikan bahan tidak saling menumpuk. Selama
pengeringan kulit batang harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan
merata. Lindungi bahan tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan yang
bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50C - 60C. Kulit
batang yang akan dikeringkan ditaruh diatas tray oven dan alasi dengan kertas Koran dan
pastikan bahwa tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah yang
dihasilkan.

3.

Penyortiran Kering.Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang dikeringkan


dengan memisahkannya dari benda-benda asing atau kotoran-kotoran lain. Timbang
jumlah bahan hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).

4.

Pengemasan : Setelah bersih, bahan yang kering dikumpulkan dalam wadah yang bersih
dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya), dapat berupa kantong plastik atau
karung. Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang menjelaskan nama bahan,
bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat
bersih dan metode penyimpanannya.

5.

Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi
30C, dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari
kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki
penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas
dari hama gudang.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN


1.

Analisis Usaha Budidaya : - -

2.

Gambaran Peluang Agribisnis : Pada tahun 1939 Indonesia merupakan pemasok 90 %


kebutuhan kina dunia dengan luas areal tanam 17.000 ha dengan produksi 11.000 ton
kulit kering/tahun. Akibat terlantarnya kebun kina dan terjadinya penebangan besarbesaran sejak Perang Dunia II sampai tahun enam puluhan, areal dan produksi kina
Indonesia menurun Kebutuhan kulit kina dirasakan semakin meningkat, seiring dengan
pertumbuhan penduduk yang meningkat pula. Kulit kina merupakan bahan baku obat
penyakit malaria dan penyakit jantung. Obat tersebut sangat diperlukan untuk kesehatan
manusia. Di samping sebagai bahan obat, kina sebagai bahan baku kosmetika, minuman
penyegar dan industri penyamakan. Beberapa dekade yang lalu produksi kina Indonesia
kalah oleh pordusen dari Afrika. Tetapi saat ini produksi di Afrika mengalami penurunan.
Saat ini adalah saat yang dianggap tepat untuk melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi
perkebunan kina. Prospek agribisnis kulit kina sangat cerah, dan permintaan pasar
internasionalpun semakin meningkat tetapi belum bisa terpenuhi. Dengan mengingat mutu
kina Indonesia yang sangat prima, Perkebunan kina kita akan menjadi sektor agribisnis
yang diperhitungkan.

11. STANDAR PRODUKSI.


1.

Ruang Lingkup : Standar produksi meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan
contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan.

2.

Deskripsi :

3.

Klasifikasi dan Standar Mutu : Kulit kina kering jemur dari batang utama di perkebunan
kina Indonesia mempunyai standar mutu yang memenuhi persyaratan Internasional yaitu

memiliki kadar kinin sulfat pada kelas SQ7. Kelas kualitas ini bahkan lebih besar daripada
yang dihasilkan di Afrika.
4.

Pengambilan Contoh Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah
karung maksimum 30 karung dari tiap partai barang, kemudian dari tiap-tiap karung
diambil contoh maksimum 500 gram. Contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur sehingga
merata, kemudian dibagi empat dan dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan
beberapa kali sampai mencapai contoh seberat 500 gram. Contoh ini disegel dan diberi
label untuk dianalisa, berat contoh analisa 100 gram.

5.

Pengemasan : Kina dikemas dalam karung goni atau dari bahan lain yang sesuai kuat dan
bersih dan mulutnyadijahit, berat netton setiap karung maksimum 75 kg, dan tahan
mengalami handling baik pada pemuatan maupun pembongkaran. Di bagian luar karung
(kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan yang aman yang tidak luntur dengan
jelas terbaca antara lain:
o

Produk asal Indonesia

Nama/kode perusahaan/eksportir

Nama barang

Negara tujuan

Berat kotor

Berat bersih

Nama pembeli

12. DAFTAR PUSTAKA


1.

Sultoni, A. 1995. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Kina. Asosiasi Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan Indonesia. Pusat Penelitian Teh dan Kina
Gambung.

ALKALOID KINA
POSTED BY ADHY PARKER POSTED ON 19:25 WITH NO COMMENTS

Kina merupakan alkaloid ditemukan dalam kulit pohon cinchona. Kina telah digunakan
untuk mengobati malaria (penyakit berulang yang ditandai dengan menggigil parah dan demam).
Klasifikasi Kina (Chinchona spp. )

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Keluarga : Rubiaceae

Genus : Chinchona

Spesies : Chinchona spp.

Struktur Kina :

Struktur Kina

Senyawa Kina
Tumbuhan Kina (Chincona sp.) merupakan bahan baku farmasi yang sangat dinilai dan
terkenal luas sebagai salah satu jenis tanaman obat-obatan berkhasiat dan sudah lama
digunakan sebagai obat anti malaria. Pada struktur kinin terdapat 2 bagian yaitu cincin kinin
dan kinolin (lihat stuktur kimia di atas). Pada cincin kinolin terdapat 2 atom C asimetrik
sehingga produknya berupa campuran dengan struktur dalam ruang yang berebda. Khasiat
tanaman ini, sabagai anti malaria berasal dari senyawa alkaloid kuinina (alkaloid chincona)
terutama senyawa kuinina (C20H24N2O2), kuinidina (isomer dari kuinina), sinkonina (C19H22N2O),
dan sinkonidina (isomer dari sinkonina). Hampir keseluruhan bagian tanaman kina (akar,
batang, daun, dan kulit) mengandung senyawa alkaloid kiunina tersebut dalam persentase yang
berbeda.
Asal Tumbuhan
Kina merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan di
sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru
sampai Bolivia. Daerah tersebut meliputi hutan-hutan pada ketinggian 900-3.000 m dpl. Bibit
tanaman kina yang masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari Bolivia, tetapi tanaman kina
yang tumbuh dari biji tersebut akhirnya mati. Pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina dari
Bolivia ditanam di Cibodas dan tumbuh 75 pohon yang terdiri atas 10 klon. Nama daerah : kina,
kina merah, kina kalisaya, kina ledgeriana. Dari sekian banyaknya spesies kina di Indonesia,
hanya 2 spesies yang penting yaitu C. succirubra Pavon (kina succi) yang dipakai sebagai
batang bawah dan C. ledgriana (kina ledger) sebagai bahan tanaman batang atas..Klon-klon
unggul yang dianjurkan adalah antara lain: Cib 6, KP 105, KP 473, KP 484dan QRC. C. calisaya
Wedd. (kina kalisaya) juga banyak dikenal dan ditanam oleh masyarakat.
Upaya untuk mempertahankan kelestarian tanaman obat dan pemanfaatannya, yang
seiring dengan perkembangan ilmu bioteknologi dicoba satu cara terbaru dalam memproduksi
senyawa alkaloid sinkona dan turunannya dengan memanfaatkan mikroba endpfit yang hidup
dalam tanaman tersebut. Mikroba enoifit adalah mikroba yang hidup di dalam tanaman
sekurangnya selama periode tertentu dari siklus hidupnya dapat membentuk koloni dalam

jaringan tanaman tanpa membahayakan inangnya.


Meskipun penelitian mengenai endofitik telah telah dimulai sejak lama, tetapi
penggunaan mikroba endofit untuk memproduksi senyawa bioaktif masih sedikit. Mikroba
endofit diisolasi dari jaringan tanaman dan ditumbuhkan pada medium fermentasi dengan
komposisi tertentu. Di dalam medium fermentasi tersebut mikroba endofit menghasilkan
senyawa sejenis seperti yang terkandung pada tanaman inang dengan bantuan aktivitas enzim.
Mikroba endofitik tumbuh dan memproduksi senyawa metabolit sekunder lebih lambat pada
medium buatan daripada medium di dalam tanaman inangnya, oleh karena itu sangat penting
untuk merancang media lokasi maupun pertumbuhannya yang sesuai.
Kina disintesis dari triptofan melalui 16 tahap dengan menggunakan membutuhkan 16
enzim untuk menghasilkan Kina. Dalam proses sintesis perlu dilakukan penambahan zat
induser yang diinokulasikan secara bersama-sama dengan mediumnya. Zat induser adalah
suatu zat yang memiliki komponen nutrisi yang serupa dengan dengan tanaman inangnya dan
dapat menstimulasi pertumbuhan mikroba endofit dalam memproduksi senyawa bioaktif
sebagai hasil metabolisme sekunder.

Efek Farmakologi
Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk obat. Di antara
alkaloid tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untuk penyakit malaria dan
kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk
depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik.
Kina akan menghambat proteolisis hemoglobin dan polimerase heme. Kedua enzim
tersebut diperlukan untuk memproduksi pigmen yang dapat membantu mempertahankan
hidup plasmodium tersebut. Kina akan menghambatan aktivitas heme polimerase tersebut
sehingga terjadi penumpukan substrat yang bersifat sitotoksik yaitu heme. Sehingga
menghambat sintesis protein, RNA dan DNA, maka akan mencegah pencernaan hemoglobin
oleh parasit dan dengan demikian mengurangi suplai asam amino yang diperlukan untuk
kehidupan parasit.
Senyawa : merupakan bentuk L-stereoisomer dari kuinidin.
Asal tumbuhan : kulit pohon chincona
Efek farmakologis :
#FARMAKOKINETIK

Kinin di absorbsi baik jika diberikan secara oral maupun intramuscular. Absorbsi secara oral
terutama terjadi di usus halus dan mencapai 80%, walaupun pada pasien diare. Setelah pemberian
secara oral, kadar kinin dalam plasma mencapai maksimum dalam waktu 3-8 jam, dan kemudian
didistribusikan keseluruh tubuh. Farmakokinetik kinin dapat berubah sesuai dengan keparahan
infeksi malaria.
# FARMAKODINAMIK
Kinin bereaksi terutama melawan parasit malaria bentuk eritrositikaseksual dan memiliki efek
minimal terhadap parasit di hepar. Seperti antimalaria lainnya, kinin juga membunuh bentuk
seksual P.vivax, P.malariae dan P.ovale, namun tidak membunuh bentuk gametosit dewasa
P.falciparum. kini juga tidak membunuh parasit malaria bentuk pre eritrositik. Mekanisme aksi kinin
sebagai antimalaria yaitu melalui inhibisi detoksifikasi haem parasit dalam vakuola makanan, namun
mekanismenya tidak jelas diketahui.